Bab 1

"Mari kita akhiri pernikahan ini."

Tiga kata yang sederhana itu sudah cukup untuk membuat Cindy Juanda menjadi seorang wanita yang tidak diinginkan oleh keluarga kaya. Tiga tahun kesetiaan kepada suaminya, Bagas Dewangga, tidak memberinya apa pun selain sakit hati yang memilukan.

Pada hari yang seharusnya menandai perayaan tahun ketiga pernikahan mereka, Cindy pergi ke kantor Bagas, ingin sekali mengajaknya keluar untuk merayakan. Begitu melangkah masuk, dia melihat kalung yang berharga di atas mejanya. Dia kira kalung itu ditujukan untuknya.

Akan tetapi, Bagas memperhatikan tatapan Cindy yang terpaku pada kalung perhiasan di atas meja, dan dia pun menutup kotak perhiasan yang indah itu. "Yuvia telah kembali. Ini hadiah untuknya." Perkataan Bagas seolah-olah memperingatkannya agar tidak larut dalam angan-angan belaka.

Segalanya menjadi sangat jelas pada saat itu. Cindy menundukkan kepala, kacamata berbingkai tebalnya tak mampu menutupi kepahitan dan kekecewaan yang menggenang di matanya.

Mantan kekasih Bagas, Yuvia Mardini, telah kembali dan mendapatkan kembali tempatnya di hatinya. Sementara itu, Cindy menyadari bahwa setelah tiga tahun di sisi Bagas, dia gagal memasuki hatinya, tidak pernah benar-benar merasa di sana—tidak pernah merasakan cintanya, selalu di luar, kini dikesampingkan seperti sesuatu yang usang dan tidak diperlukan.

Rasa jengkel mengernyitkan dahi Bagas. Saat dia melihat Cindy berdiri diam, kesabarannya mulai menipis dan dia menurunkan pandangannya. "Aku akan memastikan kamu mendapat kompensasi dan kita akan bercerai sesegera mungkin. Jangan pernah berpikir untuk menduduki posisi yang bukan milikmu," ucapnya, suaranya penuh dengan peringatan.

Sejujurnya, tidak ada yang salah dengan sosok, penampilan, dan kemampuan Cindy dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Masalahnya, wanita itu sungguh membosankan. Di mata Bagas, Cindy seperti hidangan yang terlalu hambar untuk dimakan, tetapi sayang untuk dibuang. Wanita ini memang seorang ibu rumah tangga yang kompeten, tetapi tidak cocok menjadi istrinya.

Keheningan Cindy hanya memperdalam garis-garis di dahi Bagas. Nada bicaranya menjadi dingin. "Kamu punya waktu tiga hari untuk memperimbangkan dan mengambil keputusan. Kesabaranku ada batasnya—jangan membuatku menunggu terlalu lama ...."

Tanpa ragu sedikit pun, Cindy menjawab, "Aku tidak perlu diberi waktu. Aku akan menandatanganinya sekarang." Dia dengan tenang mengambil pena dan menulis namanya di surat perjanjian perceraian.

Bersama-sama, mereka menjalani proses di kantor catatan sipil, dan semua formalitas hukum berakhir di belakang mereka dengan cepat.

Saat berjalan keluar sambil melihat akta perceraian, Cindy merasakan sakit yang hebat di dadanya, tetapi perasaan kebebasan yang aneh juga merayap masuk.

Akhirnya dia tak perlu lagi berharap suatu hari nanti dia bisa menghangatkan hati Bagas—dia tidak akan lagi menyia-nyiakan hidupnya dalam hubungan sepihak. Mulai sekarang, dia tak perlu lagi menyiksa diri dengan berkelana antara harapan dan keputusasaan. Tak akan ada lagi keraguan dan patah hati, tak akan ada lagi luka yang ditimbulkan sendiri karena mencintai seorang pria yang tak bisa mencintainya kembali. Dibanding rasa sakit yang berkepanjangan seperti mati karena ribuan luka kecil, lebih baik rasa sakit yang singkat. Sekarang, hubungan mereka benar-benar sudah berakhir—selesai dan tidak dapat ditarik kembali.

Tiba-tiba dering ponsel Bagas membuyarkan lamunan Cindy. Dia menjawab, kekhawatiran segera muncul di wajahnya. "Apa? Yuvia dirawat di rumah sakit? Aku akan segera tiba di sana!"

Tanpa pamit, Bagas bergegas menuju mobilnya dan melesat pergi, tanpa berhenti untuk menawarkan tumpangan atau melirik Cindy sedikit pun.

Setiap kali sesuatu terjadi pada Yuvia, Bagas akan menjadi cemas, hati dan matanya hanya dipenuhi oleh wanita itu.

Begitu Bagas menghilang, sebuah Bugatti hitam-merah yang mewah berhenti tepat di depan Cindy.

Della Mores, sahabat karib Cindy, keluar dari mobil. Mengenakan yang pakaian berani, dia menyambutnya dengan senyum lebar yang nakal. "Kebebasan terlihat cocok untukmu, Cindy. Selamat karena akhirnya berhasil lolos dari lautan penderitaan itu."

Dengan jentikan tangannya, Della melemparkan kunci mobil ke arah Cindy, matanya berbinar. "Bagaimana dengan sesuatu yang sedikit gila malam ini?"

Menangkap kunci mobil dengan mudahnya, Cindy hanya berjalan mendekat dan duduk di belakang kemudi. "Naiklah ke mobil," ucapnya, tanpa keraguan dalam suaranya.

Della tidak membuang waktu untuk duduk di kursi penumpang. Dengan menginjak pedal gas, Cindy meninggalkan kantor catatan sipil—dan masa lalu—jauh di belakang.

Bugatti melaju di Jalan Alu, deru mesinnya memadukan kegembiraan dengan rasa lega.

"Kita seharusnya pergi ke bar untuk merayakannya. Kalau saja kamu tidak menahanku, aku pasti sudah membuka tutup botol dan menyiramkan isinya ke pria itu saat itu juga," ucap Della dengan kemarahan yang meluap-luap.

"Kamu bisa memilih tempatnya. Tapi pertama-tama, aku perlu mampir ke salon," jawab Cindy, ketenangannya menutupi kebutuhannya untuk sedikit bersenang-senang yang nekat.

Della meliriknya sekilas. "Tiga tahun menghilang dari radar, dan orang-orang masih mencarimu. Kapan kamu akan mengambil kembali mahkotamu dan membalikkan dunia medis lagi?"

Cindy hanya mengangkat bahu. "Aku belum membuat rencana apa pun," jawabnya dengan suara tenang dan cuek.

Tawa tajam dan mengejek terdengar dari Della. "Kabarnya, mantanmu sedang mengacak-acak kota sambil berusaha melacak dokter legendaris, King, putus asa untuk menyelamatkan kekasihnya yang berharga. Bayangkan wajahnya jika dia tahu kamu sebenarnya adalah King."

Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Cindy. Dia hanya menatap ke depan, ekspresinya tidak terbaca.

... ...

Sementara itu, mobil Bagas melaju kencang di jalan raya, sarafnya tegang karena khawatir. Dia menelepon sekretarisnya di tengah perjalanan ke rumah sakit. "Masih belum ada kemajuan mengenai keberadaan King?"

Reputasi King bergema di seluruh dunia, seorang penyembuh yang dibalut legenda dan kerahasiaan, lenyap tanpa jejak selama tiga tahun. Semua upaya untuk menemukan King tidak membuahkan hasil. Identitas asli dokter tersebut tetap menjadi teka-teki—tidak seorang pun pernah melihat wajah King, atau bahkan mengonfirmasi jenis kelaminnya.

Suara sekretaris itu terdengar serak di ujung telepon. "Kami sudah menghubungi semua orang yang kami kenal, Pak Bagas, tapi masih belum ada kabar tentang King."

Alis Bagas berkerut. "Jangan berhenti sampai kamu menemukan King. Aku tidak peduli bahkan jika kamu harus mencari ke seluruh dunia!"

"Kami akan terus melakukannya!"

Kegelisahan menggerogoti Bagas saat dia memasuki tempat parkir rumah sakit dan berlari menuju pintu masuk. Tidak peduli seberapa tinggi harganya, dia tidak akan berhenti mencari King—nyawa Yuvia bergantung padanya.

Bab 2

Di Bar Verto, Cindy melepas kacamata berbingkai hitamnya dan menyelipkannya ke tangannya. Tanpa kacamata itu, matanya berbinar dengan kenakalan dan kehangatan.

Hilang sudah rambut lurus dan rata yang selalu dikenakannya seperti baju zirah. Sekarang rambutnya dicatok menjadi bergelombang, membingkai wajahnya seolah-olah dia cocok untuk sampul majalah. Dengan lipstik merah dan pancaran kepercayaan diri, dia menarik perhatian tanpa perlu berusaha.

Ada pesona dan daya tarik dalam setiap gerakan dan sikapnya. Dibandingkan dengan dirinya yang polos dan pendiam di rumah, dia seolah-olah telah berubah menjadi seseorang yang sama sekali berbeda.

Della mencondongkan tubuh, sambil memutar sedotan di dalam koktailnya. "Oh iya, ada kompetisi menembak minggu depan. Apakah kamu ingin pergi?"

"Aku tidak akan pergi," jawab Cindy tanpa ragu sedikit pun. "Sudah lama sekali aku tidak menembak. Tanganku tidak semantap yang dulu."

"Ayolah, siapa yang peduli tanganmu mantap atau tidak?" Della menyeringai menggoda. "Anggap saja kompetisi itu untuk melepaskan ketegangan. Bayangkan wajah Bagas tepat di sasaran dan lakukan mode penghancuran penuh."

Tawa kecil terdengar saat Cindy menyesap seteguk anggur. "Ini adalah saran yang bagus."

"Benar, kan?" Della menyeringai, nada bicaranya meninggi karena kegembiraan. "Oh—dan coba tebak siapa yang akan ada di sana? Delon. Orang yang hampir mengalahkanmu empat tahun lalu. Setelah kamu pensiun dari kompetisi, dia terus menjadi pusat perhatian sejak saat itu."

Della tidak menunggu Cindy menjawab saat dia menambahkan, "Dan coba tebak—hadiah tahun ini adalah Bugatti edisi terbatas. Bukan model yang bisa kamu beli begitu saja. Satu-satunya." Dia memberikan ponselnya kepada Cindy tanpa ragu sedikit pun. "Ini. Lihatlah kompetisinya."

Cindy membolak-balik rinciannya dalam hitungan detik. Hadiah uang bukanlah satu-satunya hal yang menarik perhatiannya. Yang benar-benar menonjol adalah kejutannya—para peserta akan disembunyikan di balik topeng dan nama samaran. Namun, siapa pun yang menang berhak memaksa orang lain untuk menunjukkan wajah asli mereka.

"Jika kamu masuk dan menang, kamu harus membuat Delon melepas topengnya. Aku sangat ingin tahu seperti apa rupa orang itu!" seru Della.

"Oke." Cindy memutar gelas anggurnya dengan lembut. Sudut-sudut mulutnya melengkung ke atas, membentuk seringai menggoda. "Jika aku muncul, aku tidak akan hanya bermain. Aku akan menaikkan taruhannya."

Della memiringkan kepala, rasa ingin tahu terpancar di matanya. "Baiklah kalau begitu, katakan padaku—apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan?"

Cindy tersenyum licik pada Della. "Beri tahu semua orang—siapa pun yang meraih kejuaraan tahun ini akan mendapatkan satu kesempatan perawatan dengan King. Tidak ada tanggal kedaluwarsa juga. Selama mereka memenuhi persyaratan King, kesepakatannya tetap berlaku."

Della hampir menumpahkan minumannya. "Kamu bercanda! Jika hal itu sampai bocor, orang-orang akan berdesakan satu sama lain hanya untuk mendaftar. Kompetisi menembak ini akan meledak."

"Aku mau ke kamar kecil." Tanpa berkata apa-apa lagi, Cindy bangkit dari tempat duduknya.

Saat dia belum berjalan jauh, sekelompok kecil pria melangkah dan menghalangi jalannya, gaya berjalan mereka cukup untuk membuat ruangan menjadi hening.

"Wanita cantik," ucap salah seorang dari mereka sambil menyeringai. "Sepertinya kamu butuh teman. Bagaimana kalau minum segelas?"

Mereka menatapnya dengan tajam, mengamatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Senyum mereka tampak seolah-olah dia adalah sesuatu yang bisa mereka miliki.

Ekspresi Cindy menjadi sedingin es. Nada bicaranya tanpa kehangatan sedikit pun. "Enyah!"

Sepatah kata itu tampaknya hanya menyemangati mereka. "Wah, begitu galak?" ucap salah satu dari mereka sambil terkekeh. "Kami menyukai gadis yang galak dan membuat segala sesuatunya menjadi menarik."

Cindy tidak memiliki ekspresi apa pun di wajahnya. "Kesempatan terakhir. Minggir."

Alih-alih menyingkir, salah satu dari mereka bersiul dan mengulurkan tangan ke arah dada Cindy sambil menyeringai.

Cindy benar-benar kehilangan kesabarannya. Dia menepis pergelangan tangannya bahkan sebelum jari-jari pria itu menyentuhnya. Bunyi keras itu membuat seluruh kelompok pria tersebut membeku.

Pria itu berteriak, "Apa-apaan ini—"

Pria lainnya tidak mendapat kesempatan untuk membalas. Cindy bergerak seperti badai. Tendangan ke lutut. Siku ke rahang. Satu per satu, dia menjatuhkan mereka dengan ketepatan yang dingin.

Dalam sekejap, seluruh kelompok pria itu tergeletak di lantai, mengerang dan memegangi memar yang akan mereka ingat selama berminggu-minggu.

Di atas mereka, kekacauan itu terlihat dari balkon lantai dua.

"Wanita itu sungguh cantik," ucap salah seorang teman Bagas dengan mulut yang menganga lebar. "Keren, percaya diri—tepat tipeku."

Pandangan Bagas beralih kepada wanita berambut bergelombang itu, dan semakin lama dia menatap, semakin kuat rasa pengenalannya. Ada sesuatu di wajahnya—sesuatu yang aneh—yang membuatnya bertanya-tanya apakah dia sedang melihat Cindy, mantan istrinya.

Setelah menghabiskan sore di rumah sakit menemani Yuvia, Bagas setuju untuk pergi ke bar atas sarannya. Dia tidak menyangka akan bertemu seseorang yang tidak asing.

"Tunggu sebentar," gumam Yuvia sambil menyipitkan mata ke arah wanita di lantai bawah. "Bukankah itu Kak Cindy?"

"Tunggu, kamu bilang bahwa wanita yang cantik itu sebenarnya Cindy? Bagaimana mungkin? Wanita itu tidak mungkin ibu rumah tangga membosankan yang hampir tidak berbicara."

Rasa ingin tahu muncul dalam kelompok itu saat mereka mencondongkan tubuh, menyipitkan mata untuk meminta konfirmasi. Mereka segera mengenalinya—itu benar-benar mantan istri Bagas, dan keterkejutan itu menghantam mereka bagai tamparan.

Kumala Dewangga, adik perempuan Bagas, tidak menyembunyikan rasa jijiknya. "Lihatlah dia—berpakaian dengan begitu mencolok, bagaimana mungkin dia adalah gadis yang baik? Dia baru saja ditinggalkan oleh kakakku, dan dia datang ke bar dengan berpakaian seperti ini. Aku yakin dia sedang mencari om senang.

Beberapa pria tertawa dan mengikutinya untuk mengejeknya juga.

"Memang." Seseorang mencibir. "Wanita seperti itu butuh pria untuk memuaskannya."

"Bagas membuat keputusan yang benar dengan menceraikannya. Dengan penampilan seperti itu? Dia praktis mengiklankan dirinya sendiri."

"Dia hanya bisa mengandalkan pria, dia tidak bisa menghidupi dirinya sendiri tanpa pria. Dia akan menjual diri sepanjang hidupnya."

Ejekan mereka menggores kesabaran Bagas bagai paku di atas kaca. Dia sudah muak. "Hentikan!" bentaknya, nada bicaranya lebih tajam daripada yang mereka dengar sepanjang malam.

Tanpa menunggu jawaban, Bagas menatap mereka dengan tajam sekali lagi lalu melangkah ke arah Cindy.

Bab 3

"Kak Bagas!"

"Kakak Bagas!"

Kumala dan Yuvia memanggil, suara mereka saling tumpang tindih saat mereka bergegas menghentikan Bagas.

Sebelum Bagas dapat bergerak lebih jauh, mereka melangkah di depannya, menghalangi jalannya.

"Tolong katakan padaku kamu tidak akan pergi mencari wanita murahan itu," ucap Kumala, ketidakpercayaan menebal dalam suaranya.

Sekilas kemarahan melintas di wajah Bagas. "Jaga mulutmu, Kumala. Sikap seperti itu bukan hanya kasar—tapi juga memalukan. Kamu membawa nama keluarga kita. Cobalah untuk tidak merusak reputasi keluarga."

Yuvia dengan lembut meletakkan tangannya di bahu Kumala, suaranya manis dan terukur. "Kak Bagas, tolong jangan terlalu galak pada Kumala. Dia masih muda dan belum mengerti apa-apa. Jika kamu masih menyukai Kak Cindy, katakan saja padaku. Aku tidak akan mengganggumu. Aku akan pergi sekarang juga."

Mata Yuvia memerah karena air mata saat dia hendak berbalik, wajahnya penuh dengan rasa sakit.

Melihatnya seperti ini membuat hati Bagas teriris. "Yuvia, jangan—jangan pergi," ucapnya dengan cepat, melangkah maju mengejarnya dan menggenggam tangannya. "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi antara Cindy dan aku, jangan salah paham."

"Kalau begitu, bicaralah dengan jujur padaku. Apakah di dalam hatimu masih ada Kak Cindy? Karena … kalau ada, aku tidak masalah. Aku bisa menerimanya." Suara Yuvia kecil dan bergetar saat dia menatap matanya.

Bagas tidak dapat mengabaikan raut wajahnya yang tampak sedih dan buru-buru berkata, "Kamu terlalu banyak berpikir. Apa pun yang dilakukan Cindy sekarang tidak ada hubungannya denganku lagi."

Yuvia meraih tangannya, suaranya lembut tetapi tegas saat dia berkata, "Kak Bagas, mungkin Kak Cindy punya alasan untuk berpakaian seperti itu. Mungkin dia sedang berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri. Bagaimana kalau kita membantunya?"

Bagas terkesan dengan kebaikan hati Yuvia. "Kamu terlalu baik hati, Yuvia. Tapi kamu tidak perlu khawatir tentang Cindy. Dia tidak sedang berjuang seperti yang kamu pikirkan. Kompensasi yang kuberikan sudah cukup baginya untuk hidup nyaman seumur hidupnya, dan jika dia memilih menjadi penggali emas dan mengabaikan harga dirinya, itu kesalahannya."

Yuvia tampak masih ingin berkata lebih banyak lagi, tetapi tiba-tiba kehilangan pijakannya, tubuhnya condong ke belakang dan keseimbangannya goyah.

Bagas bergerak dengan cepat, menangkapnya sebelum dia jatuh ke lantai. "Yuvia!" Suaranya bergetar karena panik.

"Aku ... aku baik-baik saja. Di sini terlalu berisik. Aku merasa sedikit pusing. Ayo kembali ke ruang pribadi." Suara Yuvia terdengar samar saat dia bersandar dalam pelukannya.

Sambil memeluknya dengan mantap, Bagas mengerutkan kening. "Kamu seharusnya tinggal di rumah sakit dan beristirahat beberapa hari lagi. Tapi kamu bersikeras untuk pergi."

Sambil menoleh ke arah Kumala, dia memberi instruksi, "Kumala, antar dia kembali ke ruang pribadi. Aku akan pergi ke kamar kecil dan akan kembali sebentar lagi."

Kecurigaan menari-nari di mata Kumala seperti korek api di kertas kering. "Kamu tidak berencana untuk menyelinap pergi dan bertemu Cindy, kan?"

Sebelum Bagas sempat menjawab, Yuvia dengan lembut meletakkan tangannya di lengan Kumala. "Tidak apa-apa. Jika Kak Bagas ingin bicara dengan Kak Cindy, biarkan saja. Dia bukan sekadar orang asing—dia pernah menjadi bagian dari hidupnya. Berpura-pura dia tidak ada tidak akan membuatnya menghilang. Dan jika pakaiannya yang tidak pantas malam ini menimbulkan gosip, bukan hanya Kak Bagas yang akan kena dampaknya—tapi juga bisa mencoreng nama Keluarga Dewangga."

"Kamu selalu begitu perhatian, Kak Yuvia, bahkan pada saat seperti ini—" Kumala berhenti tepat ketika dia menangkap tatapan dingin Bagas. Dia terdiam, menelan kata-kata selanjutnya.

Sedetik kemudian, nada bicara Kumala berubah. "Kak Bagas, kamu tahu, tubuh Kak Yuvia masih belum pulih sepenuhnya. Jika terjadi sesuatu saat kamu di sini membuang-buang waktu, itu kesalahanmu!"

Sambil menghela napas jengkel, Kumala menggenggam tangan Yuvia. "Ayo, Kak Yuvia. Kita akan pergi."

...

Di lantai bawah, Cindy keluar dari kamar kecil. Dia mengibaskan rambutnya, gerakan kecil yang membuat banyak kepala di bar menoleh ke arahnya. Para pria mengamatinya secara terbuka, mata mereka menelusuri lekuk tubuhnya dengan rasa lapar yang bahkan tidak berusaha disembunyikan.

Dari jarak yang cukup dekat, Bagas berdiri dengan kaku. Rahangnya menegang saat dia menyaksikan kejadian itu berlangsung, tatapan orang-orang itu menyulut sesuatu yang getir dalam dirinya. Mereka tidak hanya melihat—mereka menatapnya dengan penuh hasrat dan ingin memiliki Cindy untuk diri mereka sendiri.

"Cindy Juanda!" teriak Bagas dengan tidak senang, suaranya rendah tetapi tegang karena jengkel.

Kepala Cindy menoleh perlahan, tatapannya bertemu dengan tatapan pria itu, sikapnya dingin dan cuek. Dia menatapnya dari atas ke bawah sambil mencibir, mengangkat alisnya dan bertanya sembari tersenyum, "Apa yang kamu inginkan?"

Nada bicaranya santai. Menjaga jarak. Seolah-olah dia tidak punya sedikit pun perasaan yang tersisa pada pria itu.

Hal ini membuat Bagas sangat tidak senang. Itu mengguncang sesuatu dalam dirinya, membuatnya merasa jengkel tanpa sebab.

Tanpa berpikir panjang, Bagas maju dan mencengkeram pergelangan tangannya. "Kamu ikut denganku!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED