Isabel mengendarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan di penthouse milik seorang pria yang menolongnya. Entah, siapa nama pria itu, dia sendiri pun tidak tahu. Ingin bertanya, namun tidak berani.
Kaki Isabel melangkah pelan dan hati-hati. Penthouse milik pria yang menolongnya sangatlah mewah dan besar. Segala perabotan tertata begitu rapi sempurna. Desain penataan sangat menyejukan mata.
“Nona?” seorang pelayan melangkah menghampiri Isabel yang melamun di ruang tengah.
“Ah? Iya?” Isabel membuyarkan lamunannya, ketika menyadari ada yang memanggilnya.
Sang pelayan tersenyum sopan. “Nona, Tuan Joseph menunggu Anda di ruang makan.”
“Tuan Joseph?” Isabel terdiam sambil mengerutkan keningnya, menatap bingung sang pelayan.
“Iya, Tuan Joseph, Nona,” balas sang pelayan lagi.
‘Oh, pria yang tadi malam itu namanya Joseph,’ gumam Isabel dalam hati.
“Nona, silakan ke ruang makan yang ada di sebelah kiri,” ujar sang pelayan sopan.
Isabel mengangguk pelan dan melangkah mengikuti sang pelayan yang tengah berjalan menuju ke ruang makan. Pagi itu, Isabel mengenakan mini dress berwarna kuning. Sangat cantik di tubuhnya. Dia mendapatkan dress itu dari pelayan yang memberikannya. Ya, tentu saja dia yakin pasti Joseph yang menyiapkan dress itu.
Joseph yang tengah duduk di kursi meja makan, menatap Isabel yang terbalut oleh dress cantik berwarna kuning. Pria itu tersenyum samar melihat ternyata dress yang dipilihkannya sangat cocok untuk Isabel.
“Duduklah,” titah Joseph tegas.
Perlahan, Isabel mulai duduk di samping Joseph. “T-terima kasih sudah menyiapkan dress ini untukku, Tuan.”
“Joseph. Kau panggil aku Joseph,” balas Joseph dingin. Pria itu kurang menyukai jika dipanggil sebutan ‘Tuan’ oleh Isabel.
Isabel menggigit bibir bawahnya. “T-tapi itu tidak sopan. Sepertinya kau jauh lebih tua dariku.”
Joseph berdecak kesal di kala disebut tua. “Kau pikir aku sudah 40 tahun? Usia kita hanya berbeda sedikit!”
Isabel menatap polos Joseph. “Tahun ini usiaku 21 tahun. Usiamu berapa?”
“30,” jawab Joseph singkat.
Isabel menutup mulutnya dengan jemarinya. “Wah, kau sudah tua.”
Mata Joseph mendelik ketika disebut tua. “Aku ini baru 30, bukan 40 tahun!”
Isabel tersenyum manis. “Iya-iya. Aku hanya bercanda. Kau sangat tampan. Tidak sama sekali terlihat tua.”
Joseph berdeham ketika mendapatkan pujian. Biasanya, dia tidak pernah menggubris ucapan perempuan yang memuji dirinya. Akan tetapi entah kenapa ketika Isabel yang memuji sesuatu senyar aneh menelusup ke dalam dirinya.
“Makanlah! Kau sudah kurus,” tukas Joseph dingin dan tegas.
Isabel mengangguk patuh merespon ucapan Joseph. Selanjutnya, dia mulai menikmati makanan yang terhidang di hadapannya. Dia makan perlahan menikmati makanan lezat itu.
“Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu ke rumahmu,” ucap Joseph datar.
Raut wajah Isabel berubah. “J-jangan!”
Kening Joseph mengerut dalam. “Jangan? Maksudmu?”
Isabel berusaha untuk tenang di tengah-tengah kepanikan dan rasa takutnya. “M-maksudku, aku anak yatim piatu. Aku tidak memiliki siapa pun lagi.”
Joseph terdiam mendengar apa yang Isabel katakan. “Sebelumnya di mana kau tinggal?”
Isabel meremas pelan dress-nya. “Aku hanya seorang gelandangan yang tidak memiliki apa-apa, Joseph. Aku biasa tinggal di jalanan.”
Joseph merasa ada yang janggal saat Isabel mengatakan hanyalah seorang gelandangan. Gelandangan dari mana yang memiliki kulit semulus itu? Kulit, kuku, dan rambut Isabel sangatlah terawat. Jauh dari kata seorang gelandangan.
“Habiskanlah makananmu. Kita bahas ini lagi nanti,” tukas Joseph tegas.
Isabel menganggukkan kepalanya pelan, dan kembali melanjutkan makanannya. Tampak sejak tadi Joseph tak henti menatap Isabel. Pria itu sedikit mencurigai sesuatu, namun dia memutuskan mengenyahkan pikiran yang mengusiknya.
***
Isabel terlelap dalam tidurnya, namun tiba-tiba dia spontan terbangun ketika mendapatkan mimpi buruk. Keringat membanjiri keningnya. Dia menyeka keringatnya, mengambil segelas air putih yang ada di atas meja, dan meminum air putih itu secara perlahan.
Isabel mengatur napasnya dan menatap ke sekitar kamarnya. Dia masih berada di penthouse milik Joseph. Setidaknya sekarang dia lega, karena bisa selamat dari ancaman yang berbahaya.
Isabel melihat ke arah jendela—langit di luar gelap tidak ada bulan dan bintang yang biasanya sebagai penghias langit yang megah. Akan tetapi, sedari tadi hujan pun tidak turun. Itu menandakan hanya langit yang mendung.
Isabel menyibak selimut, turun dari ranjang. Dalam hati, gadis itu bergumam pelan ingin berjalan-jalan sebentar. Mimpi buruk membuat perasaannya gelisah dan campur aduk. Dia berjalan-jalan demi menghilangkan perasaan khawatir.
Lampu ruang tengah masih menyala, sedangkan beberapa lampu lain dalam keadaan mati. Isabel merasa beruntung karena tidak semua lampu dimatikan. Setidaknya, dia tidak akan merasa takut kalau lampu dalam keadaan menyala.
Tanpa sengaja, tatapan Isabel teralih pada sebuah kamar di sisi kanan yang sedikit terbuka. Awalnya, Isabel tidak ingin memedulikan kamar itu, namun terdengar suara berisik membuat rasa penasaran ingin tahu dalam dirinya bertambah.
Isabel memutuskan untuk melangkah menuju ke ruang tersebut. Namun, seketika mata Isabel melebar terkejut melihat adegan di mana dua insan tengah melakukan kegiatas panas.
“Ah, faster, Honey.”
“Ah …!”
Kegiatan panas itu sempat terhenti di kala Joseph menyadari Isabel berdiri di ambang pintu dalam keadaan bibir yang menganga. Decakan lolos di bibir Joseph ketika ada yang mengganggu kesenangannya.
Joseph menghentikan kegiatan panas itu merapikan kembali pakaiannya dan melempar cek tunai ke wajah jalang yang dia bayar. “Pergilah. Itu bayaranmu.”
Wanita itu sedikit kesal karena Joseph menghentikan permainan. “Tapi kita belum selesai.”
“Apa kau tuli? Aku bilang pergi!” seru Joseph menekankan.
Wanita itu merapikan pakaiannya dan menyambar cek tunai pemberian dari Joseph, melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Namun, di ambang pintu saat wanita itu melihat Isabel, dengan sengaja dia menabrak bahu Isabel hingga membuat Isabel meringis.
Isabel menutup kedua matanya dengan telapak tangannya sendiri. Dia tak berani membuka mata. Rasa takut menyelimutinya, ditambah bahunya ditabrak dengan sengaja oleh seseorang. Itu membuat tubuhnya gemetar ketakutan.
“Buka matamu.” Joseph menghampiri Isabel.
Isabel menggeleng cepat. “T-tidak. A-aku akan menutup mataku dan kembali ke kamarku. Maafkan aku, Joseph.”
Buru-buru, Isabel berbalik dan hendak pergi namun karena kondisi mata tertutup—dia pun terbentur pintu dan nyaris terjatuh. Refleks, Joseph menangkap tubuh Isabel yang nyaris terjatuh itu.
Isabel menjerit terkejut ketika hampir terjatuh. Akan tetapi, dia merasakan ada tangan kokoh yang memeluk dirinya. “J-Joseph, l-lepaskan—”
“Buka matamu,” titah Joseph yang tak ingin dibantah.
Perlahan-lahan mata Isabel terbuka, menatap sepasang iris mata hazel Joseph. Dalam sekejab, dia dan Joseph saling melemparkan tatapan penuh makna dalam. Tatapan mereka seakan memiliki magnet kuat untuk tarik menarik. Mereka sama-sama seolah tenggelam akan tatapan yang mereka ciptakan.
“J-Joseph, a-aku…” Lidah Isabel seakan kelu, tidak mampu untuk mengukir kata. Posisinya saat ini begitu intim dan dekat pada Joseph.
Joseph menarik dagu Isabel, mendekatkan bibirnya ke bibir ranum gadis itu dengan tatapan yang masih saling mengunci. “Biasakan untuk mengetuk sebelum kau masuk ke dalam ruangan. Kegiatanku tadi harus terganggu karena ada kau. Ah, atau kau ingin menggantikan wanita tadi, hm?” bisiknya serak.
Isabel menelan saliva-nya dengan wajah memucat ketakutan mendengar ucapan Joseph.
Napas Isabel seakan sesak akibat dipenuhi dengan kata-kata Joseph. Bulu kuduknya sampai merinding ketakutan. Untungnya, dia dilepaskan dan dibiarkan untuk kembali ke kamar sekarang ini.
“Ya Tuhan, kenapa aku bodoh sekali?” Isabel menepuk keningnya, merutuki kebodohannya yang langsung masuk kamar, tanpa sama sekali mengetuk pintu.
Isabel mondar-mandir tidak jelas di dalam kamarnya. Sungguh, dia tidak menyangka kalau akan melihat adegan seperti tadi. Seumur hidup, dia belum pernah melihat adegan seperti itu.
Isabel menghempas tubuhnya ke ranjang dan meraih bantal untuk menutupi wajahnya. Perasaan malu, takut, semuanya campur aduk. Yang dia sesali adalah dirinya harus melihat adegan seperti tadi. Andai saja rasa penasarannya tidak tinggi, pasti dia tidak akan melihat adegan itu.
Isabel memaksakan diri untuk memejamkan mata. Meskipun tidak lagi mengantuk, tapi tidak masalah. Yang penting dia memaksa diri untuk tidur, agar esok hari dirinya bisa tenang berhadapan dengan Joseph.
Sinar matahari begitu tinggi. Berawal dari Isabel yang tidak bisa tidur, dan berakhir dengan dia menjadi bangun tidur terlambat. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan dia baru saja membuka kedua matanya.
“Astaga!” Isabel sampai menjerit terkejut melihat waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dia sama sekali tidak mengira kalau akan bangun sampai sesiang ini. Padahal tadi malam dia tak bisa tidur.
Isabel segera melompat dari tempat tidur dan berlari masuk ke dalam kamar mandi. Sungguh, dia benar-benar tidak enak bangun terlambat. Bagaimanapun dirinya masih menumpang tinggal di penthouse Joseph.
Lima belas menit kemudian, Isabel bergegas keluar dari kamar. Dia memutuskan ingin membantu pelayan untuk membersih-bersihkan penthouse milik Joseph. Setidaknya dia harus melakukan sesuatu sebagai bentu terima kasih.
“Nona, apa yang Anda lakukan?” seorang pelayan terkejut di kala Isabel membersihkan meja.
Isabel menggigit bibir bawahnya pelan. “A-aku ingin membantumu.”
Sang pelayan tersenyum sopan. “Tidak usah, Nona. Saya bisa melakukan tugas saya. Lebih baik, Anda menemui Tuan Joseph. Beliau tadi berpesan kalau Anda sudah bangun, untuk menyusul beliau di kolam renang.”
“Joseph di kolam renang?” ulang Isabel memastikan.
Sang pelayan mengangguk. “Iya, Nona. Tuan Joseph ada di kolam renang.”
“Baiklah, aku akan ke sana.” Perlahan, Isabel melangkah pergi meninggalkan sang pelayan—dan menuju ke kolam renang. Debar jantungnya berpacu kencang seakan ingin berhenti berdetak. Dia bingung, malu, dan cemas jika bertemu dengan Joseph.
Byurrr
Joseph melompat ke kolam renang tepat di kala Isabel datang. Gadis itu tidak berani beranjak mendekat ke kolam. Yang dilakukannya hanya memainkan kuku sambil menggigit bibir bawahnya.
Joseph muncul di permukaan, menatap Isabel berdiri cukup jauh dari tepi kolam. Dia berenang hingga ke tepi dan berkata, “Mendekatlah.”
“Aku?” Isabel menunjuk dirinya sendiri.
Joseph berdecak. “Memangnya ada siapa lagi selain dirmu?”
“Eh, i-iya.” Buru-buru, Isabel mendekat ke tepi kolam. “Aku minta maaf hari ini bangun terlambat.”
“Sepertinya apa yang terjadi tadi malam, membuat tidurmu terlalu nyenyak sampai bangun terlambat,” balas Joseph dingin dan datar.
“Eh?” Baru saja Isabel memekik bingung, tiba-tiba kakinya sudah ditarik oleh Joseph, hingga membuat tubuhnya tercebur di kolam renang.
Byurrr
Isabel gelagapan di kala tercebur di kolam renang. Dia berusaha meraih apa pun agar bisa muncul di permukaan. Joseph yang melihat Isabel gelagapan panik—langsung meraih tubuh gadis itu dan memeluknya erat.
“J-Joseph—”
“Kau itu lemah sekali!” seru Joseph jengkel.
Tubuh Isabel menggigil kedinginan. Gadis itu memegang bahu Joseph. “A-aku tidak bisa berenang, Joseph.”
“Kau tidak bisa berenang?” Manik mata hazel Joseph, menatap manik mata hijau Isabel.
Isabel mengangguk. “Iya, aku tidak bisa berenang.”
Joseph mengembuskan napas kasar. “Apa sebenarnya kebisaanmu? Aku lihat fisikmu ini terlalu lemah dan kau ceroboh.”
Isabel menggigit bibir bawahnya.
Joseph tersenyum samar. “Jangan katakan padaku, kalau kebisaan yang kau lakukan hanya menggigit bibirmu?”
Mendengar ucapan Joseph, membuat Isabel tidak lagi menggigit bibirnya. “J-Joseph, maafkan aku.”
“Kau minta maaf untuk kesalahanmu yang mana?”
“Untuk kecerobohanku, dan untuk tadi malam.”
“Menurutmu hanya minta maaf saja cukup?”
Isabel menunduk tak berani menatap Joseph.
“Angkat dagumu ketika bicara dengan seseorang, Isabel,” titah Joseph tegas.
Isabel memberanikan diri mengangkat dagunya, menatap Joseph. “Joseph, aku benar-benar minta maaf. Harusnya aku juga tahu diri karena sudah kau berikan tumpangan tinggal sementara di penthouse-mu. Hm, apa kau berkenan aku menjadi salah satu pelayanmu? Aku akan membantu membersihkan penthouse-mu. Aku juga bisa memasak. Meski masakanku tidak terlalu hebat, tapi aku akan belajar lebih rajin lagi.”
Joseph terdiam sebentar mendengar apa yang Isabel katakan. Banyak pertanyaan yang muncul di dalam benaknya, namun pria itu memilih untuk mengabaikan segala hal yang ada di kepalanya. Dia memilih untuk fokus pada satu hal saja.
“Pelayanku sudah banyak di sini. Aku tidak membutuhkan pelayan lagi,” tukas Joseph dingin.
Isabel menggigit kembali bibir bawahnya. “Kau tidak usah membayarku, Joseph. Aku hanya ingin berterima kasih saja padamu. Bagaimanapun, aku berhutang budi padamu.”
Jika bukan karena Joseph menampung Isabel, entah bagaimana nasibnya. Dia hanya sebantang kara. Tidak memiliki siapa pun. Hal itu yang membuat Isabel ingin menjadi pelayan di penthouse Joseph.
Joseph terdiam belum menjawab apa yang Isabel katakan. Rupanya gadis itu tahu berbalas budi. Namun, sayangnya Joseph tidak tertarik untuk menjadikan Isabel sebagai salah satu pelayan yang bekerja di penthouse-nya.
“Jadi kau ingin balas budi padaku?” Joseph menarik dagu Isabel, mendekatkan bibirnya ke bibir Isabel
“I-iya.” Isabel menelan saliva-nya susah payah. Hanya satu kali gerakan bibirnya saja sudah pasti bibirnya akan menempel ke bibir Joseph. Sungguh, ini benar-benar moment yang ambigu. Bahkan seluruh tubuh Isabel seakan lumpuh, tidak mampu berkutik sama sekali.
Napas Isabel tercekat ketika embusan napas Joseph menerpa kulit di atas bibirnya. Ujung hidung Joseph sudah menyenggol ujung hidung Isabel. Rasanya Isabel ingin pingsan ketika dalam keadaan intim dengan Joseph.
Sudut bibir Joseph membentuk senyuman tipis melihat Isabel yang gugup. “Balas budi padaku sangatlah mudah, dan aku yakin kau bisa melakukan itu.”
Mata Isabel mengerjap beberapa kali. Sekujur tubuhnya merinding. Air kolam yang dingin semakin membuat bulu kuduk Isabel berdiri. Posisi tangan Isabel tadi memegang bahu Joseph, menjadi melingkar di leher Joseph.
“A-apa yang harus aku lakukan, Joseph?” tanya Isabel dengan suara tercekat ketakutan. Seluruh organ dalam tubuhnya seakan meronta di dekat Joseph. Ini benar-benar membuatnya menjadi tidak nyaman. Jantung yang berdebar terlalu kencang, membuat sekujur tubuhnya melemas.
Joseph mendekatkan bibirnya ke telinga Isabel seraya berbisik serak, “Relaks, Isabel. Jangan tegang. Aku akan memberi tahumu nanti. Yang pasti sesuatu hal yang mudah agar kau bisa melakukannya dengan mudah.”