"Saya mau dilayani dia," Seorang pria berwajah tampan dengan mata ditutup dengan kaca mata hitam sedang berbicara dengan seorang pelayan restoran. Dagunya dimajukan menunjuk satu arah.
Pria itu masih duduk di tempatnya, tangan dilipat di dada sambil matanya tak lepas dari memandang seorang pelayan yang sedang mengambil order di meja ujung.
"Sebentar ya, pak."
"Hmmmm." Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Delia melangkah menyusul Dinar yang juga baru selesai mengambil order dari pelanggan di meja 15.
Delia menghampiri Dinar yang baru saja meninggalkan meja paling ujung. Mereka berjalan menuju ke meja catering dan meletakkan kertas orderan dari meja para pelanggan itu disebuah papan kecil dan ditancapkan dengan paku yang sudah di khususkan untuk kertas orderan.
"Di, meja nomor 3 minta kamu yang ambil orderan." Delia berbisik pada Dinar.
"Tadi kan kamu sudah di meja itu, Del."
"Tapi dia nggak mau order dulu, nunggu kamu katanya."
Kening Dinar berkerut, heran dengan permintaan pelanggan itu, tidak biasanya seperti ini.
"Udah pergi sana, ingat pembeli itu raja."
"Heran aja sih, nggak biasanya ada pelanggan memilih."
"Naksir kamu mungkin."
"Lagi lah nggak mungkin. Aku ke sana dulu."
Delia mengangguk membiarkan Dinar pergi menuju meja nomor 3.
Kaki diatur menuju ke meja nomor 3, dadanya agak berdebar melihat sosok pria muda memakai kaca mata hitam sedang duduk tegak fokus pada HP di tangan.
"Selamat siang pak, sudah buat pesanan? silahkan bapak bisa melihat daftar menu di sini."
Dinar menyodorkan buku menu kepada pria itu dengan sopan.
Dirham yang dari tadi mencuri pandang pada Dinar lewat kacamata hitamnya tersenyum sinis. Ini rupanya dia.
Sudah tersusun banyak rencana di kepalanya saat pertama kali melihat sosok gadis yang selama ini dicari dan diselidiki.
Hatinya ingin marah ketika mengingat kejadian 6 bulan yang lalu, tidak bisa dibiarkan. Semua harus terbalaskan.
"Pak, silahkan." tersentak dengan suara gadis didepannya membuat tangan kanan Dirham menyenggol gelas kaca berisi air putih di depannya. Gelas itu jatuh ke lantai.
PRANG!!!!
Dinar tersentak.
Dia gugup dan gemetar.
"Maaf pak, saya nggak sengaja mengagetkan bapak, biar saya bersihkan."
Dirham hanya kaku menatap kepergian Dinar, tangannya mengambil beberapa lembar tisu di atas meja, dia menunduk sedikit membersihkan percikan air yang mengenai kain celana bagian bawahnya. Dinar sudah berdiri di sebelah pecahan kaca di lantai sambil membawa sapu dan serokan sampah. Dirham hanya diam memperhatikan tangan gadis itu cekatan mengambil semua pecahan kaca di lantai satu persatu.
"Auch," Jari tangan Dinar berdarah terkena pecahan kaca yang mau di ambil.
"Are you okay?"
Dirham bersuara melihat Dinar meringis kesakitan.
"Iya pak saya, saya nggak apa-apa."
Reflek tangan Pria itu meraih selembar tisu dan dia duduk jongkok di samping Dinar, tangan gadis itu dipegang lalu jari yang berdarah diusap pakai tisu.
"Hati-hati."
"Sudah pak, biar saya buat sendiri, terima kasih."
Dinar gugup menerima perlakuan dari pelanggan baru tempatnya bekerja itu.
Dia segera berdiri, tidak mau menarik perhatian pelanggan lainnya.
Dinar membawa sapu dan serokan berisi pecahan kaca itu kebelakang. Beberapa menit kemudian dia kembali di meja Dirham berada.
"Saya pesan salmon scrambled dua porsi ya, minumnya ice lemon tea dua dan machiato 1."
"Baik pak, dalam 5-10 menit siap."
"Oke."
Delapan menit berlalu, Dinar datang membawa nampan berisi pesanan Dirham.
"Duduk dan temani saya makan." Dinar kaget, pasti dia salah dengar.
"Silahkan menikmati, pak."
"Kan saya bilang duduk temani saya makan."
Eh! siapa dia, seenaknya saja suruh-suruh orang.
"Maaf pak ini jam istirahat saya."
"Ini jam makan siang mu, kan?"
"Saya masih banyak kerja di belakang sebelum break, pak."
Dirham memanggil Edo yang kebetulan lewat di sebelahnya. Edo berhenti di samping Dinar, sorot matanya seolah bertanya, 'ada masalah apa?'. Dinar sudah berdebar dari tadi ini di tambah lagi Edo yang datang. Aduuuh! masalah bener.
"Maaf, bisa saya ketemu dengan supervisor di sini?"
"Saya sendiri pak, ada masalah apa ya?"
"Wah, kebetulan. Jam makan siang staf anda ini jam berapa?"
Edo mengerutkan dahi, aneh dengan pertanyaan dari pria berkarisma di depannya.
"Ini memang jam Dinar break, pak."
"Tuh kan? berarti tidak masalah kan kalau dia saya traktir lunch sekarang. Dia teman saya."
"Itu bisa bapak bicarakan dengan orangnya, Dinar Azalea, kamu bisa break sekarang, permisi pak."
Dinar mengangguk dan Edo pamit pada Dirham dia menuju ke dapur tempat para staf melakukan kesibukan masing-masing.
Teman?
Sejak kapan?
Dinar masih diam, matanya meliar mencari alasan yang bisa dipakai untuk menghindar. Kenal juga tidak, kenapa pria ini bersungguh-sungguh mengajaknya makan bareng. Perasaannya jadi tidak enak.
"Jangan banyak berfikir dong, aku cuma mau menebus rasa bersalah ku tadi, gara-gara aku jarimu terluka."
"Tapi pak kita tidak saling kenal," Dinar masih berdiri memeluk nampan di dadanya.
"Jadi, mari kita kenalan. Aku Dirham."
Dirham mengulurkan tangannya untuk dijabat oleh gadis di depannya. Dinar enggan menyambut uluran tangan itu. Tapi dia melihat beberapa mata sudah memperhatikan mereka berdua.
Dengan berat hati Dinar menyambut uluran tangan Dirham, sedikit gemetar, meski mata pria itu di tutup dengan kaca mata hitam tapi dia bisa merasakan mata itu tajam menatapnya.
"Saya Dinar, Dinar Azalea."
Tangan di tarik segera setelah memperkenalkan diri. Dirham tersenyum manis.
"Duduklah, aku traktir kamu lunch. Kita berteman sekarang."
Dinar hanya diam, tidak menggeleng ataupun mengangguk tapi ia duduk juga akhirnya.
"Tangannya masih sakit?"
"Sudah tidak lagi, pak."
"Aku kelihatan tua ya?"
"Emmmmm, tidak pak."
"Jangan panggil saya bapak please, saya jadi kek ngobrol dengan anak sendiri." Senyum terbit di bibir Dirham, terasa lucu dengan kalimatnya sendiri.
"Mari makan."
Dirham meletakkan satu piring salmon scrambled dan gelas berisi air minum di depan Dinar. Dalam hati Dinar membaca bismillah sebelum memulai makan.
"Sudah lama kerja disini?"
"Lumayan, sudah mau setahun."
"Asli dari mana, atau orang Jakarta sini?"
" dari Jogja."
"Orang Jogja rupanya."
"Iya, Anda?"
Dinar memberanikan diri. Dirham tersenyum kecil, dalam hatinya bersorak riang.
Yes! umpan mengena.
Dasar perempuan murahan.
"Aku asli sini, tapi ayah ada campuran darah Arab, dan ibu campuran darah Itali."
Pantesan saja seperti bukan asli orang sini. Tentu saja ucapan itu cuma dalam hati Dinar.
Selesai makan, Dinar membersihkan meja dan hanya disisakan cawan machiato saja.
Dia mengucapkan terima kasih kepada Dirham.
Pria itu tersenyum penuh misteri.
Dinar berkerja lagi seperti biasa. Pertemuan dengan Dirham tadi memang sempat mengganggu pikirannya, tapi dia segera buang jauh semua pikiran tentang pria itu. Mungkin benar semua tadi hanya untuk menebus rasa bersalahnya saja.
Sementara Dirham melangkah dengan penuh kemenangan, keluar dari restoran itu.
"Ya, dan tetap awasi pria itu."
HP dimatikan setelah memberi perintah kepada lawan bicara di talian.
Pintu mobil dibuka.
Dia duduk di tempatnya.
Stereng diputar.
Senyum sarkastik mengembang di bibir.
"Sebentar aja lagi." Gumamnya pelan sambil melihat cermin pandang belakang.
Seminggu berlalu setelah perkenalan antara Dinar Azalea dan Dirham Assegaff, Dinar yang mulai bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore itu heran, karena seminggu ini juga dia sering melihat Dirham makan siang di sana. Dinar hanya akan memberi senyuman manis dan menganggukkan kepala ketika mata mereka bertemu. Mungkin dia kerja di dekat sini. Itu yang dipikir oleh Dinar.
Setalah jam kerja habis Dinar berniat untuk pulang, dia berjalan hendak menunggu driver ojol, jam segini biasanya banyak ojol menawarkan jasa tanpa pakai aplikasi. Jam pulang kantor memang jalanan penuh dengan orang-orang pulang kerja.
Pin pin
Dinar masih berjalan tidak menghiraukan suara klakson mobil yang dibunyikan beberapa kali. Dia menoleh kesamping setelah mobil itu meluncur perlahan menyalip langkahnya.
Sebuah mobil berhenti tepat di depannya. kaca mobil dibuka dan tampaklah wajah pria muda yang beberapa hari ini sering muncul di tempatnya bekerja, cowok yang mengajaknya makan siang seminggu lalu. Yang mengaku temannya. Dirham tersenyum manis padanya.
"Ayo, aku antar pulang."
Dinar berhenti melangkah dan menoleh pada Dirham. Dia menatap pemuda itu lekat, seolah ingin tahu niat hati Dirham.
"Nggak usah repot-repot, rumah ku Deket kok." Tolak Dinar halus.
"Nggak repot, ayolah. Di sini banyak orang jahat kalau jam segini."
"Aku bisa jaga diri, jangan kuatirkan aku."
"Nggak usah takut gitu, aku bukan orang jahat." suara Dirham agak dikeraskan.
Dinar lanjut berjalan perlahan. Tidak menghiraukan ucapan Dirham, Sementara pemuda itu juga masih belum putus asa.
Mobil diberhentikan tepat di depan Dinar. gadis polos itu mengeluh perlahan, kenapa keras kepala banget sih. Apa maunya dia ini. Kenal juga tidak.
Dirham keluar dari mobil dan menghalangi jalan Dinar.
"Katanya sudah terima aku sebagai teman, masa diantar pulang aja nggak mau. Berarti bertemannya nggak ikhlas." Dirham melipat tangannya berdiri di depan Dinar sambil melipat tangannya.
"Maksa banget kenapa, sih?"
Dinar mulai kesal.
"Cuma pingin antar kamu pulang, nggak lebih."
Kerasnya keinginan Dirham melemahkan pendirian Dinar.
"Oke kalau maksa."
"Gitu dong. Ayo masuk."
Pintu mobil dibuka dan Dirham mendorong sedikit tubuh Dinar hingga gadis itu terduduk di bagian kursi penumpang. Sejurus setelah pintu ditutup Dirham bersiul kecil lalu masuk ke bagian pemandu, mobil bergerak perlahan.
"Kamu tinggal sama siapa, Di?"
"Sendiri aja. Aku sewa kamar kos aja kok."
"Hebat kamu, sendiri hidup tanpa keluarga, di kota besar ini."
"Biasa ajalah, aku bukan dari keluarga kaya, harus pinter-pinter hidup di sini."
Dirham melirik wajah gadis di sebelahnya, dia akui gadis ini cantik. Mata bulat dengan bulu mata tebal, panjang dan lentik meski tanpa maskara, pasti bisa menawan siapa saja. Kulit bersih terlihat sangat natural tampak masih asli tanpa sebarang skin care. Pemuda itu berdeham kecil membuang rasa gugup yang tiba-tiba datang di hatinya.
"Berhenti di depan saja, iya itu yang pagar hitam."
Dirham melakukan seperti permintaan Dinar.
"Kamu sewa di sini?"
"Sebelah pagar rumah itu ada lorong agak kecil, sewaku di belakang rumah itu."
Dirham menganggukkan kepalanya.
"Aku masuk dulu, terima kasih."
"Aku antar sampai kosan."
"Nggak usah, terima kasih. Di sini sudah cukup."
Dinar membuka pintu mobil agak terburu-buru, dia tidak biasa diantar seorang lelaki seperti sekarang ini. Apalagi sampai kost-an.
Dirham masuk kembali kedalam mobil dan meninggalkan tempat itu. Dia mengangkat teleponnya yang dari tadi bergetar.
"Bos, saya sudah dapat infonya. Iya setengah jam lagi kita ketemu, semua fotonya ada sama saya."
"Tempat biasa!" Dirham menyudahi panggilan dan segera menuju tempat yang disepakati.
****
Sore itu Dirham pulang ke rumah orang tuanya. Dilihatnya ART sedang menyiram tanaman di taman depan. Rumah besar itu kelihatan suram tanpa keceriaan lagi, Dirham memarkir mobilnya setelah ART membukakan pintu pagar.
Dia keluar sambil meninjau keadaan rumah yang sudah seminggu ini tidak dikunjungi. Dirham tinggal di apartemennya sendiri, sudah beberapa bulan terakhir, di rumah ini terlalu banyak kenangan pahit manis bersama adik kesayangannya.
Matanya berkaca-kaca mengingat hari dimana adiknya menangis dengan wajah frustasi. Fathia begitu hancur dan rapuh saat mengatakan tentang kehamilannya. Ayahnya, Adam Assegaff pasti akan membunuhnya jika sampai tahu hal itu.
"Fa tidak ingin hidup lagi kak, Fa tidak kuat, Fa takut papa, Fa tidak mau memalukan keluarga kita."
Fathia Assegaff adik semata wayangnya sedang memeluk lutut di kamarnya, di dalam gelap, air matanya berlinang dan tangisannya memilukan.
Dirham mendengar itu terkejut, dan segera memeluk adiknya.
"Ada apa ini, Fa, nggak baik ngomong kek gitu." Fathia semakin menangis terisak-isak dalam pelukan kakaknya.
"Dia meninggalkan Fa, dia menghianatiku kak, dan cewek itu datang memakiku, menghinaku, katanya aku murahan, aku wanita murahan. Kak, tolong. Fa hamil kak, Fa hamil." lutut Dirham lemah mendengar itu semua. Tangannya mengepal. Apa yang harus dilakukannya untuk menolong si adik?
"Tenang, Dik. Kita pikir dengan kepala dingin. Siapa lelaki itu, bilang sama kakak, biar kakak kerjakan dia. Berani sekali dia buat adik kesayangan kakak menangis."
Fathia diam tidak menyahut pertanyaan dari kakaknya, tapi isak tangisnya begitu memilukan hati seorang kakak. Dirham ingin marah padanya, tapi melihat wajah sedih itu, hilang langsung amarahnya. Ini tidak bisa dibiarkan, lelaki bangsat itu harus terima akibatnya, belum tahu dia berususan dengan siapa. Urat di pelipis Dirham timbul. Wajahnya merah.
"Dik, bilang siapa laki-laki itu. Biar kakak hajar dia!" Suara Dirham meninggi. Tapi adiknya tetap diam. Emosi yang sudah tersulut tadi mengendor lagi melihat air mata sang adik yang sangat disayangi itu.
Dirham akan memberi waktu pada adiknya untuk menenangkan diri dulu. Dirham memutuskan untuk keluar kamar adiknya.
Keesokan harinya ketika pulang dari kantor Dirham heran kenapa ada orang menjerit histeris, itu suara mamanya dan Mbak Santi, ART yang bekerja di rumah orangtuanya. Apa yang terjadi sebenarnya, Dirham berlari masuk kedalam rumah, blueprint tube yang selalu menemaninya dilempar begitu saja di atas lantai, langkah Dirham melemah ketika sampai di tangga paling atas jeritan itu terdengar dari kamar adiknya, tidak! jangan! hatinya menidakkan bayangan menakutkan yang sempat terlintas di kepalanya. Tapi kaki lemahnya dikuatkan untuk melangkah menuju ke arah pintu kamar yang terbuka lebar.
Mata pemuda itu terbeliak, keringat dingin membasahi tubuhnya, dia menggigil, kaki dan tangannya gemetar tidak kuat lagi melangkah. Air mata jantannya membasahi pipi. Hatinya hancur. Sakit sekali.
Dirham jatuh terduduk ke lantai melihat mamanya sedang memangku kepala Fathia sambil menjerit histeris, sementara Mbak Santi menangis terisak-isak, tangannya memegang siku Fathia. Pergelangan tangan gadis itu penuh dengan darah yang hampir mengering. Dirham tidak kuasa untuk mendekati ibu dan adiknya, dia menangis tersedu di tengah pintu kamar itu dia melutut tidak mampu berdiri lagi.
Inikah keputusan yang diambil adiknya kemarin. Dirham menggelengkan kepalanya menyesali apa yang terjadi.
Fathia, Fathia !
Jangan Fathia, jangan pergi, kami sayang kamu.
Fathiaaaaaa.
"Dirham, bangun!"
"Kamu mimpi buruk ini, Ayo bangun."
Kedekatannya dengan Dirham dua Minggu ini membuat hari-hari Dinar semakin bersemangat, dari awal bangun pagi, beres-beres sampai pergi ke tempat kerja, senyum tak pernah lekang dari bibir, Delia sebagai teman dekatnya di tempat kerja tentu saja bisa melihat perubahan itu.
Hari ini Dinar bertemu dengan Zaky Azhar anak dari pemilik restoran tempat ia bekerja. Zaky yang baru pulang dari kuliah segera menuju ke restoran untuk menemui Edo, tapi saat sampai di sana barang yang dipesan Edo lupa untuk dibawa.
"Ky, ada bawa barang yang pak Doni bilang?"
Zaky menepuk dahinya, baru dia teringat kalau barang itu belum dimasukkan ke mobil tadi. Itulah, gara-gara ke kampus untuk ketemu dosen dulu jadi lupa semuanya, padahal papanya sudah pesan dari tadi malam sebelum berangkat ke Medan.
"Aduh, gue lupa." Pemuda yang sudah duduk di semester akhir itu tampak berpikir lagi, ia tidak punya banyak waktu sekarang.
"Padahal penting banget bro, kan itu bahan untuk pesanan pelanggan hari ini, satu jam lagi chef Rizal mau menyediakan semua pesanan untuk orang penting malam ini." Edo berkata agak kesal.
"Maaf! gue lupa, tadi keburu pergi kuliah, mana Dinar? biar ikut gue pulang ambil barang itu," Zaky memilih solusi membawa staf bernama Dinar untuk pulang bersamanya.
Mata Edo meliar mencari keberadaan Dinar, di meja no 9 Dinar sedang mengambil orderan pelanggan. Edo mengarahkan dagunya kearah Dinar berada.
"Itu di sana." Mereka menunggu beberapa menit, Dinar berjalan ke arah meja catering dan meletakkan kertas orderan, dia menghampiri Edo dan Zaky karena dua pemuda itu memperhatikannya dari tadi. Pasti ada sesuatu yang dibicarakan.
"Ada apa, lihat aku kek mau nelan gitu?"
"Ikut aku pulang, ambil bahan penting di rumah, mau dimasak bentar lagi. Aku tidak banyak waktu, Di." Zaky memberi perintah. Dinar mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa tadi nggak dibawa aja sih, Mas?" Dinar memang gadis yang agak suka membantah, tapi semua temannya suka dengan karakternya yang suka membantu dan baik dengan siapa saja.
"Aku lupa, tadi buru-buru ke kampus ketemu dosen, ngurusi skripsiku, ada diskusi juga dengan grup. Pokoknya sibuk banget akhir-akhir ini." Zaky menjelaskan kesibukannya yang mengalahkan presiden versi dia.
"Udah seperti menteri aja sibuknya." Celetuk Dinar.
"Terus, Dinar kesini lagi naik apa nanti?" Edo mencelah, tangannya sibuk memeriksa beberapa orderan penting hari ini.
"Nanti naik grab kan bisa, aku juga ada pertemuan penting dengan grup praktikal ku. Sorry, tidak bisa kesini lagi."
"Ya udah, kamu ikut saja ya, Di. Nanti pak bos bayarin uang grabnya." Edo memberi titah pada gadis itu.
"Ya harus lah. Bonus juga harus ditambah, secara aku ini terlalu rajin, tidak sama dengan staf lainnya." ujar Dinar percaya diri.
"Sayangnya, bukan aku bosnya, kalau aku yang jadi bos, pasti sudah ku kasih libur kalian seminggu dua kali." Zaky mengangkat-angkat alisnya.
"Eleeeh, itu karena bukan kamu bosnya." Edo mencebikkan bibirnya.
"Iya juga sih, bisa rugi kalau banyak libur. Anak bini makan apa nanti?"
"Nasi dong, masa batu." Sahut Dinar.
"Iya juga, tapi kalau batu permata kan lebih mahal tuh, cakep juga." Ujar Edo.
"Asal jangan batu ginjal aja mas." Celetuk Dinar lagi.
"Hahaha."
Mereka bertiga tertawa bersamaan mendengar ucapan Dinar yang ngawur itu, masa anak bini di kasih makan batu ginjal.
Akhirnya Dinar keluar restoran bersama dengan Zaky Azhar, tanpa mereka sadari ada sepasang mata penuh kebencian menyaksikan itu semua di balik kaca mobil bertint hitam, pria itu mengetapkan gigi penuh amarah. Dahinya berkeringat, AC mobil seolah tidak mampu mendinginkan hati dan jiwanya yang penuh amarah dan dendam membara. 'Jadi kamulah wanita itu. Dasar perempuan murahan. Lihat saja nanti, kalian akan rasakan semua yang kalian lakukan pada adikku.'
Mobil yang dari tadi terparkir di seberang jalan depan restoran mewah yang ramai pengunjung, meluncur dengan kecepatan laju meninggalkan tempat itu. Menandakan pengemudinya sedang dalam keadaan dikuasai amarah.
"Cari tahu tentang gadis dan lelaki ini, aku kirim data dan fotonya sebentar lagi."
Panggilan diakhiri dan dia terus melempar ponselnya di jok sebelah, hatinya kacau, dia sangat marah saat ini, lembaran kenangan beberapa bulan lalu muncul lagi di kepalanya.
"Perempuan itu melabrakku kak, dia mengatakan aku murahan, aku tidak mau hidup lagi, dia meninggalkanku kak, Dia meninggalkanku demi gadis itu. Kak, Fa takut papa marah kalau tahu Fa hamil tanpa suami, dia meninggalkan aku kak, Fa tidak sanggup menanggung ini sendiri. Fa mau mati saja. Fa tidak sanggup lagi menanggung malu ini."
'Aaaaargh, bangsat! sialan! Semua memang tidak berguna.'
Air matanya mengalir tanpa disadari, tangannya bergetar, nafasnya turun naik, lampu isyarat dinyalakan dan mobil itu berhenti di sisi kiri jalan.
Dirham menenangkan dirinya. Bayangan wajah adik kesayangannya muncul bersama deraian air mata, sementara pembunuhnya tersenyum bahagia, 'aku tidak akan melepaskan kalian sampai kapan pun, sampai kalian benar-benar merasakan sakit yang luar biasa yang tidak akan bisa kalian lupa seumur hidup kalian.'
Tekad dalam hatinya akan segera diwujudkan, semua harus terlaksana hidup atau mati tetap harus terbalaskan, dan harus rapi, jangan sampai orang tuanya curiga dan tahu soal ini.
Dirham membersihkan sisa air bening di sudut mata nya. Dia tersenyum kecil, seperti seorang psikopat. Banyak rencana tersusun di kepalanya.
Mendekati gadis itu. Ya, dia akan membalas gadis itu dulu, memang dia belum tahu siapa Assegaff, siapa Dirham Assegaff.
Dirham Assegaff seorang pria tampan berusia dua puluh lima tahun, ada darah Arab dan Itali, anak seorang pengusaha sukses di bidang kontruksi. Memiliki sorot mata tajam bak elang, hidung mancung dan alis mata yang hitam melengkung menambah lagi ketampanannya, jawline yang menjadi kegilaan para gadis di sekitarnya, dan bibir merah menunjukkan dia tidak pernah kenal nikotin.
Teman kencan yang berganti hampir tiap hari tidak ada yang membekas di hatinya, tapi ada seorang gadis yang menarik perhatiannya, Julia nama gadis itu. Temannya saat belajar di luar negeri dulu. Tapi gadis itu bak merpati, menjauh jika didekati. Gadis yang sudah menolaknya waktu mereka sama-sama kuliah di luar negeri.
"Bos, ada berita tentang Julia juga." Suara dari PI(Personal Intelejen) yang dibayarnya terdengar setelah dia menjawab telepon. Dirham berdecak kecil, lain yang diminta lain pula yang dilaporkan.
"Aku tidak butuh info tentang Julia sekarang, cari tahu tentang dua orang yang baru saja aku kirim datanya tadi."
"Baik bos."
Ponsel dilempar di tempat duduk sebelahnya. Mobil kembali meluncur meninggalkan tempat itu.
Rencana yang tersusun rapi di kepalanya harus segera dilaksanakan. Atau ia tidak akan pernah bisa tidur dengan pulas.
"Tunggu kalian! Tunggu saja waktu kalian!"