Bab 1

CUT

Suara Om Andre–sutradara ftv kali ini, langsung membuat semua kru dan pemain ftv bersorak girang. Pasalnya ini sudah pukul dua malam. Syuting hari terakhir yang harusnya bisa cepat, malah molor berjam-jam karena ulah artis baru yang kebanyakan gaya.

"Om Andre, duluan ya," pamit Clara sambil melambaikan tangan ke arah Om Andre, kru dan pemain lainnya.

"Iya, Cla. Hati-hati di jalan," sahut Om Andre sambil mengacungkan jempolnya.

Clara berjalan menuju mobil diikuti oleh manajernya, Lisa. Begitu masuk ke dalam mobil. Clara menurunkan sandaran kursinya, memposisikan dirinya senyaman mungkin.

"Padahal hari ini scene kamu gak banyak, Cla. Kenapa sampai selarut ini baru kelar?" tanya Lisa seraya mengemudikan mobil menuju apartemen Clara.

"Gara-gara artis baru itu. Gak bisa akting kebanyakan gaya. Cengengesan lagi. Kesel banget," sahut Clara sambil mendengus dengan mata menatap layar ponselnya.

"Oh, gara-gara dia. Wajarlah kan artis baru, Cla."

"Tapi gak gitu juga, Lis," tandas Clara, "aku dulu gak gitu. Cengengesan, tebar pesona."

"Setiap orang kan beda-beda, Cla. Gak bisa pukul rata kaya gitu," ucap Lisa.

"Gak usah dibahas, Lis. Kita cepat sampai apartemen, aku capek banget," kata Clara menutup matanya.

***

Terbangun karena dering ponselnya yang begitu nyaring, Clara mengerjapkan mata terlebih dahulu sebelum meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidur.

"Hemm," sahut Clara dengan nada suara malas.

"Cla, hari ini kamu gak ada jadwal apa-apa. Free. Aku gak kesana ya, lagi ada acara keluarga nih di rumah. Datang nanti ya," ucap Lisa di ujung telepon.

"Iya, Lis. Aku tutup ya, masih ngantuk."

"Oke, Cla."

Clara meletakkan ponselnya sembarangan lalu melanjutkan tidurnya hingga jam sepuluh pagi. Begitu bangun, ia berendam di bathup beberapa saat, sebelum ia menuntaskan aktivitas mandinya. Mengenakan pakaian, Clara meninggalkan apartemennya dan menuju rumah Lis.

"Thanks, Cla. Yuk, masuk." Lisa mengambil buah tangan yang dibawa Clara dan mengajaknya masuk.

Clara sudah biasa main ke rumah Lisa, apalagi kalau memang tidak ada jadwal. Beberapa sepupu Lisa dengan cepat merapat dan berswafoto dengan Clara.

"Makasih, Ka Clara. Cantik banget, Kaka." Puji para sepupu Lisa.

Clara hanya memasang senyum membalas pujian dari mereka. Setelah acara makan siang, Clara pamit pulang pada Lisa sekeluarga.

"Setelah ini mau langsung balik ke apartemen?" tanya Lisa mengantarkan Clara ke mobilnya.

"Gak, Lis. Mau ke tempat Papa sebentar. Mungkin ke mall sebentar," sahut Clara masuk ke dalam mobil dan memasang seatbelt.

"Hati-hati ya, Cla," pesan Lisa sambil melambai.

Memasang musik kesukaannya, Clara kemudian melakukan mobilnya menuju bengkel ban mobil milik Papa. Usaha Papa yang dimulai sejak nol hingga besar seperti sekarang.

"Siang, Mbak Clara," sapa karyawan bengkel saat Clara turun.

"Siang, Mas." Clara melempar senyum lalu masuk ke dalam. Naik ke lantai dua tempat Papa berkantor. Tampak Papa sedang bersantai sambil menghisap rokoknya.

"Pa, sudah Clara bilang, Papa jangan merokok lagi," ucap Clara membuat Papa terkejut. Ia segera mematikan rokoknya.

"Kamu gak bilang mau ke sini," kata Papa.

"Jadi Clara harus lapor dulu?" Clara bertanya balik.

"Nggak. Papa kira kamu sibuk atau ada syuting," tukas Papa.

"Hari ini kebetulan gak ada jadwal, Pa. Tadi baru aja pulang dari rumah Lisa. Daripada di apartemen sendiri, Clara ke sini aja. Papa sudah makan?"

"Sudah. Kita ke bawah aja, Cla," ajak Papa kemudian berdiri dan mengajak Clara turun. Berjalan menuju cafe yang ada di lantai satu.

Clara lebih dulu menuju cafe, sementara Papa pergi ke toilet dulu.

"Mau minum apa, Mbak?"

"Lemon tea aja," sahut Clara sambil mengambil ponsel dari tasnya.

Pelayan cafe itu kembali ke dapur.

"Itu Naomi Clara kan?"

"Iya. Naomi Clara yang artis itu."

"Lebih cantik aslinya ya."

Pelayan cafe yang menanyakan hal itu mengamati Clara dan Papa yang tampak akrab dan sangat dekat.

"Dia dekat banget sama Bos. Coba liat, dia simpanan Bos ya?"

"Hush! Sembarangan kamu. Dia itu anak Bos. Anaknya Pak Wisnu. Kamu jaga mulut, kalau sampai Bos tau, kamu bisa langsung dipecat. Mau?"

"Ya kan aku gak tau. Biasanya kan artis kaya gitu. Pasti jadi simpanan orang berduit."

"Ckck. Antar ini ke depan."

"Iya," sahut pelayan ini sambil membawa nampan berisi dua gelas lemon tea. Begitu ia selesai menyajikan minuman, pelayan tadi meminta foto dengan Clara.

"Tadi aja ngatain, eh malah minta foto," ledek pelayan yang lain.

"Ya kan ketemu artis," sahutnya cuek. Pelayan baru cafe yang satu ini, memang agak sedikit beda. Suka nyahut dan berpikiran negatif.

Menikmati lemon tea nya bersama Papa, Clara sesekali memperhatikan beberapa pengunjung yang datang di bengkel mobil Papa. Seorang wanita dari meja kasir menghampiri mereka dengan membawa beberapa kertas di tangannya.

"Papa ke ruangan sebentar, Cla," ucap Papa.

"Iya, Pa. Cla di sini aja," sahut Clara seraya memperhatikan Papa dan wanita tadi naik ke lantai dua. Clara lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk cafe. Netranya seolah terpaku pada sebuah mobil SUV berwarna hitam yang baru saja masuk. Seorang pria turun dari dalam mobil kemudian berbincang sebentar dengan karyawan bengkel. Pria itu kemudian berjalan ke arah cafe. Langkahnya terhenti sejenak saat netranya langsung menatap Clara yang duduk persis searah pintu masuk.

'Clara' gumam pria itu dalam hati bersamaan dengan detak jantungnya yang mulai tak beraturan. Clara yang tadinya masih menatap pria itu menjadi teralih pandangan karena kedatangan Papa.

"Jadi setelah ini kamu mau kemana?"

"Kalau gak balik ke apartemen, jalan sebentar, Pa."

"Kalau kamu gak sibuk, sekali-kali menginap di rumah. Papa rindu sama kamu, Cla. Kita satu kota tapi susah ketemu," kata Papa.

"Iya Clara usahain, Pa," sahut Clara seraya berdiri. Papa memeluk anak semata wayangnya itu sebelum pulang.

"Kamu hati-hati, Cla," pesan Papa seraya berjalan hendak mengantarkan Clara menuju mobilnya. Namun langkah Clara sedikit melambat saat hampir melewati pria tadi.

"Clara?" Suara pria itu membuat langkah Clara benar-benar terhenti begitu juga dengan Papa.

"Kamu gak ingat sama aku?" tanya Pria itu lagi membuat Clara berpikir.

"Azka. Kita satu SMA."

"Bukan. Kamu kayaknya yang digosipin sama penyanyi itu kan?" tebak Clara.

'Kenapa Clara malah ngeh sama gosip sih' batin Azka sedikit kecewa. Ia berharap Clara ingat dengan dirinya sebagai Azka, bukan sebagai orang yang sedang diterpa gosip kedekatan dengan penyanyi.

"Papa ke atas dulu ya, Cla. Kamu hati-hati," pesan Papa kemudian meninggalkan mereka berdua.

"Iya, Pa," sahut Clara.

Dari arah belakang beberapa pelayan cafe datang mengantarkan pesanan Azka sekalian ingin meminta foto.

"Makasih ya, Mas Azka," ucap mereka senyum-senyum setelah berhasil berfoto dengan Azka.

Clara masih berdiri di dekat Azka.

"Aku duluan ya," ucap Clara.

"Jadi kamu beneran gak ingat sama aku?"

Clara menoleh. "Siapa? Aku tau kamu, tapi aku gak ingat kalau kita satu SMA."

"Coba kamu tanya manajer kamu. Lisa pasti tau," ucap Azka lagi. Clara menatap Azka sejenak kemudian berlalu dari tempat itu.

Azka kembali duduk setelah Clara pergi dari tempat itu. Senyum mengambang di bibirnya. Setelah sekian lama akhirnya ia berani menyapa Clara lebih dulu. Sejak lama ia memendam rasa, hari ini ia begitu senang melihat Clara dengan jarak yang sangat dekat. Pertemuan kali ini, membuat Azka yakin akan ada pertemuan-pertemuan lainnya. Ia memandangi lalu mengusap lembut layar ponselnya sambil tersenyum. Foto candid Clara yang menjadi wallpaper ponselnya.

Bab 2

Clara baru saja selesai mandi saat Lisa datang ke apartemennya. Masih mengenakan handuk, Clara menemui Lisa yang sedang duduk di ruang tamu yang berada tepat di depan kamarnya.

"Hari ini apa, Lis?" Clara menanyakan jadwalnya hari ini.

"Jam setengah sebelas ini pemotretan sama Mas Kamil," sahut Lisa.

"Setelah itu?"

"Free. Beberapa hari kedepan jadwal kamu gak banyak. Syuting ftv masih minggu depan," lanjut Lisa lagi.

Clara masuk ke kamar dan mengenakan pakaian. Ia lalu keluar dengan membawa kotak yang berisi perlengkapan perawatan wajahnya.

"Ganti siaran yang tadi," pinta Clara pada Lisa yang langsung mengganti siaran tv.

"Kenapa emangnya?" tanya Lisa saat siaran gosip tadi telah selesai mereka berdua tonton.

"Kamu tau dia?" tanya Clara.

"Siapa? Novi? Pembawa acara tadi?"

"Bukan. Yang tadi. Yang diberitain tadi, yang katanya dekat sama penyanyi baru itu," ucap Clara.

"Oh Azka," sergah Lisa.

"Iya, dia," sahut Clara membenarkan ucapan Lisa.

"Dia kan sama kayak kamu. Pemain film, kadang ftv juga. Sinetron kayaknya juga deh," kata Lisa.

Clara menatap Lisa sejenak kemudian melanjutkan skincare routine nya.

"Aku juga tau kalau itu, Lis. Maksud aku, kamu kenal dia gak, katanya dia satu SMA sama kita," ucap Clara.

"Kata siapa?" tanya Lisa seraya meletakkan ponselnya.

"Kata dia sendiri."

"Dia ngomong sama siapa?" tanya Lisa lagi membuat Clara sedikit kesal.

"Kamu betein banget sih hari ini, Lis?" Clara cemberut.

"Aku nanya, Cla. Pertanyaan kamu gak jelas," ujar Lisa.

"Kemarin aku ketemu sama dia di bengkel Papa. Terus dia bilang sama aku, kalau dia satu sekolah sama kita. Kalau gak percaya, katanya aku disuruh tanya sama kamu, Lis," terang Clara.

"Iya. Kita memang satu sekolah sama dia," ucap Lisa.

"Kok aku gak tau?"

"Gimana mau tau, kalau kamu sibuk sama cowok-cowok yang ngejar kamu di sekolah," tukas Lisa.

"Terus tujuan dia bilang itu sama aku apa?"

"Mungkin dia mau ingetin kamu, Cla-"

"Ingetin apa?" Clara langsung menyambar, memotong ucapan Lisa.

"Kalau dia juga termasuk dari salah satu cowok-cowok itu," kata Lisa tertawa.

"Cowok-cowok apa?" tanya Clara dengan nada tinggi.

Lisa tak langsung menjawab Clara. Ia meletakkan jari telunjuk di bibirnya lalu mengangkat panggilan masuk di ponselnya.

"Oke, Mas. Sebentar lagi kita otw tempat pemotretan," ucap Lisa mengakhiri panggilan itu.

"Siapa?" tanya Clara bete.

"Mas Kamil bilang jam pemotretan dimajukan. Kita pergi sekarang ayo," ajak Lisa seraya berdiri dan membantu Clara bersiap-siap.

Setelah memasukkan perlengkapan Clara ke dalam mobil, mereka berdua bergegas menuju lokasi pemotretan.

"Cla, kurangin dulu minum manisnya," ucap Lisa saat Clara hendak mengambil lagi minum teh dalam kemasan untuk kedua kalinya.

"Haus banget, Lis. Lagi pengen minum yang manis-manis. Aku kayaknya kurang gula. Pusing," ucap Clara tidak mengindahkan perkataan Lisa dan tetap minum teh itu.

"Banyak banget alasan kamu. Cla, Cla," sahut Lisa yang hanya bisa menggelengkan kepala.

Setibanya di tempat pemotretan, Lisa dan Clara langsung menuju ruang ganti untuk di make up dan fitting pakaian. Saat mengenakan gaunnya, Clara sedikit kesusahan mengancing resleting.

"Lis, Lisa," panggil Clara dari dalam ruang ganti

Lisa yang mendengar suara Clara, bergegas menghampiri,

"Sini biar saya aja, Mbak," kata Lisa pada wanita yang membantu Clara memakai gaun. Wanita itu lalu keluar dari ruang ganti dan membiarkan Clara dan Lisa di dalam.

"Kebanyakan minum manis kamu, Cla," kata Lisa berdiri di belakang Clara, "kamu tahan napas dulu sebentar." Perlahan Lisa menarik resleting gaun yang akan digunakan Clara untuk pemotretan hari ini.

"Gimana?"

Clara menarik nafas kemudian mengunci perutnya. "Oke. Aman, Lis."

Dibantu Lisa, Clara keluar ruangan dan menuju spot tempat pemotretan yang berada di luar ruangan.

***

Memarkirkan mobil di salah satu restoran, Clara dan Lisa makan malam setelah seharian pemotretan.

"Minggu depan apartemen habis masa sewanya, Cla. Kamu mau nerusin atau gimana?" tanya Lisa sambil mengembalikan buku menu pada pelayan setelah mereka selesai memesan makanan.

"Kamu cari rumah kontrakan aja deh, Lis. Aku sudah bosan tinggal di apartemen," sahut Clara.

"Yang bener? Dulu katanya gak mau ribet tinggal di rumah, sekarang malah mau keluar dari apartemen," kata Lisa lagi.

"Kamu nyebelin banget, Lis. Ya itu kan dulu, sekarang udah berubah," jawab Clara.

"Iya, iya. Sensi banget sih," ucap Lisa sambil menyodorkan minuman pesanan Clara.

"Gak mau balik tinggal satu rumah sama Papa, Cla?"

Clara terdiam.

"Kamu sudah jarang nginap di rumah Papa lo, Cla. Walau sesekali kamu main ke bengkel Papa, tapi itu kan cuma sebentar," lanjut Lisa.

Clara masih terdiam.

Melihat sikap Clara yang seperti itu, Lisa tak meneruskan pernyataan lagi. Kalau sudah seperti ini, itu tandanya Clara tidak mau membahas hal itu.

Selesai menikmati makan malam di restoran itu, Clara masih melayani permintaan swafoto dari beberapa pengunjung. Baru saja melangkahkan kaki keluar, beberapa wartawan dan mendekat dan meminta wawancara dengan Clara. Didampingi Lisa, Clara menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan wartawan seputar kegiatan sehari-hari Clara.

"Eh, itu ada Azka datang sama cewek." Sangat jelas Clara mendengar ucapan wartawan yang ada di depannya. Beberapa wartawan langsung beralih menghampiri Azka, sementara yang lain memilih untuk tetap mewawancarai Clara.

"Terima kasih ya, teman-teman media semua. Kita mau pulang dulu," ucap Clara dengan senyum di bibirnya. Ia lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan.

"Ini buat beli gorengan, dibagi-bagi ya," kata Clara lagi memasukkan uang itu ke salah satu kantong yang ada pada baju wartawan yang berdiri dekat dengannya.

"Makasih banyak, Mbak Clara," ucap wartawan itu bersamaan.

Berjalan lebih dulu, Clara harus melewati Azka yang juga sedang diwawancarai di tempat itu. Tak mengira Azka akan menatapnya juga, Clara dengan cepat memasang tatapan sinis saat mata mereka beradu pandang. Saling menatap beberapa detik, Clara lebih dulu membuang pandangan dan berjalan menuju mobil. Sementara Lisa yang menyusul di belakang Clara, tersenyum kecil pada Azka.

"Itu kan dia?" tanya Clara yang mulai sibuk menghapus riasan di wajahnya dengan tisu basah.

"Siapa?" Lisa bertanya balik dengan posisi lurus menatap ke depan.

"Lis! Kamu mau aku hajar?"

Lisa tertawa mendengar ucapan Clara.

"Kamu sudah tau maksud aku apa, tapi masih nanya juga?!" kesal Clara.

"Iya. Yang tadi itu Azka," ucap Lisa.

"Beda lagi cewek yang dibawa. Kemarin baru aja di gosipin sama penyanyi, eh ini malah bawa cewek baru. Ckckck," tukas Clara dengan nada mengejek.

"Terus masalahnya apa, Cla? Kenapa kamu jadi gak suka? Kamu ada masalah dia?" tanya Lisa bertubi-tubi.

"Ya gak suka. Baru di gosipin sama satu cewek, eh malah bawa cewek lain lagi. Di depan wartawan lagi, sengaja banget mau diliput," ucap Clara sambil mendengus.

Lisa tertawa lebar. "Suka-suka dia lah, Cla. Kok kamu sewot?"

"Kenapa kamu malah belain dia?" Clara melotot.

"Bukan belain dia, tapi-"

"Sudah gak usah dibahas. Fokus nyetir aja." Dengan cepat Clara memotong ucapan Lisa. Gak tau kenapa ada sesuatu yang menggelitik di hatinya saat melihat Azka barusan. Rasa tidak suka yang aneh, yang ia sendiri bingung menggambarkan apa rasa itu.

'Bisa-bisanya bawa cewek lain. Setelah digosipin sama si itu' batin Clara tak terima.

Bab 3

Clara baru saja keluar dari salah satu toko pakaian branded dan berniat hendak membeli segelas kopi di lantai dua. Membawa beberapa paper bag di tangannya, Clara tiba di depan gerai kopi yang tak terlalu ramai itu.

"Caramel macchiato dingin satu, Mbak," ucap Clara sambil mengeluarkan kartu debitnya.

"Ditunggu sebentar, Mbak Clara. Silahkan duduk dulu," ucap barista itu ramah.

Memilih duduk tak jauh dari meja kasir, Clara menatap sekitar ruangan yang hanya ada beberapa pengunjung. Begitu Clara melemparkan senyum pada sekumpulan anak muda yang sedang nongkrong, salah satu dari mereka datang dan mendekat.

"Boleh selfie?"

Clara mengangguk dan memasang senyum manisnya. Beberapa detik kemudian temannya yang lain ikut datang dan meminta foto juga. Bergantian satu per satu mereka mengucap terima kasih setelah selesai berfoto.

"Makasih, Mas," ucap Clara menerima pesanan kopinya. Mengeluyur begitu saja, Clara lupa paper bag belanjaannya tertinggal. Untung saja sekumpulan anak muda tadi langsung mengantarkan sebelum Clara jauh.

Hampir sampai di apartemen, Clara tiba-tiba menerima pesan dari dari Lisa yang memberi tahu kalau Papa masuk rumah sakit.

"Papa gak ada bilang, Lis. Kamu tau dari mana?" tanya Clara yang langsung menghubungi Lisa. Memastikan ulang.

"Ini aku di bengkel Papa kamu, Cla. Karyawan Papa kamu yang bilang waktu aku tanya mana Om Wisnu," jawab Lisa.

"Aku langsung ke rumah sakit, Lis. Tolong kamu nanti ke apartemen, bawain baju ganti aku ke rumah sakit," pinta Clara.

"Oke, Cla. Kamu hati-hati," pesan Lisa.

Memacu mobilnya sedikit kencang, Clara menuju ke rumah sakit tempat Papa dirawat sesuai dengan isi pesan dari Lisa.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Clara mencoba menghubungi ponsel Papa namun tak ada respon. Membuat Clara semakin cemas. Ia segera memarkirkan mobilnya dan menanyakan ruang rawat Papa pada petugas jaga.

"Makasih, Mbak," sahut Clara begitu mendapatkan informasi ruang rawat Papa. Tampak beberapa perawat tadi berbisik membicarakan Clara.

Tanpa basa basi, ia langsung masuk ke ruangan tempat Papa dirawat.

"Papa, gak bilang kalau sakit!" seru Clara membuat Papa yang sedang menatap jendela kamar menoleh ke arah sumber suara.

"Cuma capek biasa, Cla. Papa gak mau ganggu aktivitas kamu," sahut Papa. Meski wajahnya pucat, Papa masih memaksakan diri untuk tersenyum.

Rasa bersalah perlahan melingkupi hati Clara. Ia merasa tak berguna menjadi anak. Tak bisa merawat dan berbakti pada Papa.

"Gak usah sedih, Clara. Papa baik-baik aja. Cuma penyakit orang tua. Kamu gak usah khawatir," kata Papa lagi mencoba menenangkan Clara yang telah meneteskan air mata.

"Clara minta maaf belum bisa jadi anak yang Papa harapkan," tangis Clara mencium tangan Papa.

"Kamu tetap anak Papa yang paling Papa sayangi, Cla." Papa mengusap kepala Clara lembut. Anak semata wayangnya itu meski sempat memberontak dan kabur-kaburan di awal menjadi artis, tapi ia tetap sayang. Semua tindak tanduk Clara di luar sana, baik buruk Clara semua ia tahu. Ia simpan sendiri karena yakin Clara sudah berubah.

***

"Om," sapa Lisa yang datang membawakan baju ganti dan makanan untuk Clara.

Papa hanya tersenyum 

"Cepat sembuh ya, Om. Ini saya bawain buah," kata Lisa.

Papa mengangguk.

"Cla, aku letakan di sini ya," kata Lisa pada Clara yang baru saja selesai menyuapi Papa makan. Lisa duduk di sofa sambil serius menatap layar ponselnya.

"Papa mau Clara kupasin buah?" tanya Clara.

"Nanti aja, Cla," sahut Papa singkat.

"Clara sama Lisa dulu ya, Pa." Clara menghampiri dan duduk di samping Lisa.

Menunjukkan layar ponselnya pada Clara, Lisa memperlihatkan beberapa pilihan rumah yang nantinya akan Clara kontrak.

"Kalau bisa kamu cari yang dekat rumah Papa, Lis," pinta Clara.

"Oke," sahut Lisa singkat. Ia menahan diri untuk tidak menanyakan alasan Clara, mengapa harus rumah yang dekat dengan rumah Papa, meski sebenarnya ia penasaran.

Menemani Clara hingga pukul setengah sepuluh malam, Lisa pamit pulang pada Papa dan Clara.

"Gak usah, Cla. Kamu temenin Papa aja," ucap Lisa menolak Clara yang berniat untuk mengantarkannya sampai bawah.

"Gapapa, Lis. Aku pengen sekalian ketemu perawat," sahut Clara beralasan.

Menutup pintu secara perlahan karena Papa telah tidur, mereka berdua menuju lift dan turun ke bawah.

"Kamu fokus sama Papa dulu, Cla. Biar aku atur ulang jadwal kamu," kata  Lisa sebelum masuk ke dalam mobil.

"Iya, Lis. Makasih ya. Kamu hati-hati di jalan," pesan Clara.

Kembali masuk ke dalam rumah sakit, Clara berhenti di dekat ruang jaga perawat karena melihat dan mendengar suara tivi yang sedang menanyakan infotainment. Clara menatap seksama pada layar tivi.

'Itu kan waktu di restoran kemarin. Hah, sepupu? Cewek itu saudara sepupu dia' gumam Clara dalam hati. Siapa lagi kalau bukan Azka yang sedang berada di layar kaca.

"Selamat malam ada yang bisa dibantu, Mbak?" Seorang perawat menyapa Clara.

"Eh, malam. Saya mau tanya dokter yang merawat pasien atas nama Wisnu Prayogo siapa ya?" Clara mendekat.

"Pak Wisnu Prayogo?" ulang perawat itu.

"Iya, saya anaknya." Clara mempertegas.

"Dokter Halim, Mbak. Pak Wisnu ada sedikit masalah dengan lambung," kata pertama itu lagi.

"Lalu sekarang kondisinya gimana?"

"Besok bisa langsung ditanyakan dengan dokter saat visit di pagi hari, Mbak. Biar lebih jelas."

"Terima kasih." Clara melirik ke arah layar kaca yang masih menayangkan Azka, sebelum kembali ke kamar Papa.

Setibanya di kamar Papa, Clara berganti pakaian dan membaringkan diri di sofa. Sambil memainkan ponselnya, Clara sesekali melihat ke arah Papa yang terlihat sangat nyenyak tidur.

"Kenapa semua berita isinya dia sih?" rutuk Clara dalam hati saat membuka explore di media sosialnya, hanya pemberitaan Azka yang muncul. Menjauhkan ponselnya, Clara memejamkan mata mencoba untuk tidur. Baru beberapa menit, rasa kantuk datang menyerang hingga membuat Clara akhirnya tertidur. 

Tiba-tiba saja Clara terbangun dan mendapati dirinya berada di dalam hutan dengan pohon-pohon yang sangat tinggi dan semak belukar. Merasa bingung dan aneh, Clara berjalan perlahan dan sangat hati-hati melewati jalan yang penuh semak belukar itu. Terdengar suara begitu berisik yang membuat langkah Clara terhenti. Suara berisik yang menyamarkan suara desisan ular yang secara tiba-tiba telah melilit dan dengan cepat menggigit kakinya. Tak perlu waktu lama, Clara langsung terkulai lemah dan jatuh tak sadarkan diri.

"Cla, Clara." Membawa selang infus, Papa menghampiri dan mencoba membangunkan Clara.

"Clara," panggil Papa lagi. Setelah menggoyangkan badan Clara cukup lama, anaknya itu akhirnya bangun juga.

"Pa. Papa ngapain?" tanya Clara bingung melihat Papa yang sudah berdiri di sampingnya.

"Kamu yang kenapa? Ngigau gak jelas, keringatan kayak gini," kata Papa yang juga bingung.

Clara duduk dan mengikat rambutnya. Ia meraih tisu dan mengelap keringat di jidatnya.

"Clara mimpi digigit ular, Pa," ucap Clara.

"Berarti jodoh kamu sudah dekat, Cla," celetuk Papa santai.

"Ngomong apa sih, Papa?" Clara seolah tak Terima dengan ucapan Papa barusan. Ia berdiri dan mengajak Papa kembali ke tempat tidur karena dokter dan perawat telah datang untuk mengecek keadaan Papa.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED