Maya duduk sendirian di ruang tamu, menatap jam dinding yang berdetak perlahan. Pukul 11 malam, dan Arya belum pulang. Sekali lagi, ia menyebut alasan pekerjaan di telepon, tapi Maya merasa ada yang berbeda. Biasanya, Arya akan memberi tahu lebih dulu jika harus lembur. Kali ini, suaminya hanya memberikan jawaban singkat yang terasa hambar.
Maya menghela napas panjang. Ia memutuskan untuk tetap terjaga, meski kantuk mulai menyerang. Suara langkah kaki terdengar di depan pintu, diikuti oleh suara kunci yang berputar. Arya masuk dengan raut wajah lelah, tetapi Maya tahu itu bukan hanya kelelahan fisik.
"Kamu baru pulang?" Maya memulai, nada suaranya setenang mungkin.
"Iya, banyak kerjaan di kantor," jawab Arya sambil melepas sepatu tanpa menatap Maya.
"Kenapa nggak kasih tahu aku sebelumnya?" Maya mencoba mencari mata suaminya, tapi Arya sibuk membuka tas kerjanya.
"Lupa. Maaf ya."
Maya terdiam. Kata-kata Arya terdengar datar, seperti sebuah rekaman yang diputar ulang tanpa emosi.
"Arya, kamu baik-baik aja, kan?" Maya bertanya, kali ini dengan nada lebih lembut.
Arya akhirnya menoleh, memasang senyum tipis yang tidak meyakinkan.
"Aku capek, Maya. Aku mandi dulu, ya."
Tanpa menunggu jawaban, Arya melangkah ke kamar mandi, meninggalkan Maya yang masih duduk terpaku.
Malam itu, Maya tak bisa memejamkan mata. Pikirannya dipenuhi tanya. Bukankah Arya selalu bercerita tentang harinya? Bukankah mereka adalah pasangan yang tak pernah menyimpan rahasia?
Esoknya, saat Maya sedang menyiapkan sarapan, ia mencoba memulai percakapan lagi.
"Mas Arya, apa ada masalah di kantor? Kamu terlihat tegang akhir-akhir ini."
Arya menggeleng sambil menyeruput kopi. "Nggak ada apa-apa kok, cuma kerjaan lagi numpuk."
"Tapi kenapa aku merasa ada yang berbeda?" Maya menatapnya tajam, mencoba membaca ekspresi wajah Arya.
"Kamu terlalu banyak mikir, Maya. Jangan khawatir, ya." Arya menepuk tangan Maya sejenak, lalu berdiri. "Aku berangkat dulu, ada meeting pagi ini."
Maya mengangguk perlahan, tetapi hatinya mulai diselimuti kekhawatiran. Tatapan Arya seperti menghindar, dan Maya merasa jarak antara mereka mulai tumbuh.
Malam harinya, Maya memutuskan untuk membersihkan kamar kerja Arya. Sebuah kebiasaan yang biasa ia lakukan ketika merasa ingin lebih dekat dengan suaminya. Namun, kali ini, tangannya berhenti di tengah tumpukan kertas di meja kerja Arya. Sebuah struk restoran jatuh dari antara dokumen-dokumen.
"Restoran ini bukan tempat dia biasanya makan siang," gumam Maya. Ia melihat tanggal di struk itu, dan hatinya mencelos. Tanggalnya cocok dengan malam Arya pulang terlambat minggu lalu.
Sebuah nama wanita tertulis di bagian bawah struk: Sinta.
"Siapa Sinta?" Maya berbisik pada dirinya sendiri, dadanya mulai terasa sesak.
Arya tiba-tiba muncul di pintu kamar kerja.
"Maya, kamu ngapain di sini?" tanyanya, suaranya terdengar tegang.
Maya menggenggam struk itu erat-erat, matanya menatap Arya penuh tanda tanya.
"Arya, siapa Sinta?" tanyanya, berusaha tetap tenang meski suaranya bergetar.
Arya terdiam sejenak, kemudian menggeleng.
"Itu cuma kolega kantor. Kamu nggak perlu khawatir."
"Kolega? Tapi kenapa kamu nggak pernah cerita tentang dia?" Maya mendesak.
Arya mendekat dan mengambil struk itu dari tangan Maya dengan lembut.
"Sudah kubilang, nggak ada apa-apa. Aku nggak mau kita berdebat soal ini, Maya. Aku capek. Aku tidur dulu, ya."
Arya berlalu tanpa menjelaskan lebih lanjut, meninggalkan Maya yang berdiri terpaku dengan hati yang mulai retak.
Maya duduk di tepi tempat tidur setelah Arya masuk ke kamar dan segera berbaring tanpa banyak bicara.
Ia menatap punggung suaminya yang sudah memunggunginya, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai dipenuhi spekulasi.
"Arya..." panggil Maya perlahan, hampir seperti bisikan.
Tidak ada respons. Hanya napas Arya yang terdengar.
"Aku nggak mau berpikir macam-macam, tapi... apa kamu yakin nggak ada yang perlu aku tahu?" tanyanya, sedikit lebih keras kali ini.
Arya bergerak, tetapi hanya untuk membenarkan posisi tidurnya. "Maya, sudah malam. Aku benar-benar lelah. Besok saja, ya, kalau mau ngobrol."
Jawaban itu seperti tamparan bagi Maya. Ia merasa diabaikan, seolah perasaannya tidak penting. Ia bangkit dari tempat tidur dan melangkah pelan keluar kamar, membiarkan Arya sendirian.
Maya menyalakan lampu kecil di dapur dan duduk di meja makan dengan secangkir teh hangat yang kini terasa pahit. Ia membuka ponselnya, menggulir foto-foto lama saat mereka masih sering menghabiskan waktu bersama. Sebuah foto liburan mereka di Bali muncul, memperlihatkan senyum lebar Arya yang penuh cinta.
"Kapan terakhir kali kita bahagia seperti ini?" gumam Maya pelan.
Ia teringat malam-malam panjang ketika mereka bisa berbicara tentang apa saja, dari hal-hal sepele hingga impian mereka di masa depan. Tapi kini, pembicaraan mereka terasa seperti rutinitas kosong, penuh basa-basi tanpa makna.
Keesokan harinya, Maya memutuskan untuk tidak langsung menyudahi semuanya. Ia ingin memastikan bahwa kecurigaannya bukan hanya sekadar perasaan berlebihan.
Maya menghubungi Karin, sahabat yang selalu ia percaya.
"Halo, Rin? Bisa ketemu sebentar? Aku butuh curhat," kata Maya, suaranya terdengar lebih tenang daripada yang ia rasakan.
"Tentu bisa! Ada apa, May? Kamu kedengarannya lagi banyak pikiran," jawab Karin dari seberang telepon.
Di sebuah kafe kecil di sudut kota, Maya duduk bersama Karin, menceritakan semua yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
"Aku tahu Arya sibuk. Aku tahu pekerjaan kadang menyita waktu. Tapi, entah kenapa aku merasa... dia menjauh. Dan yang paling aneh, aku merasa dia menyembunyikan sesuatu," Maya menjelaskan, menatap cangkir kopinya.
Karin mengernyitkan alis. "Kamu yakin ini bukan cuma perasaan kamu aja, May? Kadang kalau kita terlalu sayang sama seseorang, kita jadi lebih sensitif."
"Aku pikir begitu juga, awalnya," Maya menarik napas panjang. "Tapi semalam aku nemu struk restoran. Ada nama wanita di sana. Sinta."
Karin mencondongkan tubuhnya, nada suaranya menjadi lebih serius. "Sinta? Siapa dia?"
"Arya bilang dia cuma kolega. Tapi... kenapa dia nggak pernah cerita soal dia?" Maya menggeleng, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di matanya.
Karin terdiam sejenak, lalu menyentuh tangan Maya. "May, aku nggak mau kamu buru-buru mengambil kesimpulan. Kalau memang ada sesuatu yang nggak beres, kamu harus tahu kebenarannya dulu. Jangan bertindak berdasarkan asumsi."
"Tapi bagaimana caranya? Aku nggak bisa terus-terusan begini, Rin. Aku capek bertanya tanpa jawaban."
Karin berpikir sejenak, lalu berkata pelan, "Coba amati lagi, May. Kalau memang ada yang dia sembunyikan, cepat atau lambat, kamu akan menemukannya. Tapi kamu harus siap untuk menghadapi apa pun yang kamu temukan nanti."
Malam itu, Maya kembali pulang dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia berusaha menata pikirannya, tetapi kecurigaan itu sudah menancap dalam di hatinya.
Saat Arya pulang, Maya memperhatikan setiap gerak-geriknya. Ia mencoba mencari tanda-tanda kecil-apakah Arya gugup, apakah Arya menghindari kontak mata, atau mungkin menyembunyikan sesuatu.
Tapi Arya tetap tenang, bahkan sempat menceritakan sesuatu tentang pekerjaannya di kantor.
"Hari ini banyak banget meeting. Kepala sampai pusing, May," katanya sambil meregangkan otot bahunya.
Maya hanya tersenyum tipis. "Aku masak sup favorit kamu. Mau sekarang atau nanti makannya?"
Arya menatapnya dan tersenyum kecil. "Sekarang aja, lapar banget."
Namun, di balik senyum itu, Maya merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Entah apa, tetapi ia tahu retakan kecil ini akan segera membesar.
Di kamar, Maya berjanji pada dirinya sendiri. "Aku akan cari tahu kebenarannya. Apa pun itu."
Bersambung...
Malam itu, Arya tertidur lebih awal. Maya duduk di sisi tempat tidur, memperhatikan suaminya yang tampak begitu lelap. Hatinya bergolak antara keinginan untuk percaya dan dorongan kuat untuk mencari tahu kebenaran. Setelah beberapa menit ragu, ia mengambil ponsel Arya yang tergeletak di meja kecil.
"Maaf, Mas... Aku harus tahu," bisiknya lirih.
Tangannya sedikit gemetar saat membuka ponsel Arya. Tidak ada sandi-Arya selalu percaya bahwa Maya tidak akan pernah mencoba melihat isinya.
Maya membuka aplikasi pesan dan menemukan nama yang sudah tidak asing lagi baginya: Sinta. Pesan terakhir dikirim beberapa jam yang lalu.
Sinta: "Jangan lupa besok kita makan siang bareng, ya. Aku udah pilih tempat yang kamu suka 😊"
Arya: "Oke. Sampai besok."
Maya menatap pesan itu, dadanya terasa sesak. Emotikon senyum itu terasa seperti duri yang menusuk hatinya. Bukankah Arya selalu mengatakan bahwa hubungan mereka hanya sebatas pekerjaan? Tetapi pesan ini terlalu santai, terlalu... akrab.
Ia menggulir percakapan mereka lebih jauh ke belakang. Pesan-pesan itu penuh candaan ringan, perhatian kecil yang membuat Maya merasa tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang ada di hati Arya.
Sinta: "Mas Arya, makasih ya untuk hari ini. Aku senang banget ngobrol sama kamu. Rasanya beda kalau ada kamu 😊"
Arya: "Aku juga senang. Kamu selalu bikin hari-hariku lebih ringan, Sin."
Mata Maya memanas. Air mata mulai menggenang, tetapi ia mencoba menahannya. Ia tidak ingin membangunkan Arya.
Ponsel itu masih di tangannya ketika Maya berdiri dan keluar dari kamar. Ia menuju ruang tamu, duduk di sofa sambil menatap layar ponsel. Dadanya dipenuhi perasaan campur aduk: marah, sedih, dan bingung.
Pikirannya mulai dipenuhi pertanyaan. "Sejak kapan ini dimulai? Apakah aku kurang cukup? Apakah dia tidak lagi mencintaiku?"
Maya membuka kontak Sinta, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menelepon atau mengirim pesan. Namun, tangannya berhenti di udara. Ia tidak ingin bertindak gegabah.
Pagi harinya, Maya memasak sarapan seperti biasa, meskipun hatinya masih berat. Arya datang ke meja makan dengan senyuman kecil.
"Wah, ada nasi goreng favoritku," katanya ceria.
Maya tersenyum tipis. "Iya, aku pikir kamu butuh energi lebih banyak. Kelihatannya belakangan ini sibuk sekali."
Arya hanya tertawa kecil. "Iya, kerjaan kantor lagi gila-gilanya."
"Termasuk makan siang sama Sinta, ya?" pertanyaan Maya keluar begitu saja, suaranya terdengar datar.
Arya yang sedang menyendok nasi langsung berhenti. Ia menatap Maya dengan tatapan bingung.
"Apa maksud kamu?" tanyanya, mencoba terdengar santai meski raut wajahnya berubah.
Maya menatap langsung ke matanya. "Aku baca pesan kalian, Mas. Jadi aku tahu. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Arya terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Ia meletakkan sendoknya dan menatap Maya dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Maya, aku nggak mau kamu salah paham. Aku dan Sinta cuma teman. Kami memang dekat karena sering kerja bareng, itu saja."
"Dekat?" suara Maya mulai meninggi. "Kalau kalian cuma teman, kenapa dia bilang hal-hal yang seharusnya nggak diucapkan oleh teman biasa? Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang dia?"
Arya berdiri, mencoba meraih tangan Maya. "Aku nggak mau kamu merasa nggak nyaman, makanya aku nggak cerita. Tapi, sumpah, aku nggak pernah melakukan hal yang melanggar batas."
Maya menarik tangannya, menatap Arya dengan tatapan tajam. "Kalau memang nggak ada apa-apa, kenapa semua ini terasa salah? Kamu pikir aku bodoh, Mas?"
Arya mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Maya, aku nggak tahu harus bilang apa. Tapi aku janji, hubungan ini nggak seperti yang kamu pikirkan."
Maya menggeleng pelan. "Aku ingin percaya, Mas. Tapi semua ini terlalu banyak menyakiti aku. Aku nggak tahu sampai kapan aku bisa terus begini."
Arya terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi. Maya meninggalkannya di ruang makan, hatinya penuh luka dan amarah.
Maya mengunci diri di kamar setelah meninggalkan Arya di ruang makan. Hatinya terasa remuk. Ia duduk di kursi dekat jendela, memandang keluar dengan tatapan kosong. Matahari pagi yang biasanya memberikan semangat kini terasa hambar.
Tak lama kemudian, suara langkah Arya terdengar mendekat. Ia mengetuk pintu perlahan.
"Maya, boleh aku masuk?" suaranya terdengar tenang, tapi sedikit gemetar.
Maya tidak menjawab. Ia membiarkan Arya masuk sendiri.
Arya membuka pintu pelan, lalu berdiri di depan Maya yang tetap memandang keluar jendela. Ia menghela napas panjang sebelum berbicara.
"Maya, aku ngerti kalau kamu marah. Tapi aku harap kita bisa bicara baik-baik," katanya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya.
Maya akhirnya menoleh, tatapannya tajam namun penuh luka. "Masih ada yang mau kamu jelaskan, Mas? Bukannya semua sudah jelas dari pesan itu?"
Arya duduk di tempat tidur, menjaga jarak agar tidak membuat Maya semakin marah. "Aku tahu kamu terluka. Tapi hubungan aku sama Sinta benar-benar nggak seperti yang kamu pikirkan. Kami cuma dekat karena pekerjaan. Itu saja."
Maya mendekatkan tubuhnya, wajahnya penuh emosi. "Cuma pekerjaan? Mas, kalau cuma pekerjaan, kenapa pesannya penuh dengan perhatian yang aku bahkan nggak pernah dapat lagi dari kamu? Kalau nggak ada apa-apa, kenapa kamu nggak pernah cerita soal dia?"
Arya menunduk, seperti mencari kata-kata yang tepat. "Aku nggak tahu, May. Aku... Aku nggak mau bikin kamu cemburu, jadi aku nggak cerita."
Maya tertawa sinis. "Cemburu? Kamu nggak cerita karena takut aku cemburu, atau karena kamu tahu hubungan itu memang salah?"
Arya tidak menjawab. Hening yang tercipta membuat Maya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah beberapa saat, Maya berdiri. "Aku butuh waktu sendiri, Mas. Aku nggak bisa langsung percaya begitu saja."
Arya mencoba mendekat. "Maya, jangan begini. Kita bisa bicarakan ini. Aku nggak mau masalah ini jadi besar."
Maya menatap Arya dengan mata berkilat. "Masalah ini sudah besar. Dan aku nggak yakin kita bisa menyelesaikannya tanpa kejujuran penuh dari kamu."
Arya hanya bisa mengangguk pelan. "Baik, aku akan beri kamu waktu. Tapi tolong, jangan langsung ambil keputusan. Kita sudah melalui banyak hal bersama, May."
Maya tidak menjawab. Ia melangkah keluar kamar, meninggalkan Arya yang masih duduk dengan kepala tertunduk.
Di ruang tamu, Maya memutuskan untuk mencari jalan keluar dari kebingungannya. Ia kembali membuka ponsel Arya dan mencatat nomor Sinta. Kali ini, ia tidak akan hanya menunggu jawaban dari Arya.
Maya mengetik pesan dengan hati-hati.
"Halo, Sinta. Ini Maya, istri Arya. Aku mau bicara dengan kamu soal sesuatu. Bisa kita ketemu?"
Ia ragu beberapa saat sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Detik-detik berlalu, dan ponselnya bergetar. Balasan dari Sinta masuk.
"Halo, Mbak Maya. Tentu. Saya bisa bertemu kapan saja Mbak mau."
Balasan itu membuat Maya sedikit terkejut. Sinta terdengar tenang, bahkan terlalu tenang.
Keesokan harinya, Maya dan Sinta bertemu di sebuah kafe. Sinta adalah seorang wanita muda, rapi, dan menawan. Senyum kecil di wajahnya terasa ramah, tetapi Maya tidak bisa menghilangkan rasa curiga di hatinya.
"Terima kasih sudah mau bertemu," kata Maya, mencoba menjaga nada suaranya tetap netral.
Sinta tersenyum. "Tentu, Mbak. Saya juga ingin semuanya jelas. Saya nggak mau Mbak salah paham."
Maya menatapnya tajam. "Jadi, Sinta, apa sebenarnya hubungan kamu dengan Arya?"
Sinta menghela napas, tampak berpikir sebelum menjawab. "Saya tahu ini sulit buat Mbak. Tapi saya harus jujur. Saya memang dekat dengan Mas Arya. Kami sering kerja bareng, dan dari situ, hubungan kami jadi... lebih personal."
Kata-kata itu seperti petir yang menyambar Maya. Dadanya terasa sesak. Namun, ia berusaha menahan emosinya. "Sejauh apa hubungan kalian? Apakah dia pernah bilang kalau dia mencintai kamu?"
Sinta menggeleng pelan. "Tidak, Mbak. Mas Arya tidak pernah bilang itu. Tapi saya merasa dia nyaman dengan saya. Mungkin saya salah paham, tapi saya nggak pernah berniat merusak rumah tangga Mbak."
Maya tersenyum tipis, penuh kepahitan. "Kamu merasa nyaman, dia merasa nyaman, tapi aku yang harus menanggung semua ini."
Sinta menunduk. "Saya minta maaf, Mbak. Tapi mungkin Mbak harus bicara lebih dalam dengan Mas Arya. Ada sesuatu yang sepertinya dia belum ceritakan ke Mbak."
Bersambung...
Maya duduk di sebuah kafe kecil yang biasa ia kunjungi bersama Karin. Ia mengaduk secangkir kopi tanpa henti, pikirannya melayang-layang. Matahari sore yang masuk melalui jendela terasa hangat, tapi tidak mampu mengusir dinginnya hati Maya.
Tak lama kemudian, Karin tiba dengan senyum lebar, seperti biasa. Namun, senyumnya memudar begitu melihat wajah Maya yang tampak lelah dan penuh beban.
"Maya, kamu kenapa? Kok kelihatan kusut banget?" Karin langsung duduk di hadapannya.
Maya mencoba tersenyum, tapi gagal. "Aku butuh ngobrol sama kamu, Rin. Aku nggak tahu harus cerita ke siapa lagi."
Karin meraih tangan Maya. "Aku di sini buat kamu, May. Cerita aja."
Maya menarik napas dalam sebelum mulai menceritakan semuanya-dari kecurigaannya terhadap Arya, pesan-pesan Sinta, hingga pertemuannya dengan Sinta kemarin. Saat Maya selesai, Karin menghela napas panjang, ekspresinya berubah serius.
"May, aku nggak tahu harus bilang apa. Tapi ini berat banget buat kamu, ya?" Karin bertanya dengan nada empati.
Maya mengangguk, menahan air mata yang hampir jatuh. "Aku nggak pernah bayangin Arya akan melakukan ini. Aku selalu percaya sama dia. Tapi sekarang... semuanya terasa hancur."
Karin menggenggam tangan Maya lebih erat. "Denger, May. Aku ngerti kamu marah dan sedih, tapi kamu nggak boleh buru-buru ambil keputusan. Kamu perlu tahu semuanya dulu."
"Aku udah tanya langsung ke Arya, tapi dia cuma bilang mereka cuma teman. Tapi cara mereka ngobrol di pesan itu nggak seperti teman biasa, Rin."
Karin menggeleng. "Itu berarti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Kalau kamu mau tahu kebenarannya, kamu harus selidiki lebih jauh."
"Selidiki lebih jauh gimana, Rin? Aku udah ketemu Sinta, dia bilang nggak ada hubungan serius antara mereka, tapi... aku nggak percaya."
Karin berpikir sejenak. "Kalau gitu, mungkin kamu harus cari tahu lewat kebiasaan Arya. Dia sering pulang telat, kan? Coba perhatikan ke mana dia pergi. Kalau memang ada yang nggak beres, pasti ada jejaknya."
Maya menatap Karin dengan ragu. "Kamu nyuruh aku jadi detektif, Rin?"
Karin tertawa kecil. "Kadang kita harus gitu, May, demi kebenaran. Kalau kamu yakin Arya masih ada harapan, kamu perlu tahu seluruh ceritanya sebelum kamu ambil langkah besar."
Maya terdiam, mencoba mencerna saran dari sahabatnya. Karin benar. Sebelum membuat keputusan yang bisa mengubah hidupnya, ia harus memastikan semuanya.
"Oke," Maya akhirnya berkata. "Aku akan coba. Tapi kalau ternyata aku menemukan sesuatu yang lebih buruk, aku nggak tahu apa aku bisa tahan."
Karin menepuk bahunya pelan. "Aku akan ada di sini buat kamu, apa pun yang terjadi."
Malamnya, Maya duduk di kamarnya sambil memikirkan langkah selanjutnya. Ia membuka ponsel Arya yang berhasil ia ambil tanpa sepengetahuan suaminya. Ia memeriksa riwayat panggilan, pesan, bahkan aplikasi yang sering digunakan Arya.
Ia menemukan sesuatu yang menarik: catatan lokasi di ponsel Arya menunjukkan tempat yang sering ia kunjungi beberapa minggu terakhir. Sebuah restoran kecil di daerah yang jarang mereka datangi. Maya mencatat alamat itu.
"Besok, aku akan cari tahu sendiri," katanya pelan, tekadnya mulai terbentuk.
Keesokan harinya, Maya memutuskan untuk mengunjungi restoran yang tertera di catatan lokasi ponsel Arya. Ia berangkat sendirian, mengenakan pakaian sederhana agar tidak terlalu mencolok.
Setibanya di sana, Maya duduk di meja dekat jendela, memperhatikan suasana sekitar. Restoran itu kecil dan sederhana, dengan nuansa hangat yang membuatnya terasa akrab. Namun, Maya tidak datang untuk menikmati makanan. Ia membuka ponselnya, memeriksa catatan lokasi sekali lagi untuk memastikan bahwa ini adalah tempat yang sering dikunjungi Arya.
Pelayan datang menghampiri, tetapi Maya hanya memesan secangkir teh. Ia menunggu dengan gelisah, matanya sesekali melirik ke pintu masuk, berharap menemukan sesuatu yang menjelaskan kehadiran Arya di tempat ini.
Setengah jam berlalu tanpa kejadian berarti. Maya mulai merasa ragu pada rencananya. Namun, tepat ketika ia hendak pergi, pintu restoran terbuka. Arya masuk.
Jantung Maya seakan berhenti berdetak. Ia menunduk, berusaha agar Arya tidak melihatnya. Dari sudut matanya, ia melihat Arya berjalan ke arah meja di sudut ruangan, di mana seorang wanita sudah menunggu.
Wanita itu adalah Sinta.
Maya merasa darahnya mendidih. Namun, ia menahan diri untuk tidak membuat keributan. Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba mengambil beberapa foto sebagai bukti.
Arya dan Sinta tampak berbicara dengan santai. Mereka tertawa beberapa kali, dan Maya merasa hatinya semakin remuk. Ia mencoba membaca bahasa tubuh mereka. Tidak ada sentuhan, tetapi cara mereka saling menatap terlalu akrab untuk disebut profesional.
Beberapa saat kemudian, pelayan datang mengantar makanan ke meja mereka. Arya tampak berbicara dengan serius, sementara Sinta mendengarkan dengan anggukan kecil. Maya memutuskan untuk mencoba mendekat, mencari posisi yang lebih baik untuk mendengar percakapan mereka.
Namun, tepat ketika ia berdiri, seorang pelayan menabraknya dari belakang, menjatuhkan nampan berisi piring.
"Oh, maaf, Bu!" pelayan itu meminta maaf dengan panik.
Keributan kecil itu menarik perhatian Arya dan Sinta. Arya menoleh, matanya langsung bertemu dengan Maya. Wajahnya berubah pucat.
"Maya?" Arya bangkit dari tempat duduknya, terkejut melihat istrinya di sana.
Maya berusaha tetap tenang meskipun hatinya berkecamuk. Ia mendekati meja mereka dengan langkah mantap.
"Jadi ini yang kamu sebut kerja, Arya?" suara Maya dingin, tetapi penuh emosi.
Sinta tampak kaget, tetapi ia segera berdiri. "Mbak Maya, ini nggak seperti yang Mbak pikirkan."
Maya menatap Sinta dengan tajam. "Benarkah? Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Aku ingin mendengar langsung dari kalian."
Arya mencoba menenangkan situasi. "Maya, aku bisa jelaskan. Ini memang tidak seperti yang kamu bayangkan."
Maya menyilangkan tangan di dada, menatap suaminya dengan penuh rasa kecewa. "Kalau begitu, silakan jelaskan, Arya. Jelaskan kenapa kamu diam-diam bertemu wanita lain tanpa pernah bilang apa-apa ke aku."
Arya terdiam, tampak bingung harus mulai dari mana.
Sinta melangkah maju, mencoba mengambil alih percakapan. "Mbak, biar saya yang jelasin. Saya dan Mas Arya memang sering ketemu, tapi hanya karena urusan kerja. Kami nggak punya hubungan lain selain itu."
Maya mengangkat alis. "Sering ketemu? Sampai butuh bertemu di restoran seperti ini? Apa memang ini tempat kerja baru kalian?"
Keributan kecil ini menarik perhatian beberapa pengunjung restoran lainnya. Arya tampak semakin gelisah, sadar bahwa situasi ini bisa menjadi bencana besar.
"Maya, kita bicara di luar saja," Arya memohon, mencoba meredakan ketegangan.
Namun, Maya menggeleng. "Tidak, Arya. Kita selesaikan di sini. Aku sudah cukup menahan diri."
Arya tidak punya pilihan lain selain duduk kembali, wajahnya dipenuhi rasa bersalah. Maya menatap suaminya dengan mata yang mulai memerah.
"Aku hanya mau satu hal, Arya. Kejujuran. Kalau kamu memang mencintai dia, katakan saja. Aku akan pergi dari hidupmu."
Arya langsung menggeleng. "Tidak, Maya. Aku tidak mencintai dia. Aku mencintai kamu. Selalu."
Maya tersenyum pahit. "Kata-kata itu sudah tidak ada artinya lagi, Arya. Karena selama ini, kamu sudah mengkhianati kepercayaan aku."
Bersambung...