Bab 1

Di sebuah lahan ditengah-tengah hutan Foresta Umbra Italia! Dua group mafia besar tengah bertarung habis-habisan untuk memperebutkan wilayah kekuasaan mereka. Kedua group tersebut ialah group The King dengan ketua bernama Adilson Carlos dan putra semata wayangnya yang baru saja lulus sekolah bernama Emanuel Carlos, sedangkan lawan mereka adalah group Tander X dengan ketuanya bernama Patrick Tander dan puteranya yang bernama Zayn Tander.

Zayn Tander bertarung melawan Emanuel meskipun usia Emanuel jauh lebih muda dari Zayn, akan tetapi Emanuel tidak bisa dianggap remeh! Emanuel telah dilatih sejak kecil oleh Adilson untuk menjadi penerusnya kelak, maka dari itu Emanuel bisa ikut terjun kedalam pertarungan yang mendadak ini.

Disatu sisi Zayn juga tidak bisa bertarung dengan tenang karena dia sebenarnya membawa serta isterinya yang bernama Rosaline dan puteri mereka yang berusia dua tahun. Zayn tidak menyangka markas pembuatan senjata dan narkotika milik Ayahnya itu akan diserang secara brutal oleh group The King yang merupakan musuh bebuyutan Tander X. Rosaline dan putrinya itu memang kerap kali menemani Zayn jika datang mengunjungi pabrik yang terletak didalam hutan ini, Rosaline yang sangat menyukai alam kerap kali gembira dan senang jika diajak jalan-jalan hutan disekitar pabrik tersebut.

Sayangnya hari ini semua kegembiraan itu berubah, Zayn yang sempat menyembunyikan Rosaline dan putri mereka didalam lemari besi yang terletak tidak jauh dari pertarungan yang sedang berlangsung itu, masih merasa belum tenang! Zayn sangat gelisah karena takut anak dan isterinya sampai ditemukan oleh anggota The King, karena itulah konsentrasi Zayn buyar sehingga membuat Emanuel semakin mudah mengalahkan Zayn.

Tendangan super keras dilayangkan oleh Emanuel dan mengenai bagian dada Zayn, seketika tubuh Zayn pun tersungkur ke lantai! Disaat yang sama seorang anggota Tander X mencoba menyerang Emanuel dengan pisau tajam yang mengayun hampir mengenai bagian wajahnya, dengan sigap Emanuel langsung menangkis dan mematahkan lengan anggota Tander X tersebut dan menusukkan pisau itu ke perut anggota Tander X tersebut. Zayn bangkit dan mengambil pisau yang tertancap di perut anggota Tander X tadi, lalu mulai menyerang kembali Emanuel, Emanuel pun tetap tenang dan melawan Zayn dengan tangan kosong.

“Matilah kau, hiya!” teriak Zayn.

Slazhh..

Hiya..

Emanuel terkena sabetan pisau yang dilayangkan oleh Zayn, tapi itu tidak membuat Emanuel kalah dia malah semakin bersemangat untuk melawan Zayn! Pertarungan itu semakin menjadi-jadi, bukan hanya Zayn dengan Emanuel, namun juga seluruh anggota masing-masing-masing-masing termasuk juga Adilson dan Patrick.

Namun pertarungan itu sempat melemah setelah Emanuel berhasil membuat tubuh Zayn tersungkur bersimbah darah dilantai, pisau tersebut malah berbalik bisa Emanuel kendalikan hingga membuat Zayn terluka parah, Emanuel pun kembali menekan pisau yang sudah menancap pada tubuh Zayn dengan cara menginjaknya.

“Tidak! Zayn!” teriak Rosaline yang sejak tadi bersembunyi namun masih bisa melihat semua kekacauan itu dari dalam lemari besi.

Rosaline yang melihat suaminya sudah bersimbah darah langsung keluar dari tempat persembunyiannya sambil menggendong putrinya, dia berlari keluar dari lemari besi untuk menghampiri Zayn yang sudah tidak berdaya ditangan Emanuel.

Dor…

Dor…

Sebuah tembakan melesat tepat dikepal Rosaline hingga membuat dirinya langsung terjatuh ke lantai dengan posisi masih menggendong putrinya, Emanuel yang melihat salah satu anggotanya menembak Rosaline dan hendak menembak putrinya juga yang baru berusia dua tahun itu, segera menghentikannya.

“Berhenti!” titah Emanuel.

“Aku menyerah Adilson! Cukup! Hentikan! Putraku dan menantuku sudah kau bunuh, lihat anggotaku pun sudah tidak berdaya!” kata Patrick seraya memelas.

“Itu salahmu Patrick! Kau dulu mengkhianatiku dan memutuskan membangun kerajaan bisnismu sendiri, kau pun berusaha membuat bisnisku hancur, itu adalah ganjaran yang setimpal untukmu,” kata Adilson.

Adilson kemudian menodongkan pistol kearah putri dari Zayn dan Rosaline, Patrick yang tidak ingin cucunya sampai ikut mati akibat kesalahan dirinya, langsung memohon dan merangkak dibawah kaki Adilson.

“Aku mohon Adilson, berikan belas kasihmu sedikit saja untukku! Jangan bunuh cucuku dia tidak bersalah apapun padamu, bunuhlah aku,”

“Heuh, kau pikir aku akan kasihan pada penerusmu itu? Tidak Patrick, kalian semua akan mati disini tanpa tersisa satu pun!” ujar Adilson.

Adilson kembali menodongkan pistol tersebut pada anak dua tahun itu, bukannya menangis atau ketakutan anak itu malah tertawa riang dan menatap Adilson, melihat hal itu Emanuel merasa anak itu tidak perlu sampai dibunuh.

“Papa cukup!”

“Apa maksudmu?”

“Biarkan anak itu hidup,” kata Emanuel.

“Tidak Nuel, tidak ada yang boleh hidup apalagi anak perempuan itu cucu dari orang brengsek ini!”

Disaat Emanuel berusaha menghentikan Adilson, Patrick segera mencari pistol karena melihat Adilson lengah tapi tidak dengan Emanuel yang selalu waspada dalam situasi apapun. Emanuel segera mengambil pistol yang tergeletak dilantai.

“Kau pantas mati Adilson!” teriak Patrick.

Pistol itu sudah mengarah pada Adilson, namun Emanuel menembak Patrick lebih dulu.

Dor..

Adilson terkejut karena dia berpikir Patrick akan berhasil menembaknya, tapi ternyata Emanuel begitu sigap dan tidak lalai sama sekali. Tubuh Patrick langsung terkapar tak bergerak di lantai, tepatnya disamping tubuh putranya yang telah tewas lebih dulu.

Hahaha..

“Kau memang putraku Nuel,”

“Aku sudah menyelamatkan nyawa Papa, sekarang aku minta bayaran,” kata Emanuel.

“Astaga, kalian dengar itu? Putraku telah dewasa dan mengerti betul tentang bayaran,”

Semua anggota group The King pun turut tersenyum.

“Katakan nak, kau ingin bayaran apa? Semua uang Papa itu milikmu,”

“Aku tidak butuh uang,”

“Lalu apa yang kau mau?”

“Biarkan anak itu hidup!”

“Apa?”

Adilson menoleh pada anak perempuan itu, Adilson pun terheran-heran karena anak itu terlihat sangat ceria dan terus tertawa tanpa mengerti kejadian mengerikan ini.

“Kau lihat disekelilingmu Nuel, mereka semua tewas! Jika anak itu aku biarkan hidup, dia pun akan sendirian disini,”

“Biar itu menjadi urusanku Papa, aku hanya memerlukan izin mu untuk membiarkannya hidup,”

Untuk beberapa saat Adilson pun terdiam, dia pun berpikir memang tidak ada salahnya juga mengabulkan keinginan Emanuel toh anak itu tidak akan membahayakan juga jika dibiarkan hidup.

“Baiklah, urus dia,” kata Adilson sambil menepuk pundak Emanuel.

“Terimakasih Papa,”

Digendongnya anak tersebut, dan dibawanya pulang oleh Emanuel! Tadinya Emanuel berencana untuk menyimpan anak itu di panti asuhan, sehingga Emanuel dalam perjalanan pulangnya meminta pada bodyguard didalam mobilnya untuk mencari sebuah panti asuhan.

Setelah melewati salah satu kota setelah hutan tempat awal mereka berada, terlihat sebuah panti asuhan yang dilihat dari bangunannya itu panti asuhan yang cukup besar dan terawat. Mobil pun berhenti didepan panti asuhan tersebut.

“Biar saya yang membawa anak ini masuk kedalam,” ujar salah seorang bodyguard.

Namun tangan anak itu malah memegangi jas yang dikenakan oleh Emanuel, anak itu terlihat berseri-seri dan menatap Emanuel dengan sumringah. Emanuel pun langsung salah tingkah dibuatnya.

“Kenapa kau menatapku?” tanya Emanuel.

Anak berusia dua tahun itu malah kembali tertawa dengan riang, entah kenapa berat sekali hati Emanuel untuk menyerahkan anak itu ke panti asuhan ini!

“Kita turun sekarang?”

“Tidak jadi, lanjut saja pulang ke rumah,”

“Ta-tapi nanti Pak Adilson bisa marah,”

“Aku yang tangani,” kata Emanuel.

Karena anak itu terus menerus memegangi jas Emanuel, akhirnya Emanuel pun yang menggendongnya ketika sampai di rumah!

“Kau berat sekali,” gumam Emanuel.

Hari-hari berlalu, Emanuel pun membiarkan anak itu untuk tinggal bersamanya meskipun bukan dirinya yang mengasuh, melainkan babysitter dan bodyguard tapi tetap saja terkadang Emanuel menemuinya.

“Pak, apa tidak sebaiknya anak ini kita beri nama? Saya bingung memanggilnya apa,” ujar bodyguard yang menjaganya.

“Apa harus aku beri nama untuknya?” tanya Emanuel.

“Iya tentu saja, perlahan anak ini akan tumbuh dewasa tentu saja dia sangat butuh nama,”

“Kau saja yang beri nama kalau begitu,” kata Emanuel.

Menikah saja belum, Emanuel tentu saja bingung jika harus memberi nama pada seorang anak.

“Saya juga bingung,”

Mereka pun terdiam, hingga sebuah film di televisi terdengar menyebutkan sebuah nama yaitu Bianca.

“Bianca!” kata Emanuel.

“Nama yang cantik, seperti anaknya,” kata bodyguard itu.

“Bianca apa?” tanya babysitternya.

“Sudahlah Bianca saja!” kata Emanuel yang tak ingin pusing.

Akhirnya anak itu pun memiliki nama, saat Emanuel sedang bersama Bianca tiba-tiba Adilson pun datang menghampiri.

“Setelah membiarkannya hidup, kemudian membawanya kedalam rumah ini dan sekarang apa ini Nuel, kau memberinya nama?”

“Sudahlah Pa, hanya nama,”

“Kau masih sangat muda Nuel, untuk apa anak ini? Perjalanan hidupmu masih panjang terlebih lagi Papa tidak nyaman melihat cucu dari musuh Papa ada didalam rumah ini,”

“Kalu begitu Nuel akan cari rumah untuk tempat tinggal anak itu,”

“Yasudahlah terserah padamu saja!”

Karena Adilson tidak memiliki keinginan sama sekali untuk Bianca ada didalam rumah itu, akhirnya Emanuel pun membeli satu unit rumah untuk ditinggali oleh Bianca dan babysitternya, ada juga beberapa bodyguard yang akan menjaganya.

Bab 2

Bianca tumbuh menjadi sosok yang sangat cantik, manis, dan bertubuh proporsional! Meskipun dia hidup tanpa mendapat kasih sayang dari Emanuel atau dari Adilson, namun Bianca tetap menjadi sosok yang periang dan bersemangat. Terkadang Bianca pun merasa heran dan cemburu jika melihat teman-temannya begitu disayangi oleh kedua orangtuanya juga kakek neneknya, sementara dirinya selalu sendirian tanpa kasih sayang dari siapapun.

Bahkan Emanuel pun sangat jarang sekali menemui Bianca, bisa dua tahun sekali atau bahkan pernah sampai lima tahun Emanuel tidak pernah menemui Bianca, meskipun semua kebutuhan Bianca terjamin olehnya.

Beberapa bodyguard yang melihat Bianca melamun padahal dia harusnya memakan sarapannya, kemudian memberanikan diri untuk menegur Bianca.

“Nona, kenapa sarapannya hanya ditatap?”

“Memangnya jika makanan ditatap bisa mengenyangkan?” tanya yang lainnya.

“Kenapa Papa dan kakek sangat tidak peduli padaku? Bahkan di acara kelulusanku pun mereka tidak hadir, apa mereka tidak pernah menyayangiku? Apa aku ini anak yang tidak diharapkan oleh Papaku?” tanya Bianca.

“Itu tidak benar nona, Papa anda hanya sedang sibuk bekerja begitu pun kakek anda,”

“Sesibuk apa sampai menemui anaknya sendiri memerlukan waktu bertahun-tahun?”

“Sangat sibuk nona, Papa anda memegang kendali bisnis kakek anda jadi dia kesulitan membagi waktunya untuk anda!”

“Dia tidak merindukan aku? Aku ingin sekali sarapan bersama Papa,”

Para bodyguard pun merasa bingung bagaimana harus menjelaskannya, mereka juga sangat kasihan terhadap Bianca yang memang seperti hidup sebatang kara. Sejak usia dua tahun hingga kini berusia delapan belas tahun, jika pun Bianca ditemui oleh Emanuel akan tetapi sikap Emanuel terhadapnya sangatlah cuek dan acuh.

“Nanti aku akan menghubungi Pak Nuel untuk menemuimu, sekarang makanlah dulu nona!”

“Percuma, meskipun Papa pulang ke rumah ini pasti dia akan acuh terus padaku seperti lima tahun lalu terakhir kali aku bertemu Papa,”

Emanuel memang terakhir kali mengunjungi Bianca lima tahun lalu, itupun hanya beberapa menit saja dan tidak menanggapi apapun pertanyaan Bianca saat itu.

Karena merasa kasihan terhadap Bianca, seorang bodyguard kemudian mencoba menghubungi Emanuel.

Sosok Emanuel yang memang sangat diam apalagi dia tidak pernah menyayangi Bianca karena Bianca bukanlah anak kandungnya, tidak pernah berniat untuk memperlakukan Bianca dengan baik a apalagi memberinya kasih sayang, apalagi Emanuel sangat sibuk dengan bisnisnya dan kehidupan pribadinya.

Pria berusia 34 tahun itu kadang lupa jika dia memiliki putri angkat yang menginginkan sedikit saja perhatiannya! Saat ini Emanuel sedang bersama beberapa rekan bisnisnya di sebuah lapangan golf, kemudian asisten pribadinya memberikan handphone Emanuel karena sejak tadi bodyguard yang ditugaskan menjaga Bianca menelpon Emanuel.

“Halo,”

“Halo Pak, nona sudah beberapa hari ini sulit makan dia terus menerus menanyakan kapan anda pulang!”

“Bukankah itu sudah biasa,”

“Tapi kali ini wajahnya terlihat pucat,”

“Panggil saja dokter kalau begitu,”

“Nona tidak akan mau Pak, dia sangat kasihan dan terus menerus ingin sekali ditemui oleh Papanya,”

“Aku sibuk! Katakan saja aku tidak bisa menemuinya,”

“Baiklah Pak kalau begitu,”

Emanuel kemudian menutup panggilan teleponnya dan kembali melanjutkan aktivitasnya tanpa memikirkan keadaan Bianca!

“Papa tidak mau menemuiku?” tanya Bianca.

“Nona,” terkejut.

“Lain kali tidak perlu menelponnya, mungkin Papa memang tidak menginginkan kehadiran aku di dunia ini!” kata Bianca.

Wajah Bianca yang sudah terlihat pucat, semakin terlihat pucat lagi karena rasa kecewanya karena tau Emanuel tidak mau menemuinya.

“Kau pucat sekali nona,”

“Aku tidak apa-apa,”

Brukkkk…

Tidak lama berselang tubuh Bianca pun ambruk, dia tidak sadarkan diri dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Bianca yang beberapa hari ini tidak pernah istirahat cukup dan tidak mau makan, membuat tubuhnya lemas dan harus diinfus! Setelah cukup lama tidak sadarkan diri, akhirnya Bianca pun membuka kedua matanya secara perlahan.

Terlihat sosok pria tampan dengan tubuh kekar tengah duduk disofa yang terletak didalam ruang perawatan itu! Bianca yang belum sepenuhnya sadar merasa laki-laki itu sangat tampan seperti malaikat, namun setelah mengucek-ngucek kedua matanya, Bianca menyadari jika itu adalah Papanya sendiri.

“Papa,”

Pandangan Emanuel yang semula fokus pada handphone ditangannya, lalu kemudian mulai melihat kearah Bianca yang sedang terbaring diatas ranjang.

“Papa datang menemuiku? Apa ini mimpi?” wajah Bianca sangat sumringah melihat Emanuel ada disini.

Tanpa berbicara apapun lagi, Emanuel kemudian menghampiri Bianca lalu mengambil sebuah kursi untuk duduk disamping ranjang pasien itu.

“Kau sudah lebih baik sekarang?”

“Hmm sudah, Papa sejak kapan ada disini? Papa akan tinggal di rumah kan mulai sekarang?”

“Jika kau sudah lebih baik, aku akan pergi sekarang!” kata Emanuel.

Dia bergegas berdiri dari kursi hendak meninggalkan Bianca, tak terasa kedua mata Bianca mulai menitihkan bulir bening mendapatkan sikap acuh tak acuh Emanuel yang semakin menjadi, Bianca kemudian menahan tangan Emanuel agar tidak pergi.

“Jangan pergi Pa, aku rindu Papa aku ingin Papa ada didekat ku, aku capek hidup sendiri Pa, kenapa Papa sangat tidak peduli pada Bia? Kenapa Pa?” sambil terisak tangis.

Emanuel hanya menatap tangannya yang dipegang erat oleh Bianca, kemudian dokter pun masuk untuk memeriksa keadaan Bianca! Melihat pasiennya menangis, dokter kemudian buru-buru menghampiri Bianca.

“Nona, jangan menangis! Kesehatanmu belum sepenuhnya pulih,”

Kesempatan ini malah dimanfaatkan oleh Bianca agar bisa menahan Emanuel pergi.

“Bagaimana aku tidak menangis dok, Papaku tidak pernah mau merawatku, dia sudah mau pergi lagi padahal aku masih sakit dokter,”

Emanuel langsung menahan kesal karena Bianca malah mengadu pada dokter.

“Oh anda Ayah dari nona Bianca?”

“Hmm,”

“Tolong Pak, anaknya jangan ditinggal dulu! Anak usia seperti ini memang sedang membutuhkan perhatian extra dari orangtuanya!”

“Baik dok,” kata Emanuel.

“Baik, silahkan tiduran lagi Bianca saya akan periksa dulu ya!”

Karena Bianca sakit dan dokter meminta agar Emanuel untuk tidak meninggalkannya, membuat Emanuel harus berada disituasi yang sangat membosankan baginya.

Situasi ini pun sangatlah canggung, baik untuk Bianca ataupun Emanuel sendiri! Maklum saja mereka berdua ini bisa dihitung dengan jari berapa kali bertemu sepanjang hidup mereka ini! Emanuel sendiri tidak menyangka Bianca tumbuh dengan cepat, dia sudah menjadi gadis dewasa yang memiliki paras sangat cantik dan tubuh yang ideal.

Begitu pun dengan Bianca, dia tidak menyangka akhirnya Emanuel mau menemuinya!

“Papa, sudah lima tahun lebih kita baru bertemu lagi, terakhir aku melihat Papa waktu itu Papa belum memiliki brewok di pipi, tapi sekarang malah ditumbuhi banyak brewok,”

Emanuel pun langsung memegangi brewok yang cukup lebat dikedua pipinya, wajah Emanuel pun langsung memerah malu.

“Papa lebih terlihat tampan dengan brewok itu, apa Papa akan menikah lagi? Aku rasa Papa akan sangat mudah memberikan Ibu baru untukku,” kata Bianca.

Tapi seperti biasa, Emanuel akan bersikap layaknya orang bisu dia tidak akan menanggapi apapun yang diucapkan Bianca. Melihat sikap Emanuel yang masih acuh padanya, Bianca pun sangat sedih.

“Papa, apa Mama meninggal karena melahirkan aku sampai-sampai Papa sangat membenciku?” tanyanya lagi.

Mendengar pertanyaan itu, Emanuel pun hanya terdiam dia bingung harus menjawab apa! Tidak mungkin juga Emanuel berkata bahwa dirinyalah yang sudah membunuh kedua orangtua Bianca.

“Sekali saja Papa bicara denganku, aku tidak tau salahku apa tapi kenapa Papa sangat tidak ingin menemuiku Pa? Kakek juga begitu? Kenapa Papa?”

“Istirahatlah, aku dengar kau akan mulai kuliah beberapa hari lagi,” kata Emanuel.

Setelah berkata yang sangat singkat, Emanuel kemudian bergegas meninggalkan Bianca! Melihat Emanuel pergi lagi, Bianca pun berusaha mengejarnya dengan melepaskan ingus ditangannya.

“Papa, jangan pergi Pa! Papa!”

Tapi seperti tidak mendengar apapun, Emanuel tetap berjalan pergi meninggalkan Bianca padahal Bianca sudah berteriak-teriak sambil menangis memanggil-manggil Emanuel! Kedua bodyguard Bianca pun sangat tidak tega melihat Bianca menangis tersedu-sedu, mereka menahan Bianca agar tidak lagi mengejar Emanuel dan berusaha menenangkan Bianca.

Bab 3

Bianca dirawat di rumah sakit dua hari lamanya, barulah setelah itu dia diperbolehkan pulang! Sama sekali tidak ada lagi kehadiran Emanuel untuk Bianca, bahkan sampai Bianca kini merasa kebal dengan rasa kesedihan dan kesendiriannya.

Untunglah Bianca selalu dihibur oleh para bodyguard yang sejak dulu menjaganya, para bodyguardnya itu selalu memberi semangat untuk Bianca, termasuk hari ini dimana Bianca akan melanjutkan pendidikannya di salah satu kampus swasta di kota Milan.

“Semangat nona cantik!” ujar salah seorang bodyguard.

“Sudah aku bilang kan ungcle, jangan panggil aku nona,” sambil mengerucutkan bibirnya.

“Baiklah, kami akan memanggilmu dengan nama tapi ketika Pak Nuel datang kami akan memanggilmu nona, bagaimana?”

“Papa tidak akan datang, kalaupun akan datang mungkin saat usiaku menginjak lima puluh tahun,”

Ckckckxk…

Mereka pun tertawa bersama-sama, hari ini Bianca pun pergi ke kampus diantar oleh bodyguardnya dengan menggunakan mobil Maserati Quattroporte berwarna hitam, Bianca berpakaian sangat manis dan seksi apalagi dirinya memiliki bentuk tubuh yang mirip dengan gitar Spanyol, saat Bianca keluar dari mobilnya, terlihat mahasiswa-mahasiswa yang berada disekitar menatapnya tak bosan-bosan.

Jujur saja Bianca senang sekali melihat banyak orang terpana pada dirinya, meskipun ini sudah hal yang biasa baginya tapi tetap saja sebagai seorang wanita, Bianca senang mendapat banyak perhatian.

Tidak butuh waktu lama, Bianca sangat mudah akrab dengan teman-teman baru di kampusnya, apalagi diantaranya memang sudah berteman sejak mereka masih SMA! Namun seorang mahasiswa tampan yang baru pertama kali ditemuinya, mulai membuat Bianca penasaran untuk berteman dengannya.

Tak disangka mahasiswa tampan itu justru pindah tempat duduk untuk bisa berada di samping Bianca, dan meminta temannya yang semula menempati bangku tersebut untuk pindah.

“Sayang sekali jika ada gadis paling cantik di dunia melirikku, tapi aku tidak buru-buru mengajaknya berkenalan,”

“Rayuan manis, dari si penggoda manis,” kata Bianca.

“Come on, kta si penggoda itu tidak tepat untukku! Aku Lucas!” sambil mengulurkan tangan.

“Aku Bianca,”

“Senang satu kelas denganmu Bianca,”

“You too Lucas,”

Keduanya cepat sekali akrab karena memang Lucas pribadi yang sangat menyenangkan, walaupun menurut teman-teman wanita Bianca dulunya Lucas adalah seorang playboy tapi tetap saja manusia itu bisa berubah dengan seiring berjalannya waktu, karena itu Bianca tidak mengambil pusing lagipula keduanya baru berteman biasa saja bukan berpacaran.

Bianca dan teman-teman kuliahnya juga sangat sering pergi jalan-jalan dan berpesta malam setelah jam kuliah mereka selesai, hal itu membuat Bianca dan Lucas semakin dekat lagi.

Seperti malam ini, Bianca dan teman-temannya yang lain berencana untuk pergi ke salah satu bar untuk berpesta, karena itulah Bianca berpamitan pada bodyguard di rumahnya karena akan pergi bersama Lucas! Mereka juga diminta oleh Bianca untuk tidak usah mengikuti karena dirinya aman jika bersama dengan Lucas dan teman-temannya yang lain.

Bianca dan Lucas pun tiba di bar pukul sepuluh malam, teman-teman mereka yang sudah lebih dulu tiba di bar kemudian menyambut Bianca dan Lucas dengan bersorak.

“Uhhhh pasangan terfavorit di kampus kita ini!” teriak mereka.

Disatu meja pojok yang tak jauh dari segerombolan anak-anak kampus itu, Emanuel dan beberapa rekan bisnisnya tengah membicarakan masalah bisnis, salah seorang rekan bisnis Emanuel tak sengaja melihat Bianca yang sedang dirangkul oleh Lucas dan Bianca juga tengah meminum wine dipaksa oleh teman-temannya untuk mabuk bersama.

“Lihatlah, wanita itu sangat cantik luar biasa! Uhh tubuhnya seksi sekali,”

Sontak saja Emanuel dan rekan yang lain pun menoleh kearah Bianca yang memang berdiri bersama Lucas sementara yang lain duduk, Bianca terus menenggak wine dari gelasnya begitu juga Lucas.

Emanuel langsung sadar jika itu adalah Bianca, dia langsung berdiri meninggalkan rekan-rekan bisnisnya berjalan menuju meja tempat mahasiswa-mahasiswi itu berkumpul. Tanpa basa-basi dari arah belakang Emanuel merebut gelas milik Bianca lalu menaruhnya dimeja.

“Papa,” Bianca terheran-heran karena tidak menyangka ada Emanuel disini.

Sementara teman-teman Bianca sangat bingung karena Bianca memanggil laki-laki bertubuh kekar dan berwajah seperti pangeran itu dengan sebutan Papa, mereka kira Emanuel lebih cocok sebagai kakak daripada sebagai Papa karena wajahnya terlihat masih muda.

“Dia Papamu Bi?” tanya Lucas.

“Hmm,”

“Ikut aku!” kata Emanuel.

Ditarikannya tangan Bianca oleh Emanuel hingga Emanuel membawa Bianca keluar dari Bar, perlakuan Emanuel tidak begitu ramah karena Bianca tidak nyaman ditarik-tarik begini.

“Papa lepas! Tidak perlu tarik-tarik begini, aku bisa jalan sendiri,”

Tapi Emanuel belum juga melepaskan Bianca, setelah tiba di mobil milik Emanuel barulah dilepaskannya tangan Bianca.

“Masuk!” kata Emanuel yang sudah membuka pintu mobilnya.

“Kenapa aku harus mendengarkan Papa?”

“Aku bilang masuk!”

“Tidak mau, aku mau kembali ke dalam karena teman-temanku menungguku,”

Bianca tetap hendak pergi tapi kedua tangannya dicengkeram oleh Emanuel.

“Papa lepaskan aku!”

“Aku tidak suka dibantah,” kata Emanuel.

“Dan aku juga tidak suka diacuhkan, diabaikan, dan tidak pernah didengar! Coba Papa pikir, apa pernah Papa menjawab setiap kali aku bertanya? Apa pernah Papa peduli padaku dan mendengarkan aku? Dan sekarang jangan salahkan aku jika aku juga tidak mau mendengarkan Papa,”

Emanuel hanya menatap tajam wajah Bianca, begitu juga dengan Bianca. Dengan sangat memaksa Emanuel membuat Bianca akhirnya masuk kedalam mobilnya lalu Emanuel pun ikut masuk kedalam mobil tersebut! Terlihat Bianca memalingkan wajahnya dari Emanuel sementara Emanuel langsung tancap gas tanpa berbicara apapun lagi pada Bianca.

Sesekali Emanuel melirik kearah Bianca, gadis itu memakai pakaian terlalu seksi hingga membuat area paha dan kedua payudaranya menyembul keluar, Emanuel pun buru-buru memalingkan pandangan kedua matanya. Mobil Emanuel tiba didepan gerbang rumah yang memang menjadi tempat tinggal Bianca selama ini.

“Turun!” titah Emanuel.

Tapi Bianca berpura-pura tidak mendengar dan hanya diam saja tidak peduli Emanuel bicara apapun terhadapnya.

Untuk beberapa saat keduanya malah saling diam, Emanuel juga bingung bagaimana cara agar Bianca mau menurut terhadapnya.

“Aku sudah dewasa, dan sejak kapan Papa mau peduli padaku, aku harap Papa seperti biasanya yang tidak peduli padaku dan tidak menganggap aku ada di dunia ini, itu lebih baik!”

Setelah mengatakan itu Bianca kemudian keluar dari dalam mobil lalu berlari masuk kedalam rumah, sementara Emanuel hanya menghela nafas.

“Aku bingung cara menjadi Papa yang baik untuknya,” gumam Emanuel.

Hari ini Bianca benar-benar marah terhadap Emanuel, sebagai seorang Papa Emanuel selalu bertindak egois tanpa mempedulikan perasaan Bianca sama sekali, padahal Bianca berada disana dengan teman-temannya dan itu tidak ada masalah seharusnya, tapi entah kenapa Emanuel malah memaksanya pulang.

“Aku benci Papa, dia itu benar-benar menyebalkan, Tuhan aku rasa aku dan Papa sama sekali tidak cocok sebagai pasangan Ayah dan anak kenapa kau tidak pasangkan aku dengan Papa dalam hal lain saja?” kata Bianca sambil merebahkan tubuhnya diatas ranjang.

Setelah mengantarkan Bianca ke rumahnya, Emanuel kembali ke bar tersebut untuk melanjutkan bincang-bincang bisnis dengan rekan-rekannya! Disatu sisi teman-teman wanita Bianca malah salah fokus dengan Emanuel yang memiliki tubuh kekar seperti apa yang didambakan para wanita pada umumnya.

“Sumpah aku tidak menyangka Papa Bianca tampan sekali, bahkan pangeran dari negeri dongeng pun kalah tampan olehnya!” ujar salah satu teman Bianca.

“Iya kau benar, tapi yang membuat jantungku berkedut-kedut itu tubuhnya! Uhhh kekar sekali,”

“Pasti besar kan bagian bawahnya?”

Ckckckxk….

Tidak ada habis-habisnya para wanita itu memuji dan memuja Emanuel, sementara Lucas malah merasa Emanuel terlalu muda untuk menjadi Papanya Bianca. Entah kenapa setelah kejadian tadi Emanuel jadi berpikir untuk menemui Bianca malam ini, dia ingin mengetahui apakah Bianca masih sangat kesal padanya.

“Senang bekerja sama denganmu,”

“Ya, bila ada kendala jangan sungkan menghubungi orangku!”

“Baik, dan aku jamin karena aku ini sudah sangat menguasai pasar Asia Pak, aku pasti bisa membawa barang-barangmu masuk dengan mulus!”

Tidak lama kemudian seorang wanita datang menghampiri Emanuel, wanita tersebut merupakan hadiah kecil dari rekan bisnis Emanuel untuk memuaskan birahi Emanuel malam ini.

“Bersenang-senanglah Pak dengan wanita pilihanku,”

“Aku akan membawanya,”

Karena ingin menemui Bianca juga, Emanuel memutuskan untuk membawa wanita tadi dan bermalam di rumah yang ditempati oleh Bianca, memang karena kesibukannya mengurus bisnis, Emanuel tidak pernah sempat memiliki seorang kekasih! Sejak dulu jika nafsunya tidak dapat dibendung, maka Emanuel akan meminta orang suruhannya untuk membeli wanita bayaran hanya untuk sekedar menjadi tempt pembuangan cairan putihnya.

Malam ini Emanuel berencana menikmati hadiah kecilnya terlebih dahulu baru setelah itu menemui Bianca, kedatangan Emanuel di rumah ini disambut sangat gembira oleh para bodyguard yang selama ini menjaga Bianca, mereka tau betul Bianca pasti akan merasa sangat bahagia ketika tau Papanya akhirnya pulang ke rumah.

“Pak, kami senang anda datang ke rumah ini nona juga pasti tidak akan menyangka,”

“Aku akan menemuinya setelah selesai dengan ini,” kata Emanuel.

Para bodyguard pun paham apa yang dimaksud oleh Emanuel, mereka tau kebutuhan biologis memang tidak bisa ditunda-tunda. Emanuel dan wanita bayaran itu masuk ke salah satu kamar, Emanuel duduk ditepi ranjang sementara wanita tadi mulai melucuti pakaiannya sendiri, kedua pasang mata Emanuel terus memperhatikan setiap kali ada kain jatuh kelantai.

Wanita tadi dengan wajah hornynya sudah melepaskan pakaian dan rok yang dia kenakan, kemudian wanita tersebut pun naik keatas pangkuan Emanuel! Keduanya kemudian berciuman terlebih dahulu.

Sementara itu Bianca yang baru selesai mandi keluar dari dalam kamarnya untuk mencari angin segar, seorang bodyguard pun menghampiri Bianca.

“Nona, maksudku Bi Pak Nuel baru saja pulang ke rumah ini!”

“Papa pulang ke rumah ini? Tadi dia memang mengantar aku pulang ke rumah tapi kan hanya sampai di gerbang,”

“Bukan sampai di gerbang, Pak Nuel benar-benar pulang katanya mau menemuimu, kau senang kan?”

“Tentu aku senang, sekarang Papa dimana?”

“Di kamar itu, nanti tunggu satu jam atau dua jam dia akan menemuimu!”

“Sekarang saja, lagipula aku ingin bicara dengan Papa,”

“Eh jangan!”

“Kenapa? Aku mau bicara dengan Papaku,”

“Ya Tuhan Bi, jangan dulu!”

Bodyguard itu berusaha menahan laju kaki Bianca agar tidak dulu menemui Emanuel didalam kamar tersebut, akan tetapi Bianca malah tetap bersikeras dan langsung membuka pintu kamar tersebut. Emanuel dan wanita tadi yang sedang asik berciuman sampai tidak sadar jika ada yang membuka pintu kamar, sementara kedua mata Bianca terbelalak melihat aksi Papanya bersama seorang wanita.

“Papa,”

Suara Bianca membuat Emanuel dan wanita tadi berhenti berciuman dan kompak menoleh kearah Bianca, wajah Bianca terlihat melongo sementara Emanuel langsung meminta wanita tadi untuk kembali memakai pakaiannya. Bianca pun segera menghampiri Emanuel dan melakukan hal yang wanita tadi lakukan dengan naik keatas pangkuan Emanuel.

“Papa maaf tadi aku marah-marah terlalu kasar padamu!”

Bianca memeluk Emanuel sambil tetap berada diatas pangkuan Emanuel, sementara wanita bayaran itu masih belum memakai pakaiannya karena yakin malam ini dia akan melayani laki-laki setampan dan seperkasa Emanuel.

“Siapa wanita ini Pak? Kenapa dia lancang sekali mengganggu kita?” tanya wanita itu.

“Kau yang siapa, kenapa bersama Papaku didalam kamar?” tanya Bianca sambil tetap memeluk Emanuel.

“Pergilah!” kata Emanuel.

“Kau dengar itu, pergi dari sini jangan ganggu aku dan Pak Nuel karena kami sedang tidak bisa diganggu!” ujar wanita bayaran itu.

“Maksudku kau yang pergi!” ujar Emanuel sambil menunjuk kearah wanita bayaran itu.

“A-aku?”

Bianca malah tersenyum melihat wanita itu diusir oleh Papanya.

“Tapi Pak, aku ditugaskan melayanimu hingga puas,”

“Apa telingamu bermasalah sampai tidak mendengar perintahku? Perlu satu peluru menembusnya agar kau dapat mendengar dengan baik?” kata Emanuel.

Wanita itu pun ketar-ketir lalu buru-buru memakai pakaiannya karena takut pada ancaman Emanuel, wanita tersebut kemudian segera keluar dari dalam kamar.

Hanya tinggal Bianca dan Emanuel saja yang berada didalam kamar tersebut, Bianca juga sangat betah berada diatas pangkuan Papanya.

“Kau juga keluarlah dari kamar ini!”

“Bukankah Papa ingin menemuiku kata bodyguard diluar sana?”

Emanuel dan Bianca pun saling menatap, dari jarak sedekat ini Bianca merasa wajah Papanya itu justru terlihat semakin tampan mempesona sampai-sampai Bianca terus menatap lekat-lekat Emanuel.

“Jangan pernah lancang langsung masuk begitu saja,”

“Kalau aku lancang, apa Papa juga akan menembakkan peluru juga ke telingaku karena tidak mendengar apa yang Papa perintahkan? Seperti Papa mengancam wanita tadi,” Bianca malah menaik turunkan alisnya menggoda Emanuel.

“Hmm,” kata Emanuel.

“Ih Papa masa mau menembak putrimu yang cantik ini, tapi sekarang aku senang sekali Papa pulang,”

Bianca semakin mempererat pelukannya, rasanya begitu nyaman sekali memeluk tubuh Papanya sementara Emanuel hanya diam saja dan tidak membalas pelukan Bianca.

“Papa aku janji akan mendengarkanmu, jika kau suruh aku tidak berpesta dengan teman-temanku aku akan dengarkan itu tapi Papa jangan pergi-pergi lagi ya Pa,”

“Bia rindu Papa, Bia ingin makan bersama Papa, berbincang banyak hal dan pergi berlibur dengan Papa,”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED