Empat tahun hidup sendirian, mengurus toko bunga kecil, menurutku, aku baik-baik aja. Bahkan jauh lebih baik-baik aja setelah perpisahan yang menguras segala sisi emosi.
Winengkuku Narendra atau kerap ku sapa mas Win, lelaki yang sudah menjadi suamiku selama 3 tahun itu, menceraikan aku karena kita gak kunjung di karuniai anak. Ya, alasan klasik yang bisa diterima, tapi harusnya masih bisa di kompromikan denganku dan masih bisa kita usahakan sama-sama.
Sayangnya, dia memutuskan itu sepihak. Terlihat egois. Entahlah, mungkin tekanan dari keluarganya juga yang ingin mas Win segera punya keturunan dengan menikahi perempuan lain. Aku gak tahu dan udah gak peduli. Aku gak mau menerka-nerka lebih jauh karena fokusku waktu itu hanya menyembuhkan diri sendiri yang patah dan rapuh bahkan hancur berkeping-keping.
Mendiang ibuku pernah bilang kalau perempuan itu gak punya batasan untuk menjadi kuat di dalam hidupnya. Seperti satu dibagi kosong yang hasilnya tak terhingga, begitu pula kekuatan perempuan. And i'm egree with this.
Empat tahun terakhir ini, aku mencoba ikhlas. Sekuat tenaga mencoba menata kembali hidupku yang tentunya tidak beraturan dan terombang-ambing setelah kehilangan nahkoda. Dan empat tahun terakhir ini, aku jadi berteman akrab dengan yang namanya kesendirian. Padahal dulu aku paling takut sendiri, tapi sekarang bukan hal buruk ternyata untuk di jalani. Ketakutan-ketakutan saat sendiri justru gak terjadi. So, aku anggap aku memang terlalu berlebihan aja sampai bisa berpikir negatif seperti itu.
Sekarang, aku justru berada di titik sangat menikmati sepi. Membaca buku sambil minum coklat panas, mengkhayal hidup impian, menulis cerita-cerita atau jurnaling, tentu aja selain merangkai bunga-bunga cantik. Itu udah jadi keseharian karena aku mengelola toko bunga kecil. Milikku sendiri.
Sebelumnya, aku hanya istri setia yang selalu di rumah. Mengerjakan pekerjaan rumah, memasak, menunggu suami pulang kerja, dan melayani suami. Istriable banget lah. Aku cukup menikmatinya waktu itu. Karena sebenarnya, rumah tangga kami harmonis-harmonis aja. Tidak ada konflik besar sampai berantem besar dan berhari-hari. Mas Win adalah lelaki yang cukup pendiam dan to the point, sementara aku perempuan yang periang tapi bisa sangat jadi penurut pada suami.
Ya udahlah. Aku gak mau terus-terusan meratapi nasib. Maka dari itu atas dukungan Anki-sahabatku- dan Sapta-kakak laki-lakiku yang juga suami dari Anki, aku memberanikan diri membuka toko bunga yang kuberi nama 'Fleur by Rangita' atau biasa disingkat 'Flora'. Rangita sendiri adalah nama belakangku, Englias Rangita. Tapi aku sendiri lebih sering disapa Iyas.
Kebetulan juga, memiliki toko bunga adalah salah satu di daftar impianku waktu masih remaja dan sekarang udah ter-ceklist.
Aku tersenyum, cukup puas dengan pekerjaanku hari ini seraya mengamati bunga favoritku sepanjang masa ini, mawar. Rangkaian bunga mawar putih untuk pesta pernikahan Aira sudah selesai ku buat. Buket mawar putih yang kurangkai rapi dengan sentuhan wax paper berwarna senada dengan bunganya.
Aira ini adalah teman kuliahku, udah lama sekali gak ketemu, tiba-tiba dia berkunjung ke Flora untuk memesan buket bunga. Dari ceritanya sih, ini adalah pernikahan kedua setelah dua tahun menjanda. Suami pertamanya adalah orang Birmingham, yang juga tempat Aira menimba ilmu S2-nya. Setelah bercerai, dia pindah ke Boston untuk bekerja dan bertemu dengan calonnya yang sekarang.
Tampak matanya sangat berbinar ketika menceritakan bagaimana pertemuannya dengan lelaki ini sampai mereka memutuskan untuk menuju ke jenjang yang lebih serius dengan background masa lalu masing-masing tentunya. Karena yang aku dengar dari Aira, calonnya ini juga seorang duda.
Aku senang mendengar kabar baiknya, dia pun mengundang aku sekalian untuk datang ke pernikahannya.
Dengan senang hati, aku menerima orderannya sekaligus undangannya. Sore ini juga, aku sendiri yang akan mengantar buket bunga mawar ini ke rumahnya. Seperti bunga mawar putih ini yang melambangkan cinta yang murni dan kesetiaan abadi, aku harap cinta Aira dan suaminya juga akan abadi.
Anki menelepon saat aku udah mau berangkat.
"Iya, ini aku mau kondangan sekalian nganter orderan buket. Kenapa Ki?"
"Sendirian aja? biasanya minta temenin aku?"
"Kali ini kayaknya aku udah oke kok ke kondangan sendiri, lagian ini temen kuliahku dan gak mungkin ada circle-nya mas Win. Terus katanya kamu hari ini mau dinner sama Sapta kan?"
"Iya sih. Yaudah kamu hati-hati ya kalau gitu. Eh Gini... gini... Yas, aku sebenernya butuh saran dari kamu. Kira-kira aku harus pake baju apa nanti?"
Kadang aku gak habis pikir dengan sahabat sekaligus kakak iparku yang satu ini. Bisa-bisanya dia masih meminta pendapatku mau pakai baju apa? Udah kaya mau dinner sama gebetan baru aja. Padahal sejarah mencatat kalau mereka udah berumah tangga selama lima tahun dan udah punya satu anak bernama Yasya. Tolong garis bawahi lima tahunnya. Waktu yang cukup lama kan untuk saling tahu selera satu sama lain, kesukaan satu sama lain? Lagian, Anki adalah perempuan termodis yang pernah aku kenal. Dia selalu mengikuti mode tren fashion terkini.
"Yakin masih nanya aku?" mataku memutar ke atas.
"Iya. Buruan kasih saran!"
Kalau tidak ingat Anki sering membantuku, rasanya aku males kasih saran hal begini padanya. Jadi, ya tidak ada salahnya membantu kakak ipar yang tiba-tiba kehilangan arah fashionnya dan kemampuan menilai sebuah penampilan saat mau dinner dengan suaminya sendiri.
"Emmm, kenapa nggak pake dress yang kamu beli minggu lalu? itu bagus sih menurutku."
"Warnanya terlalu gelap Iyas! Ada saran lain?"
Aku membuka pintu mobil dengan susah payah, karena tanganku satunya membawa buket dan terpaksa ponselnya ku apit diantara pundak dan telinga sehingga tanganku bisa membuka pintu belakang dan memasukkan buketnya.
"Yang line dress warna tosca deh, kayaknya aku pernah liat di lemarimu."
"Ah iya, aku punya. Oke deh, aku coba dulu. Nanti aku pap ya, byee Iyas! Hati-hati di jalan!"
Jam di tanganku udah menunjukkan pukul lima sore, acaranya pukul tujuh malam. Kalau dilihat dari alamat di undangan yang Aira kirimkan lewat whatsapp sih, lokasinya lumayan jauh, di selatan kota Jogja. Jadi aku harus berangkat lebih awal mengingat skill menyetirku standar. Jujur aja, aku baru bisa menyetir mobil 5 bulan terakhir ini karena aku butuh kesana-kemari tanpa harus merepotkan Sapta.
Satu jam perjalanan dengan kecepatan rendah-menengah, akhirnya aku sampai di sebuah rumah yang... cukup mewah di daerah Bantul. Aira adalah bussiness woman di bidang kecantikan. Di kartu namanya tertulis jika dia sekarang adalah CEO Aira beauty. Salah satu klinik kecantikan di Jogja dengan review yang bagus. Aku juga baru tahu, soalnya kita lama gak saling berhubungan satu sama lain. Padahal dulu cukup dekat waktu kuliah.
Seorang tukang parkir mengarahkan mobilku untuk menuju ke parkiran di sebelah rumah mewah itu. Setelahnya, aku keluar dan memasuki rumah Aira. Tamu undangan masih sepi, hanya ada beberapa pekerja catering dan orang-orang yang sibuk berlalu-lalang mengurus ini dan itu. Pernikahan dengan dekorasi semewah ini pasti persiapannya juga sangat lama dan tentu aja... mahal.
Sebenarnya aku sedikit bingung, kenapa Aira memilih membeli buket untuk pernikahannya di Flora, dan mempercayakan aku untuk membuatnya, padahal biasanya kan udah satu paket dengan dekorasinya atau satu paket dengan MUA nya.
"Pak, mau tanya, ruang riasnya dimana ya? Saya temannya Aira sekaligus mau ngasih buket bunga pengantin ini." Aku akhirnya bertanya pada seorang bapak-bapak yang sedang sibuk mengkoordinir ini itu.
"Oh, mbaknya masuk aja terus nanti ada belokan ke kiri, luruuuus aja. Nah, diujung situ mbak." Jelasnya sambil tangannya bergerak-gerak mengarahkan.
Aku mengikuti arahan dari bapak random yang ku tanyai di depan tadi dan dengan mudah aku bisa menemukan ruangannya. Kuketuk pintunya lalu disusul suara yang mempersilakan untuk masuk.
Masih dengan posisi duduknya, Aira sedikit menoleh karena dia belum selesai di make up. "Hai Iyas... akhirnya datang juga. Aku sempet mau telpon kamu loh, takut nyasar."
"Hai, enggak kok, aman."
"Wahh.... bagus banget Yas buketnya. Ih cantik!"
"Kayaknya sama cantiknya dengan kamu." Ujarku. "Oh iya ini buketnya mau ditaruh mana?" tanyaku.
"Oh, tolong kasih ke mbaknya aja Yas." Tunjuk Aira pada mbak-mbak yang sedang mengurusi rangkaian bunga juga untuk riasan.
Setelah menyerahkan buket bunga pada petugas WO-nya, aku duduk di sofa setelah Aira mempersilakan.
"Awalnya aku gak tau loh, kalau Flora itu milik kamu, aku cuma direkomendasiin katanya buket di Flora cantik-cantik. Dan beneran dong, emang secantik itu. Secantik yang punya sih menurutku." Aira terkekeh melihatku dari kaca di depannya.
Tadi Aira mempersilakan aku duduk sebentar sembari menunggu teman-teman kuliah yang mau datang juga. Takut aku kesepian di luar.
"Wah, aku yang harusnya makasih." Ujarku cukup terharu. "By the way, emang siapa yang rekomendasiin? Soalnya Flora belum seterkenal itu untuk ukuran toko yang baru buka setahun terakhir."
"Yang rekomendasiin..."
"Aira!"
"Sayangku!"
Seruan dua orang yang tiba-tiba masuk dengan heboh membuat perkataan Aira menggantung. Padahal aku penasaran sih, siapa yang rekomendasiin toko bunga ku. Ya, di sisi lain bersyukur juga ada yang sepercaya itu merekomendasikan tokoku pada orang lain. Atau jangan-jangan orang ini udah pernah order di Flora?
Lamunanku terhenti saat dua orang yang ternyata Citra dan Mini, menghampiriku dan menyapaku. Berbeda dengan Anki yang sudah jadi bestie sejak masih orok, Citra dan Mini adalah teman kuliahku juga sama seperti Aira. Dulu kami cukup akrab karena sering dapat kelompok yang sama dan itu-itu aja orangnya. Aku, Aira, Citra dan Mini. Setelah lulus, kami punya kesibukan masing-masing dan bahkan Citra dan Mini ini merantau ke luar kota. Aira juga mengambil S2 di luar negeri. Sedangkan aku masih tetep setia di Jogja.
Aku memeluk Citra dan Mini satu persatu sambil cipika-cipiki. "Hai, lama gak ketemu yaampun."
"Wah, kamu berubah banget ya Yas." Ujar Mini seraya mengelus lenganku.
"Kamu kesambet apa Yas, kok jadi kalem begini? Tapi tambah cantik sih." Puji Citra.
Yang tahu aku lebih dari empat tahun lalu, pasti akan mengatakan hal yang sama. Aku berubah. Ya, aku memang udah menjadi pribadi yang berbeda sekarang. Kalau kata Anki, aku jadi lebih tenang dan kalem, tidak seperti dulu yang heboh, suka ngobrol dan berisik. Makanya aku dulu sangat merasa sefrekuensi dengan Aira and the gang ini karena kami sama-sama heboh.
Kami berakhir mengobrol dan beberapa kali Aira menimpali di depan cerminnya. Tidak terasa, Aira telah menyelesaikan riasannya dan bersiap-siap karena acara resepsi akan segera di mulai. Ijab qabul memang udah diselenggarakan hari sebelumnya. Tadi aku sempat lihat, pihak mempelai lelaki sedang di rias di ruangan yang berbeda. Aku sempat melewatinya dan pintunya sedikit terbuka. Padahal mereka udah sah, biasanya boleh-boleh saja dirias satu ruangan.
Citra dan Mimi mengajakku untuk ke depan. Tamu-tamu udah mulai berdatangan dan duduk di kursi tamu. Kami pun memilih untuk duduk di kursi paling depan supaya bisa dengan jelas melihat Aira.
MC di depan udah mulai memandu acara. Dia mempersilakan kedua mempelai untuk duduk di singgasana pengantin. Aku dan yang lain takjub saat dari kejauhan, Aira sangat cantik dengan gaun pengantin berwarna lilac senada dengan pasangannya yang juga...
Astaga!
***
Kehidupanku mulai tenang dan damai sekarang, oh, mungkin juga dipengaruhi lilin aromaterapy berbau jasmin yang sering aku nyalakan saat membaca buku malam-malam dan teh hijau oleh-oleh Sapta dari Jepang.
Lagu-lagu yang ku dengarkan juga lagu-lagu yang bergenre folk. Aku berasa jadi manusia paling melancolic, tapi ini membuatku relaks. Aku mulai bisa mengontrol perasaanku dengan belajar meditasi. Pelan-pelan aja, tapi lama-lama aku bisa dengan mudah merilis pikiran yang positif. Dulu, aku mudah terkejut oleh hal-hal yang gak masuk di akal, mudah berpikiran negatif dan cukup over dalam mengekspresikan sesuatu. Sekarang, tentu aku lebih bisa mengontrol semua itu. Tapi gak untuk saat ini.
Apa yang ada di depanku sekarang ini sangat mengejutkan, sampai tanganku gemetar dan dudukku gak nyaman. Citra bahkan sempat bertanya aku kenapa karena ekspresiku jelas berubah 180 derajat. Jari-jari tangan sudah dingin tak karuan.
Lelaki yang menjadi suami Aira ternyata adalah Yudha, mantan sepupu iparku alias sepupunya mas Win. Empat tahun ini aku susah payah menghindar dari semua circle-nya mas Win. Makanya aku selalu mengajak Anki saat ada undangan yang sekiranya tergolong temanku dan mas Win. Atau memilih untuk gak hadir.
Kenapa aku repot-repot menghindar sementara jika ditilik kembali, aku bukan pihak yang bersalah, dan malah korban dari keeomgoisan mas win dan keluarganya. Tapi justru itu yang membuat aku jadi trauma dengan apapun yang berhubungan dengan mas Win.
Sekarang, usahaku itu sia-sia gak sih? Yudha udah lihat aku dan kemungkinan besar mas Win juga hadir di acara ini karena mereka sepupuan. Gak ada Anki pula yang bisa aku ajak kabur dan kucing-kucingan. Apa aku kabur sendirian?
Aku menimbang-nimbang. Apa aku beralasan ke toilet sebentar terus aku langsung kabur pulang? Nanti gampanglah, aku bisa chat mereka berdua kalau aku tiba-tiba mens dan udah tembus. Aku masih sibuk mencari cara untuk segera pergi dari acara ini, Sayangnya gak bisa. Mini dan Citra udah lebih dulu antusias berdiri dan menarik tanganku untuk menyelamati mereka di depan, tanpa bisa menyela karena mereka berjalan sambil mengapit kedua lenganku.
Giliran kami bertiga sampai di depan kedua mempelai dan mau gak mau, aku harus bersalaman dengan Yudha. Aku menunduk aja, semoga dia gak terlalu mengenaliku. Toh, kata teman-teman penampilanku juga berubah kan sekarang, so, aku harap Yudha benar-benar gak mengenaliku.
"Iyas?"
Mati! Yudha mengenaliku. Aku pun mendongak dan mendapati dia menatapku tak percaya. "Hai Yud, selamat ya."
"Loh, kalian saling kenal?" tanya Aira.
Sepertinya Aira belum tahu kalau aku adalah mantan sepupu iparnya Yudha mengingat Aira kan di luar negeri sebelum pulang dan menikah. Aku sendiri juga baru dua-tiga kali ketemu Yudha karena dia sibuk bekerja di luar negeri juga. Kemungkinan besar Yudha juga belum sempat cerita ke Aira.
Yudha merangkul Aira untuk mendekat "Iya sayang, Iyas ini mantan istri sepupuku, mas Win."
"Hah? Kok kamu gak cerita!"
Yudha tersenyum manis dan bergumam 'maaf belum sempat'.
"Aku juga baru tau kalau ternyata Iyas temen kamu."
Aira agak cemberut, tapi sedetik kemudian dia seperti teringat sesuatu. "Ah iya, Iyas, Yudha ini yang rekomendasiin Flora ke aku."
"Hah" aku agak terkejut, lagi. "O..oh gitu."
"Wah jadi Flora itu punya kamu Yas?" tanya Yudha terkekeh "Soalnya aku nemu kartu nama Flora pas kumpul keluarga besar kemarin, dan buketnya bagus. Jadi ya, aku rekomendasiin aja ke Aira karna dia desperate banget kemarin minta yang spesial." Ujarnya seraya melirik buket yang ada di tangan Aira.
Aku tersenyum kikuk dan manggut-manggut aja, lalu buru-buru gantian menyalami Aira, mengucapkan selamat, foto sebentar dan aku bisa segera pulang kan?
"Makasih ya sayang-sayangku. Makan-makan dulu deh ya. Enjoy!" Seru Aira sangat bahagia sambil dadah dadah sebelum menyalami tamu-tamu yang lain.
"Yas, Cit, mau makan apa nih? Siomay? Sate? Apa dulu nih enaknya?"
Aku harus segera melancarkan aksiku nih, sebelum mereka berdua menyeretku lagi untuk makan dan itu artinya aku bisa lebih lama ada di sini dan kemungkinan bertemu dengan mas Win sangat besar. Aku gak mau dan gak siap.
"Cit, Min, aku kayaknya musti ke toilet deh, perutku gak nyaman."
"Kenapa? Salah makan ya? Atau lagi mens?" tanya Citra perhatian.
"Kayaknya sih mens, ini udah tanggalnya sih. Aku ke toilet dulu deh."
"Mau diantar gak?" tanya Mini.
Aku buru-buru menggeleng. "No, aku berani kok."
Langkahku lebar-lebar menuju toilet yang sebenarnya tidak untuk ke sana. Aku cuma mlipir aja untuk menuju pintu keluar rumah mewah ini. Sumpah, aku mengutuk siapapun yang mendesain rumah Aira ini. Tadi kayaknya masuknya gampang-gampang aja, kenapa keluarnya berasa masuk di labirin? mana gak ada petunjuk arah pula pintu keluarnya dimana. Tamu-tamu juga udah di ruang utama semua. Gak ada gitu yang terlambat atau mau pulang lebih awal kaya aku gini? Kan bisa bareng.
Sabar... sabar... bentar lagi pasti nemu jalan keluarnya.
Aku harus berjalan berapa lama lagi ini? lampu juga remang-remang begini, jadi creepy banget. Aira orang kaya tapi mungkin dia lupa beli lampu.
Brughhh...
Aku kaget saat tiba-tiba ada seseorang muncul di balik lorong yang bercabang dan menabrakku. Tapi aku cukup bersyukur sih, ini orang bukan hantu. Lihat aja dari bawah, dia pakai sepatu kasual santai, celana kain yang disetrika rapi, kemeja lilac yang kelihatan kaya putih karena pencahayaan minim, yang lengannya udah dilipat sampai siku, membalut tubuhnya yang tinggi menjulang. Lalu aku mendongak melihat wajahnya dan ternyata... what the... kenapa malam ini banyak kejutan yang aku temui? Jantungku! Aku merasa detaknya semakin kencang seperti di buru sesuatu.
Jelas aku kenal lelaki yang ada di depanku ini, wajahnya juga melekat di ingatanku. Siapa lagi kalau bukan...
"Englias Rangita."
Dia bersuara dengan nada tegas dan dalam. Seketika bulu kudukku meremang mendengarnya menyebut nama lengkapku. Auranya memang udah mengintimidasi ketika pertama kali aku bertemu dengannya, lebih dari tujuh tahun lalu. Sekarang masih sama.
Aku gak mau dianggap jadi orang yang sombong sebenarnya, lagian buat apa aku selama ini belajar pengembangan diri kalau gak berguna di situasi begini? Oke, aku mendongakkan kepala dan berusaha sesantai mungkin di depannya. Tunjukkan Yas! Kalau sekarang kamu baik-baik aja.
"Bhagavad Pramana." Sebutku lirih namun tegas.
Selain mas Win, tentu aku juga selalu menghindari orang-orang di dekatnya, termasuk Bhaga. Dia adalah mantan adik iparku alias adik kandung mas Win. Dulu kami gak akrab-akrab banget karena dia orang yang sangat sibuk. Yah, pengusaha, biasalah. Tapi sekalinya ketemu auranya sangat gak ngenakin. Terlalu pendiam tapi tatapannya aneh. Aku sama sekali gak bisa membaca gerak-gerik dan tingkahnya karena semisterius itu orangnya.
Kali ini, aku harus cepat pergi meninggalkannya di tempat yang lumayan creepy ini dengan tatapannya yang juga menyeramkan itu. Bulu-bulu tanganku masih merinding sampai sekarang.
Ponselku berbunyi dan nama Anki menari-nari di layar. Syukurlah, dia menelepon di saat yang tepat.
"Kita lama gak ketemu ya, tapi maaf aku buru-buru. Boleh aku lewat?"
Meski cukup deg-degan, aku beranikan diri untuk bicara seramah dan setenang mungkin. Tubuhnya yang atletis menghalangi jalanku di lorong yang gak seberapa lebar ini. Jadi aku harap dia segera menyingkir dan aku bisa lewat.
Alisnya terangkat satu, matanya yang hitam itu berputar ke kiri sedikit berpikir lalu setelahnya dia benar-benar menggeser badannya dan mempersilakan aku untuk lewat. Cukup lancar ternyata untuk aku bisa segera kabur.
"Terimakasih." Ujarku sebelum meninggalkannya sambil megangkat telepon dari Anki.
"Iya Ki, gimana?"
Di seberang telepon, Anki sudah berbicara panjang lebar yang tak ku mengerti, ada suara Yasya juga yang ikut berceloteh dan aku pikir Anki sedang berbicara dengan anaknya. Aku menunggu sambil terus melangkah.
"Yas..." Bhaga menanggil hingga membuat aku berhenti dan menoleh masih dengan ponsel yang aku tempelkan di telinga. "Bukan itu pintu keluarnya."
***
Entah bagaimana, aku bisa keluar juga dari rumah mewah Aira dan sekarang duduk manis di mobilku.
Tidak putus-putus keterkejutanku, apalagi saat Bhaga bilang bahwa jalan yang aku lewati bukan jalan menuju pintu keluar. Awalnya aku menyangkal, masa rumah dengan banyak pintu ini gak ada jalan-jalan pintas menuju keluar. Pasti ada lah. Aku pun tetap berjalan dan mengabaikan omongan Bhaga.
Lalu barulah aku menyesal. Jalan yang aku lalui dari tadi ternyata menuju ke sebuah halaman seperti taman tapi gak terlalu luas. Yang lebih membuat wajahku pias, sumpah malam ini hidupku aneh sekali, di taman itu ada banyak makam kecil-kecil dengan batu nisan yang tertulis nama, tanggal lahir dan tanggal wafat.
Esmeralda, Martino, Marimar, Fernando, Jubaedah? Sutrisno?
Nama macam apa itu? dan ini kuburan sia... ah sial. Aku mengutuk diriku sendiri saat teringat bahwa Aira adalah pecinta kucing. Ini semua pasti makam kucing-kucingnya. Wajahku pucat seketika dan perutku mulai bergejolak. Meski hanya makam kucing, tapi vibe-nya kaya kuburan pada umumnya. Karena merinding parah, apalagi di taman ini situasinya sangat mencekam, hampir gak ada suara bahkan pesta di ruang tengah pun gak terdengar sampai sini. Aku membalikkan badan untuk kembali. Memang sepertinya Tuhan menakdirkan aku untuk mengikuti pesta ini sampai selesai.
Ternyata dari tadi Bhaga ada di belakangku, mengikutiku dan tersenyum jail. Mungkin dalam hatinya bilang 'Salah siapa ngeyel!'. Aku udah lama gak mengumpat, kali ini benar-benar aku ingin mengumpat sekencang-kencangnya karena malu, sok tau
dan sok berani.
Stupid Iyas!
"Can I help you? Aku tau pintu keluarnya." Bhaga menawariku untuk mengantar ke pintu keluar, aku berpikir untuk menolak, tapi kalau sampai aku tersasar lagi? mau di taruh mana mukaku? Enggak! Lebih baik aku menurunkan egoku daripada aku jadi bahan tertawaannya. So, aku menerima tawarannya.
Sampailah di pintu keluar dan aku menuju halaman luas tempat mobilku terparkir. Anehnya, Bhaga terus mengikutiku sampai di depan mobilku. Aku menatapnya bingung. Mau apa dia sampai repot-repot mengantarku begini? Enggak! Gak boleh mikir yang aneh-aneh. Walaupun dia misterius, tapi dia pasti hanya ingin menunjukkan sisi maskulinitas energy-nya dengan cara memproteksi perempuan yang jalan sendirian pulang pesta malam-malam menuju parkiran yang sepi. Iya, mungkin hanya itu niatnya. Stop berpikir negatif.
"Ngomong-ngomong, terimakasih Ga, udah nganterin aku sampai parkiran. Aku pulang dulu." Pamitku seraya mengeluarkan kunci dari tas dan membuka pintu mobilnya.
"Biar aku yang nyetir." Bhaga menyaut kunci di tanganku dan masuk ke dalam kursi pengemudi.
Tunggu... tunggu, aku harus mencerna situasi macam apa ini. Yang pertama, Bhaga menawari untuk menyetir? Padahal kan ini mobilku. Yang kedua, siapa dia berani-beraninya menyahut kunci tanpa persetujuan si pemilik mobil dan masuk begitu aja dengan santainya? Yang ketiga, haruskah dia beramah-tamah begini denganku? Yang notabene-nya aku gak pernah sedekat itu dengannya dulu, kita juga jarang komunikasi, boro-boro sebagai adik ipar, sebagai saudara jauh aja kayaknya enggak. Lebih seperti hubungan mantan pacar yang putusnya gak baik-baik dan saling mendiamkan satu sama lain. Tapi jelas aku bukan mantan pacarnya, aku mantan istri kakaknya.
Harusnya aku marah kan? kok dia seenaknya seolah-olah mau merampok dengan cara yang halus. Aku masih mau berpikir positif loh tentang dia yang mengantarku sampai parkiran sini. Tapi ini? sikapnya ini membuatku terpancing untuk mikir yang aneh-aneh.
"Ayo masuk!"
"Ga! Aku berterimakasih udah diaterin, tapi ini maksudnya apa? Kamu gak lagi minta balas jasa dengan cara ngrampok mobilku kan?"
Bhaga menggeleng sekali dan tegas. "Aku cuma mau nebeng, rumah kita searah kayaknya."
Rumah kita searah? Kayaknya? Dia saja gak yakin begitu. Lagipula sejak kapan rumah ku dengan rumah keluarganya searah? Kayaknya pula. Setelah bercerai, aku pindah ke rumah warisan kedua orangtuaku di Jogja utara, sementara rumah keluarga Bhaga di Kota Gede. Kayaknya searah? Jelas tidak ferguso!
Aku udah mau mencacatnya soal rumah yang searah, belum sampai satu kata yang keluar, dia malah turun dari mobil dan menggiringku untuk masuk ke kursi penumpang, bahkan dia sendiri yang membukakannya untukku dan aku nurut-nurut aja.
Hah?!
Beberapa detik duduk dan menjernihkan pikiran. Oke! Aku ikuti permainannya tanpa mengurangi kewaspadaan. Aku udah pernah di ajari self defense basic sama Sapta waktu masih SMA karena sering pulang sendiri naik angkot. Jadi kalau praktek sekarang, dikit-dikit aku masih ingat gerakan-gerakan melumpuhkan lawan.
Aku harus tenang, sebisa mungkin bersikap kalem-kalem aja, jangan terlalu panik dan kelihatan khawatir. Lawan akan lebih mudah beraksi kalau aku ketakutan dan lemah. Tetap biasa aja, stay cool Iyas!
"Boleh kan aku nebeng?"
TELAT!
"Emang kalau aku gak bolehin, kamu bakal keluar dari mobilku?"
"Enggak"
"Terus ngapain ijin sekarang?" tanyaku sinis.
Gak ada jawaban. Mobil udah dia nyalakan tapi gak segera melaju. Aku dan dia hanya duduk terdiam menatap depan yang gelap. Misiku untuk kabur lebih awal memang udah berhasil, tapi sekarang malah ketemu Bhaga dan berakhir satu mobil dengan auranya yang aneh. Ku lirik Bhaga yang masih memegang stir dengan tatapan kedepan. Dia kenapa sih?
Sejurus kemudian, Bhaga menolehkan kepalanya dan tepat menatap mataku. Agak ngeri sih tatapannya, apalagi di dalam mobil yang penerangannya minim ini "Kamu mau kabur kan dari pesta? Kalau gitu kita sama."
Aku mengernyit? Masih belum mengerti apa yang mau dia sampaikan. Dia ngajak untuk kabur bersama gitu? Atau kebetulan aku mau pulang duluan terus dia senang karena ada barengan untuk kabur?
"Aku gak kabur, aku emang buru-buru harus pulang. Jadi ayo cepat kalau emang kamu mau nebeng."
"Oke."
Dia tertawa. Ya emang agak sumbang tapi baru kali ini aku lihat dan mendengar tawanya seumur aku mengenal dia. Walaupun sikap misteriusnya masih sama, tapi sekarang gak kaku-kaku amat.
Dulu, biasanya aku yang ngajakin dia ngomong duluan, baru dia akan ngomong. Dia sependiam itu dan gak mau diusik saat melakukan hal-hal tertentu. Suka menyendiri kalau acara keluarga dan jarang ikut makan bersama. Dia seperti punya dunianya sendiri, atau aku sering menyebutnya Bhagaverse.
Mungkin kalau aku masuk ke dunianya, bakal banyak konspirasi-konspirasi dan hal-hal misterius yang harus aku pecahkan. Tapi aku gak berniat juga mengusik atau bahkan masuk ke dunianya. Terlalu mengerikan dan bukan aku banget.
"Kamu... cukup berubah." Katanya sambil melajukan mobil keluar dari parkiran menuju jalan besar.
"Kamu orang kesekian yang bilang gitu. Tapi iya, aku berubah. Everything has changed."
"Good."
Aku menoleh, satu kata yang membuatku agak kaget sih. Soalnya belum ada yang bilang perubahanku ini cukup bagus, karena terlalu drastis. Kebanyakan menganggap aku gak seasyik dulu, yang bisa diajakin ini itu lagi atau lebih simpelnya sekarang aku terlalu introvert. Jadi introvert ternyata gak seburuk itu kok, gak tiba-tiba juga aku jadi begini. Proses kehidupan, masalah-masalah yang bertubi-tubi merayap di hidupku, itulah yang pelan-pelan memicu aku untuk merubah sedikit tatanan yang ada di diriku. Barangkali masalah itu datang karena sikapku di masa lalu yang kurang bener atau sebenernya masalah itu di datangkan oleh Tuhan supaya aku berubah jadi Iyas yang sekarang.
Seseorang gak pernah tahu seberapa kuatnya mereka, hingga keadaan gak memberi pilihan selain harus survive dan menjadi kuat.
Tapi tunggu... "Ga, ini bukan jalan mau ke rumah kamu kan?"
Dia mengangguk "Aku tinggal sendiri sekarang, rumahku di dekat kampus UII. Searah kan sama rumahmu?"
"Sejak kapan?" Tanyaku ragu.
"Udah tiga tahunan."
Aku ingin tanya kenapa tapi aku urungkan, aku gak mau tahu terlalu jauh. Takutnya malah berujung ngomongin yang ada sangkut pautnya dengan mas Win dan keluarganya. Aku udah gak peduli. Jadi yang kulakukan hanya diam kembali dan cukup tahu sampai sini aja.
Kami berhenti di sebuah rumah di deretan perumahan elit yang aku asumsikan, ini rumah Bhaga. Rumah yang minimalis tapi terkesan mewah. Desainnya berbeda sendiri dari rumah-rumah sebelahnya. Padahal perumahan biasanya punya desain yang hampir sama. Kalau memang gak benar-benar kaya dan bisa sewa arsitek sendiri.
Bhaga melepas sabuk pengamannya dan bersiap untuk keluar. "Makasih tebengannya. Mobilmu cukup nyaman." katanya. "Oh mobilku sekarang di bengkel, tadi aku beragkat bareng sepupu yang lain." Jelasnya.
Mungkin dia sadar aku gak tanya apapun dari tadi dan gak mau aku berpikir aneh-aneh.
Aku menjawabnya hanya dengan anggukan datar. Kami pun keluar dari mobil. Bhaga berjalan menuju gerbang rumahnya, dan aku membuka pintu mobil bagian kemudi.
"Yas." Panggilnya sebelum aku berhasil masuk. Aku mendongak melihatnya "I'm sorry for Win and... my family."
Deg!!!
***