Bab 1

Vanya itu nama barunya sesudah berubah halauan menjadi 'kaum hempas manja'. Di akte kelahiran dan KTP miliknya tertulis Rivaldo Anggara, seharusnya dia bangga dengan nama keren berkesan ganteng yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Namun, dia menemukan jati dirinya sebagai seorang perempuan di usia 18 tahun usai lulus SMA.

Mama papa larang, tapi ini hidup Vanya dan hanya Vanya yang tahu apa yang dia inginkan. Setiap melihat cermin, dia ingin dirinya menjadi cantik sempurna selayaknya seorang wanita dan bukan cowok cantik model-modelan Kpop yang memang lagi hits di zaman now.

Dia tidak melanjutkan kuliah selepas lulus SMA, Vanya membuka salon kecantikan yang dimodali oleh papanya yang mulai bisa menerima keadaan anaknya yang miring dan bengkok yang sudah melewati batas tak bisa diluruskan lagi.

Itu bukan salon plus-plus esek-esek yang marak di berbagai kota, Vanya membuka salon kecantikan profesional yang murni untuk perawatan kecantikan karena dia cinta dengan kecantikan ragawi, kliennya pria dan wanita. Salon itu sudah berdiri sejak 3 tahun lalu dan pelanggan salonnya puas dengan hasil pekerjaan Vanya dan timnya.

Pagi ini adalah jadwal rutin suntik hormon estrogen dan progesteron untuk Vanya. Dia duduk di ruang tunggu sebuah rumah sakit ternama di Jakarta , menunggu gilirannya dipanggil masuk ke ruang periksa pasien.

Dokter spesialis, tempat dia berlangganan itu namanya Dokter Aldi, nama lengkapnya Dokter Reynaldi Nugraha. Dokter Aldi masih muda dan ganteng sih, dan dia itu sedikit genit, tipe-tipe 'buaya air' yang diam-diam menghanyutkan.

"Pasien atas nama Rivaldo Anggara silakan masuk ke ruang periksa," panggil suster jaga di praktik Dokter Aldi.

Vanya seolah sudah terbiasa karena memang itu namanya di KTP. Dia pun melenggang dengan santai masuk ke ruang periksa diikuti tatapan penasaran pasien lain dan bisik-bisik yang dia abaikan.

"Ehh bencong ..."

"Banci ya?"

"Cewek jadi-jadian?"

Dalam hati Vanya menjawab gemas, "Please deh, gue ini ladyboy berkelas bukan bencong apa banci yang bawa kicik-kicik ngamen di perempatan!" Dia menghempaskan rambut panjang ikalnya yang berwarna pirang kecoklatan sebelum masuk ke ruang periksa Dokter Aldi.

Di dalam ruang periksa itu, Dokter Aldi yang ganteng duduk bersandar di kursi kerjanya dan menggoyang-goyangkan kursinya itu pelan sembari menyunggingkan senyum ala buaya air-nya yang khas menatap Vanya dengan lapar.

"Pagi, Dok," sapa Vanya mengabaikan tatapan panas si dokter ganjen lalu duduk di kursi pasien di seberang meja dokter.

"Pagi, Vanya Sayang. Sudah jadwalnya suntik hormon lagi ya? Mas Dokter kangen nih nggak ditengokin berbulan-bulan," balas Dokter Aldi sembari menggoda Vanya.

"Ehemm ... ehemm ... kangen sama ladyboy cakep ya, Mas Dokter?" jawab Vanya dengan nada dingin, dia tidak takut dengan keganjenan Dokter Aldi karena hanya sekedar godaan ringan yang tidak menjurus ke arah seksual. Setiap dokter harus menjaga kode etiknya.

"Bobo dulu yuk di bed pasien, Mas Dokter mau nyuntik kamu, Cantik," ujar Dokter Aldi yang mengandung makna ganda.

Vanya cekikikan geli mendengarnya sambil membatin, 'Ngarep boleh-boleh aja kok, Mas Dokter ...' Dia pun berjalan ke bed pasien lalu berbaring dengan santai.

"Mas suntik sekarang ya, Van, tahan sakit sedikit. Kalau mau nangis boleh, nanti Mas belai biar sakitnya hilang," ujar Dokter Aldi sambil modus seperti biasanya.

"Suntik aja, Dok. Vanya tahan banting kok!" jawab Vanya dengan santai sambil berbaring di bed pasien dengan Dokter Aldi duduk di tepi ranjang itu.

"Aahh masa? Mau dong ngebanting kamu, Say," balas Dokter Aldi dengan wajah tampannya yang mesum.

Vanya geregetan dan mengeluarkan suara maskulinnya, "Gggrrrr cepetan dong, Dok!"

Dokter Aldi malah terkekeh mendengar suara laki-laki dari Vanya. Diapun menyuntik lengan kiri Vanya dengan spuit 3cc berisi hormon estrogen dan progesteron dengan cekatan.

"Nah selesai, Vanya Sayang. Ini kenapa jadi galak ya sekarang sama Mas Dokter?" goda Dokter Aldi lagi sambil membantu Vanya bangun dari bed pasien.

Vanya duduk sembari menatap si dokter ganjen dengan mata cokelatnya yang indah, sementara tangan Dokter Aldi memegangi kedua lengan atas Vanya. 'Mau apa nih si dokter ganjen?' batinnya curiga.

"Nyosor dikit boleh dong, Say?" ucap Dokter Aldi lalu mengecup bibir ranum Vanya yang berbalut liptint strawberry warna merah muda.

Ketika Dokter Aldi menyudahi ciumannya di bibir Vanya, dia tersenyum dan berkata, "Makasih ya, Van, bonusannya mantap."

Vanya menghela napas dalam-dalam dan mencebik. "Dokter Aldi sukanya nyosor, memang boleh sama pasien begini?!" tanyanya.

"Cuma sama kamu aja, Cantik. Coba kamu cewek beneran pasti udah kujadiin istri," jawab Dokter Aldi dengan tatapan penuh kekaguman ke wajah Vanya.

Vanya menusukkan telunjuk tangan kanannya ke dada Dokter Aldi sembari berkata, "Aku cewek jadi-jadian juga nggak mau sama Mas Dokter." Vanya menjulurkan lidahnya pada Dokter Aldi.

Dokter Aldi pun tertawa berderai menanggapi tingkah imut Vanya yang menolaknya mentah-mentah. Dia tidak bisa menikah dengan wanita kw alias transgender, keluarga besarnya pasti akan menentangnya habis-habisan apalagi dia putera tunggal dan sulung di keluarganya.

Vanya turun dari bed pasien lalu duduk lagi di kursi pasien berhadapan dengan Dokter Aldi.

"Dok, minta diskon ya? Tadi 'kan sudah dapet kiss dari Vanya," pinta Vanya seraya tersenyum mengedipkan sebelah matanya dengan genit pada Dokter Aldi. Biaya konsultasi dengan Dokter Aldi memang agak mahal bisalah dapat satu pasang sepatu Gosh yang imut.

"Hmmm ... boleh, kalau mau kukasih gratis biaya konsul, kamu ke sini dulu," ujar Dokter Aldi menepuk-nepuk pahanya dengan tatapan mesum.

Vanya pun mendengkus sembari memutar bola matanya. Dia menimbang-nimbang apakah worthed digrepe-grepe si dokter ganjen ditukar dengan sepasang sepatu Gosh. Akhirnya, dengan berat hati Vanya melangkahkan kakinya ke arah Dokter Aldi.

Tangan Dokter Aldi meraih pinggang Vanya lalu menariknya ke pangkuannya. Bibirnya menyusuri leher jenjang Vanya yang beraroma parfum LV mewah. "Vanya, andai kamu cewek tulen ... Mas suka banget sama kamu," gumam Dokter Aldi sambil meremas-remas bulatan padat di dada Vanya yang diimplan di Korea Selatan.

"Mas, berisik deh ... udah tahu aku cewek kw masih ngarep kalau aku cewek tulen. Jatahnya pas bayi dikirim dari surga tuh aku cowok, tapi jiwaku cewek, Mas," balas Vanya dengan cuek bersandar di dada bidang si dokter ganjen.

Pria itupun terkekeh lalu menyudahi tingkah mesumnya pada Vanya. "Yuk udahan, Van. Kasihan pasien di luar yang nunggu giliran mereka." Tangannya sempat meremas bokong semok Vanya yang terbalut celana skinny jeans ketika dia bangkit dari pangkuan pria itu.

"Aaaww nakal!" seru Vanya terkejut.

Dokter Aldi tersenyum mesum menatap Vanya yang duduk lagi di hadapannya. Dia lalu menulis rekening tagihan pemeriksaan dokter untuk Vanya. Dia tetap menuliskan biaya konsultasinya, tetapi mengeluarkan dompet tebal dari saku belakang celana jinsnya. Dia mencabut 4 lembaran uang merah lalu menyerahkannya ke hadapan Vanya.

"Ini buat bayar biaya konsultasinya, Van, sesuai kesepakatan kita tadi. Nggak mungkin aku kosongin, nanti pihak rumah sakit curiga. Anyway, bodi kamu bikin ngiler, Van, mantep buat dipegang," ujar Dokter Aldi seraya terkekeh.

"Makasih Mas Dokter, Vanya pamit dulu ya. Buruan cari istri daripada godain Vanya melulu ntar lama-lama ikutan bengkok. Ahahaha ...," seloroh Vanya seraya tertawa dengan suaranya yang mendayu-dayu lalu melangkah keluar dari ruang praktik Dokter Aldi.

Pasien yang menunggu di ruang tunggu menatap Vanya dengan kesal karena dia lama sekali berada di dalam ruang periksa. Vanya mengacuhkan mereka dan berjalan melenggak-lenggokkan bokongnya yang seksi dengan santai menuju ke bagian administrasi rumah sakit itu.

Bab 2

"Van, ntar malem ikutan clubbing 'kan? Gue tungguin di Dark City Club jam 10 malem, oke?" ujar Cindy terdengar dari ponsel Vanya yang disetel mode loud speaker sementara si empunya ponsel sibuk mengoles kutek warna pink electric di kuku-kuku panjangnya yang termanikur rapi.

"Beres, Cyin. Gue pasti dateng, tungguin aja. Btw, lo masih jalan sama sugar daddy lo yang kemarin gak?" tanya Vanya berlagak kepo sambil meniupi kukunya.

"Aaahh lo mention dia juga. Kagaa ... si papi terlalu posesif, padahal dia 'kan sudah punya bini. Males aahh! 2 hari lalu udah gue putusin, biarin nangis-nangis bombay. Makanya gue mau cari gandengan baru ntar malem di club, kali aja ada Om-om ganteng yang tajir bisa dibungkus," jawab Cindy dengan pede.

"Ahahaha ... dibungkus? Lo pikir ketoprak, Cyin ... bisa dibungkus? Yang pedes pake karet dua," seloroh Vanya dengan asal.

"Hihihi ... makin pedes makin ajib, Say!" sahut Cindy cekikikan.

"Gue mau juga dong, Om-om ganteng yang hot. Nggak tahu kenapa ya, gue belakangan ngerasa hampa dan sedikit jablay. Lo ngerti sendiri Cyin, gue 'kan cewek abal-abal, kalau cowok normal tahu gue bukan cewek tulen selalu broke up. Mental orang Indonesia ya, emang masih belum bisa nerima yang unperfect kayak gue," ujar Vanya dengan sedikit nada sedih di ucapannya sembari duduk berselonjor menatap langit sore yang berwarna biru muda dari sofa di balkon ruko miliknya.

Cindy pun terdiam sejenak lalu menjawab, "Jangan terlalu dipikirin, Van. Someday lah lo pasti dapet cowok yang mau nerima elo apa adanya. Gue paham jiwa lo cewek kok, gue juga nggak pernah ngehakimin pilihan lo buat jadi cewek sekalipun lo cowek. Hihihi."

"Dasar lo, Cyin! Iya, thanks. Ya udah mpe ketemu ntar malem ya. Full genk 'kan?" balas Vanya.

"Iya semua ikut, Ellen, Rachel, Chacha, Lusy, full genk dateng semua. Lo dandan maksimal gih biar dapet jodoh, Van!" jawab Cindy.

"Siap, Boss! Bye, Cyin," sahut Vanya lalu mengakhiri teleponnya dengan Cindy.

Tak lama kemudian, Dedy naik ke balkon untuk memanggil bosnya karena ada klien setia salon yang ingin ditangani langsung oleh Vanya.

"Mbak V-vanya ...," panggil Dedy terbata-bata sambil menelan ludah melihat paha putih mulus Vanya yang berselonjor di sofa.

Vanya menghela napas melihat mata Dedy jelalatan melihat tubuhnya yang seksi semlohay. "Kenapa Ded?" tanyanya datar.

"Om Rusli minta potong rambut sama Mbak Vanya, dia nolak ditangani sama capster salon," jawab Dedy sambil menatap wajah cantik Vanya untuk mengalihkan perhatiannya dari bodi bos-nya yang menggoyahkan iman itu.

"Uhmm ... oke, aku turun." Vanya mengerucutkan bibirnya sembari berjalan melewati Dedy yang berdiri di samping pintu balkon.

Lengan Dedy tak sengaja menyenggol gundukan montok di dada Vanya ketika bos-nya itu melewatinya tadi. Tubuh Dedy serasa mendadak lemas, sementara Vanya tidak mengetahuinya. "Kapan gue punya pacar kayak Mbak Vanya?! Bodinya bikin gue merinding dangdut kesrempet slebornya," gumam Dedy melempar poni panjangnya ke belakang lalu menyusul Vanya turun ke bawah.

"Sore, Om Rusli. Gimana? Ada yang bisa Vanya bantu?" sapa Vanya dengan suaranya yang mendayu-dayu mendekati kursi tempat seorang Om-om berusia awal 50 tahunan berkumis tebal menghadap cermin salon.

"Ehh Vanya Sayang ... iya nih, Om mau minta dipotongin rambut sudah kepanjangan. Om nggak suka gondrong, kurang berwibawa dan nggak rapi kesannya," jawab Om Rusli.

Vanya pun berdiri di belakang kursi yang diduduki Om Rusli lalu menyentuh rambut dan kepala si Om. "Oke, model taper fade aja kali ya, Om. Jadi ntar bagian samping sama belakangnya Vanya clipper tipis tapi yang atas dibiarin jadi kesannya masih tebal biar nggak kelihatan botak gitu. Pakein pomade apa gel sedikit ujungnya biar rapi pas disisir ke belakang," ujar Vanya sembari menatap ke cermin bertukar pandang dengan Om Rusli.

"Boleh ... boleh, Van. Om yakin pasti jadinya bagus," jawab Om Rusli tanpa rewel.

Vanya senang dengan klien setianya yang satu ini, tidak banyak gaya dan berkantong tebal. Dia pun menyemprotkan air ke rambut Om Rusli lalu mulai menggunting rambut panjang seleher itu. Kemudian menggunakan clipper menipiskan bagian samping kanan kiri dan belakang kepala pria itu. Sesuai perkiraannya model rambut taper fade memang cocok untuk Om Rusli, aura Om-om tajir ala CEO lebih nampak dengan hairstyle ini. Vanya menemukan rambut putih yang lumayan banyak di kepala Om Rusli.

"Om, apa nggak minat sekalian toning rambut hitam? Ubannya sudah mulai banyak lho," ucap Vanya dengan perhatian.

"Oya? Boleh deh sekalian semir rambut biar nggak keliatan tua-tua banget. Hehehe," jawab Om Rusli terkekeh menatap Vanya dari cermin.

"Kalau toning-nya sama karyawan Vanya nggakpapa ya Om?" pinta Vanya dengan hati-hati sembari tersenyum tipis meletakkan kedua tangannya di bahu Om Rusli.

Om Rusli pun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Oke, thanks ya Van," ucapnya sembari menepuk-nepuk tangan Vanya di bahunya.

Setelah itu Vanya pun berpamitan ke karyawannya untuk pulang ke rumahnya. Ruko salon sebenarnya ada kamar tidur untuk Vanya selain ditinggali oleh karyawan-karyawannya yang berjumlah 6 orang. Namun, Vanya merasa kurang nyaman tinggal bersama orang luar, dia lebih senang tinggal bersama keluarganya di rumah.

Jam pulang kantor di jalanan Jakarta selalu macet. Rumah keluarga Vanya ada di perumahan Pondok Indah, mereka sudah lama tinggal di sana.

Vanya mendengarkan siaran radio sambil menyetir mobil Honda Jazz putihnya. Dia menunggu lampu merah berubah menjadi hijau, diapun menoleh ke sisi kanan mobilnya. Ada sebuah sedan BMW hitam sepertinya keluaran terbaru, kaca mobilnya bening. Seorang pria bule yang mengendarai mobil itu, ganteng sekilas mirip Chris Hemworth.

Diapun cuci mata memandangi pria bule itu cukup lama hingga yang dipandangi sadar lalu menoleh ke arahnya.

"Ups!" ucap Vanya menggigit bibirnya lalu menatap ke arah mobil di depannya.

Vanya menoleh lagi ke kanan dan mendapati pria bule itu sedang menatapnya terang-terangan dari dalam mobil BMW hitamnya.

"TINN ... TINN ...." Suara klakson mobil di belakangnya memecah momen saling pandang itu.

Dengan segera Vanya mengemudikan mobilnya maju, sedangkan mobil BMW itu membunyikan klakson ketika melewati mobil Vanya. Si bule menyeringai dengan wajah tampannya kepada Vanya sekilas sembari melambaikan tangannya.

Diapun bersiul. "Wow, gantengnya maksimal, kece badai, si om bule. Kapan ya gue dapet cowok yang kayak gitu?" ujar Vanya bermonolog di dalam mobilnya sambil menyetir ke arah pulang ke rumahnya.

Melihat macetnya jalanan Jakarta, sepertinya Vanya hanya bisa makan malam dan mandi lalu berangkat lagi ke night club tempat dia dan genk-nya akan clubbing malam ini.

Bab 3

Wanita muda di samping mobil Ricardo Esteban itu menatap pria ganteng itu begitu lama hingga Richie menoleh karena merasa diperhatikan.

'Hmm ... cantik sekali gadis itu,' batin Richie sembari membalas tatapan wanita muda yang mobilnya terjebak kemacetan jalanan kota Jakarta di sisi kiri mobilnya.

Richie tertawa ketika melihat wanita muda itu melengos karena terkejut ketika dia memergokinya sedang memelototi Richie. Imut sekali!

Klakson sialan dari belakang mobil gadis itu mengakhiri momen yang berkesan itu. Mereka pun harus berpisah. Richie sempat melambaikan tangannya ketika melewati mobil wanita muda itu, dia berharap mereka akan bertemu di lain kesempatan.

Richie memiliki jadwal kunjungan ke night club miliknya Dark City di Jakarta Pusat. Dia memiliki beberapa tempat hiburan malam yang bekerja sama dengan warga negara asli Indonesia, teman kuliahnya di LA dulu, Adrian Barata. Mereka berdua mengambil jurusan Bisnis International dan sama-sama memiliki impian untuk membuka usaha tempat hiburan malam yang berprospek bagus. Di Jakarta ada 8 night club yang mereka kelola berdua.

Adrian sama seperti anak crazy rich biasanya yang memiliki sifat playboy, di usianya yang ke 39 hampir 40 tahun, dia masih gemar gonta-ganti pacar dan belum mau menikah.

Sedangkan, Richie sudah pernah menikah sekali dan memiliki seorang putera berusia 5 tahun. Dia sebenarnya laki-laki berkeluarga yang normal, tetapi sayangnya mantan istrinya ketahuan berselingkuh ketika Richie sibuk mengurusi bisnisnya di Indonesia. Dengan segera Richie mengakhiri pernikahan mereka berdua dan memutuskan untuk meninggalkan LA untuk menetap di Jakarta, Indonesia.

Setelah 10 tahun tinggal di Indonesia, Richie sudah sangat lancar berbahasa Indonesia. Wajah bule bermata biru, tetapi lidah sudah tak ada bedanya dengan orang asli Indonesia. Bahkan, sudah bisa berlogat Betawi. Adrian selalu tertawa hingga perutnya kram bila sobatnya itu berbicara dengan logat Betawi.

Kisah cinta Richie tak pernah ada lagi pasca perceraian dramatisnya dengan Stela Dubois, mantan istrinya. Wanita itu meminta pembagian harta gono-gini serta uang pertanggungan yang besar untuk perawatan putera tunggal mereka, Devlin Esteban. Bagi Richie, semua wanita yang mendekatinya nampak sama, hanya ingin mengejar hartanya.

Wanita menjadi alat pemuas napsu sesaat saja bagi Richi, dia sudah jera main hati karena dompetnya akan teracak-acak. Jadi lebih baik bayar saja di muka dan kontan, selesai!

Dering lagu 'Woman' milik Doja Cat berbunyi dari ponselnya sementara dia masih menyetir mobil BMW hitamnya. Richie menghidupkan fitur bluetooth untuk menjawab panggilan itu dengan wireless earphone di telinganya.

"Halo. Ya, Adri, gimana?"

"Halo, Richie. Nanti malam jadi 'kan supervising ke Dark City?" Suara Adri dari panggilan telepon.

"Oke, gue pulang mandi dulu sebentar, Man. Club lagian buka jam 9 malam, nggak perlu terburu-buru," jawab Richie sambil memperhatikan lalu lintas di depannya.

"All right, sampai jumpa di Dark City ya nanti malam, Dude," balas Adri tak bertele-tele. Dia hanya ingin sekadar mengingatkan sobatnya itu.

"Siap, Bos!" sahut Richie lalu mengakhiri telepon mereka lalu melepas wireless earphone itu dari telinganya dan menaruhnya kembali di tempat khusus di dashboard mobilnya.

Akhirnya, dia sampai juga di apartment penthouse miliknya di lantai 20 Senopati Penthouse, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan setelah berjibaku dengan kemacetan lalu lintas kota Jakarta.

Alasan Richie memilih apartment itu karena dia senang dengan fasilitasnya yang lengkap dan berdekatan dengan pusat bisnis premium dan juga banyak mal besar seperti Plaza Senayan, Pasific Place, dan Plaza FX. Selain itu ada lift private bagi pemilik unit apartment penthouse.

Kadang dia merasa kesepian tinggal sendirian di apartment seluas 135 m2 itu. Namun, perceraiannya dulu masih menyisakan rasa trauma tersendiri di hati Richie. Mungkin suatu hari dia akan menemukan kembali perasaan cintanya yang telah lama hilang, tapi tidak sekarang.

Richie berjalan ke balkon unit apartmentnya, melihat senja dan hiruk pikuk kota Jakarta dari atas lantai 20. Dia menghidupkan rokoknya lalu mengisapnya dalam-dalam. Pikirannya teringat akan gadis cantik di samping mobilnya tadi. Wajah itu tipe yang mudah diingat karena istimewa, mirip selebriti. Apakah dia artis pendatang baru? pikir Richie penasaran.

Setelah menghabiskan sebatang rokok, Richie bergegas ke kamar mandi untuk mandi di bawah shower air dingin. Sekalipun badannya tidak bau, tetapi rasanya begitu gerah setelah beraktivitas seharian.

Seusai mandi dia bercermin di depan wastafel, rambut-rambut kecoklatan mulai tumbuh subur di wajahnya sekitar mulut dan rahangnya. Sebetulnya dia sekalipun brewokan juga masih terlihat ganteng seperti blue eyed devil, hanya saja Richie merasa tidak rapi maka dia memutuskan untuk mencukur wajahnya hingga licin. Kemudian memakai aftershave beraroma musk segar.

Dia mengeringkan rambutnya yang memiliki poni panjang dengan hairdryer hingga kering lalu memakai sedikit pomade untuk merapikan poni itu ke arah belakang, sisi lainnya sudah terpotong pendek.

Richie kemudian berjalan ke walk in closet untuk mencari pakaian bersih yang cocok dipakai ke club. Dia memilih setelan jas warna biru tua dengan kemeja sutra warna putih tanpa dasi. Dia pemilik club itu, jadi tidak perlu terlalu resmi yang penting rapi.

Sebelum memakai pakaiannya, Richie menyemprotkan parfum Summer Eternity CK favoritnya ke tubuhnya yang telanjang hanya berbalut handuk putih di pinggulnya. Tubuhnya itu begitu terpahat sempurna karena dia rajin workout di gym seminggu 3 kali. Teman kencannya tidak pernah ada yang tidak terpesona pada kesempurnaan tubuhnya ketika dia membuka pakaiannya di ranjang kecuali terlalu teler tentunya.

Richie mengenakan jam tangan Alexander Christie di pergelangan tangan kirinya lalu mengambil kunci mobil BMW hitamnya lagi sebelum meninggalkan penthouse apartment miliknya.

Hari sudah petang ketika Richie kembali menyetir mobilnya menuju ke club. Dia memilih untuk mampir ke MacDonald drivethru dan membeli BigMac dan french fries untuk makan malam ditemani segelas cola selama perjalanan ke club miliknya karena jalanan macet sekitar pukul 7 malam. Semua orang seolah pergi keluar rumah mencari makan malam atau sekadar hangout bersama teman-teman mereka.

Jadi dia makan malam sambil menunggu kemacetan lalu lintas itu terurai dengan sendiri. Richie sudah sangat beradaptasi sebagai warga kota Jakarta setelah 10 tahun tinggal di kota metropolitan itu.

Lagu Ariana Grande mengalun di dalam mobilnya, dia suka penyanyi muda itu. Lirik lagunya beberapa begitu nakal dan membuatnya tertawa sendiri ketika mendengarnya. Dia butuh seorang 'dangerous woman' juga untuk bermain bersamanya, belakangan hidupnya terlalu datar dan membosankan. Mungkin nanti dia akan berburu wanita yang menarik di club miliknya. Dia ingin yang nakal dan menantang gairahnya, seorang penari striptease mungkin?

Akhirnya, kemacetan lalu lintas itu pun terurai dan mobilnya bisa melaju dengan kecepatan stabil 70 km/jam menuju ke Jakarta Pusat.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED