Sampul Novel Kala Senja Berakhir

Kala Senja Berakhir

9.1 / 10.0
Sebuah surat perpisahan yang urung dikirimkan tersimpan di saku kemeja Rendy. Lembaran kusut tersebut menyimpan pesan mendalam untuk Reika Abigaillis, perempuan yang selama ini menjadi pelengkap terindah dalam hidupnya. Meski tahu waktunya telah habis dan ia harus melangkah pergi, Rendy tetap berharap agar Reika bisa merajut bahagia bersama orang lain yang tulus mengasihinya. Akankah takdir membawa akhir yang manis bagi kisah cinta penuh haru ini? Simak perjalanan romansa mereka yang begitu menguras emosi.
Ringkasan Kala Senja Berakhir
Sebuah surat perpisahan yang urung dikirimkan tersimpan di saku kemeja Rendy. Lembaran kusut tersebut menyimpan pesan mendalam untuk Reika Abigaillis, perempuan yang selama ini menjadi pelengkap terindah dalam hidupnya. Meski tahu waktunya telah habis dan ia harus melangkah pergi, Rendy tetap berharap agar Reika bisa merajut bahagia bersama orang lain yang tulus mengasihinya. Akankah takdir membawa akhir yang manis bagi kisah cinta penuh haru ini? Simak perjalanan romansa mereka yang begitu menguras emosi.
Baca Selengkapnya

Kala Senja Berakhir Bab 1

Pagi itu di sebuah kantin sekolah, para siswa berlarian begitu melihat seorang guru pria sedang membubarkan anak didik yang masih bandel. Pasalnya sudah lima menit yang lalu bel tanda masuk telah berbunyi, tapi tetap saja belum beranjak dari tempat duduk.

Mereka berlarian seperti pemotor terkena razia polisi. Menerobos tanaman perdu di sekitar taman, bahkan ada yang jatuh terperosok ke dalam selokan. Apapun akan mereka lakukan asal tidak tertangkap guru pensiunan TNI AL yang terkenal garang.

Sementara itu di kelas XI IPS sejak bel tanda masuk berbunyi, Reika merasakan perutnya melilit karena siklus bulanan yang kerap kali menyiksa kaum hawa. Ia terpaksa harus merelakan beberapa jam pelajaran favoritnya, Bahasa Indonesia. Merasa sudah tidak tahan lagi, ia minta ijin Bu Winda ke kamar mandi.

"Bu, boleh saya minta ijin ke belakang?" tanya Reika sembari meremas perutnya sambil meringis.

"Silakan, Reika."

"Terima kasih, Bu."

Tanpa membuang waktu, ia melesat keluar ruangan. Berlari seperti atlit marathon, lari, lompat, bahkan terbang akan dilakukan andaikan saja ia bisa. Cuma satu tujuannya, toilet wanita. Untung saja toilet masih kosong, biasanya jam-jam segini rawan antri.

Posisi toilet wanita dan pria bersebelahan, dibatasi tembok tinggi dengan roster yang sangat tidak mungkin dipanjat walau memakai bantuan meja dan kursi sekalipun. Namun, justru karena adanya roster, siswa perempuan merasa risih karena mereka berpikir mungkin ada saja beberapa siswa iseng.

Sementara di sisi toilet pria, dua orang siswa memasuki satu toilet secara bersama-sama. Erwin, yang asyik dengan rokoknya. Rendy, serius menatap layar ponsel yang menyajikan film dewasa. Mereka sama-sama kelas XI IPA, termasuk anak yang pintar, tapi bandel. Keduanya bisa dibilang murid yang populer di mata kaum hawa di sekolah. Tubuh Erwin sedikit tampak atletis karena beberapa bulan terakhir ini rajin nge-gym. Rambut lurus agak panjang, badannya tegap terlihat tampak macho. Sedangkan Si Rendy sedikit lebih kecil, rambutnya hitam lurus dengan gaya belah tengah. Tangan kiri hampir selalu dimasukkan ke saku celana.

"Besar amat pantatnya, mulus, putih lagi, ckck."

"Rambutnya juga lebat, hahaha." Mereka tertawa cukup keras, hingga penghuni sebelah menjerit histeris.

"Aaaaaw... toloooong ada yang mengintiiip !!!"

Sontak saja, teriakan Reika mengundang perhatian Pak Pram bersama beberapa murid anggota OSIS yang kebetulan melintas. Gita, teman sekelas Reika beserta siswa perempuan berusaha untuk menenangkannya, sementara Pak Pram langsung menuju toilet pria setelah mendengar teriakan histeris dari salah seorang murid perempuan.

Beliau menggedor pintu hingga membuat penghuni di dalam bilik menghentikan aktifitasnya.

"Siapapun yang ada di dalam, cepat keluar !"

Tak berapa lama terdengar suara seseorang membuka kunci dari dalam, begitu pintu dibuka asap rokok menerobos mengepul di udara disusul dua anak badung dengan ekspresi ketakutan. Sebenarnya tidak merasa takut, tapi lebih kepada segan dengan Pak Pram yang memang sifatnya kebapakan dan lemah lembut, orangnya ramah dan bersahabat.

Pria berkaca mata itu geleng-geleng kepala begitu mereka keluar. Sebuah hadiah jeweran yang tidak begitu keras diterima. Selanjutnya Erwin dan Rendy diminta mengikutinya ke ruang BK. Setiap siswa SMA GARUDA akan menurut jika Pak Pram turun tangan, tidak ada bantahan yang keluar jika beliau yang meminta.

"Coba ceritakan. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Pak Pram sambil membetulkan kaca matanya.

"Hanya merokok, Pak. Kami tidak mekakukan perbuatan itu." Erwin mencoba membela diri, tidak mungkin juga jika bilang nonton film dewasa. Mau ditaruh mana mukanya nanti, entah jika terus didesak.

"Bohong, Pak. Kalau tidak mengintip, kenapa kau bisa bilang... ehmm, maaf Pak, bagian tubuh Reika." Gita yang tidak senang dengan penuturan Erwin tiba-tiba menyela dari luar. Sebenarnya ia ada rapat anggota OSIS, tapi karena ada insiden di kamar mandi terpaksa ikut serta menuju ruang BK. Ia tidak suka jika temannya mengalami pelecehan, sementara Reika masih terus menangis dan enggan berbicara.

"Bener, Pak. Kami tidak melakukan itu, hanya merokok dan.... " Rendy ragu dan malu untuk mengatakan yang sebenarnya.

"Dan mengintip kan?!" potong Gita masih dengan ketusnya.

"Eh, bisa diam gak. Dasar Mak Lampir."

"Rendy. Bahasanya dijaga ya," kata Pak Pram menengahi.

Setelah perbincangan yang alot dan tidak ada yang mau mengaku, mereka berdua diminta memanggil orang tuanya masing-masing. Sebagai hukumannya, mereka disuruh menulis besar-besar di kertas manila yang isinya ' SAYA TIDAK AKAN MENGINTIP LAGI '. Untuk kemudian dikalungkan dan dibaca di depan tiap-tiap kelas. Jumlah keseluruhan ada 21 ruang kelas. Bisa dibayangkan betapa malunya mereka berdua.

Sorak sorai dan gelak tawa terdengar dari siswa yang ruangannya didatangi tiap kali selesai mereka membacanya. Sampailah mereka di kelas XI IPS, kelas dimana Reika dan Gita bersemayam. Kebetulan tidak ada guru, jadi kelas itu ada jam kosong. Begitu melihat Gita duduk di bangku nomor 2, muncul niatan Rendy mengerjai gadis yang paling galak sekabupaten.

Namun, Gita tidak begitu memperdulikan kehadiran mereka berdua, baginya hanya buang-buang energi berdebat dengan cowok berandalan itu. Malah dirinya berharap agar mereka segera pergi saja dari ruang kelas. Jadi, dia lebih memilih menyibukkan diri dengan membaca buku.

"Hai Reika, maapin saya ya. Masih sewot ga? Aku yakin kamu orangnya pemaaf, ga seperti temenmu yang satu itu," sapa Rendy diiringi lambaian tangan. Diliriknya Gita yang sudah terpancing dengan perkataannya, mukanya masam dan wajahnya menunjukkan ekspresi seperti ingin makan orang.

"Woy monyet! maksud kamu apa pake nyindir-nyindir segala." Sesuai harapan, Gita lah yang angkat bicara duluan. Rendy makin gencar melakukan serangan, dia pura-pura tidak mendengar ocehan Gita.

"Reika. Aku ingin Kita bicara baik-baik sepulang sekolah, oke ? Hanya kita berdua, jangan ajak Mak Lampir ikut serta."

Gita yang sudah naik pitam bangkit dari tempat duduk dan berusaha mencakar wajah Rendy, tapi usahanya dihalangi teman sekelasnya. Merasa usahanya tak membuahkan hasil, dia mencopot sebelah sepatunya lalu dilempar ke arah Rendy. Namun, lemparannya meleset dan hanya mengenai papan tulis.

Brak !

"Horeee, dapat trofi," teriak Rendy kegirangan lalu membawa kabur sepatu milik Gita lalu dibawa lari entah kemana.

"Monyeeeeet ... balikin sepatuku!" Teriakannya menggema. Ia meronta dari kerumunan teman sekelasnya lalu kembali duduk ke bangku dengan kasar.

Erwin yang tak ingin menjadi pelampiasan kemurkaan Gita ikut ngelonyor pergi meninggalkan kelas. Sepasang mata dibangku paling belakang menatap lekat ke arah Rendy yang sudah jauh dari kelas dengan pandangan penuh kebencian. Tangannya mengepal dan memukul meja hingga membuat beberapa siswa menoleh ke arah sumber suara. Terlihat lima orang siswa berbicara serius merencanakan sesuatu.

"Kita cegat sepulang sekolah. Kalian hubungi temen-temen lain, suruh bersiap depan gerbang." Kata anak itu memerintahkan salah seorang murid satunya lagi. Tak sabar menunggu bel pulang sekolah berbunyi, dia berniat menyusul ke kelas IPA. Namun, niatnya itu diurungkannya setelah melihat Pak Pram memasuki ruangan untuk mengabsen.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Kala Senja Berakhir

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Aku Tak Punya Siapapun Lagi
9.3
Divonis hanya memiliki sisa tiga hari akibat gagal hati akut, seorang istri harus menghadapi kenyataan pahit saat suaminya, David, memberikan kuota uji klinis terakhir kepada Emma, sang adik angkat. Alih-alih melawan, ia memilih menghentikan pengobatan, menyetujui perceraian, serta merelakan anak dan bisnis perhiasannya diambil alih oleh Emma. Di saat seluruh keluarganya memuji keputusan tersebut tanpa rasa curiga, ia menanti reaksi mereka saat ajal akhirnya menjemputnya.
Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Perjodohan dengan pria yang dulu pernah ditolaknya memicu dilema mendalam. Apakah pernikahan ini berjalan atas sisa cinta, atau justru menjadi ajang pembalasan dendam atas sakit hati masa lalu? Kini, sebagai suami istri, keduanya harus berkomitmen meski bayang-bayang masa lalu terus mengusik. Di dunia Chronophile yang sangat menghargai waktu, berbagai rahasia dan konflik pun mulai bermunculan, menguji kesetiaan serta keutuhan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Cinta matiku pada sang tunangan, Bima Wijoyo, berakhir tragis saat ia membiarkanku terpanggang api di studio seni demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Terbangun di masa lalu tepat sebelum rapat keluarga besar dimulai, aku membawa memori pahit tentang kobaran api itu. Kali ini, aku berdiri kokoh untuk membatalkan pertunangan kami di hadapan semua orang. Aku bersumpah tidak akan mati konyol untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali meminta cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru menurunkannya di jalan demi menjawab telepon sang mantan, Rosalie Harris. Laurence terus meremehkan Josie dan yakin istrinya tidak akan berani pergi. Dia tidak sadar bahwa pengabaiannya kali ini telah melewati batas. Di sisi lain, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie agar segera menyelesaikan perceraiannya dan pergi meninggalkan negara ini untuk selamanya.
Sampul Novel Desain Cinta Kedua
9.4
Tiga tahun membina rumah tangga, Jessica hanya mendapatkan kepedihan dari Aaron. Usai perceraian mereka, ia memilih mandiri dan sukses membangun karier sebagai desainer tersohor tanpa sokongan finansial keluarga. Namun, di tengah keberhasilan dan kebahagiaan barunya, Aaron muncul lagi dengan penyesalan mendalam. Sang mantan suami kini memohon dimaafkan dan meminta peluang kedua. Akankah Jessica luluh atau memilih menutup rapat pintu hatinya?
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan. Alih-alih bahagia, ia justru menjadi sasaran kekejaman Adnan, suaminya yang menyimpan dendam membara kepada sang mertua. Setiap hari, Saschya harus bertahan menghadapi siksaan fisik dan mental yang keji. Namun, di tengah keputusasaan yang mendalam, sosok dari masa lalunya mendadak hadir kembali. Apakah kemunculan mereka akan menjadi penyelamat yang membebaskan Saschya, atau malah memicu prahara baru di hidupnya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED