Bab 1

Namaku Marilyn. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara, yang kesemuanya adalah perempuan. Madeline adalah kakak sulungku. Orang-orang menjulukinya Miss Perfect. Karena menurut orang-orang, kakakku itu sempurna dan maha segala. Maddie, begitu biasanya kakakku disapa, sangat cerdas, teliti dan cekatan dalam segala hal. Ditambah dengan kecantikannya yang bersinar terang bagai cahaya mercusuar, tidak ada satu laki-laki pun yang sanggup menolak pesonanya. Dalam keluarga kami, Maddie adalah seorang ratu. Segala titahnya adalah mutlak dan wajib untuk dilaksanakan.

Maureen adalah adik bungsuku. Kami sekeluarga sepakat menjulukinya Miss Glow In The Dark. Reen, biasanya adikku ini disapa, memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Dengan IQ yang nyaris mendekati sempurna, Reen menonjol di antara gadis-gadis lainnya. Jika para wanita kebanyakan menonjol karena kecantikan ataupun keseksian mereka, Reen berbeda. Adikku ini mempesona dengan kecerdasan dan kepercayaan dirinya. Kelebihannya ini sangat mendukung karirnya sebagai seorang pengacara muda yang bertalenta. Dengan tatapan khasnya yang sangat intimidatif, Reen sukses setiap kali membantai musuh-musuhnya di pengadilan.

Dan di antara bersinarnya mereka berdua, aku bagaikan sebatang korek api basah nan redup. Aku tidak memiliki kelebihan apapun di antara kedua saudariku, selain kecantikanku yang di atas rata-rata.

Tetapi menurut kedua saudariku, kecantikanku itu bukanlah suatu hal yang perlu dibanggakan. Karena kecantikanku itu kebetulan diturunkan secara genetika oleh kedua orang tuaku. Bukan karena kerja keras apalagi prestasi. Aku tidak perlu melakukan apapun untuk meraihnya. Jadi apa hebatnya? Kecantikan hibahan tanpa perlu kerja keras adalah istilah favorit mereka berdua.

Sedari kecil, ibuku sangat bangga dengan semua talenta yang dimiliki oleh kakak dan adikku. Sampai-sampai ibuku lupa bahwa dia juga memiliki aku sebagai anak kandungnya.

Masih begitu terpatri dalam ingatkanku, kejadian-kejadian sewaktu kami semua masih di Sekolah Dasar. Saat itu kami menghadari acara ulang tahun salah seorang rekan kerja ayahku, di salah satu hotel megah dan mewah. Karena ayahku saat itu mempunyai keperluan lain, ayah berangkat ke acara terlebih dahulu.

Ayah berpesan pada ibu, agar kami semua menyusul saja ke tempat acara. Ayah akan menunggu kami di sana. Dan sepanjang hari itu, aku dan kedua saudariku sangat gembira. Jarang-jarang kami mendapat undangan di tempat mewah seperti acara ini. Dalam benak kami, akan ada kue-kue cantik yang lezat, namun sayang untuk dimakan. Kami bertiga memang cenderung tidak tega memakan kue yang bentuknya indah-indah. Kasihan kuenya bukan?

Waktu yang dinanti akhirnya tiba juga. Dengan memakai pakaian-pakaian terbaik yang kami miliki, ibu membawa kami bertiga ke tempat acara. Maddie memakai gaun princess berwarna merah muda yang cantik. Rok tulenya yang mengembang sempurna, membuat kakakku itu bagaikan seorang putri. Begitu juga dengan Reen. Gaun biru muda melambainya, membuat adikku itu seperti Cinderella. Gaun Cinderella berwarna biru bukan?

Sementara aku menggunakan gaun yang entah apa sebutan warnanya. Kalau disebut putih, tidak juga karena ada kuning-kuningnya. Tapi kalau disebut kuning, ya tidak bisa juga. Karena dasarnya gaun ini berwarna putih. Namun karena kelamaan disimpan di lemari gaun ini berubah warna menjadi kekuningan. Ya, gaunku adalah gaun bekas Maddie yang sudah tidak muat lagi. Sudah menggantung sebetis jika dikenakan olehnya. Makanya gaun ini diberikan kepadaku. Sebenarnya aku sedikit sesak napas juga mengenakan gaun ini karena kesempitan. Tetapi karena hanya tersisa satu gaun itu yang layak pakai, makanya aku memaksakan diri memakainya. Karena aku sangat ingin ikut ke acara.

Ketika kami tiba di lokasi acara, ibu menggandeng tangan Maddie dan Reen di sepanjang koridor hotel, menuju aula tempat acara diadakan. Dan seperti biasa, aku tetap berjalan dalam diam, di belakang mereka bertiga. Sebenarnya aku merasa iri dan ingin digandeng juga. Tetapi tangan ibu hanya dua. Jadi pasti tidak cukup untuk menggandengku juga.

Di sepanjang koridor hotel aku mendengar celotehan riang kakak dan adikku. Mereka menanyakan hal ini dan itu, sembari menunjuk segala dekorasi di sepanjang koridor hotel. Ibuku dengan sabar menjawab pertanyaan mereka satu persatu. Sesekali ibuku tertawa bila pertanyaan kakak dan adikku terasa lucu olehnya. Pemandangan ini sudah biasa aku saksikan setiap hari. Ibuku sangat menyayangi kakak dan adikku.

Ketika aku ikut menanyakan mengapa karpet yang lalui sepanjang jalan berwarna merah, ibu mengabaikannya. Ibu seolah-olah tidak mendengar pertanyaanku. Padahal suaraku sudah cukup keras. Tidak puas, aku menarik tangan ibuku. Mencoba meraih perhatiannya. Ibu malah menepis tanganku dan memarahiku. Ibu mengatakan agar aku jangan banyak bertanya dan jangan nakal. Padahal aku hanya bertanya satu kali. Sementara kakak dan adikku memborong semua pertanyaan. Dengan apa boleh buat, aku kembali diam dan mengikuti langkah mereka bertiga dari belakang.

Sembari berjalan, aku memperhatikan gerak-gerik anggun ibuku. Ibuku, adalah ibu yang paling sempurna di dunia. Ibu itu cantik, lembut, pintar sekaligus sangat cekatan. Untuk kategori seorang ibu idaman, mungkin ibuku adalah juaranya. Ibuku adalah ibu impian bagi semua anak, kecuali bagiku. Untukku, ibu rasanya begitu sulit untuk kugapai. Aku sendiri bingung. Mengapa rasa-rasanya ibu sangat tidak mencintaiku.

Sesampai di aula, ruangan telah ramai oleh tamu-tamu yang sebagian besar pernah kulihat. Mereka adalah rekan-rekan kerja ayah. Beberapa di antara bapak-bapak dan ibu-ibu berpakaian bagus itu, sebagian besar pernah datang ke rumah menjumpai ayah. Makanya aku mengenali beberapa di antaranya.

Di saat kami semua sedang mengagumi meriahnya acara, seorang ibu-ibu cantik berkebaya merah muda menghampiri kami bertiga.

"Lho, istri Pak Teddy ini ya?" tanya ibu-ibu cantik itu pada ibu. Sepertinya ibu itu mengenal ayahku. Ibu segera menyalami ibu-ibu cantik itu sembari tersenyum ramah.

"Benar, Bu. Kenalkan, saya Marissa. Seperti yang Ibu katakan tadi, saya adalah istri Pak Teddy," tukas ibuku ramah.

"Saya, Hera. Rekan kerja Pak Teddy," Bu Hera menyambut uluran tangan ibuku.

"Oh iya, ngomong-ngomong dari mana Bu Hera tahu kalau saya adalah istri Pak Teddy?" tanya ibuku.

"Oh, saya pernah melihat photo Bu Rissa dan anak-anak Ibu di ruangan Pak Teddy. Ngomong-ngomong panggil saja saya Hera. Dipanggil Ibu, kok saya jadi mendadak merasa tua," imbuh Bu Hera sembari tertawa.

"Oh begitu toh. Baiklah, kita saling memanggil nama saja ya, biar kita sama-sama merasa muda?" Ibuku tertawa. Dengarlah tawa renyah ibuku. Sangat enak didengar bukan? Renyah dan lembut.

"Oh ya, Hera. Kenalkan ini anak-anakku. Madeline, Marilyn dan Maureen. Ayo anak-anak, salim dulu pada Bu Hera," ucap ibuku ramah.

Dengan patuh kami bertiga menyalami Bu Hera. Saat kakak dan adikku berbisik dan mengatakan kalau Bu Hera cantik seperti artis, aku menggeleng keras. Aku tidak setuju dengan pendapat mereka berdua. Bagiku, ibu tetap yang paling cantik. Titik.

"Anak-anakmu cantik-cantik semua ya, Riss? Kamu ngidam apa sih pas hamilnya? Ngemilin photo artis-artis cantik ya? Hehehe."

Ibu cantik yang bernama Hera itu menjawil pipi Maddie dan Reen dengan gemas. Aku tidak kebagian dijawil, karena aku sudah berdiri di samping ibu. Jarang-jarang aku bisa berdekatan seperti ini pada ibu. Karena biasanya, sisi kanan dan kiri ibu selalu dihuni oleh kakak dan adikku.

"Ah, biasa sajalah, Ra. Kamu terlalu berlebihan," bantah ibu. Namun aku melihat ibu memandang kakak dan adikku dengan tatapan bangga. Sesungguhnya ibuku setuju dengan kalimat Bu Hera.

"Ngomong-ngomong anak-anakmu sekolah di mana, Riss? Mereka berani dan cerdas. Khas anak-anak yang diedukasi dengan baik," puji Bu Hera lagi. Senyum ibu kembali mengembang mendengar pujian dari Bu Hera.

"Di Sutomo, Her. Biar dekat dari rumah."

"Duh, sekolah di sana mahal banget ya, Riss? Mana tempat anak-anak orang kaya semua lagi. Banyak anak-anak pejabat yang bersekolah di sana ya?" imbuh Bu Hera.

"Mahal banget, Ra. Kalau harus membayar penuh juga kayaknya kami tidak mampu. Untungnya Maddie dan Reen bea siswa," tukas ibu bangga.

"Maddie juga aktif ikut olimpiade matematika dan Maureen rajin ikut pentas seni siswa. Piala dan trophy-trophy mereka berjejer di rumah."

Ibu tampak sangat antusias saat menceritakan tentang prestasi Maddie dan Reen. Sedari tadi ibu sedikitpun tidak menyinggung, apalagi menyertakan tentang kegiatanku di sekolah. Selalu begitu. Di mata ibu, aku ini hanyalah seorang anak yang tidak kasat mata. Mungkin karena aku adalah anak yang biasa-biasa saja. Tidak ada satu hal pun didiriku, yang pantas untuk ibuku banggakan.

Pembicaraan selanjutnya tentu saja tentang segudang prestasi-prestasi kakak dan adikku yang lain. Yang ditimpali oleh Bu Hera dengan menceritakan tentang prestasi anak-anaknya juga.

Perlahan aku menyingkir ke sudut ruangan. Aku duduk diam dan memperhatikan kakak dan adikku yang berlarian ke sana ke mari dengan anak-anak yang lain. Kedua saudariku itu memang pandai sekali bersosialisasi. Tidak minderan sepertiku. Sejurus kemudian, ibuku memanggil kami bertiga. Obrolan ibu dengan Bu Hera telah usai.

Ibu menghela lengan kakak dan adikku kembali menuju meja prasmanan. Sementara aku dengan setia mengekor di belakang. Dengan perasaan cemburu aku memandangi langkah kakak dan adikku yang digandeng oleh ibu. Aku sedih. Entah kapan aku bisa menggantikan posisi kakak atau adikku, agar bisa digandeng oleh ibu.

Dulu, aku pernah protes pada ibu. Aku mengatakan bahwa aku juga ingin di gandeng saat berjalan, seperti ibu yang selalu menggandeng tangan kakak dan adikku. Dan ibu menjawab kalau tangan ibu itu cuma dua. Satu dipakai untuk menggandeng kakakku dan yang satu lagi untuk menggandeng adikku. Jadi bagaimana ibu bisa menggandengku juga? Setelah mengatakan hal itu, ibuku berlalu begitu saja sembari menggandeng kakak dan adikku.

Aku yang bersedih, biasanya akan langsung berlari mencari ayah. Karena ayah selalu bilang, kalau ibu sedang sibuk mengurus kedua saudaramu, datanglah pada ayah. Ayah akan mengajakmu bermain seharian, bahkan sampai mataharinya tidur.

Seperti biasa juga, aku pasti akan mengangguk dan menyembunyikan tangis di dada ayah. Karena walau bagaimanapun, sesungguhnya aku juga ingin disayang oleh ibu. Aku ingin bermanja-manja pada ibu seperti kedua saudariku. Terlepas dari semua itu, aku ingin dicintai oleh Ibu seperti halnya dengan dua saudariku yang lain. Aku bukan iri pada saudara sendiri. Aku hanya ingin diperlakukan sama. 'Kan aku juga anak kandungnya?

Walaupun waktu itu usiaku masih delapan tahun, tapi aku bisa melihat tatapan kesedihan dan rasa bersalah di mata ayah, setiap kali ia menatapku. Hanya saja aku tidak tahu, apa penyebab ayah selalu terlihat begitu sedih setiap kali aku mengadu.

Tapi satu yang pasti, ayahku adalah segalanya bagiku. Walaupun ibu tidak begitu mengganggap keberadaanku, tetapi ayahku selalu menjadikanku sebagai pusat dunianya. Kata ayah, aku adalah mataharinya dan sumber segala kebahagiannya. Ayahku bilang, apapun yang membuatku bahagia, maka ayah sepuluh kali lebih bahagia. Sepuluh kali! Sepuluh kali itu banyak sekali bukan? Itulah hal yang menjadikanku kuat dari hari ke hari. Ayahku mencintaiku. Titik.

Bab 2

14 tahun kemudian.

"Lyn, coba kamu ambilkan sepatu kakak yang berwarna putih dan blazer hitam yang kamu setrika kemarin. Cepat sedikit ya, Lyn? Chris sebentar lagi akan sampai."

Teriakan Maddie sukses memutus lamunan masa kecilku. Saat ini, kakakku tengah sarapan di dapur. Sebentar lagi pacarnya akan menjemput. Makanya Maddie sarapan dengan terburu-buru. Christian Diwangkara, pacar Maddie, memang paling anti jika disuruh menunggu.

"Iya, Kak. Sebentar Lyn cari dulu."

Aku segera berlari ke lantai atas. Kamar Maddie memang terletak di lantai dua. Aku segera menyambar blazer hitam dari lemari, dan meraih sepatu dari rak. Aku meletakkan blazer di tempat tidur agar mudah terlihat, dan sepatu di samping pintu kamar, agar mudah terlihat. Aku menyelesaikan titah Maddie secepat mungkin, sebelum ia mengomeliku panjang pendek. Setelahnya aku kembali berlari ke dapur. Aku masih harus mencuci peralatan dapur yang kotor.

Tin... Tin... Tin...

"Duh, si Chris sudah sampai lagi. Kakak malah belum apa-apa," Maddie kelabakan. Ia menghentikan sarapan dan meneguk segelas jus jeruk. Setelahnya ia bersiap naik ke lantai atas. Namun sekonyong-konyong Maddie menghentikan gerakannya. Ia seperti teringat sesuatu.

"Lyn, kamu temui dulu si Chris sebentar ya? Suruh dia masuk dulu. Bilang kalau Kakak sebentar lagi akan turun."

Maddie bergerak menuju tangga. Bersiap naik ke lantai dua. Baru berjalan beberapa undakan, Maddie berbalik. Sepertinya ada hal lain yang ia lupakan.

"Kamu buatkan Chris kopi ya, Lyn? Biar dia betah nungguin kakak. Cepat ya Lyn? Tidak pakai lama!" perintah Maddie lagi. Tanpa menunggu jawabanku, Maddie sudah berlari ke lantai atas.

Aku melongo memandang diri sendiri. Saat ini aku hanya berkaos oblong sepaha dengan rambut yang dicepol asal. Apa pantas penampilan acak kadul begini menemui CEO PT Biru Mitra Wahana Sukses? Jangan-jangan Chris nanti akan terkena serangan jantung pagi-pagi. Karena ia mengira bertemu dengan dedemit berambut singa di pagi hari. Tetapi titah Maddie tetap harus diutamakan. Kalau tidak aku pasti akan ingin mendapat masalah dari si nona besar.

Setelah menarik napas panjang dua kali, aku memberanikan diri berjalan ke ruang tamu. Saat langkahku mencapai ruang tamu, Chris sudah duduk ganteng di sofa depan. Chris memang sudah terbiasa keluar masuk rumah ini. Jadi tidak heran kalau ia tiba-tiba sudah duduk saja, padahal belum dipersilahkan. Tamu rasa tuan rumah sepertinya.

"Selamat pagi, Om. Kata Kak Maddie, Om disuruh tunggu dulu sebentar. Soalnya Kak Maddie belum selesai dandan. Om mau saya buatkan kopi atau tidak?" tanyaku sopan.

Selama berbicara, aku terus menundukkan wajah. Ini adalah gesture favoritku. Aku memang tidak nyaman bila harus bersitatap dengan lawan bicara. Aku sangat introvert dan pemalu. Lebih tepatnya tidak percaya diri. Sekitar tiga menit menunggu dan aku tidak mendengar jawaban apapun dari Chris, membuatku terpaksa mengangkat wajah.

Deg!

Aku refleks melipat kedua tangan ke dada, saat menyadari ke arah mana pandangan Chris berlabuh. Aku baru ingat kalau aku sedang tidak memakai penutup dada. Aku memang mempunyai kebiasaan tidak memakai penutup dada saat tidur, karena alasan kesehatan dan kenyamanan. Akibatnya saat ini bayangan bagian atas dadaku tampak jelas. Kaos tidurku memang tipis karena sering dicuci kering pakai. Pipiku terasa menghangat. Sepertinya sedari tadi Chris sudah memandangnya tanpa kusadari.

Karena aku memandangnya, mata kami berdua saling bersirobok. Chris segera mengalihkan pandangannya dari bawah leherku ke arah wajah. Aku melihatnya menarik napas terlebih dahulu sebelum berujar datar.

"Satu, saya ini bukan om kamu. Saya tidak pernah merasa menikah dengan tantemu."

Ya memang. Aku 'kan memang tidak punya tante.

"Kedua, usia saya baru tiga puluh lima tahun. Jadi jangan memanggil saya dengan sebutan om. Karena saya ini pacar kakakmu, bukan om kamu."

Ya iyalah. Omku memang tidak semuda ini.

"Tiga, jangan pernah menemui pria, kapan pun dan di mana pun dengan pakaian seperti ini. Khususnya no bra, kalau kamu memang tidak bermaksud untuk menggodanya. Jelas!" celetuk Chris pedas.

Aku terdiam. Chris ini seenaknya saja mengumpatiku pagi-pagi. Aku bingung. Chris ini kesal karena Maddie belum selesai berdandan, atau karena aku memanggilnya om ya? Membingungkan.

"Maaf, nomor empatnya, saya pinjam dulu ya, Om eh, Kak Chris. Pertanyaan saya singkat saja. Kak Chris masih mau tidak kopinya?" tanyaku serius. Jujur, aku sering pusing kalau mendengar seseorang berbicara panjang kali lebar, padahal tujuannya sama juga. Mubazir kata bukan?

Hening lagi. Takut-takut aku melirik Chris. Entah hanya perasaanku saja, tapi aku melihat wajah Chris semakin lama semakin kusut saja dari menit ke menit.

"Ganti baju dulu sana, sebelum kamu membawakan kopi untuk saya."

Akhirnya Chris bersuara juga. Merepotkan sekali orang ini. Ingin minum secangkir kopi saja, aku harus berdandan dulu. Padahal kenikmatan rasa kopinya tidak akan berubah kalau aku tidak mengganti pakaian bukan? Tetapi aku ikuti saja perintahnya, agar urusanku di sini cepat selesai.

Aku berjalan ke arah kamar dulu untuk memakai penutup dada, baru ke dapur. Aku membuat secangkir kopi dan meletakkan setoples kue kering, untuk teman minum kopi Chris. Setelahnya, baru aku berjalan ke ruang tamu. Ekor mata Chris langsung menyambarku, saat aku meletakkan baki dan kue di atas meja. Aku merasa risih kembali. Chris menatapku menyeluruh walau hanya dengan ujung mata.

"Kenapa kamu tidak mengganti baju?" ucap Chris datar.

"Kan tadi Kak Chris bilang jangan no bra. Makanya saya sekarang memakai bra. Salah lagi ya?" tanyaku sabar. Orang sabar pahalanya besar bukan?

"Kalau masalah mengganti baju, buat apa juga saya harus menggantinya, Kak? Kan saya tidak ikut kalian pergi? Kak Maddie tidak mengajakku kok," imbuhku lagi.

Chris tidak lagi menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, dan kembali memijat-mijat kepalanya. Aku mengerti sekarang. Mungkin Chris marah-marah terus karena ia sedang sakit kepala. Soalnya ia sendiri juga seperti itu. Kalau sedang sakit kepala, ia juga rasanya ingin marah-marah saja.

"Sudahlah kamu masuk saja ke dalam, dan panggil kakakmu agar cepat menyelesaikan urusannya. Lama-lama saya bisa stroke kalau terus menerus berbicara dengan kamu di sini."

Aku mengangguk takzim berjalan ke belakang. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku mencuci piring dan setelahnya mandi. Aku takut Chris akan terkena stroke sungguhan. Tidak lucu kalau niatnya ingin makan malam, tapi mampirnya malah ke UGD bukan? Kasihan kakakku juga. Karena sudah berdandan paripurna, tetapi hanya bisa memamerkan kecantikannya di rumah sakit saja. Not worth it. Kalau meminjam istilah kakakku.

Sebenarnya Chris ini sudah hampir setahun menjadi pacar kakakku. Ini adalah rekor terlama bagi Maddie dalam mempertahankan pacar. Karena biasanya kakakku itu selalu berganti pacar dalam hitungan bulan, bahkan minggu.

Kalau menurut Reen, adik bungsuku, Maddie bertahan karena Chrislah yang paling kaya di antara pacar-pacar Maddie yang lain. Chris mampu memenuhi gaya hidup ala sosialita kakakku. Namun dalam kurun waktu setahun itu, aku jarang sekali berinteraksi dengan Chris. Aku lebih suka mengurung diri di kamar apabila pacar kakakku itu datang.

Aku ingat, pertama sekali Chris datang adalah pada saat ia mengantarkan Maddie yang mabuk berat pulang. Pada waktu itu kantornya mengadakan party besar-besaran, karena perusahaan mereka memenangkan beberapa tender raksasa. Dan Chris adalah salah satu owner perusahaannya.

Saat kejadian itu, aku juga mengenakan busana yang sama. Yaitu kaos sepaha dan no bra karena sudah dalam keadaan separuh bermimpi. Bayangkan saja kakakku pulang pada pukul dua pagi.

Waktu itu Chris memapah Maddie yang sempoyongan sambil memandangiku tajam.

"Kamu gadis muda, jangan pernah membuka pintu dengan pakaian seperti itu, kalau kamu tidak ingin mengundang orang jahat."

Dan Chris masih terus mengomeliku tentang tata cara berbusana yang baik dan benar, sambil terus memapah Maddie ke sofa.

Aku yang kala itu masih separuh bingung antara sadar dan tidak sadar, masih berupaya mengumpulkan nyawa yang bercerai berai di alam mimpi. Pada saat itu aku cuma bisa menggangguk patuh. Padahal aku nyaris tidak mendengarkan apapun yang dikatakannya.

"Saya pulang dulu. Oh ya, kenalkan Saya Christian Diwangkara pimpinan saudarimu di kantor.

Kamu pasti adiknya kan? Wajah kalian mirip, walau pun kamu tampak sangat berbeda karakter dengan kakakmu. Kunci pintu ini setelah saya pulang." Katanya seraya berlalu dan mengunci sendiri pintu pagar.

Aku cukup lama terdiam. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu perasaan yang nyaman merasuk di hatiku saat dia secara refleks mengelus kepalaku. Aku adalah orang yang sangat haus kasih sayang. Sebuah pelukan dan ucapan sayang adalah kelemahan terbesarku.

Karena biasanya aku luluh dengan dua hal sederhana itu. Tetapi jangan berharap aku luluh bila diberi harta ataupun pujian yang berlebihan. Karena itu justru membuat aku muak dan merasa dianggap sebagai perempuan materialitis.

"Sudah kamu buatkan minuman untuk Chris, Lyn?" Teriakan Maddie dari lantai atas memutus lamunanku.

"Sudah, Kak," jawabku balas berteriak keras. Tidak lagi terdengar perintah-perintah. Berarti Maddie puas dengan pekerjaanku. Setelah pekerjaan di dapur selesai, aku naik ke lantai dua. Aku harus membersihkan diri dan bersiap-siap ke kantor.

Dua puluh menit kemudian aku telah selesai mandi dan berpakaian rapi. Aku bahkan telah memesan ojek online untuk mengantarku bekerja. Sementara Maddie sepertinya belum selesai berdandan. Karena aku mendengar Maddie mengomel diikuti dengan suara barang-barang yang berjatuhan. Aku menghela napas. Begitu Maddie kalau sedang panik karena dikejar waktu. Gerubukan tidak jelas karena sibuk tidak menentu.

Sejurus kemudian, aku menerima notifikasi kalau ojek online yang kupesan telah tiba di depan rumah. Aku langsung berlari menuruni tangga dan mengenakan sepatu dengan tergesa.

"Aduh!"

Aku nyaris tersandung kaki Chris yg terjulur di dekat sofa.

"Kalau jalan pakai mata. Kaki sepanjang ini pun tidak kamu lihat. Entah apa saja yang ada di dalam otak kecilmu itu."

Kulihat sambil membaca koran Chris sempat-sempatnya menyindirku. Sialan!

"Kalau jalan pakai mata, ya tidak sampai-sampai ketujuan dong, Om. Kalau jalan pakai kaki, itu baru benar." Sahutku sembari memangginya om kembali agar ia kesal. Kedudukan satu sama sekarang.

"Ngomong apa kamu?"

"Tidak ada siaran ulangan, Kak Chris. Makanya kalau mendengar itu gunakan telinga. Bukan mulut," ejekku iseng. Setelahnya aku terdiam. Kenapa aku jadi seberani ini ya?

Aneh, dengan Chris yang nota bene adalah orang lain, aku berani membela diri dan menjawab sesukaku. Padahal biasanya aku adalah seorang pengalah yang pasrah. Pertanda apakah ini?

Tidak... tidak... tidak! Aku menggeleng-gelengkan kepalaku berkali-kali. Ingat dia itu pacar kakakmu. Orang yang pasti di luar jangkauanmu. Aku ini cuma ibarat butiran debu di kakinya.

Ok stop it! Waktunya berjibaku dengan masalah lain yang tak kalah peliknya di kantor. Para konsumen dan boss besarku.

Hallo matahari pagi, coba bagikan sedikit sinar keberuntunganmu hari ini padaku ya? Aaminnn.

Bab 3

Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB tepat, saat aku menghempaskan pinggul di kursi kerjaku. Napasku masih tersengal-sengal dengan bulir-bulir keringat yang masih menempel di dahi. Tidak heran, karena pagi-pagi aku sudah melakukan lari sprint pagi. Aku nyaris saja terlambat. Untuk itu aku berlari kencang saat abang gojek tiba di kantor.

Baru saja bermaksud duduk dan beristirahat, telingaku mendengar suara ribut-ribut di counter sales depan. Sepertinya akan keributan di sana. Aku mempercepat langkah. Ingin mengetahui masalah apa yang sudah melanda pagi-pagi begini.

"Kan sudah bilang berkali-kali, jangan kalian menagih cicilan motor ini ke rumahku. Biar saya saja yang menyetor cicilan ke sini. Kau ini mengerti tidak Bahasa Indonesia hah?"

Kulihat ada seorang bapak-bapak paruh baya yang mengamuk di counter pembayaran kendaraan bermotor. Aku segera menghampiri kerumunan itu. Kulihat mata Mbak Tania sudah memerah menahan tangis, karena terus saja dibentak-bentak oleh customer. Breath in breath out. Bismillah. Dan aku pun segera menghampiri biang masalah. Sesama rekan kerja harus saling menolong bukan?

"Selamat pagi, Bapak. Maaf sebelumnya, sebenarnya ada masalah apa ya, Pak? Mari silakan ikut ke meja saya. Kita bicarakan baik-baik semua keluhan dan permasalahan Bapak," ucapku ramah kepada si bapak.

Dari sudut mata aku bisa melihat Mbak Tania menarik napas lega. Ia juga mengelus dada berkali-kali. Sementara Bapak-Bapak tadi dengan semangat empat lima membuntuti langkahku. Namun aku sempat mendengar Mbak Tania mengomel dengan suara rendah.

"Giliran yang mengajak bicara, jidatnya mulus saja, langsung jinak. Dasar tua-tua keladi. Makin tua makin menjadi." Aku meringis mendengar gerutuan kesal Mbak Tania. Wajar kalau Mbak Tania jengkel. Pagi- pagi ia sudah dihadiahi omelan.

"Jadi masalahnya apa, Pak Manik?" tanyaku setelah sekilas melihat draft kartu cicilannya, dengan nama Hotman Manik.

"Jadi begini, 'kan sudah dari dulunya kubilang sama kalian. Jangan kalian tagih-tagih cicilanku ini ke rumahku. 'Kan jadi malu kali aku. Dikira tetangga-tetanggaku, kalau aku ini tidak sanggup bayar membayar cicilan motorku.

makanya sampai kalian kejar-kejar aku ke rumah. Yang macam banyak kali lah utangku ini sama kalian?!"

Bapak itu pun langsung protes keras. Ia merasa keberatan ditagih cicilan motor oleh debt collector.

"Maaf sebelumnya atas ketidaknyamanannya ya, Bapak. Tetapi sesuai dengan klausual perjanjian pengajuan kredit sepeda motor Bapak pada leasing kami, 'kan sudah kita sepakati bersama bahwa Bapak harus membayar cicilan sepeda motor Bapak setiap tanggal dua puluh satu, selama tenor dua puluh puluh empat bulan ke depan. Kalau Bapak tidak membayarnya tepat waktu ke sini, maka sudah sepatutnya tim kolektor kami akan menjemput cicilannya ke rumah Bapak. Intinya sangat sederhana. Kalau Bapak tidak mau di tagih ke rumah, bayarlah sesuai tanggal jatuh tempo. Gampang 'kan Bapak?" Jawabanku membuat si bapak terdiam. Si Bapak pasti menyadari kebenaran kalimatku.

"Kalau pun Bapak mungkin sedikit terlambat membayarnya dikarenakan ada satu dan lain hal, alangkah baiknya kalau Bapak menghubungi kolektor daerah wilayah Bapak. Sehingga tim debt collector tidak akan menjemput angsuran ke rumah Bapak karena sudah ada pemberitahuan sebelumnya. Intinya itikad baik Bapak tetap akan kami apresiasi. Tetapi kalau sudah lewat dari batas waktu yang sudah kita sepati bersama, maka Bapak akan dikenakan sanksi. Sampai di sini penjelasan saya, apakah Bapak sudah mengerti?"

Si Bapak mengangguk puas oleh jawabanku yang tanpa tedeng aling-aling itu. Syukurlah sepertinya ia sudah memahami dengan baik kata-kataku. Kalau tidak ingin dikejar, maka bayar sesuai tanggal jatuh tempo. Simple.

"Itulah penjelasan dari saya. Apakah masih ada sekiranya hal lain yang belum Bapak fahami? Biar saja jelaskan semua klausual perjanjian kita," lanjutku seraya tersenyum manis, untuk memperbaiki suhu pembicaraan yang sempat memanas dengan Mbak Tania tadi.

"Kalau boleh bisa tidak aku meminta nomor handphone kau saja, Dek? Mana tahu sekiranya aku entah mau bercakap apa-apa samamu. Bisa nggak, Dek? Enak kali kurasa bercakap-cakap samamu. Jadi tidak begitu panas lagi hatiku," ujar siBapak sambil mengedipkan sebelah matanya. Astaga si Bapak masih sempat-sempatnya memodusiku. Namun permintaannya aku loloskan. Tidak ada salahnya memberi kartu nama. Siapa tahu besok-besok ia akan mencariku saat hendak membeli motor. Setelah aku memberikan kartu namaku, si bapak beranjak pergi dengan gembira. Ia berjanji akan membayar cicilan motornya besok sore, setelah ia gajian. Akhirnya satu masalahpun terselesaikan.

***

Jam makan siang. Saat makan siang seperti ini sebenarnya adalah moment yang paling tidak aku sukai. Aku sangat gerah bila harus ke kantin dan menjadi pusat perhatian orang banyak. Biasanya setiap aku melangkah, orang-orang akan melirik minimal dua kali padaku. Baik itu laki-laki ataupun perempuan. Hanya saja cara memandang mereka berbeda. Para laki-laki biasanya memandang dengan tatapan kagum. Namun para wanita menatap tidak suka. Dan aku tidak mempedulikan itu semua.

Aku memang mempunyai paras di atas rata-rata, yang mungkin akan sangat diimpikan oleh sebagian besar wanita. Tetapi tidak denganku. Sejatinya aku ingin diriku, kinerjaku dan loyalitasku terhadap perusahaan ini, dihargai karena kemampuanku. Dan bukan hanya dilihat atas dasar kelebihan fisikku semata.

Aku terus berjalan mencari tempat yang paling sudut di kantin. Aku suka duduk menyendiri di tempat yang sepi. Rasanya tenang dan damai. Aku kemudian memesan sepiring nasi campur dan segelas es teh manis pada ibu kantin. Dalam hitungan menit makananku pun telah dihidangkan.

Drttt... drttt... drt....

Tiba-tiba saja ponselku bergetar. Aku meletakkan sendok dan garpu saat melihat nama Ibu muncul di layar ponselku. Nah, ibu memerlukan bantuan apalagi sehingga beliau mau bersusah-susah meneleponku. Ibu tidak akan pernah meneleponku untuk hal-hal yang menyenangkan menurut versiku sendiri. Kecuali saat ia membutuhkan bantuanku.

"Iya Bu. Ada apa?" Aku menjawab dengan takzim, seolah-olah ibu di sana bisa melihat betapa sopannya aku saat mendengar titahnya.

"Nanti cepat sedikit kamu pulang ke rumah ya? Bantu ibu masak dan beres-beres rumah, karena Keluarga Tjandradinata akan bertamu ke rumah kita malam ini."

"Baik Bu. Memangnya jam berapa-"

Tuttt... tut... tutt...

Ah rupanya Ibu telah memutuskan sambungan telepon, tanpa aku sempat bertanya jam berapa acara dimulai. Seperti itulah ibuku. Ibu cuma memberitahu apa yang dia mau, dan dia tidak mengharapkan jawabanku sama sekali.

Baiklah Upik Abu. Ayo semangat kerja hari ini. Agar bisa lebih cepat selesai, dan aku bisa membantu ibu. Dengan begitu aku tidak akan mengecewakan baginda ratu yang agung. Aku menyemangati diriku sendiri.

Aku makan siang sendirian dalan keheningan seperti biasa. Percakapan dan keramaian para karyawan dan karyawati yang sedang makan atau bergosip, pelan-pelan berubah menjadi dengungan pelan dan kemudian menghilang. Sehingga tinggal aku sendiri di sini, hanya aku.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED