Bab 1

Farisa atania, seorang gadis penjual kue. Setiap hari berangkat pagi pulang sore, demi mendapat sesuap nasi. Tak seperti waktu sebelumnya, Farisa selalu bersama ibunya untuk menjajakan kue di sebuah terminal, sejak ibunya sering sakit-sakitan, Farisa tak mengijinkan ibunya berjualan lagi, Farisa menyuruhnya, untuk istirahat saja.

Farisa terlahir sebagai anak orang tak punya, tak punya harta juga tak punya saudara, yang lebih sedih tak punya ayah, seperti anak anak lainnya. Pernah suatu ketika, Farisa bertanya pada ibunya tentang ayahnya, namun ibunya hanya mengatakan, kalau ayah Farisa sudah tiada. Sejak saat itu Farisa tak pernah bertanya lagi perihal ayahnya.

Seperti biasanya, pagi pagi sekali Farisa sudah bersiap hendak berangkat ke terminal. Sebelum berangkat Farisa sudah menyiapkan segala keperluan ibunya, termasuk obat yang harus di minum ibunya. Farisa tak tahu pasti penyakit apa yang di derita ibunya, karena selama ini Farisa belum pernah membawanya ke dokter, Farisa baru bisa membawanya berobat ke puskesmas. Sebenarnya Farisa ingin sekali mengajak ibunya ke dokter, tapi dirinya belum memiliki cukup uang, sehingga Farisa harus menundanya.

"Bu, Risa berangkat dulu ya, nanti diminum obatnya ya?" ucap Farisa sambil mencium pipi ibunya.

Ibunya hanya mengangguk pelan, sembari menatap Farisa.

hari ini lumayan ramai. Banyak penumpang yang turun dari bus langsung membeli kue kue nya, hingga tinggal tersisa sedikit. Sebenarnya, Farisa ingin segera pulang karena sangat mencemaskan ibunya, namun mengingat kue nya belum habis, Farisa pun menundanya sebentar, siapa tahu ada yang minat membeli kuenya lagi. Itu semua, karena Farisa ingin cepat cepat uangnya terkumpul, dan segera membawa ibunya ke dokter.

"Risa.. Risaaa!"

Seseorang memanggilnya, seorang yang sangat di kenalnya, yaitu Mak Ijah, orang yang begitu baik terhadapnya juga ibunya, bahkan Farisa sudah menganggapnya sebagai neneknya.

"Ada apa Mak?"

Jawab Farisa panik.

"Ibumu Risa," ucap mak Ijah.

"Ibu kenapa Mak?" tanyanya.

"Ibumu tadi pingsan Sa, tapi sekarang sudah siuman, dia minta kamu cepat pulang Sa." ucap Mak Ijah.

Farisa segera berlari pulang, dia sangat mengkhawatirkan ibunya.

Sampainya di depan rumah, Farisa semakin panik karna melihat ada banyak orang di rumahnya, pikirannya tak menentu, segera Farisa berlari ke kamar ibunya.

"Ibu, Ibu kenapa Bu? tanya Farisa.

Ibunya kelihatan nampak sangat pucat dan lemah.

"Rissa...maafkan..ibu naaak! ucap ibunya dengan nafas yang tersengal.

"Ibu kenapa Bu, kita kedokter ya? ucap Farisa sembari memeluk ibunya.

"Risa...jaga dirimu naak!"

Terdengar suara ibunya semakin pelan, Farisa makin erat memeluknya, namun semakin lama tak terdengar desah nafas ibunya, Farisa semakin panik. Farisa menggoncang goncang tubuh ibunya, namun tak ada reaksi apapun darinya.

"Bu, Ibu kenapa, Bu jangan tinggalin Risa,"

Ucapnya sambil menangis dan terus menggoncang goncang tubuh ibunya.

"Inalillahi wainnailaihi raji'un!"

"Ikhlaskan ibumu Risa, dia sudah pergi meninggalkan kita,"

Ucap mak Ijah sambil memeluk gadis itu, yang menangis histeris karna kepergian ibunya, perasaanya pun sama seperti Farisa, sakit sangat sakit karena harus kehilangan Diana ibu Farisa.

Mak Ijah sudah menganggap Diana, seperti anak kandungnya.

Bermula dari datangnya Diana ke desanya, yang mencari neneknya. Nenek Aminah, namun yang di carinya sudah tiada. Nenek Aminah sudah meninggal setahun yang lalu.

Setelah mengetahui nenek Aminah sudah tiada, Diana menangis tersedu, tak tahu harus ke mana.

Mak Ijah yang kala itu melihat Diana sedang hamil tua, pun jadi iba dan memeluk Diana seraya bertanya.

"Suamimu mana neng? kenapa pergi sendiri, apa dia tak mengkhawatirkanmu?" Tanya mak Ijah.

"Saya sudah tak punya suami Mak, tujuan saya datang kesini, ingin tinggal bersama nenek, namun kini nenek juga sudah tiada, saya sudah tak punya siapa siapa lagi Mak, hidup saya sudah hancur." ucap Diana.

Diana kemudian menceritakan semua kejadian yang dialaminya, dari kecelakaan yang menimpa suaminya, dia harus rela meninggalkan suaminya demi kesembuhannya.

Suaminya koma setelah terjatuh saat mengendarai sepeda motornya, karna benturan yang sangat keras menyebabkan pembekuan darah di otaknya, dan harus segera di operasi. Karena tak punya biaya Diana bingung! ingin menghubungi orang tua Yuda, tapi Diana tak tahu nomor teleponnya.

Yuda pun tak pernah memberi tahu padanya. Mungkin bagi Yuda percuma menyimpannya, toh, orang tuanya sudah tak perduli lagi dengannya.

Sejak Yuda menikahi diana, orangtuanya sudah membuangnya, sudah tak menganggap lagi Yuda anaknya, karna menikah dengannya gadis yang miskin bahkan tak punya siapa siapa, karna kedua orang tuanya sudah tiada. Tinggal ada neneknya, tapi tinggal jauh darinya. Sebenarnya Yuda sudah di jodohkan dengan gadis lain, tapi Yuda lebih memilih Diana, dan Yuda rela meninggalkan orang tuanya yang kaya raya dan hidup sederhana dengan Diana.

Saat Diana telah memikirkan nasib suaminya, datang seorang wanita yang mengaku bernama Anita, Anita mengatakan jika dirinya sanggup membiayai operasi Yuda, namun dengan satu syarat. endengar itu, Diana sangat senang apapun syaratnya Diana akan memenuhi.

Hingga Diana tak menyangka ternyata syarat yang di ajukan wanita itu adalah, Diana harus meninggalkan suaminya selamanya. Bagai tersayat sembilu hati Diana, mendengar penuturan wanita itu, rupanya Anita adalah gadis yang di ceritakan Yuda, gadis yang dulu ingin di jodohkan dengannya.

Dengan berat hati Diana menyetujui syarat dari Anita, namun Diana akan benar benar pergi setelah Yuda berhasil di operasi dan memastikan Yuda akan baik baik saja. Anita pun menyetujuinya. Tetapi Diana hanya boleh melihatnya dari jauh, tak boleh menemuinya, sekalipun setelah Yuda nanti sadar.

Setelah mengetahui keadaan Yuda baik baik saja setelah di operasi, dan melihatnya sudah sadar Diana pun segera pergi, tujuannya hanya satu, kerumah neneknya.

Mendengar cerita Diana, Mak ijah jadi terharu, kok ada ya orang yang seperti itu, benar benar jahat tak punya hati, pikirnya dalam hati.

Lantas Mak Ijah pun memberitahu, kalau nenek Aminah masih punya rumah, dan itu bisa di tempati diana, kebetulan rumahnya juga di sebelah Mak Ijah, jadi kalau butuh apa apa tinggal bilang saja.

Kenangan itu membekas di hati Mak Ijah, dirinya tak menyangka, kalau Diana akan pergi secepat itu, Diana menderita Maag akut, namun Diana merahasiakannya pada Farisa, hanya Mak Ijah yang tau penyakitnya itu.

Sebelum Diana meninggal, Diana telah menitipkan sebuah amplop berisikan sebuah foto dan sebuah buku nikah untuk di berikan pada Farisa, kalau nanti terjadi sesuatu dengan dirinya.

"Mak kalau nanti ada apa apa denganku, tolong kasih ini ke Farisa." ucap Diana sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat kepada Mak Ijah.

"Farisa harus tau kebenaranya Mak, aku ingin Farisa bisa berkumpul dengan ayahnya. Selama ini Farisa sudah hidup menderita, aku yakin Farisa akan bahagia bersama ayahnya nanti." ucap Diana.

Setelah dua Minggu kepergian Diana, Mak Ijah pun memberi tahu Farisa. "Semoga hati Farisa sudah sedikit membaik," gumamnya.

"Risa, ada pesan dari ibumu, yang harus Mak sampaikan!" ucap Mak Ijah.

"Pesan apa mak?" tanya Farisa bingung.

"Ambilah ini!"

Mak Ijah menyerahkan amplop pada Farisa.

"Apa ini Mak? Tanya Farisa sedikit heran ,dengan amplop yang baru saja di pegangnya.

"Bukalah, nanti kamu akan tau!" ujar Mak Ijah.

"Namun sebelum itu Mak akan memberitahumu, kalau sebenarnya ayahmu masih hidup, dan ibumu ingin kamu mencari ayahmu," ucap Mak Ijah.

"Apa Mak? Bagaimana mungkin ayah masih hidup? ibu selalu bilang, kalau ayah sudah meninggal." ucapnya serasa tak percaya.

"Bukalah! Nanti kamu akan tau jawabannya. Mak pergi dulu, ada yang harus Mak kerjakan." Pamit Mak Ijah sambil melangkah pergi meninggalkan Farisa.

Farisa membuka amplop itu, ketika melihat isinya, Farisa sangat terkejut. Ada sebuah foto, foto ibunya di kala muda dengan seorang pria, apa mungkin itu ayahnya? pikirnya. Ada buku nikah bertuliskan nama Yuda Anggara, dan Diana, dan ada sepucuk surat, Farisa pun segera membaca isi surat itu.

[ Risa anakku, ketika kamu baca surat ini, mungkin ibu sudah pergi jauh darimu, maafkan ibu Nak, yang selama ini telah berbohong tentang ayahmu. Sebenarnya, ayahmu masih hidup, ibu ingin kamu menemui ayahmu. Dia orang yang baik, ibu yang pergi darinya. Karena suatu alasan ibu pergi meninggalkannya, saat ibu sedang mengandungmu. Ibu mohon temuilah ayahmu, ini ada alamatnya.

JALAN KENANGA.....

Dengan semua bukti yang ada semoga kamu bisa bersama dengan ayahmu, sampaikan salam ibu, untuknya ya Nak.)

Setelah selesai membacanya Farisa menangis terisak, sekuat ini ibu merahasiakan semua ini dari dirinya.

Farisa pun berjanji dalam hatinya akan mencari ayahnya, semua demi keinginan terakhir ibunya.

Bab 2

Setelah berpikir semalaman, akhirnya Farisa memutuskan pergi ke kota, untuk mencari ayahnya.

Usai berpamitan dengan Mak Ijah, Farisa langsung berangkat menuju terminal.

Tanpa menunggu lama bus yang di tumpanginya, sudah melaju dengan cepat. Sepanjang perjalanan, Farisa selalu memikirkan banyak hal, bisakah dirinya menemukan alamat ayahnya?

Jakarta kota yang besar, tak mudah baginya mencari sebuah alamat, apa lagi dirinya belum pernah ke sana sekalipun.

Bagaimana nanti kalau sudah sampai, namun tak segera menemukan alamat yang di tuju?dimana dirinya akan tinggal. Bagaimana juga kalau alamatnya ketemu, tapi ayahnya sudah pindah dari situ, kemana ia akan mencarinya? dan seandainya saja ayahnya masih di situ, lalu Farisa menemuinya dan menjelaskan kalau Farisa anaknya, namun ayahnya tak mengakuinya walaupun dengan bukti bukti yang ada, lalu ia, harus bagaimana?

"Aaaaahh pusing."

Farisa berteriak tanpa sadar, hingga mengagetkan orang di sekelilingnya. Sontak mereka pun menoleh, penuh heran. Disampingnya, juga ada seorang yang sedari tadi memperhatikannya, seorang lelaki berperawakan tinggi, dada bidang, dan berwajah tampan. Namun Farisa tak menyadarinya, karena Farisa sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga dirinya tak tau, kalau ada seorang yang sedang memperhatikannya.

"Kenapa mbak? sakit ya?" Tanya lelaki itu.

"Eeh emmm, nggak kok." Jawab Farisa sedikit terkejut.

"Aku perhatiin dari tadi, Mbaknya bengong aja, sampai nggak sadar kalau ada orang di sebelahnya," ucapnya sambil tersenyum.

"Emm, boleh gak kita kenalan?" Ucapnya lagi, sambil mengulurkan tangan.

"Aku Ega,"

"aku Farisa, panggil aja Risa," Ucap Farisa sembari menjabat tangan Ega.

Mereka pun kemudian saling mengobrol.

"Sa, kamu mau pulang, apa mau pergi?" Tanya Ega.

Maksudnya?" sahut Farisa bingung.

"Iya, kalau aku kan mau pulang nih ke Jakarta, aku habis mengunjungi nenek, di Semarang," ujarnya.

"Ooh, kalau aku mau kejakarta Ga." Ucap Farisa, setelah paham maksud pertanyaan Ega.

"Mau kerja apa berkunjung ke saudara sa?" tanya Ega.

"Bukan dua duanya Ga," jawab Farisa datar.

"Lah kok bisa gitu Sa? apa jangan jangan kamu kabur ya, dari rumah."

Ega yang mendengar jawaban Farisa malah berpikir kalau Farisa kabur dari rumah karna ada masalah.

"Ngapain kabur Ga, kalaupun kabur juga sudah gak ada yang nyariin aku," ucapnya.

"Jangan gitu Sa, kalau kamu beneran kabur, pasti orangtua kamu sedang panik nyariin kamu. Denger ya Sa, berhubung kamu sudah terlanjur kabur, lebih baik kamu hubungi dulu ayah ibumu, biar mereka gak nyariin kamu terus." Ucap Ega seperti menasehati anak kecil saja.

"Apaan sih Ga. Aku udah gak punya siapa siapa lagi. Ibuku sudah tiada, sedang ayahku entahlah, ibuku meminta aku mencarinya, tapi aku ragu, apa mungkin nanti ayah akan mengakui aku sebagai anaknya." Ucap Farisa sambil terisak.

Melihat gadis itu menangis, Ega merasa kasihan, di genggamnya tangan Farisa seraya berkata. "Maafkan aku Sa, aku telah membuatmu terluka, seharusnya aku tak bertanya seperti itu," Ucap Ega merasa menyesal, ada rasa sesak di dadanya melihat gadis itu menangis.

"Sa, kamu tenang saja, aku pasti bantu kamu cari ayahmu?" bujuk Ega seperti kepada anak kecil.

"Sa, jangan sedih lagi ya? Ibumu minta kamu mencari ayahmu kan? Dan itu permintaan terakhirnya, jadi kamu jangan ragu ya untuk mencari ayahmu." ujarnya meyakinkan Farisa.

"Apapun resikonya, kamu harus siap Sa, meskipun nantinya ayahmu tak mengakui kamu, setidaknya kamu sudah berjuang. Ingat! semua yang kamu lakukan demi ibumu Sa." ucap Ega lagi.

"Baiklah Ga, aku akan ikuti saran kamu." Balas Farisa penuh semangat.

"Ega benar apapun yang terjadi dan apapun resikonya aku harus siap, semua demi ibu. Ibu doa kan anakmu ini, agar bisa menemui ayah. ucapnya dalam hati.

Entah apa yang di rasa Farisa, Ega baru saja di kenalnya dalam hitungan jam, namun ada rasa nyaman tersendiri, untuk bercerita dengannya,. Padahal, dulu banyak yang mencoba mendekatinya, walau hanya sekedar ngobrol, tapi Farisa malas, dan enggan menanggapinya. Hingga banyak hati yang kecewa, karena sikapnya, namun kini dengan Ega, walau baru saja mengenalnya, Farisa dengan begitu mudah mencurahkan semua keresahan hatinya.

Perasaan apa ini, apa mungkin dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama! Entahlah, mungkin saja karena selama ini Farisa merasa kesepian, tak ada tempat mengadu semenjak di tinggal ibunya.

Setengah perjalanan, bus yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah makan, para penumpang mulai turun, ada yang menuju WC umum ada pula yang langsung menuju rumah makan.

"Sa, waktunya istirahat, kita cari makan yuk!" ajak Ega.

"Oke Ga. Aku juga lapar nih," ujar Farisa.

mereka pun turun dari bus, menuju rumah makan.

Berbagai menu tersedia di sana, namun Farisa hanya memilih makanan sederhana, tumis kangkung dan telur. Bukan Farisa tidak suka dengan semua menu yang ada, tapi Farisa sadar tak cukup banyak uang untuk membayarnya. Farisa harus mengirit, uang yang di bawanya tak seberapa, sementara dia tak tahu, sampai kapan harus berada di Jakarta.

Sementara Ega jadi bingung harus makan apa, terpaksa Ega memesan menu yang sama dengan Farisa, walau sebenarnya Ega tak suka dengan sayur kangkung, tapi demi gadis itu, Ega rela memakannya.

"Ga,kok menunya sama, jangan jangan kamu nggak enak ya sama aku, kalau lauknya beda." Tanya Farisa heran.

"Emang gak boleh ya, kalau sama. Itu artinya kan, kita sehati," Jawab Ega sambil tersenyum manis, pada Farisa.

Farisa jadi salah tingkah di buatnya, duuh jangan ge'er wahai hati, cowok ngomong kaya gitu kan udah biasa. Kenapa juga aku mesti deg degan begini, apa lagi kalau lihat senyumnya, pikiran Farisa pun jadi tak menentu.

"Sa, kamu kenapa? jangan suka bengong Sa, awas kesambet." Kata Ega, setelah melihat Farisa terlihat bengong.

"Iih siapa yang bengong, tuh makanan udah siap, jangan di liatin aja, mubadzir tau kalau nggak di makan," jawab Farisa ketus.

"Diih gitu aja ngambek, ntar ilang loh cantiknya" ucap Ega mencandai Farisa.

Selesai makan mereka pun kembali menuju ke bus, kali ini mereka saling diam, entah apa yang di pikirkan mereka berdua.

Hingga bus sudah mulai melanjutkan perjalanan, Ega takut untuk berkata kata lagi, Ega merasa Farisa marah karena perkataanya tadi, sementara itu Farisa malah tertidur di samping Ega.

Ega yang menyadari Farisa tengah tidur pulas, dan bersandar di bahunya. Namun Ega tetap membiarkannya, dilihatnya wajah gadis itu, betapa teduhnya saat tertidur. "Farisa gadis yang cantik," gumamnya.

Tak terasa bus yang membawanya telah sampai ke tujuan, hampir semua penumpang sudah mulai turun, namun Farisa masih tertidur pulas.

"Sa, udah sampai, Sa, bangun!" ucap Ega membangunkan Farisa.

"Udah sampai ya Ga, maaf ya aku ketiduran." Ucapnya merasa tak enak karna tak sadar bersandar di bahu Ega.

"Nggak apa apa Sa, santai aja. Oh iya Sa, habis ini, kamu mau kemana?" tanya Ega.

"Aku gak tau Ga, mungkin langsung mencari rumah ayah." jawab Farisa.

"Sa, ini kan udah hampir malam, gimana kalau kamu nginap dulu di rumahku?" tawar Ega.

"Besok aku antar kamu mencari rumah ayahmu, oke!" Lanjutnya.

Farisa jadi bingung, kalau menolak tawaran Ega, lalu dimana dirinya akan tidur? Cari kontrakan nggak mudah, tapi mau terima, takut Ega akan berbuat jahat padanya.

Ega kan baru di kenalnya, siapa tahu dia baik sementara ini, karena ada niat jahat di baliknya.

"Sa, jangan mikir macam macam, aku tak seburuk yang kau pikirkan." ucap Ega seperti tahu pikiran Farisa.

Belum sempat Farisa menjawab, sebuah taxi sudah ada di depannya.

"Ayo Sa, taxinya sudah datang!" ucap Ega sambil menarik lengan Farisa, dan mengajaknya masuk ke dalam taxi.

Farisa hanya menurut, seperti terkena hipnotis teman barunya, namun jauh di lubuk hatinya, Farisa mengakui kalau ega memang seorang teman yang baik.

.

Bab 3

"masih jauh Ga?" Tanya Farisa. Hatinya mulai tak tenang, jangan jangan Ega mau menculiknya. "Ya ampun bodoh banget sih aku, kenapa mau saja di ajak orang yang baru kenal." Ucapnya dalam hati.

"Egaa...!" teriak Risa.

"Iya kenapa Sa?" jawab Ega sedikit panik.

"Berhenti di depan bang!" perintahnya, pada pak supir.

Setelah membayar taxi, Ega mengajak Farisa masuk kesebuah rumah, namun Farisa masih berdiri terpaku di depan rumah Ega, rumah mewah berlantai dua.

Farisa mengurungkan niatnya masuk kerumah Ega, Farisa merasa tak pantas menginjakan kakinya di rumah semewah itu.

"Sa ayo masuk! Malah bengong sih, masih tak percaya kalau aku orang baik?" tanya Ega.

"Ga, maaf ya, aku nggak jadi nginep, aku mau cari kontrakan saja," ucap Farisa.

Bukan takut di culik, tapi Farisa takut, tak diterima keluarga Ega.

Namun bukannya menjawab, Ega malah menggenggam lembut jemari Farisa.

"Sa, dirumah cuma ada mama sama mbok Sum, dan aku, tadi sudah bilang sama mama, kalau aku pulang bersamamu," ucap Ega meyakinkan Farisa.

Tok!

Tok!

Tok! Ega mengetuk pintu.

Seorang perempuan tua, membukakan pintu "Eeh Mas Ega sudah pulang, ini siapa mas? pacarnya ya?" tanyanya ceplas ceplos.

"Apaan si Mbok, mama mana mbok?" yang di tanya bukannya menjawab malah senyum senyum nggak jelas.

"Ada di dalam Mas," jawab mbok Sum.

"Ayo Neng silahkan masuk!" ajak mbok Sum.

Farisa hanya mengangguk, lalu mengikuti Ega dari belakang.

"Mamaa," sapa Ega sambil tersenyum.

Perempuan yang sedang duduk di sofa pun tersenyum melihat kearah Ega, dan Farisa.

"Ini pasti Farisa ya," ucapnya.

"I..iya Tante," jawab Farisa gugup.

"Aku Yasinta, mamanya Ega."

"Ya sudah, kalian pasti capek, istirahatlah dulu!" kata Yasinta ramah.

"Ga, antar Farisa kekamarnya ya,?" ucap Yasinta.

"Siap bos!" jawab Ega patuh.

Mendengar jawaban Ega yang sangat bersemangat, Yasinta hanya geleng geleng kepala melihat tingkah anaknya. Dirinya heran, tumben saja Ega bisa begini ceria saat bersama seorang gadis.

Selama ini Ega tak sesemangat ini, apa lagi kalau dirinya membahas soal perempuan, Ega terlihat malas menanggapinya. Pernah suatu saat Yasinta meminta Ega untuk melamar Gina, karena hanya gadis itu yang dekat sama Ega. Namun Ega menolak dengan alasan Gina cuma teman biasa saja, dan Ega tak punya perasaan lebih. Kalau sudah begitu, Yasinta tak mau memaksakan keinginannya, pada anak semata wayangnya. Baginya kebahagiaan anaknya lebih penting dari apapun. Walau sejujurnya dirinya ingin sekali, Ega menikah dan segera, memberinya seorang cucu.

Selesai membersihkan diri Farisa bingung mau ngapain, ingin keluar menemui Ega, tapi ini kan sudah malam, takut di sangka perempuan nggak bener. mungkin lebih baik tidur saja, pikirnya.

Baru saja Farisa merebahkan tubuhnya, terdengar suara Ega memanggilnya.

"Sa, makan dulu yuk!" katanya.

Farisa keluar menghampiri Ega. Dilihatnya Ega semakin mempesona.

"Aduh mikir apa sih?" makinya dalam hati.

"Sa, makan yuk! aku udah lapar nih," ajakan Ega pun di iyakan Farisa dengan anggukan.

Ada bermacam lauk, yang tersedia di meja makan, sampai Farisa bingung memilihnya. Matanya tertuju pada ayam goreng, seketika

ia, teringat ibunya. "Menu kesukaan ibu, aah ibu aku kangen ibu, aku kangen makan bersama ibu." Tak terasa bulir bening menetes di matanya.

"Sa, ayo dong makan! kok malah nangis sih, jelek tau." Ucap Ega sambil mengusap pipi Farisa.

"Maaf Ga, aku hanya teringat ibu, ibu suka sekali dengan ayam goreng," ujar Farisa.

"Sa, aku tau apa yang kamu rasakan, tapi kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Kamu harus semangat Sa, semangat demi ibumu. Ibumu ingin kamu bahagia, jadi kamu harus membuktikannya," ucap Ega menyemangati Farisa.

"Sekarang makan dulu Sa, aku suapin ya bujuk Ega.

"Aku bisa sendiri Ga," sahutnya, sembari mengambil sesendok nasi lalu memakannya.

Tanpa mereka berdua sadari, ternyata Yasinta melihat dan mendengar percakapan mereka. Ada rasa sedih melihat gadis itu menangis, tak dapat di bayangkan bagaimana rasanya kehilangan seorang ibu, karena dirinya pernah merasakannya, dan Yasinta berjanji dalam hatinya akan menjaga, dan menyayangi Farisa layaknya anak sendiri.

Keesokan paginya Farisa telah bersiap hendak berangkat mencari alamat ayahnya, setelah sarapan pagi, Farisa pun berpamitan pada Yasinta.

"Tante Risa pamit dulu ya," ucap Farisa.

"Ga, aku..

"Sa, tunggu dulu! Aku kan udah janji mau antar kamu," sela Ega memotong ucapan Farisa.

"Sa, Jakarta ini luas loh sayang, kamu jangan pergi sendiri, banyak orang jahat di sekitar kita, biar Ega nanti yang antar kamu, Tante nggak mau kenapa-kenapa sama kamu," imbuh Yasinta.

"Tapi Tante, insyaallah Risa bisa sendiri, Risa nggak mau ngerepotin Ega terus. Risa pamit ya Tante" ucap Farisa sambil mencium tangan Yasinta.

"Tunggu dulu Sa! Aku mohon kamu jangan pergi sendiri ya, aku akan temani kamu, tapi kamu sabar ya, aku ada urusan sebentar, aku janji setelah selesai, aku segera pulang." bujuk Ega setengah memaksa.

Entah mengapa Ega tidak rela Farisa pergi sendiri, Ega takut kalau nanti Farisa bertemu ayahnya dan berakhir kecewa, siapa yang akan menenangkannya dan menghiburnya.

"Baiklah Ga, kalau itu maumu, aku akan tunggu kamu pulang." balas Farisa.

"Sa, Tante tau apa yang kamu rasakan, kalau Tante jadi kamu belum tentu Tante sekuat kamu Nak," ucap Yasinta.

"Sa, boleh Tante peluk kamu sayang" ucapnya lagi sambil memeluk Farisa.

Farisa pun menangis sesenggukan di pelukan Tante Yasinta, ada rasa damai dalam hatinya, Farisa seperti menemukan kembali kehangatan pelukan seorang ibu.

"Mulai sekarang kamu jangan sungkan ya sama Tante, anggap Tante sebagai ibumu, Tante sudah menganggap kamu, seperti anak Tante sendiri." ucapnya sambil membelai sayang, rambut Farisa.

Mendengar perkataan Yasinta, tangis Farisa pun makin menjadi. Begitu terharunya Farisa, hingga air matanya mengalir begitu deras, membasahi baju Yasinta.

"Menangis lah Nak! jika itu membuatmu merasa lega." Kembali Yasinta membelai Farisa dengan lembut.

Ega yang melihat mamanya begitu tulus menyayangi Farisa, perasaanya campur aduk, ada sedih juga senang, Ega tak menyangka kehadiran Farisa akan di terima baik oleh mamanya.

"Mama, aku berangkat dulu ya."

Pamit Ega menyadarkan mereka berdua yang sedang larut dalam pikiran masing-masing.

"Iya sayang, hati-hati ya, ingat kalau udah selesai urusannya segera pulang, Farisa pasti menunggumu," ucap Yasinta.

"Iya Ma, pasti." jawab Ega.

"Sa, aku pergi dulu ya, ingat jangan kemana-mana dulu, tunggu sampai aku pulang!" pesan Ega.

Farisa hanya mengangguk tanpa menjawab perkataan Ega.

"Sa lebih baik kamu istirahat aja ya, tunggu sampai Ega pulang, Tante mau berangkat ke butik dulu." ucap Yasinta.

"Iya tante" jawab Farisa.

Di kamarnya Farisa malah jadi bingung, Farisa tak biasa bersantai-santai seperti gadis lain. Dirinya sudah biasa beraktifitas sepanjang hari.

Kalau seperti ini, tentu, membuatnya bosan, akhirnya Farisa memutuskan untuk membantu mbok Sum di dapur.

"Mbok, mbok Sum," sapanya ketika melihat mbok Sum sedang mencuci piring.

"Iya Neng, ada apa?" balas mbok Sum.

"Ada yang bisa di bantu nggak? Aku bosan Mbok nggak ngapa-ngapain." Ujar Farisa.

"Beneran, Neng mau bantu?" ucap mbok Sum senang.

Baru kali ini ada gadis teman majikannya, ramah padanya. Biasanya mereka sombong, seperti Gina contohnya. Boro-boro menyapa menoleh pun enggan. Mbok Sum merasa seperti tak kasat mata, tak terlihat oleh mereka, padahal mereka sama dengan mbok Sum, sama-sama manusia hanya statusnya saja yang berbeda.

"Mbok, kok malah melamun?"

Ucapan Farisa menyadarkan mbok Sum dari lamunannya.

"Kalau Neng mau bantu, mau nggak Neng nyiramin bunga-bunga di halaman depan, itu selang airnya ada disamping!" ucap mbok Sum.

"Baiklah mbok dengan senang hati," Farisa pun bergegas menuju halaman depan.

Baru saja Farisa menyalakan keran, terdengar ponselnya berdering.

Farisa segera mengambil ponsel di sakunya, ada panggilan nomor baru.

"Hallo," ucap Farisa.

"Sa, ini Tante, kamu baik baik saja kan?" tanyanya dari seberang sana.

"Tante aku baik-baik saja kok, ini lagi bantu mbok Sum nyiram bunga," jawab Farisa.

"Syukurlah kalau gitu, Tante cuma khawatir sama kamu, Tante tutup dulu ya,"

"Iya Tante," balas Farisa.

Tante Yasinta baik banget sama aku, segitu khawatirnya sampai telepon segala. Ya Allah engkau telah mengambil ibuku, namun engkau menggantikan dengan Tante Yasinta. Walaupun seorang ibu takan terganti, aku merasa ibu hadir kembali melalui Tante Yasinta, aku merasa dia seperti ibuku. gumam Farisa, dengan senyum bahagia.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED