“Jadi bagaimana, Ishvara?”
Pertanyaan barusan membuat lamunan sang gadis yang duduk berhadapan dengan seorang pria lantas tersentak. Ia tersenyum canggung saat dibujuk untuk ikut pergi dari desa ini oleh Sagara — rekan masa kecilnya dulu.
“A-aku...” Ishvara gugup juga bingung karena ini terlalu mendadak.
Seminggu yang lalu, ayah tercintanya meninggal dunia. Ishvara masih terpukul atas kepergiannya. Tersisa seorang diri saja di rumah tua yang dipandang sekilas nampak seperti kandang sapi. Membuat Sagara yang mengetahuinya jadi prihatin.
Sebagai teman yang sudah lama tidak berjumpa, Sagara menyesal karena baru mengunjungi Ishvara kembali. Banyak kabar yang dirinya dengar mengenai gadis itu di desa ini. Dan yang paling fenomenal adalah julukannya ; perawan tua.
“Aku akan menyediakanmu tempat tinggal. Kamu juga akan diberi pekerjaan. Kalau kamu mau, aku juga bisa membebaskanmu dalam kutukan ‘perawan tua’ yang sering dilontarkan orang-orang,” ujar Sagara kembali, masih berusaha membujuk.
Ishvara yang merasa malu, langsung menundukan kepala. “Aku mungkin bisa ikut. Tapi apa maksudmu dengan membebaskan kutukan? Apa kamu juga berpikir bahwa aku memang sejelek itu sampai-sampai belum ada yang mau meminangku? Seluruh hidupku dihabiskan untuk mengurusi kedua orang tuaku yang sakit-sakitan, mana sempat memikirkan hal seperti itu.”
Tampaknya Ishvara salah paham, Sagara jadi tak enak hati. Buru-buru dia menggelengkan kepalanya, bibirnya yang kering ia basahi untuk menyingkirkan rasa gugup.
“Bukan begitu, Ishvara. Maaf kalau ucapanku membuatmu tersinggung. Aku sempat mendengar beberapa kabar yang beredar tentangmu dari orang-orang. Aku di sini hanya mencoba membantumu sebagai teman lama. Tidak ada maksud lain.”
Tubuh Sagara sedikit dibungkukkan agar lebih mendekat pada Ishvara yang masih setia menundukkan pandangan. “Kakak sulungku, Kalandra. Kamu tahu dia, 'kan?”
Mencoba mengingat nama itu, Ishvara mengangguk tak yakin. Merasa pernah mendengar nama tersebut, namun tak punya banyak ingatan tentangnya.
“Dia sedikit terjebak masalah sekarang.”
Kepala Ishvara mendongak. Menatap Sagara kembali. “Masalah?”
Sagara mengangguk. “Ya, di usianya yang sudah cukup matang dia belum juga menikah. Mungkin kamu sudah tahu sifatnya yang amat dingin dengan ucapannya yang selalu sarkas, sampai sekarang dia masih begitu.”
“Lalu kamu ingin aku menikah dengannya, begitu?” tebak Ishvara dengan mimik yang sudah siap akan menolak jika memang itu benar kenyataannya.
“I-iya, jika kamu mau—”
“Aku tidak mau!” Benar saja Ishvara lantas menolak dengan tegas.
“Ugh, tu-tunggu! Dengarkan aku dulu, oke?” Sagara gelagapan, tidak menyangka kalau Ishvara akan menolak secepat itu.
“Dengarkan apa lagi? Aku tidak bisa menikah dengan sembarang orang,” tolak Ishvara kembali.
“Hei, apa maksudmu? Bukankah saat kecil dulu kita bertiga selalu bermain bersama? Kau cukup akrab dengan Kalandra. Setelah penampilannya yang sekarang, kau mungkin akan berubah pikiran.” Sagara mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku celana.
Ia menyodorkan sebuah foto pada Ishvara. Seorang pria bernampilan rapih dengan kemeja abu yang digulung sampai siku membentuk lekuk tubuhnya yang gagah perkasa, foto tersebut terpampang jelas dalam layar ponsel tersebut. Tampangnya yang dingin tanpa ekspresi itu membuat Ishvara bergidik.
“Dilihat dari mana pun, dia tidak mungkin cocok denganku. Aku hanyalah gadis kampung yang tidak tahu menahu soal kehidupan di kota besar. Tentu pastinya sudah banyak wanita cantik yang sudah dia temui, kenapa dia tidak mencari wanita lain yang sepadan dengannya?”
Sagara tersenyum sedih, sorot matanya seperti sedang menyembunyikan sesuatu. “Sulit. Rasanya itu mustahil. Kalandra sulit untuk jatuh cinta. Aku tidak mengerti, tapi jika tidak begini maka mungkin dia akan melajang sampai seumur hidupnya.”
Tapi belum sempat Ishvara membalas, perhatiannya lebih dulu teralihkan oleh beberapa gerombolan orang-orang yang seperti sengaja berlalu lalang di depan rumah Ishvara, para ibu-ibu rempong itu terus saja berbisik-bisik sambil melayangkan tatapan sinis.
Karena mulai merasa tak nyaman, takut kalau hal ini dijadikan gosip baru oleh warga desa, Ishvara pun memilih untuk berdiri dari kursi. Berniat untuk mengakhiri pembicaraan ini.
“Pulanglah kembali, Sagara. Terima kasih sudah berkunjung untuk menemuiku dan mengucapkan kalimat belasungkawa untuk ayahku. Tapi aku benar-benar tidak bisa. Dengan wanita yang sepadan saja dia tidak mau, bagaimana jika denganku?”
Tubuh Ishvara sudah berbalik. Mengambil ancang-ancang untuk melenggang pergi dari hadapan pria itu.
Sebelum melangkah, Ishvara kembali berucap, “Aku akan tetap di sini. Hidup sendirian lebih baik dari pada berumah tangga dengan seseorang yang tak mencintaiku. Aku juga merasa akan banyak menyulitkanmu jika ikut tinggal di kota.”
Sagara beringsut dengan sigap dari tempat duduknya. “Tunggu dulu, Ishvara. Aku serius. Hanya kamu yang bisa menikah dengannya. Kamu tahu kenapa aku segigih ini?”
Baru dua langkah berjalan, Ishvara dibuat berhenti. Baik tubuh atau pun kepalanya tidak menoleh untuk menatap Sagara, namun telinganya akan mendengarkan.
“Ini karena surat wasiat yang ditinggalkan oleh ayahku. Maaf terlambat memberitahu. Tepat di dua tahun lalu, ayah kami meninggal. Khawatir karena kakakku tak kunjung menikah, dalam surat wasiat tertulis jika Kalandra berumur 40 tahun dan masih melajang, akan lebih baik jika dia menikah denganmu,” papar Sagara, tak mau menyerah.
“Bohong. Aku tidak percaya!” Entahlah, Ishvara reflek saja saat mengeluarkan perkataan itu.
Apa yang dilontarkan Sagara semakin tak masuk akal. Merasa alasan tentang surat wasiat terlalu klise dan kuno. Ishvara masih belum percaya.
“Sungguh. Kemarilah, akan kutunjukkan padamu.” Sagara merogoh sesuatu dari dalam tas yang dibawanya, menyedot perhatian Ishvara yang penasaran.
Sebuah kertas yang dilipat rapih ia serahkan pada gadis itu, biar Ishvara sendiri yang melihat dan membacanya. Mencoba menunjukkan bahwa dirinya sedang tidak bermain-main dan berbohong.
“Cukup sulit untuk mememuimu, Ishvara. Keluargamu pindah ke desa ini tanpa aku tahu. Karena usahaku tidak mau terbuang sia-sia, aku harus memastikan kalau kamu ikut denganku. Kehidupanmu akan kujamin lebih baik dari yang sekarang.” Sagara terus mengoceh di saat Ishvara sedang fokus membaca.
“Tapi aku tidak mencintai Kalandra,” terang Ishvara setelah membaca surat wasiat tersebut, ekspresinya nampak tidak senang.
“Cinta datang karena terbiasa,” sahut Sagara yang masih saja berusaha membujuk.
Ishvara membisu di tempat. Menggigit bibir bawahnya sambil meremat surat wasiat di tangannya. Bingung, rasanya sangat campur aduk.
Sagara berjalan mendekati Ishvara, perlahan menyentuh bahunya. “Sekarang kau ikut saja denganku. Berkemaslah. Hari ini juga kita akan berangkat. Tinggal di desa ini membuatmu sulit, bukan? Karena sekarang orang tuamu sudah tiada dan kamu tinggal sendirian, mengapa kamu sangat sulit membuat keputusan?”
Menunjukkan tatapan gamang, Ishvara bertanya, “Aku takut. Sudah lama kita tidak bertemu dan rasanya ini terlalu mendadak. Apa kamu tidak bisa memberiku sedikit waktu untuk berpikir?”
Kepala Sagara menggeleng tegas. “Aku cukup sibuk untuk mendatangimu dua kali, Ishvara. Aku punya banyak jadwal padat yang tidak bisa aku tinggal. Jika tidak sekarang, maka kesempatan ini tidak akan datang dua kali.”
Sebenarnya jika Ishvara diajak untuk tinggal di kota tanpa harus menikah dengan Kalandra, mungkin dirinya tak perlu berpikir sangat lama. Dalam lubuk hati paling dalam, Ishvara memang sudah lama mengidamkan kehidupan di kota.
Tapi jika dirinya menyetujui, bukan hanya kehidupannya yang berubah. Tapi statusnya yang sudah melajang selama 30 tahun ini akan berganti menjadi seorang istri dari pria bernama Kalandra— teman sewaktu dirinya masih kecil.
Menarik nafas dalam-dalam, Ishvara berharap keputusannya ini tidak akan dirinya sesali suatu saat nanti. “Baiklah. Aku berpikir mungkin ini bagian dari jalan hidupku. Menunggu waktu cukup lama untuk melepas masa lajang, aku tidak menyangka aku akan menikahi seseorang di masa lalu.”
Sagara langsung mengembangkan senyum antusias, manik berwarna abu gelap miliknya terlihat berbinar. Lalu jarinya menjentik sambil berujar, “Itu yang ingin aku dengar darimu!”
Ishvara terkekeh canggung. “Baiklah, aku akan berkemas sekarang.”
“Silakan. Cukup membawa pakaian yang kamu butuhkan, tidak perlu banyak-banyak. Sebab aku yakin kakakku itu tidak akan sungkan membelikan banyak pakaian untuk calon istrinya,” balas Sagara dengan membubuhi tawaan singkat.
Menunggu sampai Ishvara masuk ke dalam, kemudian Sagara berjalan sedikit menjauh untuk mengangkat telepon yang terus bergetar sejak tadi.
“Bagaimana? Apa kamu berhasil membujuknya?” tanya sang penelepon dengan tak sabaran.
Sagara tersenyum penuh kemenangan, ekspresinya jauh berbeda dengan apa yang ia tunjukkan pada Ishvara sebelumnya. Persis seperti manusia dengan sifat bermuka dua.
“Tentu saja aku berhasil! Aku akan membawanya padamu hari ini juga.”
***
Perjalanan menuju kota tempat dimana Sagara dan keluarganya tinggal memakan waktu kurang lebih tiga jam. Di sepanjang jalan yang mereka lalui, Ishvara tidak banyak bicara. Ia sesekali hanya menyimak apa yang Sagara ceritakan.
Pria berambut gondrong itu mengungkit kenangan masa lalu melalui cerita-cerita yang dirinya bahas. Berusaha membangkitkan ingatan gadis itu. Mencoba membuat Ishvara merindukan masa sewaktu kecil dulu.
Dulu, ketika keluarga Ranjaya memilih hidup di pedesaan, ketiga anak laki-lakinya mengakrabkan diri dengan Ishvara — gadis kecil yang umurnya jauh lebih muda dari mereka bertiga. Meski begitu, mereka mudah untuk bergaul.
Tapi tidak dengan Kalandra. Seperti yang sudah Sagara katakan, kakak sulungnya itu sejak kecil memang sulit berbaur. Sesekali saja ikut bermain, itu pun mesti dipaksa. Wajar jika Ishvara tidak begitu mengingat sosok Kalandra.
“Oh, ya. Bagaimana kabar Nagendra? Kau terlalu banyak menceritakan Kalandra sampai-sampai kakak keduamu tidak kamu ceritakan.” Ishvara mengalihkan topik, rasanya gumoh mendengar cerita Sagara yang terus menyanjung Kalandra.
Sebagai pengusaha sukses karena memiliki restoran mewah dengan cabang di mana-mana, serta pernah menjabat sebagai CEO di salah satu perusahaan peninggalan sang ayah, Ishvara rasa itu sudah cukup menjelaskan bagaimana kehidupan Kalandra saat ini.
“Hm, Nagendra? Sudah lima tahun ini dia tinggal di luar negeri. Dia punya kehidupan sendiri. Aku jarang mendengar kabarnya sebab dia selalu sibuk. Jadi aku sendiri bingung harus menjelaskan apa padamu. Tapi yang jelas, dia baik-baik saja. Dan dengar-dengar akan menikah tahun ini,” jawab Sagara apa adanya.
Ishvara angguk-angguk. Mendengar cerita ketiga kakak beradik itu membuat dirinya merasa seperti tertinggal amat jauh. Padahal sewaktu kecil, selama bertahun-tahun mereka bertiga tumbuh bersama. Tapi Ishvara merasa hanya dirinya saja yang tidak memiliki kehidupan baik seperti mereka.
“Syukurlah. Aku turut senang mendengarnya. Lalu, kau sendiri bagaimana? Jika Kalandra menikah, lalu Nagendra juga menyusul untuk menikah. Apa kau punya rencana menikah dalam waktu dekat ini?” tanya Ishvara tanpa menoleh padanya.
Sagara mengulas senyum. “Ya, sepertinya. Tapi yang terpenting sekarang Kalandra saja dulu. Aku tak apa. Karena kasihan melihatnya sendirian, dia selalu diberi sindiran oleh orang-orang sebab tak kunjung menikah. Aku yakin, dia akan senang saat melihatmu kembali nanti.”
Saat Ishvara berumur 15 tahun, keluarga Ranjaya pindah ke kota besar karena pekerjaan sang kepala keluarga yang dipindahkan. Saat itu umur Kalandra 22 tahun, Nagendra 19 tahun, sementara Sagara 17 tahun.
Mereka cukup dewasa untuk mengingat apa yang sudah mereka lakukan bersama Ishvara semasa tinggal di desa. Tapi setelah belasan tahun berlalu, Ishvara tak pernah berpikir akan bertemu kembali dengan mereka.
Terlebih lagi Ishvara diminta untuk menikah dengan salah satu dari ketiga laki-laki—teman-temannya di masa lalu. Dan sialnya, kenapa harus dengan Kalandra? Cowok dingin minim bicara itu tidak banyak meninggalkan kenangan indah dalam ingatannya.
***
“Biarkan baju-bajumu yang ada di dalam koper dibawa oleh satpam. Kita masuk saja ke dalam. Kalandra pasti sudah menunggu,” ajak Sagara sambil berjalan memandu Ishvara.
Mereka berdua berjalan beriringan melewati pintu utama dari rumah mewah dua tingkat dengan cat putih bersih yang mendominasi penglihatan. Bagi Ishvara yang sudah serupa katak dalam tempurung, tentu saja ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki pada rumah seperti ini.
“Dia pasti ada di lantai dua. Dia tinggal sendirian, hanya ditemani oleh asisten rumah tangga saja,” ujar Sagara memberitahu.
Atensi Ishvara yang semula sibuk menggulirkan pandangan untuk mengabsen seluruh penjuru tempat di rumah ini, mendadak maniknya itu membola ketika mendengar penjelasan Sagara. “Tinggal sendirian di rumah sebesar ini? A-aku pikir kalian tinggal bersama.”
Sagara tertawa tanpa suara, menunduk sebentar. “Mana bisa. Dia itu tidak suka ada orang lain yang mengusik privasinya. Sekali pun itu aku yang notabenenya adalah adiknya sendiri, dia tetap tidak mau.”
Ishvara hanya bisa diam sambil memikirkan berbagai macam pertanyaan yang satu per satu mulai muncul dalam benaknya ; apa sesulit itu Kalandra membuka diri pada orang lain?
Setelah menaiki tangga untuk sampai ke ruangan dimana Kalandra berada, akhirnya mereka sampai juga. Sagara dengan santai dan tenang membuka pintu, mempersilakan Ishvara masuk terlebih dahulu.
Ruangan yang lumayan luas itu di desain seperti ruang pribadi untuk bekerja. Ada satu rak lemari khusus untuk buku-buku yang disusun rapih. Beberapa furniture ruangan seperti sofa dan lain-lainnya pun begitu lengkap.
Meja dekat kaca jendela besar yang tertutup gorden putih transparan diisi oleh tumpukan dokumen-dokumen, serta satu buah laptop dibiarkan menyala menghadap seorang pria berkacamata yang sedang asik menggerakan jarinya pada keyboard.
Ishvara meneguk ludah. Belum beradu pandang dengannya saja tubuhnya sudah terasa panas dingin. Menyadari betapa jauh jarak atau sekat yang membentang antara dirinya dengan Kalandra — pria berwajah datar itu.
“Kak Kalandra,” panggil Sagara tenang.
Pria yang sedang sibuk sendiri itu akhirnya mulai menyadari kedatangan dua orang yang kini sudah berdiri menghadapnya. Karena terlalu fokus pada pekerjaan, Kalandra tak menyadari ada yang datang.
Kacamata yang bertengger pada batang hidungnya ia lepaskan. Mengamati dengan lekat sosok wanita berwajah kusam lengkap dengan pakaian lusuhnya itu dengan perasaan jijik. Dalam pikiran Kalandra bertanya-tanya, apa mungkin dia Ishvara? Gadis yang ia temui 18 tahun lalu?
Kalandra benar-benar tidak bisa mempercayainya.
“Ha-halo.” Ishvara tersenyum kikuk untuk menyapa, berusaha meniadakan ketegangan yang tercipta di sini.
Sagara mendempetkan tubuhnya dengan Ishvara, merangkul bahu gadis berambut panjang itu. “Dia Ishvara. Teman kita sewaktu di desa. Bukankah dia tidak berbeda jauh dengan yang dulu?” Sebelah matanya mengedip, memberi kode pada kakak sulungnya itu.
Kalandra mengangguk singkat. “Ya. Terima kasih sudah mengantarkannya ke sini. Sekarang kau boleh pergi. Giliran aku yang mengobrol dengannya di sini. Hanya empat mata dan pastikan tidak ada orang lain yang akan datang ke sini,” perintahnya tegas.
“Baik. Aku akan keluar. Silakan mengobrol dengan leluasa. Aku tidak akan mengganggu.” Sagara perlahan memundurkan tubuhnya, meninggalkan Ishvara yang terlihat kebingungan.
“Eh, ta-tapi...”
“Duduklah,” suruh Kalandra pada Ishvara, ia tidak mau basa-basi.
Masih dengan perasaan canggung, Ishvara mendudukan tubuhnya pada kursi yang lebih mendekatkan pandangannya untuk bertatapan dengan Kalandra. Tatapan dingin dari pria itu terasa menghunus, membuat Ishvara tidak nyaman.
Kalandra menegapkan punggungnya, menautkan seluruh jemari tangannya di atas meja. Pandangannya tidak dialihkan sama sekali dari Ishvara yang terus menggulir kedua bola matanya dengan gelisah.
“Kau tahu, 'kan, kenapa kau ada di sini?”
Ishvara mengangguk, tetapi maniknya masih enggan bertemu dengan Kalandra. Jadi sebisa mungkin ia menatap sembarang arah atau pun menundukkan kepala.
“Sebelum itu, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. Senang bisa bertemu denganmu lagi pada kesempatan ini,” ucap Kalandra, sedikit membuat perasaan canggung Ishvara perlahan memudar.
“Terima kasih juga sudah mau bekerja sama denganku,” sambung Kalandra, tapi mendengar ini malah membuat Ishvara ambigu.
“Bekerja sama? Dalam hal apa?” Ishvara memberanikan diri untuk bertanya, kini ia bisa melihat dengan jelas jelaga hitam milik pria itu.
Kalandra ikut bingung. Keningnya terlihat mengerenyit. “Lho, apa Sagara tidak memberitahumu?”
Kalandra bingung, Ishvara lebih bingung. Memangnya apa yang seharusnya Sagara beritahu pada Ishvara? Kenapa ini terdengar janggal? Sungguh, di sini Ishvara mulai tak enak perasaan.
“Pernikahan yang akan kita jalani ... Hanya sebatas kontrak semata,” imbuh Kalandra untuk menjelaskan, tak mau kalau Ishvara dibuat bertanya-tanya lebih lama.
“Eh? Apa? Kenapa seperti itu?” Ishvara tidak tahu harus berekspresi seperti apa, yang jelas saat ini hatinya seperti jatuh ke dasar paling dalam, rasa terkejutnya menimbulkan sakit.
“Kau bertanya? Sudah jelas karena di sini aku memiliki seorang kekasih,” balas Kalandra sedikit sewot.
Melihat ekspresi yang dibuat Ishvara mengundang rasa kasihan, ia bisa menduga apa yang sebenarnya sudah Sagara lakukan pada gadis malang itu. Entah bujuk rayu seperti apa yang dikatakannya, tapi di sini Kalandra tidak akan melepaskan Ishvara jika semisal dia tiba-tiba menolak.
“Ke-kekasih? Tapi ... Bagaimana dengan surat wasiat yang dikatakan Sagara? Dia bilang—”
“Pftt! Hahaha!” Kalandra menggelak tawa puas, tangannya memukul-mukul meja karena merasa geli melihat mimik Ishvara yang terlihat sangat menyedihkan.
“Surat wasiat?” Kalandra pura-pura menyeka air mata, aura iblisnya mulai nampak. “Aku tidak tahu apa yang sudah dia lakukan sampai bisa membawamu ke sini. Tapi akan kuperjelas, bahwa tidak ada surat wasiat atau apa pun hal bodoh yang sudah dia katakan padamu.”
Sial, ternyata Ishvara sudah ditipu oleh Sagara. Namun apa tujuan mereka melakukan semua ini padanya? Bukankah pertemuan setelah 18 tahun ini tidak lucu jika mereka hanya ingin bermain-main?
Tes!
Ishvara tak sadar menjatuhkan air matanya, wajahnya sudah memerah karena menahan isak tangis dan rasa sesak yang kian bergumul dalam dada. Tangannya yang mengepal di atas paha pun membuat kuku-kuku jemarinya memutih sebab terlalu kuat meremat.
“Oh, ayolah. Apa yang harus kau tangisi? Bukankah ini hubungan simbiosis mutualisme? Dengan menikah denganku, kau akan diberi kehidupan yang layak. Aku dengar kehidupanmu di desa jauh lebih menyedihkan dibanding dulu.”
“... Seharusnya kau berterimakasih padaku, jika orang-orang di desa mengetahui kabar bahwa kamu menikah dengan pria sekaya diriku, mereka pasti tidak akan lagi memandang rendah dirimu,” tambah Kalandra, terus saja melontarkan kalimat menyakitkan.
“Aku punya satu pertanyaan,” ungkap Ishvara dengan rahang yang mengetat, terlihat sedang berusaha menahan emosi yang siap akan meledak.
“Katakan.” Kalandra masih tetap sama, wajahnya tenang namun siapa pun bisa mengendus aura angkuhnya.
“Jika kau memiliki kekasih, kenapa kau membuat pernikahan kontrak denganku?!” teriak Ishvara, sebelum akhirnya tangisannya meledak dan dadanya naik turun tak beraturan.
Kalandra menyunggingkan senyum, sebelah tangannya dipakai untuk bertopang dagu. “Jika bisa, aku akan menikahinya. Tapi karena situasinya sedikit rumit, maka aku memilih jalan ini. Jalan di mana kita harus terlibat dalam pernikahan sandiwara.”
Ishvara geleng-geleng kepala, semakin tidak mengerti dengan situasi ini. “Kenapa harus aku? Kenapa kau tidak mencari wanita lain?” Suaranya terdengar bergetar, air matanya semakin jatuh bercucuran.
Bagai psikopat tak memiliki hati, Kalandra santai-santai saja melihat Ishvara yang menangis tersedu-sedu karenanya. Dirinya bahkan semakin berbesar kepala. Merasa itu adalah tontonan yang menyenangkan.
Sambil menarik sudut bibir dan menunjukkan tatapan mengejek, Kalandra berkata, “Karena hanya kau yang mudah dibawa ke sini dengan sebuah alasan embel-embel ‘surat wasiat’ dan aku yakin, satu rupiah pun Sagara tidak memberimu uang kan? Jika aku mencari wanita lain, aku harus siap menggelontorkan banyak uang.”
“Dasar gila!” umpat Ishvara dengan dada kembang kempis. “Bajingan kau!” tambahnya kian berapi-api.
Kalandra membuat downward smile seraya mengangkat kedua bahu. “Begitulah orang-orang menanggilku.” Dia menganggap apa yang dikatakan wanita itu seperti pujian.
Ishvara kembali tertampar kenyataan pahit. Sempat berkhayal tentang kehidupan normal penuh kebahagiaan yang diidam-idamkan para wanita di luaran sana, mengapa dirinya malah terjebak dalam situasi seperti ini?
“Aku tidak seharusnya ada di sini!” Ishvara berdiri dari kursi. Kadung tersulut emosi, dirinya tak bisa lagi diam dan hanya mendengarkan ocehan tak bermutu Kalandra.
“Aku akan pulang kembali ke kampung,” putus Ishvara tegas yang sudah berancang-ancang melangkah pergi, siap meninggalkan ruangan. Dengan gesit kedua kakinya berderap, suara langkahnya terdengar grasak-grusuk.
“Mau ke mana? Kau pikir bisa pergi begitu saja?” Kalandra dengan wajah tenangnya berjalan mendekati Ishvara yang sedang kesulitan membuka pintu.
“Buka! Siapapun yang ada di luar tolong buka pintu ini!” Ishvara berteriak hingga urat-urat di lehernya nampak, tangannya yang gemetaran masih berusaha membuka knop pintu.
“Usahamu itu sia-sia, kau tidak akan bisa pergi ke mana-mana setelah ada di sini. Jadi, hapus air matamu itu. Berhentilah menangis.” Kalandra sudah berdiri tepat di belakang tubuh Ishvara yang lunglai dekat pintu.
“... Lebih baik tanda tangani surat perjanjian ini.” Kalandra mengeluarkan selembar kertas dari balik jas nya. “Aku ingin pernikahan kita dilakukan secepatnya.”
***
“Tanda tangani katamu?!” geram Ishvara sambil membalikkan badannya, tak takut lagi menatap pria angkuh di depannya. Menghunus Kalandra dengan sepasang mata melotot, penuh gurat kemerahan.
BRAK!
Ishvara menggebrak pintu yang masih terkunci, lalu merampas kertas yang berisi surat perjanjian di tangan Kalandra, lantas ia remat-remat. Siap dilemparkan pada wajah Kalandra yang tanpa dosa malah tersenyum merendahkan.
“Persetan dengan surat perjanjian yang kau berikan!”
Pluk!
Kepalan kertas yang sudah ia remat mendarat sempurna di wajah Kalandra. Ishvara benar-benar tak bisa mengontrol diri, emosi membuatnya menggila. Masih tidak menyangka dirinya akan dipermainkan seperti ini.
Ishvara berdiri dari kursi. Nafasnya yang memburu membuat dadanya berdebar kembang kempis. Perlahan dari setiap tarikan nafas yang dilakukannya, ia merasa tidak ada oksigen yang masuk. Amat menyesakkan.
“Orang gila mana yang mau menjalani pernikahan kontrak seperti ini? Menurutmu aku ini perempuan seperti apa? Jangan karena aku miskin, kau memandangku seolah-olah aku adalah seseorang yang mau mengobarkan apa pun hanya demi uang!” teriak Ishvara, wajah merahnya menandakan kalau emosi sudah mencapai ubun-ubun.
“Cari saja wanita lain. Aku akan pulang kembali ke desa! Dan lupakan bahwa saat dulu kita pernah berteman.” Ishvara mengatakannya dengan tegas, setelahnya selama seperkian detik Ishvara menahan napas.
Lalu mengumpat dengan penuh penekanan, “Dasar bajingan! Cepat keluarkan aku dari sini!” Kedua matanya membulat sempurna untuk menyorot wajah Kalandra yang tampaknya sama sekali tak terusik.
Melihat Ishvara yang sudah naik pitam dan kehabisan kesabaran, tanpa mengatakan apa-apa Kalandra berjalan maju ke depan untuk membuka pintu yang terkunci. Lalu membiarkan pintu itu terbuka lebar-lebar, seperti mempersilakan jika memang Ishvara ingin keluar.
Ketika Ishvara keluar ruangan dengan langkah tergesa, menghentak-hentak lantai seraya mengeluarkan umpatan-umpatan kasar, Kalandra masih bergeming di tempatnya tanpa menunjukkan akan memulai pergerakan untuk menghentikan Ishvara.
Menuruni tangga begitu terburu-buru, Ishavara semakin menangis tersedu-sedu. Tangannya tak letih mengusapi cairan bening yang terus membasahi pipinya.
Mencari kemana perginya Sagara, Ishvara sudah siap untuk memaki-maki pria berambut gondrong itu karena sudah berani menipunya. Tapi setelah mencari-cari ke berbagai sudut tempat, hasilnya nihil.
Mencoba berjalan keluar rumah, Ishvara tidak melihat mobil Sagara terparkir di pekarangan rumah. Dadanya memanas, terasa bergemuruh. Rasa kalut sudah menyelimutinya.
Untuk memastikan, Ishvara mencoba bertanya pada satpam yang berjaga. Menanyakan apakah Sagara pergi dengan mobilnya atau tidak.
“Sekitar lima menit yang lalu Tuan Sagara pergi dengan mobilnya.”
Mendengar jawaban itu, pertahanan tubuh Ishvara akan meluruh. Pria itu melarikan diri sebelum sempat Ishvara meminta pertanggung jawaban. Ia pergi bersama Sagara, jika ingin pulang Ishvara tidak tahu harus apa dan belum tahu bagaimana kehidupan di kota besar.
“Kau tidak akan bisa pulang sendiri, 'kan?”
Suara itu ... Milik si brengsek yang mencoba memperdaya Ishvara.
Derap langkah kaki yang terdengar kian mendekat, mampu membangkitkan bulu kuduk Ishvara yang meremang takut. Bisa dirasakan betapa kuatnya hawa menakutkan yang menguar dari aura pria itu.
“Masuk! Kau harus istirahat setelah melakukan perjalanan jauh,” perintah Kalandra sambil memegang bahu Ishvara.
Tapi Ishvara menepisnya dengan kasar. “Jangan sentuh aku! Meski tidak tahu seperti apa kehidupan di kota besar, aku akan tetap nekat pergi dari rumah ini. Setidaknya itu lebih baik dari pada aku harus tinggal di rumah sebagai peran istri kontrak darimu.”
Ketika hendak melangkah pergi, lengan Ishvara ditahan oleh Kalandra dengan cekalan yang kuat. Tanpa mengatakan apa-apa, Kalandra menyeretnya masuk dengan kasar. Tak peduli dengan raungan Ishvara yang meminta dilepaskan.
“Hei, apa yang kau lakukan?! Lepaskan! Sampai kapan pun aku tidak mau menjalani pernikahan kontrak denganmu!”
“Lepaskan aku, brengsek!”
“Kalandra Ranjaya, aku bilang lepaskan!”
Percuma, mau sekuat apapun Ishvara meronta sambil berteriak memaki-maki pria itu, Kalandra tak mau peduli. Bahkan yang terjadi malah Kalandra semakin bersemangat untuk melakukan apa yang dirinya inginkan.
Setelah memasuki rumah, Kalandra memberi perintah pada beberapa pelayan yang sudah menunggu didekat pintu. Sekitar lima orang pelayan menghadap padanya, kepala mereka menunduk entah sebagai tanda hormat atau memang ketakutan dengan sosok Kalandra.
“Kunci semua pintu di rumah ini. Pastikan wanita ini tidak kabur,” titahnya sambil melempar tubuh Ishvara pada beberapa pelayan yang berbaris.
“Bersihkan tubuhnya yang bau itu. Beri dia pakaian yang bagus. Dandani dia. Dan siapkan dia kamar. Jangan lupa juga beri dia makan. Pastikan peliharaan baruku mendapatkan tempat yang layak.” Sebelah sudut bibir Kalandra menyungging, menatap remeh Ishvara yang masih sesenggukan.
“Baik, Tuan.”
Lima orang pelayan yang bekerja di rumah ini begitu tunduk pada semua perintah yang diberikan Kalandra. Bagaikan robot, mereka tak berperasaan. Tidak sekali pun berani membantah.
Mereka menuntun Ishvara untuk dibersihkan, sesuai apa yang diminta oleh Kalandra —Tuan mereka. Walau Ishvara terus meronta dalam pegangan, tapi mereka tak menggubrisnya sama sekali.
Kalandra didatangi oleh satpam, sebuah koper berukuran besar disodorkan padanya, membuat Kalandra bertanya kebingungan.
“Milik siapa?”
“Ini milik wanita tadi. Mungkin isinya beberapa pakaian dan barang-barang penting. Tuan Sagara meminta saya untuk mengantarnya masuk,” balasnya memberitahu.
Kalandra berdecih jijik saat menatap koper berwarna abu-abu itu, sebelah kakinya menendang koper tersebut hingga tergeletak di atas lantai.
“Buang saja. Bila perlu bakar. Aku tidak mau barang miliknya ada di rumahku,” titahnya dengan kasar, kemudian melangkah pergi begitu saja.
Kalandra memutuskan untuk kembali ke ruang pribadinya. Duduk sebentar di atas sofa yang empuk, memijat pelipisnya sambil memejamkan mata. Memori yang sudah lama terkubur, mendadak berputar begitu saja tanpa diminta.
Tidak tahu apakah rencananya akan berjalan baik jika melibatkan Ishvara pada situasi seperti ini, tapi sejujurnya hanya ini pilihan terakhir yang bisa dilakukan olehnya.
Sebenarnya jika bisa, Kalandra ingin melakukan hal ini dengan wanita lain. Namun nyatanya, itu tak semudah yang dirinya pikirkan. Wanita di luar sana banyak menuntut dan pastinya mereka tak kalah licik dengan Kalandra. Jadi mau tak mau ia menggunakan Ishvara dalam situasi ini.
Drrtt ... Drrtt ... Drrtt ...
Kalandra beringsut dari sofa untuk meraih ponsel miliknya yang bergetar di atas meja kerja. Nama Sagara muncul di layar. Sebelum mengangkat telepon, Kalandra mendengus.
“Ya? Uang yang kujanjikan akan segera kukirim. Tolong sabar sebentar, jangan merengek seperti anak kecil,” ketus Kalandra, ia melonggarkan dasi lalu kembali mendudukan tubuhnya pada sofa.
“Kau kan tahu sendiri aku sangat-sangat membutuhkan uang itu,” sahut Sagara dari balik telepon.
“Ya, ya. Itu sebabnya kan kenapa kau mau membantuku? Jika kau tidak butuh uang, mana mau kau repot-repot berbohong untuk membujuk wanita itu datang kepadaku,” kekeh Kalandra sedikit meledek.
“Sebenarnya aku kasihan padanya. Kau tahu? Orang tuanya sudah meninggal. Dia hidup sendirian dengan kondisi sulit. Tapi ada untungnya juga, karena kalau tidak begitu mungkin dia akan sulit kubujuk. Tapi apa pun itu, tolong segera kirimkan uang bayaranku!”
Tut.
Sambungan telepon terputus sepihak.
Kalandra menghela nafas, kepalanya ia sandarkan ke belakang. Sedikit menanggah, menatap atap-atap ruangan dengan pikiran yang terasa campur aduk.
“Masalah Ishvara akan segera kuselesaikan, tapi bagaimana caranya aku menjelaskan semua ini pada Liora? Apa dia mau menerima dan memahami keputusan ini? Toh, aku dengan Ishvara hanya menjalani pernikahan kontrak untuk menutupi kabar hubunganku dengan Liora.”
Memikirkan hal tersebut membuat Kalandra bingung setengah mati. Banyak resiko yang harus dirinya tanggung nantinya. Kalandra menyadari ada perbedaan prinsip antara dirinya dengan Liora —kekasih yang amat dicintainya itu. Dengan begitu, hal ini pastinya akan terasa sulit.
Kalandra tak sadar memikirkannya sudah lebih dari setengah jam. Dia sesekali merenung dengan tatapan kosong. Atau pun terjebak pada ingatan dimana dirinya mengenal Ishvara di lima belas tahun yang lalu.
Saat mendengar suara pintu yang diketuk oleh seseorang, atensi Kalandra jadi teralihkan.
“Masuk.”
Datanglah satu pelayan wanita yang sudah berumur namun masih terlihat energik. Dia menghadap pada Kalandra untuk menyampaikan sesuatu.
“Tuan, wanita yang anda minta untuk dibersihkan dan didandani, sudah kami lakukan sesuai perintah. Perlukah kami membawanya padamu sekarang, Tuan?”
Kalandra mengangguk. “Ya, bawa dia ke sini. Aku ingin melihatnya.”
“Baik, Tuan.”
Tak lama, dua orang pelayan membawa Ishvara masuk ke dalam secara paksa. Dia memakai dress berwarna krem seatas lutut. Rambut panjangnya yang sedikit bergelombang terlihat lembut. Wajahnya juga nampak segar dan bersih.
Penampilan Ishvara sekarang menarik perhatian Kalandra. Dia tidak menyangka perempuan kumal dengan pakaian kuno yang menjijikkan untuk dipandang bisa berubah secantik itu.
Tapi meski begitu, bukan berarti Kalandra tertarik dalam konteks seksual. Pria itu hanya takjub dengan perubahan Ishvara yang hanya dipoles sedikit namun menghasilkan penampilan luar biasa.
“Lumayan. Tapi aku ingin rambut panjangnya itu dipotong. Ya kira-kira sebahu,” ujar Kalandra berkomentar dengan santai.
“Apa?! Dasar gila! Cukup dan hentikan ini semua!” teriak Ishvara tidak terima, “Lepaskan aku dan biarkan aku pergi dari rumah ini!”
“Jangan bercanda! Kita akan segera menikah pada minggu ini. Aku harus memastikan bahwa calon pengantinku yang terbaik. Orang-orang akan menilai dan melihat, jadi aku tidak mau dibuat malu,” sergah Kalandra tidak menerima tentangan apa pun.
“Menikah? Minggu ini?” Ishvara geleng-geleng kepala, memancarkan sorot kecewa. “Aku tidak butuh kemewahan yang kau berikan. Jadi tolong, biarkan aku pergi. Jangan menahanku seolah-olah aku memiliki hutang atau kesalahan yang mesti aku tebus.”
Kalandra menyilangkan kedua kakinya, tangannya ia lipat di depan dada. “Kau memang tidak pernah membuat kesalahan apa pun. Aku hanya ingin saja memilihmu. Lagi pula apa enaknya tinggal sendirian di desa dengan orang-orang yang selalu menjulukimu sebagai perawan tua?”
“... Jangan sok jual mahal, Ishvara. Jika tidak denganku, aku yakin tidak akan ada pria lain yang mau menikahimu. Kau tidak dituntut memberikan keturunan, kau juga tidak perlu melakukan peran istri untukku. Lalu apa susahnya?”
Ishvara kembali meneteskan air mata, urat-urat di lehernya menegang. Ekspresinya mengeras, terdengar suara gemulutuk dari rahangnya yang merapat.
“Susahnya adalah mengerti kemauanmu yang tidak masuk akal! Menggunakan ikatan pernikahan untuk permainan yang bisa kau atur semaumu. Dasar pria gila!”
***