Dua puluh lima tahun silam...
Hangat mentari di pagi itu sedang menyinari bumi, setelah semalaman basah kuyup diterpa hujan badai. Di kediaman keluarga Doko yang sederhana, saat ini sedang ramai karena semalam Bu Lida, istri Doko yang sudah melahirkan 4 orang anak, malam tadi kembali melahirkan anaknya yang kelima.
"Wah, anakmu mirip sekali dengan bapaknya, Lida! Takutnya nanti malah akan membawa kesialan di dalam keluargamu. Sekarang saja keluarga ini sudah dilanda kekurangan, aku gak tau deh gimana nanti kedepannya," ujar Bu Sodah, tetangga yang paling julid di sana.
Dia selalu ingin tahu semua kehidupan orang lain dan selalu merasa bahwa ia harus ikut campur di dalam segala hal. Karena ia juga adalah orang yang cukup kaya dan terpandang di kampung itu, jadi ia merasa semua orang harus menghormati dirinya dan menuruti semua yang ia katakan.
"Jangan selalu tongos lah mulut kau itu, Sodah! Kau pikir itu si Lida tak lelah baru saja melahirkan. Dia masih kesakitan dan sekarang kau malah menambah bebannya dengan berkata macam itu. Kasar kali muncung kau bah, Sodah!" sela Bu Siska ikut menimpali dengan logat bataknya.
Di tempat mereka tinggal, banyak yang berasal dari berbagai daerah dan juga suku bangsa yang berbeda-beda. Ada yang dari suku Mandailing, Batak, dan keluarga Rivold atau Lida sendiri berasal dari tanah Minang. Jadi bahasa yang sehari-hari pun masih banyak menggunakan bahasa daerah mereka masing-masing. Meski di dalam lingkungan mereka akan menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh lawan bicaranya.
"Hei, Bu Siska! Aku mengatakan apa yang seharusnya dikatakan. Jangan sampai mereka menyesal nantinya karena sudah terlanjur merawat anak pembawa sial ini," ujar Bu Sodah semakin menjadi-jadi.
"Cukup, Uni Sodah! Apa pun yang dikatakan orang tentang anakku, aku akan tetap merawat anak ini. Dia mirip sama bapaknya karena dia adalah anak bapaknya. Darah daging dari bapaknya, jadi tidak ada sangkut paut dengan mitos yang Uni Sodah katakan. Maaf, Uni Sodah! Jika Uni Sodah hanya ingin mengatakan hal yang buruk tentang anakku, silahkan Uni Sodah pulang saja!" usir Bu Lida yang sudah emosi mendengar anaknya dikatakan sebagai anak pembawa sial.
"Jangan sombong kau, Lida! Kau tau betul anakmu itu akan membuat hidup kalian sengsara nantinya, dan aku sudah memperingatkan kau dari sekarang. Karena kita juga berasal dari kampung halaman yang sama, itu sebabnya aku memperingatkan dirimu, Lida. Aku berkata seperti itu karena aku tidak mau hidup kalian semakin bertambah susah," sahut Bu Sodah.
"Ampun, Uni! Kecek uni tu batua bana. Kini pailah barangkek dari rumah ambo. Pulanglah, Uni Sodah!" usir Lida secara halus.
Ya, Lida dan Sodah berasal dari kampung halaman yang sama, yaitu dari tanah Minang. Mereka sama-sama perantau ke daerah Riau yang kebetulan bertemu di sana. Sodah sudah jauh lebih lama tinggal di sana dibanding dengan Lida dan keluarganya. Dulu Sodah dipinang oleh seorang pria kaya yang berasal dari Riau dan pinangan itu langsung di sambut baik oleh keluarga Sodah. Setelah lamaran itu, Sodah dan pria itu langsung melaksakan pernikahan dengan meriah di kampung halaman Sodah. Lalu setelah menikah, Sodah diboyong oleh suaminya ke kampung halamannya di Riau.
Sejak saat itu, Sodah merasa bahwa ia sudah sukses dan kaya. Sikapnya menjadi sombong kepada semua orang. Sebenarnya Lida juga masih sepupu dekat baginya, tapi ia seolah tidak mau mengakui itu di hadapan orang-orang, karena nasib Lida yang kurang beruntung.
Tapi karena nasib yang kurang menguntungkan di keluarganya, juga karena perselisihan antara sesama saudara di kampung. Lida dan suaminya memutuskan untuk pindah dari tanah Minang untuk mencari kehidupan baru di rantau orang. Mereka memilih pergi ke Riau untuk mengundi nasib disana. Tidak sama sekali terpikir oleh mereka akan bertemu dengan Sodah dan keluarga barunya disana. Karena Lida yang pergi dengan hati sedih dari kampung halaman akibat ketidakadilan yang ia dapatkan dari keluarga.
Dimana-mana pasti bukanlah hal tabu lagi tentang perebutan harta warisan antara sesama saudara. Warisan terkadang membawa kesejahteraan dan tidak jarang pula warisan itu membawa petaka. Bagi Lida warisan itu justru menjadi petaka bagi kehidupannya. Karena warisan itu hubungannya dengan saudaranya jadi renggang. Orang tua yang kurang bersikap adil kepada semua anaknya membuat hati putih Lida terluka. Itu sebabnya dia memilih pergi menjauh daripada ia tetap di sana menahan hati dan juga nanti malah akan melawan orang tuanya. Lida tidak mau ia sampai menjadi durhaka hanya karena harta. Itu sebabnya ia memilih menjauh untuk sementara.
Namun setelah ia menjauh, semakin menjauhlah keluarganya darinya. Lida sudah bagaikan anak terbuang, sementara saudara-saudaranya menikmati harta warisan di kampung sana dengan hati bahagia. Mereka tidak tau hidup yang dijalani Lida dan keluarganya sangat menderita di rantau orang. Makan sesuap saja harus dicari dengan cara membanting tulang.
Berangkat pagi, pulang sore bahkan terkadang sudah malam hari. Itulah yang dilakukan Lida setiap hari demi mencari sesuap nasi untuk anak-anaknya di rumah. Ia tidak akan pulang sebelum mendapat makanan untuk anak-anaknya. Lida selalu menahan rasa haus dan laparnya sepanjang hari, semua itu demi anak-anaknya dirumah agar mendapatkan makanan dengan hasil yang ia dapat hari ini.
Rasa lelah dan lapar Lida akan lenyap ketika ia melihat anak-anaknya makan dengan lahap. Semua lelahnya terbayar dengan rona kebahagiaan di wajah anak-anaknya menyambut ia saat ia pulang mencari nafkah. Ia mencari nafkah sudah seperti tulang punggung keluarga, padahal ia masih mempunyai seorang suami yang tetap dan gagah. Lalu apa saja yang dilakukan suaminya?
Suaminya hanya tau bersenang-senang dan menghabiskan uang yang didapatkan oleh Lida saja. Selain itu sikapnya juga sangat kasar dan tidak akan segan memukul Lida ketika dia marah. Tapi Lida masih bertahan demi anak-anaknya tidak kehilangan sosok ayah. Padahal anak-anaknya juga sangat geram melihat perlakuan ayah mereka yang kasar pada ibu yang sudah melahirkan mereka itu.
Lida berjuang sendirian untuk menghidupi anak-anaknya. Sekarang saat ia melahirkan buah hatinya yang kelima, orang malah mengatakan bahwa anak itu pembawa sial, hanya karena anak itu sangat mirip dengan ayahnya. Tentu saja Lida tidak terima hal itu, jelas ia menolak mitos seperti itu. Ini bukan salah Lida ataupun anak-anaknya. Lalu ini salah siapa?
"Itu benar, Bu Sodah! Sebaiknya Bu Sodah pulang ke rumah, karena Bu Lida juga butuh istirahat dan baru tadi malam dia melahirkan bayinya. Tentu saja dia saat ini sedang membutuhkan banyak istirahat, jadi jangan membebani pikirannya dengan perkataan Bu Sodah yang tidak menimbang perasaan orang itu!" ujar ibu-ibu yang lain kepada Bu Sodah.
Akan tetapi ia yang merasa tidak salah sama sekali, bahkan ia mencibir mereka semakin menjadi-jadi.
Sodah semakin memperburuk keadaan dengan mengatakan hal yang lebih mengerikan jika sampai nanti anak itu dibesarkan oleh keluarga Lida. Anak yang masih suci itu menjadi perbincangan pagi itu.
"Jangan terus menghina anakku, Uni Sodah. Biarpun kami orang miskin tapi kami masih punya harga diri. Kita memang berasal dari kampung halaman yang sama. Tapi pemikiran kita berbeda, Uni Sodah. Aku tidak akan pernah terpengaruh oleh keyakinan mitosmu yang tidak berguna itu," tegas Lida.
"Jaga ucapanmu itu, Lida. Uni Sodah tamu kita, tidak usah kau berbicara kasar. Dan yang dikatakan oleh Uni Sodah itu bisa saja benar adanya," sahut Rivold, suaminya Lida.
"Uda juga jangan ikut membela uni Sodah yang menjelekkan anak kita," kesal Lida.
"Terserah kalian saja, yang penting sudah aku peringatkan kalau anak itu adalah anak pembawa sial yang nantinya akan membawa kesialan kepada hidup Lida dan juga keluarganya dan kalian tinggal menunggu saja saat itu tiba. Tapi jangan menyesal nantinya jika yang aku katakan itu adalah kebenaran. Dan untuk wa'ang' Rivold, ambo harap wa'ang hati-hati, " ujar Sodah kepada mereka sebelum meninggalkan rumah itu.
Semua orang yang ada di situ menggeleng mendengar perkataan dari Sodah. Ia bukan hanya mengutarakan pendapatnya saja kali ini, akan tetapi ia juga sudah memberikan sumpah serapah kepada bayi merah yang baru tadi malam dilahirkan itu.
Ibu-ibu yang ada disana juga merasa sangat geram dengan suami Lida, karena bukannya ia membantu istrinya untuk membela anak mereka, tapi ia justru ikut membenarkan keyakinan Sodah yang keliru itu.
"Sudahlah bu Lida, jangan terlalu diambil hati perkataan dari bu Sodah itu, kami semua percaya bahwa bayimu ini adalah anak yang akan bisa membanggakanmu nantinya. Jangan terpengaruh oleh omongan orang lain, apalagi itu nantinya akan membuatmu kondisimu semakin terpuruk. Dan ingatlah bahwa kau saat ini baru saja melahirkan bayi dan jangan pernah berpikiran yang macam-macam apalagi sampai berbuat hal yang buruk kepada bayimu," pesan seorang ibu kepada Lida.
"Baiklah bu Risma. Terima kasih karena sudah memperingatkanku. jika tidak, pasti aku juga mungkin saja akan terpengaruh dengan ucapan dari uni Sodah tadi karena kami juga berasal dari kampung halaman yang sama, jadi sedikit banyaknya pasti tradisi dan juga keyakinan yang dipercayai oleh uni Sodah itu ada di kampung halamanku," ucap Lida kepada ibu-ibu yang ada di situ.
"Itu hanya mitos dan juga tradisi kuno yang seharusnya tidak dibawa-bawa lagi ke zaman modern ini, karena sekarang zaman mulai canggih dan tidak perlu mendengarkan perkataan orang lain lagi, bu Lida. Baiklah kalau begitu aku juga pamit karena anak-anakku pasti saat ini sudah mau berangkat ke sekolah. Dan saat ini pasti anak-anak sedang mencariku karena uang belanja dan juga sarapan mereka belum disiapkan. Tadi aku hanya pamit sebentar untuk datang kesini melihat si kecil yang baru lahir," pamit bu Risma kepada bu Lida sambil memberikan buah tangan kepada Lida.
Karena tradisi di sana juga selalu membawa sesuatu benda untuk diberikan kepada si bayi ataupun ibunya jika kita melihat bayi yang baru saja lahir. Entah itu beberapa bungkus sabun ataupun bedak bayi dan benda-benda yang lainnya yang diperlukan oleh bayi dan ibunya.
"Terima kasih sudah repot-repot membawa buah tangan ini bu Risma dan terima kasih juga sudah menengok bayiku," ujar Lida kepada bu Risma.
"Itu sudah kewajiban sebagai tetangga dan juga kita tinggal di lingkungan yang sama sekarang. Tidak perlu memikirkan apapun sekarang, fokus saja kepada kesehatanmu dan juga bayimu agar kau secepatnya bisa pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Karena aku sangat kasihan kepada Wika yang menggantikanmu berjualan di pasar. Selain umurnya masih kecil, ia juga masih memerlukan pendidikan untuk masa depannya nanti, bukan untuk berjualan di pasar seperti yang ia lakukan sekarang," pesan bu Risma kepada Lida.
Ya, semenjak Lida tidak lagi kuat untuk membawa barang dagangannya ke pasar yaitu sayur-sayuran maka putri sulungnya lah yang menggantikan dirinya untuk menjajakan sayuran itu demi mereka bisa makan setiap hari. Sedangkan suaminya hanya sibuk tidur sepanjang hari dan bahkan tidak tahu apakah hari sudah siang atau malam.
"Baiklah bu Risma, nanti akan aku usahakan agar Wika tidak lagi berjualan karena aku juga sangat kasihan dengan putriku itu. Dia yang memaksa untuk tetap berjualan karena kondisi kami juga yang seperti ini dan yang mencari sayur-sayuran juga adalah anak-anakku yang lainnya. Kalau untuk membeli kepada pedagang lain kemudian dijual lagi maka itu tentu akan membutuhkan modal yang besar, jadi anak-anakku itu berinisiatif untuk mencari sayuran segar di hutan dan menjualnya kembali ke pasar," ujar Lida kepada semua orang yang ada disitu.
Semua orang yang disitu sangat prihatin dengan kondisi dan juga keadaan dari keluarga bu Lida, akan tetapi mereka juga tidak cukup mapan untuk membantu dan mereka hanya bisa mendoakan keluarga itu agar nantinya bisa merubah nasibnya untuk kedepannya karena anak-anak dari Bu Lida juga sangat gigih untuk membantu hidupnya merubah masa depan mereka.
"Wika itu adalah anak yang baik, bu Lida. Aku sangat salut melihat perjuangan Wika sehari-hari mengurus adik-adinya ketika bu Lida pergi bekerja atau ke pasar. Wika sangat tulus dalam menjalankan perannya sebagai kakak dan sekarang Wika malah menggantikan bu Lida berjualan di pasar. Bu Lida sangat beruntung mempunyai anak sebaik Wika," puji Ratih, tetangga sebelah rumah keluarga Lida.
"Itu betul sekali, Bu Ratih. Wika adalah anak yang berbakti. Padahal dia masih digolongkan terlalu dini untuk melakukan itu semua. Aku yakin suatu saat nanti pasti anak itu akan berhasil dalam hidupnya, karena dia adalah gadis yang pemberani dan juga pekerja keras," tambah ibu-ibu yang lain.
Obrolan itu berlanjut beberapa saat. Tapi tidak lama kemudian, para ibu-ibu itu pamit pulang karena mereka masih ada kegiatan masing-masing. Hari juga masih pagi, dan tentu saja banyak yang akan melakukan rutinitas mereka.
"Kalau begitu kami pamit dulu, Bu Lida. Bu Lida banyak istirahat biar cepat pulih. Nanti setelah memasak di rumah, aku akan mengantarkan sedikit lauk untuk bu Lida dan anak-anak, biar mereka gak repot memasak. Wika juga pasti sangat lelah mengurus adik-adiknya," ujar bu Ratih.
"Terima kasih, bu Ratih. Bu Ratih memang selalu orang yang pertama membantu kami saat kami butuh bantuan," jawab Lida.
"Itu tidak masalah, bu Lida. Sesama tetangga kita harus saling berbagi," ujar Ratih.
Setelah itu ibu-ibu itu pamit pulang, mereka masih prihatin dengan kondisi bu Lida yang hidup dengan sederhana itu, tapi suaminya sepertinya tidak peduli sama sekali akan hal itu.
Setelah tamu yang datang menjenguk bu Lida dan bayinya pulang, Lida dan suaminya terlibat adu mulut dan juga pertengkaran yang hebat. Karena Lida sangat geram melihat suaminya yang diam saja ketika anak mereka di hina, bahkan suaminya ikut mendukung pendapat dari Sodah.
"Uda sabana tega, anak kito dihino model itu tapi uda diam sajo" Ucap Lida mengungkapkan kekesalannya pada suaminya. Logat bahasa daerahnya pun keluar saat ia sedang marah.
"Pasti ado musababnyo mako uni Sodah mangecek model itu, mungkin sajo nan di katoan uni Sodah itu memang batua. Anak ko memang mambao sial," sahut Doko, suami Lida.
Lida semakin kesal dan juga marah mendengar hal itu. Bisa-bisanya suaminya malah ikut menganggap anak mereka sebagai pembawa sial.
"Anak ini titisan mu uda, Jangan kau mengatakan hal yang bisa membuatmu menyesal, Uda" ujar bu Lida.
Bahasa yang mereka gunakan sehari-hari memang bercampur, terkadang mereka membawa bahasa daerah asli mereka dan terkadang juga mereka menggunakan bahasa tempat tinggal mereka yang sekarang. Tapi Lida tetap memanggil suaminya dengan sebutan uda, yang artinya adalah abang.
"Walaupun anak itu titisan dariku tapi mungkin saja nasibnya itu memang ingin membuat kesialan pada hidup kita. Seperti yang dikatakan uni Sodah, " Doko masih saja membenarkan ucapan dari Sodah, padahal istrinya baru semalam melahirkan dan seharusnya ia memberikan perhatian penuh pada istrinya itu. Bukan malah berdebat dengannya.
"Tidak ada yang namanya anak pembawa sial, Da. Semua anak itu adalah anugerah. Sadarlah kalau anak kita ini adalah titipan yang harus kita jaga dengan baik," Lida mencoba melunak untuk meyakinkan suaminya.
Karena tubuhnya masih terlalu lemah untuk berdebat saat ini.
"Tapi aku yakin kalau anak itu akan membawa kesialan bagi kita, Lida. Karena semenjak kau hamil saja kita sudah hidup berkekurangan, apalagi nanti setelah anak ini besar pasti dia akan membuat kita malu," ujar Doko dengan yakin.
"Tidak, uda. Aku tetap akan merawat anak ini dengan baik karena aku adalah ibunya, aku yang mengandung dan juga melahirkannya dengan taruhan nyawa. Jadi tidak ada yang bisa menghina anakku selagi aku masih hidup," ujar Lida dengan tegas.
"Tasarah kau sajolah. Indak ta urus dek ambo tu doh" sahut Doko sambil berlalu dari hadapan istrinya yang sedang menggendong bayi merah tersebut.
Wajah anak itu memang terlahir persis seperti ayahnya. Seharusnya Doko bersyukur anaknya sangat mirip dengan dirinya karena banyak orang yang ingin anaknya serupa dengannya. Tapi berbeda dengan Doko, ia malah menganggap hal itu sebagai suatu kesialan, hal itu karena mitos yang diyakini sebagian orang yang mengatakan jika anak terlahir mirip dengan wajah ayahnya maka anak itu akan diramalkan akan membuat kehidupan ayahnya dan juga semua keluarga akan terancam. Mitos yang entah berasal darimana, dan mitos itu juga belum pernah ada yang membuktikan kebenarannya. Akan tetapi mitos itu ada di dalam keyakinan sebagian kalangan.
Tapi Lida tidak peduli dengan mitos yang dipercaya oleh orang-orang itu, karena baginya anaknya itu adalah anugerah dan harus ia jaga dengan baik. Tidak ada yang namanya anak pembawa sial karena semua anak itu terlahir suci. Kita sebagai orang tua harus mendidik anak itu sehingga ia bisa menjadi anak yang baik, bukan malah ikut memojokkan dan juga menghina kelahirannya.
Sambil meneteskan air mata, Lida menyusui bayinya. Ia sangat kasihan dengan bayi mungilnya itu. Baru saja lahir ke dunia sudah merasakan penolakan dan penolakan itu berasal dari ayah kandungnya sendiri yang termakan mitos kuno yang tidak diketahui kebenarannya itu.
Tidak lama kemudian Doko sudah keluar kembali dari kamar. Wajah Lida langsung berubah cerah, ia mengira bahwa suaminya itu datang untuk mengucapkan bahwa ia menyesal karena telah ikut menghina bayi mereka yang baru lahir itu. Namun sekali lagi Lida harus menelan pil pahit, bukannya minta maaf, Doko malah semakin membuat ia merasa dongkol.
"Hei Lida. Ada gak kau pegang uang? Uda pinjam dululah buat bayar kopi di warung," ucap Doko tak tau malu.
"Uang darimana, Da. Apa uda sadar dengan yang uda katakan itu. Aku baru tadi malam melahirkan anak kita. Biaya berobat saja masih di pinjam sama bu Ratih, lalu uda pikir aku dapat uang darimana. Seharusnya uda menggantikan aku cari uang saat kondisi seperti ini, bukan malah minta uang. Apa ida juga tidak kasihan dengan putri kita yang menggantikan aku jualan sayur di pasar. Dimana otakmu, Uda?" geram Lida.
Ia sudah terlalu lelah menghadapi perangai suaminya yang semakin hari semakin menjadi itu. Ia sudah mencoba diam selama ini, tapi sepertinya suaminya itu tidak akan bisa berubah.
"Aku tidak mau berdebat denganmu lagi, Lida. Sekarang cepat berikan uda uang untuk pergi minum kopi ke warung. Pasti masih ada lebih uang dari puskesmas kemarin," kekeuh Doko.
"Terserah uda saja. Yang pasti aku tidak akan memberikan uang sepeserpun pada uda. Uang sisa dari bu Ratih itu hanya akan digunakan untuk keperluan Revan," ujar Lida.
"Revan? Siapa Revan? Aku akan meminta langsung pada orang itu. Kenapa dia yang lebih berhak atas uang itu?" tanya Doko.
"Bahkan nama anakmu saja kau tidak tau, Uda. Seharusnya seorang bapaklah yang memberi nama pada anaknya. Tapi kau malah tidak tau dan tidak mau tau dengan nama anakmu sendiri. Revan adalah anak kita yang baru lahir tadi malam," jawab Lida dengan kesal.
"Oh Revan itu nama anak ini. Mana aku tau, kan kau tidak memberitahu aku. Sudahlah, Lida. Tidak perlu membahas hal yang tidak penting, sekarang lebih baik kau berikan apa yang aku minta. Aku mau pergi ke warung," ucap Doko lagi.
"Pergi saja kalau udah mau pergi tapi aku tidak akan memberikan apa yang uda minta. Aku lebih memilih makan untuk anak-anakku daripada hobby mu yang tidak berguna itu. Kau pasti akan menggunakan uang itu untuk taruhan lagi di warung, aku tidak sudi memberikannya. Jika uda mau minum kopi, buat saja di dapur. Disana ada gula dan kopi, kok" tegas Lida.
Rahang Doko mengeras mendengar jawaban istrinya. Ia sangat marah karena Lida tidak mau menurut padanya lagi, terlebih setelah Lida melahirkan anak yang menurutnya akan membawa kesialan itu. Sekarang saja anak itu sudah membuat Lida berani melawan dirinya. Padahal selama ini Lida tidak pernah berani membantah ucapannya. Talu semenjak anak itu lahir, Lida sekarang sudah berani menjawab apapun yang ia katakan. Doko semakin membenci bayi mungil yang tidak berdosa itu.
Sikap Doko yang seperti itu berlangsung hingga bertahun lamanya. Ia bahkan tidak mau menyebut Revan sebagai putranya.