Bab 1

Suara tembakan terdengar di telinga Dominic. Pria itu tengah lari sekencang mungkin. Teriakan ayahnya yang menyuruhnya lari membuatnya seperti pengecut. Hati Dominic teriris rasanya. Ia tidak kuasa mendengar jeritan kesakitan ayahnya.

"Akan aku membalaskan semuanya!" teriak Dominic.

"Akan aku balaskan rasa sakitmu ayah." Sumpah Dominic. Dia tidak rela atas penghianatan ini.

"Aku tidak akan membiarkan Marcus hidup tenang setelah membunuhmu." Mata Dominic berkilat marah.

"Dominic! Lari lebih cepat! Helikopter akan menjemput kita," pinta Franco.

Dominic hanya bisa berlari dengan dadanya yang sesak. Kaki kanannya berlumuran darah. Ia benar-benar seperti pengecut. Dari kecil ayahnya sudah mengajari Dominic cara untuk bela diri dan menembak, tetapi yang Dominic lakukan sekarang adalah berlari meninggalkan ayahnya. Franco membantu Dominic untuk berlari satu kaki. Dominic mengeratkan cengkraman tangannya di bahu Franco.

"Aku tidak bisa meninggalkan ayahku." Dominic terus berlari sambil menoleh ke belakang.

"Aku tahu! Kalau kau kembali ke sana, kita semua bisa tamat!" Franco mencoba membujuk Dominic.

"Dia ayahku! Franco! Bajingan kau!" sentak Dominic. Franco menampar Dominic dengan keras dan mengguncang tubuh pria itu.

"Kau pikir aku tega melakukan ini?" tegas Franco. Wajah pria itu marah sekaligus tersiksa.

"Aku dan ayahmu sudah seperti kakak dan adik Dominic!" Wajah Franco memerah menahan emosinya.

"Kau ingin kembali ke rumah bajingan itu? Kau ingin menyelamatkan ayahmu? Enyahlah kau, Dominic!" Franco mencoba menyadarkan Dominic. Ia berusaha menjelaskan pada pria itu kalau kembali ke dalam rumah adalah hal yang bodoh.

"Kau tidak mendengarkan kata-kataku! Kau mengajak ayahmu berdamai dengan musuhnya! Ini ide gilamu!" teriak Franco.

"Kau anak yang tidak berguna Dominic!" Franco menatap Dominic. Pria itu hanya bisa terduduk dan menyesal.

"Sekarang kalau kau ingin kembali ke sana menyelamatkan ayahmu, silakan, tapi aku akan pastikan dia sudah mati dan kau juga akan mati di sana, ibumu akan puas melihat kalian mati!" teriak Franco lantang.

★★★

Keringat dingin bercucuran di kening Dominic. Wajahnya menjadi pucat pasi. Ingatan menyeramkan datang setiap malamnya. Pria itu selalu berteriak memanggil nama ayahnya. Saat kenangan pahit itu hadir. Dia tidak punya kekuatan untuk melupakan hari dimana terakhir kalinya dia melihat ayah dan ibunya.

"Dominic! Sadarlah!" Dominic tetap berteriak dan keringat dingin terus muncul di sekujur tubuhnya.

"Dominic! Bangun!" Franco mengangkat tubuh Dominic dan mendudukkan pria itu agar dia terbangun dari tidurnya.

Dominic membuka matanya dengan rasa ketakutan dan napasnya yang memburu. Ia menelan ludahnya sendiri. Pria itu mengusap wajahnya. Ia merasa sangat lemas. Selalu saja bermimpi buruk seperti ini ketika dia sedang lelah dan merasa putus asa.

"Sialan!" umpat Dominic.

"Minumlah air ini." Franco memberikan segelas air yang ada di tangannya pada Dominic. Pria itu menatap malas Franco dia lebih memilih untuk bangkit dari tidurnya dan mengambil sebotol alkohol lalu meneguknya.

"Kau sudah terlalu banyak minum," ucap Franco.

"Sudah delapan tahun berlalu Dominic, kau masih bermimpi buruk." Franco mengambil botol alkohol yang ada di tangan Dominic agar pria itu tidak minum terlalu banyak.

"Aku ada janji dengan Zac," ucap Dominic.

"Zac? Mantan anak buah Marcus?" Franco menaikkan satu alisnya.

"Iya." Dominic menatap Franco serius.

"Apa kau sudah gila? Kau percaya dengan Zac? Bagaimana kalau dia hanya menjebakmu?" Franco tidak bisa menerimanya keputusan konyol Dominic.

"Tidak, dia ada dipihak kita, Marcus menghianati Zac, dan sekarang Zac akan membantu kita," terang Dominic.

"Dominic, kau mengatakan padaku, kau tidak ingin berurusan dengan Marcus lagi, lalu kenapa sekarang kau ingin melawan Marcus." Franco memegangi kepalanya. Dia sangat pusing dengan Dominic.

"Kau bisa lihat aku Franco, aku mimpi buruk setiap malam! Aku ini pengecut!" Dominic terus menyalakan dirinya sendiri.

"Aku tidak mau bersembunyi seperti ini, Sisilia milikku dan rumah besar keluargaku di Napoli, itu semua bukan milik Marcus. Akan aku rebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku," terang Dominic.

"Ini akan sangat berbahaya Dominic, jangan terburu-buru." Franco mencoba memperingati Dominic. Mengalahkan Marcus bukanlah hal yang mudah seperti membalikan tangan.

"Aku tidak akan mati sebelum membunuh Marcus," sumpah Dominic. Ia meninggalkan Franco.

★★★

Dominic mengendarai mobilnya. Ia menuju apartemen Zac. Ia melirik jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Pria itu menatap malas apartemen di depannya ini. Dari luar, apartemen itu terlihat seperti bangunan biasa yang tidak mempunyai ketertarikan. Terbesit di benak Dominic pertanyaan. Bagaimana bisa Zac tinggal di apartemen kelas bawah seperti ini? Bukankah dia orang kaya? Atau kekayaannya sudah habis?

Dominic memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam apartemen. Ia berjalan menuju lift. Di depannya sudah ada seorang wanita yang memakai seragam kerja. Mirip pelayan hotel. Wanita itu menekan tombol lift tidak sabaran.

"Ada apa dengan lift ini!" seru Louisa. Ia menekan tombol liftnya berkali-kali. Sejujurnya tombol lift itu sudah rusak. Louisa mengepalkan tangannya. Saat ia ingin menonjok tombol liftnya. Jari Dominic menekan tombol itu dan liftnya bergerak. Wanita itu terkejut. Untung saja ia tidak jadi melayangkan tangannya.

"Jangan melampiaskan kekesalanmu pada tombol lift," bisik Dominic di telinga Louisa. Wanita itu bisa merasakan tubuh Dominic di belakangnya. Louisa menatap Dominic dari samping. Ia bisa melihat wajah tegas pria itu.

Dering gawai Louisa menyadarkan dirinya dan Dominic. Wanita itu langsung merogoh tasnya dan menerima telepon dari ibunya. Louisa hanya menatap gawainya. Ia tidak ingin menerima panggilan telepon itu. Ibunya hanya akan meminta uang. Louisa mengusap layar gawainya dan menempelkan gawai itu di telinganya.

"Louisa mana uang yang kau janjikan?" tanya Jane. Louisa hanya bisa mengembuskan napasnya.

"Aku tidak pernah menjanjikan uang padamu, Mom." Selalu saja tentang uang.

"Louisa! Aku butuh uang untuk makan! Aku juga harus membayar sekolah adik-adikmu! Kirimkan uangmu padaku!" teriak Jane. Louisa sudah terbiasa dengan ini. Ia menjauhkan gawainya dari telinganya. Dominic bahkan bisa mendengar jelas apa yang dikatakan Jane.

Pintu lift terbuka. Louisa dan Dominic masuk ke dalam lift. Dominic bisa melihat wajah lelah wanita itu. Bajunya yang berantakan. Lingkar hitam di mata Louisa, meskipun wanita itu memakai riasan. Wajah lelahnya tidak bisa ditutupi karena matanya sudah lelah.

"Mom, aku sudah mengirimkan bayaran kerjaku padamu dua hari yang lalu," ucap Louisa.

"Aku tidak mau tahu Louisa! Aku ingin uang." Jane berteriak di telepon.

"Kau kalah berjudi? Kau habiskan uangku untuk berjudi!" Louisa merasa lega meneriaki ibunya. Sesaat Jane tidak mengatakan apapun. Louisa tahu ibunya suka bermain judi.

"Aku mohon padamu berhentilah, aku miskin di sini Mom, aku berkerja dan kau berjudi di sana?" lirih Louisa. Ia mengusap wajahnya sendiri. Panggilan telepon itu langsung terputus. Louisa menahan air matanya. Ia bersandar di lift. Louisa meratapi kakinya yang sudah lelah.

Pintu lift terbuka. Mata Louisa menangkap sesosok wanita pemilik apartemennya. Ia lupa membayar sewa. Louisa menggigit bibir bawahnya.

"Wah! Kau tidak bisa masuk ke apartemenmu, bayar terlebih dahulu," ucap wanita itu.

Dominic hanya menatapi Louisa dan wanita itu. Ia muak dengan dua wanita di depannya itu. Dominic menekan tombol liftnya sehingga pintu lift tertutup dan Louisa tidak keluar dari lift. Wanita itu terduduk di lantai lift. Ia benar-benar lelah. Dia mengeluarkan gawainya dan menghubungi nomor atasannya.

"Selamat malam, Pak," ucap Louisa.

"Apa aku bisa lembur saja hari ini?" Louisa menghela napasnya.

"Ya, aku akan kembali bekerja," terang Louisa. Ia mengusap wajahnya.

Saat pintu lift terbuka Dominic berjalan keluar. Tangan pria itu menjatuhkan beberapa lembar peso di paha Louisa. Wanita itu terkejut dan menatapi Dominic.

"Semoga harimu menyenangkan." Dominic menepuk bahu Louisa dan pria itu keluar dari lift.

Louisa menatapi uang di pahanya itu. Ini membuatnya terlihat seperti pengemis. Dia tidak tahu harus apa. Ia hanya menatapi uang itu dan mengambilnya.

Bab 2

Louisa keluar dari lift. Ia berjalan menuju lobby apartemen. Wanita berambut hitam panjang itu langsung mengidik ngeri melihat pria bertato sedang menatapnya tajam. Buka tato atau tubuh kekar pria itu. Melainkan sifat psikopatnya yang membuat Louisa takut padanya. Jason, pria gila yang menjadi teman setia ayah Louisa saat mereka sama-sama dipenjara akan tetapi Louisa benar-benar takut pada Jason.

"Mau ke mana kau malam-malam?" tanya Jason.

"Aku mau kerja." Louisa berjalan melewati Jason mencoba untuk tidak menghiraukan pria itu.

Dari belakang, Jason meraih tangan Louisa dan mencekik leher Louisa lalu mendorong wanita itu ke tembok. Wanita itu sangat benci ketika Jason menyentuhnya. Rasanya ia ingin menghabisi pria itu tetapi Louisa terikat dengan janji yang dia buat dengan Jason. Louisa sudah mengenal pria itu ketika berkunjung dipenjara. Ayah Louisa seorang peretas sama seperti Jason kemudian mereka sama-sama dipenjara karena tidak bisa kabur dari kejaran polisi. Semenjak dipenjara Ayah Louisa—Hans mencukupi kebutuhannya dibantu oleh Jason. Oleh karena itu, Hans selalu berpesan pada Louisa agar selalu membantu Jason.

"Lepaskan! Lepaskan aku Jason!" teriak Louisa.

"Aku membutuhkanmu Louisa," bisik Jason di telinga Louisa dan membawa wanita itu ke luar apartemen.

"Kau mau apa! Sialan lepaskan aku." Louisa memukuli tangan Jason sekuat tenaganya.

"Ayahmu melakukan hal bodoh Louisa." Wanita itu hanya bisa menelan ludahnya.

"Aku sudah tidak ada urusan dengan pria itu, dia bukan lagi ayahku." Louisa sudah muak harus balas budi pada Jason.

"Jangan banyak bicara, cepat masuk ke dalam mobil!" pinta Jason. Ia memasukkan paksa Louisa ke dalam mobilnya.

"Bajingan kau Jason!" Jason menutup pintu mobilnya dan segara melesat dengan cepat.

"Kau mau apa Jason? Aku harus kembali bekerja!" seru Louisa. Ia sudah berjanji pada atasannya kalau dia akan bekerja lembur.

"Menjadi pelayan hotel? Louisa sadarlah! Kau tidak cocok dengan pekerjaan itu." Jason menyeringai.

"Aku tidak peduli! Turunkan aku Jason!" Louisa mencoba untuk membuka pintu mobil tetapi Jason lebih dulu mengunci rapat mobilnya.

"Tidak bisa, kau harus membantuku," desis Jason.

"Aku tidak mau membantu pria bajingan sepertimu!" Jason mengerem mobilnya secara mendadak dan itu membuat kepala Louisa terbentur.

"Apa kau sudah gila!? Hah!" teriak Louisa.

"Sekali lagi, kau tidak bisa menjaga ucapanmu, aku akan membunuhmu Louisa! Ingat, ayahmu banyak berhutang padaku!" Louisa menelan ludahnya sendiri. Keringat dingin bercucuran di keningnya.

"Kau mau apa lagi Jason!" teriak Louisa. Ia memukul lengan Jason meskipun ia tahu kalau Jason tidak akan merasa sakit atas pukulannya.

"Aku tidak bisa mencuri uang Louisa, kau harus membantuku." Mata Louisa melebar. Apa yang dikatakan Jason membuat Louisa getir.

"Kau ingin aku melakukannya apa? Hah? Aku sudah berhenti menjadi kriminal!" Louisa sudah tidak mau menjadi peretas lagi. Dia sudah tidak ingin berurusan dengan apapun itu yang berbau kriminal.

"Kau seorang peretas seperti ayahmu, ayahmu mengatakan padaku, kalau kau lebih pintar darinya, jadi aku ingin kau membantuku," jelas Jason.

"Aku tidak ingin berurusan dengan polisi lagi Jason!" Louisa berusaha untuk membuka pintu mobilnya.

"Tidak akan, tenang saja, kau akan aman, kita semua akan aman," ujar Jason.

"Uang siapa yang mau kau rampok?" Louisa bisa melihat senyuman licik Jason.

"Uang ini berjumlah satu miliar peso, milik mafia Italia," jelas Jason.

"Italia? Lalu bagaimana bisa kita merampoknya!" Jason sudah kehilangan akal sehatnya.

"Gunakan otakmu Louisa, kalau kita bisa mengetahui nomor rekening dan PIN banknya, kita bisa mendapatkan uangnya," jelas Jason.

"Jason, ini terlalu berbahaya." Louisa mencoba memperingatkan Jason.

"Aku lelah Jason, aku ingin tidur," lirih Louisa.

"Kau bisa tidur dengan nyenyak berbantal uang Louisa, setelah kita merampok uangnya." Mobil yang mereka tumpangi semakin melaju cepat.

Jason membawa Louisa menuju markasnya. Wanita itu menyipitkan matanya melihat bagunan tua yang seakan mau hancur itu. Ia melangkahkan kakinya takut. Jason menarik tangan Louisa.

"Kalau kau tidak bisa melakukannya, aku aku mengupas wajah cantikmu," ancam Jason.

Jason menyeret Louisa. Tubuh Louisa bergetar. Ia bisa melihat markas itu penuh dengan pria. Louisa meremas tangannya. Sepertinya, Jason bersungguh-sungguh akan menghabisi Louisa di sini. Untuk menutupi rasa takutnya. Wanita itu duduk di kursi yang kosong. Ia menjadi pusat perhatian karena hanya dia satu-satunya wanita di situ.

"Apa kita akan memakainya secara bergiliran?" Mendengar itu Louisa langsung melotot pada Jason.

"Kalau dia tidak bisa membantu kita, kita akan puas malam ini." Jason tersenyum miring pada Louisa.

"Kalau aku bisa membantumu, aku ingin setengah dari uang yang aku curi." Louisa tidak mau kalah. Ia menelan ludahnya sendiri. Dia sendiri juga membutuhkan uang.

"Kau akan mendapatkan sesuatu yang pantas Louisa," terang Jason.

Jason memberikan Louisa akses, menyiapkan alat-alat canggih untuk menggali informasi bank. Gadis itu diam menelan ludahnya sendiri, sekaligus terkagum dengan laptop di depannya-sudah lama ia tidak memainkan alat canggih. Sepersekian detik kemudian, ia menarik napas, mengelus keyboard sebelum mengangkat suara.

"Siapa namanya?" tanya Louisa.

"Dominic Theodoretti," jawab Jason.

Dengan cekatan, Louisa berselancar deep web, bahkan dark web untuk memudahkan akses pencahariannya. Mengetikkan angka-angka rahasia-yang ia pelajari dari ayahnya, dulu sekali.

Ia melakukan pencahariannya, salah satu situs bank. Menyerang dari segala sisi, jarinya tidak berhenti menari. Menekan kode-kode khusus untuk mendapatkan akses secara luas-mengerahkan semua kemampuanya. Hingga ia mendapatkan IP bank itu. Dengan cekatan, segera berselancar di sana, mencari data-data pemilik dan matanya tertuju pada nama Dominic Theodoretti. Louisa kembali melancarkan aksinya.

Louisa kembali sibuk dengan laptopnya, mencoba berkali-kali menyerang. Namun, sialnya pria itu memiliki pengamanan yang kuat. Entah siapa pria itu.

"Pria ini mempunyai jaringan yang kuat Jason! Aku tidak bisa meretasnya," keluh wanita itu.

"Aku perlu informasi lebih lanjut mengenai ini." Louisa menunjuk layar laptopnya.

"Kita tidak punya banyak waktu Louisa, kau satu-satunya harapan kami," ucap salah satu pria yang ada di depan Louisa.

"Kalau kau tidak bisa mengambil uangnya, kita semua akan tamat." Jason menepuk bahu Louisa.

"Sialan kau Jason! Kenapa kau membawa aku dalam masalahmu!" gerutu Louisa.

"Hanya kau yang terlintas di pikiranku." Jason berpikir tidak ada peretas yang lebih pintar daripada Louisa.

Louisa kembali sibuk dengan laptopnya. Ia mencoba berkali-kali mengetikan angka-angka yang biasanya dia gunakan. Sialnya tidak ada yang bisa. Ia frustrasi sekarang. Tengah malam seperti ini dia harus berpikir keras.

"Jason sepertinya, Dominic ini mempunyai dua akses, dan dua sandi gabungan, aku sama sekali tidak bisa meretasnya!" Louisa kebingungan sekali.

Jason mengambil alih laptopnya. Jason juga seorang peretas seperti Louisa. Bedanya Louisa tidak hidup sebagai peretas dan menjalani hidup normal sedangkan Jason. Pria itu terus menjadi peretas dan bertahan hingga kini.

"Berikan laptopnya padaku," ucap Louisa.

Louisa berselancar lagi, mengulang sandi dan kode-kode khusus, dengan kombinasi rumit. Kemudian, menyerang lagi setelah sebelumnya memecahkan kode baru yang ia dapat dan ya! Dia berhasil.

"Yeah!" teriak Louisa. Ia tersenyum puas.

"Kita semua selamat!" teriak Louisa. Jason membawa laptop itu dan menarik Louisa.

"Kita berangkat sekarang." Louisa menyambar topi milik pria yang duduk di depannya tadi.

"Aku meminjamnya dulu," ucap Louisa lalu ia mengedipkan sebelah matanya.

Louisa masuk ke dalam mobil Jason. Mobil hitam yang ia tumpangi melesat cepat melewati jalan-jalan sepi dan Jason adalah pria gila yang mengendarainya. Louisa berpegangan pada sabuk pengamannya. Ia hanya perlu memastikan sabuk pengaman itu tertancap dengan kuat.

"Jason, aku tidak mau mati hari ini!" Cara mengemudi Jason tidak pernah manusiawi.

"Kita terlambat Louisa, jadi harus cepat," desis Jason.

Tidak lama kemudian, Jason memberhentikan mobilnya. Ia keluar membawa laptopnya. Dari dalam mobil Louisa memicingkan matanya. Seorang pria memberikan dua tas berukuran besar pada Jason. Terkulas senyum di wajah Jason.

"Apa isinya tas itu?" tanya Louisa.

"Uang!" Louisa yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jason. Ia membuka tasnya. Alangkah terkejutnya dirinya ketika hanya ada uang berjajar rapi di dalam tas besar itu.

"Uang siapa ini Jason?" tanya Louisa.

"Itu bagianmu," terang Jason.

"Kau bekerja untuk siapa?" Louisa menatap Jason dengan mimik wajah tidak percayanya.

"Marcus Theodoretti," jawab Jason.

"Marcus?" Louisa menebak-nebak siapa Marcus ini.

"Marcus Theodoretti? Uang yang kita curi milik Dominic Theodoretti, apa kita tidak salah orang?" Jason hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Sudah selesai, ayo pergi dari sini." Mereka langsung melesat dengan mobil Jason.

Bab 3

Louisa membawa tas berukuran besar berisi uang itu. Ia sendiri tidak tahu berapa banyak uang yang ada di dalam tas itu. Tepat pukul tiga pagi ia kembali ke apartemennya.wanita itu mengetuk pintu kamar pemilik apartemennya. Ia mau membayar sewa agar bisa tidur dengan nyenyak tanpa ada gangguan.

Tanpa peduli ini masih terlalu pagi untuk bangun. Louisa tetap mengetuk pintu semakin kencang. Sampai akhirnya, Louisa melihat knop pintu berputar dan menampilkannya seorang wanita dengan wajah khas orang mengantuk.

"Mau apa jam segini?" tanya wanita itu.

"Madam, aku hanya ingin membayar sewa, ini aku bayar sewa kamarku untuk enam bulan ke depan." Louisa mengambil uang dengan serakah dan ia berikan pada Madam. Mata wanita itu langsung berbinar melihat uang yang diberikan Louisa.

"Dapat darimana kau uang sebanyak ini?" Wanita yang kerap Louisa panggil dengan sebutan madam itu langsung tidak mengantuk lagi ketika Louisa memberikan banyak uang padanya.

"Merampok," jawab Louisa singkat lalu ia tersenyum miring.

Louisa berjalan mendekati lift. Ia keberatan membawa tas berisi uang itu. Louisa tidak pernah sabar untuk menunggu pintu lift terbuka. Wanita itu menekan tombol lift berkali-kali.

"Sepertinya, kau pelakunya," ucap Dominic. Pria itu baru selesai berurusan dengan Zac. Louisa yang terkejut dengan suara pria langsung menoleh dan menatap wajah Dominic.

"Pelaku? Pelaku, apa maksudmu?" Louisa melebarkan matanya.

"Tombol lift ini rusak, itu pasti karena kau terlalu kasar." Louisa menaikkan satu alisnya, kemudian ia ingat uang yang diberikan Dominic. Louisa merogoh saku celananya.

"Ini uangmu aku kembalikan, terima kasih sebelumnya." Louisa memberikan uangnya pada Dominic.

"Dominic Theodoretti," ucap Dominic. Ia mengulurkan tangannya pada Louisa. Seketika itu kaki Louisa lemas. Benar-benar lemas. Ia menatap nahas Dominic. Wanita itu menjatuhkan tas berisi uang yang dia pegang.

"Apa?!" pekik Louisa.

"Kenapa?" Dominic menaikkan satu alisnya. Louisa menelan ludahnya. Louisa benar-benar terkejut. Apa ini yang dimaksud mencurangi orang lain? Dominic memberikan Louisa harapan dengan uangnya, tetapi Louisa malah merampok uang milik Dominic.

"Tidak apa-apa, maafkan aku," ujar Louisa. Ia menahan napasnya. Louisa mengambil tas berisi uang itu lalu segara masuk ke dalam lift. Louisa bisa melihat tatapan Dominic padanya yang bingung dengan sikapnya. Hati Louisa benar-benar kecewa mendapatkan kenyataan kalau dirinya sudah jahat terhadap orang lain.

"Louisa Gonzales," ucap Louisa dari dalam lift. Setelah itu lift tertutup. Louisa terduduk di dalam lift. Ia bingung akan melakukan apa. Dominic pasti akan membunuhnya kalau dia tahu Louisa sudah meretas keamanan uangnya.

Louisa kecewa pada dirinya sendiri. Sekarang ia bingung harus apa. Ia tidak mungkin mengatakan pada Dominic yang sebenarnya. Pria itu pasti akan membunuhnya saat itu juga. Louisa memukuli kepalanya sendiri. Kenapa dia sebodoh ini. Kenapa dia tidak bertanya dulu pada Jason siapa Dominic Theodoretti dan Marcus Theodoretti itu?

Louisa menggigit bibir bawahnya. Ia merogoh sakunya. Wanita berambut hitam itu mengambil gawainya. Gawai Louisa mati. Baterainya sudah habis. Saat pintu lift terbuka. Louisa langsung berlari ke dalam kamarnya. Ia melempar tas berisi uang itu. Louisa langsung naik ke ranjang dan menutup wajahnya dengan bantal.

***

Casablanca Sayulita hotel

Sayulita, Mexico

Dominic dan Franco duduk berhadapan. Dua orang pria itu tengah menunggu kepastian dari Zac. Dominic meminta Zac untuk menyelidiki kasus penjualan anak-anak yang terjadi di Italia. Tentu saja pelakunya adalah Marcus. Dominic memanfaatkan Zac untuk mengurus Marcus.

Marcus adalah paman dari Dominic. Ia adalah kakak ayahnya. Segalanya berubah saat Marcus berniat menguasai kekuasaan ayah Dominic. Ia menjadi orang yang tidak mengenal saudara.

Dominic menyipitkan matanya. Ia melihat Franco yang melotot menatap layar gawainya. Wajah Franco pucat pasi membuat Dominic geram. Dominic menuangkan alkohol untuk Franco.

"Ada apa Franco?" tanya Dominic. Hanya diam saja. Dominic merampas gawai Franco. Ia membaca pesan dari salah satu anak buahnya.

"Uangku hilang satu miliar peso?" Dominic menatap tajam Franco.

"Aku tidak tahu Dominic." Franco ketakutan sekarang. Dominic menggebrak meja. Dua gelas dan satu botol alkohol jatuh dan pecah. Franco hanya bisa menundukkan kepalanya.

"Franco! Aku bersusah payah menghindar dari Marcus dan bersembunyi di sini!" teriak Dominic.

"Aku akan cari tahu pelakunya." Franco mencoba menenangkan Dominic.

"Aku sudah menurutimu hingga aku harus tinggal di sini! Seperti pengecut dan terus lari dari Marcus!" sentak Dominic. Pria bertubuh kekar itu meninggalkan Franco dan masuk ke kamar hotelnya.

Dominic benar-benar geram. Ia sudah tahu ini adalah ulah Marcus. Semalam Zac sudah mengatakan pada Dominic kalau Marcus mengincar uangnya. Marcus ingin memiliki semua kekayaan Dominic.

Gawai Dominic berdering. Mata hitam gelap pria itu membulat sempurna. Pria itu mengusap layar gawainya dan menempelkan benda itu di telinganya. Ia bisa mendengar suara Zac.

"Aku tahu siapa pelakunya." Zac angkat bicara.

"Bagus, ambil kembali uangku Zac," pinta Dominic.

"Aku punya cara yang lebih seru Dominic." Seringai licik Zac muncul di wajah kejamnya.

"Apa itu?" tanya Dominic.

"Kau tunggu saja nanti malam, aku akan membawa pencuri uangmu ke hotelmu," jelas Zac.

"Aku sudah tidak tahan untuk menghabisinya." Dominic mengepalkan tangannya.

"Buah kesabaran itu indah Dominic, jadi bersabarlah." Dominic langsung mematikan panggilan dari Zac.

Dominic menunggu sampai malam hari. Ia sudah geram. Sangat geram dengan Marcus dan anak buahnya. Dominic ingin sekali berlari ke Sisilia dan menghabisi Marcus. Rencananya selalu digagalkan oleh Franco. Pria tua itu selalu menghalangi Dominic untuk menyerang Franco lebih dulu.

Tepat pukul sepuluh malam. Dominic menerima pesan dari Zac. Pria itu menyuruh Dominic untuk menuju kamar nomor 69. Dengan cepat ia segera menemui Zac. Bagaikan malaikat pencabut nyawa. Dominic melebarkan langkahnya agar ia cepat sampai.

Dominic membuka pintu kamar yang di maksud Zac. Pria itu bisa melihat Zac sedang memukul habis-habisan pria yang tergeletak di lantai. Zac mengatur napasnya dan menatap Dominic.

"Siapa bedebah ini?" tanya Dominic.

"Jason, dia yang meretas keamanan bank," jawab Zac.

"Apa kau yakin?" Dominic menaikkan satu alisnya.

"Iya, sebenarnya dia tidak sendirian, dia bersama seorang wanita, aku melihat wanita itu saat bedebah ini memberikan informasi tentang keamanan bank milikmu, tapi sayangnya wanita itu tidak turun dari mobilnya, jadi aku tidak bisa mengetahui wajahnya," terang Zac.

Dominic meraih kerah baju Jason yang sudah babak belur akibat pukulan yang dilayangkan Zac padannya. Dominic mendudukan Jason. Ia menatap mata Jason yang masih bisa berkilat sombong.

"Kau akan segera ke neraka," bisik Dominic.

"Aku tidak takut!" Jason mengumpulkan darah yang keluar dari gigi-giginya kemudian ia meludahkan darah itu pada Dominic. Tindakan bodoh Jason memancing amarah Dominic. Pria itu menonjok rahang Jason dengan kuat.

"Katakan padaku, siapa wanita yang bersamamu?" tanya Dominic. Jason tetap diam. Ia menatap malas pada Dominic. Pria kekar itu semakin menonjok wajah Jason.

"Katakan padaku! Siapa wanita yang bersamamu!" Wajah Jason benar-benar sudah keunguan.

"Sampai aku mati, aku tidak akan mengatakannya." Dominic menduduki dada Jason dan mencekik lehernya.

"Kalau kau tidak mau mengatakan padaku siapa wanita itu, saat kau mati, maka keluargamu akan aku bunuh juga," ancam Dominic. Ia semakin mencekik leher Jason.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED