Bab 1

Bab 1

Seorang gadis tak dapat menutupi rasa bahagianya saat pria dihadapannya memprlihatkan benda yang berkilauan cantik dari kotak bludru yang dipegangnya.

“Sasy, kamu mau menikah denganku?”

Sasy menepuk pipinya pelan berharap ini bukan mimpi belaka, pria bernama Setya kekasih yang sudah menjalin hubungan selama setahun denganya kini benar benar melamarnya. Senyum merekah dibibir ranumnya, menggambarkan rasa bahagianya saat ini.

“Ya, aku mau menikah denganmu mas,” jawab Sasy dengan lugasnya tanpa ragu. Setya memang sosok pria yang selalu diharapkan untuk menjadi pendampingnya kelak. Pria yang berpofesi sebagai dosen dikampusnya sudah membuat hati Sasy terpaut sejak pertama mereka dekat. Sosok Setya yang dewasa, tutur katanya yang lembut juga berwiba membuat Sasy yakin jika Setya adalah pria yang tepat untuknya.

“Kamu mau jadi istriku sayang?” tanya Setya tak percaya.

“Ya mas, aku mau menjadi istrimu,” Sasy mengangguk yakin.

“Terima kasih ya sayang, aku akan segera menemui orang tuamu,” ucapnya, seraya menyematkan cincin dijari manis kekasihnya.

“Iya mas, aku juga akan bicara dulu dengan ibu.” balas Sasy. Setya pun membalasnya dengan pelukan hangat. Malam itu menjadi malam yang sangat membahagiakan, terutama untuk Sasy

***

“Apa? kamu mau menikah?” ibu Rani tercengang tak percaya mendengar ucapan putrinya itu.

“Iya bu, aku mau menikah dengan mas Setya dia bilang dia mau melamarku,” balas Sasy lagi lagi dengan wajah yang sangat yakin, ia bahkan sudah membayangkan rumah tangga indah yang akan diarunginya bersama pria yang sangat dicintainya itu.

“Tapi Sasy kamu itu masih muda masih 19 tahun, masih kuliah juga,” ibu Rani tentu tak setuju dengan permintaan putrinya itu mengingat Sasy masih sangat muda dan kuliah, teerlebih selama satu tahun Sasy menjalin hubugan dengan Setya baru beberapa kali ia bertemu dengan Setya, pria itu jarang berkunjung kerumahnya dan lebih sering mengajak Sasy keluar, meskipun berulang kali Sasy mengatakan Setya itu pria yang baik dan dewasa juga seorang dosen yang mempunyai nama baik dikampusnya.

Sasy meraih punggung tangan ibunya itu.“Bu, aku mencintai mas Setya. Aku yakin mas Setya akan menjadi suami yang baik untuk ku, lagi pula setelah kuliah aku masih bisa melanjutkan kuliah ku kok, aku yakin mas Setya setuju.” ucapnya meyakinkan.

“Tapi Sasy, ibu rasa keputusanmu itu terlalu terburu buru lagi pula kak Renata juga belum menikah,”

Sasy menghela nafas pelan wajahnya yang tadi berseri seri kini menjadi redup, ucapan sang ibu mungkin ada benarnya, ini memang terkesan teburu buru mengingat kakaknya yang bernama Renata dan masih berkuliah di Australia belum menikah tak mungkin ia melangkahinya. Tapi jika menunggu kakaknya itu menikah entah sampai kapan kerena tak sekalipun ia mendengar sang kakak menjalin hubungan dengan seorang pria walau usianya sudah matang dan tengah menyelesaikan study S2.

“Tapi bu, kak Renata juga entah kapan menikahnya, bukanlah lebih baik aku menikah dari pada aku berpacaran dan melakukan hal yang diluar batas,” ujar Sasy yang juga tak tau entah kapan Renata akan menikah sedang dirinya ingin cepat cepat bersanding dengan Setya.

“Huuss! kamu itu ngomong apa, kamu harus jaga dirimu baik baik!” seru ibu Rani mendadak takut jika putrinya itu akan melakukan hal yang diluar batas jika berpacaran terlalu lama.

“Berpacaran lama itu memang tak baik bu, jadi Sasy ingin menikah coba ibu bicarakan ini dengan kak Renata ya,” Sasy tetap tak menyerah membujuk ibunya itu agar mengijinkanya menikah.

Ibu Rani mengehela nafas, memandang bola mata sang putri yang mengiba padanya.“Yasudah, besok ibu coba bicarakan pada kak Reanata.”

“Makasih ya bu,” Sasy memeluk senang sang ibu.“Aku yakin mas Setya akan menjadi suami yang baik menggantikan posisi ayah.” ucapnya, kembali meyakinkan jika Setya akan bisa menjaganya kelak mengantikan sang ayah yang sudah meninggal beberapa tahun silam. Ibu Rani tersenyum tipis mengusap lembut sulur rambut sang putri yang masih memeluknya walau tetap ada sekelumit keragauan tentang keputusan Sasy yang memutuskan untuk segera menikah.

***

“Sayang, ” panggil Setya melihat Sasy yang baru keluar dari kelas.

“Mas Setya,”

Setya meraih tangan Sasy, menuntunya duduk dikursi taman.“Bagaimana? kamu sudah bicara pada ibu?” tanya Setya karena Sasy belum memberitahukan jawaban ibunya.

“Eemm,” Sasy berfikir sejanak tak mungkin ia mengatakan jika ibunya sebenarnya kurang setuju dengan keputusanya untuk menikah.“Ibu bilang ibu harus bicara dengan kakak dulu,”

“Kakak?” Setya mengerutkan keningnya.

“Iya kamu lupa aku punya kakak perempun dan dia belum menikah masih melanjutkan kuliah S2nya di Australia,” ujar Sasy merasa pernah mencritakan tentang kakaknya itu pada Setya.

“Oia aku ingat,” balas Setya kemudian, Sasy memang pernah menceritakan tentang kakaknya tersebut namun belum sekalipun Setya bertemu dengan sosok kakak yang kerap dibanggakan kekasihnya itu. Sasy mengatakan sang kakak memang belum sempat pulang ke Indonesia.

“Iya, ibu mau menelepon kakak dulu, dia kan belum menikah jadi aku harus meminta ijin padanya,”

“Yasudah, semoga kakak kamu mengijinkan niat baik kita ya.” Setya mencium mesra punggung tangan Sasy.

Setalah mata kuliah selesai Sasy segera pulang, ia tak sabar ingin menayakan apakah sang ibu sudah menelepon Renata.“Ibu.. ibu,” panggil Sasy begitu memasuki rumah.

“Ya sayang, kamu sudah pulang?” sahut ibu Rani keluar dari kamarnya.

“Ibu, bagaimana? ibu sudah menelepon kak Renata?” tanyanya antusias, berharap sang kakak menyetujui rencananya untuk menikah. Ibu Rani tediam menatap bola mata Sasy yang menuntut jawaban darinya.“Bu? ibu sudah menelepon? apa katanya?” desak Sasy mulai merasa pesimis.

“Kak Reanta bilang..” ibu Rani mengantung ucapnya.

“Kak Renata bilang apa bu?” Sasy semakin penasaran tak karuan.

“Kak Renata bilang, ia setuju saja iika kamu ingin menikah,”

“Benar bu, kak Renata setuju?” seru Sasy dengan mata berbinar senang menatap sang ibu. Ibu Rani mengangguk pelan.“Alhamdulillah, aku senang sekali bu,” Sasy memeluk ibunya , merasa sangat bahagia kerena Renata tak keberatan jika dirinya menikah lebih dulu.

Ibu Rani melepas pelukan putrinya itu.“Sasy, kamu benar benar yakin jika Setya itu pria yang baik?” tanyanya, tetap merasa ragu dengan pilihan Sasy.

Sasy justru terkekeh kecil mendengar pertanyaan ibunya.“Ibu itu bicara apa, mas Setya itu benar benar pria yang baik bu.. sangat baik, percaya deh sama aku.” balas Sasy kembali memeluk sang ibu, meluapkan kebahagianya. Hari itu juga Sasy langsung menelepon Setya mengatakan jika ibu dan kakaknya sudah menyetujui rencana pernikahan mereka, tentu Setya meresponya dengan senang. Beberapa hari kemudian Setya pun membawa orang tuanya untuk melamar Sasy, mereka pun sepakat untuk segera menggelar pesta pernikahan beberapa bulan ke depan.

Bab 2

Bab 2.

Dua bulan kemudian.

Hari ini adalah hari yang ditunggu tunggu oleh Sasy hari prnikahanya dengan Setya yang sudah dipersiapkan dari dua bulan yang lalu. Sasy tersenyum sumringah memandangi tubuhnya dicermin, kebaya berwarna putih itu tampak anggun ditubuhya dengan tatanan rambut yang indah juga polesan make up diwajahnya benar benar membuat Sasy menjadi wanita tercantik hari itu.

“Kamu cantik nak,” puji iu Rani menghampiri sang putri dikamar hotel.

“Makasih ya bu,” jawabnya masih dengan senyum mengembang.“Bu, kak Renata benar benar tak bisa datang?”

“Iya nak, dia masih ada ujian selesai ujian dia akan langsung pulang katanyanya, enggak apa apa kan?”

“Enggak apa apa kok bu, yang penting kak Renata nanti pulang.” balas Sasy yang sebenarnya sangat merindukan kakaknya itu memang sudah lama tidak pulang, walau merasa sedih karena Renata tak dapat menyaksikan pernikahnya tapi Sasy tetaplah merasa bersyukur karena Renata mengijinkanya untuk menikah lebih dahulu, baginya Reanta tetaplah kakak terbaiknya.

“Yasudah ayo keluar, keluarga Setya sudah menunggu,” ibu Rani meraih tangan sang putri keluar kamar menuju tempat acara tersebut dilangsungkan.

Sasy menghela nafas dalam mengurangi rasa gugupnya saat langkahnya bersama sang ibu memasuki sebuah runagan yang sudah didekor dengan begitu cantik bak taman disebuah istana. Seluruh pandangan para tamu langsung tertuju pada Sasy yang tampak cantik dan memukau. Sasy mengulum senyum melihat Setya yang tampak gagah bebalut pakaian adat duduk dihadapan sang penghulu, Sasy pun duduk disisi calon suaminya itu.

“Sudah siap?” tanya pak penghulu dengan beberapa saksi yang duduk didekatnya.

“Siap!” Setya mengangguk yakin, penghulu tersebut menjabat tangan Setya dengan erat menuntun Setya mengucap ijab qabul. Dengan lantang dan dalam satu tarikan nafas Setya berhasil mengucapkan ikrar suci tersebut.

“Sah !!” ujar sang penghulu membuat semua yang menyaksikan menghela nafas lega. Senyum tersunging dari pengantin tersebut, Setya pun menyematkan cincin pernikahan dijari manis Sasy begitu pula Sasy yang menyematkan cincin pernikahan di jari Setya sebagai tanda mereka sudah terikat pernikahan yang suci, Sasy pun mencium patuh punggung tangan suaminya itu. Acara dilanjutkan dengan resepsi sampai malam hari. Walau merasa lelah senyum terus terpanca dari keduanya.

***

Sasy mengerjapkan matanya, ia tersenyum tipis melihat Setya masih terlelap disisinya. Sasy beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi. Ia kembali mengulum senyum melihat dirinya dipantulan cermin, masih tampak jelas kissmark yang ditinggalkan Setya disisi lehernya. Sasy mengusap bibirnya yang lembab, kecupan mesra Setya seakan masih terasa dibibir mungilnya, ia menutup wajahnya yang memerah dengan sebelah tangan, mengingat malam panjang dan panas yang dilewatinya dengan Setya setelah pesta pernikahan usai. Sasy sudah memberikan semuanya, kehormatanya juga cintanya untuk suaminya.

Selesai membersihkan diri Sasy pun menghampiri Setya yang masih tertutup selimut.“Mas, bangun.” ucapnya, menepuk pelan tubuh suaminya itu. Setya melebarkan matanya, melihat Sasy yang tersenyum kearahnya.“Bangun mas, kita sarapan yuk.”

“Oh ya, aku mandi dulu.” jawab Setya singkat. Turun dari ranjangya untuk mandi.

Setelahnya mereka pun keluar dari kamar menuju sebuah resto yang ada didalam hotel tersebut.“Silahkan menikmati,” ujar seorang pelaayan wanita seraya meletakan pesanan mereka dimeja.

“Mas, setelah ini kita mau liburan kemana?” tanya Sasy dengan polosnya mengingat Setya pernah berjanji akan mengajaknya honeymoon setelah menikah.

“Kita pulang saja, besok aku harus mengajar,”

Sontak saja ucapan Setya membuat potongan daging yang baru saja disantapnya seakan sulit tertelan, Sasy bergegas meraih air putih disisinya, menungguknya hingga tandas.“Mengajar? tapi kita kan baru menikah mas?” protes Sasy, harus ditinggal berkrja diusia pernikahan mereka yang baru sehari.

“Aku masih banyak perkerjaan dikampus,” jawab Setya dengan wajah dinginya seolah tak merasa sudah mengecewakan istrinya itu.

“Tapi mas masa kamu enggak bisa ambil cuti, lagi pula kamu kan janji kita akan honeymoon,”

“Stop Sasy!” sentak Setya, membuat Sasy terlonjak kaget juga para pengunjung disana yang langsung mengarahkan pandanganya pada mereka.“Behetilah bersikap seperti anak kecil, aku ini kepala rumah tangga turuti saja perkataan ku.” tegas Setya beranjak dari kursi makannya keluar dari resto tersebut meninggalkan Sasy yang masih mematung tak percaya., ia bahkan tak mengerti dimana letak kesalahanya sampai Setya tega menyentaknya untuk pertama kali, dimana Setya yang selalu bertutur kata lembut padanya.

Sasy mengerjapkan matanya yang mulai terasa panas, menahan sekuat tenaga tetetasan air mata yang siap untuk terjatuh, orang orang diresto masih memandanginya dengan iba terdengar samar sebagai mereka tengah bergunjing tentangnya ini benar benar awal yang buruk dihari pertamanya setelah menikah. Sasy pun keluar dari dalam resto, kembali ke kamar hotelnya, tampak Setya yang tengah duduk bersantai di balkon hotel seraya memainkan ponselnya. Setya melihat Sasy yang baru masuk ke dalam kamar , pandangan mereka saling betemu, Sasy menatapnya dengan bola mata yang sudah berkaca kaca Setya membalasnya dengan tatapan yang tenang tanpa rasa bersalah bahkan tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya, Sasy berfikir apa yang dilakukan Setya diresto hanyalah emosi sesaat namun kata maaf benar benar tak terucap dari bibirnya.

Sasy masuk kedalam kamar mandi, meluapkan kesedihanya disana, ia menangis terisak mengeluarkan perasaanya yang terasa amat sesak.“Kenapa? kenapa ia tiba tiba bersiakap seperti itu?” gumam Sasy berbicara pada patulan dirinya sendiri dicermin.

Sungguh ia tak mengerti kesalahan apa yang sudah dilakukanya pada Setya hingga hari ini Setya besikap sangat berbeda. Sasy masih mengingat bagaimana semalam Setya mencumbu dan memperlakukannya dengan lembut sebagai seorang istri tapi pagi ini semuanya benar benar berubah.

Sasy mengusap air matanya, ia keluar dari kamar mandi mencoba membuatkan kopi hangat untuk suaminya itu masih berfikir mungkin Setya hanya kelelahan.“Di minum mas,” Sasy menghampiri Setya yang masih duduk dibalkon, asik dengan ponselnya. Sasy duduk dihadapan Setya.“Mas udara disini sejuk ya,” ucapnya mencoba mencairkan suasana. Tapi Setya tak sedikitpun merespon masih tetap asik dengan ponselnya entah apa yang dilihatnya hingga senyum tersungging dibibirnya.

“Mas, gimana kalu kita jalan jalan disekitar sini juga banyak tempat bagus,” ajak Sasy tak ingin menyianyiakan waktu bersama suaminya itu.

“Kemasi barang barangmu, kita pulang kerumah ibumu sekarang,”

“Apa?” ucapan Setya lagi lagi sukses membuat Sasy tercengang tak percaya,“Tapi mas,”

“Sasy aku harap kamu mengerti, masih banyak perkerjaan yang harus aku lakukan,” sela Setya sebelum Sasy sempat protes.

Sasy melangkah menyeret kopernya di sudut kamar, memasukan kembali pakaian yang sempat di keluarkannya dari dalam koper, ia sudah membawa banyak pakaian, berharap bisa menikmati waktu berdua dengan Setya seperti pengantin baru pada umumnya, tapi siapa sangka Setya justru ingin cepat kembali ke rumah dengan alas perkerjaan.

Bab 3

Bab 3.

Sore itu Setya benar benar mengajak Sasy untuk cekout dari hotel tanpa meluangkan waktu untuk sang istri layaknya sepasang pengantin baru. Mereka pun kembali ke rumah orang tua Sasy.

“Apa? Setya mau langsung mengajar?” ujar ibu Rani menghampiri Sasy didapur yang tengah menyiapkan makan malam, mempertanyakan tentang kepulangan mereka yang lebih cepat padahal sbelumnya Sasy mengatakan akan tinggal dihotel selama tiga hari.

“Iya bu, mas Setya bilang masih banyak perkerjaan dikampus,” jelas Sasy berusaha terlihat tenang walau ia pun merasa kecewa dengan keputusan suaminya itu.

“Tapi kan kalian itu baru menikah tidak ada salahnya kan jika mengambil cuti untuk beberapa hari,” protes ibu Rani yang juga merasa aneh dengan sikap menantunya.

“Sudahlah bu lagi pula kan sekarang aku dan mas Setya suadah tinggal bersama.” balas Sasy berusaha tersenyum.

***

Keesokan harinya Setya sudah bangun dan bergegas bersiap siap untuk pergi ke kampus.“Sudah selesai mas?” sapa Sasy saat Setya keluar dari kamar mandi. Setya meraih kemeja yang sudah disiapkan Sasy diatas ranjang.“Sarapan dulu mas,”

“Tidak usah, aku buru buru,” tolaknya.

“Oh,” Sasy hanya dapat mengehela nafas kecewa karena sudah bangun sepagi mungkin dan membuatkan sarapan untuk suaminya.

“Aku pergi dulu,” pamit Setya. Sasy pun menciu punggung tangan Setya, ia sedikit tertegun saat Setya berlalu pergi begitu saja tanpa mengecup hangat keningnya layanknya perlakuan suami pada umumnya.

Sepanjang hari itu Sasy sangat merasa bosan dirumah saat ini rutinitasnya hanya menunggu Setya pulang, belum lagi Setya tak sekalipun membalas pesannya padahal selama berpacaran Setya selalu rutin meneleponya. Sampai malam hari Sasy masih setia menunggu Setya pulang dengan makan malam yang sudah tersaji dimeja makan.

Sesekali Sasy melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 10 malam tapi Setya tak kunjung pulang.“Sasy, suamimu belum pulang?” tegur ibu Rani menghampiri Sasy dimeja makan.

“Belum mah mungkin masih banyak perkerjaan,”

”Perkerjaan apa dikampus sampai larut begini,” balas bu Rani mulai tak menyukai sikap menantunya itu.

“Sudahlah bu, sebentar lagi pasti mas Setya pulang, ibu tidur aja ya,” ibu Rani menggelangakan kepalanya dan berlalu masuk kedalam kamarnya sementara Sasy masih menyandarkan kepalanya dimeja makan, menunggu Setya pulang walau matanya sudah sangat mengantuk. Sampai tak berapa lama terdengar suara pintu utama yang terbuka, Sasy melebarkan mata sayunya melihat Setya yang baru memasuki rumah.

“Mas,” Sasy beranjak dari kursi makan, mengahampiri dan mencium punggung tangan Setya.“Pulangnya malam banget mas?”

“Aku tadi kumpul dengan teman temmanku dulu,” balas Setya singkat tanpa memperhatikan mata sayu Sasy yang sedari tadi menahan kantuk menunggu kepulanganya.

“Oh, aku sudah siapkan makan malam mas,” Sasy mengarahkan bola mata Setya pada makanan yang sudah tersaji dimeja makan.

“Aku kan sudah bilang kumpul dengan teman temanku, aku sudah makan dengan mereka,” tolak Setya yang sontak saja membuat Sasy kembali menelan kekecewaan.“Sudah ya aku mau istirahat.” sambungnya, menaiki anak tangga meninggalkan Sasy begitu saja. Sasy terdiam mematung, dengan sudut mata yang sudah berembun, ia tak mengerti mengapa sikap Setya sangat berubah, berulang kali Sasy berfikir kesalahan apa yang sudah dibuatnya hingga Setya tampak begitu berubah tapi Sasy tak menemukan jawabanya.

***

“Kak Renata!!” Sasy beseru bahagia kala membuka pintu melihat sosok wanita cantik yang telah lama dirindukanya.“Kak aku rindu banget, kenapa enggak mengabari mau pulang?” tanyanya, memandang berbinar sang kakak. Tak ada yang berubah dari Renata ia tetaplah kakak yang lembut, modis dan cantik bagi Sasy.

“Renata, kamu sudah pulang nak?” ibu Rani menghampir Renataa yang masih diambang pintu.

“Ibu,” Renata memeluk hangat ibunya.

“Kenapa kamu enggak mengabari mau pulang, ibu dan Sasy kan bisa menjempuutmu dibandara?”

“Aku enggak mau merepotkan bu, lagipula aku bisa pulang sendiri,”

“Mas Setya?” ujar Sasy melihat Setya yang baru menuruni anak tangga, pandanganya langsung tertuju pada Renata.“Kak, kenalkan ini suamiku,” Sasy melingkarkan tanganya dilengan Setya dengan bangga mengenalkan suaminya itu.

“Oh jadi ini suamimu, kenalkan aku Renata,” ucap ramah Renata seraya mengulurkan tanganya pada Setya mereka pun saling berbalas senyum tipis.

Malam pun tiba dengan antusias Sasy menyiapkan makan malam special untuk kakaknya itu dibantu dengan sang ibu, mereka pun menyantap makan malam seraya bercengkrama.“Mas, jadi kapan kita akan pindah?” tanya Sasy yang tiba tiba teringat dengan ucapan Setya yang akan memboyong Sasy kerumah yang sudah dipersiapkanya.

“Sepertinya tidak bisa sekarang,” balas Setya seraya mengunyah makananya dengan tenang.

“Lho kenapa?”

“Rumahnya belum selesai,”

“Belum selesai?” Sasy tertegun, masih jelas diingatanya jika Setya pernah mengatakan jika rumah tersebut sudah selesai bahkan Setya sempat meminta Sasy memilih furnitur sesuai dengan seleranya.“Tapi mas,”

“Sasy, kita bisa membicarakanya lain waktu,” tegas Setya sebelum Sasy sempat protes.

Sasy mendadak lesu, meletakan alat makanya, perkatan Setya membuatnya kehilangan selera makan.“Sudah, yang penting rumah itu sedang dikerjakan kan, dan kalian sebentar lagi akan pindah, setelah berumah tangga memang lebih baik tinggal berdua,” ujar ibu Rani mencairakan suasana, merasa iba melihat wajah sendu putrinya itu.

“Ya Sasy, lagipula kamu tega menginggalkan kakak yang baru pulang ini,” timpal Renata seraya tersenyum kearahnya.

“Aku kemar dulu,” ujar Sasy tetap merasa kecewa tak mengeti mengapa Setya tiba tiba mengatakan rumah tersebut belum selesai. Sasy beranjak dari kursi makanya dan masuk kedalam kamar. Ia duduk ditepi ranjang berusaha meredam rasa kecewanya. Sasy melirik kalender di nakas.

“Besok hari ulang tahunku?” ia hampir lupa besok adalah hari spesial untuknya.“Kira kira besok mas Setya mau kasih apa ya?” gumamnya tersenyum tipis, sebelumnya Setya selalu memberikan hadiah untuknya bahkan tak segan merogoh koceknya dalam dalam untuk memberikan hadiah yang mahal untuk Sasy.

Keesokan harinya seprti biasa pagi itu Sasy sudah berkutat didapur menyiapkan sarapan untuk Setya.“Mas,” panggilnya, menghampiri Setya yang masih tertidur.

Setya melebarkan matanya.“Ya ampun aku terlambat,” serunya melihat jam dinding dengan terburu buru ia beranjak dari ranjang untuk mandi dan mengenakan kemeja formalnya.“Sarapan dulu mas,”

“Enggak usah, aku buru buru,” Setya langsung begegas keluar kamar begitu saja, tanpa mengucapkan kata kata manis dihari ulang tahun Sasy. Sasy kembali kecewa namun ia masih berfikir mungkin Setya sengaja bersikap begitu untuk memberinya kejutan nantu malam.

Sasy yang masih berfikir positifpun tetap meunggu Setya pulang, meskipun Setya akhir akhir ini selalu pulang malam. “Sudah pulang mas?” sapa Sasy melihat Setya yang masuk kekamar, Sasy bergegas menghampiri dan mencium punggung tanganya, ekor matanya melirik tangan Setya yang hanya memegang tas kerjanya dan meletakanya diranjang. Seharusnya Setya membawakan sesuatu dan mengucapakan hal manis dihari ulang tahunya, begitu yang seharunya terjadi, tapi Setya tak melakukan itu. Ia hanya pulang untuk tidur disampingnya tanpa mengucapakan dan memebrikan apapun.

“Mas Setya lupa hari ulang tahunku?” lirihnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED