Dania Fransisca di usianya yang ke 21 tahun telah menyelesaikan pendidikannya di Inggris. Gadis berparas cantik dengan rambut panjangnya itu kini akan kembali ke Kota asalnya. Kota di mana dia dilahirkan dan di kota itu juga dia harus kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Perpisahan kedua orang tuanya membuatnya hidup seorang diri. Tidak ada di antara keduanya yang mau membawa Dania ikut bersama dengan mereka.
Seperti sampah yang terinjak dan terbuang itulah yang dirasakan Dania saat hari kelahirannya yang ke tujuh tahun. Semua bagai mimpi buruk yang menghancurkan jiwa dan raganya. Hingga pada malam di mana dia tidur sendirian tanpa seorang pun dari orang tuanya yang mempedulikkannya. Mereka pergi begitu saja . Seorang perempuan dengan mantel tuanya datang merengkuh Dania ke dalam pelukannya. Bagai cahaya malaikat itu datang memberikannya secercah harapan untuk hidupnya. Malaikat itu bernama Bella Wijaya adik bungsu dari Frans Wijaya -ayahnya Dania.
Bella Wijaya gadis berparas cantik dan menawan bekerja di dunia hiburan sebagai aktris pembantu. Dia harus rela banting tulang demi keponakannya yang bernama Dania. Rasa bersalahnya pada keponakannya itu harus di tanggungnya. Bagaimanapun juga perpisahan Ayahnya Dania adalah murni kesalahannya. Dia menebusnya dengan segala cara yang dia bisa.
***
“Tante, aku sudah tiba di bandara,” ujarnya sambil melangkah meninggalkan burung besi yang telah membawanya kembali ke negaranya.
“Hmm ... tante sedang bekerja , kamu pakai taksi saja . Aku akan mengirimkan alamat melalui pesan singkat.” Bella memberitahukan keadaannya yang sedang sangat sibuk sekarang . Ponselnya pun langsung dia matikan setelah menerima telepon dari keponakan tersayang nya itu.
Dania menghela nafas beratnya. Sudah lama dia meninggalkan tempat yang memberinya goresan luka yang menganga. Dania melangkah dan bertanya pada orang yang ditemuinya di bandara untuk mencari tempat yang biasa ada taksi dan sejenisnya.
Sebuah pagar bercat warna putih menjulang tinggi dua kali lipat dari tinggi tubuhnya. Dania terperangah dengan apa yang di lihatnya. “Apa Tante tidak salah mengirimkan alamat.” gumamnya.
Yang benar saja, dulu mereka tinggal hanya di sebuah rumah kontrakan yang lebarnya tidak lebih panjang dari pagar yang ada di hadapannya sekarang. Dania membaca kembali alamat yang dikirimkan oleh tantenya dan menyandingkan dengan sebuah tulisan yang ada di samping kanan pagar rumah mewah tersebut. Jalannya benar, nomor rumahnya pun benar. Dania melangkah mendekat ke sisi pagar yang dia lihat ada sebuah pos jaga di dalam tidak jauh posisinya dari pagar itu sendiri.
“Permisi Pak, Apa ini alamat yang benar?” tanyanya pada seorang penjaga keamanan yang mendekat kearahnya dengan posisi Dania masih berada di luar pagar .
Penjaga keamanan yang memakai seragam khasnya itu menatap ke layar ponsel Dania. “Benar, ada perlu apa?”
Dania menjelaskan kepada penjaga keamanan kalau dirinya adalah keponakan Selvia namun penjaga keamanan itu tentu tidak begitu saja percaya. Dia mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan menghubungi seseorang yang di panggilnya dengan sebutan ‘Tuan’.
“Maaf nona, Tuan sedang ada di rumah jadi Anda tidak diperbolehkan untuk masuk.” ucapnya dengan tidak enak hati.
“Tapi ,tante saya meminta saya ke sini.” Protes Dania dengan rasa tidak percayanya.
Dania berulang kali memanggil penjaga keamanan yang meninggalkannya kembali ke pos jaganya, namun tidak juga penjaga keamanan itu mengabaikannya . Dania prustasi dan menelepon kembali tantenya namun ponselnya tidak dapat di hubungi.
Dania berjalan meninggalkan pagar besi yang tinggi itu dan mencari tempat berteduh di antara dedaunan pohon yang ada di pinggir jalan. Panas terik membuatnya dehidrasi dan ingin membeli minuman pelepas dahaga. Dania berjalan sambil menyeret kopernya dengan tangan kirinya. Matanya menatap ke sana-kemari mencari sebuah mini market. Namun yang di dapatinya hanya pepohonan di tepi jalan.
Dania berjalan cukup jauh namun belum juga dapat keluar, di sisi jalan masih terlihat pagar beton rumah besar tersebut.
Rumah yang sangat luas, hingga Dania harus terduduk di sisi jalan belum juga dinding pembatas rumah tantenya berakhir. Jalanan sepi tanpa sebuah kendaraan satu pun yang melintas . Rumah yang hanya satu buah itu terletak jauh dari pemukiman lainnya.
Suara mobil terdengar dari arah belakang, Dania sentak langsung bereaksi dan berencana menghadang mobil tersebut di tengah jalan.
Cttttt..
Mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu harus berhenti mendadak ketika seorang perempuan membentangkan kedua tangannya di tengah – tengah jalan.
Dania menutup rapat kedua netranya, tidak percaya aksi pertamanya langsung membuat mobil yang melaju berhenti mendadak di depannya.
Tanpa menunggu, Dania berlari menuju ke sisi bagian pengemudi dan mengetuk kaca mobil hingga pria yang di dalamnya menggeser kacanya ke bawah.
“Maaf tuan ,apa aku bisa ikut menumpang ke Hotel terdekat?” tanya Dania dengan penuh harap. Kakinya sudah tidak dapat lagi di ajak kerja sama.
Pria itu masih dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, tanpa menghadap ke arahnya dia mempersilakan Diana masuk ke mobilnya. “Masuk!”
Dania berlari mengambil koper besarnya yang ada di tepi jalan dan membawanya ke dalam mobil bersama dirinya di kursi penumpang.
“Terima kasih Tuan, atas tumpangannya.”
Pria yang masih dengan mode senyapnya melajukan mobilnya hingga keluar dari jalan rumah mewah. Pria yang mengemudikan mobil itu terlihat sangat tampan dengan bulu halus menghias di sekitar rahangnya membuatnya semakin gagah. Tidak dipungkiri paras tampan pria itu begitu mempesona dan berkarisma. Dania pun mengakui itu, namun dia tidak peduli. Yang terpenting baginya dapat keluar dari jalanan yang sepi itu. Dia perlu istirahat sekarang, raganya sudah begitu penat karena menempuh perjalanan panjang.
Mobil yang di tumpanginya berhenti di sebuah gedung . Dania membuka jendela kaca dan melihat ke arah gedung tempatnya berhenti sekarang. Bukan sebuah hotel yang di lihatnya tapi lebih seperti gedung apartemen.
“Tuan terima kasih telah mengantar saya.” Dania menundukkan separuh tubuh dan juga kepalanya. Sangat berterima kasih karena telah di berikan tumpangan ,walau tidak tahu dia berada di mana sekarang yang penting baginya dia sudah keluar dari rumah milik tantenya .
Dania mencoba membuka pintu mobil namun masih terkunci. “Maaf Tuan , apa saya sudah boleh keluar?”. Dania sangat bingung dengan pria yang dengan mode senyap itu. “mungkin saja pria itu ingin singgah sebentar disini.” Benaknya ragu.
“Apartemen nomor 25.”
Pria senyap itu menyerahkan sebuah kunci yang berbentuk kartu ke hadapannya. Dania sangat bingung dan juga takut kalau pria yang duduk di kursi pengemudi itu nanti akan melakukan sesuatu kepadanya.
“Ambil!” ucap pria itu dengan nada tinggi.
Dania dengan gemetar mengambil kartu dari tangan pria itu. Wajahnya memucat.
Gedung apartemen yang tinggi dan terlihat mewah dari luar. Dania pun belum sempat bertanya apa pun kepada pria yang mengantarkannya hingga kesini . Tanpa kecurigaan Dania masuk dan membuka pintu apartement yang didepannya tercetak angka 25.
Dania kegirangan ketika melihat isi apartement yang lengkap dan dengan view laut terlihat dari dinding kaca. Batinnya masih bertanya dengan penuh keraguan.
Seluas mata memandang, kota yang menjadi saksi hadirnya dirinya ke dunia. Dania duduk di sebuah kursi dengan menghadap ke dinding kaca di hadapannya. Maniknya yang indah kini berair mengingat kesakitan hati yang di dapatnya tujuh tahun yang lalu dan hingga sekarang tidak terdengar sedikit pun dari kedua orang tuanya. Hatinya rintih batinnya lirih ketika kenangan buruk itu kembali terngiang di ingatannya.
Dania yang kini sudah tumbuh jadi gadis dewasa dengan tubuhnya yang tidak kalah dari model itu kini mengambil ponselnya dan menelepon tantenya lagi. Dia tidak ingin malam pertamanya sendirian.
“ Hallo Tante, malam ini ke apartement kan?” tanyanya.
“Nanti malam tante pulang ke rumah , kamu kalau mau pulang ke rumah utama ya!” jawab Bella dengan tergesa. Dia masih sangat sibuk sekarang.
“Tapi Tan ,bagaimana kalau tidak di bukakan pagar lagi?” Dania bertanya balik.
“Nanti Tante telepon mang Manto biar membukakan kamu pagar..”
“Baiklah kalau begitu.”
Bersama dengan tenggelamnya sang cahaya Dania dengan penuh semangat kembali menuju rumah besar dan mewah yang didatanginya tadi siang. Namun kali ini dia dengan mudah masuk ke dalam tanpa harus menunggu penjaga keamanan itu menghubungi tuannya.
Sebuah rumah besar dengan didominasi warna putih di seluruh bagian rumah tersebut membuat kesan mewah yang sangat elegan. Seorang wanita paruh baya datang menghampirinya.
“Ini Non Dania ya?” tanyanya dengan sopan.
“Iya Bu, Tante Bella sudah datang belum?” tanya Dania pada wanita paruh baya itu.
“Oh.. nyonya Bella, belum datang Non tapi kata nyonya Non Dania masuk ke kamar saja dulu.”
Wanita itu memperkenalkan diri kalau dirinya adalah pelayan rumah tangga di rumah itu. Namanya Susi panggilannya Bi Susi. Dia membawa Dania ke lantai tiga dengan menggunakan lift.
Sejauh mata memandang hanya ada perabotan mewah di setiap sudut ruangan membuat Dania semakin terperangah. Tantenya yang dulu hanya seorang aktris pembantu kini menjadi seorang konglomerat. Namun tidak sedikit pun Dania berpikir buruk tentang tantenya itu. Dania tahu kalau tantenya menikah dengan seorang petinggi perusahaan walau Dania tidak menyangka kalau pria yang di nikahi tantenya itu sekaya ini.
Dia memasuki sebuah kamar yang sudah di siapkan oleh Bi Susi sebelumnya. Wooow kamar yang sangat luas dengan perabotan yang lengkap dan juga bernuansa warna kuning warna favorite Dania.
Tubuhnya begitu lelah setelah perjalanan yang panjang dan juga harus bolak balik ke rumah mewah ini. Direbahkannya tubuhnya yang rintih di kasur empuk dan juga besar. Mata lelahnya langsung menutup rapat tidak lama setelah merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Dia sudah tidak peduli dengan kopernya yang belum dibukanya sama sekali. Dania tidur hanya dengan menggunakan piama mandi yang ada tersedia di kamar mandi.
“Lepaskan.!” Dania meronta meminta pria yang sedang memeluk erat tubuhnya melepaskannya.
Pria yang sama dengan yang mengantarnya ke apartement. Pria itu masih dengan mode senyapnya tanpa bicara sepatah kata pun.
“Aku bilang lepaskan atau aku adukan kamu kepada pemilik rumah ini!” ancam Dania garang. Tangannya masih berusaha melepaskan pelukan pria itu .
“Siapa yang menyuruhmu ada disini.” Suara yang terdengar berat dan menakutkan.
“A-aku keponakan pemilik rumah ini . Tidak ada urusan denganmu kenapa aku ada dirumah ini.” jelas Dania dengan tergagap.
Pria yang bertubuh kekar dengan paras tampan nya itu bernama Alex Sadewa suami dari Bella Wijaya. Pria berumur 30 tahun itu sangat terganggu dengan perempuan yang ada di hadapannya kini. Perempuan yang merentangkan tangannya di jalanan dan membuatnya harus menghentikan mobilnya mendadak.
Entah masuk dari mana perempuan ini ke rumahnya. Alex sudah memberitahu penjaga keamanan untuk tidak membiarkan orang masuk dengan sembarangan tanpa izinnya. Perempuan itu kini hanya memakai piama mandi di hadapannya. Pahanya terekspos ,membuat yang melihat menginginkannya.
“Sial!” gumamnya dibenaknya. Alex tidak menyangka dirinya begitu terperdaya dengan pesona perempuan yang meronta di bawah tubuhnya. Alex yang di kenal dingin dan tak tersentuh wanita itu harus mengutuk dirinya sendiri.
“ Lepaskan !” Dania masih dengan sikap memberontaknya. Dia mencoba terus terusan mendorong tubuh yang kini ada di atas tubuhnya.
Alex bangkit dan membenarkan pakaiannya, mengibas -mengibas jas nya yang tidak berdebu itu seakan baru saja menyentuh barang kotor.
“Bukankah aku telah mengantarmu ke apartement, sekarang kenapa kamu ada disini.” ucap Alex dengan nada tinggi.
Alex baru saja sadar dengan perempuan yang ada di hadapannya itu bukan halusinasinya. Perempuan itu nyata . Alex dengan tubuh lelahnya penasaran dengan pintu kamar yang tidak terkunci dengan rapat dan mendapati sesosok perempuan yang tertidur di ranjang. Perempuan yang membuat tubuhnya bereaksi. Alex sepintas berpikir perempuan itu hanya halusinasinya.
“Tante Bella yang memintaku kesini!” jelasnya dengan tubuh yang gemetar.
Dania bangun dari tempat tidur dan membetulkan pakaiannya yang sedikit terbuka, matanya melirik pria yang tidak henti menatapnya. Dania pun berbalik memalingkan tubuhnya.
“Aku suaminya Bella, disini rumahku bukan rumah Bella dan semua harus atas izin ku” tegasnya pada perempuan yang memalingkan tubuh darinya.
Alex pergi meninggalkan kamar yang membuatnya berhalusinasi, betapa malu dirinya di hadapan keponakan dari istrinya itu. Dirinya yang seorang pemimpin dari perusahaan besar dan mempunyai istri aktris terkenal dan cantik itu khilaf di atas tubuh keponakan istrinya. Mau ditaruh di mana wajah berwibawanya itu.
Dania memastikan kembali pintu tertutup dengan rapat dan dikunci dengan tuas pengunci dari dalam agar tidak ada lagi sembarang orang yang masuk. Dirinya begitu syok ketika terjaga dari tidurnya mendapati pria di atas tubuhnya. Untung saja pria itu menghentikan aksinya. “apa mungkin dia pikir aku adalah Bella istrinya.”
Alex menuju kamarnya yang tidak jauh dari kamar keponakan istrinya. Sejak kapan istrinya itu melanggar perintahnya.
Tangannya dengan tidak sabar melakukan panggilan telepon pada Bella istrinya yang kini sedang tidak ada dirumah.
“Di mana kamu sekarang?” tanyanya dengan kasar.
Bella mengetepikan tubuhnya dari kerumunan para rekan kerjanya yang sedang bersiap melakukan syuting . Malam ini ada syuting dadakan yang membuatnya tidak dapat menepati ucapannya pada Dania keponakannya.
“Di Lokasi Syuting Tuan.” Ucap Bella dengan nada sopan dan pelan.
“Ada hak apa kamu membiarkan orang masuk ke rumahku tanpa izinku, bukankan sudah aku bilang kalau aku sedang ada dirumah tidak ada yang boleh masuk tanpa izinku!” bentak Alex dengan panjang lebar .
Bella menarik tangannya yang memegang ponsel setinggi yang dia bisa agar tidak mendengar ocehan dari Tuan yang sekaligus suaminya itu.
“Maaf Tuan, aku pikir karena dia keponakan ku sehingga tidak masalah untuk Anda dan maaf saya tidak tahu kalau Anda sedang ada dirumah hari ini.” Bella membela diri sebisa mungkin.
Alex mematikan teleponnya tanpa mengucapkan salam perpisahan ataupun selamat malam pada istrinya yang selama lima tahun telah membersamainya.
Mentari pagi telah menampakkan sinarnya yang masuk melalui celah tirai dinding kaca yang ada membuat Dania menutup wajahnya dengan telapak tangan, cahaya yang menyilaukan. Dania bangun berjalan ke arah balkon, menatap indahnya pemandangan rumah mewah itu dari balkon kamarnya. Namun sebuah suara mengganggu pendengarannya.
"Tuan maafkan aku Tuan, maaf."
Terdengar suara memelas meminta pengampunan , begitu jelas, Dania bahkan mengenali suara khas wanita tersebut.
"Tuan aku janji akan berusaha, aku berjanji Tuan ,"
Suara itu semakin jelas terdengar .
"Aku mohon Tuan jangan ceraikan aku."
Brukk.. Prangg.. terdengar suara benda terjatuh dan pecah.
Dania mematung mencerna semua yang didengarnya.
Terdengar isakan tangis yang menggema. Dania merasakan jantungnya seperti teriris belati yang tajam. Suara itu suara tantenya Bella.
Dania mengepalkan erat telapak tangannya. Pria yang sungguh sangat tidak bersyukur pikirnya. Tantenya yang secantik itu telah dibuat menangis olehnya. Pria macam apa suami tantenya itu. Seketika perasaan tidak senang menyelimuti benak Dania.
Sepintas bayangan kejadian tadi malam mengusik pikirannya. “Apa jangan – jangan mereka bertengkar karena diriku?” tanya Dania pada dirinya sendiri.
Bella memegang pipinya yang memerah karena tamparan, bukan Alex yang melakukannya tapi dirinya sendiri. Dia bahkan harus menghukum dirinya sendiri yang sampai hari ini belum juga dapat memberikan Alex keturunan. Bukan keturunan darah dagingnya yang dia inginkan suaminya itu tapi dengan pria lain. Bagaimana bisa Bella menyerahkan dirinya pada pria lain ?.
Alex telah memberikannya tinggal dan menikmati semua yang dimiliki Alex dengan setumpuk syarat, yang salah satunya adalah tidak berhubungan intim. "Gila kan." gumamnya. Yang lebih gila satu tahun ini dia menambah syarat nya dengan menyuruh istrinya hamil dengan pria lain. Semua karena desakan dari Joana mertuanya yang sudah sangat menginginkan generasi penerus keluarganya.
Bella terhimpit dalam dua masalah dalam hidupnya. Suami yang tidak menginginkan anak itu memintanya agar segera hamil, bukan dengan dirinya tapi dengan pria lain dan dia akan mengakuinya sebagai anaknya. Di sisi lain mertuanya juga mengancamnya jika dalam satu tahun ini dia belum juga hamil, maka dapat dipastikan Bella tidak akan menyandang nyonya muda Sadewa lagi bahkan karier keartisannya pun terancam runtuh seketika.
Bella mencuci wajahnya yang terasa kering oleh air mata di wastafel kamar mandinya . Pikirannya bercampur aduk, bahkan ingin menyerah. Namun satu hal lagi, Alex juga mengancamnya dan itu yang tidak dapat membuatnya mengambil keputusan menyerah. Alex akan menghilangkan nyawa orang yang dikasihinya. -Dania- .
Dania satu - satunya keluarga yang di milikinya sekarang dan juga harapannya bertumpu di sana ketika tubuh nya telah menua. Bella tidak akan dapat berpikir untuk melawan perintah dari suaminya itu. Selama ini dia hanya bisa mengulur waktu sambil mencari jalan lain.
"Bella.. hari ini ada syuting jam delapan malam, datanglah sebelum waktunya karena ada hal yang perlu dibicarakan!" ucap Nindi asisten Bella di sambungan teleponnya.
Pikirannya gusar kali ini, Bella sedang tidak mood untuk bekerja. Dipikirkannya hanya ada cara dan cara. Ya bagaimana caranya mendapatkan pria yang mau dengannya.
Bella istri dari Alex Sadewa. siapa yang berani menyentuhnya. Mendengar nama suaminya saja para pria sudah menciut.
Bella kembali memejamkan matanya, kembali ke alam bawah sadarnya. Dia masih sangat mengantuk sekarang.
"Bella." teriak seorang wanita paruh baya di lantai satu, dia duduk di sofa khusus untuk dirinya.
Dania yang baru selesai mandi terkejut hingga hairdryer terlepas dari tangannya dan jatuh mengenai kakinya. Yang tidak kalah terkejut ialah Bella, dia bahkan berlari dengan masih menggunakan stelan tidurnya, air liur yang mengering masih ada disela ujung bibirnya.
"Iya Mom." ucap Bella yang berdiri sempoyongan namun tetap berusaha tetap tegap.
"Kamu ini, suamimu sudah berangkat bekerja, kamu masih enak tidur bagaimana kamu bisa cepat hamil." ucap Joana yang bela biasa menjulukinya dengan nama Mommy mertua.
"He he he" Bella terkekeh, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Duduk kamu," ucap Joana dengan suara agak keras dan sedikit kasar.
Bella duduk bersimpuh di sofa di depan Mommy mertuanya itu duduk.
"Kamu dengar ,waktumu tinggal tiga bulan lagi, kapan kamu memberiku cucu, Hehh kamu bahkan masih sibuk syuting,"
Sebenarnya Mommy mertuanya ini sangat luar biasa baik, namun dia hanya menginginkan cucu, dia bahkan meminta Bella untuk istirahat bekerja sementara program hamil.
"Punya niat hamil tidak kamu ini?" bentaknya lagi, hingga membuat Bella melambung dari tempat duduknya.
"Baik Mom, saya akan berusaha lebih banyak lagi" ucap Bella dengan nada lirih.
"Cepat mandi sana, aku akan membawamu ke Dokter." desak mertua Bella. Wajahnya menunjukkan ketidaksenangan.
Bella kembali ke kamarnya dengan berlari kecil, dia tahu mertuanya tidak suka menunggu terlalu lama.
Dania menghela nafas sedari tadi mengamati percakapan di antara mantu dan mertua itu dari kejauhan. Dania merasa semakin sedih dengan nasib tantenya. Tadi pagi sekali dia di marahi suaminya dan sekarang mertuanya. Dania semakin merasa bersalah. Bagaimana aktris terkenal seperti tantenya itu di belakang panggung hidupnya seburuk ini .
Joana dan Bella berangkat menuju rumah sakit untuk memeriksakan keadaan rahim Bella. Sejak kedatangan Dania, Bella belum bertemu dengan keponakannya itu.
Kring kring.. bunyi ponsel mengalihkan perhatian Dania. Naomy yang sedang memanggilnya sekarang ,di gesernya tombol hijau di layar itu ke atas.
"Hallo Dan." ucap Naomy gadis dengan ciri khas penampilannya yang tomboi.
"Naomy, Hey.. apa kabar?"
"Kamu di mana sekarang, Dan?"
"Aku di tempat Tante ku di Jakarta."
" Benarkah, kebetulan sekali . Aku tunggu di Caffe ya nanti aku shareloc."
Dania bersiap menemui sahabatnya yang bernama Naomy itu, selama lima tahun dia selalu bersama sahabat bagai saudara. Apa yang tidak Naomy ketahui tentang Dania dan begitu juga sebaliknya.
Mereka berdua asyik bercengkerama di salah satu meja caffe yang telah dipesan sebelumnya oleh Naomy. Naomy kini telah di terima bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Di balik penampilannya Naomy termasuk gadis yang cerdas , dia juga giat dalam melakukan berbagai hal.
"Wah benarkah, selamat ya Naomy." ucap Dania ikut bahagia.
"Kalau kamu sudah kerja, bantu carikan juga ya buat aku !! bosan dirumah terus." keluh Dania.
"Siap Bosku."
Mereka asyik berbincang hingga lupa waktu.
Bella memasuki ruang periksa, di sana sudah ada Dokter Kandungan langganannya - Dr. Paul. Dokter itu telah di kontrak khusus oleh keluarga Sadewa menangani program hamil Alex dan Bella.
Bella tidak khawatir sedikit pun kebohongannya terbongkar, Alex telah mengatur semua agar Joana ibunya tidak mengetahuinya.
"Bagaimana Dok?" tanya Joana ketika Bella telah selesai diperiksa.
" Hanya perlu istirahat, selebihnya semua normal." Dr. Paul menjelaskan dengan rinci.
"Kan sudah Mommy bilang, kamu harus istirahat. Awas kalau melanggar!" ancam Joane.
Setelah semua pemeriksaan selesai Joana mengantar menantunya itu pulang, mereka memang tidak tinggal satu atap karena Alex tidak suka kehidupan rumah tangganya terganggu.