Bab 1

Tin ... Tin ....

Suara klakson di sana sini menambah ramai kondisi jalan. Entah mengapa jalanan yang biasanya lengang, malam ini nampak begitu ramai dan padat merayap sehingga kemacetan pun tak dapat dihindari. Seseorang berjalan balik memutar arah, lalu di susul sirine mobil polisi dengan suara khasnya yang tak kalah ramai dengan deru kendaraan.

Sial, ada razia rupanya!

Segera kubelokkan sepeda motor ke sebuah jalan sempit, seingatku jalanan sempit berliku seperti ini seringkali disebut dengan jalan tikus, entahlah bagaimana awal ceritanya kenapa sebutan itu ada, yang terpenting aku bisa lolos dulu dari polisi. Kalau saja aku tadi tidak terburu-buru, mungkin stnk tak akan ketinggalan seperti ini. Fikiranku tadi saat hendak berangkat hanyalah satu, segera tiba di tempat reuni teman sekolah. Sebenarnya masuk ke jalan ini juga bukan pilihan yang benar, terlebih aku jarang melewatinya. Syukur-syukur jika aku tidak tersasar.

“Woy, Mbak. Mau ke mana? Di sana hutan nggak ada tembusan.” Seru seseorang, yang tadi juga mengantri karena macet.

Ah … bodo amat! Mau hutan kek, ada hantu kek, yang penting aku nggak berurusan sama polisi, fyuh! Aku tak menghiraukan suara tersebut.

Kutarik gas motor lebih kencang, berharap tak mendengar lagi omongan-omongan yang hanya membuat bising telinga. Roda motor pun melaju semakin kencang hingga aku tak begitu memperhatikan badan jalan yang licin dan gelap.

Ngeng!

Semakin lama melewati jalanan ini cahaya penerangan pun semakin redup pula, hingga lama kelamaan tak ada lagi cahaya lain selain dari sorot lampu motorku. Sedangkan kiri dan kanan di kelilingi pohon-pohon yang menjulang tinggi. Sedetik kemudian aku mulai kehilangan keseimbangan dan akhirnya ….

Byur!!

Aku tercebur ke sebuah sungai kecil, naasnya motorku tidak bisa keluar. Aku pun berusaha untuk merangkak keluar dari sungai dengan kondisi yang gelap pekat. Bahkan sendal yang kupakai juga hilang entah kemana. Aku menangis sejadinya, tak berhenti merutuki diri yang kenapa sedari tadi tak mendengarkan perkataan orang. Nasib …nasib!

Tapi tak lama kemudian aku sadar jika ini adalah hutan, jadi menangis pun kurasa percuma, siapa juga yang akan mendengar, paling-paling hantu dan binatang buas yang datang. Hi … ngeri! Ya kecuali tiba-tiba ada keajaiban ada pangeran tampan yang mau membantu, membawa sebuah lilin lengkap dengan kuda putihnya! Wait … kuda putih? Ih gak jadi deh, gimana kalau tiba-tiba yang datang adalah hantu!Huaaaaa….

Bimbang antara kembali keluar lewat jalan tadi atau terus melanjutkan perjalanan ini. Hingga kuputuskan duduk pada pinggiran jalan tanah yang ditumbuhi rumput. Kulantunkan doa tak henti berharap ada keajaiban datang. Tiba-tiba dari kejauhan samar-samar terlihat sorot cahaya mengarah padaku, aku memutuskan mendekati cahaya tersebut, semakin dekat cahaya tersebut semakin menyilaukan mata ini.

“Mbak, ngapain malam-malam ada di sini?” selidik pria di depanku.

“Lagi mojok. Lah terus kamu sendiri ngapain malam-malam ke tempat beginian?”

“Mojok itu apa, Mbak? Ini saya mau ngambil air di sungai, Mbak.”

“Memangnya rumahmu nggak ada air?” tanyaku kemudian semakin penasaran.

“Ya ndak ada, Mbak. Wong ini desa terpencil!” Sahutnya seraya berlalu dan berdiri pada pinggiran sungai kemudian mulai menimba air.

Tangannya menyorot pada bagian kiri kolam, terlihat jelas di sana sepeda motorku tengah berendam dengan cantiknya pada bibir sungai.

“Loh, itu sepeda motor Mbak kah? Kok berenang di situ?” Ujarnya seraya menyorot cahaya senternya padaku.

Kurang asem nih, orang. Di kira motorku mau mandi apa?

Aku merengut, coba bukan karena dia manusia satu-satunya di tempat ini sudah kujitak kepalanya dengan kekuatan super. Duh, sabar … sabar …

“Gimana, bisa bantuin aku ngeluarkan itu motor nggak?”

“Ya bisa saja Mbak. Tapi paling besok, karena ndak bisa sendirian.”

“Terus, aku pulangnya gimana?”

***

Pria bernama Agung itu pun mengajakku untuk bermalam di rumahnya. Awalnya aku menolak dan curiga jangan-jangan dia orang jahat yang sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan. Bukankah kata bang napi kejahatan itu ada bukan hanya niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah!

Setelah mengobrol cukup lama, barulah aku mengerti dan mulai berpikir baik tentangnya. Katanya, ia tinggal bersama ibunya, jadi kupikir dia tak akan macam-macam, dari tampangnya sih dia juga terlihat orang baik-baik.

Akhirnya aku pun memutuskan untuk mau dan ikut dengannya, daripada berdiam di tempat tak jelas dan seram begini, ya kan! Dalam perjalanan ke rumahnya, aku yang dari tadi berjalan bertelanjang kaki tiba-tiba menginjak sesuatu.

“Aduh sakit!” erangku hingga dia berhenti dan melihat ke arah telapak kakiku.

“Mbak, kok nyeker? Sandalnya di mana, jatuh ke sungai juga ya?”

Hadeh, ni orang nanya sendiri, jawab sendiri!

“Sini kulihat kakinya!” seraya membungkuk kan badan dan meraba telapak kakiku.

Saat ia berusaha menarik sesuatu di telapak kaki, terdengar suara peluit di tiup nyaring, aku mengedarkan pandangan ke arah sumber suara ternyata ada dua orang hansip berlari menghampiri kami.

“Kalian berdua, ngapain malam-malam di sini? Peraturan kampung ini sudah jelas, selepas maghrib dilarang perempuan dan laki-laki bukan muhrim berdua-duaan.”

Agung cuma tertunduk. Sedangkan aku berusaha menjelaskan peristiwa yang terjadi. Namun sialnya para hansip ini tidak peduli, mereka justru mau menggiring kami ke balai desa. Aku hanya berdecak kesal. Mana pria lugu di sampingku ini malah diam saja tanpa berusaha memberi penjelasan.

Sedetik kemudian, Agung akhirnya bersuara “Maaf, Pak Hansip bisa berhenti sebentar kaki dia sakit, izinkan saya meminjamkan sandal saya ini, agar kakinya tidak terkena kotoran dan infeksi.”

Aku tercengang saat dia memasukkan sandal jepit nya ke telapak kakiku, sedangkan dia malah bela-belain jalan tanpa alas kaki. Ketika aku memandangi wajahnya dia malah spontan berkata “ Jangan dilihatin terus, Mbak. Nanti naksir!”

“Busyet, pede amat lu tong!”

Sesampainya di balai desa, sudah banyak warga kampung tengah menunggu. Dengan duduk bersila kami di persilahkan duduk, salah seorang warga di suruh memanggil ibunya Agung. Tidak lama salah seorang tetua adat berbicara, menjelaskan peraturan di kampung ini dan kami sudah melanggar. Jadi harus siap menerima hukuman yaitu di nikahkan malam ini juga di balai desa secara adat dan agama.

Sontak aku berdiri dan berteriak “Apa, peraturan macam apa ini? Saya saja baru tahu nama dia tadi. Lagian gimana mau nikah, wali saya aja nggak ada!”

Para Hansip berdiri hendak menangkapku, kata mereka aku tidak punya pilihan lain. Karena kalau itu tidak dilakukan desa mereka bakal terkena kutukan.

Ya ampun ini tahun berapa sih? Kok kayak zaman penjajahan aja! Nggak pokoknya enggak, aku nggak mau nikah. Aneh-aneh saja mereka, emang mereka pikir nikah itu semudah membalikkan telapak tangan, eh bukan emang mereka pikir nikah itu semudah ngambil singkong di sawah orang, eh apaan sih. Pokoknya itudah! Aku nggak mau pokoknya nggak mau!

Aku melengos ketika mereka memaksaku duduk di tengah bersama Agung, katanya prosesi pernikahan segera dimulai. Aku masih berusaha berontak, akan tetapi Agung membisikiku bahwa ikuti saja prosesnya, biar lebih mudah untuk keluar dari kampung ini. Nanti dia yang akan membantu. Mau tidak mau aku menerima tawarannya. Dengan syarat dia jangan pernah macam-macam apalagi ambil kesempatan.

Saat prosesi hendak dimulai, seorang perempuan tua datang tergopoh-gopoh ke balai sambil berkata “Ya ampun Le, kok kamu malah jadi begini? Pasti perempuan ini yang maksa kamu berduaan ya?”

Eh gimana-gimana buk?Nggak salah dengar ya? Kok jadi nyalahin aku sih? Wah gak beres nih orang-orang, main hakim sendiri saja. Lagian kenapa aku bisa berada di sini sih? Rasanya kayak mimpi, mending kalau ketiban durian runtuh! Wew, enggak ding ketiban durian kan sakit!Fyuh!

Salah seorang warga menarik tangan ibu si Agung agar duduk. Seseorang mengabarkan semua sudah siap, tinggal mas kawin saja yang belum ada. Aku menoleh pada Agung, niat hati mau menuntut banyak. Akan tetapi ini kan cuma pernikahan pura-pura jadi aku harus bisa berakting agar semua berjalan lancar dan besok bisa segera keluar dari sini.

Seseorang bertanya padaku “Sampean mau mas kawin apa? Biar disiapkan. Tapi jangan yang tidak ada di kampung ini.

Aku melirik kakiku yang sakit terkena duri, entah kenapa muncul di otakku, sepasang sandal yang dipinjamkan Agung tadi walaupun sudah buluk tetapi tetap nyaman digunakan, masa besok aku pulang tanpa alas kaki lagi.

Aku segera berdiri dan berkata,“ Aku minta sepasang sandal jepit sebagai mahar!”

Bab 2

Akhirnya dengan satu tarikan napas, resmi sudah lelaki yang baru kukenal kurang lebih satu jam yang lalu ini menjadi suamiku. Aku bisa sedikit bernafas lega, walau sebenarnya ada rasa takut, bagaimana jika pria itu berubah pikiran untuk menolongku. Tetapi segera kutepis jauh-jauh pikiran itu, yang terpenting adalah bagaimana semua ini bisa segera usai dan aku bisa kembali pulang.

Setelah semua prosesi sudah selesai, Agung mengajakku pulang. Begitu juga ibunya, sepanjang perjalanan aku hanya berdiam diri karena kalau aku buka suara mertua dadakan ini pasti mengoceh panjang lebar.

Begitu sampai di rumah, ibu Agung masuk ke dalam kamar dan tidak lama membawa baju yang kemudian dia berikan padaku sambil berkata, “Ganti bajumu itu, biar nggak masuk angin,” ucapnya.

Aku cuma bisa tersenyum kecut, tidak niat menjawab. Sedangkan lelaki di sampingku ini hanya bisa garuk-garuk kepala. Setelah melihat ibunya masuk ke dalam kamar, segera kutarik tangan Agung untuk memastikan dia tidak berubah pikiran, malang nya karena terkejut dengan gerakan spontanku, bibirnya malah menyentuh pipi ini. Di saat itu pula ibu keluar dari kamar. Sambil berkacak pinggang beliau berkata, “Mau mesra-mesraan kok ndak lihat tempat! Mentang-mentang sudah halal.”

Aku dan Agung cuma bisa berpandangan, kemudian menunduk ….

***

Brakk ... Brakk ... Brakk!

Terdengar suara bising yang sangat amat mengganggu tidurku. Samar-samar kudengar suara yang sangat friendly. Ya siapa lagi kalau bukan suara ibu mertua dadakan! Suara khasnya terdengar hingga penjuru rumah. Sepertinya ia memang sudah terbiasa berbicara dengan nada tinggi. Kalau nggak begitu, nggak enak kali ya!

“Agung, sudah jam berapa ini? Mentang-mentang pengantin baru, seenaknya dewe.”

Meski mata terasa berat untuk kubuka, tapi aku berusaha untuk bergegas bangun, jika tidak mungkin akan terjadi perang dunia pertama dalam dunia pernikahan, mertua versus menantu dadakan!

Tak jauh dariku, terlihat Agung yang tengah tidur di lantai bergegas bangkit. Ia memandang ke arahku, sengaja aku berbalik dan menutup kepala dengan bantal. Berharap ia tak mengetahui jika aku sudah bangun lebih dulu daripada dia.

Kriek ....

Suara pintu di buka, kemudian tertutup kembali. Mataku benar-benar masih mengantuk. Entah berapa saat, aku tertidur kembali, hingga ada sentuhan lembut pada pipiku.

“Mbak, bangun Mbak! Kunci motor sampean di mana? Saya sama warga mau narik motornya keluar dari sungai.”

Aku mengucek mata dan tersentak ketika ia berada tepat diatas wajahku. Sontak kudorong dia.

“Kamu, mau cari kesempatan ya?”

Ia menggelengkan kepala, sambil mengibaskan tangan di depan dada. Aku akhirnya bangkit merogoh kantong celana jeansku. Sayangnya kunci itu tidak ada. Aku menatap wajahnya, sepasang mata itu memandang tanpa berkedip.

“Kuncinya nggak ada, motor rusak, kapan aku bisa pulang Gung?” pekikku seraya menangkupkan kedua belah tangan.

“Sudah Mbak, yang sabar. Sampean makan dulu, nanti sakit!”

Dalam perasaan tidak karuan, aku melangkah ke dapur, meraih piring dan membuka panci lalu menyendokkan nasi. Di luar sana para ibu-ibu ramai duduk di bangku panjang tepat berada di bawah pohon jambu. Salah seorang dari mereka bertanya pada Ibu Endang, mertuaku.

“ Loh, kok sudah siang istrinya Agung nggak kelihatan, Bu? Masih tidurkah?”

Sayup-sayup terdengar suara mertuaku menyahut, “Sudah bangun kok, cuma malu dia mau keluar,” ucapnya.

Deg!

Nilai plus untuk mertua dadakan ini ternyata beliau tidak segarang yang aku kira, dan pada saat aku menyuap sesendok nasi ke mulut, beliau masuk lewat pintu belakang tanpa sengaja mata kami bersirobok. Lidahku kelu, tetapi beliau acuh saja. Berbeda dengan semalam nampak cerewet. Marahkah, dia?

***

Beberapa hari sudah berlalu, namun keadaan motorku belum juga baik. Masih di bengkel kota kata Agung. Karena terendam air, jadi terpaksa harus di bongkar untuk turun mesin.

Fyuh, tambah lama jadinya nih di tempat ini. Rasanya aku sudah kangen ingin pulang. Berkali-kali kucubit lenganku berharap ini hanyalah mimpi saja, namun terasa sakit … sial, ini nyata, bukan mimpi!

Sore itu aku duduk di bawah pohon jambu tempat para ibu-ibu biasa duduk. Salah seorang tetangga datang menghampiriku, “Lagi nyantai, Mbak?”

Aku tersenyum sambil mengangguk. Tak lama beliau memperkenalkan diri, katanya namanya Bu Harso, rumahnya tepat di sebelah rumah Agung. Setelah lama bercerita, datang seorang tetangga lain namanya Mbak Rina. Mereka semua ramah hingga mertuaku datang bergabung. Beliau melirik ke arahku kemudian sejurus bercengkrama dengan para tetangga.

“Enak ya Bu Endang punya mantu orang kota, jadi bisa jalan-jalan keluar.” ujar Bu Harso, seraya menoleh ke arahku.

Uhuk!

Aku terbatuk! Dengan sigap ibu menepuk-nepuk punggungku. Aku segera menoleh pada beliau, ia mengarahkan dagunya ke arah rumah, seolah menyuruhku untuk segera meninggalkan tempat ini dan segera masuk ke dalam rumah.

“Mbak, besok motornya sudah bisa diambil.” ujar Agung malam itu saat kami tengah duduk makan.

“Terima kasih, kalian sudah mau membantu aku.”

“Sama-sama, Mbak!” sahutnya tanpa menoleh ke arahku.

Aku melangkah memasuki kamar yang beberapa hari ini kutempati. Bola mataku berputar mengitari seluruh isi kamar. Lalu terhenti tepat diatas lemari tergeletak sebuah sandal jepit berwarna kuning. Aku bangkit dan meraihnya.

Sejenak kupeluk erat sendal tersebut, teringat saat puluhan pasang mata memandang tak berkedip, ketika ijab qobul terucap dengan mahar sepasang sendal jepit. Agung Permadi nama lengkapnya. Pria berlesung pipi yang kemudian sah menjadi suami kilatku. Sebenarnya ia salah satu ciri pria idaman versiku. Hanya saja pertemuan tanpa sengaja yang menyeret kami dalam sebuah pernikahan dadakan, membuat hati ini seolah-olah melawan takdir.

Usianya pun sepantaran denganku, dua puluh lima tahun. Yang membuat aku terkesan padanya, dia tidak pernah memanfaatkan situasi segenting apa pun. Bahkan ketika malam pertama aku di rumah ini, dia justru memilih tidur di lantai hanya beralaskan kain sarung. Padahal … kalau dia mau, dia bisa saja memanfaatkan situasi.

Tok-tok-tok!

“Siapa?” Tanyaku penasaran.

“Saya, Mbak! Boleh saya masuk?”

Aku membuka sedikit pintu, Agung pun masuk. Pintu kami biarkan sedikit terbuka. Agar Ibu tahu kami di dalam tidak berbuat macam-macam. Karena semenjak Agung menjelaskan dan menceritakan asal usulku, ibunya tidak mengizinkan Agung tidur sekamar denganku lagi. Sejak hari itu pula mertuaku tidak pernah marah lagi, beliau lebih banyak diam.

“Mbak, besok saya saja yang ngantar ke kota, biar warga kampung tidak banyak bertanya,” ucapnya seraya menyerahkan beberapa bungkusan.

“Plis deh Agung panggil Amara aja, jangan Mbak! Tua banget ya, aku?”

Melihatnya garuk-garuk kepala, aku menarik selimut dan berbaring. Ia melangkah keluar sebelum aku benar-benar terlelap sempat terdengar suaranya berbicara dengan seseorang. Tetapi tak lama kemudian aku sudah benar-benar tertidur.

***

Pagi ini langit nampak begitu cerah ketika aku hendak berpamitan, sepeda motorku yang sudah seminggu lebih dirawat di bengkel akhirnya bisa pulih seperti sedia kala. Aku menggamit tangan ibu, hendak menciumnya tetapi buru-buru ia tarik kembali.

“Maafkan Amara beberapa hari ini sudah merepotkan ibu dan juga Agung! Amara, pamit ya, Bu.” Kutarik tangannya yang tengah bertekuk di depan dada.

Beliau masih diam, hingga saat aku melangkah hendak menaiki motor lirih beliau berkata,

“Sering-sering main ke sini ya! Tengokin ibu.”

Sesak rasanya dada ini mendengar, kulihat air matanya menggenang. Aku berlari memeluk wanita paruh baya tersebut. Aku berjanji saat libur kerja datang menemuinya.

“Owalah, kok malah nangis-nangisan toh! Keburu panas ini.” Agung bersungut-sungut seraya memakai helm.

Bab 3

Owalah, kok malah nangis-nangisan toh! Keburu panas ini.” Agung bersungut-sungut seraya memakai helm.

Saat aku menaiki di boncengan, terdengar suara Agung menggerutu “Dasar perempuan, memang sejenis. Kalau sudah pamitan pasti drama.”

Aku tersenyum masam, malas menjawab. Biar saja dia marah tak jelas yang penting hari ini aku bisa pulang.

Nampaknya kepulanganku ke rumah ini bukan hal yang tepat. Bukan sambutan rindu atau rasa bahagia. Melainkan sorot mata kebencian yang terlihat dari ibu tiriku. Aku berlalu begitu saja saat ibu tiriku dan anaknya sedang duduk di kursi santai depan rumah.

“Masih ingat pulang rupanya kamu?” ujar saudara tiriku seraya memandangiku dari atas sampai bawah.

Tidak kugubris omongannya, meladeninya hanya membuang waktu. Aku menarik tangan Agung yang cengengesan hendak memperkenalkan diri di depan para manusia-manusia berhati batu itu. Namun, baru sampai di depan pintu papa keluar, dengan raut cemas ia memelukku.

“Kamu dari mana saja, Nak? Hape kamu nggak aktif. Papa telepon teman-teman kamu nggak ada yang tau. Bahkan Dave buat laporan ke kantor polisi, tentang menghilang nya kamu!”

Aku memutar bola mata malas, kenapa harus Dave yang ke kantor polisi, kenapa bukan papa sendiri. Bukankah aku ini anaknya? Pertanyaan itu menari-nari di otakku.

“Amara baik-baik saja, Pa! Oh, iya kenalin ini Agung, dia yang sudah bantu Amara.” ujarku sambil menarik tangan Agung mendekat.

Belum sempat Agung bersalaman dengan papa. Ibu tiriku langsung menyambar tangan papa menariknya masuk. Seraya melangkah ia berkata “Papa ini gimana, sih! jangan terlalu lemah sama anak, bukannya dimarahi. Tuh, lihat pulang-pulang malah bawa laki-laki setelah nggak pulang seminggu.”

Papaku bukannya membela malah diam saja dan malah ikut melangkah masuk. Ia sama sekali tidak menghiraukan aku yang berdiri hendak memperkenalkan Agung.

Terdengar suara cekikikan dari Sinta, saudara tiriku. “Makanya Ra, mending lu nggak usah pulang aja sekalian. Lu itu nggak penting buat papa!”

Aku meraih gelas air minum diatas meja, dengan gerakan cepat aku siramkan ke wajah Sinta. Bajunya basah, ia berdiri sambil berteriak “Kurang ajar, lu.”

“Mama ... Mama!.” teriaknya histeris.

Hatiku puas, tidak peduli walaupun setelah ini aku bakal diusir dari rumah. Benar saja dengan tergopoh-gopoh suami istri itu keluar rumah. Dan bodohnya aku tidak melihat saat Sinta mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Ya ampun Sinta, anak kesayangan mama. Kenapa penampilanmu jadi begini?” matanya lekat memandang ke arahku dengan sorot mata kemarahan, “Lihat Pa, anak kamu pulang-pulang malah jadi preman!” Seraya menunjuk ke wajahku.

Persis seperti dugaanku, drama itu pun dimulai. Dan lagi-lagi aku hanya sebagai terdakwa tanpa ada pembela. Bahkan papa kandungku bak kerbau di cucuk hidungnya kalau sudah di hadapan istrinya tersebut. Mereka melenggang begitu saja melangkah masuk ke dalam rumah dan membanting pintu.

Hatiku perih, dengan cepat kilat aku berlari keluar pagar mencari sebuah batu, dengan luapan emosi kulempar kaca rumah tersebut.

Prangg !

Kaca itu jatuh berderai-derai. Terdengar umpatan dari dalam rumah, juga suara kaki berlarian ke pintu. Aku tarik tangan Agung menjauh dari rumah sialan tersebut. Beruntung dia tidak bertanya sedikit pun, ketika aku mengambil kunci motor dari tangannya dan menyuruh untuk naik ke boncengan meninggalkan rumah sejauh mungkin.

Beruntung karena jalan lumayan lengang, aku bisa tetap fokus mengendarai sepeda motor dengan perasaan kacau dan amarah membuncah di dada. Hingga di sebuah perempatan kubelokkan motor ke arah kiri menuju taman.

Sesampainya di taman, aku turun mencari tempat yang lumayan sepi, agar aku puas meluapkan rasa sesak. Sebuah kursi di bawah pohon tabebuya menjadi pilihan saat ini, aku menangkupkan kedua telapak tangan ke wajah. Bulir bening yang sengaja ditahan akhirnya lolos berdesakan keluar.

Seseorang menyelipkan sapu tangan di sela-sela jemariku. Tanpa perlu melihat aku sudah tau dia pasti Agung. Namun aku salah, saat aku menengadah mengangkat wajah, yang duduk di sampingku justru Dave. Lantas di mana Agung? Apa dia pergi saat mengetahui bahwa aku ini orang terbuang. Atau mungkin dia takut aku akan balik ke rumahnya? Aku celingukan ke sana kemari, tetap saja bayangnya tidak terlihat sama sekali.

“Hei … nyariin siapa, hmm?” lirih Dave seraya mengelus rambutku.

“Emm … orang tadi yang sama aku di sini. Kamu lihat nggak dia ke mana?” Ucapku.

“Amara … saat aku datang, kamu sudah sendiri di sini! Jadi teman yang mana, aku nggak tau.”

***

Terpaksa malam itu aku menyusuri kota untuk mencari kontrakan kecil, mungkin lebih tepatnya sebuah kamar kos, itu pun Dave yang bersedia meminjamkan uang untuk membayar. Karena uang di dompet hanya cukup untuk bertahan hidup selama seminggu. Sungguh malang nian nasibku, mengharap gaji pun pembayarannya harus di tunda karena hutang pekerjaan selama seminggu bolos.

Ting!

Sebuah pesan dari Dave.

[Mau makan apa? Segera meluncur.]

Aku hanya tersenyum hambar. Segera kubalas dengan emoticon tidur, tak berapa lama dia pun menelepon, hingga mata tidak sanggup lagi untuk di buka, aku pun terlelap.

[Saya terima nikah dan kawinnya Amara Anindita binti Lukman Hadi dengan mas kawin sepasang sendal jepit dibayar tunai]

[Bagaimana saksi, sah?]

Seketika aku terbangun dengan peluh membasahi tubuh. Kulirik jam dinding masih pukul 04.00 Wib. Karena rasa kering di tenggorokan, aku bangkit keluar kamar untuk mengisi botol minuman dari dispenser yang terletak di samping kulkas menuju dapur.

Karena masih gelap seluruh penghuni kos masih terlelap dalam dunia mimpi. Aku raih kursi, dalam keadaan duduk kutenggak setengah botol air yang baru kuisi. Sakit rasanya kepala ini memikirkan maksud dari mimpi yang setiap malam tidak pernah absen untuk hadir.

Apa aku sudah bersalah, karena mengingkari pernikahan itu dan memilih pergi. Tetapi aku tidak mungkin selamanya terus berada di sana karena terjebak pernikahan dadakan. Apalagi Agung juga pergi tanpa pamit, setelah melihat nasibku terbuang oleh orang-orang yang harusnya jadi tempat berlindung. Pria kampung itu, entah di mana dia sekarang. Singkat memang kebersamaan kami. Tetapi mampu menciptakan kenangan yang menari-nari di pelupuk mata.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED