Sonya kesal saat mengetahui Shafa akan menikah minggu depan. Sonya marah sebab Shafa tidak memberitahunya dari jauh-jauh hari. Karena ingin membicarakan masalah tersebut, Sonya mengajak Shafa untuk mengobrol di kafe.
Tidak menunggu lama, Shafa datang dan langsung bertemu dengan Sonya yang duduk di tempat paling belakang. Sonya seperti mengabaikan temannya itu.
"Sonya, jangan marah, dong." Shafa memegang tangan Sonya, namun sahabatnya itu menolak. "Kamu belum dengar alasan kenapa aku mendadak kasih kabar itu 'kan?"
"Kalau gitu, jelasin aja sekarang. Aku dengerin, kok," jawab Sonya yang menyibukkan diri dengan ponselnya.
"Aku dijodohin."
"Apa?! Kamu dijodohin?!" Mata Sonya membulat.
"Iya, aku dijodohin sama anak kenalan ibu aku dua hari lalu. Besok, aku mau lamaran yang cuma ngundang keluarga dan kerabat dari pihak aku dan calon aku." Sonya terlihat sangat terkejut dengan apa yang penjelasan Shafa.
"Secepat itu? Kenapa kamu enggak nolak, Shaf? Kamu suka sama dia?"
"Aku enggak bisa nolak. Kamu inget? Aku pernah bilang, kalau aku mau nikah di usia muda. Umur aku sekarang udah 24 tahun, udah pantas untuk nikah, 'kan? Usia calon aku cuma 3 tahun lebih tua dari aku. Dia juga cowo pilihan ibu aku. Jadi, aku percaya sama keputusan ini."
"Oh, gitu?
"Kamu dukung keputusan aku, 'kan?"
"Kalau kamu udah yakin, aku pasti dukung kamu."
"Beneran? Terima kasih, Sonya!" Shafa memeluk Sonya penuh kebahagiaan. Awalnya, dia sangat takut kalau Sonya tidak mau memaafkannya.
"Siapa cowo itu? Aku juga harus kenal sama calon suami sahabat aku, 'kan?"
"Namanya Alby Andris Bachtiar. Dia guru SMA di Malang. Lumayan ganteng, sih," ucap Shafa sembari tertawa kecil.
"Siapa namanya?"
"Alby Andris Bachtiar kalau enggak salah," ulang Shafa.
Sonya kembali terlihat kaget. "Kamu baru kenal sama dia?"
"Iya, aku baru kenal beberapa hari lalu."
"Shaf, tiba-tiba aku punya firasat buruk tentang cowo itu. Aku takut, kamu kenapa-kenapa setelah nikah sama dia. Mending, kamu batalin aja pernikahannya."
"Batalin? Mana bisa, Sonya? Besok dia mau lamar aku dan minggu depan kita nikah. Semua udah direncanain sama keluarga kita. Mana bisa aku tiba-tiba batalin pernikahannya?"
"Jadi, kamu tetap mau nikah sama dia disaat aku enggak setuju?! Aku ini sahabat kamu dari kecil! Aku punya firasat yang kuat tentang kamu, Shafa."
"Bukannya tadi kamu udah dukung aku buat nikah sama dia?"
"Tapi, firasat aku tiba-tiba enggak enak. Mending, kamu batalin aja, ya? Lagi pula, kalian belum lamaran, 'kan?"
"Enggak bisa, Sonya. Aku tetap akan nikah sama dia. Doain aja, semoga firasat kamu salah."
"Ini demi kebaikan kamu, Shaf."
"Maaf, Sonya. Aku tetap enggak bisa. Ini menyangkut nama baik keluarga aku."
"Terserah kamu aja!" Sonya bangun dari duduknya.
***
Shafa tidak bisa menghubungi Sonya sampai tiba acara lamaran. Disatu sisi, Shafa merasa senang karena lamarannya berjalan lancar dan tinggal menunggu hari pernikahan. Disisi lain, dia merasa sedih karena Sonya benar-benar marah padanya. Tapi, Shafa juga tidak bisa membatalkan acara pernikahannya.
"Shafa, ayo makan dulu. Nanti kamu sakit, loh? Banyak hal yang harus kamu selesain untuk pernikahan nanti," ucap Fatma sembari mengelus tangan putri bungsunya.
"Iya, Bu, nanti aku makan, kok."
"Hari ini kamu mau pergi, 'kan, sama Alby?"
"Iya, nanti sore dia jemput."
"Pokoknya, kamu enggak usah mikirin Sonya. Ini hidup kamu dan kamu yang menentukan. Ibu akan berdoa supaya rumah tangga yang kamu bina bersama Alby, langgeng dan bahagia. Sahabat yang baik adalah dia yang ikut bahagia melihat sahabatnya bahagia. Kalau emang dia punya firasat buruk, seharusnya dia berdoa supaya kamu baik-baik aja. Bukannya malah nyuruh kamu buat batalin pernikahan." Fatma sebenarnya kesal dengan sikap Sonya yang membuat anaknya ragu untuk menikah.
Tiba-tiba, Galih datang memanggil adik satu-satunya itu. "Shaf, ada Alby, tuh. Dia nunggu di ruang tamu."
"Loh, kata kamu perginya sore?" tanya Fatma pada Shafa.
Setelah merapikan rambutnya, Shafa langsung turun menyusul ibunya yang sudah lebih dulu menyapa Alby. Wajah calon suaminya itu terlihat cerah dan tampan. Senyumnya manis dan menyejukkan. Sepertinya, akan banyak orang yang bilang 'Shafa, kamu beruntung, deh, bisa jadi istrinya Alby' setelah mereka menikah nanti.
"Mas Alby? Kamu bilang, perginya nanti sore?" Shafa duduk di samping Fatma.
"Siang ini aku ada waktu luang. Jadi, kita pergi sekarang aja, gimana?"
"Yaudah, aku siap-siap dulu, ya?" Dengan cepat, Shafa kembali menuju kamarnya.
"Al, Shafa belum makan dari kemarin. Nanti, kamu suruh dia makan, ya?" Suara Fatma terdengar sangat lembut dan penuh kasih sayang.
"Iya, Bu. Gimana keadaan Ibu?"
"Ibu baik-baik aja. Tolong jaga Shafa, ya, Al? Ibu kasih kepercayaan sama kamu untuk jaga dia."
"Iya, aku akan jaga Shafa demi Ibu."
"Ayo, kita berangkat?" Shafa kembali dengan pakaian sederhana, namun membuatnya terlihat sangat cantik. Karena Alby terus melihatnya, Shafa merasa malu.
"Ada apa?"
"Kamu cantik banget."
***
Shafa dan Alby datang ke sebuah butik tempat mereka memesan baju pengantin. Baru 3 hari, gaun yang akan Shafa pakai hampir selesai. Lagi-lagi, Alby terpanah melihat betapa cantik calon istrinya itu saat mencoba gaun pengantin.
"Cantik, Shaf."
"Gaunnya atau akunya?" tanya Shafa dengan sedikit candaan.
"Kamu, dong. Gaunnya bikin kamu tambah cantik. Bener, 'kan, Mbak?" tanya Alby pada perancangan gaun tersebut yang berdiri di samping Shafa.
Setelah selesai mencobanya, Alby mengajak Shafa untuk jalan-jalan dan mampir ke sebuah restoran pinggir pantai. Lokasinya lumayan jauh dari rumah mereka. Alby sengaja, agar mereka lebih dekat dan tidak canggung lagi.
Tanpa ragu, Alby terus menggandeng Shafa sambil berjalan di atas pasir putih. Rambut Shafa yang terurai, tertiup angin sampai menutupi wajahnya.
"Kamu pernah ke sini?"
"Pernah, pas Kak Galih ulang tahun."
Kaki Alby yang panjang, membuat Shafa sulit menyesuaikan langkahnya. Alhasil, dia terjatuh karena berjalan terburu-buru. Alby malah tertawa sambil menolongnya untuk bangun.
"Jalannya yang bener, dong."
"Kamu jalannya cepet banget!" omel Shafa.
"Aku jalannya biasa, kok. Kamu aja yang langkahnya kecil." Alby tertawa dan Shafa cemberut dengan manisnya. "Udah, jangan cemberut gitu."
Karena gemas melihat tingkah calon istrinya, Alby langsung menggendong Shafa lalu berlari pelan. Walau tubuh Shafa kecil, Alby tetap kesulitan menggendongnya. Hal itu membuat mereka tertawa dan akhirnya terjatuh bersama di atas putihnya pasir pantai.
"Kamu beneran nerima perjodohan ini?" tanya Alby sambil melihat wajah Shafa dari samping.
"Kenapa tiba-tiba kamu kayak ragu gitu?"
"Aku cuma mau memastikan aja. Shaf, aku janji akan berusaha untuk mencintai dan menerima kamu sebagai istri aku nantinya."
"Aku juga janji akan jadi istri yang baik buat kamu, Mas."
***
Beberapa hari sebelum pernikahan, Alby memberitahu Shafa mengenai tempat tinggal mereka nanti. Sejak kuliah sampai bekerja, Alby tinggal di Malang dan jauh dari keluarganya. Jadi, Shafa harus ikut Alby untuk tinggal di sana.
Acara pernikahan dimulai. Jas abu-abu yang melekat ditubuh kekarnya, membuat Alby terlihat lebih keren. Peci yang menutupi rambutnya, membuatnya terlihat jauh lebih tampan.
Alby dan kedua orang tuanya berjalan menuju meja yang dimana sudah duduk beberapa saksi, penghulu, dan ayah Shafa sebagai wali nikahnya. Alby menjabat tangan calon mertuanya dengan kuat.
"Ananda Alby Andris Bachtiar bin Fahri Bachtiar. Saya nikahkan dan kawinkan, anak kandung saya Shafa Akdzaa Zahirrah binti Yunus Darmawan pada engkau, dengan maskawin berupa logam mulia 30 gram, uang 50 juta 578 ribu rupiah, dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" ucap Yunus dengan penuh keyakinan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Shafa Akdzaa Zahirrah binti Yunus Darmawan, dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" balas Alby dengan tegas dan lantang dalam satu tarikan napas.
"Sah! Alhamdulillaah."
Kembali berdoa dengan khidmat. Shafa yang menunggu di ruangan lain bersama keluarganya menangis terharu menyaksikan ijab kabul itu. Alby datang menjemput Shafa dan mereka berjalan menuju bangku pengantin di atas panggung, diiringi penari yang gemulai.
***
Acara pernikahan yang dilaksanakan selama 3 hari sudah selesai. Saatnya Alby pulang ke Malang. Tapi, kali itu dia pulang dengan membawa seorang wanita cantik yang sudah sah menjadi istrinya.
Saat sedang tenang mengemudi, tiba-tiba seekor kucing kecil berbulu putih keluar dari gang menuju rumah Alby, membuatnya harus berhenti mendadak. Shafa yang sedang bersandar, terbentur kaca samping lumayan kencang.
"Aduh!"
"Shaf, kamu enggak apa-apa?" tanya Alby yang tangannya dengan sigap mengelus kepala istrinya.
"Sedikit sakit. Kamu enggak tabrak kucingnya, 'kan?"
"Kayaknya enggak. Coba aku liat dulu." Alby keluar dari mobil untuk mengecek. Ternyata, semua baik-baik saja. "Aman."
"Syukur, deh. Rumah kamu masih jauh?"
"Enggak. Sebentar lagi sampai, kok."
Shafa tercengang saat sampai di rumah yang lumayan besar, rapi, dan bersih. Baru saja sampai, seorang wanita yang merupakan tetangga samping kiri rumah menyapa mereka.
"Mas Alby, apa kabar? Udah hampir seminggu lebih enggak pulang?"
Wanita itu terlihat seksi dan berpenampilan lebih fashionable dari pada Shafa. "Dia siapa?" bisik Shafa pada Alby.
"Iya, Mbak Jelita. Soalnya, saya ambil cuti kerja untuk menikah." Alby masih menggandeng Shafa dengan erat.
"Jadi, itu istrinya Mas Alby? Saya kira, kalian baru pacaran. Istrinya kelihatan lebih muda, ya?"
"Namanya Shafa. Dia cantik, 'kan, Mbak? Itu yang bikin saya jatuh cinta sama dia. Selain itu, ketulusan hatinya yang buat saya mau segera nikahi dia." Apa yang Alby katakan, sudah jelas suatu kebohongan. Bagaimana mungkin, mereka saja menikah karena dijodohkan, 'kan? Apakah semudah itu Alby jatuh cinta?
"Saya emang enggak salah mengagumi Mas Alby. Kamu itu benar-benar pria yang luar biasa, Mas. Saya enggak beruntung karena enggak bisa menjadi milik Mas Alby."
"Maaf, kita masuk dulu, ya?"
Sudah cukup. Shafa sudah merasa jijik dengan wanita itu. Tangan Alby ditarik menuju pintu untuk segera masuk dan menjauh dari Jelita.
"Kok, dia kayak lagi godain kamu, sih?" ucap Shafa pelan saat Alby sedang membuka kunci pintu.
"Iya, dia emang kayak gitu. Dia seumuran sama aku, janda anak 1."
"Terus, kamu suka kalau di godain sama dia? Sana, tinggal aja sama dia!" Shafa langsung masuk saat pintu sudah terbuka dan Alby hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Kamu usir aku? Ini, 'kan, rumah aku?"
Shafa menghentikan langkahnya dan berkata, "Oh benar juga. Jadi, aku yang harusnya pergi. Iya, 'kan?"
Kesal dan malu bercampur aduk di pikir Shafa. Saat tangannya berhasil meraih gagang pintu, Alby segera menggendongnya dan mencium bibir istrinya itu.
***
Malam itu adalah malam pertama untuk Shafa dan Alby tinggal di satu rumah. Setelah selesai merapikan baju, Shafa segera turun ke dapur untuk membuat makan malam. sayangnya, dia lupa kalau belum sempat membeli makanan apapun. Di kulkas, Alby hanya menyimpan sosis, sebutir telur, dan beberapa minuman soda.
"Mas, kamu mau makan apa?"
"Emangnya kamu udah belanja?"
"Belum. Di kulkas, cuma ada sosis sama telur." Shafa masih melihat-lihat isi kulkas tersebut.
"Gimana kalau kita makan di warung pinggir jalan?"
"Sekarang lagi hujan. Aku malas keluar."
"Kalau gitu, pesan makanan online?"
"Enggak! Kasihan ojek online yang antar, lagi hujan deras kayak gini."
"Kalau gitu, masak aja yang ada."
Shafa pergi ke dapur dan mulai mengocok sebutir telur yang ditambahkan sedikit garam. Lalu, dia memotong 3 sosis dan mulai menggorengnya. Alby melihatnya dari ruang tengah. Masih belum menyangka kalau dia telah menikah dengan wanita yang tidak dia kenal sebelumnya.
"Shafa?"
"Iya, Mas?"
"Mau aku bantu?"
"Enggak usah. Cuma goreng ini doang," jawab Shafa yang masih sibuk menggoreng sosis.
"Jadi, tugas aku cuma makan aja, ya?"
"Makan dan cuci piring. Terus sapu dan jemurin pakaian."
Apa yang Shafa ucapkan, membuat mereka tertawa. Tidak tahan lagi hanya berdiam diri, Alby berlari memeluk Shafa dari belakang. Berkali-kali Shafa mencoba melepaskannya, namun Alby malah semakin erat memeluknya.
"Malam ini, ya, Shaf?"
"Apa?"
"Aku mau malam ini."
"Secepat itu?"
"Emangnya kenapa? Kamu enggak mau?"
"Bukannya gitu. Aku masih cape kalau harus malam ini, Mas."
"Tapi, aku mau malam ini, Shaf."
Wajah tampan Alby berada di pundak Shafa. Mencoba merayu dengan cara mencium pipi sang istri berkali-kali. Tapi, Shafa tetap menggelengkan kepala.
"Permisi, Mas Alby?" teriak seorang wanita dari luar.
"Siapa, tuh?" tanya Shafa.
Jelita rela datang ke rumah Alby saat hujan deras. Ditambah, dia sengaja membawakan makanan untuk Alby yang statusnya sudah jadi suami orang, sudah ada yang mengurusnya.
"Pasti Mbak Jelita," jawab Alby yakin.
"Huh, udah hapal banget, sih, kamu? Biar aku aja yang temuin dia."
Walau menggunakan payung, Jelita tetap kehujanan karena bajunya terlihat basah kuyup. Dia membawa semangkuk soto ayam yang terlihat masih panas.
"Ada apa, ya?"
"Mas Alby ada? Saya mau kasih soto ayam kesukaan dia."
"Maaf, Mbak, tolong jangan bertingkah berlebihan ke suami saya. Apalagi di depan saya."
"Loh, kenapa kamu marah?"
"Saya enggak marah, kok."
"Kalau gitu, tolong kasih ini ke Mas Alby. Saya yakin dia bakal suka kayak biasanya."
Melihat Jelita sudah keluar dari rumahnya, Jelita yang sedari tadi geram mengatakan, "Dasar enggak tau malu!"
***
Alby mengaku sudah sering memakan masakan yang Jelita berikan. Walau dia adalah wanita yang cantik dan masih muda, tapi Alby tidak pernah sedikitpun memiliki perasaan suka terhadap Jelita.
"Pasti kamu pernah sempat suka sama dia?"
"Aku enggak pernah sedikitpun suka suka sama dia."
"Entah kenapa aku enggak percaya. Kalau dilihat-lihat, lebih cantik dia daripada aku."
Mereka sedang berada di atas kasur dan tertidur berhadapan. Alby mendekatkan tubuhnya ke Shafa. Memeluk dan mencium pucuk kepala istrinya berkali-kali.
"Intinya, aku enggak pernah suka sama Mbak Jelita. Lagi pula, sekarang kamu istri aku."
"Tapi, kamu belum cinta sama aku."
"Sekarang aku udah cinta sama kamu." Alby semakin erat memeluknya sembari memejamkan mata.
Shafa merasa sangat disayangi. Awalnya, dia sempat takut kalau Alby akan sulit menerima keberadaannya. Tapi ternyata, Alby sangat menyayanginya.
"Kamu beneran enggak mau sekarang?" tanya Alby lagi.
"I-iya. Maaf, ya?"
"Iya, enggak apa-apa."
Tubuh Alby yang kekar dan tidak terbalut baju, membuat Shafa sedikit malu berdekatan dengannya. Baru saja ingin tidur dan menikmati malam pertama mereka tidur bersama, Jelita kembali datang memanggil Alby. Padahal, itu sudah hampir tengah malam.
"Mas Alby?! Tolong saya, dong!"
Shafa membuka matanya. Namun, dia tidak bisa bergerak karena Alby memeluknya sangat erat. "Alby, janda itu panggil kamu lagi."
"Saya tau kalau Mas Alby belum tidur! Tolong saya dulu, dong!" teriak Jelita lagi.
"Tuh, dia minta tolong."
Alby meregangkan pelukannya. "Emangnya enggak apa-apa aku temuin dia malam-malam gini?"
"Mungkin aja penting."
Baru saja turun dari kasur dan hendak membuka pintu, Shafa berkata, "Kamu selalu temuin dia kayak gitu, ya?"
"Apa?"
"Tanpa baju dan cuma pakai celana pendek? Pantas aja dia sering datangin kamu malam-malam."
"Enggak, kok. Aku enggak pernah temuin dia kalau malam. Shafa, sini, deh."
"Ada apa?"
Shafa mendekat dan Alby langsung menggendongnya seperti bayi. Dia sengaja melakukannya agar tubuhnya tertutupi. Selama menuruni anak tangga, Alby terus mencium bibir sang istri.
"Mas Alby? Tolong, dong!" teriak Jelita lagi.
Alby membuka pintu dengan susah payah dan berkata, "Ada apa?"
"K-kalian kenapa kayak gitu?" tanya Jelita dengan terkejut.
"Emangnya enggak boleh? Aku, 'kan, istrinya?" jawab Shafa yang membelakangi Jelita.
"Mbak Jelita butuh bantuan saya?"
"O-oh, enggak jadi."
***
Shafa bangun lebih pagi. Dia masih berada di pelukan Alby. Otot tangan Alby yang besar, menjadi bantalan untuk tidurnya semalam. Saat ingin bangun, Alby malah mengeratkan lagi pelukannya.
"Mas Alby, aku mau belanja. Kayaknya, ada tukang sayur, tuh, di depan."
"Cium aku dulu," pinta Alby dengan mata yang masih terpejam.
Sebelum menciumnya, Shafa melihat wajah Alby yang masih tertidur. Bibirnya yang pucat tetap terlihat menggoda untuknya. Walau sedang tidur, Alby masih terlihat tampan. Saat itulah Shafa merasa sangat beruntung bisa memilikinya. Seorang pria asing yang tiba-tiba menjadi suaminya. Seperti cerita sebuah novel, 'kan?
Bibir mereka bertabrakan dan Alby memegang kepala Shafa agar tautan bibirnya tidak terlepas. Hampir kehabisan napas, Alby langsung melepaskan Shafa. "Maaf, ya, Sayang?"
"Aku mau belanja dulu."
Shafa segera keluar rumah saat mendengar suara teriakan tukang sayur yang lewat di depan rumahnya. Banyak ibu-ibu yang sudah lebih dulu datang, salah satunya Mbak Jelita.
"Bang, ada bayam?" tanya Shafa pada tukang sayur yang sudah setengah tua.
"Ada, Mbak. Di depan, tuh, deket kangkung."
"Mbak Shafa mau masak sayur bening, ya?" tanya Jelita yang baru saja datang dengan dandanan seperti ingin pergi pesta.
"Iya," jawab Shafa singkat dan tanpa melihat wajah jelita di sampingnya.
"Itu siapa, Jel?" tanya seseorang pada Jelita.
"Ini Mbak Shafa, istrinya Mas Alby."
"Loh, emangnya kapan Mas Alby nikah?" tanya salah satu ibu-ibu dengan terkejut, mewakili ibu-ibu yang lainnya.
"Sekitar seminggu yang lalu. Pasti, ibu-ibu kaget, ya? Ibu-ibu pasti nyangkanya kalau Mas Alby bakal nikah sama saya, 'kan? Tapi sayangnya, kita enggak berjodoh, Bu." Apa yang Jelita ucapkan, mulai membuat Shafa kesal.
Shafa mencoba menahannya dan segera membayar sayuran yang dia beli. "Bang, saya beli ini aja. Semuanya berapa?"
Tukang sayur tersebut menghitungnya dengan cepat. "32 ribu, Mbak."
Setelah Shafa membayar dengan uang pecahan 50 ribu, "Ambil aja kembaliannya, Bang."
"Alhamdulillah, terima kasih, Mbak."
"Ibu-ibu, saya duluan, ya? Mau bangunin Mas Alby. Dia susah banget kalau dibangunin. Mungkin kecapean gara-gara semalem kali, ya? Habisnya, dia nafsu banget. Sampai enggak ingat waktu." Mata Shafa melirik ke arah Jelita.
"Aduh, pengantin baru bikin iri aja, nih," ucap seorang wanita yang sedang hamil.
Shafa tersenyum ramah. "Kalau gitu, saya permisi, ya, Ibu-ibu?" Shafa merasa puas mengatakan hal tersebut di depan Jelita.
***
Setelah selesai memasak sayur bening dengan beberapa potong jagung, tempe goreng, dan sambal, Alby yang sudah selesai bersiap untuk berangkat kerja, langsung datang ke meja makan.
"Aku cuma masak itu. Soalnya, Mbak Jelita bikin telinga aku panas," kata Shafa yang duduk di hadapan Alby, sambil mengambilkan nasi untuk suaminya itu. "Aku enggak habis pikir, deh. Kok, kamu bisa betah punya tetangga kayak dia?"
"Emanya kenapa lagi?" Alby lagi-lagi meledek istrinya yang mudah marah itu.
"Gimana aku enggak marah coba? Dia ngomongin kamu di depan ibu-ibu. Dia ngomong seakan aku merebut kamu dari dia."
"Kalau kenyataannya bener gimana?" tanya Alby yang mulutnya terisi penuh oleh nasi.
"Aku udah nyangka kalau kamu pasti suka sama dia." Shafa bangun dari duduknya, pergi ke dapur meninggalkan Alby yang masih sibuk makan. "Kamu seneng kalau digodain sama dia, 'kan?
"Shaf, aku cuma bercanda tau." Gemas melihat istrinya saat sedang marah, Alby mendekat dan memeluknya dari belakang. Kepalanya dia sandarkan pada bahu Shafa. "Jangan marah, dong. Aku cuma bercanda, Sayang."
"Sana berangkat, nanti terlambat." Shafa pergi saat Alby mendekatinya.
Tapi, Alby terus mengejar Shafa. "Cium dulu," pinta Alby yang saat itu memeluk Shafa dari depan.
Wajah suaminya yang tampan dan menawan, membuat mata Shafa sulit untuk berpaling. "Pergi, enggak?"
"Cium dulu."
"Pergi!"
"Cium dulu!"
Shafa hanya mengabaikannya. Tanpa izin, Alby mendekap wajah Shafa dan mencium bibir istrinya yang cantik itu. Berkali-kali dan dengan kuat menahan Shafa yang mencoba berpaling. Semakin lama, Shafa merelakan Alby menyentuhnya. Dia berharap, cara itu bisa membuat cinta segera hadir di dalam pernikahan mereka.
"Permisi, Mas Alby!" teriak Jelita dari depan gerbang rumah Alby.
Dengan kuat, Shafa mendorong Alby. Dia berlari menuruni anak tangga, menuju lantai bawah. Namun, Alby berhasil menarik tangannya.
"Kamu mau ngapain?"
"Aku mau cakar mukanya!"
Saat hendak lanjut pergi, Alby memeluk Shafa dan kembali menciumnya. Jelita yang berkali-kali memanggil, mereka abaikan. Bibir mereka saling bertautan. Tangan Shafa memukul pelan punggung lebar suaminya, walau sebenarnya, dia sangat menikmati itu.
***
Sebelum Alby pulang, Shafa membersihkan rumah, khususnya kamar mereka. Saat selesai, Shafa duduk di sofa depan televisi, memakan cemilan yang dia beli. Saat sedang santai, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Pintu dibuka, namun tidak ada siapa pun di sana. "Mas Alby? Kamu, 'kan, yang ketuk pintunya?" Shafa melangkah ke luar, menuju halaman depan rumah.
Shafa terkejut menerima pelukan suaminya. Alby memeluk dan mencium pipinya dari belakang. Tangan Alby yang melingkar di pinggang Shafa, dielus lembut olehnya.
Karena lokasi rumah mereka selalu sepi, Alby berani untuk melakukan hal itu di luar rumah. Lagi pula, itu hal wajar untuk pasangan yang baru menikah. Keromantisan mereka lagi-lagi dihancurkan oleh suara si janda anak 1. Dia datang membawa mangkuk berisikan makanan.
"Mas Alby!" Jelita mendekati tembok pembatas rumah mereka. "Saya masak semur daging, loh! Mas Alby mau enggak?" Jelita seperti tidak melihat kehadiran Shafa yang masih berada dipelukan Alby.
Karena kesal, Shafa menggenggam tangan Alby yang melingkar di perutnya dengan kuat. "Ayo, sayang, kita makan bareng!" Shafa langsung menarik Alby masuk ke dalam rumah.
"Kamu cemburu lagi, ya?"
"Enggak, kok!" Dengan kasar, Shafa menyalakan kompor untuk menghangatkan soto yang dia buat.
"Ternyata, kamu beneran udah jatuh cinta sama aku, ya?"
Sepertinya, Alby sudah tau bagaimana cara memanjakan istrinya. Dia berdiri di belakang Shafa. Setelah mematikan kompor, tangan Alby kembali melingkar di pinggang Shafa.
"Sayang, aku cinta sama kamu."
"Aku juga." Tapi, Shafa menjawabnya seperti tidak serius.
"Bohong."
"Ngapain aku bohong?"
Alby mencium leher putih dan harum milik istrinya. Shafa memejamkan matanya, saat Alby menciumnya semakin dalam. Mereka sama-sama menikmatinya. Semakin lama, Shafa mulai mengeluarkan suara lembut yang masih terdengar samar.
"Sayang, aku mau sekarang," pinta Alby dengan suara lembut.
"Sekarang? Tapi, kamu baru pulang kerja, Mas."
"Kamu mau atau enggak?"
"Terserah. A-aku, ikutin mau kamu aja."
Alby mengangkat tubuh mungil Shafa menuju kamar mereka. Shafa bisa merasakan tubuh kekar suaminya itu. Untuk kedua kalinya, tubuh Shafa dihempaskan keatas kasur.
"Shafa, kamu udah percaya sama aku?" Wajah Alby berada di atas Shafa. Bahkan, napasnya terasa sangat hangat.
"Emangnya kenapa?"
"Kalau kamu belum cinta dan percaya sama aku, kita jangan lakuin sekarang."
"Emangnya, kamu udah cinta sama aku?"
"Aku tanya kamu, Shaf. Jangan tanya balik."
Shafa diam sejenak, menatap mata Alby yang indah. "A-aku ... Aku udah cinta sama kamu. Kalau kamu?"
"Aku juga. Aku sangat mencintai kamu. Jadi, aku boleh lakuin sekarang?
"Iya, boleh, Mas."
Lebih dulu, Alby membuka seragam kerjanya. Otot tangan dan tubuhnya yang kekar, membuat Shafa selalu terpukau. Shafa masih merasa malu, padahal dia sudah beberapa kali melihat Alby tidak mengenakan pakaian.
"Kenapa muka kamu jadi merah gitu?"
"A-aku takut."
"Enggak usah takut . Aku bakal pelan-pelan, kok."
Shafa menahan tangan Alby yang hendak menyentuhnya lebih jauh. "Mas, kamu ada hubungan apa sama Mbak Jelita?"
"Eum?" Alby terlihat terkejut sampai-sampai membuka matanya lebar-lebar. "Hubungan? Tetangga aja."
"Ih, serius, Mas."
Alby bangkit dan duduk di pinggir ranjang membelakangi Shafa. "Beneran, Shaf. Dia yang suka sama aku. Pernah dua kali dia bilang kayak gitu."
"Terus kenapa kamu masih aja respon perlakuan dia?"
"Aku enggak enak aja kalau harus menunjukkan rasa risih aku ke dia." Perlahan, Alby membawa Shafa dalam dekapannya. "Bahkan aku udah bilang ke dia untuk jangan deketin aku lagi. Tapi, ya, sekarang masih aja. Jadi aku harus gimana? Pindah rumah? Enggak semudah itu, Shaf."
Merasa tidak enak kalau pertanyaannya ternyata membuat Alby takut, Shafa memulainya lebih dulu. Mencium sang suami dengan lembut. "Aku percaya sama kamu, kok, Mas."
***