Malam semakin larut. Tidak terasa biasan jingga sudah sedari tadi menghilang digantikan cahaya bulan yang bersinar terang. Disalah satu pemukiman warga yang tidak jauh dari kota Jakarta. Di sebuah rumah sederhana dengan cat tembok berwarna hijau, halaman depan yang tidak terlalu luas, dan pagar pembatas yang mengelilingi rumah tersebut agar terpisah dengan para tetangganya.
Di dalam rumah, terlihat tiga orang berbeda jenis dan usai tengah berkumpul di ruang keluarga. Pandangan mata mereka fokus melihat ke televisi yang sekarang tengah menyiarkan berita sidang isbat penentuan puasa.
"Baiklah ... setelah kami mendapatkan laporan dari petugas yang melihat hilal. Maka kami selaku anggota kementrian agama menyatakan, mulai besok kita akan menjalankan ibadah puasa," jelas ketua menteri agama yang ada di dalam televisi, membuat ketiga orang yang tengah berkumpul didepan televisi itu tersenyum.
"Alhamdullilah!" seru bahagia ketiga orang yang berbeda usai dan jenis itu secara bersamaan.
"Jadi ... ayok kita ke masjid," ajar Abi Rasyid seorang pria paruh baya yang sudah siap dengan peci dan sarung diikuti baju koko laki-laki berwarna coklat.
"Abi, tunggu sebentar. Umi dan Ais akan bersiap-siap," ujar Umi Rohana wanita paruh baya yang terlihat cantik dengan tubuh tertutup oleh baju muslim dan jangan lupakan hijab yang melingkar di kepalanya, "Ayok Ais, kita bersiap-siap pergi tarawih," ajak Umi Rohana dan langsung dihadiahkan senyum oleh wanita cantik dengan pakaian hampir menutupi seluruh tubuhnya dan juga sebuah hijab yang melingkar cantik menyembunyikan aurat di bagian kepalanya.
"Baik Umi," patuh Ais yang bernama lengkap Aisyah Putri Rasyid, wanita dewasa berusia 25 tahun yang bekerja di salah satu perusahaan terbesar di Jakarta. Dia wanita cantik yang selalu mengenakan pakaian yang menutupi auratnya dan sangat patuh pada kedua orang tuanya.
Aisyah dan keluarganya tidak begitu kaya raya. Namun, dengan kehidupan yang serba pas-pasan itu, mereka mampu menjadikan anaknya sebagai seorang wanita muslim yang baik, tidak pernah sombong, dan selalu patuh pada perintah kedua orang tuanya. Karena hal itu, banyak pemuda yang sangat mendambakan Aisyah untuk menjadikan wanita itu sebagai istrinya.
Aisyah dan Umi Rohana hendak melangkah meninggalkan ruang tamu. Namun, suara bariton dari Abi Rasyid menghentikan langkah mereka berdua.
"Tunggu sebentar Ais," intrupsi Abi Rasyid, membuat Aisyah dan Umi Rohana menghentikan langkah mereka.
Kedua wanita berjenis kelamin sama namun berusia berbeda itu memutar tubuh dan kembali menghadap ke Abi Rasyid yang entah sejak kapan ekspresinya mulai terlihat serius.
"Ada apa, Abi?" tanya Aisyah dengan menunduk takut saat melihat raut Abi yang seperti itu. Wanita cantik itu mulai menautkan jari telunjuknya menandakan dia tengah gugup saat ini.
"Angkat kepalamu jika berbicara dengan Abi, Ais," perintah Abi Rasyid dan langsung diikuti oleh Aisyah.
Nampak jelas raut takut dan keringat dingin sudah memenuhi wajah putih Aisyah, 'apa Abi tau yang aku lakukan?' batin Aisyah menerka-nerka kenapa Abi nya berubah seperti itu.
Hanya satu kemungkinan yang membuat Abi Rasyid menjadi seperti itu. Pasti itu gara-gara Aisyah melakukan kesalahan. Kalian semua harus tahu, kalau Abi Rasyid itu Pria yang sangat keras. Dia keras, karena ingin melindungi anak gadis satu-satunya yang mereka punya.
Pria itu tidak mau, anak gadis yang di titipkan Allah padanya melakukan kesalahan. Maka dari itu, dia sebagai orang tua sangat keras jika bersangkutan dengan Aisyah.
"Setelah bekerja kamu kemana?" tanya dingin Abi Rasyid dan membuat Aisyah sulit menelan ludahnya.
Keheningan terjadi diantara mereka bertiga. Umi Rohana yang tadinya berdiri disebalah Aisyah, sekarang sudah berdiri tepat dibelakang sang suami.
"Abi, tolong bertanya dengan biasa saja. Jangan buat Ais tak-...."
"Diam...." potong Abi Rasyid dan membuat Umi Rohana langsung bungkam, dan menatap nanar putri yang sangat dia sayangi saat ini tengah berkeringat dingin, "apa mulutmu bisu Ais? Abi bertanya, kamu pergi kemana setelah pulang bekerja tadi?"
"A—Ais, tid—tidak kem-...."
"Jangan berbicara seperti itu! Bicara yang jelas, Ais!" seru Abi Rasyid dan membuat Aisyah tersentak kaget.
"Ais, tadi pergi mengantar teman ke toko buku, Abi," jujur Aisyah dengan menatap wajah Abi nya dengan takut.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Rasyid dengan masih bernada dingin.
"Perempuan Abi," jawab jujur Aisyah dengan masih bernada takut.
"Siapa?" tanya singkat Abi Rasyid.
"Layla Abi, Layla anak paman Fauzan," jawab Aisyah dengan nada yang masih sama.
"Kenapa tidak minta izin dulu pada Abi atau Umi? Apa kamu menganggap kami sudah tidak ada lagi, sehingga kamu pergi tanpa izin?!" teriak Abi Rasyid menggelegar memenuhi ruang keluarga itu.
Aisyah memejamkan mata. Degup jantungnya mulai berdetak kencang. Wanita itu sudah tahu bahwa ini akan terjadi. Dia sedari tadi sudah menyiapkan diri, tapi tetap saja wanita itu masih merasa ketakutan.
Terlihat Abi Rasyid mengeluarkan sesuatu dari saku baju Koko ya. Pria paruh baya itu tanpa hati langsung melempar sebuah ponsel, dan itu tepat ke arah tembok, membuat benda itu beradu dengan dinding hijau itu.
Hancur sudah ponsel itu, "Apa gunanya kamu mempunyai barang itu Ais!" Seru Abi Rasyid dengan menunjuk ke arah ponsel yang sudah hancur, "kenapa menangis?" tanya Abi Rasyid saat melihat sebutir air keluar dari pelupuk mata Aisyah.
"Ti—tidak Abi. Ais tidak menangis," ujar wanita itu, dan dengan cepat dia menghapus air matanya, kemudian menyinggung senyum, "Ais minta maaf, dan tidak akan mengulangi hal itu lagi," lanjut wanita itu dengan tersenyum sangat manis.
"Sudah cukup Abi. Ais juga sudah meminta maaf, dan mengakui kesalahannya. Lebih baik kita bergegas pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah tarawih," ujar Umi Rohana mencoba menghentikan amarah sang suami.
"Ini pertama dan terkahir kalinya Abi mendapatkan kamu seperti itu Ais. Jika kamu mengulanginya lagi, Abi tidak akan segan terhadapmu," ancam Abi Rasyid, dan tepat setelah itu adzan Isa berkumandang, membuat Abi Rasyid menghela nafas, "Abi akan menunggu kalian di luar."
Dengan langkah cepat Umi Rohana mendekati sang anak, dan langsung memapahnya berjalan ke kamar, "Tolong jangan buat Abi marah lagi Ais," bisik Umi Rohana semabari melangkah menjauh dari ruang keluarga.
Aisyah hanya mengangguk mematuhi permintaan Uminya. Mereka berdua masuk kedalam kamar masing-masing untuk bersiap-siap pergi ke masjid, dan menjalankan shalat sunah tarawih.
***
Satu jam telah berlalu. Shalat tarawih pun sudah usai ditunaikan oleh Aisyah dan keluarga. Terlihat mereka berjalan keluar dari masjid, tapi tepat di gerbang Abi dan Umi Aisyah memberhentikan langkah mereka.
"Pak Rasyid," sapa seorang Pria paruh yang tidak terlalu tua, membuat Abi Rasyid menghentikan langkahnya.
"Assalamualaikum pak Kiai," sapa balik Abi Rasyid, dan langsung meraih tangan Pria tua itu lalu menciuminya.
Umi Rohana dan Aisyah langsung menyinggung senyum, dan ikut meraih tangan kanan Pria tua itu.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Kiai Hasan, dan dia tidak lupa melukis senyum di wajahnya yang sudah terlihat keriput, "apa wanita cantik ini Aisyah?"
Aisyah hanya menyinggung senyum dan mengangguk sebagai jawabannya. Melihat hal itu Abi Rasyid langsung menatap tajam kearah putrinya.
"Iya kakek. Saya Aisyah," jawab Aisyah setelah tadi melihat tatapan tajam Abinya.
"Masyaallah, sudah besar sekali cucuku ini," ujar Kiai Hasan dengan nada dibuat terkejut, "cantik pula, sangat cocok bersanding dengan cucu laki-lakiku," lanjut Kiai Hasan membuat Abi Rasyid, Umi Rohana terkekeh.
"Abi—Umi, apa boleh Ais pulang duluan?" ujar Aisyah meminta izin.
"Tentu saja nak, bawa ini. Ingat langsung pulang, dan jangan keluyuran," ujar Abi Rasyid membuat Aisyah mengangguk patuh.
Aisyah mengambil alih kunci yang disodorkan Abinya, "Kalau begitu Aisyah pamit pulang dulu, assalamualaikum," pamit Aisyah, dan langsung melangkah setelah ucapan salamnya terbalaskan.
Aisyah berjalan dengan bersenandung membuat dia tidak menyadari, kalau dia sudah sampai di rumah. Dengan gerakan perlahan wanita itu membuka gerbang, dan langsung melangkah masuk menuju pintu rumahnya.
Langkah Aisyah terhenti tepat di depan pintu rumahnya. Matanya membulat saat melihat sebuah kotak yang terbungkus oleh kertas kado berwarna merah. Tanpa berpikir panjang, Aisyah langsung bergerak mengambil kotak tersebut.
Wanita cantik yang masih terbalut mukenah itu mengedarkan pandangannya ke arah kanan dan kiri, "Siapa yang meninggalkan kotak ini di sini?" gumam Aisyah bertanya karena tidak melihat siapapun di sekeliling rumahnya.
Wanita itu bergerak memutar-mutar kotak merah berukuran kecil itu. Gerakannya terhenti saat melihat selembar kertas kecil menempel di bagian bawah kotak.
Aisyah yang penasaran bergerak melepas kertas kecil itu. Wanita itu mulai membuka lipatan-lipatan kertasnya, "Untuk Isyah," gumam Aisyah membaca tulisan yang ada di kertas itu.
Seketika matanya membulat terkejut. Wanita itu kembali membaca isi kertas itu untuk memastikan dia tidak salah membacanya.
"Aku tidak salah membacanya bukan," gumam Aisyah tidak percaya dan kembali membaca isi kertas itu dan isinya masih sama.
"Hanya satu orang yang memanggilku dengan nama ini, dan dia...." Aisyah terlihat berfikir dan seketika matanya mengembung, dan berkaca-kaca saat satu nama teringat di otaknya, "Malik," lanjut Aisyah, dan dia dengan cepat membuka isi kotak tersebut.
Lagi dan lagi, wanita itu terkejut. Dengan gerakan cepat dia mengeluarkan isi kotaknya, dan dia langsung terduduk dilantai saat sebuah tasbih berwarna merah dengan mainan hati sebagai hiasannya, dia keluarkan dari kotak itu.
Dengan tangan kanannya Aisyah menggenggam erat tasbih itu, lalu dia letakkan tepat diatas dadanya, "Kenapa kau datang padaku lagi Malik," gumam Aisyah dengan memejamkan mata.
Dari arah luar gerbang, terlihat seorang Pria yang terbalut dengan jaket hitam, dan saat ini sedang menatap tajam ke arah Aisyah. Orang misterius itu menyunggung senyum, dan setelahnya dia langsung bergerak menutup kepalanya dengan penutup jaket.
"Kita akan bertemu lagi, Isyah," gumam pria misterius itu, dan dia langsung berlalu pergi saat melihat Aisyah sudah masuk ke dalam rumahnya.
Malam semakin larut. Lantunan bunyi ayat-ayat suci Al-Qur'an di setiap masjid terdengar jelas menyalami gendang telinga, membuat malam hari ini terasa amat sangat damai dan itu juga dirasakan oleh seorang Pria berjaket hitam yang di mana, saat ini dia tengah mengendarai sebuah mobil. Sedari tadi bibirnya tidak bisa berhenti, untuk tidak menyungging senyum.
Pria berperawakan tinggi dengan iris mata hitam sedikit kecoklatan, surai hitam legam, dengan kulit wajah putih bersih, dan rahang yang kokoh, serta bulu-bulu halus yang tumbuh disisi pipinya membuat dia terlihat sangat tampan.
Iya— pria itu adalah Malik Putra Narendra, Pria berparas tampan yang sebentar lagi akan menjadi pemimpin di salah satu perusahaan besar milik keluarganya. Malik menghentikan laju mobilnya tepat saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.
Pria itu menyandarkan punggungnya untuk merilekskan diri. Sesekali dia kembali tersenyum saat pikirannya mengingat sebuah nama.
Iya, nama yang dulu hingga kini masih terukir permanen dihatinya, nama yang dulu hingga saat ini masih spesial untuknya, nama yang dulu hingga kini masih sangat suka dia sebutkan di setiap bangun dan tidurnya, dan nama itu iyalah Isyah.
Malik menegakkan tubuhnya kembali. Mata hitam kecokelatannya, langsung melihat hiasan gantung yang memamerkan sebuah figur foto wanita.
Iya, wanita yang hingga saat ini tidak pernah dia lupakan dan akan selalu menjadi cinta sejatinya. Wanita itu tidak lain tidak bukan adalah Aisyah Putri Rasyid.
Dengan tersenyum Malik bergerak mengelus figur foto Aisyah yang terlihat sangat cantik dengan baju tertutup dan jangan lupa hijab yang terpasang rapi menutupi rambutnya di foto itu.
"Aku tidak sabar bertemu denganmu lagi Isyah. Jujur, aku tidak bisa melupakanmu. Aku masih belum tahu alasan kamu menyudahi kisah kita," gumam Malik sembari terus menggelus figur foto itu dengan ibu jarinya.
Bunyi klakson mobil dari arah belakang membuat Malik tersadar. Pria itu dengan cepat kembali menancap gasnya, untuk membelah jalanan kota Jakarta yang malam ini masih nampak sangat lah padat.
***
Beberapa menit telah berlalu. Akhirnya mobil yang di kendarai oleh Malik, sudah masuk ke area sebuah rumah mewah, dengan halaman depan yang sangat luas, dan di sisinya ditumbuhi oleh dedaunan yang berjajar rapi.
Malik menghentikan laju mobilnya tepat di pekarangan rumah. Pria berusia 25 tahun itu bergerak melepas sabuk pengamannya, dan hendak bergerak keluar dari dalam mobilnya. Tetapi, gerakannya terhenti saat matanya kembali menatap figur foto Aisyah.
Pria itu kembali menyungging senyum, tanpa diduga dengan gerakan cepat Malik mengecup figur foto itu, dan langsung bergegas keluar dari dalam mobil. Dengan langkah santai dan raut bahagia, Malik berjalan ke pintu masuk rumah berlantai dua milik orang tuanya.
Sesampainya di dalam rumah, raut bahagia Malik belum lah menghilang. Saking bahagianya, pria tampan itu tidak ada hentinya bersiul dan melempar kunci mobilnya.
"Rendra." Terdengar suara bariton pria membuat Malik menghentikan langkahnya.
Malik yang tadinya hendak menaiki anak tangga mengurungkan niatnya. Pria itu menoleh ke sebelah kanan, di mana arah suara itu berasal. Senyum Malik lagi-lagi mengembang.
Pria tampan itu berjalan cepat ke ruang keluarga, "Papa ... Mama," sapa Malik dan langsung memeluk tubuh Pria paruh baya seumuran Abi Rasyid. Pria paruh baya yang tengah berekspresi datar itu membalas pelukan sang anak.
Malik mengurai pelukannya, dan mata coklatnya sekarang terarah pada wanita paruh baya seumuran Umi Rohana, yang tengah berdiri di samping Rizwan, Papa Malik.
"Mama— i miss you," ujar Pria itu dan langsung memeluk erat wanita yang dia rindukan selama 7 tahun terkahir ini.
"Apa begini caramu pulang setelah tujuh tahun lamanya menghilang," ujar dingin Rizwan membuat Malik mengurai pelukannya, "kau masih sama Rendra. Kau masih anak yang tidak punya sopan santun," lanjutnya dengan nada yang sama.
"Maksud Papa?" bingung Malik terdengar belum mengerti arah pembicaraan Rizwan.
"Kau sudah berusia 25 tahun Rendra. Jadi dewasalah sedikit. Papa sudah semakin Tua, dan siap untuk pensiun," ujar Rizwan dengan menatap tajam ke arah putra semata wayangnya, "seharusnya di usiamu itu, kau sudah menggantikan orang tua ini. Tetapi, semenjak kau lulus dari Pesantren. Kau malah menghilang entah kemana,' lanjut Rizwan dengan masih menatap tajam sang anak.
"Rendra pergi untuk berkuliah Papa. Sekarang Rendra sudah kembali, dan siap menggantikan Papa," jawab Malik degan nada santai.
Iya— setelah lulus dari pondok pesantren. Malik langsung meninggalkan Indonesia untuk berkuliah keluar negeri tanpa sepengetahuan keluarganya. Kalian harus tau, walau sikap Malik terbilang buruk, liar, dan tidak mau dikekang. Tetapi, kecerdasan yang dimiliki pria itu tidak main-main, dan berkat kepintarannya itu. Malik mampu bersekolah tanpa harus memberatkan keluarganya.
Sebenarnya Malik tidak pernah berniat masuk ke pondok pesantren. Orang tuanya lah yang memaksa Malik bersekolah di pondok pesantren agar dia bisa disiplin, taat agama, dan berperilaku baik.
Entah mengapa bukannya berubah malah Malik semakin menjadi-jadi, dan sangat sulit di atur. Tetap,i Malik tidak pernah menyesali keputusan orang tuanya. Berkat mereka berdua, Malik menemukan sosok wanita yang akan mendampinginya kelak.
Sosok wanita itu adalah Aisyah Putri Rasyid, wanita berparas cantik dengan sikap baik hati itu, apakah bisa bersanding dengan Pria modelan Malik Putra Narendra, yang sikapnya melebihi iblis itu?
"Karena Rendra sudah kembali. Mulai besok Rendra akan mengambil alih perusahaan Papa," ujarnya membuat Rizwan terkejut, "kenapa Papa berekspresi seperti itu?" bingung Malik membuat Rizwan langsung menghilangkan ekspresi itu.
"Tidak bisa seperti itu Rendra. Menyerahkan sebuah kepemimpinan tidak segampang yang kau katakan itu."
"Apa yang kurang dari Rendra Pa? Rendra lulusan terbaik di universitas luar negeri, Rendra juga cerdas, dan yang pasti tidak akan mengecewakan Papa," sanggah Malik dengan menaikkan satu oktaf suaranya.
"Sayang tolong pelankan suaramu jika berbicara dengan orang tua," intrupsi Hayati, Mama dari Malik yang sedari tadi bungkam tidak ikut campur.
"Tidak Mama. Dengan Papa berbicara seperti itu, seolah dia meremehkan anaknya sendiri."
"Papa tidak ada niat sedikitpun untuk meremehkan. Papa hanya mengatakan, kau tidak bisa asal mengambil kepemimpinan begitu saja," sanggah Rizwan membuat Malik menyinggung senyum sinis.
"Omong kosong," ujar Pria itu dengan raut wajah sinis.
Malik yang sudah jengah atas apa yang dikatakan Rizwan memilih melangkah meninggalkan ruang keluarga itu. Tetapi, langkahnya terhenti saat suara bariton milik Rizwan terdengar di telinganya.
"Mulai besok kau akan bekerja di bagian staf keuangan. Buktikan pada Papa, kalau kau bisa bekerja dengan baik," ujar Rizwan dan membuat Malik menaikkan satu sudut bibirnya.
"Baiklah jika itu keinginan Papa, Rendra akan buktikan, kalau Rendra itu terbaik," ujarnya dengan nada percaya diri dan langsung melanjutkan langkahnya.
***
Kediaman keluarga Rasyid.
Di salah satu kamar di rumah sederhana keluarga Rasyid. Terlihat Aisyah terbaring dengan masih mengenakan mukenah shalatnya.
"Jangan lagi hiks...hiks...." gumam Aisyah disertai oleh isakan pelan yang keluar dari bibir mungilnya.
Aisyah kembali membenamkan wajahnya ke bantal tidurnya. Wanita itu sedari tadi hanya bergumam dengan kata yang sama seperti yang diucapkannya tadi.
Bunyi ketukan pintu dari luar membuat Aisyah mengentikan isakan, "Ais apa kau tertidur sayang?" tanya Umi Rohana dari luar ruang kamar Aisyah.
Aisyah tidak menjawab. Wanita itu memejamkan mata sembari menahan isakan yang selalu ingin keluar, "Kenapa adek berteriak seperti itu di depan kamar Ais." Aisyah semakin membekap mulutnya saat mendengar suara Abi nya juga ada di sana.
"Adek hanya ingin melihat Ais Abi. Setelah pulang dari masjid tadi, Ais belum keluar kamar sekalipun."
"Mungkin Ais sudah tertidur. Adek juga tidurlah. Abi akan ke masjid sebentar," perintah Abi Rasyid, dan langsung menyodorkan tangan kanannya ke hadapan sang istri.
Umi Rohana yang melihat itu langsung bergerak menyalami tangan suaminya, dan menciumi punggung tangan itu.
"Kalau begitu Abi permisi dulu, assalamualaikum," pamitnya, dan langsung dibalas anggukan serta slaan oleh Umi Rohana.
Aisyah yang sudah tidak mendengar suara orang berbicara kembali bangun. Wanita itu dengan masih mengenakan mukenah menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Lagi dan lagi, entah mengapa setiap dia melihat tasbih merah di tangan kanannya itu, membuat air mata Aisyah mengalir.
Wanita itu bergerak menempelkan tasbih berwarna merah hati itu, tepat di dadanya. Wanita itu kemudian bergerak menekuk kakinya, dan membenamkan wajahnya di celah paha.
"Hiks...hiks.... Kenapa kau harus kembali menemui diriku Malik. Kenapa?" gumam Aisyah dan kenangan-kenangan bersama Malik kembali terngiang di pikirannya
Pondok pesantren Khaliyah, 7 tahun yang lalu
"Ais...." panggil Layla dari luar ruang kamar santriwati. Aisyah yang sekarang larut dalam lamunannya, tidak bergeming sedikitpun.
Melihat sahabat sedari kecilnya masih terdiam, Layla melangkah masuk ke ruang kamar santriwati. Aisyah yang masih larut dalam lamunannya tidak menyadari, kalau Layla sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Ais...." panggil Layla, wanita yang terbalut dengan pakaian putih, bawahan rok abu-abu panjang, dan jilbab berwarna putih, yang sudah terpasang rapi di kepalanya itu dengan nada lembut sembari menepuk pundak Aisyah.
Seketika itu juga Aisyah langsung terkejut. Wanita itu dengan cepat mengusap satu butir air yang keluar dari pelupuk matanya.
"Kamu teh kenapa Ais?" tanya Layla dengan nada khawatir saat melihat teman sedari kecilnya melamun.
"Ti—tidak, Ais tidak apa-apa," jawab cepat Aisyah, dan langsung menyungging senyum manis di wajah putihnya.
"Kalau tidak kenapa-napa, kenapa Ais menangis?" tanya Layla sembari bergerak duduk di sisi kanan Aisyah.
Aisyah menyinggung senyum lebar. Gadis remaja yang sudah siap dengan pakaian putih, rok abu-abu, dan jilbab putih itu bergerak menggenggam tangan Layla.
"Ais tidak menangis. Hanya saja tadi ada debu masuk ke mata Ais," jawab Aisyah dengan nada yang dibuat biasa saja, walau hatinya sekarang tengah merasakan gundah gulana, 'maaf Layla. Masalah ini biar aku simpan sendiri,' lanjutnya dalam hati.
Layla yang mendengar itu menyungging senyum. Gadis remaja yang berusia 18 tahun itu membalas genggaman tangan Aisyah, "Kalau begitu cepatlah, kita akan menghabisi hari terakhir kita di pondok pesantren tercinta ini," ajak Layla dengan riangnya.
Aisyah yang melihat tingkah girang Layla menarik kedua sudut bibirnya, "Ayok atuh. Ais juga tidak sabar melihat pengumuman kelulusan kita," ujar Aisyah mencoba ikut bahagia.
Layla yang senang mendengar ucapan Aisyah, langsung bangkit, dan menarik kuat Aisyah agar ikut berdiri.. Spontan Aisyah yang di tarik, ikut berdiri, dan tanpa di duga sebuah tasbih berwarna merah jatuh dari pangkuannya.
"Layla— kenapa kau tidak bisa pelan-pelan," marah Aisyah, dan langsung bergerak memungut tasbih yang sangat-sangat berharga dalam hidupnya.
"Maaf," ujar singkat Layla dengan cengengesan, "tau lah barang yang istimewa," ejek Layla, dan membuat Aisyah malu.
"Cepat, kita sudah terlambat," ujar Aisyah sembari menundukkan kepala berjalan terlebih dulu.
"Ais tunggu!" Layla berteriak sembari kaki melangkah mengejar Aisyah yang berjalan cepat, "aku lupa mengatakan kalau dari tadi Rendra mencarimu," lanjutnya saat sudah berjalan di sisi Aisyah.
"Malik? Kenapa dia mencariku?" tanya bingung Aisyah membuat Layla terkekeh pelan.
"Kenapa bertanya padaku. Mungkin pacarmu itu lagi rindu. Apalagi setelah hari ini kalian pasti akan berjauhan," ejek Layla dengan terkekeh, membuat Aisyah memerah malu.
"Biasa aja atuh. Mana mungkin dia merindukan ak-...."
Perkataan Aisyah terhenti saat sebuah lengan kekar menariknya dari samping. Aisyah yang terkejut menoleh ke sisi kanannya berniat untuk memarahi Pria yang menyentuhnya itu.
Bukannya marah, tapi gadis remaja itu malah terdiam saat mata hitamnya bersitatap, dengan mata hitam sedikit kecoklatan milik seorang Pria yang sudah berhasil merebut hatinya.
"Layla gue pinjem temen lo sebentar," izin Malik dengan gaya sok cool, dan langsung menggeret Aisyah berjalan ke lorong menuju taman belakang ruang tidur santriwati.
"Lima menit, kurang dari lima menit akan aku tinggal Ais!" seru Layla dengan menyungging senyum, saat melihat tingkah malu-malu Aisyah.
Layla yang sudah di tinggal oleh Aisyah memilih duduk di kursi panjang berwarna putih, yang disediakan pihak pondok pesantren untuk para santri duduk.
Sementara di sisi lain, Malik masih senantiasa menggenggam erat lengan Aisyah, yang saat ini terbalut sebyah lengan panjang dari baju putihnya.
"Duduk," perintah Malik disertai nada lembut dari setiap perkataannya.
Aisyah yang mendengar perintah itu langsung mengikutinya, dan bergerak duduk di kursi panjang warna putih diikuti Malik yang juga duduj di sisi kanannya.
"Kenapa lama sekali sih?" tanya Malik lembut, membuat Aisyah menoleh ke arahnya.
"Maaf, apa Malik menunggu lama?" ujar Aisyah dengan menyungging senyum sangat manis. Kalian harus tau, senyum itulah yang membuat Malik jatuh cinta pada pandangan pertama. Malik semakin larut dalam cintanya saat dia semakin mengenal dekat Aisyah.
Mulai dari tutur katanya, sopan santunnya, dan tentu karena kebaikannya. Saat Pria itu sudah sangat mengenal Aisyah, di saat itu juga dia memutuskan untuk menjadikan Aisyah istrinya.
"Sebentar lagi Isyah. Tinggal beberapa tahun lagi," ujar lembut Malik dengan memancarkan tatapan teduh untuk wanita dambaannya.
"I...iya, tapi bukan beberapa tahun lagi. Tinggal beberapa jam lagi masa-masa SMA kita di pondok pesantren ini usai," balas Aisyah dengan memutus kontak matanya, dan memilih menatap tajam ke arah bunga-bunga yang bermekaran di depannya.
"Iya ... Setelah itu kita akan ke perguruan tinggi, dan setelah itu kita...." Malik menjeda ucapannya, "Isyah...." panggil Malik dan Aisyah langsung menoleh.
"Ada apa?" tanya bingung Aisyah dan membuat Malik menyungging senyum gemas untuk kekasihnya.
"Apa aku boleh menyentuhmu?" tanya Malik meminta izin. Padahal dulu, pria yang bernama lengkap Malik Putra Narendra itu tidak pernah meminta izin untuk menyentuh wanita. Tetapi, pengecualian untuk gadis yang ada di depannya itu.
Aisyah menundukkan kepala dan mulai menautkan telunjuk tangannya. Entah kenapa jika gadis itu gugup selalu saja bermain dengan telunjuk tangannya.
"Ki...kita bukan muhrim Malik. Maaf, aku tidak mengizinkanmu karena Abi melarangku bersentuhan jika bukan sesama jenis," sesal Aisyah dan membuat harapan Malik pupus.
Dari awal mengenal Aisyah. Milik sangat jarang bisa menyentuh kekasihnya itu. Belum lagi, karena didikan keras dari orang tuanya, membuat gadis itu bisa menjaga diri. Malik hanya bisa menyentuh tubuh Aisyah, jika memaksanya seperti yang dilakukannya tadi.
"Abimu tidak akan mengetahuinya Isyah," ujar Malik, membuat Aisyah bangkit dari duduknya, dan langsung menjaga jarak, "kamu mau pergi kemana Isyah?" tanya Malik dan ikut bangkit dari duduknya.
"Ma—maaf aku tidak bisa. Aku bukan wanita yang dengan suka rela nya di sentuh oleh Pria yang bukan muhrimnya," takut Aisyah dan melangkah mundur.
"Ak-...."
"Jika Malik tidak bisa menerima itu. Malik bisa mencari wan-...."
"Isyah!" Teriak Malik menggelegar di taman belakang ruang tidur santriwati itu, "jika aku tidak menerima hal itu. Aku sudah dari dulu meninggalkanmu, tapi buktinya selama dua tahun ini aku nyaman bersamamu."
"Tap-...."
"Berhenti bicara! Ucapanmu itu pasti akan membuatku sakit hati Isyah. Entahlah apa masalahmu? kenapa setiap kali kamu marah, kamu selalu mengatakan cari wanita lain lah, putusin aku lah, atau beginilah begitulah. Aku lelah mendengar itu Isyah."
Aisyah menundukkan kepala. Gadis itu kembali bergerak menautkan jari telunjuknya, "maafkan Isyah. Tetapi, kenapa Malik membentak Isyah seperti itu."
"Maaf Isyah, aku kehilangan kendali. Aku minta maaf," ujar Malik penuh sesal, tapi Aisyah masih saja menundukkan kepala.
"Isyah— angkat kepalamu," perintah Malik. Aisyah bergerak mengangkat kepalanya, dan dia langsung menunjukkan matanya yang berkaca-kaca.
Begitulah Aisyah. Dia wanita yang gampang mengeluarkan air mata jika mendapatkan bentakan. Memang benar gadis itu dididik dengan keras oleh orang tuanya, dan akibat dari didikannya itu, Aisyah mudah sekali mengeluarkan air mata.
Malik yang melihat sebutir air keluar dari pelupuk mata kekasihnya itu bergerak hendak menyekanya. Tetapi, dengan gerakan cepat Aisyah mundur beberapa langkah, dan langsung menghapus iar matanya.
"Ka...kalau Malik sudah selesai membentak Isyah. Bisakah Isyah pergi?" ujar Aisyah meminta izin.
"Isyah tolong dengarkan aku dulu. Jujur aku tidak bermaksud membentakmu seperti itu sayang," ujar lembut Malik, dan bergerak membingkai wajah Aisyah dengan kedua tangannya.
Namun, gerakannya terhenti saat Aisyah lagi-lagi melangkah mundur, "Tolong jangan menyentuhku Malik," pinta Aisyah, dan dengan cepat Malik menganggukkan kepala.
"Baiklah aku tidak akan menyentuhmu, tapi tolong jangan marah lagi padaku. Sungguh aku tidak bermaksud membentakmu."
"Isyah tidak marah, Isyah hanya terkejut Malik membentak Isyah," balas Aisyah, dan itu membuat Malik mengembuskan nafas lega.
"Jadi Isyah tidak marah padaku?" tanya Malik, dan langsung mendapatkan gelengan dari Aisyah, "kalau begitu, setelah pengumuman kelulusan selesai. Temui aku di ruang kelas. Ada sesuatu yang akan aku berikan padamu," ujar lembut Malik dengan tersenyum.
"Kalau begitu aku pergi dulu Isyah," pamitnya, dan langsung berjalan meninggalkan Aisyah.
Malik menghentikan langkahnya dan langsung berbalik, "Isyah!" teriak Malik dan membuat Asiyah memutar tubuhnya menghadap ke arahnya, "Aku mencintaimu!" Teriaknya lagi dan langsung berlari.
Aisyah, gadis berusia 18 tahun itu langsung bersemu merah saat mendengar ucapan cinta dari kekasihnya. Aisyah berjalan meninggalkan taman belakang dengan bibir yang tak hentinya menyunggung senyum.