Tasya melamar kerja di perusahaan Adityaswara kakinya melangkahkan masuk ke dalam perusahaan itu ia menanyai resepsionis apakah ada lowongan pekerjaan atau kah tidak? Semoga saja ada lowongan pekerjaan disini.
"Maaf mbak saya mau nanya apakah ada lowongan pekerjaan disini." Tasya melihat resepsionis yang sedang dandan agar makeup nya tidak luntur mulu
"Centil banget sih." gumam Tasya yang melihat Mbak resepsionis yang masih menghiasi penampilan wajahnya dengan make up dengan satu tangan memegangi kaca.
"Sebentar yah." mbak itu memasukkan semua alat make-up nya ke dalam tasnya.
"Lama banget sih mba cantik kagak jelek iya, astaga kenapa gw jadi ghibahin dia sih nih mulut gak bisa dijaga Napa." Tasya menutup mulutnya dengan satu tangannya untuk menutupi mulutnya untung dia gak dengar kalo dengar bisa gawat dah.
"Masih ada lowongan pekerjaan mba langsung saja menemui pak Revan di ruangannya."
"Ruangannya dimana mba." tanya Tasya.
"Ayo ikuti saya." mbanya menunjukkan ruangan bossnya di lantai 20 gila aja perusahaannya Segede gini mana mewah lagi, mungkin bossnya orang kaya sampai lift terbuka kami pun berjalan menuju ruangannya mba resepsionis hanya mengantarkan Tasya sampai di depan ruangannya saja dia menyuruh Tasya untuk masuk ke dalam kemudian dia pun masuk bismillah semoga bisa diterima di perusahaan ini.
"Permisi Pak." Tasya melihat bossnya yang sudah duduk di kursi kebesarannya dengan wajah dingin dan datar.
"Cukup menarik juga." gumam Revan yang melihat penampilan Tasya dari bawah berbeda dengan karyawan lainnya yang memakai pakaian ketat sekali.
"Kamu yang ingin melamar kerja di sini kan?" tanya Pak Revan.
"Hehe. Iya, Pak. Saya berniat untuk melamar kerja di perusahaan ini, Pak." Tasya pun memberikan berkasnya Kepada bossnya.
"Nilainya cukup Bagus sepertinya kamu orangnya pintar juga."
"Gak juga, Pak"
"Kamu diterima di perusahaan ini sekarang kamu sudah boleh kerja disini."
"Tapi Pak bukannya setiap perusahaan itu nggak langsung kerja yah, mungkin traning dulu gitu Pak?"
"Tidak ada traning-traning mulai sekarang kamu bekerja jadi sekretaris pribadi saya ngerti." tegas Revan.
"Tapi Pak___?"
"Jangan membantah, oh iya kamu bisa tanda tangani ini." Pak Revan menunjukkan sebuah surat perjanjian mengenai kerja kontraknya.
"Ini untuk apa Pak." sembari mengangkat kedua alisnya
"Masih nggak liat juga, lihat ini sebuah kertas perjanjian dimana kamu harus menuruti perintah diperusahaan ini.”
“Nggak bisa begitu dong Pak.”
"Kamu mau tanda tangan atau tidak bekerja disini.”
"Ok saya setuju.” kemudian Tasya pun menandatangani sebuah perjanjian kerja kontraknya tanpa Melihat dulu isi perjanjiannya.
"Meja kerjamu ada diluar pintu ruangan saya dan bawa semua berkas ini.” perintah Revan
"Astagfirullah baru aja masuk kerja udah dikasih tugas segala bisa mati dah gua." batin Tasya melihat tumpukkan berkas di atas meja bossnya.
"Pak saya baru saja melamar kerja disini tapi...!!" Revan pun memotong ucapannya
"Ingat perjanjian yang sudah kamu tanda tangani."
"Memangnya perjanjiannya apa Pak.”
"Apa kamu gak baca dulu perjanjian ini sebelum tanda tangan."
"Emmm... Belum Pak."
"Bodoh sekali kamu ini."
"Kenapa bapak mengatakan itu kepada saya" Tasya tidak terima jika dihina seperti itu.
"Baca saja perjanjiannya." Revan memberikan surat perjanjian tadi untuk menyuruhnya membacanya.
Surat perjanjian
1. Pihak kedua harus menuruti perintah pihak satu.
2. Kontrak kerja selama 2 tahun jika berhenti bekerja pihak kedua harus membayar 100 milyar.
3. Pihak kedua harus mengikuti kemana pihak satu pergi.
4. Pihak pertama harus mencampuri urusan pihak kedua.
5. Pihak kedua tidka boleh mencampuri urusan pihak pertama.
"Apa-apaan ini, Pak? kenapa semua isi perjanjiannya mengenai urusan pribadi, kenapa gak ada mengenai pekerjaan apapun disini." bantah Tasya
"Nggak usah bantah."
"Nggak bisa begitu dong Pak lebih baik saya tidak jadi bekerja disini."
"Yasudah kamu boleh berhenti bekerja disini tapi kamu harus bayar 100 milyar atau kamu saya masukkan ke penjara karena melanggar aturan perjanjian ini."
"Pak nggak bisa gitu dong kenapa malah bawa-bawa polisi sih ini tuh mengenai pekerjaan bukan menyangkut korupsi yah." lawan Tasya dia tidak mau diinjak-injak oleh bossnya.
"Seterah saya tidak perduli lebih baik kamu keluar." usir Revan.
"Tapi urusan kita belum selesai Pak.”
"Bawa berkas ini dan kerjakan dimeja kamu." Tasya pun pasrah dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, lebih baik dia bawa berkas itu dan kerjakan di meja kerjanya kemudian dia pun meninggalkan ruangan bossnya.
"Boss gila." sampai di meja kerja gw melampiaskan semua kekesalan gw tadi di ruangan.
Jam makan siang pun tiba akhirnya bisa istirahat juga kalo tidak bisa mati dah ngurusin tugas ini gak selesai-selesai dari tadi, untung saja bawa bekal coba saja kalo tidak dia harus makan pake apa duit aja gak ada mana harus bayar kost-kostan lagi ribet dah kalo hidup sendiri jauh dari orang tua yang sabar yah mah ini juga aku kerja demi membiayai kehidupan mamah disana Tasya pun berjalan menuju kantin untuk hanya membeli minum saja dan duduk dikursi kosong.
"Oh ini toh yang sekretaris baru." tiba saja datang seorang perempuan berpenampilan seperti bitch berpakaian sexy.
"Nih orang mau kerja apa mau ngeja***y sih pakaiannya gini banget.” batin Tasya yang melirik cara berpakaian wanita yang menghampirinya.
"Ada apa yah." Tasya pura-pura gak tau aja Soalnya dia gak mau cari ribut disini.
"Eh anak baru lu ngapain makan disini." tanya perempuan songong itu yang sudah disampingnya.
"Memangnya kenapa yah ini kan tempat umum jadi siapapun boleh dong makan disini.” jawab Tasya yang heran kenapa sih dipertemukan orang seperti ini gak ada sopan-sopannya baru saja kerja udah banyak musuhnya.
"Songong banget yah lu disini oh iya lu bawa bekal udah kaya anak SD aja hahaha." mereka menertawakan Tasya yang membawa bekal seperti anak SD.
"Memangnya ada larangan yah jika disini tidak diperbolehkan bawa bekal." sindir tasya yang membuat geram dengan tiga perempuan ini.
"Songong banget lu yah enaknya diapain nih cewek." tanya teman satunya.
"Mungkin buly aja kali yah." ledek teman satunya lagi.
"Orang kaya gini harus kasih pelajaran." salah satu diantara mereka bertiga menjatuhkan Bekal milik Tasya ke lantai membuat bekal itu pun jatuh dan berantakan.
"Uppss sorry." dia pun pura-pura menutup mulutnya dengan satu tangannya lagi.
"Huftttt kalian bisa gak sih hargain orang sedikit aja, emangnya gw salah apa sama kalian sampe-sampe makanan gw dibuang hah !!" Tasya sudah tidak tahan dengan mereka bertiga yang tiba-tiba saja menjatuhkan makanannya
"Kenalin gw Dinda pacar dari boss lu gw ingatin sekali lagi jangan kecentilan sama pacar gw.”
"Kecentilan apa sih gw gak tau apa-apa dari tadi dekatin boss lu aja kagak." lawan Tasya yang tidka mau diinjak-injak olehnya dia boleh melakukan apapun semaunya tapi jangan sampai dia menjatuhkan dirinya ditempat umum.
"Karena lu udah berani dekat-dekat dengan pak Revan." semua orang menatap ke arah mereka berempat yang menjadi pusat perhatiannya.
"Kapan gw dekatin hah? sekali lagi gw bilangin gw sama pak Revan hanya sebatas sekretaris dan boss saja yah.”
"Gw gak percaya siapa tau aja lu mau dekatin pak Revan terus ambil hartanya sampai habis.”
"Astaga kenapa pikiran lu sampai situ sih walaupun gw orang miskin sama sekalipun gw gak ada niatan mau mengurasi harta pak Revan.”
"Cabut gaess jangan sampai pak Revan tau.” tiba saja Revan datang sebelum itu Dinda dan gengnya pun berlaku pergi meninggalkan Tasya sendirian.
"Ada apa ini." tanya Revan yang baru saja melihat kotak bekal Tasya sudah berantakan dilantai.
"Ehhmm... Gak ada apa-apa pak tadi cuma kotak bekal saya jatuh saja." pekik Tasya agar bossnya tidak memarahi Dinda dan gengnya itu.
"Dasar ceroboh.” Revan jadi kasihan melihat Tasya yang membersihkan semua makanan yang jatuh dilantai tadi sedangkan Tasya tidak menanggapinya perkataan bossnya tadi dia masih terus fokus membereskannya.
"Sini saya bantu." Revan menundukkan tubuhnya untuk membantu Tasya membersihkannya.
"Gak usah Pak saya bisa sendiri kok" Tasya mencoba mencegah agar bossnya tetao tidak membantunya.
"Jangan membantah." Revan tetap membantu Tasya walupun dirinya ditolak olehnya selesai membersihkannya, Tasya membuang semua bekal yang belum sempat ia makan tadi ke tong sampah belum saja dia memakannya tapi bekalnya malah dijatuhkan oleh Dinda teman musuhnya.
"Terima kasih pak saya permisi dulu." belum sempat Tasya pamit bossnya memegang tangannya membuat jantung jadi deg-degan.
Deg-deg
"Kenapa saya jadi deg-degan yah." batin Revan.
"Maaf pak tangannya.” Tasya menyadarkan Revan untuk melepaskan tangannya yang sudah dipegang olehnya lalu Revan pun melepaskannya.
"Temeni saya makan." ucap Revan yang sudah duduk di bangku kantin.
"Tapi pak saya masih ada pekerjaan lainnya." tolak Tasya.
"Kamu gak ingat perjanjian kita." Revan mencoba mengingatkan tasya untuk menuruti perintahnya kemudian dia pun pasrah duduk di depannya.
"Pak Rudy." panggil Revan kepada penjaga kantin.
"Iya pak." pak Rudy pun menghampirinya.
"Kamu mau pesan apa." tanya Revan kepada Tasya yang sudah duduk didepannya.
"Tidak usah pak bapak saja yang pesan " jawan Tasya karena dia tau kalo isi dompetnya tidak mencukupi untuk membeli makanan dikantin ini.
"Tenang saja saya yang bayar." kata Revan.
"Tiddd...kk____???” Belum sempat tasya bicara kepadanya Revan sudah memesannya.
"Saya pesan nasi goreng 2 dan jus jeruk 2."
"Siap pak ditunggu yah pak." lalu Revan mengangguk oak Rudy pun segera pergi dari sini untuk membuat pesanan yang tadi Revan pesan, Malam pun tiba tapi Tasya masih tetap bekerja lembur banyak sekali pekerjaan yang belum diselesaikan olehnya dan akhirnya sekarang selesai juga tugasnya.
"huftt Akhirnya selesai juga." Tasya menghela panjang nafasnya dengan senang karena tugasnya pun sudah selesai.
"Eh anak baru." panggil Dinda yang menghampiri Tasya baru saja tugasnya selesai kenapa ada masalah baru lagi sih.
"Ada apa?"
"Gw udah bilangin sama lu jangan dekat-dekat dengan pacar gw ngerti gak sih lu." Dinda menatap tajam ke arah Tasya.
"Maaf yah gw gak ada niatan mau ngerebut Pak Revan dari dulu, kalo memang lu suka sama dia yaudah ambil aja." dia juga tidak perduli kau bossnya pacaran sama siapapun yang penting hidupnya tenang.
"Kalo gak ada niatan kenapa lu ngedeketin dia hah?" Dinda menarik rambut Tasya dengan kencang membuat dia kesakitan
"Awhh sakit Din." Rintihan Tasya yang dijambak olehnya.
"Gw peringatin sekali lagi kalo lu masih dekatin dia gw gak segan-segan bunuh lu." Dinda Terus-menerys menjambak rambut Tasya dengan lebih kuat lagi, tiba saja pintu ruangan Revan terbuka Dinda pun mengacak rambutnya berpura-pura kalo dia dijambak oleh Tasya padahal sebenarnya dialah yang menjambak ya lebih dulu.
"Ada apa ini." Revan melihat rambut Dinda acak-acakan yang sudah berantakan yang tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Hiks hiks dia Pak sudah menjambak rambut saya." Dinda berpura-pura ekting didepan bossnya bahwa dirinya dibuly oleh Tasya.
"Enggak itu gak benar Pak, padahal dia yang sudah menjambak rambut saya." bela Tasya tapi tetap saja Revan tidak mempercayainya dia lebih memilih Dinda yang sudah lama bekerja disini.
"Dia Bohong pak hiks tadi dia ancam saya agar saya tidak dekat-dekat dengan bapak lagi padahal kami hanya sebatas bos dan karyawan." lirih Dinda yang mencoba pura-pura bahwa dirinya di buku olehnya.
"Tasya saya tidak suka kamu membuly karyawan disini." bentak Revan.
"Saya bisa jelaskan semuanya pak." Tasya mencoba untuk menjelaskan semuanya yang benar tapi Revan tetap gak mau mendengarkannya.
"Saya sudah liat semuanya saya tunggu di ruangan saya." Revan pun memasuki ruangan kerjanya lagi dengan tatapan sangat marah, hadeeh gimana ini baru kerja saja sudah dimarahi gimana kalo bossnya memecatnya oh my good mau cari pekerjaan dimana lagi mencari pekerjaan aja susah.
"Emang enak!! Ini baru permulaan rencana gw liat saja nanti kedepannya." Dinda menatap Tasya dengan sinis dan berlalu pergi meninggalkan Tasya sendirian.
"Astaga gimana ini apa masuk aja yah ke dalam tapi takutnya dia marahin gw lagi." gumam Tasya lebih baik Tasya masuk saja dari pada masalahnya jadi perpanjang lagi lebih baik dia menyelesaikannya dari sekarang.
"Permisi ada apa bapak manggil saya." tanya Tasya yang sudah membuka pintu ruangannya dan berdiri disitu.
"Bagus yah baru kerja disini Sudah bully karyawan disini." Revan berbicara dengan nada tinggi sedari tadi Revan sudah marah tapi kenapa Tasya membuat ulahnya membuat Revan semakin nambah marah lagi.
"Saya sudah bilang kalo saya gak salah." bela Tasya dengan tegas dia tidak mau disalahkan karena dia itu benar tidak salah apapun.
"Kamu berani bicara begitu sama saya." Tasya membuat Revan tambah emosi lagi padahal Revan lagi ada masalah pribadinya tapi kenapa dia malah mencari masalah dengan bossnya.
"Saya tidak mau jika ada orang yang menyalahkan saya padahal saya ini tidak salah."
"Oh berani yah kamu sama saya." Revan mendekati Tasya untuk lebih dekat lagi tambah lagi langkah kakinya pun sudah merapatkan tubuhnya dengan Tasya membuat Tasya mundur dan sudah mentok di pintu ruangannya.
"Bapak mau ngapain." dengan ketakutan Tasya tidak bisa berkutik apa-apa lagi hidungnya pun sudah bertabrakan dengan hidung mancung bossnya itu.
"Pak saya mohon jangan." Tasya masih ketakutan dengan apa yang bossnya lakukan bibir Revan pun bertemu dengan bibir Tasya dan memainkannya tiba saja tasya mendorongnya dengan sekuat tenaganya membuat Revan pun jatuh dilantai.
"Saya bukan jalang yang bisa bapak permainkan kapanpun." Revan hanya terdiam dia tidak menyangka apa yang mereka berdua lakukan tadi Revan hanya memegangi bibirnya dengan berpikir kalo dia benar-benar gak kendalikan emosinya.
"Maaf tadi saya gak berniat." lirih Revan yang menatap tasya sudah marah
"Jangan samakan saya dengan perempuan yang sudah bapak permainkan." Tasya pun pergi meninggalkan Revan di ruangannya dengan menutup pintu sangat keras membuat terdengar suaranya.
"Apa yang gw lakukan tadi." gumam Revan yang tidak percaya dengan semuanya ini Revan pun keluar dari ruangannya untuk mengejar Tasya, jangan sampai dia salah pahak berjalan cepat menyusulnya untuk meminta maaf atas tindakan yang tadi ia perbuat. Tiba didepan pintu kantor revan menahan lengan Tasya untuk mencegahnya tapi Tasya tetap memberontaknya untuk meminta dilepaskan tangannya yang dicengkeram kuat sampai tangan memerah.
"Lepasin." Tasya sekuat tenaga memberontak untuk melepaskan tangan yang dicengkeram kuat oleh Revan.
"Tas maafin saya."
"Jangan panggil tas Saya bukan barang."
"Itu panggilan kesayangan saya untuk kamu." goda Revan.
"Saya gak mempan godaan anda." tegas Tasya.
"Masa sih." Revan menggoda Tasya dengan mencolek dagunya.
"Gak usah sentuh-sentuh saya gak mempan gombalan bapak." Tasya menatap tajam ke arah Revan yang sedari tadi menggodanya.
"Harusnya kamu senang karena cuma kamu yang saya godain banyak loh wanita lain yang ingin digoda oleh saya." dengan bangganya Revan berbicara seperti itu emang sih dia banyak yang naksir tapi seenggaknya jangan songong gitu lah.
"Saya gak perduli." belum berjalan melangkah tangan Tasya di tarik oleh bossnya alhasil Tasya tidak bisa menyamai keseimbangan antara tubuhnya yang membuat dia hampir jatuh ke lantai untung saja Revan menahan tubuhnya agar tidak jatuh mata Revan bertemu dengan mata indah Tasya membuat jantung Tasya berdebar kencang.
Deg-Deg
apa ini yang dinamakan jatuh cinta sama sekali pun Tasya tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, bukannya dia gak laku tapi dia gak mau buang-buang waktu hanya cuma menghabiskan waktunya untuk lelaki lain.
"Jangan mencari-cari kesempatan dalam kesempitan yah." gerutu Tasya yang sudah melepaskan dirinya dari Revan.
"Seharusnya kamu berterima kasih sama saya karena saya sudah membantu kamu, kalo gak saya bantu kamu pasti jatuh kalo kamu masuk ke rumah sakit siapa yang bakal gantikan posisi kamu jadi sekretaris pribadi saya." jelas Revan.
"Kan ada pacar bapak tuh." sindir Tasya membuat Revan bingung padahal dia sama sekali belum punya pacar semenjak dia cerai dengan istrinya, jangan sangka umurnya yang kepala tiga tapi wajahnya tetap masih awet muda membuat kaum hawa terpesona dengannya.
"Pacar!! Kata siapa saya sudah punya pacar." datar Revan.
"Lah kata Dinda bapak pacarnya dia." ujar Tasya.
"Saya sama dia hanya sebagai bos dan karyawan saja." balas Revan.
"Oh."
"Kamu cemburu."
"Nggak.”
"Masa sih saya liat dari cara pandangnya sepertinya kamu menyukai saya." tebak Revan yang menatap Tasya penuh yakin kalo dirinya menyukainya.
"Gak penting." Tasya pun meninggalkan Revan yang masih berdiam berdiri didepan kantornya lalu mengejar Tasya dan menjejerkan tubuhnya disamping Tasya.
"Tas kamu masih marah sama saya." tanya Revan yang menjejerkan tubuhnya disamping Tasya.
"___" tidak ada sahutan dari Tasya dia hanya terdiam saja dengan wajah kezelnya.
"Tas." panggil Revan.
"Saya udah bilang jangan panggil saya tas saya itu bukan barang." geram Tasya.
"Tapi tas itu panggilan saya ke kamu." ucap Revan.
"Bodo saya mau pulang." Tasya berjalan sampai didepan gerbang kantornya dan menunggu angkot datang.
"Sampai kapanpun kamu tunggu angkot jam segini gak ada tas.”
"Saya mau naik taksi aja."
"Mana ada taksi jam segini tas lihat nih udah jam setengah 11 tas mending kamu bareng saya aja.” Revan menunjukkan jam tangannya ke arah wajah Tasya.
"Gak mau yang ada bapak melecehkan saya lagi.” sindir Tasya.
"Ya enggak lah tas mana mungkin saya melecehkan karyawan sendiri."
"Kalo gak lalu tadi di dalam apa.”
"Soal tadi saya benar-benar minta maaf sekali lagi." Tasya memalingkan wajahnya dari pandangan Revan.
"Tas ayo saya anter.” ajak Revan dengan menyentuh tangan Tasya tapi dia malah menghempaskan tangan darinya.
"Jangan sentuh-sentuh saya mau pulang sendiri."
"Pulang naik apa emangnya tas."
"Saya bisa jalan kaki tanpa perlu bapak mengantarkan saya." Tasya membuat Revan geram bossnya pun langsung menarik tangannya.
"Awhh sakit Pak." berontak Tasya bossnya tidak menanggapi perkataan nya lalu memasukkannya ke dalam mobil dia pun berjalan tempat duduk pengemudi lalu menjalankan mobilnya
"Maaf gara-gara saya tangan kamu jadi merah begitu." Revan melihat tangan Tasya yang sudah memerah dan agak biru karena cengkeramannya terlalu kencang.
"____" Tasya pun tidak menanggapinya tatapan matanya menuju arah jendela mobil tanpa harus melihat bossnya.
"Tas " panggil Revan tetap saja Tasya tidka menjawabnya.
"____"
"Kamu marah sama saya yah." tebak Revan yang melihat Tasya hanya terdiam.
"Ok saya ngaku saya salah tolong maafin saya." permintaan maaf Revan yang sudah memberhentikan mobilnya dipinggir jalan.
"Luka kamu yang mana yang sakit." tanya Revan yang melihat Tasya masih terdiam.
"Saya mau pulang." tanpa revan sadari Tasya meneteskan kedua air matanya mengalir deras di kedua pipinya.
"Tas kamu nangis maafin saya, saya gak berniat nangisin kamu." Tasya hanya memalingkan wajahnya menghadap kaca jendela mobil.
"Saya bilang mau pulang." Tasya mencoba untuk menahan amarahnya agar tidak memarahi bossnya.
"Ok kita pulang tapi saya mohon jangan nangis lagi yah." Revan mendekati Tasya yang mencoba menghapus kedua air mata yang mengalir dipipi Tasya.
"Cepat pulang." Tasya kembali menghadap ke arah jendela mobilnya lalu Revan menjalankan mobilnya sampai di depan rumah Tasya ia langsung membuka pintu mobilnya dan berjalan masuk ke dalam kost-an yang ia tempati, Revan merasa bersalah dengan Tasya lebih baik dia pulang dulu agar Tasya bisa menenangkan dirinya kemudian ia pun meninggalkan kost-an milik Tasya.
Pagi hari Tasya sudah berangkat ke kantor karena masih banyak yang harus dikerjakan sebagai sekretaris pribadi bossnya hari ini juga bossnya ada meeting jadi dia harus menyiapkan keperluannya tiba di kantor Tasya sudah berkutik dengan laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai Tasya pun tak tau jika bossnya sudah berada didepan mejanya dengan tersenyum manis.
"Hari ini siapkan keperluan untuk meeting nanti." Tasya hanya mengangguk dan melanjutkan mengetik laptopnya.
"Kamu dengarkan." Revan melihat Tasya yang sibuk dengan laptopnya dia curiga ada apa dengan laptopnya apakah tugasnya belum selesai.
"Iya pak."
"Kamu masih marah." Tasya tidak menghiraukan ucapannya dia tetap menatap layar laptopnya.
"Tas.”
"Jangan diamkan saya seperti ini dong."
"Kamu mau apa biar saya belikan sebagai permintaan maaf saya."
"Saya bukan cewek matre yang bisanya minta apa-apa walaupun saya miskin tapi saya gak pernah morotin orang lain." jelas Tasya dengan tatapan tajam.
"Maksud saya bukan begitu tas."
"Sudah lah jangan ganggu saya, bapak gak liat saya sedang sibuk." datar Tanya.
"Yasudah maaf mengganggu." Revan pun masuk ke ruangannya kebetulan meja kerja Tasya berada di samping pintu ruangannya.
Revan💢
Revan yang sudah duduk di kursi kebesarannya tiba saja ada panggilan telepon dari ponselnya yang berada di atas meja kerjanya kemudian dia pun mengangkat teleponnya.
"Halo sayang kamu dimana." tanya perempuan yang menelponnya.
"Saya lagi dikantor ada apa memangnya!" Revan berbicara datar kepada perempuan yang berada disana.
"Anak kamu katanya pengen jalan-jalan sama kamu." dengan berbicara lembut.
"Kapan?"
"Kata Risa maunya sekarang." ucap perempuan itu.
"Kamu bisa kan urus anak kamu sendiri ajak dia jalan-jalan saja sama kamu." dengan nada marah Revan.
"Tapi sayang dia gak mau sama Mamahnya dia maunya bertiga sama ayahnya juga." rayu perempuan yang sedang menelponnya agar Revan mau diajak olehnya.
"Ok habis meeting nanti saya ke sana."
"Tapi mas dia maunya sekarang." bujuk perempuan yang masih berada disana.
"Seterah mau habis meeting atau gak jadi sekalian." Revan langsung mematikan telponnya agar dia tidak marah lebih besar lagi.
Siang hari ini kami akan meeting, sebelumnya Tasya memberitahukan kepada bossnya untuk meeting siang hari ini langsung saja masuk ke ruangannya.
Tok - Tok
Suara ketukan terdengar dari dalam kantor membuat bossnya menjadi terganggu.
"Masuk." Tasya pun masuk ke ruangannya untuk memberitahukan kalo siang ini ada meeting.
"Maaf pak siang ini ada meeting pak." ujar Tasya yang melihat arah tatapan mata Revan yang fokus dengan laptopnya dan memasang wajah datarnya.
"Saya sudah bilang tadi pagi siapkan saja meeting hari ini." dingin Revan.
"Saya sudah menyiapkan meeting hari ini bapak tinggal berangkat saja untuk menemui pak Andi nanti.”
tiba saja wajah Revan menjadi datar sebelumnya tadi pagi wajahnya biasa saja tapi kenapa siang ini berubah jadi datar Aneh!! "Silahkan keluar nanti saya nyusul."
"Maaf mengganggu pak." kemudian Tasya keluar dari ruangan bossnya dia jadi takut dengan bossnya yang tiba-tiba saja berubah jadi ganas.
"Sabar-sabar kenapa sih tuh orang tiba-tiba marah aja apa karena tadi pagi yah" gumam Tasya yang memegangi dadanya Karena takut dengan bossnya"Terima kasih pak sudah bekerja sama dengan saya." Revan mengakhiri meeting hari ini untuk bekerja sama dengan rekan kerjanya lalu berjalan ke luar ruangan meetingnya lalu bertemu anak dan mantan istrinya yang datang ke kantor untuk menemui Revan.
"Ayah." panggil seorang anak kecil yang bernama Risa berlari memeluk ayahnya sedangkan Tasya hanya berdiam berdiri melihat seorang anak kecil memeluk Revan anak kecil itu pasti anaknya Revan pikir Tasya.
"Hey kenapa kamu ada disini." tanya Ayahnya yang heran kenapa mantan istrinya mengajak anaknya ke kantor ini padahal dia sudah bilang jika sehabis meeting nanti Revan akan menemuinya tapi kenapa malah mantan istrinya yang datang ke kantor dengan membawa anaknya yaitu Risa.
"Aku mau makan bareng ayah." rengek Risa sembari mengalungkan tangannya dileher ayahnya dengan erat.
"Ayah kan sudah bilang nanti ayah nyusul kamu setelah meeting kenapa kamu datang ke kantor ayah pasti mamahmu yah yang menyuruhmu ke sini." tebak Revan.
"Gak ayah aku yang mau soalnya Ayah lama sih datangnya mangkanya aku datang ke kantor ayah aja deh ayah gak suka yah aku datang ke kantor ayah." Tasya hanya terdiam melihat keakraban mereka berdua dan dia melihat mantan istrinya yang sudah menatap sinisnya.
"Ayah suka kok kamu datang." ayahnya mencium pipi gembul anaknya lalu menggendongnya banyak tatapan karyawan yang melihat bossnya menggendong anak kecil setahu mereka bossnya itu masih single belum punya anak sekalipun kenyataannya Revan memang sudah memiliki anak dari mantan suaminya.
"Kamu ngapain bawa Risa ke kantor saya sudah bilang biar nanti saya ke sana saja." Tasya seperti menonton drama Korea saja yang melihat bossnya ribut dengan mantan istrinya Tasya hanya terdiam tapi bisa berkutik apa-apa lagi.
"Maaf mas dia yang memintanya."
"Ayah jangan marahin mamah, mamah gak salah aku yang salah yah." ucap anak kecil itu yang tidka kau jika mamahnya dimarahi oleh ayahnya, Revannya tidak mau cari masalah lagi dengan mantan istrinya takutnya anaknya mendengar keributan orang tuanya.
"Tante cantik siapa nya ayah." tanya anak kecil yang menatap Tasya penuh tanya.
"Hay Risa kenalin aku Tasya sekretaris ayahmu." sapa Tasya dengan melambaikan tangannya tapi Risa menghiraukannya dia tidka mau jika ada perempuan lain mendekati ayahnya selain mamahnya.
"Tante cantik jangan dekat-dekat sama ayah lagi." membuat Tasya bingung kenapa gadis kecil ini memintanya untuk menjauhi ayahnya padahal mereka hanya sekedar antara boss dengan sekretaris saja.
"Loh Kenapa memangnya."
"Aku gak mau ayah didekati cewek cantik selain mamah ku."
"Sudah tas jangan dengarkan omongan Risa dia hanya anak kecil saja." ujar Revan takutnya anaknya ngomong aneh-aneh lagi dengan sekretarisnya.
"Sekarang kita ke ruangan ayah saja yah." Revan berjalan menuju ruangannya tapi Risa masih merengek meminta untuk berbicara lagi dengan Tante cantiknya.
"aku belum selesai ngomong ayah." rengek Risa yang memukul ayahnya untuk diminta turunin.
"Anak kecil gak boleh tau urusan orang tua yah." Revan menurunkan Risa yang sudah diduduki kursi depan meja kerjanya.
"Saya bilangin jangan dekat-dekat dengan suami saya lagi." peringatan Dita kepada Tasya.
"Mantan suami kali mbak udah jadi mantan kok masih ngarep aja." ejek Tasya yang tertawa mendengar ucapan Dita.
"Liat saja sebentar lagi Revan akan jadi suamiku lagi.”
"Mimpi mba bangun deh jauh-jauh pikiran kosongmu itu."
"Kamu berani yah melawan saya awas saja saya bakal bikin kamu pecat dari kantor ini."
"Saya tidak takut dengan siapapun termasuk mba.”
"Jangan panggil saya mba saya masih muda."
"Yakin masih muda biar saya tebak yah pasti umurnya 30 atau 29 tahun Iyah." goda Tasya yang membuat mantan istri bossnya marah dengan tatapan penuh benci.
"Kamu berani sama saya."
"Bisa jadi." Tasya mengedipkan bahunya yang tak acuh perkataan mantan istri bossnya.
"Awas liat saja nanti." ancam Dita kemudian meninggalkan Tasya sendirian.
"Dasar Aneh mau aja si boss sama nenek lampir itu kenapa anak kecil cakep gitu jadi anaknya sih padahal cantik kenapa dilahirkan oleh ibu lampir jadi kasihan sama Risa yang mempunyai ibu seperti itu." Tasya menatap punggung Dita yang sudah jauh dengan penuh kebencian.
"bawakan saya minuman" Revan menelpon sekretaris nya untuk dibuatkan minuman olehnya tapi kenapa gak minta sama OB aja dan kenapa harus dia yang membuatkan minumannya.
"Kenapa gak minta sama OB aja pak untuk dibuatkan minuman.”
"Saya maunya kamu.”
"Tapi pak saya itu bukan OB."
"Siapa bilang kamu OB."
"Saya pak." Revan membuat Tasya kezel Karena dirinya memerintahkan sesuatu kepadanya.
"Jangan ngomong mulu buatkan saja minuman untuk anak saya dan mantan istri saya."
"Bapak gak minum juga."
"Kamu yah bikin saya kezel mulu kamu itu bodoh atau gimana sih yah saya juga dibikinin minuman lah pake Nanya lagi.”
"Yaudah sih gausah marah-marah juga kali pak."
"Jangan buat saya marah-marah tas." emosi Revan.
"Ok saya minta Maaf pak, bapak mau dibuatkan minum apa." tanya Tasya yang masih berada ditelpon itu.
"Buatkan saya kopi yang manis yah jangan asin dan juga buatkan susu sama teh manis..." jawab Revan yang merendahkan emosinya.
"Tunggu dulu tas saya belum selesai bicara." tiba saja tasya langsung menutup telponnya dasar sekretaris kurang ajar gak ada sopan santunnya.
"Sekretaris kamu gimana sih gak ada sopan santunnya." Sindir Dita
"Mamah kenapa kaya benci sama Tante cantik sih." tanya anaknya yang sudah duduk dikursi depan kerjanya.
"Kamu tau gak nak Tante cantik itu mau ngerebut ayah dari mamah mangkanya mamah gak suka sama dia."
"Jangan pengaruhi anak saya."
"Memang benar kan mas dia itu mau ngerebut kamu dari aku."
"Kata siapa saya mau ngerebut pak Revan dari mba." tasya mendengar ucapan mereka semua dia pun masuk ke ruangan kerja bossnya sambil membawa nampan yang berisi minuman untuk keluarga bossnya.
"Kamu kenapa memutuskan telepon saya." Revan menatap tajam ke arah Tasya yang sedang menaruh minuman diatas meja kerjanya
"Maaf pak saya buru-buru." Tasya menundukkan kepalanya dia takut jika ia dipecat oleh bossnya.
"Alasan tuh mas bilang aja bosen kerja disini minta dipecat kali yah mas." adu Dita agar Tasya dimarahi oleh bossnya.
"Mba jangan ikut campur yah saya gak ada urusan sama mba." Tasya menatap Dita. dengan sinis
"Oh iya masa sih." lawan Dita agar Tasya marah kepadanya Tasya mendekati Dita untuk menjambak rambutnya dengan kencang membuat dia kesakitan.
"Saya sudah cape sama mba yang selalu ngajak saya ribut terus menerus." Tasya terus menerus menjambak rambutnya.
"Awhh sakit mas tolongin aku." adu Dita kepada mantan suaminya agar dia membelanya.
"Tasya berhenti." teriak Revan tapi Tasya menghiraukan perkataannya terus menjambak rambut nenek lampir ini yang mulutnya gak bisa direm sama sekali.
"Tante cantik udah kasihan mamah aku kesakitan." lirih Risa agar tasya berhenti menjambaknya Dita membalas jambakan Tasya mereka sama-sama menjambaknya.
"Saya bilang berhenti Tasyaaaa." bentak Revan membuat mereka berhenti aksinya dan semua yang berada di ruangan ini terdiam.
"Kamu gak dengar ucapan saya tadi hah." bentak sekali lagi Revan membuat Tasya meneteskan air matanya baru kali ini dia dibentak oleh bossnya.
"Kamu mau saya pecat iyah hah." dengan nada tinggi.
"Jawab Tasya." teriak Revan membuat Tasya meneteskan air matanya yang sudah mau jatuh dia pun menghapusnya sebelum air mata ini jatuh ke pipinya.
"Kenapa bapak marahi saya kenapa gak marahin aja mantan istri bapak, oh iya saya tau dia itu kan mantan istri kesayangan bapak kan jadi bapak membelanya Iyah saya memang gak pantas dibela oleh boss saya sendiri." ejek Tasya yang berpura-pura tertawa padahal dirinya sakit mendengar bentakan Revan.
"Disini saya gak bela siapapun saya hanya meluruskan masalah kalian berdua."
"Meluruskan masalah dengan begitu iyah saya lebih baik mengundurkan diri dari perusahaan ini lebih baik saya dipecat dari pada harus bekerja disini lagi." ujar Tasya dengan emosinya.
"Saya gak bermaksud begitu tas tolong pikirkan baik-baik kamu itu lagi emosi jangan sampai kamu menyesal nanti."
"Menyesal bapak bilang! saya gak akan menyesal malah saya senang keluar dari perusahaan ini dengan cara begini saya bisa hidup tenang."
"Kamu gak ingat perjnantin kita kamu harus bayar 100 milyar jika kamu berhenti bekerja disini.”
"Saya akan membayarnya nanti."
"Memangnya kamu mampu membayar itu semua."
"Liat saja nanti Saya akan mencari uang semampu saya?"
"Bagus deh kamu berhenti bekerja disini" Tasya menghiraukan perkataan nenek lampir itu
"Liat saja nanti apa kamu mampu membayar itu semua" tantang Revan dengan mengejek dirinya
"Besok saya akan kasih surat mengundurkan diri nanti permisi" kemudian Tasya meninggalkan ruangan ini
"Akkkhhh semua ini gara-gara kamu tau gak" Revan mengacak rambutnya yang sudah frustrasi dengan mantan istrinya
"Kok kamu nyalahin aku sih" tanya Dita yang pura-pura gak tau apa-apa dengan semuanya
"Kamu masih nanya gara-gara kamu tasya jadi mengundurkan diri untuk bekerja disini kamu tau gak sih"
"Kenapa kamu jadi membelanya sih mas"
"Saya bukan membelanya ini menyangkut kepentingan perusahaan ini"
"Kamu bisa kan mas cari pengganti Tasya"
"Kamu itu gak tau apa-apa soal perusahaan ini" Revan pergi meninggalkan ruangannya yang sudah kezel dengan mantan istrinya
"Mamah ayah kenapa marah-marah sama mamah" Risa mendekati mamahnya dengan memeluknya erat
"Ayah kamu lagi kezel sama sekretarisnya sayang"
"Tante cantik jahat sih buat ayah marah sama mamah" tanya Risa
"Sudah yah lebih baik kamu minum susunya gak usah ngurusin masalah orang dewasa" Dita mengambil susu diatas meja lalu memberikannya kepada anaknya yaitu Risa"ihh kezel banget sama si batu es enak aja bentak-bentakin gw orang tua gw aja gak Pernah bentakin gw lah dia kenapa berani banget sama gw" emosi Tasya yang sudah berada di kost-annya dengan melemparkan bantalnya tiba saja mengenai Abangnya yaitu bang vano baru saja dia datang dari Bandung pergi ke Jakarta untuk menemui adiknya melihat kondisinya sekarang ini
"Apa sih lu lemparin bantal kena gw nih" protes Vano Karena bantalnya mengenai wajahnya itu kemudian melempar kembali ke arah wajah cantiknya Tasya
"Sialan lu Abang laknat' teriak Tasya yang dilemparkan bantal oleh abangnya sendiri
"Habisnya lu sih lemparin bantal kena wajah ganteng gw ini" pedenya bank berbicara begitu
"Eh bang lu ngapain ke sini tumben amat lagi butuh gw yah" tebak Tasya yang kaget tiba saja sudah ada Abangnya didepan matanya
"Sialan lu, gw ke sini mau jenguk lu dek"
"Sosoan lu biasanya gak pernah gitu tuh" ejek Tasya
"Bukannya terima kasih dijenguk Abang ganteng kaya gw ini malah menginjak-injak gw tadi aja gak usah turutin perintah ibu" Vano jadi nyesal datang ke Jakarta jika hanya diusir oleh adiknya
"Eh jangan gitu dong bang sama adiknya oh iya ibu gimana kabarnya bang" tanya Tasya
"Ibu sakit dek dia minta tolong sama gw suruh bawa lu pulang lagi" jawab Vano
"Maaf ya bang gw gak bisa pulang dulu ke Bandung"
"Kalo lu gak tinggal dibandung terus lu disini sama siapa? Siapa yang bakal ngurusin lu nanti dek"
"Gw bisa ngurusin gw sendiri bang"
"Dek lu itu perempuan gw cuma takut lu kenapa-napa apa lagi ini Jakarta pasti banyak laki-laki yang gak benar"
"Lu jangan suudzon gitu bang"
"Gw bukan suudzon dek memang banyak lelaki seperti itu mending lu balik lagi deh ke asalnya yah" bujuk Vani agar adiknya kembali lagi ke Bandung
"Udah deh kalo lu ke sini cuma mau cari ribut mending lu pergi deh ganggu aja" Tasya meninggalkan Abangnya sendirian dikamar lalu duduk di kursi makan lalu abangnya mengikutinya kemana dia pergi
"Dek apa lu gak kangen sama ibu dia sakit-sakitan disana ibu selalu mengigau nyebut nama lu, gw jadi kasihan sama ibu disana"
"Ibu sakit! Kenapa lu gak bilang kalo ibu sakit disana bang" omel Tasya yang tidak diberitahukan jika ibunya sedang sakit
"Ibu selalu bilang jangan kasih tau lu kalo ibu sakit dia gak mau lu khawatir sama dia" ujar Vano
"Besok gw pulang ke Bandung"
"Yang benar dek" lalu Tasya mengangguk kemudian abangnya memeluk adiknya yang bahagia kalo adiknya kembali lagi ke Bandung
"Pengorbanan gw ke Jakarta gak sia-sia deh" vano senang jika adiknya kembali lagi ke Bandung untuk berkumpul bersama-sama lagi seperti dulu tapi nyatanya Tasya ingin kembali lagi ke Jakarta
"Tapi untuk jenguk ibu aja setelah itu gw pulang lagi ke sini"
"Lu tega dek sama ibu dia itu butuh lu buat nemenin disana ibu sendirian disaat gw lagi kerja kalo gw ngurusin ibu siapa yang bakal kerja buat makan disana apa lu tega liat ibu kesepian disana gak ada yang nemenin" jelas Vano untuk menyadari bahwa ibunya lebih penting dari pada kerjanya yang ada dijakarta
"Yah lu tinggal jaga ibu aja bang nanti gw yang kerja"
"Kami gak butuh uang dari lu dek kamu hanya ingin berkumpul bersama-sama seperti dulu lagi apa itu berat dek"
"Tapi bang pekerjaan disana itu gajinya kecil berbeda dengan dijakarta gajinya besar bang gaji disana gak cukup buat makan sehari-hari kita nanti"
"Seterah lu dek gw cape ngomong sama lu, gw hanya bilangin aja jangan sampai menyesal dikemudian hari ingat dek kita udah ditinggal oleh ayah jadi jangan sampai ibu meninggalkan kita nanti"
"Lu kok ngomong gitu sih bang ibu pasti selalu bersama kita ibu gak akan ninggalin kita" protes Tasya
"Semua manusia bakal pergi ninggalin dunia ini dek jadi jangan sia-siakan ibu, gw liat kondisi ibu sudah semakin parah mangkanya gw mau bawa lu ke Bandung siapa tau ibu bisa sembuh setelah bertemu lu nanti"
"Jangan gitu dong bang jadi sedih nih gw"
"Sosoan lu pake sedih segala" ejek Vano yang menundukkan badannya ke kursi makan
"Oh iya gimana kerja lu dek"
"Gw mengundurkan diri bang"
"Hah kenapa! Lu gila yah cari pekerjaan itu susah kenapa lu malah mengundurkan diri sih"
"Habisnya gw kezel sama boss gw dia berani banget bentakin gw segala enak aja gw digituin apa lagi mantan istrinya tuh ngeselin banget" gerutu Tasya
"Jadi kepo gw sama boss lu kira-kira orangnya ganteng gak yah" pikir Vano dengan satu jarinya didagu yang memikirkan boss adiknya
"Ganteng apaan jelek gitu"
"Masa sih" goda vano
"Tau ah ngomong sama lu gak guna" Tasya pergi ke kamarnya dia kezel sama abangnya sedari tadiSaya akan membuat kamu jatuh cinta kepada saya
-Revan
Pagi hari sebelum ke Bandung Tasya pergi ke kantor terlebih dahulu karena ia ingin memberikan surat mengundurkan diri kepada bossnya itu sampai dikantor Tasya langsung masuk ke ruangannya dia melihat sudah ada Revan yang duduk santai di kursi kebesarannya itu dengan wajah dingin
"Surat apa itu" langsung saja Tasya meletakkan surat pengunduran dirinya diatas meja