Bab 1

Astrid adalah gadis berumur 16 tahun. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih, rambutnya cokelat panjang bergelombang. Dia lebih sering menguncir rambutnya. Itu karena dia tidak merasa percaya diri dengan rambutnya sendiri, padahal, rambutnya itu tergolong rambut yang indah. Wajahnya cantik namun tidak terlihat, karena setiap dia berjalan, dia selalu menundukan wajahnya. Gadis pemalu itu merupakan seorang introvert yang tidak jauh dari kata ‘kutu buku’.

Di sekolah, dia tidak punya teman. Entah dia yang tidak mau diajak berteman, atau memang teman-temannya yang tidak peduli. Bagi dia, sekolah adalah mimpi buruk. Dia lebih suka tinggal di rumah bersama novel-novelnya. Namun meskipun begitu, dia tetap mengutamakan sekolah dan meraih nilai-nilai yang bagus, demi beasiswa untuk kuliah. Dia melakukan itu semua karena sadar bahwa membeli buku memerlukan uang, dan uang hanya bisa didapat dari bekerja, membuatnya terobsesi kuliah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Intinya, semua yang dia lakukan sekarang hanyalah untuk satu tujuan, yaitu membaca buku.

Kehidupannya yang anti sosial tentu saja membawa banyak dampak buruk padanya. Dibuli, kesepian, tidak punya teman, dan hampa. Semua rasa sakit itu hanya dia pendam sendiri. Tidak ada satupun anggota keluarganya yang tahu akan hal tersebut. Buku adalah satu-satunya pelariannya. Dengan membaca cerita yang tertulis di lembaran-lembaran kertas, membuatnya senang. Dia bisa berimajinasi sesukanya dalam membaca cerita. Teknik penulisan sang penulis cerita mampu membawanya merasakan emosi yang dirasakan oleh sang tokoh utama. Segala rasa sedih, rasa bahagia, marah, terharu, bangga, dan sebagainya dapat ia rasakan.

Dia merasa seolah-olah terbawa ke dunia yang baru, yang berbeda. Dia merasa seperti kabur dari realitas yang sekarang sedang dia jalani. Memang dari dahulu dia sudah begitu, lari dari masalah, lari dari kenyataan.

Hidup di Kota Jersey dengan ayah, ibu, serta 2 adiknya. Dia adalah anak paling tua di keluarga. Ayahnya, James Ratchett, merupakan seorang agen perumahan, sedangkan ibunya, Melinda Ratchett merupakan seorang editor majalah fashion terkenal. Mereka bisa disebut sebagai keluarga yang lebih dari sekedar berkecukupan. Adiknya, Jannet Racthett, adalah seorang siswi SMP. Tommy Ratchett, adiknya yang bungsu, sepantaran dengan Jannet.

“Astrid! Turun! Sarapan sudah siap!” teriak Melinda dari dapur.

Segera Astrid mengemas buku-bukunya, berpakaian, dan turun ke dapur.

“Ini, makanlah sarapanmu.” Ucap Melinda sambil menyodorkan semangkuk sereal.

“Jannet, Tommy! Ini sarapanmu! Pancake blueberry untuk Jannet, dan waffle cokelat untuk Tommy!” ucap Melinda.

Dari sini kita sudah bisa melihat bahwa Melinda lebih menyayangi Jannet dan Tommy daripada Astrid. Memasak sebuah pancake dan waffle bisa dibilang merepotkan. Bagi seorang editor majalah terkenal yang sangat sibuk, menyempatkan waktu untuk membuat pancake dan waffle pasti sulit untuk dilakukan, butuh usaha yang lebih besar. Berbeda dengan semangkuk sereal yang hanya diberi susu.

“Astrid, sore ini setelah pulang sekolah kamu mau kemana?” tanya Melinda.

“Tidak kemana-mana, aku langsung pulang,” jawab Astrid.

“Benarkah? Ini hari Jumat, bersenang-senanglah dan pergi bersama teman-temanmu!” ucap Melinda.

“Aku hanya ingin menghabiskan malam Jumatku di rumah sambil membaca buku baruku. Jalan-jalan itu melelahkan, dan tempatnya akan penuh dengan orang-orang, aku tidak suka. Buku baruku memiliki cerita yang sangat unik. Penulis kesukaanku baru saja mengeluarkan buku terbarunya, makanya aku sangat tidak sabar untuk membacanya!” jawab Astrid.

“Oh ayolah! Berhenti menghabiskan waktu dengan buku-bukumu dan carilah teman! Jadilah remaja yang normal. Cari teman, perluas kenalan, itu penting. Ibu tidak akan menjadi sesukses ini jika ibu menghabiskan masa remaja ibu berdua dengan buku,” ucap Melinda.

“Sukses ibu dan suksesku berbeda, Bu. Lagipula, aku tidak mau bekerja untuk menulis omong kosong tentang fashion, busana, skandal, drama, dan meliput pendapat orang-orang bodoh seperti yang ibu lakukan,” jawab Astrid.

“Hey! Pekerjaan ibu itu jauh lebih penting dari sekedar menulis omong kosong. Lihatlah Jannet, dia sudah mengerti busana seperti ibu, padahal dia baru saja SMP. Sementara kamu, pakaianmu saja tidak masuk akal!” Melinda kesal.

“Hanya karena kesukaanku berbeda dengan ibu, bukan berarti aku tidak akan sukses. Tidak bisakah ibu mencintaiku dan menerimaku apa adanya?!”

Astrid mengambil tasnya dan pergi dari rumah untuk berangkat ke sekolah. Dia pergi dengan bus. Karena masih pagi, kursinya masih banyak yang kosong. Dia duduk dan memilih untuk mendengarkan musik. Dia menyenderkan kepalanya di jendela bus dan memikirkan semua permasalahan di keluarganya. Ibu yang tidak bisa menerimanya dan selalu menghinanya. Ayah yang selalu sibuk bekerja dan hanya peduli pada pekerjaannya saja. Adik perempuan yang norak. Adik laki-laki yang hanya berbicara soal bola. Dan kehidupan sekolah yang tidak lebih mending dari pada rumahnya. Baginya, satu-satunya surga di bumi ini hanyalah kamarnya yang penuh buku.

Terkadang, saat orang tuanya bertengkar, saat Jannet bergosip dengan temannya melalui telepon, dan saat Tommy ribut menonton pertandingan, Astrid memilih untuk bersembunyi di lemarinya, membaca buku, dan mendengarkan musik dengan volume yang sangat keras.

Tak terasa dia sudah sampai di tempat tujuan, yaitu sekolahnya. Dia turun dari bus dan langsung memasuki sekolahnya.

Di lorong yang ramai itu, dia berjalan dengan kepala yang terus menerus melihat ke bawah. Dia menghampiri lokernya, namun ada dua siswi yang sedang asik berbincang tepat di depan lokernya.

“Mmm, permisi, itu lokerku,” ucap Astrid lirih.

Kedua siswi itu masih saja asik berbincang.

“Permisi! Itu lokerku!” ucap Astrid lebih keras.

“Oh, maaf, kami tidak mendengarmu,” ucap salah satu gadis tersebut.

“Kamu Astrid Ratchett ‘kan?” tanya gadis yang satunya lagi.

Astrid hanya menganggukan kepalanya.

“Ibumu itu sangat terkenal! Aku pernah membaca majalahnya, dan isinya sangat menarik! Aku suka! Pernah di salah satu artikel dia menceritakan tentang anak-anaknya, Jannet dan Tommy. Mereka adikmu bukan? Jannet sangat luar biasa! Adikku yang satu SMP bersamanya sampai naksir! Dia tidak bisa berhenti membicarakan tentang Jannet saat makan malam!” lanjut gadis itu.

“Jangan lupa Tommy! Dia sangat luar biasa! Dia adalah pemain sepak bola terbaik di sekolahnya. Adikku yang merupakan seorang pemandu sorak, sampai terpana. Aku pernah ikut menonton salah satu pertandingannya, dan perlu aku akui, adikmu memang bagus! Tapi kenapa Melinda Ratchett tidak pernah membicarakan tentangmu ya?” ucap gadis yang satunya lagi.

“Entahlah,” jawabnya singkat.

Salah satu gadis mengeluarkan majalah Melinda dari tasnya.

“Boleh aku minta tolong? Tolong mintakan tanda tangan ibumu dan Jannet untukku ya? Adikku pasti akan sangat senang mendapatkan tanda tangan Jannet! Terima kasih!” ucapnya lalu pergi.

Bab 2

Selalu saja begitu. Setiap kali ada seseorang yang berbicara padanya, pasti ujung-ujungnya ada maunya. Seperti udang di balik batu. Menjadi anak dari orang ternama, membuatnya banyak dimanfaatkan. Menyakitkan? Tentu saja, namun itu sudah tidak dapat menghancurkannya lagi.

Astrid sama sekali tidak tahu bahwa ibunya sering membicarakan tentang keluarganya, namun tidak mengikutsertakan dirinya. Mungkin Melinda malu, mungkin Melinda tidak ingin mengakui Astrid sebagai anaknya, atau alasan lainnya. Namun fakta itu sama sekali tidak mengejutkan Astrid. Baginya, hal seperti ini sudah biasa. Banyak hal yang lebih menyakitkan telah dia alami, membuatnya seolah-olah mati rasa. Bagi Astrid, semakin dia mengurangi harapannya terhadap keluarganya, semakin kurang rasa kecewa yang dia dapatkan.

Astrid melihat majalah ibunya. Terdapat foto seorang model cantik sebagai sampul majalahnya. Berbagai macam tulisan-tulisan ada di sekeliling model tersebut. Dia membalikan halaman pertama. Berbagai macam panduan busana terdapat di sana, hal-hal yang tidak ia mengerti. Beberapa halaman selanjutnya berisi iklan-iklan produk riasan wajah, yang mana menurut Astrid sangat membosankan. Dari halaman pertama sampai halaman terakhir, tidak ada satu pun tema yang ia anggap menarik.

Dia menutup majalahnya dan memasukannya ke loker. Ia mengunci lokernya dan langsung pergi ke kelas sebelum bel berbunyi. Di kelas, dia duduk di paling pojok, dekat dengan jendela. Dia sering kali melamun sambil menatap ke arah luar jendela saat guru sedang menjelaskan. Hal itu membuatnya kerap ditegur oleh guru-gurunya.

Sembari menunggu bel berbunyi, Astrid memutuskan untuk mendengarkan lagu. Dia sangat ingin untuk membaca buku barunya, namun tidak bisa karena buku tersebut tertingal di kamarnya. Detik berubah menjadi menit dan kini waktunya untuk pelajaran dimulai.

Dia mengeluarkan bukunya dan mulai mencatat materi.

Saat bel istirahat berbunyi, Astrid pergi ke kantin untuk membeli makan. Dia duduk sendirian di sebuah meja yang panjang. Karena tidak punya teman, dia hanya bisa menikmati makan siang sendirian. Lalu tiba-tiba geng gadis popular menghampirinya.

“Hey, Ratchett! Makan sendiri lagi?” ucap Jessica, pemimpin geng tersebut.

Astrid hanya terdiam dan melanjutkan makan siangnya.

“Kok diam saja? Makanannya tidak terlalu enak ya?”

Lagi-lagi Astrid hanya terdiam.

“Mungkin benar makanannya tidak enak. Coba kamu kasih sedikti ‘bumbu’!” ucap Karen.

“Hahahaha! Yeah, bumbu!” sambung Janice.

“Pintar sekali kalian!”

Jessica mengambil kotak jus apel milik Astrid dan menuangkannya ke makanannya.

“Aku kasihan padamu yang selalu saja sendiri. Begini, biar kuberi tahu sebuah rahasia untuk mendapatkan kekasih. Rahasianya adalah, kamu harus menjadi perempuan yang manis!” ucap Jessica.

Lalu dia menuangkan jus apel yang masih tersisa ke kepala Astrid dan mengoleskannya ke wajahnya.

Astrid terkejut. Seluruh siswa yang ada di sana menonton dan menertawainya.

“Nah! Sekarang kamu cantik!” ucap Jesssica.

“Hahahahahaha! Ayolah, ucapkan terima kasih banyak pada Jessica karena membantumu!” ucap Karen.

“Ayo kita pergi! Kamu perlu mencuci tanganmu sebelum kamu jadi tambah manis! Nanti semua laki-laki tampan jadi tertuju padamu!” ucap Janice.

“Benar! Kasihan Astrid, dia hanya akan mendapatkan sisa-sisanya saja! Hahahaha!” timpal Karen.

Mereka pergi meninggalkan Astrid yang basah kuyup. Mereka bertiga mengarah ke toilet untuk mencuci tangan. Astrid hanya bisa duduk terdiam, selagi seluruh siswa menertawai dan mengolok-olok dirinya. Betapa dia merasa sangat dipermalukan. Dia hanya bisa tertunduk dan menangis. Tetesan jus apel turun dari rambutnya, membasahi semua pakaiannya. Baunya manis, namun lengket, membuatnya sangat tidak nyaman.

Dia segera berdiri dan lari menuju toilet untuk membersihkan badannya. Tanpa dia sadari, dia mengunjungi toilet yang dituju oleh Jessica dan gengnya. Dia memasuki toilet dan terkejut melihat Jessica, Janice, dan Karen yang sedang memperbaiki dandanan mereka.

“Wah, wah, lihat siapa di sini! Kamu mau rahasia untuk mendapatkan kekasih lagi? Aku dengan senang hati melakukannya!” ucap Jessica.

“Tidak bisakah kalian untuk sehari saja urus urusan kalian sendiri dan jangan ganggu aku?!” bentak Astrid mulai berani.

“Wow! Dia mulai berani! Ini hebat!” ucap Karen.

“Nada yang sangat tidak sopan untuk digunakan pada orang lain!” ucap Jessica.

“Terutama pada mereka yang ‘lebih’ segalanya dari padamu!” sambung Janice.

“Well, jawaban dari apa yang kamu tanyakan tadi adalah tidak! Tidak, kami tidak bisa berhenti mengganggumu! Hahahahaha!” ucap Jessica.

“Puas dengan jawabanmu?!”

“Kalian adalah ras manusia yang paling kejam!” ucap Astrid.

“Benarkah? Aku merasa sangat tersinggung sekarang!” jawab Jessica.

“Semua yang telah dia lakukan untuk kamu bisa mendapatkan kekasih, kau anggap sebagai sebuah kekejaman? Sungguh kurang ajar!” ucap Karen.

“Tidak tahu malu!”

“Begini, aku akan anggap semua yang kamu katakan tadi hanyalah candaan saja. Akan aku beri tahu rahasia mendapatkan kekasih yang selanjutnya. Yang satu ini tidak kalah penting dengan yang sebelumnya,” ucap Jessica.

“Terima kasih, tapi aku tidak butuh!” jawab Astrid.

“Sssst, diam. Jangan pernah sekali-kali menolak ilmu, karena orang bijak berkata, bahwa ilmu itu lebih berharga dari emas. Tentunya yang kutu buku sepertimu pasti sudah sangat paham, hahahaha!” ucap Jessica.

Jessica menyalakan keran wastafel dan menciprati Astrid dengan air. Karen dan Janice ikut membantu. Mereka mengumpulkan air keran di telapak tangan mereka dan mengguyur Astrid sampai basah kuyup.

“Mandi, merupakan salah satu cara untuk meningkatkan daya tarikmu! Hahahahaha! Aku sangat menikmati ini!” ucap Jessica.

“Kamu memang jenius!” ucap Karen.

“Ahhhh! Hentikan!” teriak Astrid.

Astrid lari ke arah pintu, namun dengan cepat Janice mengunci dan menjaga pintunya.

“Gerakan yang brilian, Janice!” ucap Jessica.

Mereka pun berhenti membasahi Astrid. Sekujur tubuh Astrid basah, rambutnya seperti habis keramas, pakaiannya seperti habis dicuci, dan barang-barangnya juga basah. Dia hanya bisa berdiri kedinginan, dengan air yang terus menerus menetes dari rambut dan pakaiannya.

“Nah, karena sudah mandi, yang perlu kita lakukan sekarang adalah mengeringkannya!” ucap Jessica.

“Tapi kita tidak bawa pengering rambut,” jawab Janice.

“Kita tidak akan menggunakan pengering rambut, kita akan mengeringkannya dengan cara manual,” ucap Jessica.

Jessica mengambil sebuah sapu dan mengipasi Astrid dengan sapu tersebut.

“Begini caranya! Hahahahaha!” ucap Jessica.

Karen dan Janice ikut mengambil sapu dan mengipasi Astrid.

Seluruh debu dan kotoran yang ada di sapu itu terbang dan mendarat di tubuh Astrid, sehingga mengotori dan membuatnya terbatuk-batuk.

“Tolong hentikan!” teriak Astrid.

“Maaf, sayang, tapi kami tidak akan berhenti. Ini demi kebaikanmu, okay?”

Astrid mulai menangis.

“Oh, kasihan! Jangan menangis!” ucap Janice meledek.

“Hahahaha! Saat-saat seperti ini, kamu tahu apa yang paling kamu butuhkan? Seseorang yang mencintaimu! Dan kamu tidak memilikinya! Ahahahaha!” ucap Jessica.

“Tunggu, sebenarnya dia memiliki satu orang yang mencintainya,” ucap Karen.

“Benarkah?” tanya Jessica tidak percaya.

“Yeah, namanya Cameron Smith. Tapi sayang, dia meninggal!” jawab Karen.

Bab 3

Saat Astrid berumur 5 tahun, dia bertemu dengan seorang bocah lelaki manis di taman bermain. Astrid memanjat sebuah tali lalu genggamannya terlepas dan ia terjatuh. Saat itu Melinda sedang sibuk dengan teleponnya mengurusi pekerjaan yang tiada henti. Ayahnya pun sedang melakukan hal yang sama. Siku kanan Astrid terluka dan satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah merintih kesakitan.

Lalu tiba-tiba, entah datang dari mana, seorang bocah laki-laki berlari menghampirinya. Rambutnya pirang pucat, kulitnya putih, matanya biru, dan suaranya sangat lembut.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya bocah itu.

“Yeah, sikuku lecet. Perih sekali rasanya,” jawab Astrid menahan sakit.

“Sebentar,” ucap bocah itu.

Dia berlari pergi dan kembali lagi dengan membawa sebuah tas. Dia duduk di sebelah Astrid dan mengeluarkan sebuah kotak P3K dari tasnya.

“Ibuku selalu melengkapi tasku dengan kotak P3K. Tidak salah jika dia khawatir, aku memang hobi terluka, hahaha!” ucap bocah itu untuk menghibur Astrid.

Dia mengeluarkan selembar kapas dan meneteskan cairan alkohol untuk membersihkan luka Astrid. Dengan lembut dia mengusapnya.

“Ouch! Sakit!” rintih Astrid kesakitan.

“Tahan ya.”

Setelah membersihkannya, bocah itu menempelkan sebuah perban di atas luka Astrid.

“Nah! Selesai! Sekarang kamu hanya perlu menunggu, beberapa hari pasti akan sembuh!” ucap bocah itu.

“Terima kasih banyak,” jawab Astrid.

“Aku Cameron Smith. Siapa nama kamu?” tanya Cameron.

“Astrid Ratchett, senang berkenalan denganmu,” jawab Astrid.

Sejak saat itu mereka menjadi sahabat dekat, bahkan bisa dikatakan lebih dari sahabat namun kurang dari kekasih.

***

“Ouch! Kasihan sekali! Pasti menyedihkan ya! Hahahaha” ucap Jessica.

“Memang. Aku dengan dia selalu menangis sejak Cameron meninggal. Benarkan?” ucap Karen.

“Hentikan! Jangan sebut namanya lagi!” bentak Astrid.

“Atau apa? Kamu tidak akan melakukan apa-apa ‘kan? Hahahaha!” jawab Jessica tidak takut.

“Astrid, maukah kamu segera bertemu kembali dengan Cameron? Kami akan membantumu dengan senang hati!” ucap Janice.

“Yeah! Bukankah kami sangat dermawan?”

“Hentikan!” teriak Astrid.

“Sesungguhnya aku turut bahagia untuk Cameron, sungguh,” ucap Karen.

“Kenapa begitu?” tanya Janice.

“Dia tidak harus menjalani hidupnya lagi bersama anak aneh seperti Astrid! Hahahahaha!” jawab Karen meledek.

“Hahahaha, benar juga!” ucap Janice.

“Atau mungkin, dari awal Cameron hanya berniat baik untuk membantumu, tapi kamu malahan jadi nempel dengannya. Ahahahaha, kasihan sekali Cameron!” ucap Karen.

“Cameron Smith ya? Hmmm, sepertinya aku harus menceritakan ini padamu,” ucap Jessica yang sedari tadi diam.

“Ada apa?” tanya Karen penasaran.

“Saat SMP, Cameron Smith pernah menghampiriku dan menyatakan perasaannya padaku! Dia juga bilang, kalau dia tidak ingin aku salah tangkap bahwa dia menyukaimu, Astrid, karena kedekatan kalian berdua. Yang sesungguhnya adalah, dia menyukaiku, bukan kamu! Namun sayang sekali aku harus menolak pria manis itu karena saat itu aku sedang berpacaran dengan Joshua Gilbert!” jelas Jessica.

“Tidak, itu tidak mungkin! Kamu hanya mengada-ada!” ucap Astrid.

“Oh ayolah, Astrid. Buka matamu dan belajar menerima realita! Jangan selalu kabur ke dunia mimpimu!” jawab Jessica ketus.

Astrid tidak dapat menerima apa yang baru saja Jessica katakan, dia tidak percaya jika Cameron pernah menyatakan perasaan pada perempuan yang dia benci selama bertahun-tahun. Cameron sendiri juga membenci Jessica.

Jessica mendekati Astrid dan mengangkat dagu Astrid.

“Camkan kata-kataku, jika kamu terus begini, kamu tidak akan pernah mengenal arti bahagia!” ucap Jessica.

Jessica, Janice, dan Karen pergi meninggalkan Astrid di toilet sendirian. Sementara itu, Astrid hanya bisa berdiri membeku di toilet. Dingin karena siraman air, kotor karena sapu, dan lengket karena air mata yang terus mengalir.

KRING

Bel berbunyi, menandakan bahwa pelajaran sudah dimulai. Namun Astrid tidak berniat untuk kembali ke kelas. Dia tidak bisa berhenti menangis, tubuhnya pun masih basah dan kotor. Segera dia berlari keluar dari toilet dan menuju gerbang sekolah. Dia tidak berhenti berlari dan melanjutkan langkah kakinya ke rumah. Dia membawa tasnya saat makan siang, jadi mudah untuk membawanya pulang tanpa harus kembali ke kelas.

Dia berhenti di halte dan menunggu untuk sebuah bus. Dia menaikinya dan duduk sendirian di pojokan. Saat dia menengok ke sebelah kirinya, dia tidak sengaja melihat sebuah tulisan dari pulpen yang sudah lumayan memudar. Tulisan itu bertuliskan ‘Camcam & Ace’.

Dahulu, Astrid dan Cameron pernah menulisnya di sebuah bus, dan sekarang Astrid duduk di tempat yang sama lagi, sendirian. Camcam adalah panggilan khusus yang Astrid berikan untuk Cameron, sedangkan Ace adalah panggilan khusus yang Cameron berikan untuk Astrid.

Astrid mengusap tulisan tersebut, air mata mengalir semakin deras membasahi pipinya. Dia semakin tidak percaya akan apa yang Jessica katakan. Dengan dirinya membolos kelas dan pulang tidak akan mengubah segalanya menjadi lebih baik, bahkan mungkin lebih buruk. Rumah bukanlah surga yang menyambutnya setelah pulang sekolah, namun neraka yang lebih panas. Betapa dia berharap bisa menyusul Cameron, entah dimana dia sekarang. Baginya, dia akan lebih bahagia dimanapun tempatnya asal bersama Cameron, di neraka sekalipun.

Beberapa menit kemudian dia sampai di rumahnya. Astrid mendapati ayah dan ibunya sudah berada di sana.

“Apa yang kau pikirkan?! Ibu mendapat telepon dari gurumu, dia mengatakan bahwa kamu tidak masuk kelas setelah jam makan siang! Tidak tahukah kamu betapa malunya ibu?!” bentak Melinda langsung tanpa basa-basi.

James tetap diam sambil menyeruput kopinya. Ekspresi marah terpampang di wajahnya.

“Dan ada apa dengan bajumu?! Basah dan kotor! Apa-apaan ini?!” lanjut Melinda.

Astrid berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas jus.

“Ibu tidak akan percaya walaupun aku ceritakan. Jadi lebih baik aku diam menghemat energiku,” ucap Astrid.

“Kamu pikir ibu se-dingin itu?! Kamu anggap ibu tidak sayang padamu?! Lalu untuk apa ibu banting tulang kerja tiada henti demi menghidupimu?!” bentak Melinda.

“Mungkin, karena itulah yang ibu tunjukan padaku!” jawab Astrid ketus.

Tiba-tiba kedua adik Astrid pulang.

“Apa yang terjadi? Aku dengar kamu membolos, ini sama sekali tidak seperti dirimu,” ucap Jannet.

“Oh diamlah! Tidak usah ikut campur kamu!” bentak Astrid.

BRAK

James menghantam tangannya ke meja.

“Kami tidak mendidikmu untuk menjadi seperti ini! Menjadi ketus, dingin, dan kurang ajar! Siapakah dirimu ini?! Kamu seharusnya menjadi anak yang baik! Yang kamu cerminkan sangat berbanding terbalik!” bentak James murka.

“Ohya? Lalu kapan ayah dan ibu bercermin?! Lancang sekali kalian menuntutku menjadi anak yang baik saat kalian sendiri bukanlah orangtua yang baik!” jawab Astrid.

“Kami adalah orangtua yang baik! Lihatlah ibu! Ibu bekerja pagi siang sore malam tanpa henti demi anak-anak ibu, demi kamu! Agar semua kebutuhanmu bisa terpenuhi, agar kamu dapat hidup enak! Apakah itu sesuatu yang orangtua buruk lakukan?!” tanya Melinda.

“Ibu pikir orangtua yang baik adalah mereka yang bekerja terus menerus tanpa memperhatikan anaknya?! Ibu pikir menjadi orangtua hanyalah mencari uang untuk menghidupi anaknya?! Aku tidak butuh uang ibu! Yang aku butuhkan hanyalah waktu dan perhatian ibu! Aku sungguh berharap aku bisa menyusul Cameron! Di neraka akan lebih baik daripada di sini!”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED