Bab 1

“Jangan! Jangan lakukan itu! Jangan hancurkan kehidupan kamu!”

“Gadis cantik, kamu masih memiliki masa depan yang cerah!”

Suara teriakan terdengar dengan sangat jelas di bawah bangunan dengan dua belas lantai itu. Banyak orang berkerumun dan meneriakkan hal yang sama. Semua mendongakkan kepala, menatap ke arah bagian paling puncak gedung pencakar langit itu, berharap seseorang yang ada di atasnya tidak melakukan tindakan bunuh diri.

Namun, gadis berambut sepundak itu tidak mendengarkan sama sekali. Manik matanya menatap kerumunan yang ada di bawahnya dengan air mata terus mengalir. Terpaan angin kencang sesekali membuat rambutnya yang lurus bergerak. Pakaian sederhana yang dia kenakan pun sesekali bergerak, mengiktui arah angin yang terasa cukup panas. Hingga membuat gadis itu menutup mata secara perlahan.

Jangan, jangan lakukan itu, Om. Jangan sentuh aku!

Jangan. Tidak. Jangan. Tolong!

Sebuah ingatan melintas. Amber yang mengingatnya pun membuka mata dengan cepat. Terdengar deru napas berat yang begitu jelas. Raut wajah takut langsung tergambar, membuat Amber menelan saliva pelan. Degup jantungnya pun berdetak cukup keras, membuatnya meremas rok bergelombang yang dia kenakan.

Sejenak, Amber menatap kerumunan di bawahnya. Semua orang seakan mencemaskan dirinya, membuat Amber tertawa kecil. Di saat keluarganya membuangnya, kenapa orang asing begitu mencemaskan dirinya? Sebenarnya, mereka benar cemas atau hanya sekedar takut akan terjadi hal tidak menyenangkan di bangunan tempat mereka tingga? Pada akhirnya, tebakan kedua pastilah yang benar.

Amber menarik napas dalam dan membuang perlahan. Dunia memang tidak pernah berpihak dengannya. Dia yang sudah menjadi yatim piatu harus tinggal dengan sang paman yang tidak menyukai dirinya. Mungkin, jika rumah yang mereka tempati bukanlah peninggalan dari orang tuanya, Amber yakin, sejak kecil dia sudah tinggal di jalanan. Menyadari tidak ada seseorang yang harus dia pikirkan, Amber mulai melangkahkan kaki, menuju ke arah pinggir rooftop. Dia akan mengakhiri hidupnya saat ini juga. Lagi pula, untuk apa dia hidup kalau tidak ada yang menginginkannya?

“Jangan lakukan itu!”

Amber yang mendengar suara teriakan itu begitu dekat pun menghentikan langkah. Hanya kurang tiga langkah dan hidupnya akan berakhir saat ini juga. Namun, teriakan itu membuat Amber menghentikan niatnya. Dengan tenang, dia memutar tubuh dan melihat wanita paruh baya tengah berdiri di depannya dengan napas tersengal.

“Gadis cantik, jangan lakukan itu. Jangan akhiri hidup kamu yang masih muda ini,” ucap wanita itu, menatap Amber lekat.

Amber yang mendengar pun tersneyum sinis dan mengalihkan pandangan. “Kenapa? Kamu takut aku akan mati dan menjadi arwah gentayangan di bangunan itu sehingga mengganggu kehidupan kalian?” tanya Amber sinis.

“Bukan karena itu. Lagi pula, aku tidak tinggal di sini. Jadi, aku tidak mempermasalahkan hal itu,” jawab wanita itu dengan tenang.

“Kalau begitu, kenapa kamu menghentikanku? Aku tidak mengenal kamu dan aku tidak akan menuruti kemauan kamu. Aku ke sini untuk mengakhiri hidup dan aku tidak akan mendengarkan apa pun yang kalian katakan.” Kali ini, Amber terlihat sangat serius dengan apa yang dia ucapkan.

“Aku Mega. Aku ke sini karena aku tidak mau kamu melakukan hal gila. Kamu masih memiliki kehidupan yang panjang. Kamu masih muda dan tidak seharusnya kamu mengakhiri hidup dengan cara seperti ini. Kamu masih memiliki masa depan yang cerah, Nak.”

“Masa muda dan masa depan yang cerah,” ulang Amber dan tertawa kecil. “Dimana letak masa depan yang cerah, Nyonya? Sekarang aku bahkan tidak memiliki tempat tinggal. Orang tuaku meninggalkanku sejak kecil, menjadikanku anak yatim dan piatu. Sekarang, aku diusir dari rumahku sendiri karena masalah yang tidak aku inginkan. Selain itu, masyarakat menolak kehadiranku. Mereka mencemooh. Padahal aku tidak melakkan kesalahan apa pun. Aku hanya korban pemerkosaan dan mereka begitu mengucilkanku. Mereka bilang, aku membawa nama buruk untuk desa dan keluargaku. Coba katakan, dimana masa depanku?!”

Amber menitikkan air mata dan menatap wanita di depannya lemah. “Aku juga tidak mau mengalaminya. Aku tidak mau menjadi korban pemerkosaan seperti ini. Aku juga tidak mau menjadi bahan cemoohan. Aku tidak bersalah apa pun, tetapi mereka malah menghukumku dan bukan pria-pria kurang ajar itu,” lanjut Amber.

Mega yang mendengar hal itu pun terdiam, menatap Amber yang begitu lemah. Dia bisa melihat raut wajah frustasi dari gadis itu. Tubuh ringkih dan pakaian sederhana seakan membuatnya tampak semakin menyedihkan. Hingga perlahan, dia mengulurkan tangan dan menatap lekat.

“Kalau mereka tidak menerima dan membuang kamu, ikutlah denganku. Kamu mulai semua dari awal dengan kehidupan yang jauh lebih baik. Aku pastikan, kamu akan bahagia di tempat baru kamu,” ucap Mega.

Amber yang sejak tadi menundukkan kepala pun menatap ke arah Mega berada. “Kemana?”

***

“Selamat malam, Tuan,” sapa seorang pelayan sembari menundukkan kepala.

Namun, sapaannya tidak mendapat jawaban sama sekali. Pria itu masih terus melangkahkan kaki lebar. Raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Tatapan setajam elang pun tidak beralih sama sekali. Hingga dia yang sudah sampai di ruang makan pun menghentikan langkah dan menatap dua orang yang tengah duduk bersebelahan dengan raut wajah bahagia.

“Ma,” panggil Gavin dengan tenang.

Kala—mama Gavin yang mendengar hal itu pun langsung menghentikan obrolan. Manik matanya menatap ke asal suara dan tersenyum lebar ketika melihat putra tunggalnya itu datang. Dengan tenang, dia bangkit dan melangkahkan kaki, menuju ke arah putranya.

“Kamu sudah pulang dari tadi?” tanya Kala ketika sudah berhenti di depan Gavin.

“Baru saja,” jawab Gavin singkat. Manik matanya beralih, menatap wanita dengan pakaian modis yang tengah duduk dan menatapnya lekat.

Kala yang mengerti dengan tatapan putranya pun mengulum senyum. Dia meraih lengan Gavin dan berkata, “Eveline sudah menunggu kamu dari tadi. Dia mau makan malam bersama dengan kita dan karena sekarang sudah lengkap, mama rasa kita sudah bisa memulainya.”

Namun, Gavin yang mendengar hanya diam. Dia tidak menolak, tetapi tidak juga antusias. Dia hanya melangkahkan kaki, menuju ke arah meja makan dan mengikuti sang mama. Sampai dia yang sudah berada di sana pun duduk di kursi paling depan, membiarkan pelayan lain menyiapkan makanan di piring mereka.

Eveline yang sejak tadi menatap Gavin pun tersenyum lebar. “Gavin, bagaimana kabar kamu? Aku dengar kamu baru membuka kantor cabang baru. Apa semuanya lancar? Kalau kam….”

Gavin yang mendengar ocehan Eveline pun hanya diam. Dia memilih mengalihkan pandangan, menatap ke arah lain dan mendapati Mega tengah melangkah ke arahnya. Namun, bukan asisten rumah tangganya yang menarik perhatian. Gavin yang melihat lebih tertarik dengan gadis yang berdiri di sebelah Mega. Hingga keduanya berhenti tidak jauh dari Gavin, membuat pria itu menatap tajam.

“Kamu membawa siapa, Mega?”

Bab 2

“Kamu membawa siapa, Mega?”

Kali ini, bukan Gavin yang bertanya, melainkan Kala yang menatap sinis. Tidak ada keramahan sama sekali dari wajah wanita itu. Hal yang sama juga ditunjukkan Eveline. Wanita itu pun tidak menatap bersahabat ke arah Amber, membuat Amber menundukkan kepala. Tangannya meremas rok bermotif bunga miliknya, berusaha menghilangkan perasaan tidak nyaman.

Mega yang ditanya pun menatap ke arah majikannya dan menjawab, “Namanya Amber, Nyonya. Dia saudara saya dari kampung dan saya membawanya ke sini. Saya ingin bertanya, apakah di sini masih ada pekerjaan untuk dia?”

“Tidak ada,” jawab Kala dengan cepat. Dia bahkan tidak memikirkan mengenai keputusannya lebih dulu.

“Berapa usia kamu?” Gavin yang sejak tadi memperhatikan pun mulai angkat bicara, membuat Kala menatap ke arah putranya lekat.

“Gavin,” panggil Kala dengan suara memperingatkan.

Namun, Gavin tidak mempedulikan hal itu sama sekali. Dia menatap ke arah Amber, tidak beralih. Sejak gadis itu datang, Gavin benar-benar dibuat tidak ingin berpaling. Dia merasa ada hal yang menarik dari Amber yang benar-benar memiliki magnet tersendiri.

“Sekarang dia berusia dua puluh lima tahun, Tuan,” jawab Mega, masih mempertahankan kesopanannya.

“Dua puluh lima tahun,” ulang Gavin dan semakin mengamati Amber. Dia melihat tubuh wanita itu dari atas ke bawah.

Amber yang ditatap sebegitu dalam semakin dibuat tidak nyaman. Dia terus saja meremas roknya pelan dan semakin menundukkan kepala. Dia tidak berani menatap manik mata tajam dari pria di depannya.

“Amber, apa yang bisa kamu lakukan?” tanya Gavin kembali, tetapi kali ini ditunjukkan pada Amber.

Amber yang sejak tadi gugup pun menelan saliva pelan. “Saya bisa memasak, bersih-bersih. Apa pun yang diperintahkan, saya bisa, Tuan,” jawab Amber lirih.

“Kamu yakin?” Gavin menaikkan sebelah alis dan menatap Amber lekat.

“Yakin,” jawab Amber tanpa pikir panjang.

Gavin yang mendengar hal itu pun menganggukkan kepala. Dia mendesah kasar dan mengalihkan pandangan. “Kalau begitu, kamu berikan dia kamar, Mega. Beritahu juga apa yang harus dia lakukan,” putus Gavin dengan tenang.

Amber terdiam, cukup terkejut dengan apa yang diputuskan Gavin. Bibirnya bahkan langsung mengulas senyum lebar dan membungkukkan tubuh. “Terima kasih, Tuan,” ucap Amber, benar-benar bahagia.

“Terima kasih, Tuan.” Mega yang mendengar pun ikut bahagia. Dia meraih tangan Amber dan menari gadis itu agar ikut dengannya.

Gavin hanya diam dan memilih asyik menikmati makanan di depannya. Namun, hal berbeda ditunjukkan Kala dan Eveline. Kala yang sudah melihat Amber dan Mega pergi langsung menatap ke arah putranya lekat.

“Gavin, mama sudah menolaknya. Kenapa kamu malah menerimanya?” tanya Kala serius.

Gavin yang baru menelan makanannya menatap ke arah sang mama. “Aku rasa tidak ada salahnya kita membiarkan dia bekerja, Ma. Lagi pula, aku merasa kalau di sini juga kekurangan orang,” jawab Gavin enteng.

“Tapi mama tidak suka dengannya, Gavin. Dia itu masih muda dan pasti tidak akan benar dalam mengerjakan tugas. Bagaimana kal….” Kala menghentikan ucapan ketika Gavin sudah mengangkat tangannya.

Gavin menatap ke arah sang mama. Raut wajah yang semula tenang, kini berubah menjadi datar dan menatap dingin. Kala yang melihat hal itu pun langsung terdiam, cukup tahu dengan emosi yang dimiliki putranya.

“Di rumah ini, aku yang menentukan keputusan, Ma. Jadi, aku tidak mau ada yang meragukannya. Aku cukup tahu apa yang harus aku lakukan dan apa yang tidak harus aku lakukan,” ucap Gavin dengan tegas. Dia pun langsung bangkit dan melangkahkan kaki, menuju ke arah tangga yang terletak tidak jauh dari tempat makan.

Kala yang melihat tingkah putranya pun hanya mampu diam dan membuang napas perlahan. Sedangkan Eveline yang sejak tadi memperhatikan hanya bungkam. Terlihat jelas keterkejutan di wajah wanita itu.

***

Mega membuka pintu kamar, membuat Amber yang sejak tadi menunggu pun menatap sekitar. Hanya ruang kosong yang diisi dengan ranjang dan sebuah lemari kecil di sudut ruangan. Tidak ada hal mewah di ruangan itu, tetapi mampu membuat Amber kembali menunjukkan senyum lebar.

“Sekarang, ini kamar kamu, Amber. Aku harap kamu suka dengan tempat ini,” ucap Mega, membuka pintu semakin lebar.

Namun, Amber hanya diam dan tidak mengatakan apa pun. Dia memilih masuk dan memperhatikan kamar itu lekat. Hingga dia yang sudah puas pun kembali menatap ke arah Mega berada dan melangkah pelan. Sampai dia yang berada di depan Mega membuka tangan lebar dan memeluk wanita itu erat.

“Terima kasih,” ucap Amber.

Mega yang mendengar ikut tersenyum. Dia melepaskan dekapan dan menatap Amber lekat. “Aku tenang kalau kamu suka dengan tempat ini, Amber. Aku harap, kamu juga bisa melakukan tugas di sini dengan baik. Jangan membuat Nyonya Kala dan Tuan Gavin marah,” sahut Mega.

“Tuan Gavin itu pria yang tadi?” tanya Amber memastikan.

Mega langsung menganggukkan kepala dan bergumam pelan. Dia langsung mengatakan semua tentang keluarga itu. Kebiasaan, kesukaan dan bahkan semua rutinitas yang ada. Dia juga memberitahu temperamen kedua majikannya itu. Amber pun hanya memperhatikan dengan seksama dan menganggukkan kepala kecil.

“Kamu sudah mengerti?” tanya Mega ketika selesai menjelaskan.

“Aku mengerti,” jawab Amber, membuat Mega tersenyum.

“Mega.”

Mega yang mendengar seseorang memanggilnya pun mengalihkan pandangan.

“Tuan Gavin memintamu membawakan kopi ke kamarnya,” ucap sang pelayan yang lain.

“Aku akan seegra ke sana,” sahut Mega cepat, membuat pekerja itu melangkah pergi.

“Boleh aku yang coba buatkan?” tanya Amber, menatap Mega lekat.

Mega terdiam sejenak, menatap ke arah Amber ragu. Pasalnya, gadis itu baru saja datang dan dia takut membuat masalah. Namun, melihat Amber yang begitu antusias, dia menjadi tidak tega, membuatnya menganggukkan kepala.

“Tapi ingat, Amber. Jangan buat kesalahan apa pun dan jangan buat Tuan Gavin marah. Dia tidak suka minuman manis,” putus Mega.

Amber hanya mengangguk patuh, mengingat dengan jelas apa yang dikatakan Mega dengannya. Dia mulai melangkahkan kaki, keluar kamar dan menuju ke arah dapur bersama dengan Mega. Dalam hati, dia berdoa semoga Gavin menyukai minuman yang dia buat.

Sedangkan di tempat lain, Eveline masih diam dan memasang raut wajah cemas. Bahkan, Kala yang sejak tadi mengajak berbicara pun diabaikan. Hingga Kala yang sadar dengan hal itu menghentikan aktivitas dan menatap Eveline lekat.

“Eveline, kenapa kamu diam?” tanya Kala, menatap penasaran.

Eveline yang ditanya pun langsung menatap ke arah Kala berada dan membuang napas kasar. “Aku hanya sedang berpikir, kenapa Gavin begitu membela Amber, Tante. Padahal, biasanya dia tidak pernah menentang keputusan Tante. Kali ini, dia melakukannya.”

“Apa menurut Tante, Gavin menyukai wanita itu?” tanya Eveline dengan penuh hati-hati.

Bab 3

Seperti lelucon, Kala tertawa kecil. Rasanya benar-benar tidak tahu dengan apa yang dipikirkan wanita di dekatnya itu. Wanita yang akan dijodohkan dengan putranya benar-benar terlihat lucu dan membuatnya ingin sekali tertawa keras. Hingga Kala menggelengkan kepala kecil dan memilih kembali menatap ke arah majalah di depannya.

Eveline yang melihat tingkah Kala pun mendesah kasar dan menyandarkan tubuh dengan punggung kursi. “Tante, aku takut kalau Gavin memang menyukai Amber,” keluh Eveline kembali. Bibirnya dimanyunkan dengan raut wajah masam. Terlihat jelas kekesalan di wajah wanita itu.

Kala yang masih asyik membalik lembar demi lembar itu pun menghentikannya. Dia menatap ke arah Eveline dan menaikkan sebelah bibir. “Kamu pikir anak tante memiliki selera yang rendah, Eveline?” Kala malah balik bertanya.

Eveline hanya bungkam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia benar-benar tidak bersemangat, tepatnya setelah Amber datang. Melihat Gavin yang menggunakan kekuasaan untuk mempertahankan Amber membuatnya penasaran. Apa yang menarik dari wanita itu? Biasanya Gavin tidak pernah menerima pekerja secepat itu. Hingga sebuah tangan meraih jemarinya dan menggenggam lembut, membuat Eveline menghentikan pikirannya dan menatap ke arah sang pelaku.

“Jangan cemas, Eveline. Amber, si asisten rumah tangga baru itu tidak akan pernah bisa meraih hati Gavin. Kamu tahu? Gavin memiliki standar yang begitu tinggi kalau masalah wanita. Itu sebabnya tante memilih kamu untuk dia karena memang hanya kamu yang pantas untuk dia,” ucap Kala, penuh percaya diri.

Eveline yang semula cemas pun langsung tersenyum tipis. Kata-kata dari Kala seperti angin segar untuknya. Perasaannya juga sedikit tenang karena mendapat dukungan dari wanita itu. Hingga sebelah tangan Kala beralih, mengelus pipinya pelan.

“Jangan takut kalau kamu akan kalah, Eveline. Sepenuhnya tante akan dukung kamu. Tante gak mau punya menantu seperti Amber, wanita miskin dan gak jelas itu,” ucap Kala dengan sinis.

Eveline langsung mendekatkan tubuh dan memeluk Kala erat. “Terima kasih, Tante. Tante Kala memang yang terbaik,” kata Eveline.

Kala tertawa kecil dan melepaskan dekapan Eveline. “Sudah, lebih baik kita lanjutkan melihat tasnya. Tante mau minta pendapat kamu untuk membelinya.”

“Tante, bisa kita pilihnya nanti? Aku mau kamar Gavin. Aku rasa aku mulai merindukannya,” kata Eveline dan menunjukkan deretan giginya yang rata.

Seperti sudah hafal dengan hal itu, Kala tersenyum manis dan menganggukkan kepala, memberikan izin untuk Eveline. Eveline yang melihat pun dengan semangat langsung bangkit dan menuju ke arah anak tangga.

Sedangkan Amber yang sudah sampai di depan kamar Gavin pun terdiam. Sejenak, dia mencoba mengatur napas dan meminimalisir perasaan gugup. Bagaimanapun ini adalah pertama kali dia melakukan tugas, membuat Amber sedikit was-was. Dia takut kalau akan membuat kesalahan yang memancing emosi Gavin. Apalagi dengan penjelasan Mega yang mengatakan kalau pria itu begitu dingin dan tidak berbelas kasih, membuat Amber semakin tidak karuan.

Amber yang sudah merasa membaik pun mulai mengulurkan tangan, mengetuk pintu di depannya. Dia menunggu seseorang di dalam ruangan itu memberikan dia izin masuk. sesekali, pandangannya menatap sekitar yang benar-benar sepi.

“Masuk.”

Amber yang mendengar suara itu dari dalam pun memegang gagang pintu. Perlahan, dia mulai membukanya dan melangkah pelan. Sebisa mungkin, dia tidak menimbulkan suara sama sekali. Hingga dia yang sudah berada di kamar Gavin pun menghentikan langkah dan menatap sekitar.

Kedua mata Amber terbuka lebar ketika melihat pemandangan di depannya. Kamar luas bernuansa abu dengan tatanan yang sempurna. Sebuah ranjang besar dengan dua nakas di setiap sisi. Terdapat televisi besar yang tepat menghadap ke arah ranjang. Kamar mandi yang terbuat dari kaca. Hingga Amber yang menyusuri seisi kamar berhenti di balkon kamar yang mengarah tepat ke bangunan perkantoran yang begitu megah.

“Mau sampai kapan kamu diam, Amber?”

Amber yang mendengar teguran itu pun tersentak kaget. Dia mengalihkan pandangan, menatap ke asal suara dan mendapati Gavin tengah duduk di sofa, tepat di sebelah jendela kamar. Melihat pria itu hanya menggunakan handuk dan membiarkan bagian atasnya terbuka membuat Amber kembali terdiam. Dia benar-benar terpesona dengan tubuh atletis pria itu. Katakan saja dia mesum, tetapi melihat Gavin dalam kondisi seperti saat ini benar-benar cukup menggoda dirinya.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena setelahnya dia tersadar. Amber pun dengan cepat menyingkirkan pikiran kotornya. Dengan tenang, dia melangkahkan kaki ke arah sofa. Dia tidak ingin membuat pria itu menunggu lebih lama lagi. Hingga Amber yang sudah sampai di dekat sofa pun menundukkan tubuh dan meletakkan gelas di depan Gavin.

“Silahkan, Tuan,” ucap Ambr sopan.

Gavin masih saja diam dengan sebelah kaki disilangkan. Dia meraih gelas itu dan menyeruput pelan. Sejenak, dia terdiam dengan raut wajah berpikir. Hingga dia menatap ke arah Amber berada.

“Kamu yang membuatnya?” tanya Gavin.

Amber hanya menganggukkan kepala. Ada perasaan cemas karena pertanyaan itu. Dia benar-benar takut jika ada yang kurang atau pria itu tidak menyukainya.

“Enak,” puji Gavin.

Seketika, Amber yang semula cemas langsung mengulas seyum lebar. Dia menundukkan tubuh dan mengucapkan terima kasih. Amber pun meminta izin keluar. Dengan semangat, dia memutar tubuh dan siap melangkah. Sayangnya, tepat saat itu, kakinya tersangkut sesuatu, membuat tubuhnya tidak seimbang.

Amber yang merasakan tubuhnya akan terjatuh pun langsung melebarkan kedua mata. Bisa dipastikan jika kali ini kepalanya akan mengenai meja di belakangnya. Dia bahkan sudah memejamkan mata, siap menerima rasa sakit dan malu, tetapi bukan hal itu yang didapat. Amber malah merasakan tubuhnya jatuh di sebuah tangan kekar.

Hening. Perlahan, Amber membuka mata. Dia penasaran, sebenarnya dia jatuh di mana. Tepat saat kedua matanya terbuka, tepat saat itu juga dia bersitatap dengan manik mata milik Gavin. Detak jantungnya bahkan langsung berhenti berdetak saat melihat pria itu menatapnya tajam. Tubuhnya benar-benar kaku, tidak dapat berfungsi dengan benar. Pikirannya tiba-tiba saja kosong, membuat Amber sulit bereaksi. Hingga pintu kamar terbuka.

“Gav….” Eveline yang baru saja masuk dibuat tercengang dengan pemandangan di depannya. Rahangnya mengeras, dengan kedua tangan mengepal. Tatapannya terarah tajam, tepat ke arah Amber berada.

Eveline melangkah lebar dan meraih tangan Amber. Dia menarik kasar, membuat Amber yang sempat melamun pun tersentak kaget. Namun, sata sudah berdiri sepenuhnya, Eveline langsung melayangkan tamparan di pipi Amber.

Plak. Amber yang menerima perlakuan itu pun terkejut dan menatap ke arah Eveline. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang akan dilakukan Eveline kali ini. tangannya memegang pipinya dengan air mata menggenag.

“Dasar jalang sialan! Kamu mencoba merayu calon suamiki? Kam—”

“Eveline.”

Eveline yang mendengar suara penuh peringatan dari Gavin pun diam. Pria itu memang tidak membentaknya, tetapi suara penuh penekanan itu sudah membuat Eveline sadar dengan apa yang terjadi. Kali ini dia hanya diam dan menahan emosinya.

“Amber, keluarlah. Lanjutkan pekerjaan kamu,” ucap Gavin dan langsung mendapat anggukan.

Sedangkan Eveline yang melihat Amber melangkah keluar pun menatap lekat. Aku akan buat kamu menderita, Amber, batin Eveline.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED