"Mas! Ini serius boleh di tanamin bunga sama aku?" teriak Zita sambil memegang skop kecil dan bibit bunga di tangannya.
"Hm," jawab Pandu sembari bermain game di ruang tengah rumah mereka di kota Dumai.
"Bibit bunganya hidup nggak di tanam di sini?! Nanti mati belum keluar pucuknya?" Masih berdiri di pintu ruang tamu, Zita menatap suaminya yang mengangguk.
"Mas!" Panggil Zita lebih kencang. Pandu menoleh.
"Tanam aja, kalau mati, tanam lagi yang baru." Sahutnya santai dengan nada suara beratnya.
"Aku tanam bunga bangke sekalian aja kalau gitu." Ambek Zita.
"Ide bagus, Zit! Kamu bisa masuk TV karena rumah kita viral, ada bunga bangkenya." Sahut Pandu lagi. Zita kesal, baru pindah setelah satu minggu menetap di hotel, mendadak ia emosi karena Pandu terlalu cuek, santai dan masa bodoh dengan apa saja yang istrinya lakukan itu dengan semua yang ada di rumah.
Zita senang menanam bunga, beruntung halaman rumah itu masih bisa ditumbuhi rerumputan walau cuacanya panas terik. Ia belum sempat berkenalan dengan tetangga, karena lagi-lagi, Pandu mager kalau udah di rumah.
Tak lama kemudian....
"Zit! Zita!" Panggil Pandu dari dalam rumah. Wanita yang sadar namanya di panggil, sontak mematikan keran yang tersambung dengan selang, karena ia sedang menyiram bibit tanamannya.
"Ya," jawab Zita sudah berdiri di dekat suaminya itu.
"Makan, Zit, laper." Tatap Pandu sembari tersenyum. Pandu tak lagi brewokan, sesuai janji, suaminya itu mencukur hal yang membuat Zita sebal.
"Makan mie instan mau? Kamu tau kan aku--"
"Nggak bisa masak. Tau, yaudah bikinin, pake telor, cabe rawitnya tiga."
"Ya." Zita lalu berjalan melewati Pandu yang melirik seraya mengulum senyum. Kegiatan Zita di dapur masih bisa dilihat Pandu, rumah itu tak besar. Ruang tamu kecil, ruang tengah yang jadi satu dengan ruang makan, lalu dapur, ruang jemur baju di dekat dapur, dan dua kamar, rumah type 36 itu cukup bagi mereka.
"Zit, aku udah ngurus surat numpang nikah, tapi nggak bisa bulan depan ke Yogyanya, gimana?" Pandu bertanya dengan mata menatap layar televisi 52 inch dengan stik PS di tangannya.
"Gimana apanya?" Zita balik bertanya. Pandu menekan tanda henti sementara dibenda yang sedang ia pegang.
Saatnya isengin Zita. Ucap Pandu dalam hati.
Grep.
Tangan Pandu memeluk pinggang istrinya dari belakang. Zita berdiri mematung.
"Lepas. Mas! jangan sampai nih air kuah mienya tumpah ke mana-mana." Kesal. Zita jelas kesal, karena perjanjiannya kan, harus nikah sah di negara baru ada kegiatan enak-enak. Lagi pula, surat keterangan nikah agama dan sementara itu, juga tak bisa dilaporkan ke kantor untuk catatan fasilitas kesehatan dari kantor Pandu untuk Zita.
"Terus kapan, Zita sayang," ledek Pandu. Ujung hidung bangir Pandu menggesek wajah Zita yang memilih menjauhkan wajahnya dari hadapan Pandu.
"Mas! Ih! Jangan ngarep sebelum aku pegang buku nikah." Ia melepaskan pelukan tangan Pandu.
"Oke. Gini aja kalau gitu." Pandu menangkup wajah Zita. Dengan cepat pria itu mengecup berkali-kali bibir Zita. Dasar modus. Awalnya iseng, ujung-ujungnya nyosor. Zita protes, ia menghapus jejak bibir suaminya dengan punggung tangan. Kedua matanya menatap tajam. Ia menginjak kaki Pandu sekuat tenaga lalu membawa mangku berisi mie rebus telor extra rawit tiga ke meja makan. Pandu cekikikan, tapi seketika ia syok. Zita menikmati mie rebus requesannya dengan santai. Mengabaikan dirinya yang lapar.
"Heh anak kecil! Aku yang minta. Sini!" tegur Pandu. Zita melirik sinis, ia memunggungi suaminya. Menikmati mie rebus yang buru-buru ia tiup lalu menikmatinya. Pandu menelan ludahnya, ia lapar, auto ngiler.
"Zita..." bujuknya.
"Ngalah sama anak kecil, bikin sendiri sana." Oceh Zita. Pandu bersedekap.
"Oh, gitu. Dosa kamu lho, nyuruh-nyuruh suami."
Mulai, seminggu ini senjata andalan Pandu kalau Zita menolak ini itu bawa-bawa dosa. Zita yang tau, ia pun kesal. Di sodorkannya mie yang masih banyak isinya ke arah Pandu, ia melirik sinis lalu beranjak. Beralih ke panci bekas membuat mie yang ia cuci bersih, tak lupa merapikan piring-piring juga.
Pandu tersenyum sembari menikmati mie rebusnya. Zita akan membalas keisengan Pandu. Ia sudah menyediakan air minum juga untuk suaminya itu, semakin membuat Pandu tersenyum. Istrinya melangkah menjauh, tapi mendekat ke PS 5 yang sedang dimainkan suaminya.
"Zita, jangan coba-coba..." tegur Pandu. Zita berjalan santai, lalu,
Sret.
Dengan santai mencabut sambungan listrik yang otomatis mematikan televisi dan PS 5 itu. Ia berjalan cepat ke teras. "Rasain! Balasa dendam itu menyakitkan, kapten!" teriaknya. Pandu hanya bisa pasrah sembari mengusak rambutnya kasar. Kesal dengan balas dendam istrinya itu, tapi ia tak menampik jika level kematangan mie rebus dan telor buatan Zita, baginya sempurna dan sesuai seleranya.
***
"Belanja seperlunya. Jangan boros." Belum apa-apa Pandu udah bawel, padahan Zita mengambil barang sesuai dengan daftar yang sudah ia catat dari rumah. Pandu merangkul bahu Zita yang tinggi tubuhnya hanya seketiaknya. Tapi hal itu yang membuat Pandu gemas.
"Jangan pegang-pegang, belum halal seratus persen." Tegur Zita.
Pandu cuek, ia justru kembali modus dengan berdiri di belakang istrinya yang lagi memilih deodoran untuknya, dengan meletakkan dagu di atas kepala Zita.
"Berat, Mas," keluh wanita itu yang menghindarkan kepalanya dari dagu Pandu.
"Pendek, sih. Kirain ganjelan dagu." Lalu Pandu berjalan sambil mendoring keranjang belanjaan.
"Pindik sih, kiriin ginjilin digi. Modus banget!" Dumel Zita. Ia sudah memilih deodoran yang wanginya ia sukai. Pandu udah bilang kalah ia suka merek R, tapi Zita tak suka, ia mau Pandu memakai merek N. Pandu ngalah karena Zita berbicara ...
Emang kamu suami siapa? Yang nanti tiap hari tidur sambil peluk kamu siapa? Yang usel-usel siapa? Cewek lain? Nggak kan, aku. Yaudah, ini aku suka wanginya.
Pandu ngalah, dari pada misi mencoblos Zita gagal tanpa menunggung buku nikah, maka ia turuti kemauan istrinya itu. Mereka sudah berdiri di kasir, keranjang cukup penuh, kedua mata Pandu melirik ke kotak durex dan sutera. Ia kembali iseng.
"Zit," bisik Pandu ke telinga Zita. Wanita itu menoleh, begitu dekat jarak wajahnya dengan wajah tampan juga dewasa suaminya itu. "Ada kondom. Beli, yuk. Kita cobain, kata orang-orang, masih bisa kerasa enak kok, yuk, cobain."
Usaha terusss, Mas Pandu emang. Membuat Zita goyah, namun ia ingat ucapannya.
"Boleh, Mas, tapi, tunjukin buku nikahnya, mana?!" Pelotot Zita dengan suara penuh penekanan.
Gagal modusnya, Pandu hanya membuang napas kasar. Kedua matanya menangkap sorot mata Zita yang melihat video boyband korea yang sedang diputar di layar televisi besar. Istrinya senyum-senyum, membuat gerah Pandu. Lagi-lagi, ide iseng Pandu muncul. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Zita.
"Joged-joged doang aku juga bisa, apalagi goyang-goyang gitu, mau cobain nggak, Zit, yuk, di atas kasur kita."
Usaha lagi, namun Zita bergeming, ia seolah budeg mendadak dengan ocehan suaminya. Pandu kesal, ia menatap sinis ke layar televisi, dan seolah para anggota boyband itu bernyanyi dan berjoged meledeknya puas dengan goyangan pinggul ke bawah.
Asyem. Keluh Pandu dalam hati.
Pandu membuka tas ransel besar yang ia bawa dari asramanya di tengah laut. Lusa jadwal ia kembali berangkat, Zita sedang merapikan pakaian ke lemari setelah ia setrika rapi. Ekor mata Pandu menatap gerakan Zita yang mondar mandir memasukan pakaian miliknya.
Ia mengulum senyum, karena perempuan dua puluh empat tahun itu justru seperti anak remaja, tubuhnya memang tak sesuai sama usianya. Malah tampak seperti om-om bersama cabe-cabeannya.
"Ehem." Pandu berdeham, ia berharap Zita menoleh dan peka dengan kodenya itu. Tapi sayang, Zita cuek.
"Ehem!" Lagi, Pandu berdeham. Kini sambil duduk di tepi ranjang dengan satu kaki turun ke lantai dan satu kaki lagi ia tekuk ke atas kasur.
"Zit."
"Hm."
"Kamu tau, kan, nolak ajakan suami untuk tidur bareng itu juga, dosa, lho," suara Pandu terdengar serius. Seolah memang Zita harus benar-benar harus mendengar apa yang ia sampaikan.
"Yang aku, ya, Mas Pandu, orang yang ingkar janji juga dosa, lho," balas perempuan itu sembari menutup pintu lemari, lalu beralih ke tas ransel besar, ia memeriksa pakaian yang akan dibawa Pandu untuk beberapa hari ke depan.
"Jadi kita sama-sama dosa?" tanya Pandu sembari bersandar di kepala ranjang.
"Betul sekali." Jawab Zita sembari menunjukan senyumnya lalu berubah jutek lagi.
"Aku emang belum dapet cuti lagi, Zita."
"Yaudah, sabar aja kalau gitu, Mas Panduuu," kembali Zita tersenyum lalu menghitung ulang kaos bersib suaminya. "Nanti baju kotor kamu pisahin, Mas, aku bawain laundry bagnya. Jangan di campur, jorok tau!" Zita berkacak pinggang. Pandu diam, menatap istrinya dengan tatapan tajam.
"Zita," panggil Pandu lagi.
"Apa," jawab istrinya itu tanpa menolehkan kepala.
"Cantik, deh." Bukannya terpuji, Zita justru bergidik lalu mengambil dua kaos lagi dan memasukan ke dalam tas ransel besar itu.
"Zita."
"Ya ampunnn... apaan lagi sih, Mas?!" tanya Zita penuh penekanan sembari melotot. Pandu memeluk guling, senyam senyum menatap istri indobulenya itu. Ia menepuk-nepuk ranjang kosong di sebelahnya. Zita menggeleng. Modus Pandu akan selalu ada, dan berujung Zita kesal juga tak akan mempan mau digoda seperti apa juga.
"Mau apa? Modus lagi. Minta di pijitin bahunya tapi ujung-ujungnya yang lain? Nggak mau." Dumal Zita dengan bibir mengerucut.
Pandu mulai geregetan, ia beranjak, tubuh tinggi besarnya jelas mampu untuk menahan tubuh istrinya baru saja ia bopong dan di hempaskan ke ranjang. Dengan santai ia mengukung Zita, hingga wajah mereka berhadapan.
"Apa?" tanga Zita dengan mata mengerjap lucu bagi Pandu.
"Aku sepuluh hari di laut, selama itu, kamu pasti kangen sama suami kamu ini, Zit, jadi, kenapa nggak kita coba aja yuk. Masih ada dua hari ke depan aku ber--"
Zita menangis, jujur ia kesal dengan Pandu, ia merasa Pandu mau menang sendiri. Menuntut menggagahinya tapi tak mengerti perasaan dia. Menikah begitu kilat, tanpa saling kenal, Zita tak mau. Ia tak tau jatuh cinta seperti apa, ia tak tau rasanya menyukai, menahan rindu, khawatir, hingga timbul rasa menggebu dengan seseorang itu, Zita tak tahu, dan Pandu seperti tak peduli.
"Zita?" kungkungan Pandu terlepas, ia menatap wajah canti istrinya itu yang berderai air mata namun bibirnya mengatup rapat. Kedua mata menatap lekat dengan sendu.
"Hei...," tangan Pandu mengusap air mata Zita. Pertama kali ia membuat Zita menangis, dan ia baru sadar, jika ia keterlaluan.
"Maaf, maaf Zita, aku iseng doang," lalu Pandu merebahkan tubuhnya miring di atas ranjang, membawa tubuh mungil Zita ke dalam pelukannya. Mengecup lama kening juga puncak kepala. Terdengar Zita sesenggukan di dalam dekapannya, Pandu sadar, dan ia tak perlu menggoda Zita. Ia harus bersabar untuk mendapatkan haknya, juga mendapatkan cinta Zita.
***
Sarapan sudah tersedia, setelah subuhan tadi, Pandu kembali tidur, sedangkan Zita harus datang ke lapangan komplek karyawan karena ada senam bersama, undangan itu ia dapatkan dari grup whatsapp yang ia ikuti, juga, surat edaran resmi yang kemarin, sang sekretaris perkumpulan istri karyawan.
Zita tak tau harus memakai pakaian apa, seragam keanggotaan belum ia dapatkan yang katanya, nanti diberikan gratis. Celana training panjang warna hitam, dan kaos warna putih menjadi pilihannya. Beruntung, Zita punya sepatu olahraga, jadi tak sulit untuk menyamai tema pertemuan hari itu.
"Mas..., aku ke lapangan, ada senam bersama istri-istri karyawan, sekarang sabtu pagi, kan, sarapan kamu di meja." Lalu Zita beranjak dari duduknya di tepi ranjang. Pandu hanya menjawab dengan anggukan pelan. Wanita itu meraih tangan Pandu, diciumnya punggung tangan itu.
Ia berjalan ke arah pintu kamar, mendadak kakinya terhenti, ia berbalik badan sejenak, karena Pandu memanggilnya.
Hati-hati, Sayang.
Kalimat itu terucap dengan seutas senyum dari Pandu sebelum ia berbalik badan kembali memeluk guling. Zita mengangguk. Ia menutup pintu kamarnya lagi.
Berjalan kaki, menikmati udara segar, menyapa beberapa tetangga, berjabat tangan memperkenalkan diri, memang menjadi kewajibannya. Ia tinggal di kota lain, ia tak tau situasinya, ini bukan Yogya, yang bisa bebas ia untuk menggunakan celana pendek selutut andalannya, naik sepeda mutar-mutar dan jajan ke mana saja. Ini beda, dan semua perempuan di komolek itu adalah istri. Zita harus bisa membawa diri.
Tiba di lapangan, ia disambut ramah, berkenalan dengan menyebut jika ia istri Pandu, membuat para ibu yang jelas lebih tua darinya tampak senang.
"Pengantin baru? Pantesan,minggu lalu rumahnya udah nggak disewain sama keluarga temannya Pandu, karena sekarang tinggal sama istrinya, selamat bergabung ya. Jangan malu-malu," ujar wanita cantik dengan tubuh gemulai yang akhirnya Zita kenal sebagai ketua perkumpulan para istri.
"Iya, Ibu. Maaf, saya belum pakai seragam," ujarnya.
"Nggak apa-apa, nanti minta sama Dety, tuh, yang lagi duduk di bawah pohon belimbing," tunjuk waniya yang Zita tau namanya Rima.
"Iya, Bu Rima, nanti saya minta. Untuk uang keanggotaannya gimana?" Mereka berjalan ke tengah lapangan, siap berbaris karena senam akan di mulai.
"Gratis. Kita ada anggaran dari perusahaan, tapi kalau kita mau bikin kegiatan lain, nanti patungan dan di bahas bersama. Yuk, Zita, saya ke depan ya, kamu di sini sama teman-teman lainnya." Pamit Rima. Zita mengangguk.
Ya, setidaknya ia punya teman, walau ibu-ibu semua, tak ada yang sepantar dengannya.
***
Senam selesai jam delapan, tak langsung pulang karena ngobrol sebentar. Zita menikmati teh manis dan gorengan tahu yang disediakan. Ramah, dan tak ada yang menatapnya sinis.
"Eh, yang lagi hamil siapa? Istrinya Andro ya?" tanya seseorang yang Zita belum kenal namanya.
"Iya. Bulan depan lahiran, kita patungan untuk beli kado, yuk." Ajak Rima. Zita menyimak, ia juga baru saja diberikan seragam olahraga dari Dety yang sudah memiliki tiga anak.
"Dety, kumpulin di kamu ya uang patungannya," perintah Rima.
"Siap, Bu." Dety lalu mengeluarkan buku catatan, Zita melirik, sepertinya itu buku catatan uang jika ada patungan untuk perkumpulan mereka. Tak banyak bicara, Zita hanya menjawab saat ditanya dan menyimak saat banyak yang membahas hal lain yang berupa materi rumpi ibu-ibu.
"Bu Rima, emang bener kemarin ada yang dipanggil ke kantor karena ribut rumah tangganya?" tanya seseorang di antara mereka.
"Iya. Biasa lah, pelakor, apa lagi. Saya sampai ikut nenangis. Nih ya, saya kasih saran untuk kalian semua. Suami itu, kalau kita nggak bener-bener jaga dan kasih apa maunya, biasanya gitu, suka sok-sok ngambek, ujung-ujungnya iseng kenalan sama entah siapa pun cewek di luar sana, dan berujung main belakang.
Makanya, saya suka nasehatin kalian, kan, suami kita orang lapangan rata-rata, bergelut sama pekerjaan keras, nggak sedikit yang beresiko, kayak yang di tengah laut. Itu resikonya besar."
Deg. Zita merasa tersindir, tapi bukan sengaja Rima menyindir, memang dirinya saja yang merasa.
"Bu Rima, maaf, emang resikonya apa?" Zita akhirnya bersuara.
"Nah, Pandu di tengah lapangan ya, Zit?" tanyanya. Zita mengangguk mantap.
"Resikonya, kalau ada kebocoran minyak mentah, atau alat berat yang rusak, nggak jarang yang kena imbas. Tapi emang safety first itu dijalankan kok, walau resiko pasti ada. Dan, karena mereka udah capek di lapangan, saat pulang ke rumah, maunya dimanja, dikelonin, disayang-sayang, itu kayak kasih energi baru. Bukan di cuekin, apalagi kitanya merajuk, wah... bisa kejadian kayak yang kemarin ribut."
"Emang kalau ribut, kantor ikut campur, Bu?" tanya Zita lagi.
"Sebenarnya enggak, tapi karena udah parah, sampai si istri acungin senjata tajam dan ancam si suami, kan membahayakan, ya, jadinya kita harus turun tangan. Kita memang bukan istri-istri suami yang terikat dinas angkatan, tapi kita semua di sini, saling rangkul aja, rata-rata, semua perantau, jauh dari keluarga, dan kami semua maunya bikin keluarga baru di sini, saling jaga dan sayang."
Kalimat penutup itu membuat Zita paham. Ia tersenyum, ilmu baru yang ia dapat, tapi tetap saja, ia kesal dengan suaminya yang menggodanya terus. Entah itu memang karena dia meminta haknya, atau sekedar iseng belaka.
Jam sembilan, ia sudah tiba di rumah, tampak Pandu sedang sarapan di meja makan kecil berisi dua kursi, Zita mencuci tangan, lalu melirik suaminya yang sedang menikmati bihun goreng ayam buatannya. Rambut Pandu acak-acakkan, di minta Zita cukur rambut, jawabannya tar sok tar sok, alias Ntar besok.
Ia menarik satu kursi, duduk berhadapan dengan suaminya. Dengan polos. Ia bertanya, "Mas Pandu. Seks itu penting emangnya buat laki-laki?"
Pandu tersedak, batuk-batuk lalu Zita menyodorkan gelas ke hadapan pria tampan itu yang menenggak air minumnya sembari melirik ke istrinya itu.
"Kenapa nanyanya gitu?" tanyanya sembari menatap si cantik di hadapannya.
"Mau tau. Aku tuh polos, Mas, jadi nggak tau." Jujur, Zita sangat jujur, dan kejujurannya itu membuat Pandu kembali menyalakan sinyal iseng.
"Banget Zit, kamu tau kan kasusnya Nadin, si Nathan sampai selingkuh, wah... gimana coba, kalau kejadian sama kita. Gara-gara kamu cuekin aku. Aku bisa-bisa... ya...." Pandu memainkan bihun goreng dengan garpu di tangan. Sekali lagi, Pandu hanya iseng, tak akan pernah terjadi ia menyelingkuhi perempuan yang secepat kilat ia sukai sejak pandangan pertama.
Zita diam, ia galau dan kepikiran. "Mas, bikin aku jatuh cinta sama kamu dulu, baru aku bisa pertimbangin soal buku nikah itu." Ia beranjak, memanyunkan bibirnya, bahkan pipinya menggembung lucu di mata Pandu.
"Yah, susah kalau gitu, Zit, bikin kamu jatuh cinta kayaknya lama deh, keburu aku--"
"Tau ah! Cowok emang gitu, ya kayaknya! Nggak mau usaha keras! Mau enaknya aja! Aku emang nggak tau jatuh cinta kayak apa, Mas! Mas Pandu curang! Mau enaknya doang." Ambekan kesekian setelah mereka menikah beberapa waktu.
Pandu menahan tawa, ia tau jika istrinya memang belum mencintainya. Diregangkan kedua tangannya ke atas, tersenyum dan ia tau akan melakukan apa untuk istrinya itu.
Dengan santai, Pandu menghempaskan tubuh tinggi besarnya ke atas ranjang, memeluk guling sesuka hati padahal Zita baru saja merapikannya. Pelototan mata istrinya tak membuat Pandu takut, ia justru tersenyum menatap istrinya yang berkacak pinggang dengan memegang sapu lidi di tangan kanannya.
"Jalan yuk, muter-muter kota," ajak Pandu.
"Mau ke mana? Belanja bulanan kan udah lengkap," dengan kesal Zita menjawab ajakan Pandu.
"Cari bakso ikan, katanya ada yang enak, aku belum pernah cobain. Kamu juga, kan?"
Benar juga. Zita yang notabennya tinggalndi Yogyakarta, tak tau bakso ikan, sekarang ia di daerah orang, di Dumai, Riau, yang katanya, makan laut terhampar banyakkk dan enak-enak, salah satunya bakso ikan itu.
"Bentar, aku ganti baju." Akhirnya wanita itu menyetujui ajakan Pandu.
"Mas."
"Ya."
"Gimana pemakaman mantan suami Mbak Nadin? Tadi pagi kan?" tanya Zita sembari mengambil kaos dan celana kulot panjang dari dalam lemari yang jadi satu dengan lemari suaminya.
"Iya, udah. Kasian juga kalau meninggalnya karena sakit di kelaminnya. Beruntung Nadin buru-buru periksa kesehatannya."
"Emang, beneran karena suka... mmm, apa itu, Mas, yang kamu cerita?" Zita lupa. Maklum, kadang kapasitas otaknya terbatas, lebih banyak tempat kosong tapi malas ia isi.
"Sifilis, karena suka main cewek. Suka berzina," jawab pandu sembari menatap istrinya yang urung ganti baju. "Buruan ganti baju," perintah Pandu.
"Hih... amit-amit, serem juga ya. Ck, Mas Pandu keluar kamar, aku nggak mau telanjang depan kamu!" Pelotot Zita.
"Aku tutup muka." Pandu segera menutup wajahnya.
"Nggak. Mas keluar."
"Tutup pake guling." Usaha lagi kan, si Pandu.
"Nggak. Pokoknya sebelum buku nikah ada, aku nggak akan bugil depan kamu!" tolak Zita sembari membuka laci lemari pakaian untuk mengambil jam tangan. Namun matanya menangkap lembaran amplop dengan logo perusahaan.
"Udah belum? Aku masih tutupan guling, Zita." Suara Pandung terpendam guling yang menutup wajah dan mulutnya. Tak ada suara dari Zita, seperti mendapat kesempatan, Pandu melempar guling ke samping dan... bengong melihat Zita sedang membuka isi amplop dan membuka kertas-kertas warna putih itu.
"Gaji kamu bukan, sepuluh juta perbulan?" Toleh Zita lagi. Pandu cengar cengir.
"Emang di situ tulisannya apaan?" tunjuk Pandu dengan jemarinya ke atas kertas.
"Dua puluh dollar perjam, masa kerja emlat belas hari di tengah laut, libur empat belas hari di darat, take home pay setelah di kurskan ke rupiah..., mmm..."
Zita menghitung, Pandu mencebik. "Ini ada nilainya Zita,nggak usah ngitung," tunjuk Pandu yang sudah bergeser duduknya ke sebelah Zita.
Kedua mata perempuan itu terbelalak. "Serius! Sebulan, tiga puluh lebih, Mas!" Zita memekik. Teriakannya membuat Pandu menutup telinga.
"Kenceng amat teriaknya. Iya, segitu, tapi resikonya juga gede, apalagi posisiku, ngawasin pemasangan pipa istilahnya jabatanku Floorman, ngawasin sama bantu kerja Driller di rig floor. Montir pipa pengeboran minyak kalau kamu bingung."
"Resikonya apa?" Zita menoleh, menatap suaminya lekat.
"Mati. Kita yang kerja di tengah laut, resikonya banyak, Zit. Ya alam termasuk cuaca, atau ada masalah sama alat berat, pipa bocor yang bisa bikin ledakan mendadak."
"Terus?" Zita mendadak khawatir. Pandu menatap bingung.
"Terus apaan, Zita? Terus kamu ganti baju, ayo kita jalan. Besok aku berangkat, kan, jadwal heli jam sembilan, shift ku siang jam dua belas siang sampai dua belas malam." Pandu mengecup pipi Zita lalu beranjak mengambil kunci mobil di atas nakas samping ranjang. Zita diam, kalau ada apa-apa sama Pandu, dia belum mau jadi janda muda, apalagi dia belum jatuh cinta sama suaminya itu. Zita tak memikirkan gaji yang di dapat Pandu, tapi dua hal itu yang lebih penting.
***
Mereka tak jadi menggunakan mobil, Zita merengek minta berboncengan dengan motor. Pandu menuruti kemauan istrinya itu. Tapi, raut wajah Zita menunjukkan hal lain, seperti rasa khawatir.
"Mas, kamu beneran sekarang dua minggu di laut, dua minggu pulang ke rumah?" Wanita itu masih sibuk memakai helmnya yang tak berhasil memasang kaitnya. Membuat Pandu geregetan hingga membantu memasangkannya.
"Iya, peraturan baru juga, karena aku sambil ngajarin anak baru dateng ke sana setelah pelatihan di darat."
"Oh, jadi nggak langsung kerja di laut?"
"Ya enggak lah. Ada training macem-macem. Hampir lupa, surat medical check up aku udah kamu taruh di tas kan?"
"Udah, sama hasil rontgen paru-paru juga. Penting banget di bawa?" Zita bersiap naik ke atas motor dengan berpegang bahu suaminya itu.
"Iya lah, mana bisa aku berangkat kalau kesehatanku nggak baik. Makanya kemarin ke rumah sakit, kan." Lirik Pandu ketus.
Zita manyun-manyun, ia masih belum naik ke atas motor. "Ya mana aku tau, makanya aku nanya. Gitu aja sewot." Sebenarnya yang lebih sewot siapa, di penanya apa yang jawab. Pandu sadar, Zita masih banyak hal yang belum diketahui wanita itu tentang diri dan pekerjaannya, Pandu salah kalau Zita banyak tanya namun ia jawab ketus.
"Maafin, Mas Pandu ya, Zita, nggak bermaksud mau judesin kamu," ucap Pandu dengan tolehan kepala saat Zita sudah naik ke boncengannya. "Peluk dong, masa sama suaminya duduk di motor jauh-jauhan." Pandu terkekeh. Zita berdecak namun melingkarkan tangannya ke pinggang Pandu.
"Nah, gitu dong, kan kayak olang pacalan." Lalu motor melaju meninggalkan rumah mereka. Zita menatap sekitar, menghapal jalanan dan juga tempat penting yang pasti ia harus sambangi sendiri selama suaminya bekerja. Kedua mata Pandu melirik ke spion kiri, melihat mata istrinya yang memiliki bulu mata lentik dan hidung mancung, justru membuatnya berdebar tak karuan.
Mereka komitmen akan berpacaran dulu sebelum terjun ke lembah kenikmatan berumah tangga. Mereka ingin saling mengenal, Pandu tak akan memaksa atau menggoda Zita untuk urusan ranjang lagi, ia tak mau istrinya kembali menangis karena menganggapnya ingkar janji. Sekedar mencium pipi, kening atau mengecup bibir, tak masalah, pacaran halal bisa disematkan pada kondisi keduanya.
Zita juga tak menolak, ia sadar posisinya dan memberikan porsi sewajarnya untuk Pandu.
Kedai bakso ikan terlihat, jelas ramai, sangat malah. Pandu udah BT, dia malas mengantri lama, Zita ternyata sama, mereka sepakat pindah ke tempat makan lain. Hidangan seafood menjadi pilihan mereka kemudian.
Kembali mengendarai sepeda motor, Pandu dan Zita mencari restoran seafood. Jam dua siang mereka keluar rumah, panas matahari masih menyengat, tak mengurungkan keduanya untuk jalan-jalan.
"Bersih ya, Mas, kotanya?" Zita mulai bersuara. Pandu mengangguk.
Tak lama, motor yang dikendarai Pandu terparkir di depan restoran. Kedua mata pandu melihat satu mobil yang terparkir di sana. "Zita, ada bos aku, orang kantor pusat di sini, aku kenalin ya," ucapnya. Zita mengangguk.
Keduanya berjalan masuk ke restoran, tak begitu ramai, berdesakan seperti kedai bakso tadi, dan ada meja kosong di dekat kasir. Setelah memesan menu di meja kasir dan menunjuk tempat duduk, keduanya berjalan ke meja tempat bosnya Pandu duduk bersama keluarganya.
"Pak Ahmad," sapa Pandu. Pria lima puluhan itu menoleh.
"Hei! Pandu! Sama siapa?!" Pria itu beranjak. Pandu berjabat tangan.
"Sama istri, Pak," jawabnya. Zita menjabat tangan Pak Ahmad, lalu ke istri dan tiga anaknya yang sudah dewasa semua.
"Berarti berita kamu udah nikah bukan gosip?" Ledeknya. Pandu menggeleng.
"Kalau udah jodoh, pasti ketemu, Pak. Silakan dilanjut, saya sama istri duduk di sana," tunjuk pria itu lagi. Pak Ahmad mengangguk, ia justru mengingatkan Pandu untuk lapor ke HRD di kantor, supaya terdata. Suami Zita itu mengangguk sembari pamit dan menggandeng tangan Zita berjalan ke meja mereka.
"Mas Pandu, yang itu anak-anaknya bos kamu?" Dengan wajah bingung sembari berjalan mengikuti Pandu, Zita bertanya.
"Iya, yang cowok dua, kerja di kantor pusat Jakarta, lagi cuti kali, jadinya bisa ke sini, yang satu lagi kerja di kantor BUMN juga di sini."
Zita membulatkan bibirnya membuat huruf O. Keduanya duduk, Pandu menatap istrinya yang begitu gemas di matanya. "Zit."
"Hm?" Toleh Zita menatap mata suaminya.
"Kapan suka sama aku? Jangan lama-lama," keluhnya. Zita berdecak lalu memutar bola matanya malas. Ia masih mengedarkan pandangan ke seluruh area restoran. Tangan Pandu terulur, mencubit pelan pipi Zita yang hanya diam saja.
"Kamu suka cowok kayak gimana, sih, Zit? Tipe kamu?" tanya Pandu duduk sembari menyangga siku di meja, jemari tangan bergerak-gerak di wajahnya.
"Nggak punya tipe. Pacaran aja nggak pernah. Kamu tau kan aku kecelakaan, lupa ingatan, kayak orang planga plongo. Bude sama Mas Bagus yang telaten ajak aku ngobrol sampai pelan-pelan ingatan aku balik."
"Terus, apa hubungan sama pacaran pernah atau nggak?" Pandu masih bertanya. Zita menghela napas sembari menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Baba sama Umma aku, Bapak Ibu maksudnya, terlalu jaga aku, aku nggak dibiarin deket sama temen cowok, di sana, Turki maksudnya, aku sekolah yang khusus perempuan semua, Umma anter jemput aku setiap hari, ke mana-mana sama Umma, aku sama sekali nggak tau temen cowok, kecuali ya interaksi sama Mas Bagus atau sepupu lainnya. Selain itu, Baba dan Umma ngelarang banget." Zita menunduk, memainkan kuku jarinya.
"Kenapa?" Pandu mulai tertarik.
"Mereka takut aku salah bergaul, Baba bisa sedih kalau pergaulan bikin aku rusak, jadi ya, selama di sana, aku belajar apa pun sama Umma dan Baba. Sampai bahasa Indonesiaku selancar ini, karena ya, belajar aja taunya."
Pandu mengangguk, ia tersenyum senang, bahkan meraih jemari Zita. "And i am the lucky man, betul kan?"
Zita tau maksud Pandu. Dia hanya terkekeh. "Dan aku sial karena mau diajak nikah mendadak sama Om Brewok yang nggak aku kenal sama sekali." Zita menjulurkan lidah ke Pandu yang malah tertawa geli.
"Zita."
"Apa?" Istrinya menatap sembari bertopang dagu. Pandu mengeluarkan kartu debet dari dompetnya, ia berikan ke Zita.
"Semua gaji aku, di situ, aku pegang satu untuk pegangan aku aja, sedikit. Tolong setiap bulan, kirimin ke Ibu, terserah kamu nominalnya berapa, sama ke Nadin kalau dia minta. Kamu nggak marah kan, kalau aku kirim uang ke mereka berdua?"
Zita menggelengkan kepala, Pandu tersenyum. "Lupa, sama ke Bude kamu, harus kamu kirim juga. Kamu atur juga untuk kebutuhan rumah sama sehari-hari kamu, buat beli baju, atau skin care kamu, tas, sepatu apa aja. Pakai yang itu. Kamu udah tau gaji aku berapa tiap bulan, aku nggak mau tutupin lagi.
Tadinya, aku mau bahas malam ini, eh, udah kamu temuin duluan slip gaji itu. Emang nggak boleh nunda-nunda bahasan sama istri sendiri."
Zita diam, tangannya sedikit gemetar menerima kartu itu. Ia baru merasakan dibiayai hidupnya oleh orang lain selain bude dan tabungan peninggalan orang tuanya. Ia tersenyum ragu-ragu, Pandu bisa melihat itu, lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya.
"Malu niye, ternyata suaminya kaya, kan, eeaaaa..." bisik Pandu diakhiri kekehan. Zita menoleh, melotot kedua matanya, Pandu senyum-senyum sembari memainkan alisnya naik turun dan Zita berakhir manyun-manyun sendiri.