Saat ini Maya sedang duduk di balkon kamarnya, menikmati keindahan sunset di sore hari. Besok adalah hari minggu, hari dimana Maya akan menghabiskan waktu di kamar dan tidur.
Bagi Maya hari Minggu adalah hari yang sangat berarti, hari pelepas penat selama enam hari kerja. Dia tidak pernah meninggalkan kamarnya saat hari Minggu.
"Kakak!" panggil salah satu gadis dengan rambut lurus yang kini menghampiri Maya.
"Ada apa?" tanya Maya santai sambil menyeruput coklat panas miliknya.
"Di panggil Papa, katanya ada sesuatu yang penting. Sepertinya Papa sedang cemas Kak," ucap wanita itu.
"Aila jangan main-main!" ucap Maya.
"Aila serius Kak. Coba Kakak lihat Papa sana!" Maya langsung bergegas membawa coklatnya ke dalam. Dia mencari keberadaan Papanya. Namun, dia tidak melihat keberadaan lelaki itu dimana pun.
"Papa!" panggil Maya.
"Aila, kamu bohongin Kakak ya?" tanya Maya berteriak.
"Gak, Aila gak bohongin kamu Maya. Papa di sini," ucap lelaki paruh baya. Namun wajah tampannya tak lekang oleh waktu.
"Ada apa Papa?" tanya Maya bingung. Jantungnya terus berdegup kencang.
"Papa ingin meminta sesuatu dari kamu May, Papa akan melakukan apa pun, asalkan kamu mau menuruti permintaan Papa." Lelaki itu langsung bertumpu pada lututnya di depan Maya. Di dekat dapur Mama sedang memperhatikan dengan mata berkaca-kaca.
"Papa, kenapa seperti ini?" tanya Maya langsung mengajak Papanya berdiri.
"Papa tidak boleh seperti ini. Maya anak Papa, Maya pasti lakuin yang Papa minta." Maya tidak sadar dengan apa yang ia katakan.
"Papa mau kamu menikah May. Dengan musuh terbesar Papa dalam bisnis." Lelaki itu tampak menunduk tak berani menatap mata putrinya.
"Apa maksudnya Pah?" tanya Maya mulai bingung. Kesadarannya perlahan menurun dan sulit mencerna semuanya.
"Papa kalah tender, dan Papa rugi besar May. Untuk memulihkan perusahaan Papa butuh modal. Papa sudah berusaha mencari bantuan pinjaman. Namun, tak satu pun teman Papa yang membantu. Hanya kamu satu-satunya harapan Papa saat ini Maya. Papa berharap kamu bisa menerimanya." Lelaki itu menggenggam kedua tangan putrinya dan menatap penuh permohonan.
"Papa, karir Maya. Semua impian Maya selama ini?" tanya Maya bingung dengan semua kejadian ini.
"Kamu harus melepaskannya Maya. Jika ada kesempatan Papa tidak akan melarangku meneruskannya. Papa mohon Maya!" ucap lelaki itu.
"Tapi Pah!"
"Papa mohon Maya. Dia orang baik," ucap Papanya.
"Maya akan memikirkannya Pah," ucap Maya lirih.
"Papa mohon, sebelum tengah malam kau harus sudah mengambil keputusan. Karena pernikahan akan diadakan besok," ucap lelaki itu.
"Papa!" Maya langsung naik ke kamarnya. Dia tidak akan bisa menangis di depan orang tuanya.
Setibanya di kamar, Maya langsung ambruk di kasurnya. Dia membenamkan wajahnya dibawah bantal. Maya langsung menangis sejadinya, tidak mengerti takdir membawanya kemana.
Maya adalah wanita cantik dengan kulit putih dan rambut agak sedikit bergelombang. Saat ini Maya sedang merintis karir sebagai Agen Online Shop di negaranya. Dia bercita-cita ingin memiliki perusahaan sendiri suatu saat. Namun, dia tidak tahu sama sekali kalau akhirnya akan seperti ini.
Setelah cukup lama menangis, dan matanya pun sudah mulai membengkak. Maya menurunkan kakinya dari kasur dan melangkah ke kamar mandi. Dia menghidupkan shower dan air hangat langsung mengenai kulit mulusnya. Cukup lama dia berada di sana, sampai akhirnya air di kamar mandinya mati. Maya mulai panik, dan ke arah shower itu.
"Sial, apa shower ini tidak ingin membantuku sama sekali?" kesal Maya langsung memakai handuknya dan keluar.
Maya memakai pakaian tidurnya, dan langsung turun untuk menemui Papanya. Tidak tahu apa keputusannya. Namun, Maya sudah pasti tidak bisa menolak permintaan Papanya. Karena Rino Dan Bianca telah mengadopsi mereka setelah di temukan di tong sampah dulu. Maya pasti tidak akan mengecewakan Rino dan Bianca.
Saat Maya masih memilah keputusannya, tiba-tiba Aila datang dengan segelas susu untuk dirinya sendiri. Dengan cepat Maya langsung mengambil susu di tangan adiknya dan langsung meneguknya hingga tandas.
"Kakak!" pekik Aila saat gelas susunya sudah kosong.
"Diamlah! Buat lagi sana," ucap Maya dengan tak tahu malunya.
"Aku rasa hanya butuh minum susu aku akan memilih keputusan yang benar," gumamnya sambil duduk di meja makan.
"Maya, kamu mau makan apa, sayang?" tanya Bianca.
"Mah, dimana Papa?" Maya celingak-celinguk menatap ke seluruh penjuru rumah. Namun, Rino tak terlihat.
"Papamu keluar sebentar. Dia bilang kalau kamu mau mengatakan sesuatu langsung telepon saja. Dari pada menunggu lama. Papa juga menunggu jawabanmu!" Bianca tersenyum kepada putri sulungnya itu.
"Iya Mah." Maya langsung kembali ke kamarnya.
Maya terus mondar-mandir, masih bingung keputusan apa yang akan ia ambil.
"Jika aku menolaknya, Perusahaan Papa akan bangkrut. Aku takut Papa akan membenciku nanti. Namun, jika aku menerimanya. Karirku? Impianku?. Ah, Maya bagaimana ini? Baiklah aku akan menerimanya apa pun resikonya aku akan menanggung semuanya dengan senang hati. Bukankah Papa selama ini mengajarkanku untuk siaga dalam situasi apa pun bahkan kemungkinan untuk miskin." Maya langsung mengambil ponselnya dan menggerakkan jari-jari lentiknya menekan nomor Rino.
{Halo Papa!}
{Apa kau sudah memutuskan keputusanmu?} tanya Rini di seberang sana.
{Papa aku menerimanya,} ucap Maya gemetar, sekujur tubuhnya langsung melemas seketika.
Prakkk
Tanpa sadar Maya menjatuhkan ponselnya ke lantai dan rusak. Jantung Maya berdetak seratus kali lebih cepat.
"Kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh?" ucap Maya
pelan.
Hatinya seolah memberontak akan ucapannya sendiri, dan pikirannya sangat kacau. Maya tidak mengerti sama sekali apa yang terjadi.
Setelah cukup lama melamun di kasurnya, Maya teringat akan ponselnya yang jatuh. Segera ia mengambil ponsel itu dan langsung menatapnya, matanya berkaca-kaca saat melihat layar ponselnya pecah seribu.
"Ini ponsel pertama yang aku beli menggunakan uangku sendiri. Kenapa harus rusak?" rutuk Maya sambil membersihkan layar ponselnya.
Keesokan paginya, semua dekorasi sederhana telah siap di kediaman keluarga Rino. Saat ini Maya masih setia dengan selimut tebalnya. Suara bising di luar tak menjadi masalah untuknya. Baginya hari ini adalah hari weekend yang harus di habiskan dengan tidur. Namun, Maya lupa kalau dia telah di beritahu kalau hari ini akan di adakan acara pernikahannya setelah kata terima muncul dari bibirnya.
"Maya!" ucap Bianca sambil membuka gorden di kamar Maya. Putrinya itu tidak akan bangun sebelum jam sembilan pagi di hari Minggu. Bianca selalu menasihatinya untuk bangun pagi. Namun, Maya selalu menolak. Karena baginya hari Minggu adalah hari tidur.
"Maya bangun sayang. Calon suamimu akan datang," ucap Bianca sambil berbisik di telinga Maya. Dengan cepat Maya mengerjapkan matanya dan melotot ke arah Bianca.
"Calon suami?"....
"Calon Suami?" Maya langsung menatap lekat Bianca. Dia menatap dengan penuh selidik.
"Iya, Maya ingat gak. Semalam kamu bilang ke papa terima pernikahan ini. Semua persiapan sudah selesai. Kamunya masih tidur, Masa' sih mempelainya belum apa-apa." Bianca tersenyum menatap putri sulungnya itu.
"Maya lupa, Mah," ucap Maya.
"Baiklah sekarang kamu bersiap yah, Mama sudah siapin gaun untuk kamu," ucap Bianca langsung keluar dari kamar Maya.
Setelah kepergian Bianca, Maya tidak bersemangat untuk bangun. Ia ingin sekali terbang ke alam mimpinya lagi. Namun, tidak mungkin untuk lari dari pernikahan dan juga untuk kabur. Karena Maya sudah menerimanya kemarin.
Dengan malas, Maya menyingkapkan selimutnya dan turun dari kasur. Maya menuju ke pintu, dia keluar dan menatap dari atas semua dekorasi sederhana telah di siapkan. Bahkan masih banyak orang mengurus beberapa hal. Maya langsung menahan buliran bening di matanya agar tak tumpah, langsung dia berlari ke kamar mandi dan menangis histeris.
"Tuhan, kemana kau akan membawaku. Takdir macam apa ini?" lirih Maya. Maya menghidupkan shower air dingin, berharap semua kejadian ini berakhir dan pikirannya menjadi dingin. Namun, sudah setengah jam dia kedinginan, tapi kenyataan tak pernah bisa di rubah.
Dengan menggigil Maya mengambil gaun putih yang telah di siapkan oleh mamanya. Maya langsung mengambil gaun itu dan memakainya. Dia menatap gaun yang ia kenakan dengan seksama. Gaun itu memiliki belahan punggung yang rendah, membuat punggung Maya terekspose dengan jelas. Bagian dada di penuhi dengan Payet langka dan beberapa hiasan lainnya. Panjang gaun itu hampir tiga meter, bahkan Maya sampai kesulitan untuk memakainya sendiri. Namun, dengan usahanya sendiri akhirnya dia bisa memakainya.
"Kenapa belahan punggungnya banyak sekali?" gumam Maya. Saat ia masih memperhatikan dirinya di cermin, tiba-tiba seseorang datang langsung masuk ke dalam kamarnya bersama Aila.
"Kakak, kau cantik sekali!" puji Aila kepada Kakaknya itu.
"Terimakasih!" ucap Maya tersenyum.
"Kakak, duduklah. Dia akan meriasmu, suamimu telah mempersiapkan segalanya untuk pernikahan ini." ucap Aila tersenyum. Matanya seolah bertanya kenapa pernikahan ini tiba-tiba, tapi dia tidak berani mengungkapkannya.
"Suami? Apa semua yang melakukan pernikahan ini dia? Dan gaun ini?" Maya mulai bertanya-tanya.
"Iya Kak!" bala Aila langsung mendudukkan kakaknya di kursi.
"Silakan MBK," ucap Aila. MUA itu langsung memoles bedak di wajah cantik Maya. Masa per—make up–an selesai hampir satu jam. Kini Maya sudah sangat cantik. Rambutnya di tata sanggul bentuk mawar, dan make up yang di pakai pun tampak natural dan sangat elegan. Maya di beri bunga untuk pemanis dalam pernikahannya nanti.
Setelah MUA itu keluar, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu di luar kamarnya.
"Siapa?" Maya tampak berpikir, dan langsung membuka pintu itu.
Seorang lelaki dengan tinggi sekitar 175 cm dengan postur tubuh tegas berada di depan kamarnya. Maya menatap lelaki itu, wajahnya sangat tampan. Namun, sejurus kemudian Maya langsung mengalihkan pandangannya.
"Siapa kau? Mau apa ke kamarku?" tanya Maya penuh selidik.
"Aku suamimu!" Lelaki itu langsung masuk ke kamar Maya tanpa permisi.
"Suami? Hey kita belum menikah!" ucap Maya tak terima.
"Kau tahu jam berapa ini. Ini sudah jam sepuluh dan semua orang telah pergi termasuk penghulu. Aku telah menikahimu di bawah tadi," ucap pria itu.
"Mama," teriak Maya.
Seketika Bianca yang sedang berbincang dengan Aila langsung berlari, menuju kamar Maya.
"Ada apa sayang?" tanya Bianca mulai panik.
"Kenapa? Kenapa pria ini masuk sembarangan ke dalam kamarku? Siapa dia Mah?" Semua pertanyaan langsung diucapkan oleh Maya dengan lirih.
"Dia suamimu. Kalian sudah menikah." Bianca hendak pergi dari kamar itu.
"Bagaimana mungkin. Maya bahkan tidak kemana-mana." Maya terus menatap bergantian Bianca dan juga pria itu.
"Dia sudah menikahimu Maya. Berbahagialah!" Bianca benar-benar meninggalkan kamar itu.
Maya masih menatap penuh selidik pria di kasurnya itu, kemudian dia kembali duduk di depan cermin sambil menuangkan micelar water untuk menghapus riasannya.
"Mau apa kamu?" Pria itu langsung mengambil micelar water milik Maya.
"Gak usah banyak tanya!" Maya menyerobot kembali micelar water itu.
"Dengar ya! Aku yang MUA untuk meriasmu. Kau hanya akan menunjukkannya kepadaku. Kenapa kau malah ingin menghapusnya?" Pria itu menatap tajam Maya.
"Aku tidak peduli. Kalaupun kamu ingin aku memakai riasan. Seharusnya untuk pernikahan kita bukan untuk di kamar," ucap Maya kesal.
"Kau! Jangan pernah membantahku. Kau hanya gadis penebus hutang keluargamu. Kalau kau mengatakan sesuatu yang bisa membuatku marah, kau akan menerima hukuman yang setimpal." Pria itu memegang dagu Maya kuat. Seketika Maya langsung takut menatap pria itu.
Yudha Aksara Jauhar, adalah pria tampan berusia 28 tahun. Memiliki paras bak artis Korea. Dia menjadi pria sukses termuda saat ini di negara A. Namun, tidak banyak yang tahu kalau Yudha telah memiliki istri selain Maya. Media hanya mengetahui Maya—lah istrinya saat ini. Bahkan kabar pernikahannya menjadi trending topik pagi ini.
"Lepaskan aku!" ucap Maya.
Yudha langsung sadar dan melepaskan cengkeramannya.Dia melepaskan jas, dan juga meletakkan dompet serta ponselnya di kasur. Yudha langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Maya yang penasaran, langsung mendekati dompet Yudha. Dia mengambil dompet pria yang mengaku suaminya itu. Terdapat tanda pengenal di dompetnya.
"Yudha Aksara Jauhar!" ucap Maya sambil menautkan alisnya.
"Jadi namanya Yudha. Baiklah tuan Yudha, kita akan bermain-main hari ini," ucap Maya sambil tersenyum licik.
"Wah ternyata kau suka sekali mengintip ya!" Maya sontak langsung membuang dompet itu dari tangannya dan menatap ke arah pintu kamar mandi. Yudha sedang bertumpu di pintu dengan tangan bersedekap menatap Maya intens.
"Kenapa? Ini kamarku. Aku bebas melakukan apa pun yang aku mau," ucap Maya gugup.
Yudha langsung berjalan mendekati Maya. Mereka sangat dekat, bahkan jarak di antara mereka hampir tidak ada. Deru napas Yudha terdengar jelas di telinga Maya.
"Apa yang kau lakukan," ucap Maya saat tangan Yudha melingkar di pinggangnya.
"Jangan pernah mencari tahu tentangku, aku tidak menyukainya!" bisik Yudha di telinga Maya.
Maya langsung bergidik ngeri dan mendorong Yudha kuat.
"Pergi sana, ini kamarku." tegas Maya.
"Kita memang akan pergi. Bersiaplah kita akan kembali ke rumahku!" ucap Yudha sambil memakai jasnya.
"Kau gila, ya! Belum 24 jam kau menjadi suamiku. Kau sudah seenaknya," ucap Maya.
"Terserah, tersenyumlah saat kau berada di sampingku. Jangan tunjukkan kalau kita tidak saling mengenal." ucap Yudha langsung meraih tangan Maya.
"Aku belum berbenah," ucap Maya
"Kau tidak perlu membawa baju lama-mu aku sudah menyiapkan baju kelas atas untukmu. Baju—mu yang murahan lebih baik kau simpan atau kau sumbangkan," balas Yudha dingin.
"Murahan kau bilang."....
"Kau tidak perlu membawa baju lama-mu aku sudah menyiapkan baju kelas atas untukmu. Baju—mu yang murahan lebih baik kau simpan atau kau sumbangkan," balas Yudha dingin.
"Murahan kau bilang." Maya langsung menghempaskan cengkraman tangan Yudha. Dia menatapnya dengan penuh amarah.
"Kau tahu, aku membeli semua pakaianku dengan uangku sendiri. Aku tidak butuh pakaian berkelasmu itu." Maya langsung mengemasi pakaiannya.
"Sudah kubilang tinggalkan semuanya. Aku bisa membelikanmu satu truk pakaian seperti itu." Yudha langsung menarik tangan Maya untuk mengikutinya.
"Lepaskan aku!" Maya terus memberontak. Namun, Yudha masih kekeh pada pendiriannya.
"Tersenyumlah," bisik Yudha saat menemui orang tua Maya.
Maya masih pada ekspresinya, dia tidak ada niatan sama sekali untuk menurut. Namun, Yudha melingkarkan tangannya di pinggang Maya dan mempereratnya. Bahkan Maya dapat merasakan cengkraman itu semakin kuat. Maya terpaksa harus tersenyum di depan keluarganya.
"Aku akan membawa Maya kembali ke rumahku!" ucap Yudha, di depan kedua orang tua Maya dan juga adiknya.
"Kenapa cepat sekali?" tanya Rino.
"Keputusanku sudah bulat. Aku juga sudah terlambat," Yudha langsung menarik tangan Maya menjauh dari keluarganya.
"Apa kau tidak membiarkanku untuk berpamitan dengan orang tuaku?" Maya langsung melotot ke arah Yudha.
"Aku tidak membutuhkan hal seperti itu. Sekarang kau cukup tersenyum menunjukkan kepada seluruh dunia kalau kau bahagia." Yudha langsung menghempaskan Maya masuk ke dalam mobilnya.
Maya hanya diam di dalam mobil. Maya tak membuka satu patah kata pun. Yudha juga masih fokus pada jalanan tanpa memedulikan Maya. Tidak ada pembicaraan apa pun, sampai mobil mereka tiba di sebuah rumah.
Maya tertegun menatap rumah di depannya itu. Rumah itu sangat besar, bangunannya di ambil dari konsep ala istana di negri dongeng. Belum selesai Maya mengagumi rumah itu, Yudha sudah menarik tangannya masuk ke dalam rumah itu.
Semua pelayan berbaris di depan pintu, ada banyak sekali pelayan di rumah itu. Bahkan beberapa bodyguard juga menunggu kedatangan mereka berdua.
Saat pintu terbuka semua orang menunduk hormat di hadapan Yudha dan juga Maya. Kini mata Maya terbuka lebar. Rumah itu benar-benar indah. Tapi yang Maya lihat hanyalah pelayan dan bodyguard saja. Tidak ada orang lain.
"Jangan pernah menundukkan kepala di hadapan mereka," bisik Yudha di telinga Maya. Maya tanpa sadar menundukkan kepalanya di hadapan semua pelayan dan juga Bodyguard itu.
Yudha langsung mengajak Maya menuju kamarnya, kali ini Yudha tidak memperlakukan Maya dengan kasar. Namun, saat tiba di dalam kamar. Yudha memberikan sepasang pakaian pelayan untuk Maya.
"Apa ini?" Maya mulai bingung.
"Pakailah. Aku akan pergi ke Bangkok, selama aku pergi kau akan jadi pelayan di rumah ini." Yudha langsung merenggangkan dasinya.
"Kau gila ya! Kau bilang ini pakaian berkelas. Kau keterlaluan," ucap Maya langsung melempar pakaian itu.
"Jangan banyak drama. Aku tidak menyukai drama seperti ini. Aku sudah terlambat , jika kau tidak ingin menjadi pelayan. Sebaiknya kau jadi tukang kebun." Yudha langsung masuk ke dalam kamar mandinya.
"Dasar, gila." Maya langsung membuka gaunnya di kamar itu. Dia sudah tidak memedulikan lagi Yudha di kamar itu. Seketika gaun yang ia kenakan sudah lepas, hanya leging dan bra yang tersisa. Maya dengan santainya memakai pakaian pelayan di kasur itu.
Di sisi lain Yudha langsung terkejut melihat Maya yang hanya mengenakan bra dan leging panjang. Yudha menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi sambil terus menatap Maya dari atas ke bawah.
Maya tidak menyadari kalau sedari tadi Yudha berdiri di depan pintu kamar mandi menatapnya. Dia menoleh ke arah kamar mandi setelah memakai pakaian pelayannya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" ketus Maya.
"Seharusnya aku yang bertanya. Kau tidak punya malu ya?" ucap Yudha langsung berjalan menuju lemarinya.
"Apa maksudmu?"
"Kau mencoba menggodaku dengan melepaskan gaunmu di depan mataku!" seru Yudha sambil mengambil baju barunya.
"Apa-apa kau. Kau mengintipku," Maya memekikkan suaranya.
"Heh, kau yang membukanya sendiri. Aku tidak mengintip sama sekali," ucap Yudha santai dan langsung pergi.
Maya mengepalkan tangannya kuat. Dia benar-benar malu dengan Yudha. Karena kecerobohannya Yudha melihat tubuhnya. Kemudian Maya menyusul Yudha menuruni anak tangga. Yudha tampak dengan santainya meninggalkan Maya di rumah dengan menggunakan pakaian pelayan.
Di ruang tamu, seseorang telah menunggu Yudha. Dia adalah Davin, teman sekaligus asisten pribadi Yudha. Namun, dia bersama dengan dua orang gadis yang lebih tua dari Maya.
Maya yang baru tiba, tampak heran. Kedua wanita itu sangat cantik, tubuhnya sangat modis dan wajahnya berseri kelihatan sering ke salon.
"Maya, ganti bajumu. Kau akan ikut denganku ke Bangkok." Yudha menatap Maya dengan tatapan sendu. Berbeda dengan pertama kali mereka bertemu.
"Tapi!"
"Lakukan sekarang atau tidak sama sekali." Setelah mendengar hal itu, Maya langsung bergegas kembali ke kamarnya. Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang ada di dalam lemari.
Di saat Maya masih mengganti pakaiannya, Yudha sedang menyidang kedua istrinya. Laila dan Sofi tidak terima Yudha menikah lagi tanpa persetujuan mereka berdua. Apalagi Maya di nikahi secara agama dan juga negara sedangkan mereka berdua hanya menikah secara agama.
"Bagaimanapun juga kami tidak terima kalau kau menikah lagi." Laila dan Sofi mengatakan secara bersamaan.
"Kalian tidak punya hak untuk memberikan pendapat." Yudha hanya berkata dingin.
Rumor yang selama ini beredar tentangnya memang benar adanya. Namun, Yudha bahkan tidak pernah menyentuh satu pun istrinya. Yudha hanya menjadikan mereka sebagai kepala pelayan yang mengurus semua keperluan di rumahnya. Bisa di bilang Yudha adalah tipe orang yang lebih baik menikah dari pada membayar mahal kepala pelayan.
"Tapi kami ini istrimu," ucap Laila.
"Kalian hanyalah sebatas kepala pelayan. Aku tidak pernah menganggap kalian ada. Kalian tidak lupa kan? Kalau aku sudah mengeluarkan uang yang cukup besar untuk kalian berdua." Mereka berdua langsung terdiam. Karena memang benar hutang kedua keluarga mereka lunas karena Yudha yang membayarnya dan sebagai gantinya mereka harus menjadi istri pajangan.
"Dan satu lagi, aku tidak ingin Maya mengetahui kalau kalian istriku!" ucap Yudha. Mereka berdua hanya terdiam tak berani untuk membantah lebih jauh lagi.
Di sisi lain Maya telah memakai pakaiannya, dia menggunakan dress berwarna navy. Sanggul rambutnya ia biarkan serta Make up-nya masih sama. Maya mengambil tas tenteng–nya dan langsung berjalan turun ke bawah.
Semua orang menatap ke arah Maya, kecuali, Yudha dia tampak sibuk memainkan ponselnya.
Terselip rasa iri di hati Laila dan Sofi terlihat dari pandangan matanya. Namun, mereka tak bisa melawan atau–pun memberontak, karena mereka cukup sadar diri tentang posisi di rumah itu.