Murcia, Spain.
“Tolong!” Seorang gadis berlari di lorong gelap di bawah derasnya hujan yang membasahi kota Murcia. Dinginnya malam begitu menusuk, namun nyatanya tidak membuat gadis itu menggigil kedinginan.
Hujan turun begitu deras, tapi rasa takut tidak ada sedikit pun pada gadis itu. Dia jauh lebih takut pada dua pria berbadan besar yang mengejarnya. Cipratan air hujan yang ada di tanah mengenai long dress berwarna putih yang dikenakan gadis itu.
Kotor. Tidak ada yang bisa lagi digambarkan. Gadis berparas cantik dan berambut merah itu mengenakan long dress berwarna putih yang sudah terkena noda cipratan air hujan yang bercampur dengan tanah di bawah.
Dorrr …
Suara tembakan yang dilayangkan ke udara menggertak gadis itu untuk berhenti berlari, karena sejatinya dua pria berbadan besar itu masih memberikan sedikit kelonggaran pada gadis itu. Mereka sengaja menggertak agar gadis itu berhenti berlari.
Samar-samar suara isak tangis terdengar bercampur dengan guyuran air hujan. Gadis itu berlari sekencang mungkin menghindari dua pria berbadan besar yang mengejarnya.
“Berhenti!” Suara lantang dari salah satu pria berbadan besar, meminta gadis itu untuk berhenti. Namun, gadis itu nyatanya tak menyerah. Dia berlari menghindar. Derasnya hujan, tak kunjung membuatnya menyerah.
“Ck! Kita tangkap saja dia! Kesabaranku sudah habis!” Salah satu pria berbadan besar, meminta temannya untuk menangkap gadis itu.
Anggukan kepala direspon. Tampak wajah gadis itu sudah memucat. Dia tahu bahwa dua pria yang mengejarnya berdiri di belakangnya tidak terlalu jauh darinya. Sekalipun dia sudah berlari kencang tidak akan sanggup bisa bebas dari kejaran dua pria berbadan besar itu.
Napas gadis itu terengah-engah. Pandangannya sudah mulai buram akibat kelelahan dan dingin yang menusuk seluruh tubuhnya membuat seluruh energy-nya habis. Langkah larinya pun mulai sedikit melambat. Hingga tiba-tiba sebuah mobil sport berwarna hitam muncul dan tak sengaja menabrak gadis itu.
Brakkk
Tubuh gadis itu tertabrak mobil sport bewarna hitam yang melaju cukup kencang di kota Murcia. Untungnya sang pemilik mobil mampu melakukan rem secara mendadak. Jika saja tidak, maka sudah pasti tubuh gadis itu terpental cukup jauh.
Kejadian tabrakan itu, membuat dua pria berbadan besar yang mengejar gadis cantik itu, terpaksa harus berhenti mengejar. Bahkan mereka terpaksa harus bersembunyi agar tidak ketahuan.
Seorang pria tampan bertubuh gagah turun dari mobil dan menghampiri gadis itu. Tepat di kala pria tampan itu turun dari mobil—asistennya juga turun dari mobil belakang menghampiri pria tampan itu.
“Tuan Joseph, Anda baik-baik saja?” sang asisten khawatir kalau Tuannya mengalami luka.
Pria tampan bernama Joseph itu mengembuskan napas kasar. “Kau lihat sendiri, aku baik-baik saja atau tidak?!” Alih-alih menjawab, malah Joseph membalikkan ucapan sang asisten.
Sang asisten menggaruk kepalanya tidak gatal. Lalu, tatapannya tak sengaja menatap seorang gadis cantik sudah terbaring lemah di tanah. “T-Tuan, A-Anda—”
“Aku tahu aku menabrak gadis ceroboh ini, tapi itu bukan salahku sepenuhnya. Dia berlari ke arah mobilku. Itu sama saja dengan dia menabrakan dirinya ke mobilku.” Joseph mendengkus kesal, memberikan penjelasan.
Sang asisten menatap serius Joseph. “Tuan, hari ini Anda sudah diminta kembali ke New York oleh ayah Anda. Biarkan saya yang mengurus gadis itu. Saya akan membawanya ke rumah sakit dan memberikan uang sebagai bentuk ganti rugi.”
Joseph menundukkan tubuhnya, menatap gadis cantik yang pingsan akibat tertabrak olehnya. Dia menatap lekat dan dalam gadis cantik yang memiliki rambut panjang dan warna merah. Adanya freckles di wajah putih gadis itu—membuatnya cukup menarik di mata Joseph.
“Biar aku yang mengurusnya.” Joseph langsung membopong tubuh mungil gadis itu gaya bridal—dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
“Tuan, tapi ayah Anda—” Sang asisten tidak lagi bisa melanjutkan ucapannya, karena sekarang Joseph sudah melajukan mobil. Dengan terpaksa, sang asisten masuk kembali ke dalam mobilnya sendiri—dan berbalik arah kembali ke apartemen yang dia tempati selama di kota Murcia.
“Bagaimana ini? Yang Mulia akan murka pada kita,” seru salah satu pria berbadan besar yang telah keluar dari tempat persembunyiannya.
Pria berbadan besar lainnya berdecak. “Sudahlah, kita pikirkan nanti. Lebih baik kita temui Yang Mulia sekarang.”
***
Sayup-sayup mata gadis cantik berambut merah mulai terbuka. Pandangannya mulai menjadi nyata, tidak lagi buram. Akan tetapi, ketika matanya sudah terbuka—tatapannya menatap terkejut melihat dirinya berada di sebuah kamar asing—dan juga ada sosok pria yang berdiri di hadapannya sambil melayangkan tatapan dingin.
“K-kau … a-apa kau ingin membunuhku?” Gadis itu beringsut mundur hingga membuat tubuhnya terbentur ke kepala ranjang.
Joseph berdecak kesal. “Dokter memeriksa kau tidak memiliki luka dalam. Tapi kenapa otakmu berpikir konyol!”
“D-Dokter?” Mata gadis itu melebar. “A-aku diperiksa dokter?”
Joseph berusaha bersabar. “Nona rambut merah, kau menabrakan dirimu ke mobilku hingga membuatmu terluka. Aku membawamu ke penthouse-ku sebagai bentuk tanggung jawab, meski kau yang salah. Dan … ya, aku memanggilkan dokter untuk memeriksa luka di tubuhmu.”
Gadis cantik itu menelan saliva-nya berat. Kepingan memorinya langsung mengingat tentang apa yang terjadi padanya. Buru-buru dia melihat tubuhnya sendiri—menatap dress yang dia kenakan sudah tidak lagi sama. Detik itu juga raut wajahnya berubah menjadi panik.
Joseph mendengkus kasar. “Aku tidak berniat memerkosa seorang gadis pingsan. Singkirkan pikiran konyolmu! Pelayanku yang sudah menggantikan pakaianmu.”
Gadis cantik itu lega mendengar ucapan Joseph. Kejadian tabrakan tadi sama saja telah membantunya selamat dari hal buruk. Entah, bagaimana nasibnya sekarang kalau dirinya tidak tertabrak mobil.
“Kenapa kau menabrakan tubuhmu ke mobilku? Apa kau bosan hidup?” seru Joseph menahan jengkel.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya. “A-aku minta maaf. A-aku tidak melihat jalan dengan baik. Maafkan aku, Tuan.” Dia menundukkan kepalanya ke hadapan Joseph.
Joseph melangkah mendekat, menatap dingin dan lekat gadis berambut merah itu. “Siapa namamu?” tanyanya dingin.
Gadis itu masih belum bersuara di kala Joseph menanyakan namanya. Dia tetap menundukkan kepalanya tidak berani melihat Joseph.
“Angkat kepalamu. Aku sedang berbicara denganmu,” ucap Joseph dingin.
Sayangnya, gadis itu masih menundukkan kepalanya tidak berani menatap Joseph.
Joseph menjadi kesal. Dia langsung menarik dagu gadis itu menggunakan jemarinya, dan memberikan tatapan dingin pada gadis itu. “Siapa namamu?”
Gadis itu kembali menggigit bibir bawahnya. “I-Isabel … namaku Isabel, Tuan.”
Joseph tak henti menatap sepasang iris mata hijau, rambut panjang warna merah, dan freckles yang ada pada gadis itu. Belum ada kata yang terucapkan, dia masih tenggelam akan pemandangan yang ada di hadapannya. Manik mata hijau dipadukan dengan rambut merah adalah sangat jarang dia temui.
“Apa nama keluargamu?” tanya Joseph lagi.
Gadis bernama Isabel menggeleng lemah. “Aku tidak memiliki keluarga. Namaku Isabel saja, Tuan.”
Isabel mengendarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan di penthouse milik seorang pria yang menolongnya. Entah, siapa nama pria itu, dia sendiri pun tidak tahu. Ingin bertanya, namun tidak berani.
Kaki Isabel melangkah pelan dan hati-hati. Penthouse milik pria yang menolongnya sangatlah mewah dan besar. Segala perabotan tertata begitu rapi sempurna. Desain penataan sangat menyejukan mata.
“Nona?” seorang pelayan melangkah menghampiri Isabel yang melamun di ruang tengah.
“Ah? Iya?” Isabel membuyarkan lamunannya, ketika menyadari ada yang memanggilnya.
Sang pelayan tersenyum sopan. “Nona, Tuan Joseph menunggu Anda di ruang makan.”
“Tuan Joseph?” Isabel terdiam sambil mengerutkan keningnya, menatap bingung sang pelayan.
“Iya, Tuan Joseph, Nona,” balas sang pelayan lagi.
‘Oh, pria yang tadi malam itu namanya Joseph,’ gumam Isabel dalam hati.
“Nona, silakan ke ruang makan yang ada di sebelah kiri,” ujar sang pelayan sopan.
Isabel mengangguk pelan dan melangkah mengikuti sang pelayan yang tengah berjalan menuju ke ruang makan. Pagi itu, Isabel mengenakan mini dress berwarna kuning. Sangat cantik di tubuhnya. Dia mendapatkan dress itu dari pelayan yang memberikannya. Ya, tentu saja dia yakin pasti Joseph yang menyiapkan dress itu.
Joseph yang tengah duduk di kursi meja makan, menatap Isabel yang terbalut oleh dress cantik berwarna kuning. Pria itu tersenyum samar melihat ternyata dress yang dipilihkannya sangat cocok untuk Isabel.
“Duduklah,” titah Joseph tegas.
Perlahan, Isabel mulai duduk di samping Joseph. “T-terima kasih sudah menyiapkan dress ini untukku, Tuan.”
“Joseph. Kau panggil aku Joseph,” balas Joseph dingin. Pria itu kurang menyukai jika dipanggil sebutan ‘Tuan’ oleh Isabel.
Isabel menggigit bibir bawahnya. “T-tapi itu tidak sopan. Sepertinya kau jauh lebih tua dariku.”
Joseph berdecak kesal di kala disebut tua. “Kau pikir aku sudah 40 tahun? Usia kita hanya berbeda sedikit!”
Isabel menatap polos Joseph. “Tahun ini usiaku 21 tahun. Usiamu berapa?”
“30,” jawab Joseph singkat.
Isabel menutup mulutnya dengan jemarinya. “Wah, kau sudah tua.”
Mata Joseph mendelik ketika disebut tua. “Aku ini baru 30, bukan 40 tahun!”
Isabel tersenyum manis. “Iya-iya. Aku hanya bercanda. Kau sangat tampan. Tidak sama sekali terlihat tua.”
Joseph berdeham ketika mendapatkan pujian. Biasanya, dia tidak pernah menggubris ucapan perempuan yang memuji dirinya. Akan tetapi entah kenapa ketika Isabel yang memuji sesuatu senyar aneh menelusup ke dalam dirinya.
“Makanlah! Kau sudah kurus,” tukas Joseph dingin dan tegas.
Isabel mengangguk patuh merespon ucapan Joseph. Selanjutnya, dia mulai menikmati makanan yang terhidang di hadapannya. Dia makan perlahan menikmati makanan lezat itu.
“Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu ke rumahmu,” ucap Joseph datar.
Raut wajah Isabel berubah. “J-jangan!”
Kening Joseph mengerut dalam. “Jangan? Maksudmu?”
Isabel berusaha untuk tenang di tengah-tengah kepanikan dan rasa takutnya. “M-maksudku, aku anak yatim piatu. Aku tidak memiliki siapa pun lagi.”
Joseph terdiam mendengar apa yang Isabel katakan. “Sebelumnya di mana kau tinggal?”
Isabel meremas pelan dress-nya. “Aku hanya seorang gelandangan yang tidak memiliki apa-apa, Joseph. Aku biasa tinggal di jalanan.”
Joseph merasa ada yang janggal saat Isabel mengatakan hanyalah seorang gelandangan. Gelandangan dari mana yang memiliki kulit semulus itu? Kulit, kuku, dan rambut Isabel sangatlah terawat. Jauh dari kata seorang gelandangan.
“Habiskanlah makananmu. Kita bahas ini lagi nanti,” tukas Joseph tegas.
Isabel menganggukkan kepalanya pelan, dan kembali melanjutkan makanannya. Tampak sejak tadi Joseph tak henti menatap Isabel. Pria itu sedikit mencurigai sesuatu, namun dia memutuskan mengenyahkan pikiran yang mengusiknya.
***
Isabel terlelap dalam tidurnya, namun tiba-tiba dia spontan terbangun ketika mendapatkan mimpi buruk. Keringat membanjiri keningnya. Dia menyeka keringatnya, mengambil segelas air putih yang ada di atas meja, dan meminum air putih itu secara perlahan.
Isabel mengatur napasnya dan menatap ke sekitar kamarnya. Dia masih berada di penthouse milik Joseph. Setidaknya sekarang dia lega, karena bisa selamat dari ancaman yang berbahaya.
Isabel melihat ke arah jendela—langit di luar gelap tidak ada bulan dan bintang yang biasanya sebagai penghias langit yang megah. Akan tetapi, sedari tadi hujan pun tidak turun. Itu menandakan hanya langit yang mendung.
Isabel menyibak selimut, turun dari ranjang. Dalam hati, gadis itu bergumam pelan ingin berjalan-jalan sebentar. Mimpi buruk membuat perasaannya gelisah dan campur aduk. Dia berjalan-jalan demi menghilangkan perasaan khawatir.
Lampu ruang tengah masih menyala, sedangkan beberapa lampu lain dalam keadaan mati. Isabel merasa beruntung karena tidak semua lampu dimatikan. Setidaknya, dia tidak akan merasa takut kalau lampu dalam keadaan menyala.
Tanpa sengaja, tatapan Isabel teralih pada sebuah kamar di sisi kanan yang sedikit terbuka. Awalnya, Isabel tidak ingin memedulikan kamar itu, namun terdengar suara berisik membuat rasa penasaran ingin tahu dalam dirinya bertambah.
Isabel memutuskan untuk melangkah menuju ke ruang tersebut. Namun, seketika mata Isabel melebar terkejut melihat adegan di mana dua insan tengah melakukan kegiatas panas.
“Ah, faster, Honey.”
“Ah …!”
Kegiatan panas itu sempat terhenti di kala Joseph menyadari Isabel berdiri di ambang pintu dalam keadaan bibir yang menganga. Decakan lolos di bibir Joseph ketika ada yang mengganggu kesenangannya.
Joseph menghentikan kegiatan panas itu merapikan kembali pakaiannya dan melempar cek tunai ke wajah jalang yang dia bayar. “Pergilah. Itu bayaranmu.”
Wanita itu sedikit kesal karena Joseph menghentikan permainan. “Tapi kita belum selesai.”
“Apa kau tuli? Aku bilang pergi!” seru Joseph menekankan.
Wanita itu merapikan pakaiannya dan menyambar cek tunai pemberian dari Joseph, melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Namun, di ambang pintu saat wanita itu melihat Isabel, dengan sengaja dia menabrak bahu Isabel hingga membuat Isabel meringis.
Isabel menutup kedua matanya dengan telapak tangannya sendiri. Dia tak berani membuka mata. Rasa takut menyelimutinya, ditambah bahunya ditabrak dengan sengaja oleh seseorang. Itu membuat tubuhnya gemetar ketakutan.
“Buka matamu.” Joseph menghampiri Isabel.
Isabel menggeleng cepat. “T-tidak. A-aku akan menutup mataku dan kembali ke kamarku. Maafkan aku, Joseph.”
Buru-buru, Isabel berbalik dan hendak pergi namun karena kondisi mata tertutup—dia pun terbentur pintu dan nyaris terjatuh. Refleks, Joseph menangkap tubuh Isabel yang nyaris terjatuh itu.
Isabel menjerit terkejut ketika hampir terjatuh. Akan tetapi, dia merasakan ada tangan kokoh yang memeluk dirinya. “J-Joseph, l-lepaskan—”
“Buka matamu,” titah Joseph yang tak ingin dibantah.
Perlahan-lahan mata Isabel terbuka, menatap sepasang iris mata hazel Joseph. Dalam sekejab, dia dan Joseph saling melemparkan tatapan penuh makna dalam. Tatapan mereka seakan memiliki magnet kuat untuk tarik menarik. Mereka sama-sama seolah tenggelam akan tatapan yang mereka ciptakan.
“J-Joseph, a-aku…” Lidah Isabel seakan kelu, tidak mampu untuk mengukir kata. Posisinya saat ini begitu intim dan dekat pada Joseph.
Joseph menarik dagu Isabel, mendekatkan bibirnya ke bibir ranum gadis itu dengan tatapan yang masih saling mengunci. “Biasakan untuk mengetuk sebelum kau masuk ke dalam ruangan. Kegiatanku tadi harus terganggu karena ada kau. Ah, atau kau ingin menggantikan wanita tadi, hm?” bisiknya serak.
Isabel menelan saliva-nya dengan wajah memucat ketakutan mendengar ucapan Joseph.
Napas Isabel seakan sesak akibat dipenuhi dengan kata-kata Joseph. Bulu kuduknya sampai merinding ketakutan. Untungnya, dia dilepaskan dan dibiarkan untuk kembali ke kamar sekarang ini.
“Ya Tuhan, kenapa aku bodoh sekali?” Isabel menepuk keningnya, merutuki kebodohannya yang langsung masuk kamar, tanpa sama sekali mengetuk pintu.
Isabel mondar-mandir tidak jelas di dalam kamarnya. Sungguh, dia tidak menyangka kalau akan melihat adegan seperti tadi. Seumur hidup, dia belum pernah melihat adegan seperti itu.
Isabel menghempas tubuhnya ke ranjang dan meraih bantal untuk menutupi wajahnya. Perasaan malu, takut, semuanya campur aduk. Yang dia sesali adalah dirinya harus melihat adegan seperti tadi. Andai saja rasa penasarannya tidak tinggi, pasti dia tidak akan melihat adegan itu.
Isabel memaksakan diri untuk memejamkan mata. Meskipun tidak lagi mengantuk, tapi tidak masalah. Yang penting dia memaksa diri untuk tidur, agar esok hari dirinya bisa tenang berhadapan dengan Joseph.
Sinar matahari begitu tinggi. Berawal dari Isabel yang tidak bisa tidur, dan berakhir dengan dia menjadi bangun tidur terlambat. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan dia baru saja membuka kedua matanya.
“Astaga!” Isabel sampai menjerit terkejut melihat waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dia sama sekali tidak mengira kalau akan bangun sampai sesiang ini. Padahal tadi malam dia tak bisa tidur.
Isabel segera melompat dari tempat tidur dan berlari masuk ke dalam kamar mandi. Sungguh, dia benar-benar tidak enak bangun terlambat. Bagaimanapun dirinya masih menumpang tinggal di penthouse Joseph.
Lima belas menit kemudian, Isabel bergegas keluar dari kamar. Dia memutuskan ingin membantu pelayan untuk membersih-bersihkan penthouse milik Joseph. Setidaknya dia harus melakukan sesuatu sebagai bentu terima kasih.
“Nona, apa yang Anda lakukan?” seorang pelayan terkejut di kala Isabel membersihkan meja.
Isabel menggigit bibir bawahnya pelan. “A-aku ingin membantumu.”
Sang pelayan tersenyum sopan. “Tidak usah, Nona. Saya bisa melakukan tugas saya. Lebih baik, Anda menemui Tuan Joseph. Beliau tadi berpesan kalau Anda sudah bangun, untuk menyusul beliau di kolam renang.”
“Joseph di kolam renang?” ulang Isabel memastikan.
Sang pelayan mengangguk. “Iya, Nona. Tuan Joseph ada di kolam renang.”
“Baiklah, aku akan ke sana.” Perlahan, Isabel melangkah pergi meninggalkan sang pelayan—dan menuju ke kolam renang. Debar jantungnya berpacu kencang seakan ingin berhenti berdetak. Dia bingung, malu, dan cemas jika bertemu dengan Joseph.
Byurrr
Joseph melompat ke kolam renang tepat di kala Isabel datang. Gadis itu tidak berani beranjak mendekat ke kolam. Yang dilakukannya hanya memainkan kuku sambil menggigit bibir bawahnya.
Joseph muncul di permukaan, menatap Isabel berdiri cukup jauh dari tepi kolam. Dia berenang hingga ke tepi dan berkata, “Mendekatlah.”
“Aku?” Isabel menunjuk dirinya sendiri.
Joseph berdecak. “Memangnya ada siapa lagi selain dirmu?”
“Eh, i-iya.” Buru-buru, Isabel mendekat ke tepi kolam. “Aku minta maaf hari ini bangun terlambat.”
“Sepertinya apa yang terjadi tadi malam, membuat tidurmu terlalu nyenyak sampai bangun terlambat,” balas Joseph dingin dan datar.
“Eh?” Baru saja Isabel memekik bingung, tiba-tiba kakinya sudah ditarik oleh Joseph, hingga membuat tubuhnya tercebur di kolam renang.
Byurrr
Isabel gelagapan di kala tercebur di kolam renang. Dia berusaha meraih apa pun agar bisa muncul di permukaan. Joseph yang melihat Isabel gelagapan panik—langsung meraih tubuh gadis itu dan memeluknya erat.
“J-Joseph—”
“Kau itu lemah sekali!” seru Joseph jengkel.
Tubuh Isabel menggigil kedinginan. Gadis itu memegang bahu Joseph. “A-aku tidak bisa berenang, Joseph.”
“Kau tidak bisa berenang?” Manik mata hazel Joseph, menatap manik mata hijau Isabel.
Isabel mengangguk. “Iya, aku tidak bisa berenang.”
Joseph mengembuskan napas kasar. “Apa sebenarnya kebisaanmu? Aku lihat fisikmu ini terlalu lemah dan kau ceroboh.”
Isabel menggigit bibir bawahnya.
Joseph tersenyum samar. “Jangan katakan padaku, kalau kebisaan yang kau lakukan hanya menggigit bibirmu?”
Mendengar ucapan Joseph, membuat Isabel tidak lagi menggigit bibirnya. “J-Joseph, maafkan aku.”
“Kau minta maaf untuk kesalahanmu yang mana?”
“Untuk kecerobohanku, dan untuk tadi malam.”
“Menurutmu hanya minta maaf saja cukup?”
Isabel menunduk tak berani menatap Joseph.
“Angkat dagumu ketika bicara dengan seseorang, Isabel,” titah Joseph tegas.
Isabel memberanikan diri mengangkat dagunya, menatap Joseph. “Joseph, aku benar-benar minta maaf. Harusnya aku juga tahu diri karena sudah kau berikan tumpangan tinggal sementara di penthouse-mu. Hm, apa kau berkenan aku menjadi salah satu pelayanmu? Aku akan membantu membersihkan penthouse-mu. Aku juga bisa memasak. Meski masakanku tidak terlalu hebat, tapi aku akan belajar lebih rajin lagi.”
Joseph terdiam sebentar mendengar apa yang Isabel katakan. Banyak pertanyaan yang muncul di dalam benaknya, namun pria itu memilih untuk mengabaikan segala hal yang ada di kepalanya. Dia memilih untuk fokus pada satu hal saja.
“Pelayanku sudah banyak di sini. Aku tidak membutuhkan pelayan lagi,” tukas Joseph dingin.
Isabel menggigit kembali bibir bawahnya. “Kau tidak usah membayarku, Joseph. Aku hanya ingin berterima kasih saja padamu. Bagaimanapun, aku berhutang budi padamu.”
Jika bukan karena Joseph menampung Isabel, entah bagaimana nasibnya. Dia hanya sebantang kara. Tidak memiliki siapa pun. Hal itu yang membuat Isabel ingin menjadi pelayan di penthouse Joseph.
Joseph terdiam belum menjawab apa yang Isabel katakan. Rupanya gadis itu tahu berbalas budi. Namun, sayangnya Joseph tidak tertarik untuk menjadikan Isabel sebagai salah satu pelayan yang bekerja di penthouse-nya.
“Jadi kau ingin balas budi padaku?” Joseph menarik dagu Isabel, mendekatkan bibirnya ke bibir Isabel
“I-iya.” Isabel menelan saliva-nya susah payah. Hanya satu kali gerakan bibirnya saja sudah pasti bibirnya akan menempel ke bibir Joseph. Sungguh, ini benar-benar moment yang ambigu. Bahkan seluruh tubuh Isabel seakan lumpuh, tidak mampu berkutik sama sekali.
Napas Isabel tercekat ketika embusan napas Joseph menerpa kulit di atas bibirnya. Ujung hidung Joseph sudah menyenggol ujung hidung Isabel. Rasanya Isabel ingin pingsan ketika dalam keadaan intim dengan Joseph.
Sudut bibir Joseph membentuk senyuman tipis melihat Isabel yang gugup. “Balas budi padaku sangatlah mudah, dan aku yakin kau bisa melakukan itu.”
Mata Isabel mengerjap beberapa kali. Sekujur tubuhnya merinding. Air kolam yang dingin semakin membuat bulu kuduk Isabel berdiri. Posisi tangan Isabel tadi memegang bahu Joseph, menjadi melingkar di leher Joseph.
“A-apa yang harus aku lakukan, Joseph?” tanya Isabel dengan suara tercekat ketakutan. Seluruh organ dalam tubuhnya seakan meronta di dekat Joseph. Ini benar-benar membuatnya menjadi tidak nyaman. Jantung yang berdebar terlalu kencang, membuat sekujur tubuhnya melemas.
Joseph mendekatkan bibirnya ke telinga Isabel seraya berbisik serak, “Relaks, Isabel. Jangan tegang. Aku akan memberi tahumu nanti. Yang pasti sesuatu hal yang mudah agar kau bisa melakukannya dengan mudah.”