Jenazah, seorang wanita dibawa menggunakan keranda. Di bagian kepala, terlihat sobekan luka menganga akibat tertusuk benda tajam. Seorang dokter muda menggunakan pakaian serba putih dan memakai masker, sedang tangannya yang terpasang handscon sibuk menyiapkan jarum dan benang untuk menjahit luka si mayat. Dokter itu, bekerja sendiri. Dia, meminta kepada perawat untuk tidak membantunya.
"Kenapa, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku?"
Seorang dokter forensik yang menangani mayat itu, tidak mengindahkan ucapan sang mayat.
"Kenapa, kamu menyobek bajuku? Apakah, kamu ingin memperkosaku?"
Pertanyaan itu, mengganggu perasaan dokter muda itu. Dia, berusaha tidak berkata apapun tetapi mayat yang tidak berdaya itu terus saja saja mengoceh. Mau tak mau, dia pun menanggapi apa yang dikatakan si mayat.
"Berapa, umurmu?" Dokter itu, mengejutkan si mayat yang sejak tadi selalu mengoceh.
" Umurku, 24 tahun."
"Siapa, namamu?" Dokter itu kembali bertanya.
"Selviana Ratna." Mayat masih terheran, kenapa dokter itu bisa berbicara dengannya.
"Apa yang menyebabkan kepalamu begini?"
"Entahlah, aku sedang mengendarai mobil dan sepertinya, aku tidak sadar menabrak sesuatu." Mayat kembali menjawab
Sebuah jarum, berbentuk kail menusuk kulit si mayat. Dokter itu, menarik menggunakan benang transparan.
"Woh sakit! Sakit sekali!" Mayat mengeluh kesakitan, tetapi ekspresinya hanya di mulut saja tanpa ada reaksi tubuh seperti mengernyitkan kulit ataupun bergerak.
"Kamu, sudah meninggal dunia 4 jam yang lalu."
Si mayat, menjadi terheran. "Tapi kenapa, aku bisa berbicara denganmu?"
"Waktu umurku 14 tahun, aku divonis psikosis oleh dokter karena aku tidak bisa membedakan antara nyata dan tidak nyata. Aku, sudah biasa berkomunikasi dengan orang mati. Sejak kecil, sebagian orang menganggapku gila."
"Tapi, kamu tidak gila kan?"
Tersenyum, dokter forensik itu. Sedang tangannya sejak tadi dengan lihainya menjahit luka yang menganga sampai sebagian luka tertutup.
"Aku, tidak gila. Kalau pun aku gila, sudah pasti aku tidak akan bekerja di tempat ini."
Dari arah depan, terdengar langkah kaki bersama dengan bunyi suara kereta yang ditarik.
"Selamat siang, Dokter Randa," tegur seorang perawat cantik, bersama dua orang kawannya. Mereka datang, membawa mayat seorang laki-laki korban pembunuhan.
"Siang, Evlyn," sahut dokter forensik itu.
"Dok, apa perlu kami dampingi untuk menjahit luka jenazah?" Pertanyaan seperti itu, sangat sering sekali ditanyakan oleh para perawat. Namun, dokter itu lebih sering menolaknya. Apabila, kondisi jenazah yang dibawa hanya mengalami luka-luka sobek kecil. Kecuali luka besar akibat tabrakan atau pembunuhan, barulah Randa minta didampingi.
" Aku, masih bisa mengerjakannya sendiri. Tinggalkan saja jenazah itu! 15 menit lagi, kembalilah kesini bawa semua riwayat kematian jenazah yang laki-laki."
"Baik, Dok."
Tiga orang perawat itu pun, pergi meninggalkan Randa seorang diri mengurus jenazah.
"Aku rasa, perawat tadi menyukaimu."
Randa, kembali tersenyum. " Darimana, kamu mengetahuinya?"
Dia berbicara pada temannya, saat mengantarku ke ruangan ini.
"Semua wanita muda, pasti menyukai lelaki yang sama-sama muda!" sahut Randa, sembari menyuntikkan sebuah suntikan di kepala mayat.
"Aku, masih bisa berbicara denganmu, artinya aku masih hidup kan?" Mayat itu, kembali meyakinkan dirinya.
Tersenyum dokter itu, sembari mengambil kertas surat riwayat kematian dan menunjukkan pada si-wanita bahwa dia sudah meninggal.
"Tapi aku merasa, aku belum mati!" Wanita itu, terus saja menyangkal kematiannya.
"15 menit lagi, perawat akan masuk ke ruangan ini. Jika kamu merasa belum mati, berbicaralah dengannya. Bila dia mendengar ocehanmu, berarti kamu masih hidup. Tapi apabila sebaliknya, dia tidak mendengarmu artinya kamu benar-benar sudah mati. Dan kuharap, kamu tidak menanyakan sesuatu yang dapat mengganggu konsentrasiku," ucap si dokter muda, sembari menoleh ke mayat lelaki yang terus berteriak karena kesakitan.
"Buktinya, lelaki di sana juga mati, tapi aku tidak mendengar suara apa-apa darinya." Mayat wanita itu, masih bersikukuh menganggap dirinya tidak mati.
"Andai, kamu dapat mendengar sepertiku. Sebenarnya, mayat lelaki itu sangat berisik sekali. Kamu, tidak bisa mendengar ocehannya karena kamu sudah meninggal."
15 menit kemudian, dokter itu melihat jarum jam di tangan kanannya. Tidak beberapa lama, datang dua orang perawat masuk ke dalam ruangan.
"Sudah, kamu bawakan riwayat kematiannya?"
"Sudah, Dok."
Dokter itu, memegang riwayat kematian lelaki korban pembunuhan dan mempelajari semua sebab kematiannya.
"Evlyn, kau telanjangi mayat wanita itu. Buka semua pakaiannya, setelah itu bawa ke ruang mayat agar dimandikan oleh Heddy. Pastikan, saat memandikan mayat harus didampingi 2 perawat agar tidak ada lagi kasus pemerkosaan pada mayat. Penyebab kematiannya, sudah kutulis pada kertas di meja. Nanti, kamu salin ke riwayat kematiannya."
"Baik, Dok," ucap Evlyn, perawat cantik yang naksir Dokter Randa.
"Oktav, bantu aku mengurus jenazah laki-laki ini."
Sebuah gunting tajam, menyobek pakaian jenazah lelaki itu. Luka sobek, akibat tebasan pisau membelah bahu kiri.
Randa, mengukur kedalaman luka sobekan akibat tebasan golok.
"Kamu tau, apa penyebab kematian lelaki ini?" tanya Randa, pada Oktav.
"Perkelahian, perebutan warisan. Menurut polisi, korban menyerang terlebih dulu secara membabi buta. Lalu, pelaku berusaha membela diri hingga terjadi duel dan akhirnya korban kalah."
"Tidak! Tidak benar cerita itu! Anak itu yang lebih dahulu menyerangku. Aku, hanya mempertahankan diri!" Jenazah itu, terus berteriak membela diri mengatakan dirinya tidak bersalah. Randa yang mendengar penuturannya, hanya diam saja karena baginya tidak semua mayat harus dia ajak bicara.
"Ukur panjang tubuhnya, lalu kamu catat disini."
"Baik, Dok."
"Setelah itu ukur panjang lukanya, penyebab kematiannya.
Mayat lelaki yang sedang mereka urus itu, terus saja mengeluh. Bila melihat badannya yang besar, tentu tidak pantas jika dia merengek dan menangis seperti anak kecil. Untungnya, hanya Randa saja yang mendengar keluh kesah mayat itu.
"Dokter, kenapa mayat mengeluarkan air mata?" Oktav terkejut, mengira mayat itu masih hidup.
"Itu, normal. Jenazah mengeluarkan air mata itu, akibat dari relaksasi otot menjadi tenang sehingga jaringan-jaringan otot menjadi kendor."
"Owh begitu ya, Dok? Wah, kalau di kampung saya ada mayat begini, mereka pasti heboh karena dianggap aneh."
"Semua yang terjadi itu, semuanya bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan. Itulah pentingnya, edukasi kepada masyarakat agar sesuatu yang aneh tidak menjadi gosip yang bisa menjadi aib bagi keluarga yang tinggalkan."
dr. Randa Razimal Aktaf sp.FM.
Berumur 34 tahun, anak tunggal dari pengusaha kaya raya di Kota Batu. Randa kecil, sejak berumur 6 tahun memiliki keunikan sendiri. Di usianya yang masih kecil itu, orang tuanya sering mendapatinya berbicara sendiri dengan mayat.
Suatu hari, ibunya membawa Randa kecil ke rumah saudara bungsunya, yang meninggal karena tenggelam di dasar sungai besar. Beruntung, mayatnya segera ditemukan oleh beberapa warga yang kebetulan melihat kejadian tenggelamnya sebuah kelotok (Perahu kecil bermesin kecil). Ketika itu, pamannya sedang memancing bersama tiga orang teman lainnya. Saat mereka sedang memancing, tiba-tiba seorang pengemudi perahu marah karena uang yang dia terima dirasa kurang. Hingga, terjadilah cekcok di perahu kecil itu. Ketiga orang pemancing yang tidak bisa berenang itu, didorong ke sungai hingga jatuh dan mati tenggelam akibat lemas karena cairan yang memenuhi paru-paru.
Semua orang, menangisi pamannya yang terbujur kaku di lantai dengan keadaan tertutup kain. Randa lah, satu-satunya orang yang masih bisa mendengar suara dari pamannya yang sudah meninggal.
"Paman?"
"Randa kamu mendengar Paman, Nak?"
"Iya, Paman," sahut Randa.
"Nak, bantu Paman. Tolong katakan pada tantemu, Paman beserta kawan-kawan dibunuh oleh pengemudi speed boat itu."
"Apa yang harus Randa katakan?"
"Beritahu saja pada tantemu, seperti itu?"
Orang-orang yang sedang membaca surat yasin di sekitar jenazah pamannya, terheran menyaksikan Randa berbicara sendiri kepada mayat pamannya. Di antara mereka, bahkan saling bertatapan dan berbisik-bisik.
"Randa.." Ibunya memanggil setengah berbisik, mengingat banyaknya orang di sekitar jenazah.
"Randa... Randa..."
Bocah itu, tetap saja tidak memperdulikan panggilan ibunya dan terus saja berbicara kepada si mayat. Orang-orang yang menyaksikan itu merasa heran. Sebagian dari mereka tertawa, mengingat si Randa seorang anak yang aneh. Sejak kecil mereka memvonis Randa, seorang anak pengidap autis. Sampai akhirnya di usia Randa ke-14 tahun, mereka sadar bahwa Randa pengidap penyakit 'Psikosis.'
Randa, sama sekali tidak mengindahkan panggilan ibunya. Selesai dia berbicara dengan pamannya, dia pun beranjak pergi dan mendatangi tantenya. Dia, menceritakan semua pesan almarhum pamannya.
"Tante, Paman memberi wasiat. Bahwa kematiannya, bukan kecelakaan tetapi dibunuh. Dan Paman juga berkata, baju yang Tante beli untuk hadiah ulang tahun perkawinan Tante dan Paman terlalu kecil. Pergelangan tangannya, membuat Paman susah bergerak karena terlalu sempit."
Mendengar perkataan itu, tantenya menjadi kaget setengah mati. Bagaimana Randa bisa tahu, padahal baju yang baru dibeli kemarin belum sempat dipakai oleh suaminya karena pegelangan tangannya yang terlalu sempit. Suaminya, kurang nyaman memakainya dan ketika mencoba memakainya di kamar tidak seorang pun mengetahuinya, bahkan anak mereka sendiri.
Tantenya pun, bergegas membawa Randa keluar dan menjadi perantara pembicaraan antara ia dan suaminya yang sudah meninggal dunia.
Sejak saat itu, Randa sering dimintai oleh pihak keluarga. Jika ada keluarga yang meninggal, maka dia selalu diminta menjadi perantara. Orang tuanya yang mulai khawatir dengan kondisi Randa, mencari pengobatan kemana-mana. Menurut mereka apa yang diderita Randa, bukanlah sebuah kelebihan melainkan sebuah penyakit yang harus disembuhkan.
Sampai akhirnya di usia 14 tahun, orang tuanya menyerah. Ketika seorang dokter asal Singapura memvonis, bahwa Randa mengalami penyakit psikosis. Penyakit yang membuat Randa, tidak bisa membedakan dunia nyata dan tidak nyata. Mulai saat itu, Randa tidak pernah lagi diajak orang tuanya menemui keluarga atau saudara kerabat yang meninggal dunia. Sampai akhirnya, Randa memilih menjadi dokter ahli spesialis forensik. Dengan begitu, dia menjadi mahir dan jago dalam menganalisis penyebab kematian setiap jenazah yang ditanganinya. Dia pun sangat dikenal, sebagai seorang ahli forensik dengan julukan '99 persen' karena setiap analisanya 99 persen sangat akurat.
*****
Selepas pulang kerja, Randa menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Badannya terasa sangat lelah. Dia, mengambil cermin kecil di sebelah kasur dan memandangi matanya memerah akibat kelelahan.
Saat hampir saja terlelap tidur, Randa merasakan ada seorang perempuan duduk di kursi depan TV sembari memperhatikan Randa. Setengah sadar, Randa terkejut. Bagaimana bisa, ada seorang wanita di kamarnya. Dia ingat sekali, sebelum masuk rumah dia sudah mengunci semua ruangan. Mulai pagar depan, ruang tamu bahkan kamar tidurnya pun sudah dikuncinya.
"Siapa, kamu?"
Tidak ada, sepatah katapun yang keluar dari mulut wanita itu.
Wanita itu hanya berdiri, seraya menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada sembari membungkuk, memberi isyarat ucapan terimakasih lalu menghilang dari balik dinding
"Astagfirullah." Randa berdzikir. Lalu bersambung berdoa,“Alladziina yu’minuuna bil ghaib.” Randa mengingat isi Surat Al-Baqarah, ayat ke-3 surat ke 2. Tentang keyakinan pertama yang disandang oleh orang-orang beriman. Percaya dan yakin, pada sesuatu yang gaib yang semuanya kadang tidak bisa kita bahas dengan ilmu pengetahuan apapun kecuali dengan keyakinan iman dan agama.
Dia baru sadar, bukankah wanita itu adalah wanita yang dua hari lalu dia otopsi. Wanita itu, menceritakan semua kejadian pembunuhan terhadap dirinya kepada Randa.
Dengan bocoran cerita si mayat, Randa melaporkan kejadian semua kejadian tentang penyebab kematian si wanita kepada polisi. Berbekal bukti dan laporan hasil visum, akhirnya polisi pun membekuk tersangka di rumahnya yang tidak lain adalah ayah kandungnya sendiri.
Randa, merasa kantuk yang luar biasa baru tersadar. Ternyata sejak dia pulang kerja, dia belum sempat salat isya. Dia pun, akhirnya bangkit mengambil wudhu ke kamar mandi dan kemudian salat memohon dan meminta perlindungan. Tidaklah mudah baginya, bekerja sebagai tim forensik. Pekerjaannya, bukan hanya soal mencari fakta penyebab kematian. Kadang dia harus menggergaji tulang mayat, membelah perut mayat hanya demi mencari kebenaran tentang bukti-bukti dari setiap kasus.
Pakaian seorang dokter forensik, bukanlah seperti pakaian dokter pada umumnya. Dokter biasanya rapi, menggunakan jas, memakai sepatu yang bersih dan licin dan bertemu dengan pasien-pasien yang minta disembuhkan. Pakaian Randa, lebih pada seperti seorang astronot, panas, pengap dan tertutup. Sepatu boot, handscoon kuning terang dan apron. Tidak ketinggalan, kacamata otopsi besar yang mirip kacamata renang.
Sebuah berkas, menumpuk di meja kerja Randa. Seorang mahasiswi, jurusan ilmu hukum berkewarganegaraan Rusia menemuinya di ruang kerja Randa.
"Permisi." wanita bule, berambut pirang dengan mata biru namun fasih dan cakap berbahasa Indonesia.
"Dokter Randa?"
"Iya betul, silakan masuk."
Randa berdiri, menyambut kedatangan wanita bule itu.
Setelah dipersilakan duduk, wanita itu membuka percakapan.
"Saya membaca tulisan anda, tentang wanita yang terbunuh dengan kemaluan yang tertancap cangkul?"
Tersenyum Randa. Bibirnya yang merah muda, cukup membuat wanita Rusia itu mencuri pandang pada wajahnya.
"Jika tidak salah, kejadian itu terjadi di tahun 2016." Wanita Rusia itu, lalu membuka amplop dan mengeluarkan foto-foto lama hasil penyelidikan tim INAFIS polisi.
Randa, mengambil sebagian foto lalu dia mengingat kembali kejadian lama itu saat dia membantu tim laboratorium forensik polisi. Demi menuntaskan kejanggalan, dari kasus pemerkosaan terhadap wanita berumur 19 tahun. Salah satu karyawan yang tinggal di sebuah mess milik pabrik.
EMPAT TAHUN YANG LALU
Dering bunyi telpon berbunyi nyaring. Waktu, menunjukkan pukul 03.30 WIB. Randa yang ketika itu bertugas di kepolisian, mau tak mau harus terjaga dan bangun karena telpon itu sepertinya mendesak dan penting.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam, Dokter Randa. Bisa, ke kantor malam ini juga?."
"Mendesak?"
"Sangat mendesak, Dok."
"Baiklah."Dokter muda itu pun bergegas memakai pakaiannya. Semua barang-barangnya, sudah dikemas dalam tasnya segera dia bawa. Jarak, kantor polisi dan rumah dinasnya tidaklah begitu jauh. Hanya perjalanan 6 menit saja, dengan berjalan kaki.
Selama perjalanan menuju ke kantor polisi, suasana gelap dan cuaca yang kurang bersahabat tetap tidak mengurungkan niatnya. Dia, tetap berangkat memenuhi panggilan tugas. Hawa dingin, terasa begitu kuat menghinggap di tengkuk belakang lehernya. Rasa ingin menoleh ke belakang, namun Randa mengurungkan niatnya dan terus saja melangkah tidak memperdulikan apa yang terjadi di belakangnya.
Sesampainya di kantor, beberapa kawannya sudah standby di dalam mobil berwarna orange.
"Semua personel, lengkap?"
"Lengkap, Komandan!" sahut prajurit yang mendampingi perjalanan mereka ke TKP.
"Mari berangkat."
Mobil pun, terus melaju membelah gelapnya malam. Cahaya lampu sirene dihidupkan, sebagai tanda bahwa mobil berjalan dalam keadaan cepat.
Satu jam, setelah adzan subuh mereka sampai di lokasi. Beberapa orang yang tergabung dalam satu tim mulai bekerja. Mereka dibuat kaget, ternyata ada jasad wanita muda ditemukan di atas kasur berwarna merah muda tanpa seprai di salah satu mess karyawan pabrik. Tubuh mayat, ditumpuki baju kotor dan sprei yang penuh dengan bercak darah. Rumahnya terlihat acak-acakan. Beberapa pakaian, sengaja ditumpuk untuk menutupi tubuh mayat yang tubuhnya sudah mulai dirasa dingin.
Randa dan tim langsung bekerja. Ke-4 petugas itu, dalam waktu singkat mengeluarkan perbagai piranti, mulai dari kamera, mistar, kantong plastik, hingga pinset. Mereka semua, mengikuti prosedur terutama sarung tangan khusus. Beberapa polisi, langsung memasang garis kuning. Selama bekerja, mereka tergolong sangat irit bicara. Mereka, bekerja tanpa diperintah dan langsung mengambil tugasnya masing-masing. Randa sebagai tim forensik bagian visum, memeriksa denyut nadi dari jasad wanita itu. Dia, menggeleng kepala karena merasa kasihan melihat kondisi wanita muda yang saat ditemukan sangat mengenaskan. Tubuhnya, berada dalam posisi telentang dan di bagian kemaluannya tertancap gagang cangkul. Di sekitar lantai, banyak dipenuhi oleh darah yang tercecer di mana-mana.
Satu persatu, pakaian yang menindih tubuh mayat mulai dipindahkan. Randa, mulai memeriksa bagian tubuh korban yang ditemukan tanpa memakai sehelai benangpun. Pada bagian wajah, terdapat banyak sekali garis bersusun tiga dan lebam di bagian dahi kiri.
"Mereka, menggaris wajahku dengan garpu." mayat wanita yang ditemukan itu mengadu."
Randa yang mendengar penuturan dari sang mayat, hanya diam saja. Tidak mungkin, dia berbicara langsung kepada mayat di hadapan rekanannya.
Sebuah pulpen, dituliskan pada kertas. Randa, menulis seperti apa yang dikatakan mayat itu.
Setelah selesai memeriksa bagian kepala dan leher, Randa mulai menyelidiki bagian antara bawah leher sampai pusat.
"Mereka, menggigitku! Entah apa yang ada di pikiran mereka. Mereka, benar-benar kejam menyiksaku."
"Frenz, kemari! Coba, kamu ambil sampel bekas gigitan ini. Sepertinya, ada sedikit air liur pelaku yang tertinggal."
Rekannya, tengah mengikis sampel darah yang sudah mulai mengering di lantai beralih berdiri dan mengambil sampel luka pada tubuh korban.
Setelah selesai, rekannya berpindah mengambil sampel yang lain.
Randa, melanjutkan penyelidikan luka di tubuh korban. Setelah bersih bagian bawah leher sampai pusar, hati Randa menjadi pilu mendengar penuturan si mayat itu. Bahwa ketika gagang cangkul yang dimasukkan ke dalam kemaluannya, dia masih dalam kondisi hidup.
"Sakitnya, luar biasa. Aku, merasakan benar bagaimana gagang cangkul itu masuk. Mereka, memegang tangan kanan dan kiri juga memegangi dua buah kakiku. Sedangkan, kakinya mendorong gagang cangkul. Aku, benar-benar merasakan bagaimana gagang itu merobek rahim dan menumbuk lambung hingga merusak susunan usus besar dan usus kecil. Tidak sampai di situ saja, organ hatiku rasanya ikut hancur."
Setiap bercak dan tanda apa saja diambil oleh petugas. Bercak darah, diambil menggunakan kapas dan pinset. Semua barang dan benda, sekecil apapun yang diduga ada hubungannya dengan kasus itu langsung mereka masukkan ke dalam kantong plastik. Begitu pula, dengan gagang cangkul yang masih menancap pada korban ditarik. Dan bisa dibayangkan, betapa sakitnya saat benda tumpul itu masuk ke dalam organ tubuh.
Perhatian para petugas polisi lainnya, tertuju pada sebuah objek bekas telapak tangan berlumur darah di lantai. Bentuk dan ukuran telapak tangan, sama sekali tidak sama dengan ruas tangan mayat wanita yang tergeletak di atas kasur itu. Bagi mereka petugas INAFIS, ini adalah petunjuk paling berharga sebagai petunjuk mereka menindak lanjuti siapa sebenarnya pelaku.
Setelah merasa cukup, para petugas lalu menghubungi ambulance dan membawa mayat wanita yang diketahui bernama Una. Usianya, masih sekitar 19 tahun.
Beberapa tetangga yang sama-sama penghuni kost-kostan mess karyawan, merasa terpukul atas kematian Una. Mereka, tidak menyangka bahwa wanita itu akan menjadi korban pemerkosaan. Padahal, gerbang mess itu termasuk tinggi dan selalu terkunci. Kuat dugaan, pelaku pemerkosaan adalah penghuni kompleks mess karyawan itu juga.
Sesampainya jenazah Una di rumah sakit, Randa langsung bekerja menyelidiki sebab kematian wanita muda itu.
"Beri aku waktu sendiri, 15 menit bersama jenazah. Kamu, tunggu saja diluar. Setelah selesai, nanti aku panggil."
"Baik, Dok." Perawat yang hendak mendampingi, keluar dan duduk di kursi di pinggir lorong jalan rumah sakit menunggu panggilan dari Randa
"Sejak tadi, aku mendengar aduanmu. Bicaralah, supaya kami bisa menuntaskan kasusmu."
Mayat yang merasa dokter sedang berbicara padanya, merasa kaget.
"Dokter, berbicara pada saya?"
"Iya," ucap Randa yang duduk di samping jenazah.
"Bukankah, saya sudah mati?"
"Itu, tidak penting. Kenyataannya, saya memang bisa berbicara dengan orang yang sudah mati. Tolong beritahu saya, kronologi serta pelaku yang telah membunuhmu? Sebelum tubuhmu, 5 jam lagi rusak dan kamu tidak bisa lagi berbicara menceritakannya semuanya padaku."
Mendengar perkataan Randa, jenazah itu mengeluarkan air mata.
"Pembunuhku, adalah pacarku sendiri. Kami, sejak awal pacaran lebih sering melalui telpon dan SMS saja karena mess ini dijaga ketat jadi tidak sembarang orang boleh masuk."
"Bagaimana, dia bisa masuk?"
"Aku, membuka engsel gerbang dari dalam. Aku yang menyuruhnya masuk."
"Lalu?"
"Tidak ada yang kami lakukan. Hanya, berbincang saja dan bercanda. Tidak lama kemudian, kami berdua berciuman tetapi pacarku memaksaku membuka baju. Dia, ingin mengajakku bersenggama dan aku menolak dengan alasan takut hamil."
"Dia, langsung memperkosamu?" tanya Randa yang penasaran dengan cerita mayat perempuan itu.
"Tidak! Karena kutolak, sepertinya dia sedikit meraju dan duduk di depan teras mess. Aku panggil-panggil, dia tidak perduli. Sampai beberapa menit kemudian, dia masuk. Anehnya, dia masuk bersama Arif dan Ilham."
"Siapa, Arif dan Ilham?"
"Temanku bekerja di pabrik, sama-sama satu mess."
Randa yang memegang pulpen dan kertas, langsung menulis nama dua orang tadi.
"Setelah itu?"
"Pacarku dan Ilham, langsung membekap mukaku dengan bantal hingga membuatku tidak bisa berteriak. Arif, mendorong badanku dan memaksa melucuti semua pakaianku. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa pusing. Sampai, aku pun pingsan dan tidak sadar sama sekali."
"Lalu, mereka memperkosamu saat kamu tidak sadarkan diri?"
"Iya, saat aku sadar ternyata pacarku sudah menyetubuhiku. Melihat aku sadar, Arif memukulkan ganggang cangkul ke dahi kiri."
Randa, melirik dahi kiri si mayat yang lebam hitam kebiru-biruan.
"Selesai pacarku, bergantian Arif yang memperkosaku.
"Lalu siapa yang menggigit, maaf payudaramu?"
"Arif!" ucap sang mayat. Matanya, kembali mengeluarkan air mata.
"Gagang cangkul?"
"Pacarku, Aar."
"Bagaimana, dia melakukannya?"
"Dia, mendorong gagang itu ke dalam kemaluanku menggunakan kakinya. Aku, merasakan sakit luar biasa saat itu.
Seluruh organ tubuhku rasanya rontok, setelah itu gelap dan aku rasa, aku sudah mati."
Miris sekali nasib wanita itu. Entah bagaimana sakitnya, tapi yang jelas hampir 90 persen gagang itu masuk ke dalam tubuhnya dan ujung gagang masuk berada persis di bawah lehernya.
"Dengan modal, informasi dari mayat itu lalu anda melapor pada tim?"
"Tidak, aku hanya merekayasa kasus dan mengarahkan penyidikan ke pelaku yang bernama Arif. Dengan begitu, mereka langsung tertangkap 24 jam kemudian."
"Apa, anda pernah menceritakan penyakit anda ke orang lain?"
"Iya, aku menceritakannya."
"Apa, respon mereka?"
"90 persen, mereka menganggap aku membual."
Entah berapa lama, mereka bercengkrama di dalam ruang kerja Randa tapi kedatangan wanita Rusia itu cukup membuat Evelyn gelisah dan cemburu.