Bab 2

2 SUNYI

Aku sering bertanya apakah hal-hal yang telah aku lakukan itu suatu kebodohan atau apakah memang takdir?

Sebenarnya takdir itu seperti apa? Aku merindukan banyak hal. Namun hal yang kurindukan itu tidak pernah terjadi di masa laluku. Aku hanya mengkhayalkan hal-hal yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Hal itu bukanlah bagian dari masa laluku, masa kini, bahkan masa depanku. Aku mengharapkan sesuatu yang lebih sempurna dari kehidupanku saat ini. Bagaimana aku dapat menghentikan semua ini?

Aku bukanlah orang yang romantis, namun terkadang aku mengharapkan hal-hal yang romantis, sekedar memberikan warna lain dalam hidupku. Bukan berarti aku benar-benar menginginkannya. Memang dulu aku pernah mendapatkan coklat dari seseorang, puisi dari seseorang yang tidak menuliskan namanya, antar jemput dari orang yang lain lagi, surat cinta (yang menakutkan), kalung, ada juga yang membawakanku makanan.

Meskipun aku tidak pernah tahu siapa yang memberikan semua itu. Namun entah mengapa aku tidak pernah peduli akan semua itu.

Mengingat itu membuatku tersenyum. Kemanakah mereka kini?

Sejujurnya saat itu aku mendapatkan semua itu dari orang yang tidak kuharapkan. Lalu bagaimana mungkin saat itu aku merasa senang? Bahkan seseorang pernah menyanyikan sebuah lagu untukku yang membuatku merasa sangat malu.

Rasa sakit itu hanya akan dirasakan oleh orang yang terluka, bukan yang melihat atau pun mendengar.

Seberapa sering pun mereka melihat aku menangis, mendengar atau mengungkapkan isi hati, mereka tidak akan pernah bisa memahaminya. Aku tahu bagaimana kesunyian itu dapat menyakitkan hati.

Yang menyakitkan itu bukan sunyinya, tapi penyebabnya. Bagaimana waktu yang seharusnya diberikan untukku namun dirampas oleh orang lain.

Ada perasaan dendam dan terzolimi. Aku mencari berbagai cara untuk menghibur diri sendiri. Namun rasa sakit hati itu tidak pernah berhenti.

Kekecewaan yang kurasakan seperti lubang yang membesar. Ketidak pekaan yang mereka miliki pun tak berubah. Aku seperti berada di antara robot bernyawa tak memiliki hati. Pada suatu titik aku merasa ingin menyerah saja.

Aku lelah, benar-benar lelah. Tapi, aku juga penasaran. Penasaran akan akhir kisah hidupku. Seperti sebuah film yang tidak diketahui akhir ceritanya akan seperti apa.

Kenapa aku harus penasaran akan hidupku sendiri? Aku merasa bodoh, dan selalu membodohi diri sendiri. Seharusnya sudah sejak lama aku tutup buku. Tidak ada siapapun yang kutunggu, juga tidak ada seseorang yang menungguku. Jika suatu saat nanti aku memperoleh impianku, aku akan merayakannya seorang diri.

Setiap aku bangun dari tidurku, aku selalu saja merasa takut. Takut akan hari yang harus kujalani detik demi detiknya. Cemas akan kejadian-kejadian tidak terduga yang sering tidak menyenangkan.

Kenapa aku selalu seperti ini? Aku selalu bertanya kenapa? Kenapa? Kenapa?

Hari-hari selalu terasa lebih panjang bagiku. Tapi aku tetap menjalaninya.

Surat yang ditinggalkan oleh ibu sebelum dia meninggal tergenggam erat di tanganku.

“Saat usiamu sudah tujuh belas tahun, bacalah surat ini”, katanya saat itu.

Ibu meninggal saat usiaku lima tahun, menjadikanku anak yatim-piatu. Sama sepertinya yang besar sebagai yatim-piatu. Sudah enam bulan berlalu sejak usiaku tujuh belas tahun. Namun surat itu masih tertutup rapat. Tidak ada niat untuk mengetahui isinya.

“Ini tentang ayahmu,” ucap ibu dengan penuh air mata.

Saat umurku empat tahun ayah pergi. Aku tidak bisa ingat wajahnya dengan jelas, dan aku memang tidak ingin mengingatnya.

Untuk apa aku mengingat seseorang yang menorehkan luka yang teramat dalam padaku dan ibuku. Aku membencinya, sangat membencinya.

Namun entah mengapa aku tidak dapat melupakan kejadian itu, padahal saat itu aku masih terlalu kecil dan itu sudah sangat lama sekali terjadi. Apakah ini trauma?

Dua hari lagi aku akan menjadi mahasiswi. Aku belajar dan bekerja semaksimal mungkin agar aku dapat bertahan hidup. Namun untuk siapa aku bertahan? Aku tidak memiliki orang tua, kakak ataupun adik. Aku benar-benar sebatang kara.

Aku membuat kapal-kapalan dari kertas, membayangkan suatu saat nanti aku dapat berlayar di tengah luasnya samudera. Membayangkan, hanya dengan membayangkannya saja aku sudah merasa senang. Saat aku masih SD, setiap kali ada pelajaran menggambar, aku pasti menggambar kapal.

Entah mengapa aku sangat menyukainya. Melihat kapal yang semakin lama semakin menjauh, hingga menjadi seperti titik di kejauhan dan akhirnya menghilang, atau sebaliknya, dari sebuah titik yang hampir tak nampak, akhirnya menjadi bentuk kapal yang sempurna, membuatku merasa seolah telah kehilangan seseorang.

Lukisan kapal dengan berbagai ukuran dan model memenuhi meja dan lantai kamarku. Aku tidak tahu akan di kemanakan atau diapakan semua lukisan ini. Aku hanya melukisnya, tanpa mengetahui tujuannya.

☆☆☆

Hari ini hari pertama masa orientasi mahasiswa. Bukan hal yang menyenangkan mengikuti kegiatan ini. Aku harus membagi waktuku dengan baik antara belajar dan bekerja. Memang, aku selalu mendapatkan beasiswa. Tapi bukan hanya itu masalahnya. Aku tetap harus mengumpulkan uang agar aku bisa membeli sebuah rumah. Bagi anak yatim-piatu seperti aku, rumah seperti surga yang sangat dirindukan.

“Hai!” kata seseorang menepuk pundakku.

“Fakultas ekonomi kan?” tanyanya sambil tersenyum.

Aku hanya mengangguk. Kami diarahkan ke lapangan yang lebih besar oleh seorang senior berkacamata. Gadis yang tadi menyapaku bernama Reva.

Saat istirahat, aku dan Reva duduk di bawah pohon rindang yang menyejukkan.

“Ayo Ra, sebentar lagi mau mulai,” ucap Reva.

Saat aku berbalik, botol air mineral yang belum ditutup rapat membasahi baju seorang senior.

“Maaf!” kataku tanpa melihat kearahnya.

“Hati-hati lho, nanti bisa dikerjain sama senior itu,” kata Reva.

“Kan cuma air mineral, jadi nggak bikin kotor. Lagian bentar lagi juga kering, emangnya numpahin air seember apa?” kataku cuek.

“Sssttt...dia dengar tuh,” kata Reva.

***

Hari terakhir masa bimbingan mahasiswa terasa lebih menyenangkan. Besok kuliah pertama akan dimulai. Akan jauh lebih baik bagiku kalau sudah mendapatkan jadwal kuliahnya.

Aku bisa mulai kerja sambilan. Aku sudah berhenti dari pekerjaanku yang sebelumnya, karena jam kerjanya tidak sesuai dengan anak yang sedang berkuliah seperti aku.

Aku memejamkan mataku, mencari jalan keluar atas keruwetan pikiran dan hatiku.

Aku tidak dapat merasakan rintikan hujan meskipun ia membasahi wajahku. Aku seperti mati rasa. Aku tidak dapat mendengar suara orang-orang yang berbicara, tertawa atau berteriak satu sama lain.

Mereka berlalu lalang di hadapanku, namun aku seperti orang buta. Aku tidak peduli dengan semua itu, dan untuk apa aku peduli? Lagi-lagi ada rasa kesal dan hampa. Aku melangkah seperti layang-layang yang diterbangkan angin.

Aku tidak merindukan kasur empuk di kamarku meskipun saat ini aku sangat lelah. Yang kuinginkan hanya terus melangkah tanpa ada yang menggangguku.

Hujan yang tadinya hanya rintikan kecil ini perlahan digantikan cahaya matahari sore. Hujan tak akan terus merajai langit, akan ada waktunya langit bersinar. Seperti juga matahari dengan bulan, malam dengan siang.

Keremangan malam membuatku mengerti bahwa kesendirian adalah sahabat terbaik bagiku. Kubuka jendela kamarku, angin sepoi-sepoi memberi kesejukan di kamar ini. Aku mengetuk-ngetuk jariku di lantai.

Aku memandang langit, tidak ada bulan. Meskipun ada malam dimana ia tidak dapat hadir, namun tetap saja malam adalah miliknya, posisinya tidak dapat digantikan oleh matahari.

Aku sering mengulang-ulang pikiran yang sama, hingga aku sendiri merasa bosan pada diriku sendiri. Aku sering merasa kesepian, tapi tidak ada teman yang dapat kuajak bicara. Dalam hati aku selalu saja berkata bahwa semua ini tidak adil. Apa takdir ini diharuskan untukku? Aku tidak pintar dalam mengekspresikan diri seperti orang-orang yang langsung menunjukkan rasa suka terhadap seseorang, jika merasa kesal dapat mengeluarkan kemarahan. Aku tidak seperti itu, dan aku rasa aku tidak dapat seperti itu.

Aku merasa, aku telah kehilangan saat-saat dimana seharusnya aku bisa merasa senang. Kemanakah saat-saat itu? Mengapa aku bisa kehilangan saat-saat itu? Aku tidak pernah mempercayai siapapun di dunia ini sepenuhnya. Aku ragu akan kejujuran mereka. Aku ragu akan kesetiaan mereka. Aku ragu akan pengertian mereka. Entah mengapa aku merasa, mereka tidak mengerti kesedihanku.

Aku butuh orang yang dapat dipercaya sampai kapanpun. Aku butuh kesetiaan mereka, butuh kejujuran mereka. Apakah ada? Jika ada yang bertanya mengapa aku bisa seperti ini, tanyakanlah dulu apa dan siapa penyebabnya. Mungkin selamanya tidak akan ada. Benarkah ini?

Bab 3

3 PRIA MENYEBALKAN

Hari-hariku yang semakin berlalu, semakin membuatku mengerti akan banyak hal. Ada banyak orang di dunia ini, tapi siapa yang akan menjadi bagian dalam hidupku? Aku tidak yakin dengan apa yang kulihat, dengan apa yang kudengar dan dengan apa yang kurasakan.

Aku masih sering tidak yakin dengan apa yang telah terjadi, memang terjadi padaku. Aku berharap, ada yang menemaniku saat ini, dan semakin berlalunya waktu, kini kusadari rasa kesepian itu tak akan pernah hilang dariku, dan kini semakin menyakitkan hati.

Menunggu itu tidak menyenangkan dan sangat melelahkan, juga menyakitkan. Aku seperti patah hati berulang-ulang tanpa tahu siapa yang kusukai. Aku mencari kebahagiaan semu, hanya dengan membayangkan. Aku menangisi masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan. Aku gagal memerankan karakterku. Aku mengharapkan peran lain, yang kupikir dan kurasa lebih sempurna.

***

“Ra, Lo tahu gak senior yang namanya Reno?” tanya Reva.

“Enggak.”

“Payah Lo, masa enggak tahu sih. Dia kan terkenal. Udah orangnya ganteng, kaya ....”

“Punya otak ga?”

“Maksud Lo?”

“Pinter gak?”

“Emang kenapa?”

“Kalau pinter, baru Gw kagum. Kalau Cuma ngandelin muka sama kantong doang, ya enggak usah diomongin.”

Reva memandangku sambil senyum-senyum.

“Oya, masih ada Dito, Steven, Arya, Aryo, Ronald yang kaya bule,” katanya sambil menghitung dengan jari.

“Lo kan tau Rev, Gw enggak ada waktu buat mikirin cowok.”

“Ya Lo enggak usah mikirin, biar Gw yang nyariin.”

“Dasar!” kataku.

Dia tertawa. Reva itu gadis yang cantik dan periang. Berbanding terbalik dengan aku. Entah kenapa dengannya aku bisa lebih terbuka.

Dia berbeda dengan teman-temanku yang lain, yang suka memandang status sosial. Bahkan di antara sesama penghuni rumah yatim yang pernah kutinggali, ketidak harmonisan sering terjadi. Tidak memiliki ikatan batin sebagai sesama anak yatim-piatu (setidaknya itu yang kurasakan).

Hari-hariku berlalu dengan sangat cepat dan melelahkan. Kuliah, kerja dan mengerjakan tugas.

“Lo tinggal sama Gw aja di apartemen. Lebih dekat dengan kampus,” kata Reva menyarankan.

Namun aku tetap menolaknya.

“Kalau Lo mau bantu Gw, Lo cukup duduk manis disitu,” kataku sambil membaca catatan di bawah pohon rindang taman belakang. Tempat itu menjadi tempat favorit aku dan Reva.

Aku berkonsentrasi penuh pada catatan yang ditulis dengan terburu-buru. Catatan itu hanya poin-poin penting saja, karena aku merekam semua perkataan para dosen untuk kudengarkan di sepanjang perjalanan jika aku harus bekerja. Pekerjaanku bukanlah pekerjaan yang memeras otak. Pagi-pagi sekali, sebelum kuliah aku mengantar kue-kue buatan ibu kos ke warung-warung, itu kulakukan setiap hari.

Siang hari setiap Senin sampai Sabtu, jika ada jam kosong, aku membersihkan salon. Pemiliknya berbaik hati mengizinkan aku datang di saat ada jam kuliah yang kosong.

Lalu setelah selesai kuliah, aku bekerja di kafe sebagai tukang cuci piring hingga jam sepuluh. Belum lagi aku harus mengerjakan tugas kuliah. Tidak ada waktu bagiku untuk beristirahat apalagi bersenang-senang.

***

Sebentar lagi akan ada ujian tengah semester dan aku harus memastikan nilai-nilaiku tetap memuaskan agar aku tidak kehilangan beasiswa yang aku peroleh.

Aku duduk dalam bis yang melaju dengan pelan. Angin malam menyapu wajahku yang mulai merasa kedinginan. Bis ini akhirnya tiba di pemberhentian terakhir.

Seorang laki-laki bertopi biru turun di belakangku, dan dia juga menaiki angkot yang sama denganku. Angkot yang tidak begitu ramai ini melaju dengan kecepatan tinggi, mungkin ingin segera pulang ke rumahnya, berkumpul dengan anak istri.

Aku tidak tahu sampai kapan harus menjalankan semua ini. Rumah yang selama ini kuimpikan, aku pun tidak tahu apa aku benar-benar mengharapkannya.

Tidak akan ada yang mengatakan padaku hati-hati di jalan saat aku akan pergi. Juga tidak akan ada yang menyambut kepulanganku.

Hampa sekali rasanya.

***

Hari ini pekerjaanku di kafe sangat banyak. Ada satu pegawai yang baru bekerja malam ini. Sepertinya aku pernah melihatnya. Kami tidak saling memperkenalkan diri ataupun bertegur sapa. Dia ditugaskan untuk membawa piring-piring kotor dan membersihkan meja, sedangkan aku mencuci piring.

Saat aku akan meletakkan piring yang sudah dicuci ke atas meja, dia menyenggol tanganku dan PRANGGG ... pecahlah semua piring yang kubawa itu, membuat semua orang melihatku.

“Rana, Kamu kalau kerja hati-hati dong!” kata wakil manager.

“Maaf Saya enggak sengaja, lagian dia nyenggol saya,” kataku sambil melihat kearah anak baru itu.

“Gw kan juga enggak sengaja. Lagian Lo udah tau jalanan sempit bukannya minggir dikit.”

Yeee... nih orang dah tau salah malah nyari-nyari alasan.

“Lo matanya dibuka lebar-lebar, jangan langkahnya yang dilebarin!” kataku.

“Udah jangan malah berantem. Kalian berdua bersihkan itu, kalau sudah selesai lanjutkan pekerjaan yang lain! Besok sore temui saya,” kata asisten manager.

Aku memasukkan pecahan-pecahan piring itu kedalam plastik dan membuangnya ke tempat sampah. Sedangkan dia menyimpan sapu dan sekop ke tempatnya.

Setelah pengunjung terakhir pulang, kami membersihkan kafe. Karena khawatir akan ada yang pecah lagi, kami ditugaskan untuk mengelap meja, nyapu, ngepel dan membuang sampah.

“Kita bagi tugas aja biar cepat selesai. Lo ngelap meja dan buang sampah, Gw yang nyapu dan ngepel,” katanya.

“Lo aja yang ngelap dan buang sampah.”

“Lo dikasih tau susah amat sih.”

“Lagi kenapa Lo yang ngatur-ngatur.”

“Stoopppp!” kata wakil manager.

Dia menggeleng-gelengkan kepala.

“Kalian berdua ini kenapa sih. Saya enggak mau lagi mendengar kalian bertengkar atau kalian langsung saya pecat. Kalian harus kerjakan semuanya bersama, atau kalian tetap saya pecat.”

Aku naik bus, untunglah busnya tidak banyak penumpang, jadi aku bisa duduk. Si orang nyebelin itu pun ikut naik. Aku memalingkan wajahku darinya.

***

Ujian telah selesai. Dosen pembimbing memberitahuku bahwa aku harus mengikuti minimal dua organisasi mahasiswa kalau aku mau mendapatkan beasiswa tambahan.

Ada banyak pilihan sebenarnya, tapi aku tidak yakin harus memilih yang mana.

“Majalah kampus aja, kan Lo bisa bareng sama Gw,” saran Reva.

Aku menggeleng.

“Radio kampus,” sarannya lagi.

Aku menggeleng lagi.

“Jangan yang membutuhkan banyak komunikasi. Lo kan tau Gw gak suka banyak ngomong,” kataku.

“Basket, badminton, voli, karate, silat, taekwondo,” sarannya lagi.

“Jangan olahraga, Lo kan juga tau gw masih harus kerja.”

Dia mengangguk-angguk setuju.

“Ya udah gini aja, Lo ikut fotografi. Enggak banyak ngomong, juga enggak ngeluarin banyak tenaga. Tinggal jepret-jepret,” katanya asal sambil bergaya mengambil gambar.

“Tapi kan harus punya kamera sendiri. Lagian kameranya juga mahal banget. Gaji semua kerjaan Gw selama tiga bulan ini digabungkan juga enggak bakalan cukup,” kataku.

“Lah terus Lo maunya apa? Yang ini begini lah, yang itu begitu lah. Lagian kalau masih baru enggak harus punya kamera yang bagus banget kok,” katanya menghela nafas.

“Gw pikir-pikir dulu deh.”

***

Akhirnya aku memutuskan untuk masuk klub fotografi dan seni rupa, itu karena jadwalnya yang cocok dengan keadaanku, dan karena aku juga suka melukis. Walaupun lukisan yang sering aku buat hanyalah kapal dengan berbagai ukuran dan model. Aku juga meminjam kamera Reva yang tidak terpakai.

“Waktu itu Gw beli biar bisa PDKT sama senior Gw di SMU. Eh dia malah jadian sama teman Gw, BT deh Gw. Lagian Gw sukanya difoto, bukan sebaliknya. Dah Lo pake aja daripada nganggur tuh kamera. Kalau emang Lo teman Gw, Lo hargai dong pemberian Gw,” katanya manyun.

Yang enggak disangka-sangka dan paling menyebalkan, si super nyebelin itu ternyata mahasiswa di kampus ini juga. Dia seniorku dua tahun lebih tua, dan dia ketua klub fotografi. Namanya Reno.

Sepertinya aku familiar dengan namanya! Bakalan ditindas habis-habisan nih. Di klub seni rupa ada senior yang bernama Dito. Dito orang yang baik dan enggak sok senior sama mahasiswa-mahasiswa baru. Kata Reva, dia salah satu cowok popular di kampus (kalau soal cowok popular, Reva itu informan yang paling bisa dipercaya walaupun dia mahasiswi baru).

“Ini lukisan Lo yang buat Ra?” tanya Dito sambil terus melihat lukisanku.

“Iya.”

“Lo mau jadi pelukis?”

“Enggak.”

“Hmmm, kenapa enggak mau? Lo kan berbakat, lukisan yang Lo buat juga bagus-bagus.”

“Gw ngelukis buat hobi aja. Lo sendiri?”

“Hmmm... Gw sih pengennya suatu saat nanti bisa punya galeri lukis sendiri. Sama pengen buka sekolah lukis.”

Aku mengangguk-angguk pelan. Aku merapihkan peralatan lukisku dan membersihkan ruangan. Beberapa anggota lainnya datang.

“Lo lihat kamus Gw enggak?” tanya Tika, teman seangkatanku yang berbeda jurusan.

“Oh, itu ada dalam laci,” kata Dito.

Hari ini terasa melelahkan, lelah hati dan pikiran. Aku ingin membeli waktu agar bisa istirahat lebih lama, tapi jelas itu tidak mungkin. Aku juga enggak bisa memotong jarak agar lebih dekat. Kalau aku pindah kosan, belum tentu menemukan ibu kos yang lebih baik. Hanya otak dan tenaga saja yang bisa kuandalkan.

“Lo kredit motor aja, kan bisa ngirit waktu dan ongkos,” kata Reva. Dia seperti prihatin melihat keadaanku.

“Kalau naik motor, Gw gak bisa istirahat, apalagi kalau macet. Kalau di angkot atau bis kan, Gw bisa duduk nyantai.”

“Makanya buruan Lo nyari cowok!”

“Apa hubungannya?”

“Biar ada yang antar jemput Lo, lah. Coba deh Lo lihat di kampus ini ada ratusan cowok. Dari yang seumuran sampai yang senior. Dari yang naik motor sampai naik mobil. Lo tau Adit kan, dia sering nanyain Lo tuh sama gw.”

“Kan Gw udah bilang, Gw gada waktu buat pacaran. Gw lebih butuh uang dari pada cowok.”

“Ya Lo cari cowok yang kaya. Lo dapat orangnya, Lo dapat uangnya.”

“Buset dah Lo.”

Reva hanya ngakak.

“Nih ada Reno, Dito, Adit, Steven ... aduhh pokoknya di kampus ini banyak banget deh. Tapi menurut Gw ya, yang paling menonjol itu ya Reno dan Dito. Mereka tuh juga sahabatan.”

“Reno itu yang ketua fotografi bukan? Terus Dito yang ketua klub seni rupa kan?” tanyaku.

Reva mengangguk-angguk.

“Ihhh ... Lo tau enggak Rev, si Reno itu satu kerjaan sama Gw di kafe. Masa hari pertama dia kerja, dia udah bikin Gw mecahin selusin lebih piring. Ngeselin banget. Udah enggak mau minta maaf, malah dia yang marah-marah. Gw juga baru tau ternyata dia kuliah disini pas udah daftar di klub fotografi,” kataku.

“Hahhhh ... Reno magang di tempat kerja Lo? Ngapain, dia kan kaya? Udah gitu yang Gw dengar katanya dia itu udah jadi asisten dosen.”

“Ya mana Gw tau.”

“Lagian, emang sebelumnya Lo enggak pernah lihat Reno di kampus ini? Kok bisa sih?”

“Hmmm ... kayaknya enggak deh. Tapi mungkin pernah kali, cuma Gw yang enggak pernah merhatiin. Ini gara-gara tragedi piring pecah, Gw jadi terus-terusan perang dingin sama dia.”

“Tapi salut juga dia mau kerja disitu. Ya berarti Reno itu enggak sombong, enggak sok kaya. Pantaslah jadi idaman. Eh, apa Gw kerja juga ya di tempat Lo. Terus disana Reno kerjanya ngapain? Ya ampun ... enggak nyangka Gw.”

Mendengar Reva berbicara seperti itu kaya lagi ngedengrin dongeng.

“Rana, Lo tuh cantik, manis. Cuma Lo enggak nyadar aja. Coba deh Lo dandan, agak feminim dikit,” kata Reva.

“Enggak ah, ribet. Lagian ngapain dandan, Gw kan cuma kuliah dan kerja sambilan. Itu juga kerjaan Gw cuma nyuci piring dan bersih-bersih,” kataku.

“Kenapa Lo enggak nyari kerjaan yang lain sih?”

“Gw juga maunya gitu. Tapi kan Lo tau sendiri Gw masih kuliah, belum bisa nyari kerjaan tetap. Jadi kerjaan yang kaya gitu yang cocok untuk waktu Gw saat ini. Lulus juga masih lama banget Rev.”

“Ya udah, entar kalau ada kerjaan yang lebih baik, Gw kasih tau Lo deh. Lo mau jadi model majalah enggak? Tenang aja, bukan model yang aneh-aneh kok.”

“Gw pikir-pikir dulu deh. Enggak PD Gw,” kataku.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED