Bab 1

"Apa maksudnya, Mas Bima? Aku masih nggak ngerti?"

Wanita cantik itu terdiam. Wajahnya pucat dengan kuku-kuku di jarinya menekan paha.

Mencoba bersikap waras dengan apa yang baru saja dikatakan sang suami.

"Maafkan aku, Hana, kita bercerai saja. Mungkin ini lebih baik bagi kita, toh kamu juga sudah tahu hubunganku dengan Zhifa kan? Aku tidak ingin terus menyakiti kamu dengan cara seperti ini. Lebih baik kita bercerai saja."

Laki-laki itu berkata seperti tidak memiliki perasaan.

Entah apa yang sedang dipikirkannya, tapi malam ini Hana berdandan sangat cantik demi untuk menyenangkan suaminya.

Bima adalah suami Hana selama tiga tahun ini.

Sebenarnya mereka menjalani rumah tangga karena perjodohan.

Bima mau tidak mau menikahi Hana karena pesan dari kakeknya tiga tahun lalu.

Sekarang kakek Bima sudah tiada dan tidak ada alasannya lagi untuk mempertahankan biduk rumah tangganya.

Kedua orang tua Bima sudah lama tiada, itu terjadi saat Bima berusia tujuh tahun.

Tidak ada perasaan cinta antara Hana dan Bima.

Kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya dan Bima dibesarkan juga dirawat oleh kakeknya, Sanjaya.

"Tega banget kamu, Mas Bima, apakah kamu nggak mengerti perasaanku. Dimataku, hanya ada kamu, Mas. Kamu adalah orang yang paling aku cintai, Mas!"

Rasanya Hana tak kuat lagi membendung semua air mata. Tanpa terasa mengalir membanjiri wajah cantik itu.

"Maafkan aku, Hana. Aku sudah mengurus semua. Pengacara akan datang ke tempatmu besok dan membawakan semua berkas. Kamu hanya perlu tanda tangan."

"Untuk masalah tunjangan aku juga sudah menyiapkan semua. Anggap saja ini adalah balasan dari kontrak pernikahan kita selama tiga tahun ini."

Laki-laki itu berkata dan memandangi wajah Hana tanpa ada rasa iba sedikitpun, bahkan terkesan terburu-buru untuk mengakhiri semua.

"Apa salahku Mas Bima, apa? Aku tetap akan menjadi istri yang baik kok, asalkan kamu tetap membiarkan aku disisi kamu," ucap Hana, wanita itu seperti meminta belas kasih dan sedikit saja harapan agar Bima yang sekarang masih berstatus suaminya itu mengerti dan memahami semua perasaan.

"Sudahlah, Han, ini tidak akan berhasil dengan hubungan kita. Aku ini ingin membebaskan kamu. Kamu nggak perlu menunggu aku lagi setiap hari. Aku benar-benar ingin mengakhiri segalanya. Tolonglah, hubungan kita ini nggak akan berhasil, Han ...," pinta Bima terus mendesak.

"Apa ini karena wanita itu, Mas? Kita sudah membicarakan ini kan, Mas? Aku sudah katakan, aku rela, Mas. Aku rela berbagi dengannya," ucap Hana lagi, bibirnya bergetar saat mengatakan hal yang paling dibenci.

Mana mungkin di dunia ini ada wanita yang rela berbagi suami. Apalagi Dimata Hana, hanya Bima lah satu-satunya.

Dia hanya menahan semua untuk tetap mendapatkan posisinya sebagai istri Bima Sanjaya.

Bima beranjak dari duduknya, dia terlihat ingin segera pergi.

"Mas, jangan pergi, Mas. Aku mohon, Mas," air mata Hana semakin deras.

Dia bahkan rela bersujud asalkan suaminya tidak meninggalkan, "tolong Mas, aku mohon, pikiran hubungan kita yang sudah tiga tahun ini, Mas. Jangan karena permintaannya kamu malah berubah, Mas. Katakan, Mas? Tolong jangan tinggalkan aku, Mas," suara Hana tiba-tiba berteriak dan mengundang semua orang yang berada dalam restoran itu menatap ke arah mereka.

"Aduh, Hana, kamu lebay banget sih. Mas Bima kan sudah memberikan penawaran yang bagus, kamu cukup terima saja sih, nggak perlu ribut. Semua tunjangan juga pasti kamu dapatkan."

"Kamu cukup tanda tangan, pergi dan semua beres! Nggak ada yang kurang kan? So, nggak usah main sinetron termehek-mehek disini."

Hana menarik wajahnya dan melihat sosok wanita berbalut gaun serba terbuka juga menonjol sedang mengapit lengan suaminya dengan mesra.

Wanita itu berkata tanpa peduli lagi perasaan Hana terluka atau tidak.

Hana memang tidak pernah bisa berpenampilan seperti wanita dihadapannya.

Mungkin penampilan sempurna yang dibanggakan Hana malam ini jika dibandingkan dengan wanita yang sedang menaruh kepalanya di lengan suaminya itu tidak termasuk sesuatu yang spesial.

Bahkan saat wanita licik itu berkata, suaminya, Bima, seolah tak mempedulikan.

Dia tenang dan menikmati setiap kata yang bernada ejekan tadi.

"Diam. Aku nggak berbicara dengan kamu. Aku sedang berbicara dengan suamiku," entah dari mana Hana memiliki keberanian hingga dia melawan balik ucapan wanita itu.

Mungkin karena Hana merasa wanita itu sudah keterlaluan.

Hana juga merasa, dia masih pantas mempertahankan suaminya sampai titik darah penghabisan sebelum dirinya menyetujui semua permintaan Bima.

Wanita itu melepaskan sikap manjanya dan mendorong tubuh Hana hingga Hana tersungkur di lantai.

Tatapannya kini mengintimidasi Hana, dia yakin pasti akan memenangkan pertarungan kecil ini.

"Aww, sa–sakit, Zhifa, lepaskan, arghh!" jerit Hana saat dia ingin berdiri, tapi pundaknya di tekan, tangannya diinjak dan rambut Hana ditarik.

"Dasar pelakor tidak tahu diri. Wanita murahan. Kamu sudah berani merebut suami orang. Sekarang malah pura-pura. Kamu ingin menggoda suamiku, hah? Apa uang yang suamiku berikan padamu masih belum cukup? Mau berapa banyak lagi yang mau kau kuras? Dasar perempuan tidak tahu diri!"

Seketika Hana membeku saat wanita yang bernama Zhifa itu berteriak lantang di hadapan semua orang.

Dia memakinya.

Sepertinya sekarang Zhifa sedang membuat posisi mereka seolah tertukar. Hanalah yang dituduh pelakor. Maling teriak maling.

Hana menarik wajahnya dan melihat wajah sang suaminya.

Bima malah memalingkan wajah dan pura-pura tidak mendengar.

"Mas, Mas Bima, kamu benar-benar tega sama aku, Mas?" raung Hana lirih meminta pertolongan. Dia benar-benar sedih juga sakit hati menerima perlakuan seperti itu.

Bukan hanya harga dirinya yang diinjak, tapi semua perlakuan Bima selama tiga tahun ini di abaikan olehnya.

Dia menutup mata juga telinga.

Hana hanya pura-pura terlihat baik baik saja dihadapan Bima. Hana hanya berharap akan ada satu keajaiban yang merubah juga menggerakkan hati suaminya.

Sekali saja, Hana hanya ingin Bima menatapnya dengan penuh cinta.

Namun, sampai hari ini, semua yang dilakukan Hana ternyata sia-sia.

Dia tidak mendapatkan apapun dengan pengabdiannya sebagai seorang istri selain mendapatkan suaminya berselingkuh.

Tepatnya, bukan berselingkuh, tapi, Zhifa adalah kekasih Bima sejak kuliah dulu.

Bima terpaksa memutuskan Zhifa dan menikah dengan Hana tanpa adanya rasa cinta, semua yang dilakukan Bima hanya untuk mendapatkan seluruh aset dan warisan dari kakeknya, Sanjaya.

"Sudahlah, Zhifa, kita pergi saja. Bukannya kamu ingin makan sushi di tempat biasa," ucap Bima.

Suaranya begitu lembut saat berkata dengan wanita itu.

Rasanya luar biasa sakit hatinya Hana. Dia tidak pernah mendengarkan suaminya berkata lembut meski hanya memanggil namanya.

"Dan kau, Hana, sebaiknya kau pertimbangan semua yang aku katakan tadi. Ini nggak akan susah kok, kamu hanya perlu menandatangani saja," Bima lagi-lagi berkata tanpa ekspresi.

Padahal saat ini Hana sedang menahan rasa sakit di tangan akibat injakan sengaja Zhifa tadi. Juga penghinaan, cacian, serta perasaannya yang tidak pernah Bima anggap selama tiga tahun ini.

Hana tertunduk.

Dia menahannya kembali.

Bab 2

Sesegukan pun tidak akan mempan meluluhkan hati Bima. Karena Bima memang tidak pernah cinta Hana.

"Iya, Mas, aku lapar banget. Aku mau makan yang banyak loh supaya aku kuat saat melayani kamu sampai pagi," ucap Zhifa berkata merdu merayu, bergelendotan lagi di lengan Bima yang masih berstatus suami Hana.

Wanita itu sudah tidak peduli. Apalagi, tatapan seisi restoran seolah menganggap Hana lah pelakor. Perebut suami orang.

Rasanya Hana benar-benar jijik mendengar ucapan wanita itu.

Dia wanita selingkuh, tapi setiap malam bisa membuat suaminya betah.

Sedangkan Hana, berkali-kali mencoba dan menunggu tetap tidak pernah disentuh oleh Bima.

Tiga tahun ini, Bima mengabaikan Hana seperti boneka hidup.

Bahkan saat malam pertama saja, Bima malah meninggalkan dia di hotel tanpa adanya penjelasan.

Hana memang tinggal di rumah mewah dengan banyak pelayan, tapi tidak pernah mendapatkan cinta dari suami.

Hana sudah menahan semua, dia ingin hari ini mendapatkan keadilan.

Dia, tetap ingin mempertahankan suaminya dan tidak mau kalah dengan wanita ular itu.

Dia tahu, Zhifa tidak benar-benar tulus mencintai Bima, kalau bukan karena harta, mana mungkin Zhifa yang sudah diputuskan mau menerima Bima kembali.

Hana bangkit dan mencoba mengejar punggung Bima yang semakin menjauh.

Rasa sakit di tangan juga rambut yang dijambak kasar oleh Zhifa sudah tidak dipedulikan.

Saat ini, Hana hanya ingin bersaing dengan wanita pelakor itu dan berusaha merebut suaminya kembali.

Kakinya sempat tersandung dan tanpa sengaja menabrak seorang.

Hana segera menundukkan kepala dan meminta maaf. Dia semakin panik saat melihat Bima masuk ke mobil dan akan pergi.

"Aw! Sa-sakit!"

Hana terkejut saat tangannya di cengkeraman dengan kuat.

"Sudah menabrak orang dan ingin pergi? Kau benar-benar cari mati!"

Suara serak dan bariton dari seorang laki-laki mencegah Hana pergi.

Hana membeku dan menarik wajahnya perlahan ke arah suara.

"Ma-maafkan aku, Tuan, sungguh, aku nggak sengaja," Hana mencoba menahan tangis.

Dia mengusap perlahan air mata yang masih mengalir di pipinya.

Sesaat, lelaki itu memicingkan mata.

Biasanya lelaki itu tidak pernah tertarik dengan urusan wanita manapun selain wanita yang menghangatkan ranjangnya setiap malam.

Namun, saat melihat Hana kebingungan juga panik membuatnya penasaran.

"Kau harus bertanggung jawab!" cetusnya, tatapan lelaki itu terus memindai Hana.

Hana menarik wajah, semakin dia menarik wajah, air matanya malah tidak bisa dikendalikan.

"Ada apa? Kenapa dia menangis seperti itu? Cih, wanita menangis benar-benar menyebalkan." Lelaki berwajah dingin itu mengumpat dihati.

Kali ini dia benar-benar menjadi lelaki kepo yang ingin tahu urusan orang lain.

Saat ditatap olehnya, tatapan Hana malah sibuk melirik ke arah pintu. Dia menyadari kalau suaminya sudah benar-benar pergi bersama wanita licik itu.

"Bawa dia!" perintahnya tiba-tiba, Hana terkejut saat dirinya diseret oleh dua orang dibelakang orang itu.

"Tu-tunggu, Tuan, hey, aku mau dibawa kemana, Tuan?" teriak Hana.

Hana berontak dengan sisa tenaga yang dimiliki.

Meski rontanya cukup kuat, tetap saja tidak akan bisa melawan dua orang lelaki dengan berperawakan lebih besar darinya.

"Rodan, bungkam mulutnya. Berisik sekali. Kita akan meeting dan aku ingin dia bertanggung jawab dengan perbuatannya!" perintah lelaki tadi mengisyaratkan agar membungkam mulut Hana.

"Ti-tidak, lepaskan aku. Hey, kau mau bawa kemana aku, Tuan, kau kalau ingin aku bertanggung jawab jangan seperti i–," belum sempat Hana melakukan aksi protesnya hingga tuntas, lelaki yang dipanggil Rodan menyumpal mulut Hana dengan kain dan mengikat kedua tangannya.

"Ssh ... astaga, sial sekali nasibku. Tadi bertemu dengan Zhifa si wanita licik, sekarang aku malah berurusan dengan lelaki kejam ini."

"Siapa dia? Dan mau dibawa kemana aku? Arghh, mulut dan tanganku benar-benar kesakitan. Aku harus bisa bertemu dengan mas Bimo segera. Aku mau harus membicarakan lagi yang tadi."

Hana mengikuti langkah laki-laki di depannya dan memasuki lorong dengan lift khusus.

Dia bahkan tidak tahu kalau di restoran itu memiliki lift khusus yang membawa mereka turun.

Lelaki itu, lelaki yang dipanggil, Rodan dan setidaknya masih ada sekitar sepuluh orang lagi laki-laki bertubuh sama besar dibelakang Hana yang mengikuti.

Hana dibawa ke suatu ruangan yang entah dimana dia berada. Pencahayaan cukup remang padahal diluar sana, Hana yakin malam belum datang.

"Argghhh! Tolong, tolong maafkan saya, saya tidak akan mengulanginya lagi."

Semakin dalam langkah mereka, Hana mendengar suara lengkingan seorang laki-laki.

Sepertinya dia sedang merasakan sakit karena berulang kali berteriak dan mengumandangkan perkataan yang sama.

Ingin sekali Hana berteriak atau melarikan diri.

Namun, saat matanya berkeliling, dia baru menyadari ruangan itu bukan sembarang ruangan.

Lelaki yang sempat meminta pertanggung jawaban pada Hana itu sekarang sedang duduk di satu kursi kayu dengan tatapannya yang bengis pada seseorang.

Mata Hana membulat lebar saat melihat seorang laki-laki sedang diikat menggunakan rantai besi.

Kedua tangan dan kakinya terbelenggu rantai tersebut dengan tubuhnya yang sudah bersimbah darah karena cambukan.

"Ya–ya ampun, dimana aku? Apa itu? Apa yang akan dia lakukan? Kenapa aku malah bisa tersesat di tempat mengerikan seperti ini. Aku tidak mau melihatnya, huuuuu, Mas Bima dimana kamu? Tolong aku, Mas ...."

Raungan Hana semakin keras, namun sayangnya itu semua percuma karena dia tetap tidak bisa mengeluarkan suara.

Hana menggeleng kuat dan memejamkan mata saat gadis itu mendengar kembali teriakan kesakitan bergema.

"Aaagghh!! Tolong, ampuni, saya, Tuan, saya mohon. Ini hanya salah paham. Tolong Tuan selidiki lagi. Saya tidak mungkin berkhianat dengan Tuan."

Lelaki dalam ikatan rantai besi itu mengiba belas kasih, tapi lelaki itu melirik lelaki yang bernama Radon, "Masih berani mulut penghianat sepertimu berbicara, sepertinya aku harus memotong lidahmu agar kau tidak cerewet. Lihatlah, semua bukti sudah mengarah padamu!" decak Rodan, dia terlihat begitu kesal dan tak sabar apalagi lelaki dengan rantai besi itu mencoba memohon pengampunan pada Tuannya.

Namun, suara amukan tadi mengganggu pendengaran lelaki yang duduk di kursi kayu itu.

Dia menoleh dan melihat Hana semakin berontak dan seolah ingin mengatakan tidak ingin melihat semua.

"Hah. Benar-benar merepotkan. Aku lupa masih membawa wanita ini. Bagaimana kalau dia membocorkan kejadian ini. Hah, aku tidak peduli. Kalau dia berani membuka mulut, aku tidak akan segan membunuhnya." Ancam laki-laki itu di hati sambil memicingkan tajam mata pada Hana.

Kemudian dia beranjak dari duduk, sesaat Rodan menoleh dan memutarkan lehernya.

Dia yakin ada yang berbeda dengan Tuannya, biasanya sang Tuan akan menikmati pertunjukan itu sampai habis.

"Bereskan semua sesuai prosesnya, Rodan. Tidak perlu sampai kau membunuhnya, tapi pastikan mulut dan tangannya tidak dapat memberikan celah untuk kita. Aku tunggu di mobil," ucapnya tegas dan penuh penekanan.

"Tidak, jangan, Tuan, saya mohon. Maafkan saya, Tuan. Saya tidak akan melakukan kesalahan lagi, Arghh!" jerit permohonan lagi dengan teriakan keras saat cambuk menyapa tubuhnya kembali.

Kemudian tatapannya beralih pada Hana. Dengan tubuh bergetar dan menggeleng kuat saat dirinya diseret kembali oleh orang-orang suruhannya.

Bab 3

"ARGGHHH!!" Seketika buluk kuduk Hana berdiri hebat. Mendengar jeritan yang menyakitkan. Bagaimana bisa dia bertemu dengan monster mengerikan, kejam dan tak punya hati seperti itu.

Bagaimana Hana bisa tertimpa kesialan yang tak terduga seperti ini.

Lolos dari ular betina, juga suami yang tidak pernah memperdulikan, sekarang dia malah dihadapkan dengan monster tak berperasaan.

Tubuh Hana di lempar oleh dua pengawal yang terus menyeretnya dan menuruti tuannya agar memasukkan Hana ke dalam mobil.

Lalu, orang itu mendapatkan tas Hana yang dibawa oleh anak buahnya.

Hana menciut diujung mobil dan tak berani mendekat, meski matanya terus tertuju pada tas yang dibuka oleh orang itu. Dia tidak punya nyali saat laki-laki itu mengeluarkan dompet milik Hana dan melihat kartu Identitasnya.

"Hana Hastari? Siapa kau? Kenapa kau lancang dan berani sekali menabrakku. Kau benar-benar sudah bosan hidup?"

Orang tadi mencengkram rahang gadis itu dan menekannya dengan kekuatan penuh.

"Jawab? Kenapa kau diam saja? Apa kau mata-mata yang dibayar keluarga Zian, hah?"

Hana menggeleng pelan, dia benar-benar tidak mengerti dengan semua yang dikatakan oleh orang itu.

"Jangan bohong. Kau pasti disuruh keluarga Zian kan? Kau disuruh mereka untuk pura-pura menabrakku? Lalu, kau akan menunjukkan wajah polosmu yang seperti ini hanya untuk menggodaku. Cih. Hebat sekali Zian family itu. Berani sekali mereka main-main denganku. Meremehkanku, sama halnya dengan cari mati!" tuding lelaki itu semakin sarkas.

Bagaimana Hana akan memberikan pembelaan jika mulutnya dibungkam dan tangannya diikat.

Dia hanya bisa terus menggeleng untuk meyakinkan lelaki itu kalau semua tuduhannya salah.

Hana tidak mengerti dengan arah pembicaraan dan tuduhannya. Dia memang benar-benar tidak sengaja menabrak karena sedang mengejar suaminya Bima yang sedang bersama dengan Zhifa.

"Oke, kita buktikan saja. Kau pikir aku akan takut dan terjebak oleh rencana keluarga Zian."

"Karena mereka sudah mengirimkan dirimu. Jadi, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku penasaran, bagaimana rasanya wanita polos seperti dirimu jika sedang di ranjang," seringainya penuh dengan kemarahan dan menghempaskan rahang Hana dengan kasar.

Suara pintu kemudi ditutup dan masuklah laki-laki yang bernama Radon itu sambil memegang kemudi.

"Kembali ke mansion, Radon. Aku akan mencicipi wanita kiriman dari Zian. Dia pikir, aku akan terjebak dengan wanita polos seperti ini."

"Cukup hebat, aku tidak menyangka kalau dia akan mengirimkan wanita polos seperti ini," celetuk lelaki yang terus memindai Hana dengan tatapan seolah ingin menelannya hidup-hidup.

Mata Hana mendelik, ucapannya tadi. Dia memang tidak mengerti.

Tapi, dari tatapan laki-laki kejam itu, Hana tahu, dirinya sedang dalam bahaya.

"Sudah tidak seksi, pakaiannya biasa. Tapi, wajah polosnya cukup menggodaku. Aku penasaran dengan teriakannya nanti. Aku yakin, dia pasti bertekuk lutut oleh keperkasaanku." gumam lelaki kejam tadi.

Jantung Hana semakin memburu dengan hebat. Dia tidak tahu bagaimana bisa meloloskan diri dari monster jahat itu.

"Mas, huhuhu, Mas Bima, tolong aku, Mas, kamu ada dimana, Mas? Aku takut...."

Hana bisa berteriak dan terus menangis dalam hati.

Dia berharap, siang bolong ini hanya sebuah mimpi. Bukan seperti yang sekarang sedang dia rasakan.

Hana tidak tahu kemana mobil itu membawanya.

Ini adalah kali pertama dia bepergian tanpa izin dari pengurus rumah Bima.

Hana yakin pengurusnya itu akan mencari dan menghubungi Bima jika sampai malam ini wanita itu tidak pulang ke rumah.

Hana masih terbiasa seperti itu.

Bagaimanapun kondisinya saat ini, Hana masih menganggap kalau dia istri sahnya Bima.

"Bagaimana aku harus melarikan diri? Ini dimana sih? Terus kenapa orang itu menatapku tak berkedip. Memang apa kesalahanku? Nggak, nggak, kamu memang salah Hana, kamu tadi nggak sengaja menabraknya. Dasar Hana bodoh."

Hana dengan pikirannya yang membuncah. Terus menyalahkan diri. Otaknya berputar mencari cara agar dia bisa membebaskan diri.

Kembali Hana mendengar pintu dibuka dan laki-laki itu turun lebih dulu. Hana menolak keluar. Dia tidak yakin kalau akan selamat jika dia keluar dari mobil itu.

"Keluarlah atau kau ingin anak buahku yang menyeret lagi," suara bariton dan serak itu memerintah Hana.

Dia berdiri di depan pintu menunggu gadis itu.

Hana tetap diam.

Dia benar-benar tidak menggerakkan tubuhnya dan tidak ingin menuruti perintah laki-laki itu. Kalau memang bisa, dia ingin segera melarikan diri.

"Umm ummm umm!" Hana meronta lagi saat tangannya ditarik dengan tiba-tiba oleh laki laki itu.

Kali ini dia tidak memerintahkan anak buahnya.

Dia sendiri yang secara paksa menarik tangan Hana lalu saat tubuh gadis itu di ambang pintu, laki laki itu menarik Hana ke pundaknya. Hana diangkat seperti karung beras.

"Rodan, jangan biarkan siapapun mengganggu waktuku. Aku akan mencicipi kiriman dari keluarga Zian dahulu," laki-laki itu sempat menghentikan langkah, berbalik dan memberikan perintah pada orang yang paling dipercayanya.

Hana semakin gelisah. Tubuhnya terus berontak, tapi laki-laki itu mengabaikan.

"Baik Tuan Math. Tapi, maaf, Tuan, apakah anda memerlukan sesuatu?" tawar Radon, dia yakin tuannya pasti akan meminta hal yang aneh-aneh untuk menambah meriah suasana pertempuran di ranjang nanti.

"Untuk yang ini aku rasa tidak perlu dan satu lagi, aku akan membawanya ke kamarku, bukan kamar yang biasa," jelas Math, Radon memanggilnya seperti itu.

Mata Radon membulat, itu adalah hal langka yang dilakukan tuannya.

Selama ini, dia akan selalu membawa para gadis yang hanya menghangatkan ranjang tuannya ke kamar merah.

"Kau jangan salah paham, aku ingin membersihkan tubuhku. Badanku bau busuk penghianat tadi," Radon hampir lupa kalau tuannya juga cinta kebersihan. Apalagi dia tadi habis masuk ke ruangan hukuman.

"Baik Tuan Math, katakan saja jika anda memerlukan sesuatu, saya akan berada tidak jauh dari Anda," Radon berbicara, tapi dia tidak mungkin benar-benar berani ada di dekat kamar tuannya, karena itu sama saja bunuh diri.

Tidak ada sahutan, Math berbalik kembali dan membawa Hana masuk ke kamarnya.

Math tanpa ragu menurunkan Hana di lantai hingga membuat Hana menjerit dalam bungkam. Tangannya saja masih sakit, ditambah ikatan kencang membuatnya menjerit tajam.

"Sshh, ahh, sakit. Tangan, tubuhku sakit banget," Hana ingin sekali melepaskan ikatan, tapi itu benar-benar sulit.

"Jangan macam-macam, aku hanya ingin membersihkan sebentar tubuhku. Sebaiknya kau patuh agar aku tidak terlalu menyakitimu." Math mencengkram rahang Hana kembali.

Hana tidak bisa berbuat apa-apa dengan mulutnya yang masih dibekap dan tangannya diikat.

Namun, tatapan mata menyiratkan dan memohon belas kasih.

"Cih, kenapa dia menunjukkan wajah memelas seperti itu. Harusnya aku yang marah. Kau sudah bodoh dan mau saja diperalat keluarga Zian," Math mengeratkan giginya.

Dia sebenarnya tidak memiliki kesabaran seperti ini, tapi entah kenapa saat melihat sorot mata Hana yang bening seolah ada sesuatu yang disiratkan.

"Baiklah, aku tidak akan lama. Siapkan diri dan bersikap baik. Aku rasa hanya wajahmu saja yang polos, keluarga Zian itu memang benar-benar bisa mencari gadis sepertimu," ejek Math, dia sepertinya sangat membenci keluarga Zian.

Laki-laki bertubuh besar itu berdiri dan menghampiri lemari baju.

"Mas Bima, kamu dimana Mas, tolong aku, Mas, aku takut," Hana hanya bisa menangis kembali dalam bekapan. Air matanya yang kering sekarang basah kembali.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED