Bab 1

Daniel Millard berjalan di parkiran hotel menuju mobil sportnya, pria berumur 27 tahun tersebut baru pulang dari acara pernikahan salah satu kolega bisnisnya yang mengakhiri masa lajang dengan happy ending dan mengawali kehidupan barunya dengan penuh kebahagian.

Daniel tersenyum kecil ketika mengingat ekspresi kolega bisnisnya sewaktu mengucap sumpah janji setia. Sang kolega bisnis benar-benar menunjukkan ekspresi bahwa ia adalah lelaki paling bahagia di dunia. 

Daniel tidak mengerti bagaimana seorang pria betah dan cukup hanya dengan satu orang wanita.

Itu sangat tidak masuk akal menurutnya, karena secara, hidup Daniel berbanding terbalik dengan kolega bisnisnya.

Daniel menekan tombol buka kunci, suara alarm mobil pun terdengar, sebuah mobil Lamborghini hitam terpampang dengan elegannya, ia masuk kedalam mobil dan melaju di kota Los Angeles dengan kecepatan tinggi.

Sepanjang perjalanan menuju apartemennya, Daniel bersenandung kecil mengikuti lagu di Pemutar Musik, sesekali menopang dagu ditangannya yang berada di stir mobil, ia terlihat sangat tampan dilihat dari sisi manapun, wajah perpaduan Inggris - Indonesia yang aristokrat dengan rahang tegas, mata biru laut yang dalam, hidung mancung dan gigi putih yang berjajar rapi, serta rambutnya yang bergaya Crew Cut with a Twist membuat Daniel menjadi makhluk adam paling sempurna, hanya wanita gila dan lesbian yang tidak menyukai lelaki ini.

Daniel tidak mempercayai sebuah idiom 'Nobody is Perfect' karena secara dia sendiri adalah makhluk tuhan paling tampan.

Lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, ia segera menghentikan laju mobilnya menunggu lampu hijau sambil bersenandung ria.

Tak berapa lama kemudian, lampu lalu lintas pun berubah hijau, Daniel menjalankan kembali mobilnya namun sesaat kemudian kembali menginjak pedal rem dengan mendadak, seorang wanita menyeberang tepat didepannya.

Daniel langsung keluar dari mobil dan menghampiri si wanita yang sedang terduduk di jalan dengan tatapan shock, gadis itu menatap aspal jalan dengan mata melebar, tidak mempercayai bahwa ia hampir saja mati.

"Hey, are you okay?" Daniel menatap sang gadis dengan tatapan cemas namun sang gadis masih setia menatap jalan aspal.

"Lady, you okay right?" Daniel mengibas tangannya di depan wajah sang gadis yang masih mematung. 

Para pengemudi dibelakang mobil Daniel meng-klakson beberapa kali dan berteriak 'Hey, What's wrong, men' dengan nada marah, Daniel mengguncang pelan tubuh gadis itu.

"Girl, are you alright?" Pengemudi mobil lainnya semakin keras meng-klakson di iringi dengan kata makian, membuat Daniel menjadi gusar.

"Hei!!" Daniel mengguncang keras tubuh sang gadis itu.

Gadis itu menoleh kepada Daniel lalu air mata yang mengenang di pelupuk matanya mengalir pelan, sedetik kemudian sang gadis menangis dengan suara histeris membuat Daniel terkejut dan gelagapan.

Daniel segera menarik lengan sang gadis berdiri dan memasukkan gadis itu ke dalam mobil, sekarang yang terpenting ia harus keluar dari kemacetan jalan yang disebabkan olehnya.

Daniel melajukan mobilnya ke jalan kecil yang tidak banyak dilalui oleh kendaraan maupun orang yang berjalan kaki, setelah menghentikan mobilnya, ia menatap gadis berambut panjang yang masih menangis dengan suara memekakkan telinga, maskara yang luntur membuat penampilan gadis itu tampak begitu mengerikan, apalagi dengan rambut panjangnya yang berantakan, sesekali gadis itu menghapus airmata di pipi dengan asal dan mengelap ingus dengan lengan bajunya.

Daniel mengernyit jijik menatap sang gadis lalu menawarkan sekotak tissue yang berada di atas dashboard mobilnya.

"Thank you, hiks" Sang gadis berterima kasih dengan suara serak yang sesenggukan. 

Gadis berkulit putih langsat tersebut masih melanjutkan tangisannya, Daniel menghela napas dan diam membiarkan sang gadis untuk menangis sepuas hati, bagaimana pun ini adalah salahnya walaupun tidak sepenuhnya menjadi salahnya karena si gadis lah yang tidak melihat bahwa lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.

Setelah beberapa lama, sang gadis akhirnya menghentikan tangisannya, hanya suara isak yang tertahan karena lama menangis yang terdengar dari bibir kecilnya.

"You calmed down?" Daniel sang gadis yang dibalas dengan anggukan. 

"Please get off of my car" Daniel mengusir sang gadis dengan suara lembut. 

Kata-kata Daniel malah membuat gadis itu kembali menangis sesenggukan, ekspresinya tampak begitu menderita.

"Why you're crying again?" Daniel menatap tidak mengerti, ia bahkan tidak membentak gadis itu.

"Hari ini adalah hari paling sial dalam hidupku" bukannya menjawab, gadis itu malah mencurahkan isi hatinya.,

Gadis Indonesia rupanya!.

"Aku tidak peduli dengan kisah hidupmu, bisakah kau keluar dari mobilku?" Daniel juga ikut berbahasa dalam bahasa ibunya.

Sang gadis mengernyitkan keningnya menahan tangis seraya menatap harap kepada Daniel yang menatap datar kearahnya. 

"Aku akan bunuh diri jika tidak mengeluarkan segala unek-unek ku" Sang gadis mengancam masih dengan raut wajahnya menahan tangis, membuat bibir Daniel berdenyut. Ia menjadi speechless. 

Daniel menghela napas panjang lalu menatap datar sang gadis dan  mengangkat tangan kirinya mempersilahkannya untuk bercerita.

"Kau tau, beberapa hari ini aku terus mengalami kesialan" Sang gadis memulai curhatnya.

"What do I care ?" Daniel memutar bola matanya. Ia belum pernah bertemu dengan gadis mengerikan seperti ini. 

"Beberapa hari yang lalu aku baru putus dengan pacarku, dia memutuskan ku hanya karena aku tidak mau berhubungan intim dengannya, apa kau percaya alasan tidak masuk akal itu?" Sang gadis mengomel sangat antusias, bola matanya yang membesar mengekspresikan perasaan yang ia rasakan. 

"Aku juga akan melakukan hal yang sama jika jadi pacarmu" Daniel berkomentar dengan suara malas.

"Terus kemarin ibu pemilik kontrakan mengusirku, dia bilang kalau kontrakan itu sudah dia jual kepada orang lain tanpa memberitahuku, aku harus tinggal dimana?" Sang gadis melanjutkan ceritanya tidak memperdulikan komentar Daniel. 

"Kau bisa mencari kontrakan lain bukan?" jawab Daniel dengan pertanyaan.

Apa yang salah denganmu? Begitu saja harus curhat padaku?!. 

"Aku tidak punya banyak uang, hanya kontrakan itu yang bisa aku sewa" keluh sang gadis kembali.

Daniel menghela napas panjang kembali. Baru kali ini ia berjumpa dengan gadis yang tidak memiliki rasa malu atau pun sifat menjaga image darinya, bahkan gadis itu tidak memperdulikan dirinya sendiri.

"Dan hari ini, aku di pecat dari pekerjaan ku hanya karena mereka ingin meminimalkan biaya pengeluaran perusahaan mereka, aku benar-benar sial" Sang melanjutkan isak tangisnya.

"Hanya itu saja yang ingin kau ceritakan?" Daniel menatap sang gadis yang dibalas dengan anggukan.

"Kau sudah selesai menangis dan juga sudah menyelesaikan ceritamu, kau tidak terluka kan?" Tanya Daniel dengan suara gusar yang sengaja ia samarkan.

Sang gadis itu mengangguk kembali. 

Daniel tersenyum lebar lalu mendekatkan tubuh kearah sang gadis, membukakan pintu mobil lalu menjauhkan kembali badannya dan tersenyum lebar kearah sang gadis.

"Get.off.of.my.car" Daniel tersenyum sembari menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Sang gadis menatap sedih kepada Daniel yang dibalas dengan tatapan datar, tidak terpengaruh oleh tatapan memelas Sang gadis, sang gadis itu pun keluar dari mobil Daniel. Tanpa kata Daniel melajukan mobilnya meninggalkan gadis itu di pinggir jalan.

Bab 2

Anya terbangun dari tidurnya, lalu duduk diatas matras di dalam tendanya, tubuhnya masih di balut oleh Sleeping bag berwarna hitam, matanya mengerjap pelan beberapa kali mencoba untuk menghilangkan kantuknya.

Anya melirik jam weker kecil yang tergeletak di sampingnya, sudah pukul tujuh pagi, segera Anya membuka resleting sleeping bag lalu melangkah keluar dari tenda sambil menggerakkan badannya untuk mengendurkan otot-ototnya yang kaku karena tidur.

Anya berada diatas gedung bar, tempatnya bekerja pada malam hari. Setelah pengusiran secara halus oleh ibu pemilik kontrakan, ia memohon kepada manajer yang mengelola bar L'Espere untuk membiarkannya tidur di gedung ini sampai ia menemukan tempat tinggal barunya.

Walaupun dengan nada gusar, James - sang manajer - akhirnya membiarkan gadis itu untuk tinggal namun diatap gedung bar, kamar-kamar di gedung tersebut hanya di peruntukkan untuk pelanggan yang ingin menghabiskan one night stand atau pun pelanggan yang mabuk, Anya langsung menyetujui tawaran tersebut, asalkan ia punya tempat tinggal, dimana pun tidak jadi masalah baginya.

&&&

Pekerjaan pertamanya adalah menjadi kasir di sebuah minimarket di kota Downtown Los Angeles, tidak berada jauh dari gedung L'Espere tempat ia tinggal sekarang membuat gadis itu langsung menawarkan diri ketika melihat selembaran lowongan kerja yang tertempel di dinding minimarket.

Anya melayani pelanggan dengan senyuman lebar, menghitung belajaan dan mengatakan jumlah total yang harus dibayar lalu mengucapkan terima kasih, setelah pelanggan keluar dari toko.

Anya menarik rok pendeknya yang berwarna hijau muda yang merupakan seragam dari minimarket itu, ia begitu risih dengan rok yang tidak cukup bahan itu, walaupun sia sia ia tetap menarik rok pendeknya, untuk apa memakai rok pendek sedangkan bagian tubuh bawahnya tertutup oleh meja kasir.

Ia menatap sang manajer minimarket dengan gusar, bel pintu berbunyi menandakan seorang pelanggan yang masuk ingin berbelanja, Anya langsung mengembangkan senyum dan mengatakan 'selamat datang' kepada sang pelanggan. 

&&&

Anya menghela napas panjang, sudah waktunya makan siang, perutnya keroncongan karena belum ada makanan yang masuk ke perutnya sejak dari pagi hari, ia harus sehemat mungkin dalam membelanjakan uangnya, karena tidak ada orang yang bisa ia harapkan jika sesuatu terjadi padanya, jadi lapar yang masih mampu ia tahan bukan menjadi masalah besar baginya.

Ia melihat jam tangan yang menunjukkan pukul satu siang, waktunya untuk melanjutkan kembali kerja, Anya mengambil dua shift langsung pada minimarket itu, gaji yang ditawarkan lumayan menggiurkan dari pada kerja di tempat lain, walaupun harus melayani puluhan pelanggan yang seakan tidak ada habisnya. Ia tetap tersenyum ceria melayani pelanggan-pelanggan yang masuk ke dalam toko tersebut. Hari pun menjelang sore, sudah waktunya bar L'Espere tempat ia tinggal untuk sementara di buka. 

Anya langsung mengganti seragam tokonya dengan shirt biru langit dan jeans silver gelap yang sudah mulai memudar warnanya lalu segera melenggang keluar minimarket. 

&&&

Malam minggu membuat pengunjung bar lebih banyak dari pada hari biasanya, pekerjaan Anya adalah membersihkan toilet, gadis itu memakai kemeja putih dan celana hitam dan rambut di kucir ke belakang, di letaknya sebuah handuk kecil di bahu kirinya, sedangkan tangannya memegang perlengkapan bersih-bersih, kain pel dan ember kecil berisi air besih lalu mulai mengelap lantai toilet yang basah dan kotor oleh jejak sepatu basah orang orang yang berlalu lalang di sekitar toilet.

Anya masih mengelap lantai tersebut, orang orang yang berjalan di hadapannya tidak memperdulikan bahwa gadis itu baru saja mengepel lantai tersebut, di hela napasnya dengan lelah, ia menegakkan tubuhnya kemudian mengelap keringat di keningnya sejenak lalu mulai mengepel kembali lantai toilet bar, ketika melangkah kakinya untuk mengepel di lantai yang lain, Anya tidak sengaja menendang ember yang berisi air kotor dan sialnya air kotor tersebut mengenai sebuah sepatu coklat mengkilap milik seorang pemuda yang memakai setelan jas tanpa dasi yang terkejut melihat Anya, pemuda tersebut adalah Daniel. 

"Maafkan aku" ujar Anya sambil mengambil handuk kecil di bahunya kemudian mencoba mengelap sepatu tersebut. 

"Maaf, maaf. Kamu pikir berapa harga sepatu itu?" tanya seorang wanita yang berdandan bold disamping pria tersebut dengan nada bentakan.

"Aku minta maaf, aku tidak sengaja" ujar Anya membungkukkan badannya dan menatap resah ke arah perempuan tersebut.

"Apa dengan minta maaf, sepatu pacarku bisa kamu ganti?" Bentak perempuan tersebut.

"Its okay" ujar Daniel menengahi. 

"Tapi kan, sepatu kamu mahal banget darling" bela si perempuan.

"Aku tidak apa apa kok Chistine, kamu duluan aja. Aku harus membersihkan sepatuku dulu" ujar Daniel sambil tersenyum lembut.

"Okay, tapi jangan lama lama ya" ujar Chistine lalu mengecup pelan bibir Daniel singkat lalu mencibir Anya yang masih menundukkan kepalanya.

"Tsk, Siapa yang dia sebut pacar. Huh! Aku tidak percaya hanya karena aku tidur denganya sekali dia langsung berpikir aku pacarnya, unbelievable" ujar Daniel setelah Christine menghilang di belokan koridor bar.

Daniel menatap Anya yang masih tertunduk dengan menggigit bibirnya menahan tawa. Daniel menghela napas panjang.

"Kenapa kau tidak hati hati sih?" Tanya Daniel memarahi Anya.

"Maafkan aku" ucap Anya sambil lebih merendahkan badannya.

"Ya sudah, aku marah marah juga tidak akan membuat sepatuku menjadi kering" ujar Daniel mencoba mengerti.

"Kalau begitu saya permisi dulu" ujar Anya lalu membalikkan badannya.

"Hey, kau tidak mengingatku?" ujar Daniel dalam bahasa Indonesia.

Anya menoleh dengan terkejut ke arah Daniel yang bisa berbicara dengan bahasa ibunya.

"Kau orang Indonesia?" tanya Anya memastikan.

Daniel menganggukkan kepalanya dengan heran, bukankah seminggu yang lalu ketika pertama kali mereka bertemu ia juga berbahasa Indonesia.

"Apa kau mengenalku?" tanya Anya kembali.

Daniel melebarkan matanya akan pertanyaan Anya. Apa apaan, bagaimana bisa gadis itu melupakan wajah tampannya.

"Kau tidak mengingatku?" tanya Daniel

Anya berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya.

"What the... hey, kita bertemu seminggu yang lalu waktu kau hampir tertabrak mobilku" jelas Daniel mencoba mengingatkan Anya.

Anya membuka mulutnya sebentar seperti mengingat sesuatu namun kembali membungkam mulutnya, ia masih tidak mengingat pertemuannya dengan pemuda tersebut. Daniel semakin terperangah melihat reaksi dari gadis di depannya.

"Berapa IQ mu sampai kau tidak mengingat kejadian yang baru terjadi seminggu yang lalu?" tanya Daniel tidak percaya.

Anya menatap datar ke arah Daniel, Mengapa membawa IQ otaknya pada masalah sepele seperti ini.

"Hari itu kau juga curhat tentang betapa sialnya dirimu sambil menangis di mobilku" jelas Daniel mencoba mengingatkan Anya kembali.

"Ah, kau si pendengar curhatku" ujar Anya sambil menunjukkan Daniel sambil memandang takjub.

"Tsk.. mengapa kau malah mengingat bagian yang tidak penting" ujar Daniel tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis di depannya.

Anya hanya memanyunkan bibirnya, kesal dengan perkataan Daniel. Aku tidak boleh membuangkan waktu dengan orang aneh ini.

"Aku minta maaf atas sepatumu, permisi" ujar Anya pamit undur diri, diangkat ember bertangkai tersebut lalu berjalan masuk ke dalam toilet, suara keroncongan perutnya terdengar nyaring di koridor menuju toilet tersebut. Anya memeluk perutnya dengan tangannya yang kosong.

"Pft, kau mempunyai perut yang sama tidak tahu malunya sepertimu" ujar Daniel terkekeh.

Anya menoleh ke arah Daniel dengan gusar.

"Ini karena aku belum makan dari ...". suara keroncongan dari perut Anya kembali terdengar

"Pagi" gumam Anya melanjutkan kata kata yang terputus.

Daniel membelalakkan matanya ke arah Anya lalu melangkah menghampiri gadis itu.

"You moron!!" bentak Daniel tanpa bisa ia cegah. 

Laki laki itu sangat mencintai kesehatan, ia merawat tubuhnya dengan baik, melakukan cek kesehatan dengan rutin bahkan mempunyai dokter pribadi, ia tidak peduli jika harus merogoh dalam kantongnya hanya untuk kesehatan. 

Oleh karena itu, Daniel terperangah tidak percaya ketika menjumpai gadis yang bisa bertahan tidak makan selama hampir 24 jam.

Anya melirik takut ke arah Daniel yang membentaknya dengan suara tinggi. Kenapa malah membentak ku?.

"Ikut aku" ujar Daniel sambil mencengkeram lengan Anya.

"Aku masih bekerja, kau ingin membawaku kemana?" tanya Anya sambil mencoba melepaskan cengkeraman Daniel.

"Biar aku yang berbicara dengan James, kau hanya perlu mengikuti ku" ujar Daniel.

Daniel tidak mengerti mengapa ia menjadi marah ketika mendengar bahwa gadis yang pernah ia temui seminggu lalu tidak makan hampir sehari dan menyeret gadis itu untuk ikut makan bersamanya, yang jelas ia tidak bisa meninggalkan gadis itu begitu saja.

Bab 3

Mereka keluar dari gedung bar, meninggalkan Christine yang berteriak memanggil Daniel yang tidak memperdulikan akan teriakan tersebut, Daniel dan Anya masuk ke dalam mobil Lambhorgini hitamnya lalu mobil melaju dengan kecepatan sedang di jalan US State Route 101 menuju ke Restoran Fig & Olive yang berada di jalan 8490 Melrose Pl, West Hollywood.

"Mengapa kita ke sini?" tanya Anya menatap horor ke arah restoran yang terkenal akan kemegahan dan mahal tersebut.

"Tentu saja untuk makan" jawab Daniel sambil menggenggam tangan Anya dan menarik gadis itu untuk ikut dengannya.

"Kau gila!!, Aku tidak memakai baju yang layak untuk masuk ke dalam restoran ini" kilah Anya sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Daniel di tangannya. 

Daniel berdecak pelan lalu membuka jas hitamnya dan melemparkan jas tersebut ke arah Anya. 

"Pakai itu" perintah Daniel. 

Anya menatap tajam ke arah Daniel, namun karena perutnya mulai membelit yang disebabkan oleh rasa lapar membuat Anya memakai jas yang kebesaran di tubuhnya yang mungil sambil Menggereyotkan bibirnya mencibir dalam hati.

Daniel menatap sejenak ke arah Anya lalu menarik ikatan rambut panjang gadis itu, membuat rambut Anya jadi tergerai melambai lambai karena terkena angin malam Los Angeles kemudian menarik Anya untuk masuk ke dalam Restoran tersebut.

Dekorasi restoran bergaya minimalis namun tetap sangat elegan dengan lampu lampu bergantung rapi yang di tutupi oleh keranjang, tampak mewah dan di sempurnakan oleh sebuah pohon yang dililit lampu kecil disekelilingnya yang berada di tengah ruang restoran tersebut, sang kepala pelayan langsung menyambut kedatangan mereka dengan tersenyum ramah, menuntut mereka menuju salah satu meja lalu menarik kursi untuk di duduki oleh Anya dan Daniel.

Seorang pelayan datang lalu menyerahkan buku menu dan menjelaskan menu spesial mereka minggu ini.

"Aku pesan Riviera Salmon dan Wine Dulcetto" ujar Daniel sambil tersenyum pelan.

"Aku juga sama" ujar Anya sambil mengernyit tidak mengerti dengan menu yang Daniel pesan.

Setelah mencatat pesanan sang pelayan pamit undur diri dan berjalan menjauh dari Anya dan Daniel. Anya menatap menyelidik ke arah Daniel sejenak.

"Apa?" tanya Daniel terganggu dengan tatapan curiga gadis itu. 

"Kenapa kau begitu baik kepadaku? Kita bahkan baru bertemu seminggu yang lalu" Anya menyipit matanya ke arahnya Daniel. Tidak ada orang yang baik tanpa maksud tertentu di dunia ini.

"Anggap saja ini sumbangsih ku kepada gadis miskin sepertimu" Jawab Daniel dengan santai.

Anya mencibir pelan. "Aku tidak butuh rasa kasihanmu"

"Apa?!" tanya Daniel yang tidak mendengar dengan jelas.

"Aku bilang aku tidak butuh rasa kasihan mu" ujar Anya kembali dengan suara yang lebih keras.

"Apa maksudmu kau tidak butuh rasa kasihan ku? Kau hampir mati karena tidak makan selama satu hari. Seharusnya kau berteri..."

Suara bentakan pelan Daniel terhenti ketika sang pelayan kembali menghampiri mereka sambil membawa sebuah meja dorong yang terdapat pesanan Daniel dan Anya diatasnya kemudian meletakkan piring yang berisi salmon di panggang dengan saus mayones, lalu menuangkan wine Dulcetto berwarna merah di gelas Daniel dan Anya lalu mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan.

Anya menggigit bibirnya menatap salmon di piringnya dengan selera lalu mengambil garpu dan pisau dengan cepat dan mulai memotong motong kecil salmon tersebut kemudian langsung memakan potongan salmon tersebut, saus mayones langsung melebur di dalam mulut Anya.

"Cih, tidak butuh rasa kasihan apanya? Kau bahkan langsung memakannya tanpa meminta izinku terlebih dahulu" ujar Daniel mencibir, Anya tidak memperdulikan cibiran tersebut, yang penting kini ia bisa mengganjal perut berisiknya dengan salmon panggang yang sangat enak.

"Nama kamu siapa?" Tanya Daniel yang baru mengingat bahwa ia tidak tahu nama gadis itu.

"Anya Syakira" jawab Anya sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.

"Telan dulu makananmu baru berbicara, mengapa kau begitu menjijikkan?" tanya Daniel sambil mengernyit tidak senang ke arah Anya.

Sang gadis hanya berdecak sejenak lalu kembali menyantap salmon tersebut lalu meneguk air putih dengan cepat yang malah membuatnya terdesak oleh minumannya, Daniel yang melihat Anya yang ter batuk-batuk mengernyit jijik lalu menyodorkan sapu tangannya ke arah Anya yang langsung di sambut dengan cepat lalu membersihkan mulut sejenak. 

"Namaku Daniel Millard" ucap Daniel memperkenalkan dirinya sendiri.

Anya kembali menyantap lahap makanannya tanpa mau berbicara dengan Daniel, rasa laparnya membuat gadis itu sangat memfokuskan matanya ke arah piring di depannya, sedangkan Daniel melempar pelan garpu dan pisau di atas piring dengan kesal, melihat cara makan Anya yang tidak mempunyai etika membuat mood makannya menghilang entah kemana.

&&&

Anya keluar dari tenda camping sambil menggerakkan badannya mencoba melemaskan otot kakunya karena tidur di dalam tenda yang tidak nyaman tersebut. Senyumannya mengembang ketika menatap ke arah mentari yang bersinar dengan cerah, Anya memejamkan matanya, menghirup udara pagi yang segar dalam dalam dan mengeluarkannya dengan cepat.

Terima kasih karena masih memberikan hidup kepadaku, semoga hari ini akan jadi hari yang menyenangkan, doa rutin gadis itu.

Kening Anya berkerut ketika mengingat kejadian semalam, ia tidak menyangka bahwa ia bisa makan malam di tempat mewah seperti restoran Fig & Olive itu, ini seperti mimpi baginya. Sebuah mimpi di dunia nyata, seumur hidup Anya bahkan tidak pernah membayangkan bahwa dirinya bisa masuk ke dalam restoran tersebut, namun yang lebih membingungkan ketika ia pulang ke L'Espere, sang manajer hanya tersenyum ke arahnya, mengatakan bahwa Daniel sudah menjelaskan mengapa ia tidak bekerja tadi malam, sepertinya laki laki itu cukup berpengaruh di L'Espere sampai bisa membuat James mengerti bahkan mengatakan tidak apa apa kepadanya. 

Ia mengangkat bahunya, setidaknya ia masih bekerja di bar ini, jadi ia tidak peduli.

Anya beranjak turun ke lantai bawah sambil membawakan peralatan mandinya, hari ini gadis itu akan kembali menjalani rutinitasnya yang padat.

&&&

"Selamat datang" ujar Anya sambil tersenyum lebar menyambut seorang pelanggan laki laki.

"Aku ingin sebungkus rokok itu" ujar pelanggan laki laki yang berpenampilan seperti preman jalanan sambil menunjukkan sebuah bungkusan rokok di rak dibelakang Anya.

Anya membalikkan badannya, membuka kaca rak kemudian mengambil sebuah bungkus rokok, sang pelanggan bergerak maju dan menyentuh punggung Anya dengan gerakan menurun membuat Anya tersentak dan membelalakkan matanya. 

Endure it, endure it, ucap Anya dalam hatinya sambil merapat giginya menahan emosinya, sang pelanggan laki laki itu hanya terkekeh senang melihat reaksi dari gadis di depannya.

Anya kembali melanjutkan aktivitasnya mengambil satu bungkus rokok dan menyerahkan rokok tersebut ke arah sang pelanggan dengan senyuman yang sarat emosi tersebut, mengatakan harga dari sebungkus rokok tersebut, sambil menyeringai sang pelanggan memberikan beberapa lembar dollar kemudian mengedipkan matanya ke arah Anya sebelum melangkah keluar supermarket. 

Anya menghela napasnya sambil menatap tajam ke arah pintu supermarket, ia menggigit bibirnya berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan emosinya yang membara.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED