Sampul Novel (Bukan) Pembawa Sial

(Bukan) Pembawa Sial

9.1 / 10.0
Akibat mitos kuno, anak lelaki yang berwajah identik dengan ayahnya dicap sebagai pembawa petaka. Revan, seorang pemuda sederhana, menjadi korban dari keyakinan keliru ini. Kemiripan fisik dengan sang ayah membuatnya disingkirkan oleh lingkungan sekitar. Demi keselamatan orang-orang tercinta yang mulai menjauh, Revan memutuskan untuk pergi mengasingkan diri. Kini, ia harus berjuang sendirian untuk membuktikan bahwa dirinya bukanlah pembawa kemalangan seperti yang dituduhkan.
Ringkasan (Bukan) Pembawa Sial
Akibat mitos kuno, anak lelaki yang berwajah identik dengan ayahnya dicap sebagai pembawa petaka. Revan, seorang pemuda sederhana, menjadi korban dari keyakinan keliru ini. Kemiripan fisik dengan sang ayah membuatnya disingkirkan oleh lingkungan sekitar. Demi keselamatan orang-orang tercinta yang mulai menjauh, Revan memutuskan untuk pergi mengasingkan diri. Kini, ia harus berjuang sendirian untuk membuktikan bahwa dirinya bukanlah pembawa kemalangan seperti yang dituduhkan.
Baca Selengkapnya

(Bukan) Pembawa Sial Bab 1

Dua puluh lima tahun silam...

Hangat mentari di pagi itu sedang menyinari bumi, setelah semalaman basah kuyup diterpa hujan badai. Di kediaman keluarga Doko yang sederhana, saat ini sedang ramai karena semalam Bu Lida, istri Doko yang sudah melahirkan 4 orang anak, malam tadi kembali melahirkan anaknya yang kelima.

"Wah, anakmu mirip sekali dengan bapaknya, Lida! Takutnya nanti malah akan membawa kesialan di dalam keluargamu. Sekarang saja keluarga ini sudah dilanda kekurangan, aku gak tau deh gimana nanti kedepannya," ujar Bu Sodah, tetangga yang paling julid di sana.

Dia selalu ingin tahu semua kehidupan orang lain dan selalu merasa bahwa ia harus ikut campur di dalam segala hal. Karena ia juga adalah orang yang cukup kaya dan terpandang di kampung itu, jadi ia merasa semua orang harus menghormati dirinya dan menuruti semua yang ia katakan.

"Jangan selalu tongos lah mulut kau itu, Sodah! Kau pikir itu si Lida tak lelah baru saja melahirkan. Dia masih kesakitan dan sekarang kau malah menambah bebannya dengan berkata macam itu. Kasar kali muncung kau bah, Sodah!" sela Bu Siska ikut menimpali dengan logat bataknya.

Di tempat mereka tinggal, banyak yang berasal dari berbagai daerah dan juga suku bangsa yang berbeda-beda. Ada yang dari suku Mandailing, Batak, dan keluarga Rivold atau Lida sendiri berasal dari tanah Minang. Jadi bahasa yang sehari-hari pun masih banyak menggunakan bahasa daerah mereka masing-masing. Meski di dalam lingkungan mereka akan menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh lawan bicaranya.

"Hei, Bu Siska! Aku mengatakan apa yang seharusnya dikatakan. Jangan sampai mereka menyesal nantinya karena sudah terlanjur merawat anak pembawa sial ini," ujar Bu Sodah semakin menjadi-jadi.

"Cukup, Uni Sodah! Apa pun yang dikatakan orang tentang anakku, aku akan tetap merawat anak ini. Dia mirip sama bapaknya karena dia adalah anak bapaknya. Darah daging dari bapaknya, jadi tidak ada sangkut paut dengan mitos yang Uni Sodah katakan. Maaf, Uni Sodah! Jika Uni Sodah hanya ingin mengatakan hal yang buruk tentang anakku, silahkan Uni Sodah pulang saja!" usir Bu Lida yang sudah emosi mendengar anaknya dikatakan sebagai anak pembawa sial.

"Jangan sombong kau, Lida! Kau tau betul anakmu itu akan membuat hidup kalian sengsara nantinya, dan aku sudah memperingatkan kau dari sekarang. Karena kita juga berasal dari kampung halaman yang sama, itu sebabnya aku memperingatkan dirimu, Lida. Aku berkata seperti itu karena aku tidak mau hidup kalian semakin bertambah susah," sahut Bu Sodah.

"Ampun, Uni! Kecek uni tu batua bana. Kini pailah barangkek dari rumah ambo. Pulanglah, Uni Sodah!" usir Lida secara halus.

Ya, Lida dan Sodah berasal dari kampung halaman yang sama, yaitu dari tanah Minang. Mereka sama-sama perantau ke daerah Riau yang kebetulan bertemu di sana. Sodah sudah jauh lebih lama tinggal di sana dibanding dengan Lida dan keluarganya. Dulu Sodah dipinang oleh seorang pria kaya yang berasal dari Riau dan pinangan itu langsung di sambut baik oleh keluarga Sodah. Setelah lamaran itu, Sodah dan pria itu langsung melaksakan pernikahan dengan meriah di kampung halaman Sodah. Lalu setelah menikah, Sodah diboyong oleh suaminya ke kampung halamannya di Riau.

Sejak saat itu, Sodah merasa bahwa ia sudah sukses dan kaya. Sikapnya menjadi sombong kepada semua orang. Sebenarnya Lida juga masih sepupu dekat baginya, tapi ia seolah tidak mau mengakui itu di hadapan orang-orang, karena nasib Lida yang kurang beruntung.

Tapi karena nasib yang kurang menguntungkan di keluarganya, juga karena perselisihan antara sesama saudara di kampung. Lida dan suaminya memutuskan untuk pindah dari tanah Minang untuk mencari kehidupan baru di rantau orang. Mereka memilih pergi ke Riau untuk mengundi nasib disana. Tidak sama sekali terpikir oleh mereka akan bertemu dengan Sodah dan keluarga barunya disana. Karena Lida yang pergi dengan hati sedih dari kampung halaman akibat ketidakadilan yang ia dapatkan dari keluarga.

Dimana-mana pasti bukanlah hal tabu lagi tentang perebutan harta warisan antara sesama saudara. Warisan terkadang membawa kesejahteraan dan tidak jarang pula warisan itu membawa petaka. Bagi Lida warisan itu justru menjadi petaka bagi kehidupannya. Karena warisan itu hubungannya dengan saudaranya jadi renggang. Orang tua yang kurang bersikap adil kepada semua anaknya membuat hati putih Lida terluka. Itu sebabnya dia memilih pergi menjauh daripada ia tetap di sana menahan hati dan juga nanti malah akan melawan orang tuanya. Lida tidak mau ia sampai menjadi durhaka hanya karena harta. Itu sebabnya ia memilih menjauh untuk sementara.

Namun setelah ia menjauh, semakin menjauhlah keluarganya darinya. Lida sudah bagaikan anak terbuang, sementara saudara-saudaranya menikmati harta warisan di kampung sana dengan hati bahagia. Mereka tidak tau hidup yang dijalani Lida dan keluarganya sangat menderita di rantau orang. Makan sesuap saja harus dicari dengan cara membanting tulang.

Berangkat pagi, pulang sore bahkan terkadang sudah malam hari. Itulah yang dilakukan Lida setiap hari demi mencari sesuap nasi untuk anak-anaknya di rumah. Ia tidak akan pulang sebelum mendapat makanan untuk anak-anaknya. Lida selalu menahan rasa haus dan laparnya sepanjang hari, semua itu demi anak-anaknya dirumah agar mendapatkan makanan dengan hasil yang ia dapat hari ini.

Rasa lelah dan lapar Lida akan lenyap ketika ia melihat anak-anaknya makan dengan lahap. Semua lelahnya terbayar dengan rona kebahagiaan di wajah anak-anaknya menyambut ia saat ia pulang mencari nafkah. Ia mencari nafkah sudah seperti tulang punggung keluarga, padahal ia masih mempunyai seorang suami yang tetap dan gagah. Lalu apa saja yang dilakukan suaminya?

Suaminya hanya tau bersenang-senang dan menghabiskan uang yang didapatkan oleh Lida saja. Selain itu sikapnya juga sangat kasar dan tidak akan segan memukul Lida ketika dia marah. Tapi Lida masih bertahan demi anak-anaknya tidak kehilangan sosok ayah. Padahal anak-anaknya juga sangat geram melihat perlakuan ayah mereka yang kasar pada ibu yang sudah melahirkan mereka itu.

Lida berjuang sendirian untuk menghidupi anak-anaknya. Sekarang saat ia melahirkan buah hatinya yang kelima, orang malah mengatakan bahwa anak itu pembawa sial, hanya karena anak itu sangat mirip dengan ayahnya. Tentu saja Lida tidak terima hal itu, jelas ia menolak mitos seperti itu. Ini bukan salah Lida ataupun anak-anaknya. Lalu ini salah siapa?

"Itu benar, Bu Sodah! Sebaiknya Bu Sodah pulang ke rumah, karena Bu Lida juga butuh istirahat dan baru tadi malam dia melahirkan bayinya. Tentu saja dia saat ini sedang membutuhkan banyak istirahat, jadi jangan membebani pikirannya dengan perkataan Bu Sodah yang tidak menimbang perasaan orang itu!" ujar ibu-ibu yang lain kepada Bu Sodah.

Akan tetapi ia yang merasa tidak salah sama sekali, bahkan ia mencibir mereka semakin menjadi-jadi.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi (Bukan) Pembawa Sial

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
9.6
Delapan tahun lalu, ibu tiriku menikah dengan ayah yang tampan namun tak bertanggung jawab. Ayah lebih sering menghilang daripada mengurus keluarga, membuatku hanya tinggal berdua dengan ibu tiriku yang kaya raya. Aku diperlakukan seperti anak sendiri, tapi kebiasaannya mengenakan pakaian seksi perlahan mengganggu pikiranku. Di saat yang sama, aku masih menyimpan perasaan untuk Rania, teman SMA yang ingin kudekati lagi. Namun, kehadiran ibu tiri yang terlalu perhatian itu membuat segalanya menjadi rumit. Antara cinta masa lalu dan godaan yang tak terduga, aku harus memilih jalan yang tepat sebelum semuanya berantakan.
Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Perjodohan dengan pria yang dulu pernah ditolaknya memicu dilema mendalam. Apakah pernikahan ini berjalan atas sisa cinta, atau justru menjadi ajang pembalasan dendam atas sakit hati masa lalu? Kini, sebagai suami istri, keduanya harus berkomitmen meski bayang-bayang masa lalu terus mengusik. Di dunia Chronophile yang sangat menghargai waktu, berbagai rahasia dan konflik pun mulai bermunculan, menguji kesetiaan serta keutuhan rumah tangga mereka.
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Kehidupan baru Anisa Rahma dimulai setelah ia menikah dengan Seno Bagaskara, seorang pria kaya raya. Di kediaman megah keluarga suaminya, ia harus beradaptasi tinggal bersama para ipar. Namun, di balik kemewahan itu, bahaya mengintai. Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno serta suami dari iparnya memendam hasrat terlarang padanya. Kini, ia terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah tersebut. Mampukah Anisa bertahan menghadapi situasi rumit ini?
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya terjebak dalam neraka pernikahan. Alih-alih bahagia, ia justru menjadi sasaran kekejaman Adnan, suaminya yang menyimpan dendam membara kepada sang mertua. Setiap hari, Saschya harus bertahan menghadapi siksaan fisik dan mental yang keji. Namun, di tengah keputusasaan yang mendalam, sosok dari masa lalunya mendadak hadir kembali. Apakah kemunculan mereka akan menjadi penyelamat yang membebaskan Saschya, atau malah memicu prahara baru di hidupnya?
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Divonis kanker rahim stadium lanjut membuat Fatma harus mengubur mimpinya memiliki keturunan. Demi membahagiakan Satria, ia bahkan rela memohon sambil menangis agar sang suami bersedia menikah lagi. Satria sempat menolak rencana itu karena tidak ingin melukai perasaannya. Namun, di balik pengorbanan tulus Fatma sebagai bukti cinta terakhirnya, sebuah kenyataan pahit justru terungkap. Fatma harus menerima fakta menyakitkan bahwa suaminya ternyata tidak pernah mencintainya.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Bramantyo dan Bima tega menguji ketulusanku lewat obsesi kejam mereka pada Sandra. Puncaknya, demi menyelamatkan perempuan itu dalam sebuah kecelakaan, mereka membiarkan tanganku hancur hingga karier musikku hancur total. Reaksi diamku saat liontin peninggalan ibu dihancurkan Sandra membuat mereka heran. Namun di rumah sakit ini, cintaku telah mati. Aku sadar ini hanyalah sangkar penyiksaan. Kini, aku bersiap untuk pergi dan membalas semua kepedihan ini.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED