Sampul Novel Di Pemberhentian Terakhir

Di Pemberhentian Terakhir

9.4 / 10.0
Sebagai mahasiswa yatim piatu penerima beasiswa, hidup Rana hanya berputar pada kuliah dan kerja. Segalanya berubah sejak ia bersahabat dengan Reva. Namun, kedamaian itu terusik oleh kedatangan Reno serta bayang-bayang masa lalu yang kembali. Situasi kian pelik saat Dito bergabung dalam lingkaran sosial mereka. Kini, Rana terjebak dalam pusaran konflik emosional rumit yang melibatkan keempat orang terdekat dalam hidupnya tersebut.
Ringkasan Di Pemberhentian Terakhir
Sebagai mahasiswa yatim piatu penerima beasiswa, hidup Rana hanya berputar pada kuliah dan kerja. Segalanya berubah sejak ia bersahabat dengan Reva. Namun, kedamaian itu terusik oleh kedatangan Reno serta bayang-bayang masa lalu yang kembali. Situasi kian pelik saat Dito bergabung dalam lingkaran sosial mereka. Kini, Rana terjebak dalam pusaran konflik emosional rumit yang melibatkan keempat orang terdekat dalam hidupnya tersebut.
Baca Selengkapnya

Di Pemberhentian Terakhir Bab 1

1 PERJALANAN

Bis yang kutumpangi ini terus berjalan dan tahu ke mana arah tujuannya. Aku berada di dalam bis ini, tetapi tidak tahu ke mana tujuan bis ini, tidak tahu di mana pemberhentian terakhir bis ini. Yang kutahu hanyalah aku ingin pergi jauh. Aku benci pada diriku sendiri. Aku terus berjalan, tetapi tidak ada satu tempat pun yang menerimaku dengan layak. Aku merasa seolah dunia memusuhiku.

Di jalan yang kupikir rata, mulus tanpa lubang maupun batu, ternyata aku masih tersandung. Tidak ada yang dapat dijadikan pegangan, dan sekali lagi aku terjatuh!

Mata yang terus melihat ke arah jendela yang berdebu tebal ini seolah menunjukkan bahwa pikiranku sedang melayang jauh. Satu persatu penumpang turun dari bis, dan aku pun ikut turun. Ternyata terminal Kampung Melayu. Aku membeli minuman dingin dan gorengan (yang kuyakin sangat berdebu karena tidak ditutup), sekedar untuk mencari alasan agar bisa tetap berada di sini lebih lama. Rambutku yang sudah berantakan semakin berantakan karena tertiup angin.

Aku menutupi mataku karena debu yang ikut beterbangan oleh angin yang berhembus. Entah seberapa tebal debu itu membedaki wajahku. Aku merasa wajahku lebih berat dari yang sebelumnya.

Aku menimbang-nimbang apakah sebaiknya kembali ke kosan atau kembali melanjutkan petualangan tanpa tujuan. Sudahlah, lebih baik aku kembali saja ke kosan, tidak enak juga rasanya memborong perjalanan sekaligus. Lagi pula mukaku sudah semakin gatal, begitu juga dengan kepalaku. Seolah ada ratusan kutu yang menggerogotinya. Toh, kembali ke kosan tetap harus naik kendaraan juga, kan.

***

Berbaring di kasur kecil sambil menatap langit-langit kamar kosan menjadi rutinitas sebelum tidur. Cat putih yang semakin kusam dan lampu yang mulai redup seperti melukiskan perasaanku saat ini. Seolah kami saling menatap dan mengasihani satu sama lain.

Aku mengangkat kakiku ke tembok , sedikit menghilangkan pegal. Semua benda yang ada di kamar ini menjadi saksi rutinitasku (yang kadang sangat membosankan). Jam berapa aku tidur, jam berapa aku bangun. Apa yang aku lakukan jika aku tidak bisa tidur (bolak-balik kanan kiri, atau bolak-balik mematikan dan menyalakan lampu), bahkan meletakkan buku di sampingku. Seolah buku itu dapat membacakan sendiri dongeng untukku.

Aku sedang bermimpi, aku sadar bahwa saat ini aku sedang tidur dan bermimpi. Mimpi yang menyedihkan, namun membuatku sangat rindu. Aku sadar, saat aku terbangun nanti mimpi ini pun akan segera berakhir. Aku ingin tetap menutup mataku, agar mimpi ini terus berlanjut. Namun aku pun sadar, pada akhirnya tetap aku yang terluka.

Perasaan rindu ini seperti perasaan orang yang sedang patah hati. Aku ingin duduk di ruang-ruang kosong kelas, atau duduk di atas balkon depan kamar memandang langit atau apapun, yang penting aku sendiri. Berjalan di lorong-lorong yang kadang sepi. Aku pun merindukan saat-saat itu. Entah kenapa saat ini aku ingin menangis. Bukan hanya pikiranku, namun juga hatiku melayang pada satu hal. Dapatkah aku menghilangkan semua ini untuk selamanya?

***

Melakukan pekerjaan di depan komputer terus-terusan sangat membosankan. Namun inilah yang harus aku lakukan. Entah kenapa aku dapat terjebak dalam situasi seperti ini.

Aku memalingkan wajahku ke luar jendela. Nampak kendaraan dan orang-orang yang berlalu-lalang. Apakah mereka senang dengan pekerjaan yang mereka lakukan, apa mereka sering merasa jenuh? Aku dapat berjam-jam melakukan hal yang kusukai, namun melakukan pekerjaan ini beberapa menit saja sudah membuatku sangat lelah. Lagi-lagi aku berpikir, kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini?

Lalu lintas di luar sana sangat macet, suara klakson mobil-mobil yang tidak sabar menunggu giliran untuk maju semakin membuat suasana terlihat ruwet. Namun adakalanya bagiku begitu menikmati kemacetan di dalam bis. Juga menikmati kesendirian di tengah keramaian tanpa harus berbicara dan mendengar siapapun. Saat itu aku bebas (dan di saat itu pun aku sedih dan kesepian).

Kesendirian membuatku bertekad suatu saat nanti aku akan bangkit meski tanpa dirinya dan mereka. Ada banyak kendaraan menuju tempat yang sama, aku lah yang akan memilih kendaraan itu. Meski aku sendiri pun tak tahu kapan itu akan terjadi.

Ada banyak hinaan yang aku dapat, kesulitan dan hal yang tidak menyenangkan lainnya. Namun aku harus memendamnya seorang diri. Seperti angin kencang yang terus bertiup dan membuat daun-daun berguguran.

Tepukan tangan seseorang di pundakku menyadarkanku dari lamunanku.

“Ayo istirahat!” kata Yuli.

Aku pun tahu sebenarnya dia jenuh dengan pekerjaannya ini. Entah siapa diantara kami yang akan lebih dulu berhenti dari pekerjaan ini.

Aku ingin melakukan banyak hal. Melihat orang bekerja di tempat yang mereka impikan, seperti melihat impianku yang tidak tercapai.

Melihat orang dapat bernyanyi, menari atau memainkan alat musik, aku pun ingin. Namun sayangnya aku tidak memiliki kemampuan untuk itu.

Melihat orang yang dengan gampangnya keluar negeri, membuat aku bertanya seberapa banyak uang mereka. Semua itu adalah hal yang memang sejak dulu sangat aku impikan, namun hingga kini tidak bisa aku dapatkan. Lagi-lagi seperti patah hati. Seperti orang yang merasakan kegagalan hidup karena tidak mendapat dukungan dari siapa pun. Nyamuk itu menyukai tempat-tempat yang gelap. Seperti itulah mereka, mereka menyukai keadaanku yang suram.

Aku mendapat pekerjaan ini pun tidak dengan cepat, walaupun ini bukan pekerjaan yang kusukai. Intinya, hidupku ini membosankan.

Sungguh membosankan hingga membuatku ingin menangis. Sangat membosankan hingga membuatku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Selalu membosankan, hingga aku ingin berkata namun tidak ada yang memedulikan.

Lalu untuk apa aku berada di sisi mereka. Di mana mereka saat aku sedih, saat aku susah, saat aku butuh, saat aku kesepian. Yang mereka pedulikan hanya diri mereka sendiri. Mereka tidak peduli aku senang atau tidak, yang penting mereka senang. Itulah mereka. Mereka tanpa aku, dan aku tanpa mereka. Lebih baik sendiri saja.

Masalah yang ada pada diriku yang kutahu dengan pasti adalah kepercayaan diri. Entah tertular dari siapa semua ini. Krisis kepercayaan diri itu seperti baju yang dibuat dengan bahan yang kusut. Walau disetrika dengan pelicin pun akan tetap kusut.

Aku seperti berkejar-kejaran dengan diriku sendiri. Walau sudah lelah namun belum menemukan garis finish. Aku menantang diriku sendiri, apa aku bisa memperoleh impianku sendiri atau tidak.

Bukankah mengecewakan diri sendiri itu akan lebih menyakitkan. Walau orang meremehkan aku, meski orang menghinaku, tapi aku yakin kalau aku bisa, dan akan aku buktikan bahwa apa yang aku peroleh bukan dari belas kasihan mereka.

Di satu sisi ada kalanya aku menjadi orang yang sangat optimis, namun di sisi lain aku orang yang sangst pesimis. Tentu saja aku tidak memiliki kepribadian ganda atau penyakit bipolar.

Ada hal tertentu yang membaut diriku seperti ini. Dan aku sangat membencinya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Di Pemberhentian Terakhir

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan, punggungku hancur terbakar. Empat tahun aku merawatnya yang koma, tetapi saat terbangun, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan umum. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat diserang preman. Baginya, aku hanya beban. Di hari pernikahan, ia tega membuangku di jalan tol demi Stella. Akhirnya, aku memilih pergi meninggalkan semuanya menuju bandara.
Sampul Novel Istri Untuk Tuan Alex
7.9
Demi melindungi kehormatan ibu angkatnya, seorang gadis rela menjadi pengantin pengganti. Sayangnya, kesalahpahaman fatal membuat Alex sangat membenci dan memperlakukannya dengan kasar. Meski mendapat perlakuan buruk, ia tidak tinggal diam dan terus berjuang keras menyembunyikan rahasia besar tentang identitas aslinya. Akankah Alex mampu membongkar misteri yang tersimpan rapat ini? Temukan kelanjutan kisah penuh ketegangan dan emosi mereka di Bakisah.
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika mengurus ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali bersama mentornya, Charli. Di sana, ia terpikat oleh Andini Wijaya, pemilik sekolah yang mandiri. Namun, hubungan mereka diuji saat mantan kekasih Andini, Junot, tiba-tiba kembali. Masalah kian rumit karena Lily, adik Andini, bertekad merebut Randika demi mendapat pengakuan dari ayah mereka, Sigit Wijaya. Di tengah bayang-bayang masa lalu dan ambisi keluarga Wijaya, akankah cinta Randika dan Andini tetap bertahan?
Sampul Novel Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
9.0
Demi melindungi ayahnya, sang protagonis rela disiksa penculik hingga tewas. Tragisnya, sang ayah justru sibuk merayakan ulang tahun putri adopsinya dan mengabaikan telepon terakhir korban dengan sumpah serapah. Jasadnya kemudian ditemukan di dalam pot bunga depan kantor polisi. Sang ayah yang bertugas melakukan otopsi menyadari kekejaman luar biasa sang pelaku, tanpa pernah menyadari bahwa korban di hadapannya adalah anak kandung yang sangat ia benci.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Perpisahan yang terjadi menyisakan penyesalan mendalam dan duka yang tak bisa diubah oleh air mata. Kehadiranmu dahulu telah memberi warna, mengajarkan arti kesetiaan, serta pengorbanan tulus. Walau mengenalmu membawa kesedihan dan rasa sakit, bersamamu pula kebahagiaan sejati berhasil kutemukan. Kini, saat kesadaran terlambat itu datang, andai saja waktu dapat diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik berharga bersamamu.
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama, seorang yatim piatu, terpaksa menjadi istri kedua miliarder Raga Dirgantara demi membalas utang budi masa lalu. Kehidupan pernikahan ini terasa sangat pahit bagi Kayla, sebab ia hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk memberikan keturunan bagi sang pengusaha sukses tersebut. Tanpa memiliki posisi nyata di mata suaminya, Kayla kini harus berjuang keras menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya sama sekali tidak dihargai dalam rumah tangga itu.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED