Bab 2

"Tidak tahu, aku hanya merindukan dirimu, peliharaanku yang telah lama kabur," bisik Axel yang kini menghisap leher Nara dengan sedikit kuat sehingga meninggalkan jejak kissmark di sana.

Nara langsung menjambak rambut Axel untuk menyingkirkan kepala pria itu dari menempel di lehernya, tapi Axel dengan beringas mulai menciumi leher dan bibir Nara.

"A-aku bukan peliharaan atau budakmu lagi, Axel. Aku sudah membayar lunas semuanya!" teriak Nara, di sela jeda ciuman Axel yang panas.

Axel yang kini rambutnya acak-acakan karena jambakan Nara, bertanya dengan ekspresi geli.

"Oh, sungguh? Kapan?"

Dia bertanya acuh tak acuh, memasukkan kedua tangannya ke dalam kaus Nara dan kembali meremas buah dada gadis itu dengan keras.

"Axel, jangan bersikap kurang ajar!"

Nara kembali berteriak saat Axel mengangkat kaus Nara dan mulai menggigit ujung merah muda dua gundukan kembar milik gadis tersebut.

Kaki Nara kini menendang-nendang ke segala arah sebagai perlawanan.

"Aku suka kau maki-maki seperti ini, Sayang," jawab Axel sambil tersenyum liar.

Dia benar-benar lega telah mengembalikan ingatan Nara, dengan begitu Axel akan memilikinya kembali tanpa harus melakukan banyak hal yang melelahkan ....

Axel kembali menciumi leher dan bibir Nara seperti orang kehausan dan seakan bibir gadis itu beroleskan madu, dia telah lama kehilangan peliharaannya yang imut ini dan sekarang dia sudah kembali ....

Axel tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

"Ax-Axel.... "

Nara menahan napas saat tangan Axel kini menyusup ke celana dalamnya, membelai pintu masuknya sambil menyeringai lebar.

Dulu dia belum berani mencicipi ini, tapi sekarang ....

Axel tiba-tiba tidak menyesal kembali dari luar negeri.

"Sepertinya kau menjaga tubuhmu dari pria lain dengan baik, kau menunggu kepulanganku dari luar negeri, benar?"

"Jangan berdelusi!"

Dengan keras, Nara mulai mendorong tubuh Axel menjauh dari atas tubuhnya, tapi Axel malah mencengkeram buah dada Nara sehingga gadis itu pun berteriak keras karena kesakitan.

"Kau ingat saat kita SMA? Aku menghisap payudaramu seperti ini," ucap Axel dengan tenang, lalu menghisap kuat-kuat salah satu buah dada Nara sehingga tubuh gadis itu menggelinjang dan pinggulnya terangkat.

Sementara satu tangan Axel, terus membelai pintu masuk Nara, gadis itu kewalahan dengan serangan Axel, dan hanya bisa berteriak dengan frustrasi.

"Mmmhhh! Axel, singkirkan mulutmu dari sana!"

"Apakah budak punya hak untuk melawan majikannya? Ah, tato budakmu masih ada, bukan? Nah, di sini. Cantik sekali. Ini bukti yang tak bisa dibantah, kau adalah budakku, Nara. Sejak dulu, selalu seperti itu, tak ada yang berubah," bisik Axel dengan suara rendah, membuat tubuh Nara langsung merinding.

Tangan Axel kini membelai paha dalam Nara, di sana ... Ada sebuah tato kecil berupa huruf 'A'.

Merujuk pada nama Axel.

"Kau ... kau bilang aku sudah bebas ...." rintih Nara, pasrah.

Tato itu memang masih ada sampai sekarang, tato yang membuktikan semua ucapan Axel, bukti pembayaran atas hutang-hutang yang ditanggung oleh Nara di masa lalu.

Mengabaikan ucapan Nara, Axel kembali menciumi leher Nara dan meninggalkan beberapa kissmark di sana, membuat Nara hanya bisa menahan desahannya karena sentuhan Axel yang menggoda sesuatu dari dalam dirinya untuk bangkit.

"Kau bebas saat aku di luar negeri, tapi sekarang aku sudah di sini, bukan? Kupikir akan kehilangan dirimu untuk selamanya, Nara. Tapi seperti kecelakaan tadi bisa mengembalikan ingatanmu, ya? Aku tak perlu berpura-pura lagi sekarang."

Kecelakaan?

Kecelakaan apa, sih!

Bukankah tadi malam dia hanya minum sendirian di bar sampai mabuk?

Nara benar-benar harus mencari tahu bagaimana dia berakhir di kamar Axel seperti ini.

"Kau ingat sesuatu, kan? Katakan padaku apa yang kau ingat."

Axel mengatakan itu seraya menusukkan jarinya ke dalam pintu masuk Nara, membuat gadis itu tak bisa lagi menekan desahannya, dia berteriak kencang dengan nada erotis.

"Aaaahhhh!!"

"Kau sudah basah, Nara."

Axel menyeringai saat melihat jarinya yang basah setelah menusuk pintu masuk Nara, terlihat senang.

"Jangan sentuh bagian itu!"

Nara mencoba menyingkirkan tangan Axel dari pintu masuknya tapi Axel malah menusuknya sekali lagi.

"Kau sangat cepat basah, Nara, tak berubah sama sekali. Saat bersamaku, kau selalu terangsang, kan?" bisik Axel, memutar mutar jarinya dalam lubang Nara sehingga gadis itu menggelinjang dan mengeluarkan erangan basah yang membuat Axel semakin bergairah.

"Kau hanya berhalusinasi!" teriak Nara, menyangkal ucapan Axel.

"Nara," panggil Axel dengan suara lembut.

"Y-ya?"

Axel tiba-tiba mengeluarkan kalung yang dia pakai, sebuah liontin kunci terlihat di depan Nara.

"Kau ingat benda ini?"

Seketika wajah Nara memucat ketika melihat liontin tersebut, tatapan garangnya berubah menjadi putus asa.

"T-tidak! Ja-jangan bawa aku ke sana lagi!" teriaknya memohon.

Kunci itu ... sesuatu yang mengingatkan Nara pada ruang bawah tanah di rumah Axel yang besar, di mana dulu Nara pernah terkurung di sana selama beberapa bulan.

Kenangan mengerikan tersebut membuat tubuh Nara menegang. Dia tak ingin kembali ke ruang bawah tanah itu lagi!

Terlalu menakutkan ....

Sekelebat bayangan ruang bawah tanah yang mewah tapi penuh dengan alat penyiksaan yang tak pernah terbayangkan Nara sebelumnya ... menari-nari di ingatan gadis itu.

Dulu, Nara sering dikurung dan disiksa di sana oleh Axel, saat berusaha kabur dari rumahnya atau menolak permintaan pria tersebut.

Itu hanya rahasia mereka berdua.

Rahasia kelam yang berusaha Nara lupakan dan hapus dari ingatannya.

Rasa putus asa yang dalam membuat Nara memohon-mohon pada Axel untuk tidak mengurungnya di sana lagi.

"Jeritan yang menyenangkan. Jadi, Nara-ku yang cantik, kau ... mau aku mengurungmu di ruang bawah tanah lagi? Atau memilih bersikap manis padaku?"

"A-aku akan bersikap manis," jawab Nara dengan air mata berlinang.

Apa pun lebih baik, daripada dikurung di tempat seperti itu....

"Sudah kuduga jawabanmu seperti itu, jadi sekarang, layani aku seperti dulu saat kita SMA, Nara."

Damian tertawa senang saat memberikan perintah, berbaring dengan santai di depan Nara yang kini duduk dengan sangat sopan di samping Axel.

Sikapnya kini berubah 180 derajat.

"B-baik."

Axel mengerlingkan matanya pada Nara, lalu mulai memberi perintah.

"Telanjangi aku, cium tubuhku dari bawah ke atas, tanpa ada seinci kulit pun yang terlewat. Seperti dulu."

Nara meneguk ludah kering.

Teringat kembali masa SMA nya yang suram, saat menjadi budak remaja yang merupakan putra majikan ibunya ini.

Dulu Axel sering memerintahkan hal ini padanya di kamar Axel yang luas, terutama ketika dia sedang bosan atau stress ....

Saat ini, Nara seperti terseret kembali ke masa lalu sehingga dia tampak sedikit melamun.

"Jawab, Nara," titah Axel dengan suara dingin.

"Aku ... aku mematuhi perintahmu, Tuan muda Axel," jawab Nara dengan kalimat yang dulu sering diminta Axel untuk mengucapkannya.

Damian benar-benar senang dengan kepatuhan Nara saat ini, dia masih tidak berubah, Nara-nya yang baik dan penakut.

"Lepaskan bajumu juga, jangan memakai apa pun. Aku rindu bersentuhan denganmu," titah Axel lagi saat Nara mulai membuka kancing kemeja pria itu satu persatu.

"B-baik ...."

Nara lebih memilih melakukan ini semua, daripada disiksa dan dikurung di ruang bawah tanah milik Axel.

Pria ini, meski sangat tampan, tapi sifatnya lebih bengis daripada iblis!

Di saat dia menciumi tubuh Axel yang kokoh dan atletis dari bawah ke atas, Nara lagi-lagi teringat kembali masa lalunya yang kelam saat SMA.

Dia ... menghabiskan hampir satu tahun terakhir SMA-nya sebagai budak Axel. Baik di rumah atau pun di sekolah.

Semua itu bermula saat Axel, terpaksa harus tinggal di rumah Axel, bersama ibunya yang seorang pembantu di keluarga tersebut, karena rumahnya yang terjual untuk membayar hutang kakaknya di luar negeri ....

Axel menyebut dirinya sebagai 'teman' Nara, tapi teman dalam kamus Axel, 'teman' adalah budak ....

****

Bab 3

"Nara, tolong bantu ibu bersihkan kamar tuan muda Axel, ya? Ibu harus menyiapkan sarapan untuknya berangkat sekolah."

Nara yang baru saja tinggal beberapa hari di tempat kerja ibunya, yang merupakan seorang pembantu rumah tangga di rumah keluarga Axel, dengan enggan menuruti perintah sang ibu.

Sebentar lagi dia harus berangkat sekolah karena letak rumah majikan ibunya membuat jarak antara sekolahnya menjadi lebih jauh, sehingga Nara pun perlu berangkat pagi-pagi agar tak terlambat.

Mau bagaimana lagi, dia harus menjalankan perintah ibunya ini jika ingin tetap tinggal di sini.

Rumahnya yang lama sudah disita bank karena hutang sang ibu yang tak sanggup untuk membayar.

Ibu Nara meminta kepada majikan tempatnya bekerja untuk membawa Nara tinggal bersama karena tak ada uang untuk membayar kontrakan sekaligus biaya sekolah putrinya, majikan ibu Nara setuju tapi dengan syarat, Nara harus ikut-ikut bantu-bantu tanpa dibayar.

Nara tanpa mengatakan apa pun, beranjak ke kamar tuan muda Axel seperti perintah ibunya.

Axel adalah putra tunggal keluarga ini, pewaris satu-satunya untuk kekayaan keluarga yang luar biasa.

Sayangnya, karena pernikahan kedua orang tuanya adalah pernikahan politik, setelah menikah mereka mempunyai kekasih masing-masing, sehingga jarang pulang ke rumah.

Axel biasanya tinggal sendiri di rumah besar ini, usianya sekitar satu tahun lebih tua dari Nara yang kini kelas satu SMA.

Nara belum pernah melihat dirinya semenjak pindah ke sini, karena Nara tak berani keluar dari kamar ibunya yang terletak di bangunan belakang, dekat dapur.

Kini, dia berencana untuk membersihkan cepat-cepat kamar tuan mudanya tersebut dan langsung bersiap untuk berangkat sekolah.

Nara sudah mandi dan rapi, dia mengerang pelan saat membayangkan harus bersih-bersih kamar sampai berkeringat sehingga harus mandi lagi dan itu memakan waktu yang cukup lama.

Gadis itu masuk ke kamar yang tak dikunci itu, berniat membersihkan tempat tidur terlebih dahulu.

Namun, ternyata masih ada orang di atasnya, apakah itu tuan muda Axel?

Nara menjadi ragu apakah harus mundur atau menunggu tuan mudanya pergi dari tempat tidur

Tapi ini sudah cukup siang, kenapa tuan muda masih belum bangun? Apakah dia harus membangunkan dia agar tidak terlambat sekolah?

"Mungkin aku harus membangunkan dia, ini demi kebaikannya juga."

Nara akhirnya mengambil keputusan untuk membangunkan Axel agar dia bisa segera pergi ke sekolah dan menyelesaikan pekerjaannya.

"T-tuan muda, Anda harus bangun untuk pergi ke sekolah."

Nara memberanikan diri menggoyang pelan pundak Axel, mata laki-laki muda itu tertutup lengan, jadi Nara tidak tahu apakah Axel saat ini sebenarnya sudah bangun atau masih tidur.

Dengan gerakan tiba-tiba, Axel menyingkirkan lengannya dari menutupi mata dan mata pria muda itu seketika menyipit saat pertama kali bertatapan dengan Nara.

"Siapa kau?"

Tatapan Axel penuh curiga, dia memandang Nara dengan marah dan jijik seakan-akan sedang melihat pencuri.

Tubuh Nara langsung menegang hanya karena tatapan dingin tuan muda rumah ini, menggenggam tangannya dengan erat.

"S-saya, putri dari Amanda."

Meski sedikit tergagap,Nara berhasil menyebutkan nama ibunya, yang merupakan pembantu di keluarga ini sejak beberapa tahun yang lalu.

Anehnya, Axel mengerutkan kening kalau nama Amanda menyapa telinga, lalu menatap Axel dari bawah ke atas dengan pandangan menyelidik.

Nara berdiri kaku dengan menahan napas karena suasana tegang ini.

"Boleh minta bantuan sebentar?"

Tiba-tiba, setelah terdiam lama dan seperti meneliti Nara, Axel membuka suara.

Nara menatap takut-takut pada Axel, bertanya-tanya lewat tatapan mata apa yang diminta oleh Axel darinya.

"Tidak bisa nanti aja, Tuan Muda? Saya sudah harus membersihkan kamar," tolak Nara dengan suara gemetar karena tatapannya yang tajam menghunjam seperti sanggup membelah tubuh Nara menjadi dua.

'Aku bisa terlambat sekolah nanti', tambah Nara dalam hati.

Dia sebenarnya takut menolak membantu Axel, tapi ini sudah cukup siang.

Namun, Axel langsung menggeleng, dahinyamengernyit sedikit seperti tengah menahan sakit.

"Tidak bisa. Aku butuh bantuanmu sekarang juga," tegas Axel dengan nada penuh urgensi yang nyata.

"Bantuan apa itu, Tuan muda?"

Dia butuh apa memangnya sampai terlihat begitu tergesa-gesa?

Axel tak menjawab tapi memegang leher bagian belakang, tak menyembunyikan ekspresi kesakitan di wajahnya.

Hal itu membuat Nara sedikit tak enak karena tak tega melihat tuan mudanya yang seperti sedang kesakitan.

"Aku sepertinya salah bantal semalam, leher rasanya nyeri sekali. Kau bisa membantuku memijatnya sebentar?"

Nara memandang kasihan pada remaja tampan yang sedang mnengerang pelan tersebut.

Apakah karena itu dia sampai sekarang belum bangun dari tidurnya?

Kasihan sekali.

"Oke."

Tanpa pikir panjang, Nara pun duduk di samping Axel yang kini berbaring telungkup.

Sejujurnya Nara saat ini cukup percaya diri dengan keahliannya memijat, dia biasanya diminta sang ibu memijat saat sedang lelah, karena itu dia pun merasa percaya diri untuk membuat Axel sembuh dari salah bantalnya.

Axel tersenyum misterius melihat persetujuan dari Nara dan menyembunyikan tawa jahatnya dengan kepolosan gadis muda putri Amanda tersebut.

'Dia lumayan cantik dan masih polos, mengerjainya sedikit sepertinya menyenangkan', bisik Axel dalam hati dengan senyum sinis.

Axel yang kini berbaring telungkup di ranjangnya, menunjuk leher belakangnya untuk dipijat.

Nara yang tak tahu niat jahat Axel, duduk di sampingnya dan mulai memijat leher putih remaja tampan yang merupakan seorang tuan muda tersebut.

"Apakah kau perlu dinyalakan lampunya? Atau dibuka tirainya?" tawar Nara yang canggung karena baru pertama kali bertemu, dia langsung diminta untuk memijat.

Mungkin karena cuaca mendung di luar, kamar Axel saat ini masih gelap gulita padahal ini sudah pukul enam.

"Tidak usah."

"Oke."

Nara pun melanjutkan pijatan sambil melamun, sejujurnya hati Nara sedikit bergetar melihat ketampanan Axel, tapi dia juga sedikit gugup saat memijat leher putra tunggal majikan ibunya tersebut.

"Hey, kau."

Tiba-tiba Axel memanggil.

"Ya? Apakah lehermu sudah baikan, Tuan Muda?" tanya Nara dengan penasaran.

Namun, Axel tidak menjawab, malah duduk sehingga mereka pun berhadapan. Secara aneh, Nara merasa semakin gugup.

Di sekolahnya tak ada laki-laki setampan Axel, bahkan hanya dengan melihat sekilas, Axel seperti seseorang yang beda level dengan dirinya, itulah kenapa Nara merasa begitu gugup saat duduk berhadapan seperti ini.

"Ada lagi bagian yang sakit, sakit sekali rasanya sampai aku tak tahan dan tak bisa berdiskusi. Kau mau membantu memijatnya atau tidak?"

Wajahnya terlihat kuyu saat menanyakan hal itu, ucapan Axel terdengar sangat meyakinkan saat dia bilang sedang sakit.

"Mana lagi yang sakit, Tuan muda? Apakah itu bagian kepala?"

"Bukan."

"Pundak?"

Lagi-lagi Axel menggeleng, sehingga Nara pun semakin bingung.

"Lalu di mana, punggung?"

Axel masih menggeleng, Nara mencoba menebak-nebak di mana letak sakit Axel sampai tak bisa berdiri seperti ini.

"Lalu sebelah mana?"

Akhirnya dia menyerah dan bertanya.

Kali ini Axel meraih tangan Nara dan dengan pelan mengarahkannya ke sesuatu di antara kedua paha remaja tampan tersebut.

"Ini. Sakit sekali."

Dia dengan tanpa malu mengatakan hal itu.

Sementara tangan Nara kini menyentuh sesuatu yang sangat keras dan panas di antara kedua paha Axel, dia terkejut bukan main sampai kedua matanya terbelalak lebar.

"Ap-apa ini? K-kenapa bisa se-sekeras ini, Tuan muda?"

Nara baru pertama kali ini melihat barang pribadi milik pria, dia benar-benar tak tahu jika benda itu, bisa sekeras dan sepanjang ini!

Axel malah mengendikkan bahu dengan wajah polos, serta sedikit kesakitan. Dia dengan sengaja menahan tangan Nara yang hendak menjauh, menggenggam kannya di sana.

"Kau mau memijatnya sedikit biar lemas, 'kan? Kalau sudah lemas, nanti tidak akan sakit lagi rasanya," ucap Axel dengan suara meyakinkan.

"T-tapi ini b-bagian sensitif, kan? Aku–aku–"

Nara berusaha kembali menarik tangannya yang segera ditahan oleh Axel, remaja itu malah menarik resleting celananya dan mengeluarkan sesuatu yang sangat besar dan berotot dari dalam sana.

Tangan Nara mendadak dingin dan gemetaran ketika dibimbing Axel untuk menyentuh sebuah benda panas bertekstur aneh tapi sekeras kayu itu.

Bagaimana seorang anak laki-laki bisa memiliki benda sebesar ini dibalik celana mereka? Dan kenapa Axel bilang sakit saat keras begini? Melissa tak pernah melihat milik laki-laki kecuali milik bayi.

"Tolong pijat bagian ini, aku sudah tak tahan lagi dengan sakitnya, aku sampai mau mati rasanya."

Mata Nara lagi-lagi membelalak lebar mendengar permintaan Axel yang tanpa malu tersebut, tatapannya kosong ketika terarah pada barang milik Axel yang mengacung ke atas di depannya.

"Di-dipijat?"

Bodohnya, dia malah bertanya.

Dan Axel dengan santai pun mengangguk.

"Iya, seperti ini."

Axel mengarahkan kedua tangan Nara untuk menggenggam benda besar yang sedikit aneh itu dan berkelenjar itu, membimbingnya naik turun ke atas dan ke bawah.

"T-Tuan muda, ini–"

"Secara tidak tertulis, aku juga majikanmu, jadi tolong lakukan saja perintahku," potongnya dengan mata terpejam seperti menikmati sentuhan Nara yang sedang kebingungan.

Tangannya gemetaran saat terus memijat benda milik Axel yang tak mengendur sedikit pun tersebut, tapi rasanya malah semakin keras, Nara benar-benar kebingungan dan tak mengerti dengan apa yang dilakukannya sekarang.

Sakit apa tuan mudanya ini, sampai bisa sebesar ini? Apakah tidak apa-apa hanya dipijat seperti ini? Bukankah ini sakit keras?

Nara ingin bertanya apakah dia perlu dipanggilkan dokter, tapi melihat Axel yang terlihat begitu fokus sambil memejamkan mata, dia tak berani membuka mulutnya....

Nara kini hanya bisa terus melakukan apa yang diperintahkan tanpa berani melihat ke arah Axel, sementara Axel melirik Nara dengan ekspresi sinis dan dingin, kebencian memenuhi mata Axel ketika tatapannya terarah pada Nara.

"Dia bilang putri Amanda? Haaa, gadis ini anak pelacur itu rupanya."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED