Malam di hari itu gelap, guntur bergemuruh dan kilat menyambar di luar. Hujan telah turun sepanjang hari.
Kirana Tjandra sedang meringkuk di atas ranjang. Dia membungkus dirinya dalam selimut, tetapi meskipun dia telah melakukan itu, dia masih tidak bisa menahan gemetar yang melanda tubuhnya.
Dia selalu takut pada malam yang gelap dan penuh badai sejak dia masih merupakan seorang anak kecil. Dia merasa seolah-olah ada tangan tak terlihat yang tak terhitung jumlahnya akan meraihnya dan menyeretnya ke dalam sebuah jurang.
Kirana menggigit bibirnya. Meskipun seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat sekarang, dia masih tidak berani menggerakkan satu pun anggota tubuhnya atau membuat suara.
Critt.
Pintu kamar tidur perlahan terbuka. Kemudian Kirana mendengar suara sepatu kulit yang berderit di lantai kayu.
Jantung Kirana mulai berdetak kencang, dan dia menahan napas begitu lama sampai-sampai dia mulai merasakan nyeri di dadanya. Pikirannya mulai dipenuhi dengan adegan-adegan mengerikan yang seketika membuatnya merinding.
Dia sendirian di dalam vila besar ini. Untuk menjamin privasi tuan rumah, semua pelayan tinggal di rumah lain di belakang kediaman utama.
Hal berikutnya yang Kirana tahu, seseorang menarik selimut yang membungkus dirinya, yang membuatnya semakin gemetar.
"Jangan ...."
Dia berteriak dengan panik, tetapi teriakan itu sama sekali tidak menghentikan penyusup itu untuk menyibakkan selimut dengan kejam. Melalui air matanya, Kirana melihat seorang pria tampan yang mengenakan kemeja putih di depannya. Pria itu adalah Reza Hendrawan, suaminya.
"Mengapa kamu ada di sini?" Kirana merasa ketakutannya berangsur-angsur mereda saat melihat Reza di hadapannya. Jantungnya yang tadi melompat ke tenggorokannya, perlahan kembali ke tempat yang seharusnya.
"Mengapa? Apa kamu mengharapkan orang lain?" Reza melepaskan selimutnya, lalu mendengus dan kemudian mulai membuka kancing kemejanya. Dia membuka kancingnya satu per satu dengan jari-jarinya yang ramping, memperlihatkan dadanya yang berwarna coklat keemasan.
Kirana langsung tersipu dan memalingkan wajahnya.
"Apa kamu merasa malu?" Reza menatap istrinya yang sedang duduk meringkuk di atas ranjang.
Kirana mengenakan gaun tidur slip berbahan sutra. Dia tampak sangat gugup, dan dia tidak ingin menatap pria itu balik. Salah satu tali gaun tidurnya jatuh dari bahunya, dan cara dia meringkukkan badannya mengangkat ujung baju gaun itu ke pahanya. Kulit mulusnya tampak lebih menggoda di bawah cahaya redup.
Reza menelan ludah dan dia merasa sedikit terangsang dengan pemandangan itu.
Kirana dan Reza telah menikah selama tiga tahun lamanya, dan mereka sering berhubungan intim. Melihat ekspresi di wajah Reza, Kirana langsung tahu apa yang sedang dia pikirkan.
"Pergi mandi." Kirana melompat keluar dari ranjang. Dia mengeluarkan piyama Reza dari dalam lemari, menyerahkannya padanya, dan mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, dia mendengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi. Kirana merasa matanya perih saat memikirkan apa yang akan terjadi setelah Reza selesai mandi.
Dia dengan patuh memainkan peran sebagai Nyonya Hendrawan selama tiga tahun terakhir. Tetapi ketika malam tiba dan dia dan Reza sendirian di dalam kamar, pria itu akan menyiksanya di atas ranjang.
Pria itu seperti seekor binatang buas yang gila dan tak pernah puas yang tidak berhenti sampai dia benar-benar kelelahan.
Sementara Kirana berada dalam keadaan linglung, pintu kamar mandi terbuka, dan Reza melangkah keluar. Pria itu tidak memakai piyama yang telah dia siapkan untuknya. Sebagai gantinya, dia hanya melilitkan handuk mandi di pinggangnya. Air menetes dari rambutnya sampai ke perutnya dan terserap oleh handuk yang melilit di pinggangnya.
Sebelum Kirana bisa mempersiapkan diri, Reza menarik handuknya dan melemparkannya ke lantai. Dia meraih Kirana dan membaringkannya dengan posisi terlentang di atas ranjang. Hal berikutnya yang Kirana tahu, Reza menyingkirkan celana dalamnya dan menerkamnya, mengakibatkan Kirana menjerit kesakitan.
Reza terus bergerak penuh semangat. Udara panas yang dia hembuskan dari bibirnya membuat daun telinga dan leher Kirana merasa geli. Kemudian dia bergerak untuk mencium dan meraba setiap bagian tubuh Kirana. Kirana tidak bisa menahan erangan dan gemetar karena rangsangan yang dia rasakan.
Bagian sensitif Reza begitu panas dan keras di dalam dirinya, mendorongnya dengan kecepatan yang meledak-ledak. Kirana harus mengakui bahwa suaminya memang ahli di atas ranjang. Selama tiga tahun ini, pria itu sudah hafal di mana tempat paling sensitifnya. Saat ini, pria itu menemukan salah satu titik itu dan memuaskannya, membuatnya gila dalam kenikmatan.
Perasaan gembira itu membuat kepala Kirana berputar, dan dia bisa merasakan setiap sentakan yang diberikannya menjalar ke tulang punggungnya. Dia kecanduan akan perasaan itu. Saat Reza bergerak semakin cepat dan berirama, dia melengkungkan punggungnya dan kemudian mengangkat pinggulnya. Dia tak mampu mengendalikan diri dan mengiringi setiap dorongannya. Dia merasa perlu diisi.
Suara dua tubuh berkeringat yang saling beradu memenuhi ruangan itu bersama dengan gerutuan seksi Reza.
"Aku ingin mendengarmu mendesah, sayang. Ayolah. Keluarkan suara itu untukku." Suara Reza yang dalam dan memikat menyihir Kirana hingga benar-benar lupa diri.
Dia akhirnya membuka bibirnya yang dari tadi tertutup rapat dan membiarkan kenikmatan yang dirasakannya berubah menjadi erangan kesenangan yang lembut namun tak terkendali. Akhirnya Reza semakin terangsang saat mendengar istrinya mengerang. Dia hampir tidak bisa menahan diri.
Setelah berhubungan badan dengan Kirana di atas ranjang, Reza mengangkatnya, meletakkannya di lantai, dan berhubungan badan dengannya di sana. Dia juga membawanya ke kamar mandi dan di balkon. Dia membuat Kirana puas lagi dan lagi seolah-olah dia tidak pernah lelah. Akhirnya Kirana kelelahan, dan tertidur di dalam pelukannya.
Kirana membuka matanya setelah waktu yang lama. Mendengar suara napas Reza yang berirama, dia tahu bahwa pria itu sedang tidur nyenyak. Dia melepaskan tangannya dari pinggangnya, turun dari tempat tidur, dan berjingkat ke arah jendela. Dia duduk dan menatap kosong ke langit malam yang ada di luar.
Tiga tahun telah berlalu. Selama itu, Reza tidak pernah sekali pun memanggilnya dengan panggilan "sayang" kecuali saat mereka sedang berhubungan intim.
Kirana membalikkan badannya dan menatap wajah tampan Reza yang sedang tidur. Mata pria itu selalu dingin dan tanpa emosi ketika dia memandangnya kecuali ketika mereka berada di tempat tidur.
Tiga tahun lalu, ayah Kirana gagal dalam bisnisnya dan akhirnya terkubur di dalam tumpukan utang. Banyak kreditur yang datang menghampiri mereka untuk meminta uang mereka kembali. Untuk melunasi utang mereka sesegera mungkin, Keluarga Tjandra tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan dari Keluarga Hendrawan, karena kedua keluarga telah membuat kesepakatan bertahun-tahun yang lalu untuk menikahkan anak-anak mereka. Mereka berharap Kirana akan menikah dengan Reza, dan Keluarga Hendrawan akan memberi mereka sejumlah besar uang untuk membantu mereka melewati krisis ini.
Keluarga Hendrawan adalah keluarga yang kaya dan berkuasa, tetapi Reza Hendrawan adalah seorang playboy terkenal.
Kirana belum pernah bertemu dengan Reza sebelumnya, dan ada pria lain yang sedang disukainya saat itu. Awalnya, dia menolak ketika ayahnya memintanya untuk menikah dengan Reza. Tapi kemudian, ayahnya mengancamnya menggunakan ibunya yang sakit jiwa. Pada akhirnya, Kirana tidak punya pilihan lain selain menyetujui perintah ayahnya.
Sebelum pernikahan itu berlangsung, Keluarga Hendrawan dan Keluarga Tjandra telah mengatur pertemuan agar Kirana dan Reza bertemu.
Kirana merasa sangat enggan saat datang ke rumah Keluarga Hendrawan.
Hari itu, matahari bersinar begitu terik. Ketika Kirana melihat Reza untuk pertama kalinya, mata pria itu dipenuhi dengan ketidaksabaran. Namun, pria itu tetap terlihat sangat menarik. Pria itu mengingatkannya pada Romeo dari kisah cinta klasik.
Kirana merasakan jantungnya berdebar begitu kencang dan telapak tangannya menjadi basah saat Reza berjalan mendekatinya. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa calon suaminya adalah pria yang sama dengan pria yang telah dia sukai selama bertahun-tahun lamanya.
Dia masih bisa mengingat dengan jelas percakapan pertama di antara mereka selama sore yang tenang itu. Dia menyapa Reza dengan nada gembira, "Halo. Perkenalkan aku adalah Kirana Tjandra, calon istrimu."
Reza mendengus saat menanggapi perkenalannya. Dia duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya yang panjang dan berkata dengan nada dingin, "Kirana Tjandra? Terserah kamu saja. Sejujurnya, kakekku sedang sakit parah dan hanya bisa terbaring di atas ranjang. Kakekku ingin memiliki cicit sebelum dia meninggal. Aku tidak akan menikah denganmu jika kakekku dalam keadaan sehat. Keluargaku akan memberi keluargamu sejumlah uang untuk menyelesaikan masalahmu. Tapi setelah kita menikah, kita hanya akan menjadi suami dan istri yang sah secara hukum. Jangan harap aku akan mencintaimu atau peduli padamu. Tugasmu hanya untuk menghasilkan ahli waris untuk Keluarga Hendrawan. Apakah semua itu jelas untukmu?"
Kirana menatap matanya yang dingin dan tanpa emosi dan tahu bahwa pria itu sama sekali tidak menyukainya.
Tapi dia tetaplah Reza Hendrawan, pria yang dicintainya selama ini.
Ini adalah satu-satunya cara untuk dia bisa mendekati pria itu.
Dia akhirnya menikah dengan pria itu dengan penuh harapan. Dia mencoba yang terbaik dalam rumah tangganya. Dia bersikap baik padanya dan mencintainya. Selalu berharap bahwa mungkin suatu hari nanti pria itu akan memiliki perasaan untuknya.
Namun, ternyata dia salah besar.
Dalam tiga tahun terakhir, dia telah mengabdikan seluruh hatinya untuk pria ini. Dia bangun pagi-pagi setiap harinya untuk menyiapkan sarapan untuknya. Dia melakukan segalanya untuk pria itu, tetapi pria itu memperlakukannya seperti setitik debu sebagai imbalannya.
Pria itu sama sekali tidak ingat hari ulang tahunnya ataupun ulang tahun pernikahan mereka. Dia tidak pernah datang ke acara keluarga ketika para tetua merayakan ulang tahun mereka dan mereka seharusnya muncul di pesta itu bersama. Ada saat ketika dia mengalami sakit perut yang sangat parah sampai-sampai dia hanya bisa menggigil dan meringis. Ketika dia menelepon Reza, pria itu hanya memberitahunya melalui telepon, "Aku sangat sibuk sekarang. Jangan hubungi aku jika tidak ada hal yang mendesak."
Kemudian dia menutup telepon.
Pada saat itu, dia berjuang setengah mati untuk bisa sampai ke rumah sakit sendirian. Dia menandatangani dokumen-dokumen rumah sakitnya sendiri dan menyewa seorang perawat untuk merawatnya. Dia kembali ke rumah sendirian setelah dia keluar dari rumah sakit. Reza tidak pernah repot-repot bertanya di mana dia berada saat itu. Dia bahkan tidak yakin pria itu menyadari bahwa dia tidak pulang selama berhari-hari.
Namun, Reza sangat peduli pada Nita Setiadi.
Dia mengatur setiap masalah sepele untuk wanita itu.
Ketika Kirana menikah dengan Reza, dia bertemu dengan Nita, kakak ipar Reza.
Reza, kakak laki-lakinya, dan Nita adalah teman masa kecil dan mereka tumbuh besar bersama. Baik Reza dan kakaknya jatuh cinta pada Nita, tetapi Nita memilih kakak Reza untuk menjadi suaminya. Kemudian, kakaknya mengalami kecelakaan dan terluka parah. Sejak saat itu, kesehatannya memburuk. Setelah kakaknya dan Nita menikah, mereka berdua memilih untuk tinggal di luar negeri.
Sayangnya, kakak Reza akhirnya meninggal. Reza pergi ke luar negeri untuk membawa pulang abu kakaknya. Dia juga membawa Nita kembali ke kota itu bersamanya dan memberinya salah satu apartemennya untuk ditinggali.
Setiap kali sesuatu terjadi pada Nita, Reza akan langsung menemuinya.
Mereka berdua selalu bersama seolah-olah mereka adalah pasangan nyata, sementara Kirana, istri sah Reza, seakan-akan seperti orang asing baginya.
Kirana telah menghibur dirinya sendiri bahwa Nita hanyalah kakak ipar Reza. Reza tidak akan pernah berselingkuh dengan wanita itu.
Namun, suatu hari, dia menerima sebuah foto dari Nita. Di dalam foto itu, Reza mengenakan celemek dan sedang memasak di dapur. Kirana telah menikah dengan Reza selama tiga tahun, dan tidak sekali pun pria itu menyiapkan makanan untuknya.
Kirana tidak ingin memercayainya, jadi dia memutuskan untuk pergi mengunjungi Nita.
Reza yang membukakan pintu untuknya. Dia berdiri di pintu dengan mengenakan kemeja putih sederhana. Dia menatapnya dan bertanya dengan nada dingin, "Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"
Nada suaranya terdengar penuh dengan rasa jijik. Dia berbicara padanya seolah-olah kehadirannya saja telah merusak seluruh harinya.
Nita berdiri di belakangnya, dan wanita itu hanya mengenakan handuk mandi yang melilit tubuhnya. Nita mengedipkan mata pada Kirana dengan sebuah seringai nakal.
Kirana menatap pemandangan yang ada di depannya. Dia tidak bisa memercayai matanya.
Nita adalah kakak ipar Reza. Bagaimana dia bisa berada di ruangan yang sama dengannya dengan mengenakan pakaian seperti itu?
Kirana menunggu sampai air matanya keluar, tapi dia sama sekali tidak merasakan apa-apa saat melihat mereka. Dia pikir dia akan marah saat melihat Reza dan Nita dalam situasi seperti itu, tapi dia bersikap tenang.
Mungkin karena Reza telah mengecewakannya berkali-kali sehingga dia telah kehilangan semua harapan. Semuanya sudah berakhir. Dia membalikkan badannya dan berjalan pulang.
Kirana membuka matanya saat sinar matahari pagi pertama masuk ke dalam kamar melalui tirai gorden. Saat itu fajar sudah menyingsing. Sudah waktunya untuk memulai hari baru, dan kehidupan baru baginya.
Seperti yang telah dia lakukan setiap pagi sejak menjadi istri Reza, dia mengambil pakaian yang akan dipakai oleh Reza untuk hari itu, menyetrikanya, dan meletakkannya di sofa. Kemudian, dia turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan untuk pria itu.
Secangkir kopi panas, sebutir telur goreng, dan sepotong roti panggang dengan mentega. Semua makanan itu adalah favorit Reza.
Setelah itu, dia berjalan naik ke atas. Reza sudah bangun saat itu. Dia sedang memakai celananya. Sabuknya yang belum diikat tergantung di pinggangnya. Kirana tersipu saat memikirkan apa yang terjadi kemarin malam.
"Kamu kelelahan kemarin malam, dan kamu bangun pagi-pagi sekali. Kamu harus kembali tidur setelah aku pergi nanti." Reza berbicara sambil membelakanginya dengan suara lembut tapi terasa jauh seperti biasa.
Kirana menundukkan kepalanya dan mencengkeram ujung renda celemeknya. Dia menggosokkan jarinya ke celemeknya berulang-ulang. Telapak tangannya mulai mengeluarkan keringat dan dia merasa semakin gugup.
Dia mengambil napas dalam-dalam dan akhirnya memutuskan untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Ayo kita bercerai," gumamnya. Mengeluarkan tiga kata itu dari mulutnya sepertinya telah menghabiskan seluruh kekuatannya.
Setelah jeda singkat, Reza terus memasang setiap kancing kemejanya. Kemudian dia memakai kancing mansetnya dan arlojinya.
"Reza, kamu tidur denganku agar aku bisa melahirkan ahli waris untuk Keluarga Hendrawan, yang merupakan keinginan kakekmu, 'kan?"
Kirana bahkan masih belum mau menyerah saat ini. Seks kemarin malam itu nyata dan begitu juga kenikmatan yang dirasakannya. Mungkin satu-satunya yang salah di sana adalah perasaannya pada Reza. Dia mulai membayangkan bahwa bahkan hanya untuk sesaat, mungkin Reza benar-benar mencintainya.
Reza berdiri kaku untuk beberapa saat, dan kemudian dia mengerutkan kening.
"Bukankah kamu sudah mengetahui semuanya dengan jelas?"
Detik berikutnya, dia melihat Kirana menganggukkan kepalanya sambil memasang senyum pahit di wajahnya.
Di dalam ingatannya, Kirana adalah wanita yang selalu patuh dan ramah. Namun hari ini, wanita ini sepertinya telah berubah menjadi orang lain.
Kirana menurunkan pandangannya dan menjawab, "Ya, aku mengetahui segalanya dengan sangat baik. Aku tahu kamu tidak pernah menyukaiku. Kamu membenciku. Setiap detik bersamaku adalah siksaan bagimu."
Sinar matahari menyinari wajahnya yang pucat.
Reza melihat sikap dingin dan tegas di wajahnya.
"Jadi mulai sekarang, kamu tidak perlu menoleransiku lagi. Mari kita akhiri saja pernikahan ini. Aku akan meninggalkanmu seperti yang kamu inginkan."
Dia memilih untuk pergi agar Reza dan Nita akhirnya bisa bersama.
Kirana tidak lagi ingin menjadi orang ketiga di antara mereka. Dia lelah merasa seperti badut yang tidak dihargai di wilayah suaminya sendiri. Dia merasa sudah cukup mengemis untuk cinta yang pantas dia dapatkan.
Dia akan membiarkan Reza pergi darinya. Pria itu tidak lagi perlu tidur dengannya sambil memikirkan wanita lain pada saat yang bersamaan.
Terkadang, ketika dia mabuk, dia bahkan akan memanggilnya dengan nama wanita lain.
Tiga tahun terakhir ini terasa seperti mimpi. Namun, sekarang saatnya bagi Kirana untuk bangun. Dia tidak ingin menipu dirinya sendiri lagi lebih jauh dari pada sekarang.
Reza merasa terkejut pada awalnya, dan kemudian, dia memandang Kirana dengan tatapan jijik.
Sejak mereka menikah, wanita ini telah berusaha untuk menyenangkannya dan berharap dirinya akan jatuh cinta padanya. Akan tetapi, dia juga telah membuat segalanya menjadi sangat jelas bagi wanita itu sejak hari pertama.
"Jangan bermimpi tentang hal-hal yang bukan milikmu." Itulah hal yang dia katakan pada wanita itu sejak awal.
Dia menyipitkan mata pada wanita itu, merasa bahwa dia bersikap semakin tidak masuk akal.
Dia mencibir padanya, "Ayo kita bercerai? Apakah kamu benar-benar sudah membulatkan tekadmu dan memutuskan hal ini?"
"Ya."
Kirana menganggukkan kepalanya, mengeluarkan perjanjian perceraian yang sudah dibubuhkan tanda tangannya, dan menyerahkannya kepada pria itu. "Aku sudah menandatangani perjanjian ini. Tolong tanda tangani juga perjanjian ini dan beri tahu aku kapan kita harus pergi ke catatan sipil."
Kemudian, dia mengambil kopernya dan berjalan turun ke bawah.
Reza sama sekali tidak menyangka Kirana serius melakukan hal ini. Dia menatap sosok kurus wanita itu dan kemudian berbicara padanya dengan nada tanpa emosi.
"Tidak ada jalan untuk kembali begitu kamu berjalan melewati pintu itu."
Kembali katanya?
Kirana telah mencoba sebaik mungkin untuk menunjukkan kepada Reza cintanya yang tulus dan nyata, hanya untuk disakiti dan dimanfaatkan begitu saja. Dia sudah cukup mengalaminya sekali saja.