Bab 1

"Jahat kamu! Jahat ..." Rayya berbisik lemah di antara isak tangis. Bisikan yang bahkan tidak mungkin terdengar oleh siapa pun, karena suaranya langsung tersapu oleh angin laut.

Tsurayya Abhimana, biasa dipanggil Rayya, sedang menikmati sapuan angin malam di helideck kapal pesiar yang sedang ditumpanginya.

Ia mengesap anggur yang diraihnya dari salah seorang pelayan yang melintas di depannya tadi. Bukannya meraih sebuah gelas, ia malah menarik sebuah botol dan menegaknya langsung dari sana.

Sebenarnya, Rayya bahkan tidak sadar bahwa botol yang ia raih itu adalah minuman beralkohol. Gadis itu tidak pernah melihatnya sebelum ini. Lagi pula, ia terlalu kalut untuk memperhatikannya.

Rayya hanya merasa tenggorokannya kering dan haus, lalu asal tarik saja ketika melihat botol minuman mewah melintas di hadapannya.

Di lantai dasar, semua karyawan The Crown, perusahaan tempat Rayya bekerja, sedang merayakan kesuksesan hasil kerja mereka pada tahun ini. Keuntungan yang melebihi ekspektasi yang direncanakan membuat pemilik perusaha memberikan reward liburan ke Bali dengan menggunakan kapal pesiar mewah yang di booking khusus.

Rayya sendiri tidak terlalu bersemangat untuk bergabung bersama mereka. Ia ikut dalam pelayaran ini juga karena desakan kedua sahabatnya, Ratna dan Ayumi.

“Gue benar-benar nggak mood untuk ikut. Serius. Kalian aja deh, ya?” ujar Rayya beberapa hari yang lalu pada kedua sahabatnya yang datang membujuk wanita itu untuk ikut berlayar.

Bukannya Rayya tidak tertarik. Siapa sih yang tidak mau naik kapal pesiar?

Gratis pula!

Namun, berita pernikahan Rendra masih menghancurkannya. Lelaki yang sudah menjalin hubungan dengannya selama setahun belakangan itu diam-diam menikah. Tanpa pemberitahuan apapun.

Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja badai itu menghantamnya kuat!

Padahal mereka tidak sedang terlibat masalah apa-apa. Semua baik-baik saja. Berita itu begitu mendadak dan memukulnya dengan begitu telak. Hatinya hancur.

Rendra yang sejak dulu mengejarnya, terus meyakinkan betapa lelaki itu mencintainya, kini malah mengkhianati kepercayaan Rayya.

Saat dirinya luluh dan mulai mencintai lelaki itu semakin dalam, tiba-tiba saja ketulusan perasaan Rayya dihancurkan dengan begitu kejam.

Sikap Rendra sendiri bahkan masih sangat romantis padanya. Ia tahu tentang pernikahan itu setelah satu minggu lelaki itu sah menjadi suami wanita lain.

Kejam! Tega sekali dia!

Jika saja video itu tidak dikirimkan ke ponselnya oleh sebuah nomor asing, Rayya mungkin masih menjalani hubungan dengan Rendra. Hubungan terlarang yang membuat Rayya menjadi sosok selingkuhan! Hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Bahkan, sampai kemarin pun, mantan kekasihnya itu masih saja menghubungi, menelpon dan mengirimkan puluhan pesan yang tidak lagi ia balas.

Akhirnya Rayya memutuskan untuk mengganti nomor ponsel demi menghindari Rendra.

Hatinya sakit. Siapa sih yang nggak sakit diperlakukan seperti itu?

Rasanya susah sekali mengakhiri hubungan yang sudah membuat dirinya nyaman. Menyangka bahwa ia dan Rendra memang diciptakan untuk terus bersama.

Bahkan Ratna dan Ayumi pun tidak percaya. Mereka melihat sendiri bagaimana selama ini Rendra memperlakukan Rayya dengan begitu manis dan romantis. Rayya dan Rendra adalah double R yang dinobatkan sebagai couple goal dan berhasil membuat orang-orang yang melihat menjadi iri.

“Ayo dong, Rayya. Pokoknya lo harus ikut! Gak pantas banget lo meratapi lelaki pengecut kaya Rendra!” sergah Ayumi dengan wajah kesal.

“Ayumi benar, Rayya. Rendra nggak pantas menerima kekecewaan lo yang kaya gini. Lo harus ngebuktiin sama Rendra bahwa lo bisa banget bahagia walau nggak sama dia.” tambah Ratna lagi. Tegas dan menggebu-gebu. Mereka juga ikut panas dan sakit hati melihat Rendra mempermainkan perasaan Tsurayya.

“Dan sayang banget nggak sih kalu kita sampi melewati liburan kali ini. Kapan lagi kita bisa naik kapal pesiar mewah secara gratis?” sambung Ayumi kemudian dengan nada mengompori.

Rayya menghela napasnya dengan berat. Kedua sahabatnya itu benar. Rendra memang tidak pantas diratapi. Dan begitulah, akhirnya ia setuju untuk ikut.

Wanita cantik dengan hidung bangir dan kulit kuning langsat itu mulai merasakan kepalanya berkunang. Efek minuman keras yang ia minum dari tadi mulai menunjukkan hasil. Membuat tubuhnya seperti melayang.

Pandangannya bahkan mulai buram dan bergoyang. Rasanya, air laut yang dingin itu memanggil-manggilnya untuk melompat. Membenamkan diri ke dalamnya hingga Rayya dapat melupakan semua rasa sakit.

“Aaaaaaaa!” Rayya berteriak kencang ke arah laut lepas. Setidaknya ia bisa membuang semua gumpalan sakit di dalam dadanya. Berharap, setelah ini ia dapat merasa lebih baik, membuang Renda dan semua kenangan yang diberikan lelaki itu padanya jauh ke di tengah samudra.

Angin laut menyapu wajah dan tubuhnya dengan kencang. Dingin malam menusuk hingga ke dalam sumsum tulang, namun sama sekali tidak dapat mengalihkan sakit yang ia rasakan di dalam dada.

Dress tanpa lengan sebatas lutut membuat roknya yang kembang melambai dan menyingkap. Rayya bahkan tidak sempat memperdulikan itu semua. Paha mulus yang sesekali mengintip di baliknya pun dibiarkan begitu saja. Plus kain merah segitiga kecil yang menjadi penutup bagian tubuhnya yang paling rahasia.

Lagi pula siapa sih yang akan melihat? Semua orang sedang bersenang-senang di bawah. Hanya dirinya saja yang sedang merutuki nasib di sini.

Pandangannya semakin nanar, entah karena air mata atau karena kesadaran yang mulai hilang.

“Renda sialan! Bajingan kamu. BRENGSEEEKKKK! Apa kamu pikir cuma kamu satu-satunya cowok di muka bumi ini? Hah? Masih banyak lelaki lain yang jauh lebih baik dari kamu!” teriak wanita itu sambil terhuyung-huyung di pinggir pagar pembatas.

“AAAAGGGRRHHHH!!” teriaknya lagi sekuat tenaga.

Rayya menangis kencang. Membiarkan segala emosinya lepas, agar hatinya lega. Walau sudah lebih satu jam ia di sana, rasa lega itu tak kunjung datang.

Gadis itu sama sekali tidak menyadari sepasang mata biru laut menatapnya tajam tidak jauh dari sana. Alis mata yang lebat dan hitam itu tampak mengernyit kesal. Merasa terganggu dengan keriuhan yang diciptakannya.

***

Lydon Zimmermann, CEO perusahaan The Crown yang sedang mengadakan pesta tersebut, naik ke helideck untuk menghindari keriuhan yang sedang terjadi di bawah sana. Hingar-bingar musik dan suara tawa yang saling bersahutan membuat kepalanya seakan mau pecah. Berisik!

Belum lagi sosok-sosok yang mengekorinya kemana-mana, berusaha menjilat dan mengambil simpati, membuat lelaki itu gerah dan muak.

Ini adalah sebuah liburan, maka seperti itu lah ia ingin merasakannya. Sebuah liburan!

Lydon sama sekali tidak menyangka bahwa naik kemari juga tidak membuat dirinya dapat menyendiri dengan tenang. Dia malah diganggu oleh kehadiran seorang wanita sinting yang saat ini sedang berteriak ke arah laut lepas itu.

“Sial.” gerutu lelaki yang saat ini juga sedang berada di ambang batas kesadaran karena teralu banyak meneguk minuman keras itu.

Lydon menatap bawahan dress selutut yang dikenakan wanita itu, melambai-lambai tertiup angin dan membentuk tubuhnya yang ramping. Sesekali kain merah kecil berbentuk segitu juga mengintip dari sana. Mampu membuat darah para lelaki normal mana pun berdesir hebat.

“Ck! Kenapa wanita sialan itu harus ada di sini?” gerutu Lydon kesal. Dan semakin kesal dengan reaksi tubuhnya pada pemandangan yang dilihatnya di sana.

Dirinya adalah lelaki normal. Wajar saja tubuhnya memberikan reaksi seperti itu.

'Dasar perempuan. Berkoar-koar ingin kaum Adam menjaga pikiran dari hal-hal kotor, tapi malah menyajikan pemandangan seperti itu.' sinis Lydon di dalam hati.

Tiba-tiba ... Lydon melihat tubuh wanita itu terhuyung dan hampir terjatuh melewati pagar pembatas. Reflek, ia langsung bangkit dan berlari menghampiri wanita gila itu. Untung saja ia berhasil meraih pinggangnya agar tidak tercebur ke dalam laut lepas.

Syukurlah, ia tiba tepat pada waktunya.

“Apa kau gila? Hah?!” teriak Lydon dengan suara kasar sembari memutar tubuh mungil itu menghadap ke arahnya.

Namun wanita itu malah menatapnya tidak mengerti.

"Aah? Siapa kamu?" lirihnya dengan suara lemah setengah teler.

Namun, belum sempat Lydon menjawab, wanita itu malah terkulai lemas di dalam pelukannya. Ia pingsan.

“What?!” desis Lydon dengan mata terbelalak karena rasa terkejut. Ia menggerutu kesal, namun tetap memegang kuat tubuh mungil yang kini tidak sadarkan diri itu.

“Sial, tubuhnya dingin sekali!” gumam Lydon lagi saat menyadari tubuh wanita di dalam dekapannya itu hampir membeku karena kedinginan.

'Wanita ini bisa mati kedinginan jika terus berada di luar sini.' pikir Lydon sambil menghentakkan tubuh Rayya dan membenarkan posisinya di dalam pelukannya. Setidaknya, itu mungkin dapat memberikan sedikit rasa hangat.

Sambil terus menggerutu kesal karena terjebak dalam situasi itu, Lydon juga merasa kebingungan.

Kemana ia harus membawa tubuh wanita ini? Dia pingsan dan tidak ada siapa pun di sekitar mereka.

Sambil kembali mendengus kesal, Lydon memutuskan untuk membawa wanita itu masuk, lalu menyusuri lorong-lorong kapal pesiar tersebut dengan langkah terhuyung.

Entah karena efek minuman keras, atau karena gelombang ombak di luar yang cukup besar.

“Di mana kamarnya?” gumam Lydon sambil menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ia berusaha menemukan seseorang.

"Hei, kau bisa mendengarku?" tanya Lydon kasar sambil mengehtakkan sedikit tubuh mungil dalam dekapannya itu. Namun, tentu saja tidak ada reaksi apa-apa dari wanita itu.

“Di mana sih para pelayan itu?” gerutunya lagi bertambah kesal. kepalanya sudah cukup sakit tanpa harus ditambah mengurus seorang wanita yang tidak dikenal.

Namun, sayangnya ia tidak menemukan siapa pun di sana. Sepertinya mereka semua sedang menikmati pesta.

Kepala Lydon terasa semakin berdenyut dan berdentam bagai dihantam palu raksasa. Ia sangat ingin membenamkan diri di atas tempat tidurnya yang empuk.

Tanpa berpikir panjang dan lebih lama lagi, ia pun segera membawa tubuh ringan dan langsing itu menuju ke kamarnya.

Lydon tidak pernah melihatnya sebelum ini. Mungkin anak baru, atau malah mahasiswa yang sedang magang di perusahannya? Entahlah, ia tidak peduli.

Wanita ini terlihat sangat muda. Mungkin sekitar awal 20an. Atau malah masih belasan tahun?

Ya Tuhan! Ia bisa terkena skandal jika ada yang melihat mereka!

Tiba di dalam kamarnya, Lydon membaringkan tubuh yang di luar dugaannya seringan kapas itu di atas ranjang berukuran besar miliknya. Lalu ia pun bergerak menjauh.

Namun, belum sempurna Lydon berdiri tegak, kedua tangan wanita itu kembali merengkuh lehernya dan menarik tubuhnya mendekat, sehingga membuat Lydon kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat di atas tubuhnya yang mungil.

Lalu sedetik kemudian, tanpa mampu mengelak ia merasakan bibir wanita itu menyentuh bibirnya. Bergerak dan melumat bibir Lydon dengan liar. Seakan dirinya memang sudah mahir melakukannya.

Lydon terkejut, namun sama sekali tidak berusaha menolak. Bagaimana bisa? Ia merasakan darahnya berdesir dan keperkasaan yang menjadi bukti kelelakiannya kini mendesak ketat di balik celana. Mulai menunjukkan reaksi alami dari tubuhnya yang juga berada di ambang kesadaran.

Bab 2

Jujur saja, Lydon menikmati setiap efek yang diberikan oleh wanita asing yang saat ini berada di bawah tindihan tubuhnya itu. Dahsyat.

Bibir wanita itu terasa lembut dan manis, bercampur dengan rasa red wine yang mewah.

Lidahnya bergerak dengan lihai. Menyelinap masuk ke dalam mulut Lydon yang dengan senang hati memberikan akses.

Ini bukan pertama sekalinya ia menerima ciuman dari seorang wanita. Namun,wanita ini terasa lain baginya. Terasa sangat nikmat. Entah bagaimana ia dapat menjelaskan itu semua.

Lydon merasakan darahnya kembali berdesir. Mengirimkan gelitik nikmat dalam kemelut Gairah yang mulai memuncak. Ia pun tidak mampu menahan diri untuk tidak membalas ciuman dahsyat memabukkan yang baru saja diterimanya.

'Ya Tuhan! Anak muda jaman sekarang sangat agresif. Apakah wanita ini sudah cukup umur untuk melakukan ini semua?' batin Lydon kembali bertanya sambil mempertahankan sisa-sisa kewarasannya. Ia berusaha menguasai diri yang hampir lepas kendali.

Jika dilanjutkan, ia tidak yakin bahwa mereka akan berakhir tanpa saling melucuti pakaian masing-masing.

Ini tentu saja bukan pengalaman pertama baginya. Walau Lydon juga terbiasa menolak dengan mudah setiap wanita yang datang menggoda. Bagi Lydon, jika ia yang menginginkan, maka dirinya lah yang akan datang.

Namun, entah mengapa kali ini terasa lain. Ada sesuatu pada wanita ini yang memberikan efek berbeda pada diri seorang Lydon. Ia menginginkan wanita ini dengan cara yang tidak dapat ia mengerti. Apakah ini karena efek minuman keras yang ia konsumsi tadi?

Entahlah.

Alih-alih menghentikan apa yang telah dimulai wanita asing yang mabuk itu, ia malah membiarkan dirinya terhanyut dalam gelora panas yang menyelimuti jiwa dan raga mereka.

'Damn! Lagi pula wanita ini sendiri yang menggoda dan menarikku untuk melakukan ini.' pikir Lydon mencari pembenaran sambil terus melanjutkan apa yang telah mereka mulai. Membiarkan dirinya bebas menikmati apa yang disuguhkan untuknya.

Tangan Lydon tidak tinggal diam kali ini. Ia mulai bergerilya menjelajahi setiap jengkal tubuh mulus di dalam dekapannya itu.

Gairah Lydon semakin terbakar saat lenguhan kenikmatan terlepas dari bibir ranum yang baru saja ia lepas itu. Bibir yang kini menjadi semakin merah dan basah akibat lumatan bertubi bibirnya.

Wanita itu mengangkat tubuhnya tinggi, kepalanya ditekan ke atas, memamerkan lebarnya yang putih dan jenjang.

Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Lydon segera mendaratkan bibirnya di sana. Memberikan kecupan-kecupan panas yang meninggalkan jejak-jenak merah. Seakan dirinya sedang meninggalkan jejak kepemilikan.

Sementara itu, tangannya kembali meremas pinggul ramping sang wanita di balik rok gaun yang kini sudah terangkat ke atas.

Dengan sekali sentakan tidak sabar, Lydon juga melepaskan celana dalamnya yang sejak di helideck tadi sudah menggodanya. Lalu tangannya yang besar membuka kaki sang wanita, dan memposisikan tubuhnya sendiri di antaranya.

Tangan Lydon tidak bisa berhalenti di sana saja. Ia menarik tubuh wanita itu hingga kini mereka saling duduk dalam posisi yang berhadapan. Lalu menarik gaun itu melewati kepalanya. Sebelum akhirnya kembali melanjutkan ciuman panas mereka.

Di saat yang bersamaan, Lydon jeut ga mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya sendiri. Hingga kini mereka telanjang bulat.

Tidak ada lagi yang menjadi penghalang di antara keduanya.

Lydon kembali mendorong tubuh mungil yang liat dan liar itu ke atas tempat tidur. Melepaskan tautan bibir mereka untuk menatap wajah manis dan cantik di bawah tindihan tubuhnya itu.

"Siapa kau sebenarnya, hmm?" gumam Lydon pelan.

Tidak ada jawaban. Wanita itu malah melepaskan lenguhan penuh rasa nikmat lainnya. Matanya terpejam seakan sedang menikmati kenikmatan luar biasa itu. Ekspresi yang sangat luar biasa. Seakan Lydon tidak akan pernah bosan untuk menatapnya.

"Shit! Semua ini adalah keinginanmu! Kau mengerti?" geram Lydon sambil langsung mengulum kembali bibir indah merekah itu. Ia sa sekali tidak menunggu jawaban.

Untuk apa? Bahkan jika wanita itu menolak, ia tidak yakin mampu menghentikan semua ini.

Bibir Lydon turun ke bawah dan mulai mempermainkan dua puncak dada kemerahan milik sang wanita. Menjilat, mengusap, mengulum, lalu menggigit kecil. Sebelum akhirnya kembali membenamkannya ke dalam kuliman panjang dan panas.

"Aaahhh ..." Lenguhan indah dari bibir Rayya kembali membuat gairah Lydon membara.

Mulutnya berpindah dari satu bukit ke bukit yang lain. Terus seperti itu hingga dirinya puas bermain di sana, dan mulai membawa bibirnya semakin ke bawah. Menyusuri perut rata sang wanita.

Lydon menjilati pusar Rayya sekilas, dan tersenyum tipis saat mendapati wanita itu kembali menggelinjang nikmat. Desahan demi desahan terus terdengar. Sungguh, Lydon menyukainya. Sekaan itu adalah alunan musik yang sangat indah .

Ingin memberikan efek lebih dahsyat, Lydon pun tidak sedang untuk menurunkan bibirnya lebih ke bawah. Pada muara hasrat yang paling inti.

Ia melesakkan bibir ke sana, dan memainkan lidahnya dengan lihai.

Lenguhan panjang itu kembali terdengar. Diiringi dengan gerakan tubuh sang wanita yang semakin liar. Namun, tentu saja Lydon tidak berhenti di sana. Kini saatnya ia menuntaskan apa yang telah mereka mulai.

Lydon mengambil posisinya sambil membentangkan paha wanita di bawah tindihan tubuhnya itu semakin lebar. Lalu dalam sekali sentakan kuat, ia menyatukan tubuh mereka.

"Akh!" pekikan dari bibir ranum itu tidak terdengar nikmat.

Di tengah jalan, gerakan Lydon terhenti. Pekikan rasa sakit dari wanita itu membuatnya tercenung.

"What ...?" Lydon bergumam bingung.

'Benarkah? Benarkah wanita ini masih ... tapi, mana mungkin?' ia terus bertanya di dalam hati.

Namun, pergelutan panas mereka sudah terlalu jauh. Bagaimana pun ia harus menyelesaikannya. Dan Lydon bukan tipe lelaki yang mau menahan diri.

Ia tidak pernah menjadi sosok yang penyabar. Dan kali ini pun tidak!

Ia kembali menggerakkan pinggulnya maju mundur. Memasuki dan menarik kembali keperkasaannya dari dalam liang kenikmatan yang telah disuguhkan padanya.

Ritme awal yang pelan dan lembut, lalu berubah semakin cepat dan liar. Semuanya terjadi dengan begitu saja. Pekikan, lenguhan, serta desahan dari bibir indah itu pun kini mulai kembali terdengar indah. Bukti bahwa wanita itu juga menikmati permainan mereka.

Hingga akhirnya lenguhan panjang dari keduanya berpadu dalam irama yang saling bersahutan. Menyatakan bahwa keduanya telah mencapai puncak kenikmatan. Mereka merengkuh surga dunia bersamaan.

Semua terjadi begitu alami.

Dinding-dinding kamar serta deruan ombak yang diikuti dengan hujan deras di luar sana menjadi saksi apa yang mereka lakukan malam itu.

Dua anak manusia telah bersatu dalam hubungan tanpa ikatan.

One night stand!

Hal yang tidak seharusnya terjadi, malah terjadi.

'Ya, Tuhan. Jika ini mimpi, maka ini adalah mimpi ternikmat yang pernah aku rasakan.' pikir Lydon sambil memandangi wajah indah di bawahnya. Lalu ia menggeser tubuhnya ke samping, dan lelaki itu pun jatuh terlelap. Mengikuti wanita asing yang sejak tadi sudah mendengkur lembut di sampingnya.

Bab 3

Keesokan paginya, Rayya terbangun dengan kepala berat dan sakit luar biasa. Sungguh, seakan dihimpit dengan bebatuan besar. Tenggorokannya terasa kering. Mata dan wajahnya sembab. Ia merasa buruk.

Wanita itu mengernyit untuk menyesuaikan matanya dengan silau yang menyerang. Sinar matahari yang menyeruak masuk dari balik jendela berhasil membuat sakit kepalanya semakin parah.

'Nice!' sinisnya di dalam hati.

Ia bahkan tidak mampu menikmati indahnya langit biru yang bertemu langsung dengan Samudera luas di balik jendela kaca kamar itu.

“Ugh!” Rayya mengerang pelan sembari memegangi kepalanya. Lalu secara perlahan membuka mata dengan susah payah.

Seorang lelaki tampan bagai titisan malaikat terlihat damai di sampingnya. Siapa itu? Apakah dirinya bermimpi?

Wanita itu tersenyum lembut. Jika ini mimpi, maka ia akan berdoa pada Tuhan agar dibiarkan seperti ini untuk sementara waktu.

Rasanya, kehadiran lelaki dengan tulang rahang tegas dan hitung lurus dan mancung itu mampu menghilangan rasa sakit hatinya karena kehilangan seorang kekasih.

Apakah Tuhan begitu mengasihinya sehingga mengirimkan seorang malaikat untuk mengobati rasa sakit di hatinya? Rayya semakin melebarkan senyumnya memikirkan kemungkinan itu.

“Engh...” Lelaki yang bak malaikat itu mengerang pelan, dahinya mengernyit sesaat, sebelum akhirnya kembali terlihat tenang.

Tubuh Rayya membeku.

Sebuah palu besar seakan menghantam kepalanya seketika. Membuat Rayya tersadar siapa sosok yang sedang berbaring di sampingnya itu.

Ya Tuhan!

Ternyata semua yang sedang ia alami saat ini adalah nyata!

Sosok lelaki di sampingnya itu adalah nyata!

Kedua bola mata indahnya yang hitam pekat di balik barisan bulu mata lentik alami itu terbelalak tidak percaya.

Itu adalah Lydon Zimmerman!

CEO perusahaan di mana dirinya bekerja!

“Sial!” makinya pelan pada diri sendiri. Entah kebodohan apa yang sudah dilakukannya semalam, yang jelas dirinya sedang mengundang petaka!

Rayya segera beringsut bangkit dengan gerakan secepat kilat. Lalu ketika sadar bahwa apa yang dilakukannya itu dapat membangunkan Lydon, dirinya pun kembali bergerak dengan pelan dan hati-hati.

Wanita muda itu melupakan rasa sakit di kepalanya akibat kondisi mabuknya tadi malam. Jantungnya kini berdetak dengan cepat. Perasaan takut dan ngeri menyelimutinya tiba-tiba.

Bagaimana mungkin ia terbangun di samping Lydon Zimmerman?

'Oh My God! Gue harus segera keluar dari sini sebelum dia sadar.' pikir Rayya panik.

Saat berdiri di lantai kamar untuk segera melarikan diri dari sana, wanita berusia 21 tahun itu kembali disadarkan dengan kenyataan mengejutkan lainnya.

Ia tidak mengenakan apa pun di tubuhnya!

“What?!” serunya dengan pekikan tertahan.

Rayya segera membekap mulutnya dengan kedua tangan, lalu kembali memastikan lelaki yang bagaikan malaikat pencabut nyawa di atas ranjang itu tidak terjaga.

'Oh come on Rayya! Sebenarnya Lo ngapain sih semalam?' erang wanita itu di dalam hati.

Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, berusaha mengusir kemalut yang mulai mengusik benaknya.

Arrggh!

Rayya tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkannya sekarang. Kini, yang harus ia lakukan pertama sekali adalah segera pergi dari sana!

'Pergi atau lo akan membuat diri lo sendiri menjadi santapan malaikat maut, Rayya!' Ia kembali memperingati dirinya sendiri. Tentu saja hanya di dalam hati.

Wanita cantik bertubuh mungil itu segera memungut pakaiannya yang berserakan. Entah bagaimana setiap helai baju yang ia kenakan semalam tergeletak sembarangan di atas lantai kamar itu. Ia bahkan sempat merasa kesulitan menemukan celana dalamnya, yang ternyata berada tepat dibawah tumpukan kemeja Lydon.

Ya Tuhan! Ia tidak ingin menebaknya. Hanya akan membuat dirinya merinding disco saja!

Rayya mengenakan setiap helai pakaiannya dengan cepat. Lalu, tiba-tiba gerakannya yang buru-buru dan tanpa perhitungan itu membuat dirinya menyadari rasa sakit dan nyeri di bagian paling rahasia di tubuhnya. Bagian yang tidak pernah terjamah oleh siapa pun sebelumnya.

'Apa ini?' pikirnya dengan ngeri.

Rayya mengerang dengan pelan, lalu sedikit membungkukkan tubuh karena menahan sakit. Tangannya menekan keras bagian bawah tubuhnya itu dari luar sembari memejamkan mata. Dengan langkah tertatih, ia pun kembali bergerak menuju pintu keluar.

Rayya membuka pintu kamar mewah itu dengan gerakan pelan dan hati-hati. Ia benar-benar tidak ingin menambah masalah dengan membangunkan sosok yang tidak seharusnya ada di sampingnya itu.

Hingga akhirnya berada di luar kamar, dirinya pun dapat bernapas lega. Sama sekali tidak menyadari kedua bola matanya yang indah kini dihiasi dengan maskara luntur. Dan dalam keadaan kacau itu lah ia mengikuti lorong panjang di hadapannya.

Syukurlah tidak ada siapa pun di sana. Sepi. Wanita itu kembali mendesah lega. Ia harus memastikan tidak ada yang melihatnya keluar dari kamar terbaik di kapal pesiar mewah tersebut.

Rayya sama sekali tidak menyadari, bahwa begitu pintu kamar itu tertutup di belakangnya, kedua mata biru di balik bulu mata hitam dan lebat miliki Lydon Zimmerman terbuka lebar. Menatap pintu dengan matanya yang tajam. Ekspresinya datar, tidak dapat dibaca.

***

Dua bulan kemudian ....

Rayya melewati hari itu dengan berat. Ia merasa pusing dan tidak enak badan. Segala persiapan ulang tahun perusahaan dan juga seremonial pengangkatan beberapa anak magang sebagai karyawan tetap menguras tenaganya.

Dan ... sejak siang tadi, perutnya mual dan kepalanya sakit bukan main.

Rayya dan kedua sahabatnya, Ratna dan Ayumi, berhasil menaiki satu lagi anak tangga perjalanan karir mereka. Mereka berhasil melewati tahap magang dengan baik dan akhirnya menandatangani kontrak kerja sebagai desainer tetap perusahan The Crown.

Sebuah kehormatan, tentu saja. Namun tubuhnya rasanya remuk redam. Ia ingin pulang dan beristirahat saja saat ini.

Tetapi itu artinya Rayya menyia-nyiakan kesempatan langkq, karena nanti namanya akan disebut di hadapan para pesohor negeri. Mulai dari artis ibu kota, hingga pebisnis nasional maupun internasional. Ada pula beberapa pejabat tinggi negara.

“Nih, lo minum obat ini dulu.” Ayumi datang dan memberikannya sebutir pil putih kecil dan segelas air mineral.

“Obat apa?” tanya Rayya enggan. Ia memang jarang mengkonsumsi obat-obatan.

“Cuma pereda nyeri. Minum aja dulu. Seenggaknya bisa untuk bertahan beberapa jam lagi sebelum lo bisa pulang.” sahut Ayumi.

Akhirnya Rayya setuju. Ia menerima pil itu dari tangan Ayumi, lalu meminumnya.

Ayumi benar. Rayya memang harus bertahan untuk beberapa jam lagi. Demi karir dan masa depannya.

***

Nama-nama peserta magang yang lolos menjadi pegawai tetap disebutkan satu per satu. Lydon Zimmerman sendiri yang memberikan penobatan itu.

Saat nama Rayya disebut, mata lelaki itu sempat menoleh arahnya. Menatapnya dengan tajam.

Memang hanya seper sekian detik, namum berhasil membuat jantung Rayya berhenti berdetak beberapa saat. Bulu kuduknya berdiri, merinding karena dicekam rasa takut dan ngeri.

'Apakah lelaki itu mengenalinya?' batin Rayya bertanya-tanya.

Tetapi, bagaimana mungkin? Mereka pasti mabuk berat malam itu, sampai itu semua terjadi!

Secara reflek Rayya menyembunyikan tubuh di belakang kedua sahabatnya. Seakan itu dapat menutupi dirinya dari pandangan tajam Lydon.

Selama dua bulan ini, setelah kembali dari kapal pesiar itu, ini adalah kali pertama Rayya kembali melihat Lydon secara langsung.

Mereka memang bekerja di gedung yang sama, namun di lantai yang berbeda.

Bahkan setelah pengangkatan pegawai tetap ini pun, masih saja dirinya akan sulit bertemu langsung dengan pemilik perusahaan The Crown itu.

Rayya merasa ngeri membayangkan apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu. Apakah lelaki itu memaksanya? Tetapi ... untuk apa?

Lydon dengan mudah dapat mengencani wanita cantik mana pun yang ia inginkan. Model-model cantik papan atas selalu berkeliaran di sekitar pria itu.

Jadi, apakah itu artinya dirinya lah yang memaksa?

'Oh Ya Tuhan ... jangan sampai itu terjadi!'

Rayya menggeleng dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia memukul pelan kepalanya dengan kepalan tangan.

“Ngapain sih lo, Ray?” tanya Ayumi dengan dahi mengernyit bingung.

Rayya tersentak. Ia mendongak dan menatap kedua sahabatnya yang kini menatapnya aneh.

“He he, nggak. Ini nih ... kepala gue sakit banget.” kilah Rayya memberi alasan. Ia menyengir garing. Ratna dan Ayumi mendengus dan menggeleng pelan menanggapi tingkahnya.

“Jangan malu-maluin! Jaga sikap. Banyak tamu terhormat yang hadir!” bisik Ratna sembari menarik tangannya sedikit kasar. Memaksanya untuk berdiri dengan tegak dan anggun.

Di depan sana, Lydon menyelesaikan kata-kata sambutannya, lalu tepuk tangan yang meriah kembali menggema.

Saat turun dari panggung kecil tersebut, matanya kembali melirik tajam ke arah Rayya. Sekali lagi jantung wanita itu berhenti berdetak, dan membuat napasnya tertahan. Ia seakan lupa caranya bernapas.

“Dia ngelihat ke arah kita nggak sih?” tanya Arumi yang ternyata juga menyadari tatapan lelaki itu.

Tiba-tiba saja pekikan kegirangan tertahan dari yang lainnya di sekitar mereka kembali terdengar.

Rayya menoleh, dan melihat lelaki itu melangkahkan kakinya menuju tempat mereka berdiri.

Gemuruh tepuk tangan kembali terdengar ketika Lydon mengulurkan tangannya untuk menyalami mereka. Di mulai dari yang paling kanan, dua orang anak magang di bagian pemasaran.

Rayya berdiri di posisi ke dua dari kiri. Di antara Ayumi dan Ratna. Dan seketika itu pula wanita itu menjadi panik. Ia merasa lututnya bergetar dan telapak tangannya menjadi basah karena keringat dingin. Jantungnya berdetak semakin cepat.

Please ...

Malam ini, Rayya ingin berada di mana pun, selain di hadapan Lydon Zimmerman!

Sembari menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, Rayya memantapkan hati. Ia memberanikan diri dan berusaha bersikap biasa saja. Seolah tidak terjadi apa-apa. Sama seperti yang lainnya.

Ia hanyalah seorang pegawai, dan Lydon adalah CEO perusahaan ini. Tidak lebih.

'Ayo lah, Rayya ... jangan berlebihan!' sinisnya pada diri sendiri.

Lydon sampai di hadapannya, lalu mengulurkan tangan. Dan Rayya menyambut uluran tangannya dengan tubuh gemetaran. Rayya tidak mampu menyembunyikan itu.

Lydon pasti bisa merasakan telapak tangan Rayya yang basah dan dingin. Itu dapat dilihat dari cara lelaki itu menarik sedikit sudut bibirnya, membentuk senyum mengejek.

Rayya menatap gugup ke dalam sepasang netra biru di balik barisan bulu mata lebat itu. Lalu dirinya terpaku.

Itu adalah mata paling indah yang pernah dilihatnya. Seakan mampu menghipnotis siapa saja yang memandang.

“Ternyata kau di sini.” gumam lelaki itu pelan. Yang seketika membuat tubuh Rayya membeku.

Apa maksudnya itu?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED