"Ini temanku, kamu jangan ganggu dia!" ketus gadis kecil dengan kulit putih kemerahan itu.
Gelak tawa segerombolan anak laki-laki sontak menggema, menertawakan si kecil Melisa yang tengah menggandeng tangan anak laki-laki di sampingnya.
"Ini temanmu? Kamu berteman sama anak culun kayak dia? Yang benar saja?!"
Deru nafas Melisa naik turun, menandakan dia sangat emosi. Tangannya mengulur meraih kerah baju anak laki-laki yang menurutnya sangat cerewet barusan. Di tariknya kencang, hingga anak laki-laki tersebut terjerembab dan mengaduh kesakitan.
"Awas aja kalo masih gangguin temanku, aku pukul kamu!" ketusnya seraya menggandeng temannya menjauh.
Melisa putri Adhitama memang masih berusia lima tahun, namun karena Papanya sudah memasukkan dia di kelas bela diri sejak usia tiga tahun, membuatnya menjadi gadis kecil yang kuat.
Melisa benci dengan penindasan, bullying, dan perundungan. Jiwa sosialnya menurun dari Mamanya yang seorang psikiater.
"Kak, kenapa diam aja? Kenapa nggak lawan?"
"A-Aku takut," lirihnya di sela-sela isak tangis.
"Kak! Jangan cengeng, dong!"
"Maaf."
Hanya itu yang mampu di ucapkan oleh Rommy. Putra tunggal dari keluarga Antarez itu memang memiliki sifat lembut yang malah menjadi bumerang untuknya. Ia jadi sering di-bully, bahkan mengalami penindasan.
Rommy Gio Anatarez hanyalah anak kecil berusia sepuluh tahun yang sangat bergantung dengan Melisa, hampir setiap hari mereka bermain bersama. Rommy tidak bisa bela diri, dia kerap di olok-olok karena cengeng dan pendiam.
Culun, lemah, hanya berlindung di balik ketiak orang tuanya, dan semua hinaan lain sudah sering Rommy terima. Namun dia hanya bisa diam, tanpa bisa melawan karena takut di pukul.
Karena tidak tahan melihat Rommy yang terlalu lemah, akhirnya Melisa memutuskan mengajarkan dasar bela diri pada Rommy. Berharap teman culunnya itu bisa melawan saat ada yang menindas, dan tidak lagi cengeng saat ada yang merundungnya.
Sampai perlahan Rommy bisa menguasai beberapa teknik, dan itu tidak pernah di ketahui orang tuanya. Hanya dia dan Melisa yang tahu, mulai dari situlah Rommy menaruh kekaguman pada Melisa. Gadis kecil tomboy yang ia anggap malaikatnya.
****
Seiring berlalunya hari, Rommy mulai bisa bertindak tegas. Dia selalu bangga atas apa yang di ajarkan Melisa. Hingga sampailah di penghujung tahun ajaran baru, Orang tua Rommy mengajaknya pindah ke Australia.
Itu artinya, dia akan berpisah dengan malaikat kecilnya. Tentu bukan dia saja yang bersedih, bahkan Melisa juga meminta ikut pindah ke Australia agar bisa terus bersama Rommy.
Bukan tanpa alasan, Marcell Antarez dan Lioni Claudya terpaksa pindah karena Marcell harus mengurus perusahaan peninggalan Ibunya di sana, sementara Ayahnya sibuk mengurus rumah sakit keluarga mereka.
"Aku mau ikut, Bund. Aku janji nggak akan nyusahin Bunda," pinta Melisa.
"Sayang..," ujar Lioni, "setiap hari kalian bisa video call, kita akan sering komunikasi nantinya. Kamu jangan sedih, ya. Kita juga akan pulang setiap enam bulan sekali, Sayang," rayunya lembut.
Bukannya membaik, Melisa malah semakin menangis kencang. Kaki kecilnya berlari cepat menaiki tangga menuju kamarnya. Rommy yang merasa tidak tega lantas menyusulnya, ia mendapati Melisa meringkuk di dalam kamar dengan wajah banjir air mata.
"Kak, kamu mau pamitan, ya?" Melisa menghapus air matanya kasar.
"Mel, aku minta maaf udah buat kamu sedih. Tapi, aku janji bakal telepon kamu setiap hari, kita akan tetap menjadi teman."
Melisa mengerjap lucu, air matanya luruh kembali membasahi pipi gembulnya. Rommy membawa tangannya mengusap lelehan air mata tersebut.
"Jangan nangis, bukannya kamu yang bilang kita harus kuat?"
"Aku nggak mau jauh dari kamu, Kak."
Rommy menghela nafas sejenak, "Melisa, ini kamu terima." Rommy menyodorkan sebuah gelang karet.
"Gelang apa ini, Kak?"
"Gelang persahabatan, aku bingung mau kasih apa. Yang aku punya hanya itu."
"Makasih, Kak."
"Sama-sama, Mel."
Kedua anak kecil itu berpelukan, saling menguatkan walau sama-sama menangis. Rommy berjanji dalam hatinya akan selalu menjaga dirinya untuk Melisa, dia akan membuat Melisa bangga karena dirinya sudah menjadi anak laki-laki yang kuat.
****
Keesokan paginya.
Keluarga Yudis mengantarkan keluarga Marcell sampai Bandara, perpisahan itu di iringi tangisan pilu. Terlebih Rommy dan Melisa, sahabat kecil itu terasa berat untuk berpisah.
Lioni menciumi seluruh wajah Melisa, wanita itu mengatakan akan menelepon saat mereka telah tiba di Australia. Barulah Melisa menghentikan tangisnya, dan Yudis gegas membawa putri kecilnya pulang.
Hanya menyisakan Mama Melisa, Natasya, di sana. Wanita itu memandang lekat si kecil Rommy, memeluk erat tubuh kecil yang sebentar lagi akan jauh dengannya.
"Mama, jangan menangis lagi. Rommy janji akan jaga diri baik-baik, dan Rommy akan kembali lagi ke Indonesia," bisiknya
"Iya, Sayang."
"Mama, nanti saat aku pulang izinkan aku menikahi Melisa. Izinkan aku menjaga Melisa sama seperti dia menjagaku selama ini, Mah."
Natasya semakin terisak, ia hanya mampu menangguk dan mencium kening Rommy sebelum anak kecil itu memasuki pesawat. Beberapa menit kemudian pesawat tersebut lepas landas, meninggalkan Indonesia dan semua kenangannya.
Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Melisa masih sedih dengan perpisahan itu. Setiap harinya ia akan menunggu saat Lioni menelpon, bahkan saat kepulangan keluarga Marcell ke Indonesia, tidak sehari pun Melisa melewatkan kesempatan bermain dengan Rommy.
Sampai pada akhirnya di tahun kelima keluarga Marcell semakin jarang pulang, Melisa kembali bersedih. Dia mulai menanyakan pada Mamanya apakah Rommy telah melupakannya? Kenapa Rommy tidak pulang? Bahkan pesannya jarang di balas, bukankah dulu Rommy berjanji akan menghubunginya setiap hari?
Di sisi lain, Marcell semakin sibuk dengan perusahaan Mamanya. Hal itu yang menyebabkannya jarang pulang ke Indonesia. Dan Rommy, hanya bisa pasrah. Dirinya hanya bisa menahan kerinduan yang hanya di pendamnya sendiri.
Setiap malam ia mendengar Bundanya bertelepon dengan Natasya, Bundanya selalu menangis saat keduanya membahas Melisa. Dan itu juga membuat hati Rommy meranggas, seperti ada tangan tak kasat mata meremas jantungnya.
****
Hingga tahun terus berganti, tidak terasa kini Rommy sudah menginjak usia 27 tahun. Tubuh tinggi tegap dan wajah tampan bak dewa yunani menjadikannya incaran wanita. Tubuh kekarnya berkat latihannya membentuk otot selama ini semakin membuatnya sempurna.
Sebenernya ia sudah sering bolak-balik Indonesia untuk mengawasi perusahaan keluarga mereka. Namun, Rommy masih belum siap menemui Melisa. Ia hanya akan memantaunya dari jauh.
Mungkin nanti jika takdir sudah mengizinkannya, dia akan langsung melamar Melisa. Apalagi saat ia tahu Bundanya sudah berencana dengan sang Mama, Natasya, akan menjodohkan dirinya dengan Melisa.
Sampai pada tahun kedua setelah kelulusannya dari progam S2, Rommy mulai jengah hanya mengawasi saja. Dia ingin segera menyapa gadis cantiknya, ingin segera mengikat Melisa pada tali suci pernikahan.
"Kalo sudah sampai Indonesia, sampaikan salam Ayah dan Bunda pada keluarga Papa Yudis, ya, Nak," ujar Marcell.
Beruntung Marcell langsung mengizinkannya pulang ke Indonesia, walaupun Marcell baru akan pulang tiga bulan setelahnya. Tidak masalah, yang penting Rommy bisa selalu dekat dengan Melisa.
"Jangan lupa untuk menjaga Melisa, ya, Nak. Bunda tahu tangisannya setiap malam karena merindukan kita, tolong sampaikan maaf Bunda padanya, Nak. Karena Ayah dan Bunda kalian jadi berjauhan."
"Jangan seperti ini, Bund. Melisa pasti paham, dia gadis yang pintar."
"Yeah," timpal Lioni, "dia memang gadis yang manis. Calon menantu Bunda memang sangat pintar dan manis."
Jawaban Lioni tak ayal membuat Marcell dan Rommy tergelak. Membayangkan Melisa menjadi bagian dari keluarga Antarez adalah khayalan Lioni sejak dulu.
"Aku akan segera mewujudkannya, Bund. Melisa akan segera menjadi menantumu."
"Semoga Tuhan merestui, Nak. Ayah dan Bunda sangat mengharapkan itu," jawab Marcell.
"Iya, Ayah. Doakan saja," timpalnya yang langsung di angguki oleh Marcell dan Lioni.
Di sisi lain, Melisa yang setiap harinya berlatih di tempat gym kini tumbuh dengan tubuh proporsional dengan otot yang matang. Dia sengaja menempa dirinya dengan keras agar bisa melupakan Rommy, namun siapa yang tahu dengan hatinya? Hatinya selalu menangis saat mengingat tentang Rommy.
Gadis cantik dengan tinggi semampai dan paras manis itu mencurahkan seluruh kesedihannya pada pekerjaan. Yeah, dia bekerja freelance sebagai konsultan bisnis. Dengan menggunakan relasi Papanya, ia dengan mudah menjalin kerja sama dengan banyak perusahaan besar.
****
Malam hari
Ditemani dinginnya angin malam, Melisa memandang nanar langit malam dari balkon. Udara dingin tidak menyurutkan niatnya walaupun beberapa kali ia tampak mengusuk-usukkan telapak tangan.
"Rom, langit di sana gimana? Banyak bintang nggak? Atau malah mendung. Di sini cerah, Rom ... Cuman, hatiku yang mendung," monolognya.
Selama dua puluh tahun Melisa tidak bisa mengalihkan kesedihannya mau sekuat apapun usahanya. Bahkan di pergelangan tangannya masih melingkar gelang pemberian Rommy.
Melisa sempat berpikir. Apakah dia tidak akan bisa lepas dari bayang-bayang Rommy? Lalu, bagaimana jika Rommy sudah mempunyai kekasih?
Melisa menghela nafas kasar, selanjutnya ia memutuskan masuk kamar. Tangannya meraih laptop, membukanya, dan mulai mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum selesai. Mungkin dengan ini pikirannya bisa sedikit teralihkan.
Kting!
Saat tengah fokus, indra pendengarannya menangkap deringan singkat pada ponselnya. Gegas tangannya mengulur, namun sejurus kemudian keningnya mengkerut saat mendapati pesan dari nomor tidak di kenal.
[Melisa, apa kabar? Aku besok pulang ke Indonesia. Sampai ketemu, ya. Rommy gio.]
Tulis sebuah nomor asing tersebut yang membuat jantung Melisa seolah berhenti. Ia bisa mendengar sendiri jantungnya berderu keras, tubuhnya sontak menegang dengan darah seolah naik ke pusat tubuhnya.
"Rommy?" gumamnya.
Matanya berembun, dengan bibir bergetar ia kembali menggumamkan nama itu. Nama yang selama dua puluh tahun ini tidak pernah membuat tidurnya nyenyak.
Rommy menginjakkan kakinya di Bandara kota Jakarta tepat pada jam delapan pagi, laki-laki itu menghirup dalam oksigen kota yang telah lama tidak mengisi rongga paru-parunya.
Gegas ia melangkahkan kaki menuju parkiran menghampiri mobil yang sudah menunggunya sejak tadi. Rommy lantas masuk, dan mobil itu membawa dirinya menuju mansion Antarez.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya mobil mewah tersebut telah sampai di halaman mansion. Rommy gegas turun dan memutuskan beristirahat sejenak sebelum nanti sore mengunjungi mansion Adhitama.
"Huh, air di sini memang nggak terlalu dingin. Bahkan aku sudah kepanasan sekarang," gumamnya.
"Lebih baik aku tidur saja, biar nanti fresh waktu ketemu Papa sama Mama. Dan ... Melisa," sudut bibirnya tertarik menyinggungkan senyum saat menggumamkan nama itu.
Ada kerinduan yang membuncah di sudut hatinya, kerinduan yang bahkan ia sendiri sulit menjelaskannya. Ini bukan lagi perasaan rindu pada seorang teman, ini adalah kerinduan pada wanita yang di cintai.
**
Di sisi lain, Melisa sudah siap dengan dress polos selutut berwarna putih. Dia berdiri dengan gelisah menanti kedatangan sahabat baiknya. Pagi ini ia berniat menemani sahabatnya mengisi seminar di salah satu hotel berbintang.
Sudah lima belas menit dia disana, menatap gelisah pada gerbang megah itu yang belum menampakan tanda-tanda sahabatnya akan datang.
"Kok belum berangkat?" tanya Natasya.
"Karin belum jemput, Mah. Mungkin kena macet."
Natasya mengangguk.
"Eh, kamu udah tahu kalo Rommy hari ini ke Indonesia?"
"A-Aku," jawabnya gelagapan, "nggak tahu."
"Bunda semalam yang bilang, Mel. Katanya Rommy udah siap pegang Antarez Company, jadi Ayah Marcell ngizinin dia pulang."
"Oh, gitu."
"Kamu nggak mau ketemu?"
Melisa menggeleng.
"Buat apa, Mah? Dia aja beberapa tahun terakhir nggak pernah balas pesanku, berarti dia udah lupain aku, dong."
"Nggak gitu, Mel. Rommy itu sibuk, dia buru-buru selesaiin S2-nya biar bisa cepet pulang."
"Sama aja, intinya Rommy udah lupa sama aku."
Natasya menghela nafas kasar, percuma berbicara dengan putrinya. Karena dia pun tahu bagaimana kecewanya Melisa pada Rommy. Selama ini Melisa selalu menunggu Rommy, namun jangankan datang. Bahkan pesan saja seakan di abaikan.
Maka wajar jika Melisa bersikap seperti ini. Padahal Melisa masih mengingat Rommy, lalu kenapa Rommy melupakannya? Itu yang ada dalam pikiran Melisa selama ini.
Tidak seberapa lama, sebuah mobil sport memasuki gerbang mansion. Melisa segera meraih tangan Natasya dan menyalaminya, gadis itu segera berjalan menuju mobil dan pergi meninggalkan halaman mansion.
"Kenapa murung gitu?"
"Sebel," jawab Melisa singkat, netranya masih memandang lurus pada jalanan di depannya.
"Kenapa lagi?"
"Dia pulang, Rin," lirihnya.
"Bagus, dong. Kenapa malah murung?"
"Bagus apanya?! Aku nggak mau ketemu sama dia, aku masih benci."
"Benci apa? Benar-benar cinta?"
Melisa melirik sebal. Sebenarnya ia bingung, dirinya grogi akan berhadapan dengan seseorang di masa lalunya. Apalagi sekarang pasti penampilan Rommy berubah.
"Jangan ngomong kayak gitu, nanti kamu malah terpesona gimana?"
"Ih, enggak! Kamu nggak tahu aja aku beneran benci sama dia. Selama ini dia lupa sama aku, dan bisa-bisanya semalam dia kirim pesan, katanya hari ini pulang. Nyebelin 'kan?"
Karin terkekeh lirih, "kalo lupa mana mungkin dia kirim pesan, Mel?"
"Tapi itu kenyataannya. Kamu tahu sendiri curhatan aku, Rin."
"Iya, aku tahu. Tapi kamu nggak tahu 'kan penjelasan dari sisi dia? Bukannya aku pernah bilang, dia akan pergi dan akan kembali dengan versi yang lebih baik. Atau akan datang 'dia' yang lain, dengan nama lain, dengan cinta yang lebih dalam buat kamu."
Melisa terdiam mendengar penjelasan panjang Karin, diam-diam dia berpikir. Apakah Rommy kali ini datang dengan versi terbaiknya?
"Apa benar?" lirihnya.
"Nggak ada yang tahu sebelum kamu ketemu sama dia, Mel. Udahlah santai aja."
Melisa melirik sekali lagi pada sahabatnya itu. Karin sudah pernah mengalami kepahitan dalam cinta, ia pasti lebih berpengalaman.
"Kamu bener, Rin. Aku terlalu cepat menyimpulkan."
Karin hanya menimpalinya dengan kekehan. Tanpa di jelaskan pun ia sudah tahu kalau Melisa memendam gengsi tinggi, ia tidak mau ada yang tahu perasaan aslinya.
****
Sore hari | Mansion Adhitama
Dengan gagahnya Rommy berjalan memasuki mansion yang sudah lama tidak ia kunjungi tersebut. Dengan senyum lebar netranya menelisik ke seluruh isi mansion, tidak banyak yang berubah. Hanya beberapa foto saja yang bertambah.
Rommy sangat merindukan mansion ini, mansion tempatnya berpisah dengan Melisa. Sejenak perasaannya menghangat, mengenang kembali masa-masa lucu dua puluh tahun silam.
"Nak, kamu udah sampai?!"
Natasya berlari kecil dan langsung menghamburkan dirinya pada pelukan Rommy, tidak terasa air matanya menetes. Ternyata benar kata orang, pertemuan penuh kerinduan itu mengharukan.
"Udah dari tadi, Rom? Kenapa nggak ke dalem?"
"Papa," gumamnya, "aku baru aja sampai, masih lihat-lihat foto ini."
"Kamu kangen sama Melisa?"
"Selama dua puluh tahun aku menahan untuk hari ini, Pah. Mana mungkin aku nggak kangen?"
Yudis tergelak, dia menggandeng tangan Rommy untuk duduk di sofa. Pertemuan sore itu benar-benar sukses membuat Natasya banjir air mata, apalagi saat ia melihat Rommy tumbuh menjadi sosok tampan nan rupawan.
'Kamu pasti akan terkejut, Sayang. Rommy sekarang jauh berbeda di bandingkan dua puluh tahun yang lalu,' batinnya.
Mereka berbincang banyak hal, hingga tidak terasa waktu sudah memasuki jam makan malam. Pasangan paruh baya itu mengajak serta Rommy menikmati hidangan yang ada, tentu Rommy langsung mengiyakan.
"Oh, iya, Pah. Aku nanti mau bicara hal penting."
"Mau di ruang kerja Papa atau di ruang keluarga saja, Rom?"
"Di ruang keluarga nggak papa, Pah. Cukup Papa dan Mama."
"Tentang apa, Rom?" tanya Natasya penasaran.
"Tentang keinginan yang sudah lama aku pendam, Mah."
Natasya mengulas senyum, "selesaikan dulu makannya, ya. Jangan buru-buru."
Rommy mengangguk dengan senyum manis menghias bibirnya. Sekitar lima belas menit, mereka telah menyelesaikan makan malam. Barulah ketiganya beranjak menuju ruang keluarga.
Ruangan yang biasanya digunakan untuk bersantai ini, entah kenapa saat ini suasana terasa mendebarkan. Apalagi Rommy yang masih bungkam selama hampir sepuluh menit.
"Pah, Mah," ujarnya, "sebelumnya aku mau minta maaf karena jarang telepon."
"Nggak papa, Rom. Kami ngerti sama kesibukan kamu," timpal Natasya.
Rommy menarik nafas dalam. Ia bisa merasakan tiba-tiba tubuhnya mendingin dengan detak jantung tidak beraturan.
"Papa, Mama ... Aku izin meminang Melisa menjadi istriku, aku izin untuk menjadikan Melisa belahan jiwaku. Aku sudah memendam ini sejak lama, Pah. Dan aku sudah memikirkan semuanya dengan matang."
Yudis dan Natasya saling pandang, kedua paruh baya itu merasakan perasaannya menghangat akan permintaan Rommy. Mereka berdua juga mengharapkan hal yang sama.
"Jika dulu Melisa yang menjagaku, izinkan sekarang aku yang menjaganya, Pah. Izinkan aku mencintainya setiap hari, dan izinkan aku meluapkan rasa sayangku padanya dengan cara yang halal."
"Rom, kamu yakin?" tanya Yudis.
"Keyakinanku mungkin yang membawaku kesini, Pah," lirihnya sambil menundukkan kepala.
"Kenapa harus putri Papa? Kalian tidak pernah bertemu selama dua puluh tahun lebih, apa kamu yakin? Sekali lagi Papa tanya, apa kamu yakin?"
"Sekali lagi maafkan aku. Jika dengan adanya aku tiba di sini dengan membawa niat tulusku membuat Papa bertanya tentang keyakinanku. Tapi, satu hal yang harus Papa tahu. Aku tidak pernah bermain-main."
Yudis tersenyum lebar mendengarnya. Ia semakin yakin bahwa karakter Rommy sudah terbentuk sempurna. Rommy telah menjelma menjadi pria dengan pendirian teguh dan pantang menyerah.
Yudis menepuk bahu Rommy, kepalanya mangut-mangut seolah memberikan restu. Begitu pula dengan Natasya yang menatap bangga pada perubahan sifat Rommy.
"Kapan Ayah Bundamu mau ke sini? Bukannya lamaran secara resmi perlu di gelar?"
"Secepatnya. Yeah, aku akan minta mereka pulang secepatnya, Pah."
Yudis tergelak, "rayu dulu Melisa. Dia menahan kesedihan selama dua puluh tahun, mungkin kamu perlu banyak kesabaran nantinya."
"Aku akan berusaha, Pah," jawabnya penuh keyakinan.
Yudis tergelak lagi begitu pula dengan Natasya. Dan tidak terasa malam semakin merangkak larut, Rommy memutuskan pulang setelahnya. Laki-laki itu pulang dengan perasaan lega, restu sudah ada di tangannya. Tinggal melunakkan hati gadisnya saja.
****
Sampai di mansionnya, Rommy langsung menghubungi asisten pribadinya. Asisten yang ia percayakan untuk mengelola perusahaan saat dirinya tidak ada di Indonesia.
"Halo, Bos," ucap seseorang di seberang telepon.
"Halo. Lagi sibuk?"
"Nggak, Bos. Kenapa?"
"Gue ada satu tugas buat, lo. Ini penting banget, awas sampe salah."
Hening! Hanya terdengar deru nafas dari seberang sana.
"Heh, lo tidur?"
"Eh, enggak. Nggak, Bos, cuma mikir mau ada tugas apa."
Rommy menghela nafas sejenak, "nanti gue kirim alamatnya terus besok lo harus datengin, ya. Terus sampe sana lo mintain kerjasama."
"Ha? Gimana, sih?"
"Lo kenapa telmi banget, sih, Boy!"
"Bukan saya, tapi Bos yang nggak jelas ngomongnya."
Rommy meraup wajah kasar, bisa-bisanya si asisten malah menguji kesabarannya.
"Gue minta lo buat kontrak kerjasama sama salah satu konsultan bisnis, besok gue kasih alamatnya. Dan lo harus dateng ke sana, jangan lewat surel."
"Orang apa perusahaan, Bos?"
"Orang. Inget, ya! Harus dapet."
"Oh, gitu. Ngomong gitu lah dari tadi, Bos. Biar saya langsung paham, ngomong kok nggak jelas."
Lagi, Rommy menggeram kesal. Untung asistennya ini sangat berguna, kalau tidak pasti sudah dia pecat.
"Udah, lah, capek gue ngomong sama, lo!"
TUT!
Rommy melempar asal ponselnya, jika tidak karena Melisa malas sekali dia meladeni Boy malam-malam. Akhirnya ia memutuskan mandi sebelum tidur, setidaknya tubuhnya bisa fresh kembali.
Di bawah kucuran shower Rommy memejamkan matanya, pikirannya menerawang jauh membayangkan gadis pujaan hatinya. Ada rasa tidak sabar untuk bisa segera bertemu.
"Aku akan membuatmu tidak bisa juah dariku, Mel. Apapun, apapun akan aku usahakan demi kamu," gumamnya lirih.
"Selamat pagi, Mama..," suara Melisa menggema memasuki ruang makan yang tadinya senyap.
Gadis cantik itu langsung mencium kedua pipi, dan menyalami tangan sang Mama, Natasya. Netranya melirik ke arah meja makan, tersaji banyak hidangan di sana. Tidak biasanya seperti ini jika untuk sarapan saja.
"Banyak banget," gumamnya.
"Mau ada tamu, Sayang."
"Siapa?"
"Ada, deh. Nanti aja kamu lihat, salah sendiri semalam nggak pulang."
"Enggak. Aku 'kan nginep di tempat Karin, nonton drakor sampe pagi."
Natasya mendengus lirih, "ya udah sana mandi. Nanti mungkin Rommy ke sini."
Deg!
Melisa menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi asyik mencomot makanan. Mendengar nama itu benar-benar tidak baik untuk jantungnya. Ada getaran yang tidak biasa di sana, bahkan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Ngapain?"
"Mau sarapan bareng katanya."
"Oh, ini untuk Rommy?" netranya melirik pada meja makan.
Natasya mengangguk.
"Rommy semalam ke sini, katanya dia kangen sama kamu. Dia mau lamar kamu, loh, Mel. Seneng nggak?"
"Biasa aja," bohongnya.
'Lamar? Dia mau jadiin gue istri? Gila! Yang bener aja?!' batinnya berkecamuk.
"Kenapa, sih? Bunda Lio dari dulu juga mau kamu jadi mantunya, Mel."
"Nggak mau. Kalo Mama mau, ya Mama aja yang nikah sama Rommy."
Plakkk!
"Aww," Melisa mengaduh saat tangannya di geplak. Panas dan sedikit ngilu.
"Kebiasaan, deh, kalo ngomong nggak ada saringannya. Lagian Papa sama Mama udah seneng."
"Aku 'kan enggak. Aku nggak mau nikah sama dia."
"Kenapa lagi, Melisa?! Dia itu udah berubah, loh. Selain ganteng dia juga pinter."
"Halah, nggak percaya. Namanya culun tetep aja culun, Mah. Mau di apa-apain juga dia itu tetep Rommy yang cengeng, dia nggak akan bisa imbangi aku."
"Jangan ngomong gitu, Mel. Nanti kamu kesengsem baru tahu rasa."
Melisa mengedikkan bahu.
"Terserah, Mah. Aku tetep nggak mau di jodoh-jodohin gini, aku mau nikah sama pilihan aku sendiri."
"Kayak kamu punya pacar aja," sahut Natasya yang langsung menampar Melisa dengan kenyataan.
Hening! Melisa terdiam mengatupkan bibir. Ia baru sadar jika dirinya tidak punya pacar. Gimana mau punya pacar? Sedangkan selama ini hatinya masih tertutup. Hanya ada Rommy di sana, namun sayang sekali gengsinya terlalu tinggi.
"Nah, diem 'kan? Udah nggak usah mikir macem-macem, tinggal bilang iya gitu aja susah amat."
"Ih, Mama ... Aku nggak mau," rengeknya.
"Karena dia culun?"
Melisa menangguk, "aku nggak mau punya suami cul..," ucapan Melisa terjeda saat mendengar suara seseorang mengucapkan salam.
Tidak seberapa lama seorang laki-laki dengan penampilan casual memasuki ruangan tersebut, dengan tangan kirinya menggenggam goodie bag. Senyum di bibirnya melengkung sempurna, apalagi saat tatap matanya beradu pandang dengan gadis pujaan hatinya.
'D-Dia Rommy? Kok jadi ganteng? Dulu 'kan nggak gini, dulu dia culun. Kenapa sekarang jadi ganteng banget, bisa oleng gue,' batinnya.
Pandangan Melisa terus mengikuti pergerakan Rommy. Dia menatapnya dalam, menelisik seluruh penampilan Rommy yang sudah sangat berubah.
'Kamu kelihatan jauh lebih baik, Rom. Kamu benar-benar kembali dengan versi terbaikmu. Duh, kalo gini caranya, bisa hanyut gue!' rutuknya dalam hati.
Melisa mengakui Rommy sangat tampan. Apalagi rahang tegas itu membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan. Gagal sudah rencananya jual mahal, kalau begini caranya malah dia yang meminta langsung di nikahkan saja.
'Nggak, gue nggak boleh lemah! Enak banget dia ninggalin gue selama ini, terus dateng-dateng ngelamar. Setidaknya Rommy harus berjuang buat gue. Yeah, dia nggak boleh dapetin gue dengan mudah!' tekadnya.
Otaknya sudah menyusun banyak rencana balas dendam. Dia harus menjadi wanita yang sulit di gapai, pantang baginya mudah terbujuk rayuan buaya. Walaupun buaya itu sangat tampan.
"Hai, Mel."
Melisa mengangguk singkat.
"Aku mau naik dulu, belom mandi."
"Kenapa naik? Aku 'kan masih kangen."
"Kangen?" tanyanya bingung, "tapi aku nggak kangen. Gimana, dong?"
Rommy tertawa kecil.
"Ya udah sana kalo mau naik. Tapi jangan lama-lama, aku mau ngobrol banyak sama kamu."
"Ngobrol sama Mama aja, sono!" ketusnya.
Rommy melepas gelak tawanya melihat tingkah menggemaskan Melisa. Dia harus banyak bersabar, apalagi pasti gadis tangguh seperti Melisa malas meladeni gombalan tidak berguna.
****
Beberapa menit kemudian
Melisa menuruni tangga dan mendapati Rommy tampak berbincang akrab dengan Mamanya. Beberapa kali Mamanya melepas gelak tawa, entah apa yang mereka bicarakan.
"Lama benget, Mel? Kamu tidur apa mandi?"
"Mandi, Mah. Biasalah anak cewek."
"Ya udah ini kamu temenin Rommy makan, ya. Mama mau masuk dulu."
"Lah, kenapa nggak makan dari tadi? Harus banget nungguin aku turun?"
"Mel..," sahut Natasya, "makan yang banyak, ya, Rom. Nanti kalo ada yang kurang bilang aja sama Melisa," ucap Natasya kepada Rommy.
"Ada pelayan kok nyuruh aku," gumam Melisa.
Sementara Rommy hanya mengulum senyum. Ia mulai mengalihkan pandangan pada gadis di depannya. Tidak banyak yang berubah, kecantikan masih memancar anggun dari wajah Melisa.
"Kamu nggak makan, Mel?"
"Aku udah makan tadi."
"Kapan?" tanya Rommy sambil menyendokkan nasi ke dalam piringnya.
"Kepo! Makan tinggal makan aja kenapa pake wawancara segala, sih."
Rommy malah tergelak yang semakin membuat Melisa sebal. Namun, ada perasaan senang di sudut hatinya. Entahlah, perasannya kini beradu.
"Nanti malam ayo keluar, aku mau ajak kamu ke rumah pohon. Aku kangen banget sama rumah pohon, dulu kita sering main ke sana 'kan?"
"Nggak ada rumah pohon, pohonnya udah di tebang."
Rommy sekuat mungkin menahan tawanya, "oh, iya? Ya udah kita makan malam aja di luar. Gimana?"
"Nggak bisa, aku ada pekerjaan."
Rommy menghela nafas sejenak, netranya tidak sengaja melirik pada pergelangan tangan Melisa. Sudut bibirnya berkedut saat melihat gelang pemberiannya masih melingkar di sana.
"Mel, kamu masih pake gelang dari aku?"
"Iya, kenapa?"
'Sial! Harusnya gue lepas tadi gelangnya. Huh, sekarang gue harus cool. Nggak boleh kelihatan kalo grogi,' batinnya.
"Nggak papa, aku seneng kamu masih pake."
"Nggak usah kepedean, ini karena Mama nyuruh aku menghargai pemberian orang lain."
Rommy mengangguk, tangannya mengambil selembar tisu dan mengelapkannya ke mulut. Kemudian ia mengambil segelas air dan menenggaknya sampai habis.
Setelahnya laki-laki itu mengalihkan pandangannya pada Melisa, netranya menghunus tajam pada manik indah gadisnya.
"Aku sayang sama kamu, Mel," ucapnya langsung.
Melisa tidak menjawab, ia hanya menatap sayu pada Rommy yang masih belum mengalihkan pandangannya.
"Kamu mau nggak nikah sama aku? Mungkin ini terkesan mendadak, tapi selama kita berjauhan aku selalu memikirkan hal ini."
Demi apapun saat ini jantung Melisa hampir melompat. Di lamar sedemikian rupa walaupun tidak romantis namun mampu membuat perasaanya berdebar.
"Aku nggak tahu harus bilang gimana. Tapi, yang harus kamu tahu adalah, aku mencintai kamu, Mel."
"Kalo aku nggak cinta gimana?"
"Nggak papa, aku bisa membuat kamu cinta sama aku."
'Dia nggak waras apa, ya, pulang dari luar negeri. Udah ngelamarnya nggak romantis, pake maksa-maksa lagi.'
"tiga bulan lagi Ayah sama Bunda pulang, kamu bisa pikirin selama itu. Aku bakal tunggu, kok."
"Nggak usah nunggu. Mending kamu cari calon istri lain, karena aku nggak mau."
"Tapi kamu harus mau, Mel."
Melisa membelalakkan matanya, "maksa banget, sih?!"
"Aku emang sukanya maksa, Melisa. Kalo nggak di paksa, kamu nggak akan mau."
"Kasih satu alasan kenapa aku harus nerima kamu," tantangnya.
"Karena aku mau nikahnya sama kamu. Dan kamu harus nikah sama aku," jawab Rommy dengan rasa bangga.
Melisa semakin membelalakkan matanya, menatap tidak percaya pada sosok laki-laki di depannya. Selain berubah penampilan, ternyata Rommy juga berubah semakin menyebalkan.
"Dah, lah. Aku pokoknya nggak mau!"
Rommy mengulum senyumnya, "masih ada banyak waktu. Nggak usah memutuskan sekarang, Mel."
"Aku udah punya pacar, Rom."
Rommy terdiam. Sekejap kemudian Melisa menyesali ucapannya, dia takut kalau Rommy langsung menyerah. Kenapa juga ia membuat alasan konyol. Lalu, siapa yang akan dia jadikan pacar bohongan?
"Tinggal putusin aja pacarmu, apa susahnya?"
Melisa semakin menganga, "gila!" ketusnya.
"Jangan di buat susah, Mel. Pokoknya kamu itu jodohku."
"Nggak mau! Kamu bukan tipeku!" Melisa langsung beranjak bangkit meninggalkan meja makan.
Ia melangkah dengan menghentakkan kakinya menaiki tangga. Menyisakan Rommy yang masih menatapnya dengan senyuman tipis.
"Menggemaskan," gumamnya.
Akhirnya Rommy memutuskan pulang. Namun, sebelumnya Rommy menghampiri sang Mama, Natasya, di halaman belakang. Ternyata juga ada Yudis di sana.
"Pah, nggak ke kantor?"
"Loh, Rommy," jawabnya, "kamu udah selesai? Melisa mana?"
Bukannya menjawab, Yudis malah balik bertanya. Persis seperti Melisa yang membutuhkan banyak kesabaran saat menghadapinya.
"Aku udah selesai, Pah. Melisa juga udah naik ke kamarnya."
"Gimana, Rom?" tanya Natasya.
"Melisa masih belum luluh, Mah. Mungkin ini terlalu cepat buat dia, tapi nggak papa. Masih banyak waktu sampai nanti Ayah dan Bunda pulang."
"Lebih baik Ayah Bundamu suruh cepet-cepet pulang, biar Melisa cepet mau," sahut Yudis yang membuat Rommy tergelak.
"Aku udah janji nggak akan paksa dia, Pah. Biar dia sadar sendiri dengan perasaannya."
Yudis mengangguk. Selanjutnya ia dan Natasya mengantarkan Rommy sampai teras. Kedua paruh baya itu menaruh harapan besar Rommy bisa meluluhkan hati putrinya, karena hanya Rommy laki-laki yang bisa mendampingi Melisa di masa mendatang.
****
Malam hari
Rommy tengah bersantai sambil menikmati segelas kopi dan sebatang rokok yang tersemat di jarinya. Bibirnya mengulas senyum lebar dan netranya menatap puas pada layar laptop di depannya.
Di sana terdapat salinan kontrak kerjasama yang Boy buat semalam, dan sudah di setujui oleh asisten Melisa tadi pagi. Benar-benar lebih cepat dari perkiraan Rommy, bibirnya tidak henti-hentinya tersenyum mengangumi Boy, sang asisten andalannya. Ia mulai membayangkan akan membuat Melisa terikat dengannya. Mau di luar, ataupun di kantor.
Drrrt!
Tiba-tiba deringan ponsel membuyarkan lamunan Rommy. Gegas tangannya meraih ponsel di dalam saku, membawanya ke depan muka, dan lantas menggeser tombol hijau saat mendapati nomor bodyguard kepercayaannya pada layar ponsel.
"Halo, Tuan, maaf menelepon malam-malam," ucap seseorang di seberang telepon.
"Ada apa?"
"Saya baru saja melihat sebuah mobil sport memasuki gerbang mansion Adhitama, dan tidak seberapa lama mobil itu keluar lagi, Tuan. Ada Nona Melisa dan seorang laki-laki di dalamnya."
Rommy mengangguk. Yeah, ia memang menempatkan bodyguardnya di sekeliling Melisa. Maka wajar jika selama ini dirinya bisa tau perkembangan Melisa. Seperti saat ini, bodyguardnya selalu melapor hal apa saja mengenai gadisnya itu.
"Ikuti saja, nanti kirimkan lokasinya."
"Baik, Tuan."
TUT!
Sambungan telepon tersebut terputus, Rommy masih menggenggam erat ponselnya dengan raut muka serius.
'Siapa laki-laki itu, Mel? Apa dia yang kau maksud kekasihmu?' batinnya.