Bab 2

Hari ini, SevenMart sangat ramai. Sheril merasa senang sekaligus iri. Ya, semua itu berkat pekerja baru yang bernama Alvero. Karena rata-rata pengunjung hari ini adalah para wanita.

Alvero memiliki senyum yang menawan, selalu merekah cantik bagaikan kuntum bunga mawar. Sorot matanya apalagi, membuat siapa saja yang menatap manik berwarna hijau keabu-abuan itu tersipu malu. Gerak tubuhnya lincah saat membantu mengambilkan barang yang berada di rak paling tinggi. Para wanita yang belanja memang sengaja membeli barang yang jauh dari jangkauan mereka demi dibantu oleh Vero.

Sheril mendengus kesal saat beberapa kali memanggil pelanggannya yang sedang mengantri di depannya.

"Kak, apa belanjanya sudah?" tanya Sheril dengan nada gemas.

"Ah, ada yang kelupaan. Aku harus membeli yang lain." Perempuan di depannya itu segera pergi, membuat orang yang mengantri di belakangnya bergerak maju.

"Ada yang diperlukan lagi?" tanya Sheril berusaha seramah mungkin.

"Tidak. Tapi, apa boleh meminta foto bersama dengan pekerja itu?" tanya Wanita di depannya. Hal itu membuat Sheril menghela napas panjang. Antrian yang panjang, tapi mata mereka sibuk mencari sosok Vero.

"Coba tanyakan ke orangnya langsung, Kak!" tgas Sheril. Ia tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya saat ini. Berdiri di depan meja kasir membuat kakinya pegal.

"Al!" panggil Sheril saat Vero berada di dekat rak yang sejajar dengannya.

"Ya, Sher?" tanyanya sambil mendekat. Sorot mata para pembeli pun mengikuti setiap langkah Vero.

"Ada yang minta fotbar," bisik Sheril setelah Vero berdiri di sampingnya. "Aku mau istirahat bentar, aja. Pegel banget nih kaki," lanjut Sheril sambil berlalu pergi.

Bagaimana dia tidak kesal, pembeli malah nongkrong di SevenMart dengan waktu lama. Bahkan menunda pembayaran hanya untuk melihat Vero lebih lama. Sheril menyesali kedatangan pekerja baru. Kalau boleh, ia ingin bekerja dengan Rey dibanding Vero. Meski ia tahu, pengunjung tak mungkin sebanyak saat ini.

Sheril berjalan menuju tempat khusus pekerja. Pintunya terletak di sudut kanan ruangan SevenMart. Hanya dengan berjalan lurus dari meja kasir. Setelah memasuki tempat khusus pekerja, Sheril menutup pintu dengan rapat. Tubuhnya luruh ke lantai, duduk bersandar pada daun pintu. Dalam lelahnya, ia merogoh saku celana untuk mengecek ponselnya.

Saat ia menyalakan ponsel dan tersambung otomatis pada wifi SevenMart. Sederet notifikasi dari Minsta muncul. Semua berisi chat dari akun bernama 'Alnonim'.

[Wajahmu hari ini kelihatan bete banget deh!]

Sheril gegas berdiri. Matanya terbelalak melihat pesan terakhir yang diberikan Alnonim.

Apakah dia ada di sini? Di antara para pengunjung?

Sederet pertanyaan memenuhi pikirannya. Menciptakan banyak kemungkinan yang mustahil. Sheril memeriksa waktu terkirimnya pesan terakhir itu. Matanya kembali terbelalak saat ia mengetahui bahwa waktu pesan yang dikirim oleh Alnonim hanya beda dua menit.

Sheril membuka pintu dan bergegas menuju meja kasir. Ia menatap satu per satu pembeli yang sedang sibuk foto bareng Vero. Setelah foto bareng selesai, pembeli segera membayar tagihan mereka lalu pergi.

Sheril menarik baju Vero, membuatnya menoleh ke arah Sheril. Lalu menatap Sheril penuh tanya.

"Bukannya mau istirahat, kok udah balik aja?"

"Dah nggak pegel lagi," jawab Sheril dongkol.

"Eh, Kak, agak geser ke sana deh. Merusak pemandangan," ucap salah satu pembeli yang sedang melakukan pembayaran.

Sheril menggeser tempat duduknya agak mepet ke dinding kaca. Kekesalan terlihat jelas di wajahnya.

Setelah selesai, Sheril menarik ujung baju Vero, membuatnya menoleh ke arah Sheril.

Alisnya bergerak ke atas, bertanya dengan isyarat.

"Ada pembeli cowok, nggak, yang masuk ke sini saat aku ke ruang khusus?"

"Nggak ada, tuh!"

"Masa, sih?"

"Beneran nggak ada. Kamu lagi nungguin seseorang?"

"Nggak, nanya aja."

Sheril kembali membantu Vero. Memasukan barang belanjaan ke dalam totebag yang sudah dicek oleh Vero. Matanya tetap mencari seseorang yang mungkin pemilik akun Alnonim. Namun, pembeli yang berada di SevenMart, semuanya perempuan dan bukan orang yang sering ditemuinya saat berangkat kerja.

Aneh. Pikir Sheril. Lalu ia menatap ke arah luar dari jendela kaca.

Mungkinkah orangnya bukan pembeli?

Sheril terus menebak-nebak. Sampai akhirnya ia selesai membantu Vero.

Di jam makan siang, suasana SevenMart cukup sepi. Hanya ada dua atau tiga pengunjung yang datang. Sheril mengambil kursi lalu duduk. Satu cup mie instan sudah ia rebus.

Sementara Vero, ia izin untuk keluar mencari makanan di kedai.

"Mau titip sesuatu?" tanya Vero saat ia bersiap keluar dari SevenMart.

"Nggak," jawab Sheril sambil membuka sumpit yang menjepit penutup cup mie.

"Selamat makan siang," ucap Vero lalu pergi.

Setelah kepergian Vero, Sheril membuka penutup cup mie dan menghirup aromanya. Ia mengaduk bumbu cabai dengan menggunakan sumpit. Saat hendak menyuap makan siangnya, seorag pembeli datang menghampiri sambil membawa keranjang belanjaannya. Sheril pun harus menunda niat untuk melahap makanannya itu.

"Kak, punya nomor ponsel atau akun Minstanya pria tadi, nggak?" tanya pembeli itu.

Sheril yang sibuk mengecek dan membungkus belanjaan ke dalam totebag itu seketika menoleh. "Nggak punya. Dia baru satu hari kerja di sini. Kamu bisa minta ke dia nanti," jawab Sheril kembali ke aktivitasnya.

"Totalnya 25 pound."

Pembeli itu menyodorkan card untuk pembayaran.

"Boleh nggak kalau kamu yang minta, nanti aku kasih tip, deh!"

"Gimana, ya?" gumam Sheril sambil menggesekan card ke mesin pembayaran.

"Mau, ya. Harus! Maksa nih!"

"Nanti deh, ya. Kalau Kakak ke sini dan belanja senilai 100 pound. Aku tidak janji, tapi aku usahakan."

"Kalau begitu, aku juga mau!" seru pembeli satunya lagi. Ia muncul di belakang pembeli yang sedang bertransaksi dengan Sheril.

Sheril menghela napas panjang. Ia memikirkan banyak hal. Bisa saja kehadiran Vero ladang uang untuknya selain gaji? Wah beruntungnya Sheril.

Setelah lama berpikir, menimbang permintaan pembeli. Ia pun memutuskan. "Berani bayar berapa?"

"Tenang!" jawab tiga pembeli sambil mengacungkan card hitam bercorak keemasan di tangan mereka.

Sheril tersenyum penuh kemenangan. Hatinya menjerit riang disertai umpatan.

"Kami tunggu, ya!"

"Tagih, aja, kak. Aku pelupa soalnya!" ucap Sheril sambil mengacungkan jempol.

"Kalau bisa, nanti malam sudah dapat, ya. Atau secepatnya!" ucap salah satu dari tiga pembeli itu.

"Datanglah kembali di jam makan malam," jawab Sheril sambil mengedipkan mata. Setelah selesai membayar belanjaannya, mereka segera keluar dari SevenMart. Sheril pun kembali duduk dan menghela napas lega. Lalu, ia mulai menyuap makan siangnya dengan pikiran penuh tentang uang.

Begitu indahnya hidup ini. Pikir Sheril.

"Wah, ada yang baru ketemuan sama kekasihnya, nih!" seru Vero tiba-tiba. Hal itu membuat Sheril yang sedang menelan makanannya, tersedak.

Ia pun terbatuk-batuk lalu membuka paksa segelas air mineral di depannya, lalu meneguk air itu hingga habis. Saat batuknya reda, ia mengambil napas panjang. Dalam hatinya menggerutu dan mengumpat Vero.

"Apaan sih, aku nggak punya kekasih."

"Masa? Aku nggak percaya, tuh!" seru Vero sambil berjalan ke sampingnya. Lalu duduk di samping Sheril.

Sheril berdehem, menetralkan vita suaranya yang serak akibat batuk. "Kamu punya akun Minsta?"

"Oh, punya, dong. Mau follow aku?"

Sheril mengangguk. "Nickname-nya apa?"

"Alvero si cowok ganteng."

"Hahaha!" Sheril tertawa keras. Ia tidak menyangka, partner kerjanya memiliki kelebayan tingkat tinggi.

"Serius, dong!" tegas Sheril setelah puas ketawa.

"Ya, serius."

Sheril masih menahan tawanya sambil membuka kunci layar ponsel. Ia membuka akun Minsta-nya lalu mencari nickname Vero.

"Mana sih, nggak ada. Kamu bohong, ya!" gerutu Sheril sambil menyodorkan ponselnya ke dekat wajah Vero.

"Ada, sini!" seru Vero sambil mengambil ponsel Sheril. Tangannya dengan cekatan mengetik namanya. "Nih. Udah aku follow, nanti aku follback!" seru Vero.

Sheril yang sudah memegang kembali ponselnya, hanya bisa melongo. Meski nickname-nya lebay, akunnya sudah dicentang merah. Sheril pun menoleh ke arah Vero.

"Keren! Kamu influencer, ya!" seru Sheril.

Vero tertawa kecil lalu mengacak rambut Sheril yang hanya panjangnya sebahu. Sheril mendengus kesal saat poninya diacak-acak oleh Vero. Lalu, ia menepis tangan Vero.

Sheril kembali tersenyum, lalu tertawa kecil. Di pikirannya ia membayangkan berapa banyak nanti uang yang bisa ia terima dari wanita tadi?

Senyum Sheril membuat Vero penasaran. Namun, ia menatap wajah bahagia Sheril dengan seksama. Seolah, ia tak mau melewatkan momen indah ini.

Suasana SevenMart kembali ramai saat menjelang malam. Sheril dibuat kesal kembali karena pengunjung yang mulai banyak. Ia kini harus berdiri di depan meja kasir sambil menahan rasa pegal di kakinya lagi. Sementara Vero, sibuk dengan pelanggan dan merapikan barang.

Dering ponsel Sheril membuat fokusnya teralihkan. Sebuah pesan dari Minsta muncul.

[Semoga malammu menyenangkan. Kalau kamu capek, aku di sini akan membantumu.]

Sheril mencebik. "Membantu apaan?" gumam Sheril sambil mematikan ponselnya. Matanya kembali memindai sekitarnya.

Siapa sebenarnya pemilik akun 'Alnonim' itu?

Bab 3

"Sepertinya, kamu tidak suka banyak pembeli," bisik Vero saat keduanya sedang merapikan belanjaan ke dalam totebag.

"Bukan gitu, tapi, dah lah!" jawab Sheril ketus.

Iya, memang dia bukannya tidak suka dengan banyaknya pembeli. Namun, pembeli yang datang bukan sekadar membeli barang yang mereka butuhkan.

"Aku traktir makan malam," bisik Vero.

Ajakan itu membuat lelah yang dialaminya memudar. Namun, Sheril teringat sesuatu yang menurutnya lebih berharga dari ajakan makan malam.

"Pergilah sendiri."

"Kamu tidak mau menyambut pegawai baru. Aku yang traktir, loh, bukan minta ditraktir."

"Aku sudah ada janji," jawab Sheril.

Setelah selesai antrian yang membayar tagihan belanjanya, Sheril masih berkutat di depan meja kasir. Di tempat lain masih ada tiga pembeli yang sedang berbelanja.

"Ayolah!" ajak Vero tidak mau menyerah.

"Kamu tidak lihat, masih ada tiga pembeli yang masih di sini."

Vero berdecak, "Kalau begitu, kita makan malam setelah jam pulang."

Sheril membelalakan matanya. Ia menoleh ke arah tiga pembeli yang masih berkutat di depan barang yang mungkin tidak akan dibelinya. Wajahnya cemas, sesekali menoleh ke arah Vero yang sedang bermain ponsel.

Dari ketiga pembeli itu ada satu orang yang akan menagih nickname akun Minsta milik Vero. Karena itu, Sheril merasa cemas saat Vero memutuskan untuk makan malam setelah pulang.

Sheril merogoh ponsel dan menyalakannya. Beberapa notifikasi dari akun Minstanya membuat Sheril menemukan ide.

"Apa kamu bisa berjaga di sini. Aku ada janji, seseorang menungguku di depan."

Vero menoleh ke arah Sheril lalu mengangguk. Sheril segera keluar dari SevenMart. Ia berdiri seolah sedang menunggu seseorang.

Tak lama setelah Sheril keluar dari SevenMart, seorang wanita menghampirinya. Tangannya menenteng tote bag berisi belanjaan dengan logo SevenMart.

"Aku mau menagih janjimu," ucap wanita itu diakhiri senyuman licik.

"Aku juga memerlukan bukti pembayarannya," ucap Sheril.

"Berikan nomor rekeningnya, aku akan transfer sekarang juga."

Sheril tersenyum, lalu mendiktekan nomor rekeningnya. Tak lama kemudian, ponsel Sheril berdering, sebuah notifikasi dari akun bank miliknya. Sheril tersenyum saat melihat nominal yang diberikan wanita di depannya. Nominal yang lebih dari gaji bulanannya yang hanya 50 pound.

"Mana akun Minsta-nya?" tagih wanita itu

Sheril segera membuka akun Minsta miliknya, lalu menyerahkan nickname serta bukti foto milik Vero bahwa akun Minsta yang diberikannya adalah asli.

Wanita itu menahan tawanya sambil men-follow akun Minsta milik Vero. "Terima kasih, aku akan berikan hadiah untukmu," ucap Wanita itu lalu pergi.

Sheril menghela napas, baru satu wanita. Apa dua lagi akan datang? Sepertinya tidak setelah Sheril menoleh ke arah belakangnya. Di balik kaca bening, dua wanita sedang berbincang penuh tawa dengan Vero. Sheril mencebik.

Sebuah notifikasi kembali membuat ponsel Sheril berdering. Tangannya sigap membuka notif tersebut. Bukan dari Minsta, melainkan dari akun bank-nya. Notifikasi itu membuat Sheril terbelalak.

"Sekaya apa itu cewek?" gumamnya saat melihat nominal dari riwayat transaksinya.

"Aku tak perlu kerja selama setahun," gumamnya lagi. Senyum merekah saat berjalan kembali menuju SevenMart.

Notifikasi pun masuk kembali, kali ini dari akun Minstanya.

[Kau sedang bahagia rupanya.]

[Kamu siapa, sih, sebenarnya?] balas Sheril.

[Aku sudah menemuimu]

[Kapan? Aku tidak melihatmu!]

[Seharian ini]

Sheril yang hendak membuka pintu, seketika menoleh ke arah luar. Ia memindai sekelilingnya.

[Kamu stalker?]

[Bukan]

[Lalu?]

[Aku hanya orang yang tidak pernah kamu sapa]

[Kamu tetap stalker!] balas Sheril. Wajah yang tadinya ceria kini kembali muram.

"Kenapa Sher?" tanya Vero.

Sheril mendongak. "Nggak apa-apa."

"Sudah ketemuannya?"

"Ya," jawab Sheril singkat. Ia kembali mengetik sebuah pesan.

[Kamu pria atau wanita?]

[Kenapa baru mempertanyakannya sekarang?]

Balas pesan itu membuat Sheril tidak sengaja mengumpat. Vero yang mendengar umpatan Sheril hanya melongo, lalu tertawa.

"Kenapa kamu tertawa?" tanya Sheril dengan wajah ketus.

"Aku tidak menyangka kalau wanita secantik kamu bisa berkata demikian."

"Memang kenapa? Aku manusia, bukan makhluk halus yang selalu berkata halus."

Vero kembali tertawa, kini tawanya sangat keras dan membuat Sheril mendengkus.

[Aku seorang pria.]

[Yang ingin kamu sapa setiap hari]

Dua pesan itu masuk kembali ke akun Minsta milik Sheril. Setelah membaca pesannya, Sheril mematikan kembali ponselnya.

"Hei, ada masalah apa?"

"Nggak!"

"Jangan lupa, setelah jam kerja selesai, kita makan malam bersama."

"Iya, bawel. Aku yang traktir." Sheril membenamkan wajahnya di meja kasir. Jam kerjanya tinggal satu jam lagi menuju ganti shift.

"Bisa nggak sih, kamu diganti Rey," gumam Sheril.

"Tidak bisa," ucap Vero.

Sheril menghela napas berat. Ia mendongak dan menatap kesal ke arah Vero. Sementara pria yang berdiri di sampingnya sambil menghitung uang itu tersenyum manis.

Sial. Sheril mengumpat dalam hati. Pesona pria di sampingnya memang tak bisa diragukan. Rasa kesal yang menggunung itu roboh menjadi rasa tersipu.

Satu jam berlalu, ada beberapa pembeli pria saja yang datang. Sheril berjalan menuju ruang khusus pekerja, ia hendak mengambil tas selempang miliknya.

"Al, kamu ternyata yang kerja menggantikan aku!" seru Rey sambil menepuk pundak Vero.

"Kalian saling kenal?" Yuri menatap keduanya.

"Um, ya. Kita temenan. Kamu nggak kenal Alvero?" tanya Rey.

Yuri mengeleng pelan, "Memangnya dia siapa?"

"Ck. Kejam sekali. Dia ini followersnya banyak di Minsta."

"Oh, ya? Wah hebat. Wajah Sheril pasti kusut hari ini," ucap Yuri.

"Kusut karena berdiri lama di depan meja kasir," ucap Vero diakhiri tawa kecilnya.

"Iya, kesel banget. Kenapa harus Rey yang pindah shift. Aku juga mau ketenangan." Sheril melongos pergi.

Vero segera menyusul Sheril. "Hey, jangan marah. Harusnya kamu senang kalau bisa menarik banyak pelanggan," ucap Vero sambil mengacak rambut Sheril.

"Kau, ya!" umpat Sheril sambil menepis tangan Vero. "Jangan pegang rambut orang sembarangan!" tegas Sheril sambil menepis tangan Vero. Ia kembali merapikan poni yang berantakan, lalu mengikat rambutnya yang hanya sebahu itu.

Rey dan Yuri tertawa saat melihat tingkah Sheril kepada Vero.

"Dasar nggak peka!" ucap Rey.

"Sendirinya juga nggak peka!" tegas Yuri sambil berlalu.

"Siapa yang nggak peka ke siapa?" tanya Rey. Lalu berseru karena Yuri tak kunjung menjawabnya..

"Kamu yang akan traktir aku, kan?" tanya Vero saat keduanya berjalan menyusuri jalan khusus pejalan kaki.

"Iya," jawabnya singkat.

"Boleh aku yang memilih restonya?" tanya Vero.

Sheril mengangguk. Vero kembali melakukan hal yang tak disukai Sheril. Ia meraih tangan Sheril dan menuntunnya menuju sebuah restoran tak jauh dari mereka.

"Lepasin!" pekik Sheril berusaha melepas tangannya dari cengkraman Vero.

"Aku bisa jalan mengikutimu, tak perlu pegangan tangan." Sheril masih meronta.

Vero menghentikan langkahnya, keduanya berdiri saling berhadapan di depan pintu masuk restoran. Tangan kanan Sheril masih dipegang oleh Vero.

"Kenapa?" tanya Vero dengan wajah tak tahu malunya.

"Aku nggak suka," jawab Sheril sambil memalingkan wajah.

"Kalau aku suka, gimana? Anggap aja ini bayaran untuk nama akunku yang kamu berikan pada orang lain."

Sheril menoleh sambil membelalakan mata. Umpatan meledak dihatinya, dan hampir keluar dari mulutnya.

"Um, aku ti-tidak me-memberikannya pada siapapun," ucap Sheril terbata.

Tangan Vero yang masih mencengkram tangan Sheril, segera ia menuntun Sheril untuk masuk ke dalam restoran. Meski sekarang kembali berontak, kenapa saat diam tadi Sheril tidak melepaskan tangannya dari cengkraman Vero? Pria itu tersenyum, berjalan mencari kursi yang pas untuk tempat makan malamnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED