Pagi itu suasana kelas tampak ramai karena akan di adakan pengetesan pada semua santri.
"Aku harus bisa bersaing dengan santri lain," ucap Mahya melipat tangan dengan mata terpejam, berpikir tentang pelajaran beberapa bulan yang lalu.
"Hai, apa yang kamu pikirkan?" tangan Aliyah menepuk pundak Mahya, hingga membuyarkan lamunannya.
"Aliyah!" Mata Mahya terbelalak karena kaget.
"Sudah aku duga, kamu pasti sedang melamun!" Aliyah mengulurkan tangan dengan senyum miring.
Mahya tersenyum dan menyambut uluran tangannya.
"Begini lebih baik," ucap Aliyah lalu melangkah dan meletakan buku di sisi Mahya.
"Apa yang kamu lakukan disini? Pergilah! Aku ingin sendiri!" Tangan Mahya mendorong Aliyah kuat.
Aliyah menjerit, matanya melotot tidak tidak terima.
"Sudah kukatakan tinggalkan aku sendiri, aku tidak butuh ditemanimu!" Mata Mahya nyalang, menujukan tidak suka.
"Sejak kapan kamu bersikap beringas seperti ini Mahya!" Aliyah menatap Mahya tajam.
"Kamu yang memulai, sudah aku katakan tinggalkan aku sendiri!" bentak Mahya gemas.
Aliyah sangat marah melihat kelakuan Mahya yang tidak biasa, tangannya mengepal menahan gejolak jiwa.
"Aliyah! mengapa kamu masih di situ! Apa kamu tidak mendengarku!" bentak Mahya kembali saat melihat Aliyah masih tetap di tempat semula.
"Tidak perlu kamu repot-repot menyuruhku untuk pergi Mahya." Aliyah mundur mencari tempat duduk yang tidak jauh dari Mahya.
Acara akan segera dimulai, keadaan kelas kini tenang semua menjadi fokus dengan pikirannya masing-masing termasuk Mahya dan Aliyah yang sempat bersetrupun ikut berusaha mengikuti.
"Silahkan maju untuk yang paling depan!" suruh sang guru, dengan suara tegasnya.
"Ss-saya, Pak?" tanya Mahya yang kebetulan duduk di bangku paling depan tepat berhadapan dengan sang guru. Matanya terbelalak tangan dan juga bibir gemetar.
"Ya, kamu," jawab sang guru. Dia adalah Rafa. Laki-laki dengan tubuh kekar dan bibir tipis.
Gadis itu maju selangkah bersamaan dengan langkah sang guru, hingga keduanya bersitatap.
"Majulah, dan bacalah!" seru Rafa dengan berusaha menyembunyikan wajahnya. Tangannya berusaha membuka lembaran Al-Qur'an dan menunjuk surat yang harus dibaca.
"Ba-ba baik, Pak," Mahya berbicara dengan suara terputus-putus. Gadis itu tidak mampu menutupi rasa malu dan grogi di hadapan guru ngaji. Baru kali ini dia melihat secara dekat, sebelumnya Rafa tidak pernah ditugaskan untuk acara seperti saat ini.
Wajah tampan Rafa membuat Mahya terus mencuri pandang hingga menjadi tidak konsentrasi. Mahya lupa untuk segera membaca surat yang sudah di tujuknya.
"Dasar cewek caper," gumam Aliyah. Dia duduk tidak jauh dari bangku Mahya.
"Harap semua perhatikan, dan simak baik-baik!" Rafa berdiri dan mengangkat kitab Al-Qur'an.
Semua santri mengikuti petunjuk Rafa, menundukkan kepala dan mulai konsentrasi.
Sementara Mahya masih terdiam, mulutnya terasa tercekat.
"Siapa, namamu?" tanya Rafa gemas.
Mahya kaget dan wajahnya menjadi pucat pasi.
"Mahya," jawabnya tanpa berani mengangkat wajah.
Rafa melangkah lagi berdiri lalu duduk tepat di hadapannya. Rafa menunjuk salah satu surat yang berbeda agar segera di baca.
Mahya mulai membaca dengan sangat berhati-hati, namun apalah daya rasa grogi membuat suaranya terputus-putus.
"Hem, berhentilah!" Printahnya. Rafa merasa kecewa dengan sikap muridnya.
"Duduklah kembali!" perintahnya.
Rafa menoleh ke belakang menunjuk salah seorang santri untuk mengulang.
"Saya, Pak?" tanya salah satu santri yang merasa di tunjuk mengangkat tangan.
"Ya, berdirilah maju ke depan!"
Saat di hadapan Rafa Santri laki-laki itu terlihat bingung dia sendiri kurang paham tentang bacaan, tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Apakah kamu tidak mendengarku berbicara!" Dengan gemas tangan Rafa meraih pundak Burhan lalu menghadapkan wajahnya.
Burhan ketakutan. Tapi, Mahya yang sejak tadi masih duduk, seketika berdiri melangkah lebih dekat dan menunjukan kesalahan yang telah di lakukan.
"Bagus, ternyata kamu peka dan tahu letak kesalahanmu sendiri," ujar Rafa dengan tersenyum senang.
Rafa mempersilahkan keduanya untuk kembali ketempat duduknya masing-masing. Gadis itu terlihat lega dan sesekali mencuri pandang.
"Aliyah sekarang giliranmu," ucap Mahya saat menoleh ke belakang.
"Sabarlah Mahya, pak Rafa juga belum memanggilku." Aliyah menjawab dengan alis dinaik turunkan.
Mahya kembali menghadap ke depan dengan perasaan kesal.
"Menyebalkan!"
"Kamu selalu ingin membuatku marah,"Aliyah menelisik tepat di telinga kirinya.
Mahya membalikkan tubuh kesal.
"Kamu yang mulai duluan!"
Rafa mendengarnya.
"Diam! Apakah kalian pikir ini tempat untuk berdebat!" Rafa menggebrak meja, menimbulkan bunyi keras.
Semua santri tidak ada yang berani mengkat wajah, termasuk Mahya dan juga Aliyah. "Jika kalian masih merasa belum bisa setidaknya diam itu lebih baik," lanjutnya. Kini semua berlanjut hingga selesai.
Pukul 16:00.WIB.
"Aliyah! Berhentilah!" Mahya melambaikan tangan, kaki melangkah lebih cepat.
Aliyah mendesah terpaksa menoleh dan berhenti meski sejujurnya masih sangat marah, "apalagi sih! Aku pikir kamu sudah tidak mau lagi denganku."
Mahya mendesah, mengatur nafas
sebelum lanjut bicara, "Aliyah aku minta maaf, kamu tahu? mengapa tadi aku kesal sama kamu?" Aliyah menggeleng acuh.
"Aku sedang konsentrasi, pikiranku kalut sehingga mudah marah," lanjutnya. Mahya sejenak menghentikan langkah menatap Aliyah lekat.
"Hee-em."
Rafa sengaja berdehem agar Mahya menyadari keberadaannya di belakang.
"Pak Rafa!" ucap Mahya lirih.
Mahya menjadi salah tingkah, dan menghentikan bicara.
"Ada apa Mahya? Mengapa kamu jadi berhenti bicara?" tanya Aliyah. Rupanya kekesalan pada Mahya membuat Aliyah tidak mendengar ucapannya.
Mahya hanya menggeleng tidak mampu menjawab pertanyaan Aliyah.
rupanya Aliyah tidak menyadari jika di belakangnya ada Rafa, karena tidak mendengar saat Rafa berdehem.
"Santri jaman sekarang memang susah di atur," ujarnya.
Rafa mendengus kesal, melanjutkan langkah tanpa permisi.
Mahya dan Aliyah hanya mampu saling pandang, tubuh bergeser memberi jalan.
"Mahya, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Aliyah penasaran.
"Ah, bukan apa-apa," jawab Mahya dengan wajah masih clingukan memastikan. "Cuma perasaan kamu saja Aliyah," lanjutnya dengan mempercepat langkah.
"Tunggu Mahya! mengapa jalannmu menjadi cepat? lihatlah aku sampai ngos-ngosan mengejarmu!" Tangan Aliyah berusaha menggapai baju Mahya. Kini giliran Aliyah yang justru mengejar Mahya.
Mahya hanya tersenyum dan tidak menghiraukan Aliyah, hingga mereka sampai di asrama.
Di pagi harinya saat waktu makan telah tiba semua santri berdesak-desakan memenuhi kantin, mereka biasanya ada yang tinggal menggambil jatah makan dan ada pula yang makan dengan uang kes. Keadaan asrama pun menjadi sepi hanya Mahya yang masih tetap di tempatnya.
"Mengapa hatiku menjadi tidak karuan setiap kali melihat pak Rafa, dia sangat tegas, dingin tapi manis, aku harus berusaha bersikap biasa padanya," ucap Mahya lirih. Matanya terus memandangi langit-langit asrama dengan senyuman mengembang.
"Mahya, apa kamu tidak mau makan?Mengapa masih di situ terus? Ingat ya, ini sudah hampir waktunya masuk kelas," tanya Aliyah yang baru saja dari kantin dengan membawa sepiring nasi.
"Makanlah dulu! Aku sedang tidak selera," jawabnya dengan tangan mengambil sepatu dan memakainya.
Aliyah menggelengkan kepala dengan mulut tetap mengunyah,"Kamu mulai aneh sekarang, Mahya."
Mahya tidak menghiraukan temennya, dan segera berlalu.
Pukul 08.00.WIB.
Tidak seperti biasanya pagi itu, saat pelajaran hampir di mulai suasana aman terkendali hanya Mahya yang terlihat gusar.
Gadis itu merasa debaran hatinya semakin kencang, pikiran menjadi semrawut bahkan peluhpun ikut merembes ke sela-sela jarinya entah karena apa.
"Selamat pagi semuanya?" sapa seorang guru yang baru masuk. Dia melambaikan tangan dan juga tersenyum merekah.
"Oh, rupanya ini yang membuatku gusar," ucap Mahya dalam hati.
"Waduh-waduh, mengapa hatiku semakin berdebar ya, huuuh."
Mahya membuang nafas dalam-dalam. Berusaha untuk tetap bersikap wajar di depan semua teman-temannya.
Tidak sengaja sang guru menoleh ke arah Mahya. Dia merasa di perhatikan, dan entah mengapa hatinya juga mulai berdebar.
"Kamu," tunjuknya dengan pandangan serius.
"S-saya, pak?" tanya Mahya kurang percaya.
"Iya, kamu. Majulah!"
"Baik, Pak." Mahya dengan takut maju, menengok ke kanan dan kiri, berharap ada yang mau menyemangati.
"Apa yang kamu lihat? majulah, tidak usah takut!" printahnya dengan suara serak.
Mahya masih tetap diam di tempat seoalah tidak mendengarnya. Bukan karena takut tapi, debaran hatinya belum mampu di kendalikan.
"Mahya! apa yang kamu tunggu!" Aliyah berbisik.
Aliyah sedikit menjawel baju Mahya dari belakang. "Mahya, ayo cepatlah!" lanjutnya. Aliyah bangkit dan duduk dekat Mahya. Namun, Mahya masih diam tidak menjawab.
"Mahya, jangan permalukan dirimu di depan santri banyak"
Seketika Mahya terpancing lalu menoleh ke arahnya Aliyah. "Apa pedulimu! Sejak tadi kau ingin membuatku marah."
"Apakah kamu masih tetap mau diam di tempat!" tanya guru tersebut dengan nada tinggi.
Tetap ikuti kelanjutannya, siapakah guru itu sebenarnya mengapa Mahya menjadi diam tidak berkutik.
CINTA YANG
Hati Mahya semakin berdebar saat Rafa justru menaikkan nada bicaranya. Ya Pria itu adalah Rafa, laki-laki yang sudah membuat hati Mahya terhipnotis. Harapan gadis itu untuk mendapatkan penyemangat lenyap seketika karena Aliyah justru ikut-ikutan.
"Iya, Pak." Kata-kata yang mampu keluar dari bibir Mahya. Tanpa banyak tanya gadis itu memulai melakukan apa yang di perintahkannya.
"Hari ini adalah penentuan kenaikan kelas," terang Rafa di depan Mahya dan yang lain. Matanya bahkan mulai berani menatap Mahya.
Mahya mengangguk mengerti. Pandangannya tidak sekalipun berani mengarah pada Rafa. Gadis itu menunduk, hingga suara Rafa membuat kepalanya mendongak.
"Mahya, ambilkan saya kapur!" printahnya. Gadis itupun tidak berani menolak, dengan segera dia berjalan.
"Maaf, saya permisi," ucap Mahya saat tepat di depannya.
"Heeem, ingat tidak pakai lama!" Ancamnya, Rafa pura-pura cuek seolah tidak peduli.
"Apakah mungkin gadis itu suka denganku?" Rafa bertanya-tanya dalam hati. Namun, Rafa yakin. Hal itu terbukti saat Mahya tidak sekalipun berani mengangkat wajah.
Sementara Mahya berjalan dengan hati berdebar-debar tidak sengaja menabrak Rafa sampai hampir jatuh. "Aduh maaf, Pak. Sungguh saya tidak sengaja," ucapnya dengan wajah memerah.
"Heeh, bagaimana bisa kamu tidak sengaja! Bukankah kamu sudah tahu aku disini! Dasar cewek kurang akhlak!" Rafa mendengus dan berkata-kata kasar, lain dengan hatinya dia justru senang dengan kejadian yang sedang menimpa.
"Sungguh Pak. Saya tidak sengaja," terlihat Mahya hampir menangis karena malu dan juga takut. Tanpa sadar Mahya membukuk tepat di lututnya.
"Hai, apa yang kamu lakukan? Bangunlah!" Bentak Rafa, yang tersentak oleh perlakuan Mahya. Rafa ikut membungkuk karena malu dan menarik tangannya.
Mahya mengangkat wajah dan hampir mengenai dagu Rafa. Gadis itu berusaha melepas tangan Rafa dan buru-buru keluar dari ruangan.
Kejadian demi kejadian yang menimpa hari ini membuat keduanya semakin terus memikirkan. Termasuk Rafa menjadi tidak konsentrasi di kelas.
"Ini, Pak. Kapurnya." Mahya meletakan kapur di atas meja yang di tempati Rafa. Tanpa menunggu perintah, Mahya kembali ke tempat duduk semula.
"Trimakasih," ucap Rafa tanpa menoleh ke arah Mahya. Rafa kemudian berdiri lalu menatap semua santri yang fokus. Rafa tersenyum manis yang membuat para santri wati salah tingkah.
"Hari ini, kita tidak lagi membahas tentang pelajaran, karena kita akan membahas tentang kenaikan kelas. Semua bisa lihat nanti di papan pengumuman"
lalu laki-laki dengan kulit sawo matang itu menoleh ke arah Mahya. "Dan kamu harus ikut saya ke kantor!"
Tidak hanya Mahya yang kaget, tapi juga temen-temennya, mereka saling pandang meski tidak berani berkomentar. Salah seorang teman dari belakang melontarkan protes.
"Apa tidak ada yang lain, Pak? Ya misal saya atau teman-teman yang lain yang mungkin juga di butuhkan!"
"Maaf, ini tidak ada hubungannya dengan kalian!" dengan tegas Rafa menjelaskan. Laki-laki itu sepertinya tidak peduli dengan protesan muridnya yang bernama Burhan.
"Maaf, Pak," Burhan berhenti sejenak lalu kembali berbicara,"Kenapa dari kemaren hanya Mahya yang terus di panggil? Bukankah kami juga bisa!" Burhan berdiri lalu duduk kembali.
"Heeh, rupanya kamu tidak suka dengan sikapku! Aku pikir ini semua hanya sebuah kebetulan saja. Bukankah memang sudah sewajarnya seorang guru memerintahkan pada muridnya?" Rafa menampik kenyataan.
Sebagai murid Burhan pun berusaha mengalah, dia duduk kembali meski dengan prasaan dongkol.
"Baiklah, saya pikir cukup. Sekian pertemuan kita kali ini saya akhiri wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh." Rafa mengakhiri pertemuan di kelas.
Saat semua santri dengan tertib kembali ke asrama, Mahya justru tidak langsung pulang, gadis itu masih menunggu di kelas sesuai perintah Rafa.
Sementara Aliyah di luar kelas justru terus menunggu Mahya cemas. Gadis itu berdiri di bawah pohon rambutan yang rindang dia menoleh saat seseorang menegurnya.
"Aliyah! Mengapa kamu masih di sini?" Tegur Rafa setengah bertanya.
"Maaf, Pak. Saya sedang menunggu Mahya," jawab Aliyah sopan.
Alis Rafa bertaut tidak mengerti.
"Kembalilah! Mahya adalah urusanku, kamu tidak usah menghawatirkannya."
"O, tidak," jawabnya dengan senyum mengembang. "Baiklah, Pak. Maaf jika justru kecemasanku sudah mengganggu Pak Rafa." Aliyah segera pergi dari hadapan Rafa dengan hati kecewa.
Pukul 12.20.WIB.Suara adzan berkumandang.
Terlihat Mahya masih menunggu kedatangan Rafa. Gadis itu duduk dengan pantat tergeser-geser karena cemas, sesekali pandangannya terarah pada pintu masuk kelas.
"Apa yang sesungguhnya dia inginkan! Mengapa aku justru seperti tawanan. Bahkan waktu sholat sudah tiba tapi, Pak Rafa belum juga datang," ucapnya.
Dia bangkit dan mondar-mandir menghawatirkan kemungkinan yang akan terjadi. Dari jauh terdengar suara langkah kaki mendekat. Gadis itu menjadi gugup, dan berkeringat.
"Siapakah dia? Benarkah itu pak Rafa?"
Mahya berlari mendekati pintu.
"Haaah, kok tidak ada siapa-siapa? Apakah pak Rafa hanya ingin mempermainkanku? Kalau begitu aku harus pulang sekarang!"
Mahya tampak kecewa dan kembali ke tempat duduk untuk mengambil tas.
Namun, suara ketukan pintu membuat Mahya segera meletakan tas, melangkah menuju pintu lagi.
"Pak Rafa!" ucap Mahya menggila, ada binar kebahagiaan di sana.
"Kenapa? Sepertinya kamu tidak suka dengan kehadiranku?" jawab Rafa seperti sengaja membuat Mahya menunggu.
"Bu-bukan seperti itu. Saya hanya kaget," Mahya menunduk. Tangannya meremas-remas ujung jilbabnya yang di kenakan.
"Kaget?! Bukankah tadi aku sudah menyuruhmu untuk menunggu di sini?" tanya Rafa heran.
"Benar Pak. Maafkan saya," Mahya mengusap-usap tangannya yang tiba-tiba dingin dan wajah menjadi pucat.
Rafa mulai melangkah menuju kursi terdekat dia duduk, "Mahya, duduklah!"
Rafa berkata dengan lembut, bibirnya yang tipis mengukir senyum.
Dengan ragu Mahya berjalan mendekat dan duduk tidak jauh dari Rafa. Tangannya terus meremas ujung jilbab dan kadang meremas tangannya sendiri.
"Kenapa wajahmu pucat Mahya? Apa kamu takut?" tanya Rafa pelan. Mahya menggeleng. Gadis itu tidak mampu mengutarakan sepatah katapun.
"Lalu kenapa? Bicaralah! Aku tidak suka kamu terus diam seperti ini."
Rafa terus berbicara lembut pada Mahya, sehingga membuat Mahya menjadi tambah gugup dan salah tingkah. Rafa menyadari akan perubahan sikap dirinya terhadap Mahya.
"Mahya, benarkah namamu Mahya?" tanya Rafa dia sengaja mengalihkan topik seolah kurang puas dengan pengakuannya tempo hari.
Rafa memang belum mengenal Mahya, bahkan bisa di bilang baru mengenalnya saat acara pengetesan beberapa hari lalu. Sementara Mahya gadis itu sudah mengenal namanya. Namun tidak dengan orangnya.
"Benar, Pak. Namaku Mahya," jawab Mahya dengan mengangkat wajahnya pelan.
"Dari mana asalmu?" tanya Rafa kembali.
"Saya asli orang Jawa, Pak."
Rafa bangkit dan mulai memperhatikan Mahya dalam. Matanya bergulir kekanan dan ke kiri seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Siapa nama lengkapmu?"
"Ainun Mahya."
"Nama yang bagus," ucapnya kemudian
Rafa berjalan dan lebih mendekati Mahya.
Mahya mulai ketakutan, bahkan hampir bangkit dan lari.
"Tenanglah, aku tidak bermaksud buruk padamu," ucap Rafa yang kemudian menyadari akan ketakutan Mahya.
"Mahya, aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi. Kamu berbeda dari yang lain," ucap Rafa mulai berani memberi kode.
Rafa tersenyum ramah, pandangan matanya teduh membuat hati Mahya menjadi tambah gusar. Rafa menjadi senang di buatnya.
"Mahya, kamu tampak gusar! Ada apa? Sungguh aku tidak bermaksud buruk padamu," ucapnya menegaskan.
Tangan Rafa hampir menyentuh pundak Mahya. Namun, urung karena malu. Dia sadar akan posisi yang sedang dia sandang saat ini.
"Maaf, apakah masih ada yang mau di bicarakan? Saya belum shalat," ujarnya. Mahya berusaha mengalihkan pembicaraan untuk menghindari rasa grogi yang berlebih, mengambil tas dan berdiri.
"Mahya, tenanglah! Aku juga belum shalat, kita bisa melakukan berjamaah di Mushola."
Mendengar kata-katanya seketika matanya membulat, "Maaf, sepertinya hal itu sangat tidak mungkin untuk kita!"
"Mengapa tidak mungkin!" Rafa hampir memegang tangannya, jika Mahya tidak segera bergeser. Seoalah Rafa tidak ingat lagi jika dirinya adalah seorang guru bagi Mahya.
"Saya hanyalah seorang murid. Dan kita bukan mahrom," jawabnya tegas.
"Apa bedanya jika begitu?" Rafa benar-benar lupa posisinya.
"Tentu kita sangat berbeda. Maaf kalau begitu, ijinkan saya untuk keluar lebih dulu."
"Heee," jawab Rafa kesal.
"Sial!" Tangannya membanting pintu keras.
Sementara Mahya, tidak mau menoleh lagi dia ketakutan dan berjalan dengan cepat.
Pukul 00:00.WIB.
Saat para Santri sedang menikmati malamnya dengan tidur. Namum, tidak dengan Rafa yang sejak tadi belum mampu memejamkan matanya, pikirannya terus berjelajah jauh.
"Mahya, sejak pertemuan kita beberapa hari yang lalu, aku juga mulai menaruh simpati padamu," ucapnya lirih.
"Andai saja kamu mengerti, aku tidak perlu mengungkapkan lewat lisanku!" Tanganya mengambil bantal dan merebahkan tubuh, mata menatap langit-langit atap asrama.
"Aku harus menemui Mahya lagi, rasanya rindu ini begitu berat, jiwaku menjadi kosong. Oh Mahya, apakah kau juga merasakan hal yang sama," ujar Rafa terus berbicara hingga tidur.
Sementara itu di Asrama putri terlihat dua santri tengah berbincang-bincang di antara teman-temannya yang sudah tidur mereka adalah Mahya dan Aliyah.
"Mahya, apa yang kamu lakukan dengan Pak Rafa tadi?" tanya Aliyah penasaran.
"Aliyah, kamu tahu? Ternyata dia sangat menyebalkan. Bahkan tadi aku di perlakukan seperti tawanan, dia membuatku menunggu terlalu lama. Bukankah itu hal yang sangat membosankan!"
"lalu apa yang kalian lakukan Mahya?" tanya Aliyah lagi.
"Kami hanya bercakap-cakap.
Pak Rafa mengintrogasi layaknya seorang wartawan terkenal yang ingin menjadikan bahan berita," jawabnya acuh.
"Oh. Rupanya benar. Pak Rafa, menyukaimu Mahya?"
Mahya terjingkat karena kaget atas apa yang di sampaikan temennya.
"Kamu kenapa Mahya?" tanya Aliyah yang tampak heran.
"Jaga bicaramu Aliyah! Aku takut yang lain mendengar percakapan kita. Sementara Pak Rafa sama sekali tidak tahu menahu tentang itu semua."
"Tenanglah, mereka semua sudah tidur. Kita bisa membicarakan dengan baik." Tangan Aliyah terulur hendak meraih tangan Mahya.
"Sudahlah, Aliyah. Aku ngantuk kita tidur sekarang!" Dengan tangan menepis uluran Aliyah.
"Mahya, aku tahu. Kamu juga mencintainya bukan!"
"Tidurlah, Aliyah. Ini sudah malam."
Aliyah merasa kesal dan kecewa pada Mahya. Gadis itu terpaksa tidur meski dengan prasaan dongkol.
"Heeeh. Awas saja kamu Mahya," ucap Aliyah yang telah membelakanginya dengan suara lirih.
Tetaplah ikuti episode selanjutnya
Akankah Rafa berterus terang tentang perasaannya pada Mahya? Atau Aliyah justru mempunyai rencana lain..
Sebuah tempat yang begitu indah, hamparannya luas nan hijau, bunga tumbuh di mana-mana, kupu-kupu terbang dengan bulunya yang indah, pepohonan berdiri kokoh, angin bersumilir menerpa wajah seorang gadis yang tengah berdiri dengan gaun putih menjuntai. Dia adalah Ainun Mahya. Gadis yang biasa di panggil Mahya.
"Di mana aku? Tempat apa ini?" ucapnya setengah bertanya dengan terus mengedarkan pandangan, matanya menyipit ketika seseorang berjalan menghampirinya.
"Siapa laki-laki itu?" Mahya memperhatikan sampai seseorang itu berhenti tepat di hadapannya.
"Pak Rafa!" Mata Mahya membulat seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Ya," jawab Rafa. Laki-laki itu memandang Mahya dengan tersenyum.
"Rupanya kamu disini, Mahya!" Tangan Rafa terulur hendak megapai pundak sang gadis.
"Ah, apa yang akan Bapak lakukan?" tolak Mahya sopan.
Rafa tersenyum lembut dengan tetap memegang pundak Mahya. Gadis itu mundur selangkah. Namun, tangan Rafa segera menggapainya hingga membuat Mahya tidak mampu menolak lagi bahkan binar kebahagiaan mulai di tampakkan.
"Mahya! Aku ingin kita menjalin hubungan yang lebih, bukan hanya sekedar guru dengan murid," ungkap Rafa tulus.
"Apakah kamu berdsedia menjadi kekasihku?" tanya Rafa kembali.
Rafa mengangkat wajah Mahya pelan. Laki-laki itu tidak bosan-bosannya memandangi wajah gadis yang ada di hadapannya.
Mahya terpaksa mengikutinya, tanpa berani melawan. Sebagi seorang gadis, Mahya tentu malu jika harus berterus terang, gadis itu masih tetap diam.
"Menurut sebagian orang, diamnya seorang gadis adalah setuju." Rafa berucap sembari melepas pegangannya.
"Mahya? Bagaimana menurutmu? Apakah kamu juga setuju tentang pendapat itu?"
Mendengar pertanyaan dari Rafa, Mahya segera mengatur nafas lalu menjawabnya, "Ya, mungkin benar pendapat itu."
"Kalau begitu, artinya kamu menerima cintaku bukan?" dengan wajah berbinar Rafa berpendapat.
Terlihat gadis itu menjadi merah wajahnya karena malu dan juga senang diamengangguk tanpa berfikir ulang. Tangan Rafa seketika terulur dan keduanya berlari-lari mengitari taman.
Pukul 03:00.WIB.
"Oh. Rupanya aku hanya bermimpi," ucap Mahya saat dirinya terbangun dari tidur. Gadis itu tampak kecewa.
"Ya Alloh, benarkah aku sudah jatuh cinta pada Pria tampan tapi dingin itu?" tanya Mahya. Wajahnya mendongak menatap langit-langit asrama yang mulai memudar warnanya.
"Mahya! Apa yang kamu lakukan? Mengapa masih belum tidur?" tegur Aliyah
yang terbangun karena suara Mahya meski tidak jelas. Namum, cukup mengganggu.
"Eh, tidak apa-apa. Aku hanya bermimpi," jawab Mahya nyengir kuda.
"Maaf aku sudah membuatmu terbangun Aliyah," ujar Mahya dengan gugup. Tangannya meraih bantal yang sudah bergeser dari tempat semula.
"Tidurlah Aliyah! Aku tidak akan menggagumu lagi!" seru Mahya.
"O, begitu ya? Aku pukir kamu sedang tidak baik-baik saja," jawab Aliyah dengan mata belum terbuka sempurna.
"Mahya, aku masih ngantuk. Jika kamu ingin tidur, jangan lupa berdoa, agar kau tidak mimpi buruk lagi," pesan Aliyah kemudian. Tangan kanannya menarik selimut yang sudah ada di bawah.
Mahya membiarkan temannya tidur lagi.
Ingatannya kembali pada Rafa. Lelaki yang kini menjadikan hari-harinya penuh warna, Mahya kemudian bangkit hendak menunaikan sholat sunat.
"Di dalam doaku ini, hamba mohon ya Allah, berikanlah petunjuk apa yang terbaik di kemudian hari. Hamba tidak ingin sampai salah melangkah" Mahya mengangkat wajahnya, buliran air bening ikut menyertai kala doa terucap.
Sampai adzan subuh berkumandang.
Pukul 08:00.WIB
Semua santri mulai berkumpul dan siap menunggu pengumuman. Pada saat itulah tampak Mahya gelisah.
"Mahya, mengapa wajahmu tampak pucat?" tanya Aliyah. Tangan Aliyah bergerak mengusap wajahnya.
" Aku tidak apa-apa kok, mungkin karena kurang tidur," Mahya menjawab sekenanya.
"Benarkah? aku rasa kamu telah menyembunyikan sesuatu dariku Mahya!"
Alis Mahya bertaut menunjukan keheranan lalu berucap, "Apa maksudmu Aliyah? aku sungguh tidak mengerti."
"Aku tahu, kamu mencintai Pak Rafa bukan?!" tanaya Aliyah lirih, dengan wajah sesekali menengok kanan dan kekiri
"Entahlah, aku tidak yakin," jawab Mahya enteng.
"kamu harus berhati-hati Mahya! Mungkin dia baik di hadapanmu tapi, apa kau tahu bagaimana di luar?" Aliyah berusaha menghasut agar Mahya tidak mendekati Rafa.
"Aliyah! Apa yang kamu katakan! Meski aku tidak tahu bagaimana Pak Rafa di luar. Namun, aku yakin dia adalah orang baik," sanggah Mahya tidak terima.
Aliyah memejamkan mata, berfikir sejenak. Dia tidak ingin tujuannya gagal.
"Itu karena kamu telah di butakan oleh cinta Mahya! Aku hanya memperingatkan karena kamu temanku."
"Tidak. Aku sudah menyaksikan sendiri," tolaknya.
"Kapan?! Saat kamu bertemu kemarin!
Itu baru satu kali, bagaimana jika kamu sering bertemu dengannya! Apakah kamu masih mau mengatakan bahwa dia baik?"
"Terimakasih Aliyah, kamu telah peduli padaku. Tapi, maaf. Aku tidak sependapat denganmu," dengan tegas Mahya memungkiri apa yang di katakan teman dekatnya. Baginya Rafa adalah orang yang baik yang dia kenal saat ini.
Aliyah mendesah kesal lalu menepuk pundak Mahya, "Ya, baiklah. Tidak apa, aku mengerti perasaanmu." Aliyah melangkah dan berlalu dari Mahya.
"Aliyaaah! Kamu mau kemana?" tanya Mahya heran.
Sejenak Aliyah terhenti, dan menoleh pada Mahya. Gadis itu tersenyum miring lalu menjawab pertanyaan Mahya, "Aku mau keluar sebentar."
"Semua sudah berkumpul, mengapa justru kamu mau keluar, ayolah kita bicara di sini saja dulu!" ujar Mahya menjelaskan. Aliyah hanya menggeleng lalu pergi.
"Heeeh, ada apa sebenarnya? mengapa semua menjadi rumit," ucap Mahya, sambil mengusap jidatnya frustasi.
"Apa yang sedang Mahya, pikirkan? Mengapa gadis itu terlihat sangat gelisah?" Aku harus menghampirinya sekarang!" ucap Rafa, saat tidak sengaja melintas dan melihatnya. Rafa berjalan pelan, memasuki kelas Mahya.
Sementara itu Mahya masih mengusap-usap jidat yang sebenarnya tidak pusing. Hingga gadis itu tidak menyadari akan kehadiran Rafa.
"Mahya!" Panggil Burhan saat melihat Mahya masih mengusap-usap jidatnya.
Mahya tersentak lalu membuka mata.
Suara lirih Burhan membuat dia tersadar, jika di hadapannya sudah berdiri seseorang yang tidak asing baginya.
"Eeh, Pak Rafa?" dengan wajah memerah gadis itu berucap.
Rafa tersenyum melihat kegugupan Mahya, "Eem, apa yang sedang kamu fikirkan Mahya? Mengapa dari tadi aku perhatikan kamu tampak gelisah?"
Wajah Mahya menjadi pias, rasa gugup dan grogi tidak mampu dia tutupi dengan alasan apapun.
Mahya mengedarkan padangan ke sekeliling, debaran hatinya menjadikan mulut sulit untuk berbicara. Tangannya dengan sepontan menggaruk kepala yang tidak gatal. "E-e anu Pak."
Hal serupa juga ternyata di rasakan Rafa. Laki-laki dengan tubuh kekar dan terkenal dingin. Namun, dia berusaha biasa saja di hadapan yang lain.
"Mahya, apa kamu tidak mendengarku!"
Rafa pura-pura marah, untuk menutupi kegugupannya.
"Maaf, Pak. Saya mendengarnya, tapi saya tidak apa-apa, sungguh," jawabnya meyakinkan agar Rafa segera pergi dari hadapannya.
Pada saat itulah Aliyah masuk kelas. Aliyah tercengang melihat Mahya sedang bercakap-cakap dengan Rafa, gadis itu buru-buru mempercepat langkah.
"Mahya! Kesalahan apa yang kamu lakukan sehingga membuat pak Rafa datang kemari!" tanya Aliyah yang baru saja datang.
Mahya dan Rafa saling beradu Padang bahkan yang lain ikut bingung. Mereka sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hai Aliyah! kalau tidak tahu duduk perkaranya, jangan sok-sokan begitu deh," tegur Burhan kesal.
"Tahu tuh, padahal pak Rafa, kesini juga karena mau tanya tentang keadaan Mahya. Iya kan?" timpal teman yang lain, mereka saling tertawa.
"Oh, sudah-sudah. Apa yang kalian lakukan!" Bela Mahya mencoba menghentikan.
"Aliyah juga hanya menghawatirkan aku, kenapa kalian juga tidak mengerti," Mahya mencoba memberi pengertian pada semua teman-temannya agar tidak terjadi salah paham.
"Mahya, seharusnya kamu marahnya sama Aliyah! Bukan sama kami!" Protes Burhan.
"Burhan, trimakasih. Tapi, aku tidak apa-apa kok." Mahya mengedipkan mata, memberi isyarat agar Burhan tidak mempermasalahkan lagi.
"Sudah-sudah. Saya permisi. Maaf jika kedatanganku ke kelas ini justru membuat tidak nyaman," ucap Rafa.
Laki-laki itu merasa dongkol seoalah kedatangan dirinya hanya menjadi bahan tertawaan. Dengan kaki mulai melangkah lalu mendekati Mahya dan bersisik, "Mahya, aku tunggu kamu."
Mahya menoleh karena geli, dan mengangguk setuju dan pandangannya kembali pada teman-temannya.
"Maaf teman-teman jika kejadian ini telah mengganggu, khususnya untuk saya pribadi," ucap Mahya berusaha membuat suasana kembali normal.
Mahya terkenal baik, periang, dan mudah bergaul. Dari sikapnya inilah Mahya mempunyai banyak teman. Mahya memang tidak begitu cantik.
Namun, ketulusannya membuat nyaman orang yang berada di dekatnya. Kini semua kembali ke tempat duduknya masing-masing.
"Sepertinya kamu akan lebih dekat lagi dengan Pak Rafa," ucap Aliyah ketika sudah duduk di dekat Mahya.
"Kamu ini ngomong apa? Aku tidak mengerti," jawab Mahya dengan mulai mengeluarkan buku yang ada di dalam tas.
"Kamu tidak usah berpura-pura lagi Mahya!"
"Berpura-pura! Sejak kapan aku suka berpura-pura? Kamu itu adalah temanku sejak kita masuk asrama ini Aliyah," Mahya mengerutkan dahi.
"Aku tidak suka dengan sikapmu yang sekarang ini Mahya."
"Sikap yang mana?" tanya Mahya bingung.
"Aku tidak suka dengan caramu yang sekarang!" tegas Aliyah lagi.
Mahya menatap Aliyah lekat, rasanya tidak percaya dengan apa yang baru saja di sampaikan.
"Waduh, ada yang lagi cemburu nih."
Suara ledekan burhan sekita mbuat Mahya dan Aliyah membalikan tubuh.
"Hai, Burhan! Aku sama Mahya sudah berteman sejak dulu. Bahkan kami mempunyai cita-cita yang sama, jadi untuk apa aku cemburu.
Bukankah seharusnya aku malah mendukung!" Aliyah menampik kenyaatan yang di kemukan oleh temennya dengan suara ketus.
"Ok, aku tahu sekarang." Burhan sengaja tidak meneruskan bicaranya. Dia berjalan kembali ke tempat duduknya.
Pukul 12:00.
"Selamat siang anak-anak,"
Sapa sang guru dengan suara yang khas, lengkap dengan senyumannya. Dia adalah Fajar. Wali kelas Mahya. Semua menjawab serentak.
"Hari ini, pengumuman kenaikan kelas," jelas Fajar.
"Ada salah satu di antara kalian yang memiliki kemampuan di atas rata-rata," ungkapnya lagi.
Semua terdiam mereka saling pandang, menerka-nerka.
Siapakah yang di maksud guru tersebut?
Ikuti terus kelanjutannya ...