Sampul Novel Aku Bukan Pelakor.

Aku Bukan Pelakor.

9.3 / 10.0
Hari pernikahan Nada yang dinanti justru menjadi awal kehancuran hidupnya. Di hadapan para tamu, seorang wanita muncul dan mengaku sebagai istri sah dari calon suaminya, mempermalukan seluruh keluarga Nada. Di tengah hantaman pengkhianatan dan rasa kecewa yang mendalam, ia harus menghadapi kenyataan pahit lainnya. Kini, dalam dilema batin yang menyiksa, Nada menyadari bahwa dirinya tengah mengandung anak dari pria yang telah membohonginya tersebut.
Ringkasan Aku Bukan Pelakor.
Hari pernikahan Nada yang dinanti justru menjadi awal kehancuran hidupnya. Di hadapan para tamu, seorang wanita muncul dan mengaku sebagai istri sah dari calon suaminya, mempermalukan seluruh keluarga Nada. Di tengah hantaman pengkhianatan dan rasa kecewa yang mendalam, ia harus menghadapi kenyataan pahit lainnya. Kini, dalam dilema batin yang menyiksa, Nada menyadari bahwa dirinya tengah mengandung anak dari pria yang telah membohonginya tersebut.
Baca Selengkapnya

Aku Bukan Pelakor. Bab 1

Suasana rumah sederhana milik salah satu warga kampung Anyelir terlihat ramai. Kediaman bernuansa biru laut itu adalah milik kelurga Pak Baron. Sebuah acara sakral dan penting akan segera digelar di sana. Pesta pernikahan anak gadis pertama mereka.

Sebuah tenda sederhana sudah terpasang rapi di depan rumah, deretan kursi dan meja di mana penuh dengan berbagai jajanan menghiasi setiap sudutnya. Cuaca yang cerah sangat mendukung akan pelaksanaan hal yang suci ini.

Di dalam rumah, keluarga Pak Baron baru saja menyambut tamunya, yaitu mempelai laki-laki beserta keluarga. Laki-laki yang diperkirakan usianya di atas empat puluhan itu menjabat pria di hadapannya.

"Selamat datang, Nak Saka," ucap Pak Baron pada calon menantunya. Atensinya beralih pada seorang laki-laki di samping Saka yang ia ketahui adalah kakak dari Saka.

Memang, menurut pengakuan Saka, Pria itu sudah tidak memiliki orang tua lagi. Hanya ada kakak tunggalnya yang juga menjadi wali nikah. Bagi Pak Baron itu tidak apa, toh umur memang tidak ada yang tahu.

"Selamat datang Nak Aska," sapa Pak Baron pada kakak calon menantunya. Pria dengan tahi lalat di hidung itu menjabat tangan Pak Baron, membalas sapaan.

"Ayo. Kita langsung mulai saja acaranya. Lebih cepat lebih baik, bukan?" ucap perempuan yang tidak lain adalah istri dari Pak Baron—Ibu Mila.

Aska dan Saka saling berpandangan, keduanya saling mengangguk lalu duduk di tempat masing-masing. Saka yang duduk di seberang meja di mana tempat akad akan dilaksanakan, sedangkan Aska duduk di sisi meja sebagai saksi dari pihak Saka.

"Saya panggilkan Nada dulu, ya," ucap Ibu Mila. Perempuan itu berlalu ke salah satu bilik kamar dengan mengajak putri keduanya. Tidak lama, mereka keluar dengan seorang perempuan dengan pakaian kebaya putih berhiaskan bunga melati.

Sosok itu adalah seseorang yang bernama Nada—calon istri Saka. Paras ayu yang dimiliki tampak semakin bersinar dengan polesan make up sederhana sebagai penunjang riasan. Senyum manis yang terpatri membuat semua orang takjub melihatnya.

Rona merah yang menghiasi pipi membuat wajah perempuan itu tampak bersinar. Tidak ada satu pasang mata pun yang melewati pandangan dari sosok pengantin perempuan hari ini.

Bahkan seorang Aska pun juga tidak lepas menelisik wajah calon adik iparnya. Dia mengacungi jempol sang adik Saka yang selalu bisa memilih pendamping berparas cantik dan juga cerdas.

Saka? Jangan tanya. Bahkan pria itu sedari tadi tidak mengalihkan pandangan sedikit pun dari keberadaan calon istrinya. Rasa takjub dan bangga akan pilihannya membuat dia merasa menjadi pria paling cerdas dan beruntung.

"Aku memang tidak salah pilih," ucapnya lirih. Berbagai rencana telah tergambar dalam benak pria itu. Ingin segera menghalalkan sosok perempuan cantik yang dikatakan bunga desa itu.

Nada memang salah satu gadis tercantik di desa ini. Banyak laki-laki yang dengan terang-terangan memperlihatkan ketertarikannya pada perempuan dengan mata hazle itu. Kini, sosoknya sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.

Sosok yang dikabarkan memiliki selisih umur delapan tahun dari Nada yang baru menginjak usia dua puluh. Sebenarnya banyak yang menyayangkan. Hanya saja, jodoh tidak ada yang tahu bukan?

Juga jangan tanyakan berapa hati yang sudah patah akibat perempuan itu yang memutuskan menikah.

"Nada cantik, ya," ucap salah satu tamu yang hadir.

"Iya. Orang dasarnya sudah cantik yang mau diapain aja tetep cantik." Semua orang saling berbisik mengagumi perempuan itu.

"Anak-anak Bu Mila memang cantik-cantik." Salah satu tamu lainnya berbisik pada temannya.

Mila menuntun putrinya untuk duduk di samping calon mempelai laki-laki. Harum bunga melati menyapa indra penciuman Saka karena riasan yang digunakan Nada memang menggunakan bunga asli. "Kamu cantik," bisik Saka lirih. Tidak lupa mengedipkan matanya nakal.

Namun, Nada jelas mendengarnya. Ia menunduk, tersipu malu dan memilih menyembunyikannya. Sudah deg-degan dengan acara yang akan dimulai, calon suaminya ini juga sudah menggodanya. Semakin membuat dia malu saja.

"Sudah siap?" Suara laki-laki menginstruksi. Seorang pria paruh baya dengan kopyah hitam dan sarung yang melingkar pada leher duduk di seberamg meja lain. Diketahui dia adalah penghulu dengan nama Pak Dhoni.

Pak Dhoni yang mendapatkan kehormatan untuk menikahkan anak gadis Pak Baron mengulurkan tangan di atas meja, di mana Saka langsung menyambutnya.

"Saudara Saka sudah siap?" tanya pak penghulu. Dia tersenyum ramah.

Saka mengangguk. "Siap," jawabnya mantap. Tidak tahu saja kalau Saka sudah ngebet untuk menikahi Nada sejak lama.

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Saka Prawira Bagaska bin Aditnya Basgaska dengan saudari Nada Sintya Kusumo bin Baron Kusumo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap penghulu dengan menghentak jabatan tangan keduanya.

Saka menarik napas dalam, siap menjawab ijab. "Saya terima nikah dan kawinnya Nada Sintya Kusumo bin Baron Kusumo dengan mas kawin tersebut tu—"

"Tunggu!" Acara sakral itu terhenti ketika sebuah suara teriakan terdengar dari arah luar.

Semua menoleh ke arah pintu rumah tidak terkecuali Nada dan Saka. Seorang perempuan dengan baju merah dan sebuah tas yang berada di tangan berdiri angkuh, dagunya mendongak menampakkan tidak ada rasa takut pada dirinya. Semua tamu pun mulai berbisik.

"Maaf. Siapa Anda?" tanya Pak Baron yang merasa heran dengan kehadiran perempuan ini. Jujur saja. Perasaan tidak enak pun sudah menyeruak dalam dirinya.

Saka yang mengenali betul siapa perempuan itu menatap pias sosoknya, melirik sang kakak yang juga menatap dirinya bingung. Tergambar jelas mimik wajah sang kakak kalau kakaknya bertanya mengenai hal ini. Saka menelan ludah.

Perempuan itu menunjuk dirinya. "Siapa? Siapa saya? Tanyakan saja pada calon menantu Bapak yang duduk di depan penghulu itu."

Perasaan Pak Baron semakin tidak terkendali, ia menoleh pada Saka di mana terlihat mimik penuh sesal di sana. Masih mencoba berpikir positif Pak Baron pun bertanya pada Saka. "Nak Saka. Siapa dia?"

Saka hanya diam. Tangan yang sebelumnya menjabat penghulu pun kini bertumpu di atas lipatan paha. Saling meremas menahan gejolak yang dirasa. "Nak," panggil Pak Baron lagi, tetapi Saka tetap diam.

Tidak berbeda jauh dengan Pak Baron, perasaan Nada beserta ibu dan adiknya kini pun gelisah, menatap Saka dan perempuan yang kini masih berdiri di depan pintu secara bergantian.

"Kenapa diam Saka?" tanya perempuan itu. "Mana sikap angkuhmu dua hari lalu!" Perempuan dengan rambut diikat pada bagian belakang itu berteriak nyaring.

Saka masih diam, menunduk dengan tangan yang kini semakin mencengkeram celananya. "Kamu tidak mau menjawab pertanyaan calon mertuamu Saka? Baiklah. Biar aku yang mengatakannya."

Perempuan itu menatap penuh pada Nada, lalu beralih pada Pak Baron. Menggunakan suara lantang dia mulai mengatakan siapa dirinya yang sudah berani datang mengacaukan acara sakral ini. "Saya Rina. Istri sah dari Saka Prawira Bagaska."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Aku Bukan Pelakor.

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Cinta matiku pada sang tunangan, Bima Wijoyo, berakhir tragis saat ia membiarkanku terpanggang api di studio seni demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Terbangun di masa lalu tepat sebelum rapat keluarga besar dimulai, aku membawa memori pahit tentang kobaran api itu. Kali ini, aku berdiri kokoh untuk membatalkan pertunangan kami di hadapan semua orang. Aku bersumpah tidak akan mati konyol untuk kedua kalinya.
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Kehidupan baru Anisa Rahma dimulai setelah ia menikah dengan Seno Bagaskara, seorang pria kaya raya. Di kediaman megah keluarga suaminya, ia harus beradaptasi tinggal bersama para ipar. Namun, di balik kemewahan itu, bahaya mengintai. Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno serta suami dari iparnya memendam hasrat terlarang padanya. Kini, ia terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah tersebut. Mampukah Anisa bertahan menghadapi situasi rumit ini?
Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan Bunga berbalik total setelah sebuah rahasia di kampusnya terungkap. Ezza, sosok suami yang dinikahinya melalui perjodohan orang tua, mendadak hadir sebagai dosen baru di tempatnya berkuliah. Kemunculan Ezza yang tiba-tiba di hadapannya memicu kecurigaan besar dalam benak Bunga. Ia pun mulai mempertanyakan tujuan sebenarnya dari sang suami. Apakah ada motif terselubung di balik keputusan Ezza, ataukah semua ini murni ketidaksengajaan?
Sampul Novel En-PD154
9.0
Kemenangan sepuluh kali beruntun di arena tak menghalangi Roderick untuk mengkhianatiku. Tunanganku itu justru asyik bermesraan dengan cinta pertamanya, bahkan membiarkan perempuan itu menghinaku sebagai sosok kasar tak berkelas. Kelembutan Roderick lenyap, digantikan pernyataan cinta untuk wanita lain di depanku. Dengan hati dingin, kuhubungi ayahku yang merupakan bos mafia. Aku meminta pertunangan ini dibatalkan demi mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika mengurus ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali bersama mentornya, Charli. Di sana, ia terpikat oleh Andini Wijaya, pemilik sekolah yang mandiri. Namun, hubungan mereka diuji saat mantan kekasih Andini, Junot, tiba-tiba kembali. Masalah kian rumit karena Lily, adik Andini, bertekad merebut Randika demi mendapat pengakuan dari ayah mereka, Sigit Wijaya. Di tengah bayang-bayang masa lalu dan ambisi keluarga Wijaya, akankah cinta Randika dan Andini tetap bertahan?
Sampul Novel Pengorbanannya, Kebencian Butanya
8.0
Demi Rania, tunangannya, Baskara tega memaksaku mendonorkan sumsum tulang. Kedekatan masa kecil kami kini musnah, berganti kebencian buta darinya setelah fitnah keji Rania menghancurkanku. Akibat rekaman asusila palsu itu, Baskara menyiksaku dan menculik orang tuaku, memaksaku melihat mereka jatuh dari gedung tinggi hingga tewas. Di tengah penyakit parah yang kusembunyikan, dia justru menyuruhku mati. Tanpa ragu, aku menuruti keinginannya dan melompat ke jurang maut.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED