Bunyi ponsel dari notifikasi Minsta, membuat Sheril terjaga. Pikirnya siapa yang sudah mengganggu mimpi indah di pagi buta? Ia tak berharap notifikasi itu dari Narto, mantannya yang baru putus seminggu yang lalu.
Masih terbaring, tangan Sheril meraba lantai yang dingin untuk meraih ponselnya. Kasur yang ia tempati hanya beralaskan karpet kain. Tidak ada ranjang, atau nakas di kamar itu. Hanya ada kasur lantai lengkap dengan bantal dan sebuah lemari plastik.
Setelah berhasil menemukan ponselnya Sheril segera menyentuh layar untuk membuka kunci. Ternyata sebuah pesan dari aplikasi Minsta. Aplikasi populer tempat para Selebta, sebutan untuk influencer Minsta dengan followers minimal satu juta.
[.]
Begitulah isi dari pesan singkat di Minsta. Hanya satu tanda titik tapi membuat Sheril melongo.
[Apaan cuma titik doang]
Ia membalas pesan tersebut lalu bergegas turun dari kasur. Setelah membalas pesan tersebut, ia menyimpan ponselnya di atas kasur. Berjalan enggan keluar kamar sambil membawa handuk.
"Sher, kalau mau mandi sekalian cuci piring, ya!" teriak Fika, kakak ipar Sheril.
"Ya," jawabnya singkat. Sebenarnya, ia terlihat masih ngantuk. Namun, kerja pagi tidak bisa ditunda, jika tidak berangkat kerja dia tidak akan punya uang. Sementara kakak iparnya, meski bangun lebih pagi darinya, tapi sibuk main ponsel.
Entahlah, untuk dagang, kali. Begitulah Sheril berusaha berpikir positif.
Handuk ia sampirkan di pundak. Berdiri di depan wastafel yang penuh dengan piring kotor.
'Siapa saja sih yang makan? Perasaan kemarin nggak sebanyak ini.'
Sheril mulai memutar kran air, mengguyur spons untuk dicuci lebih dulu. Baru ia beri sabun dan sedikit air.
Bunyi piring yang beradu saat ditumpuk berdenting. Sheril berusaha pelan melakukannya meski licin. Setelah selesai mencuci piring, barulah ia melangkah ke kamar mandi.
Air yang dingin mengguyur tubuh. Rasa pegal yang mendera, beku seketika. Memberikan sensasi segar dan mengusir kantuk.
Setelah selesai mandi, ia berjalan menuju kamarnya. Handuk masih melilit tubuhnya, serta handuk kecil menutupi rambutnya yang basah. Sheril kembali meraih ponsel, ada notifikasi dari Minsta, sebuah pesan singkat dari akun yang sama.
[Kenapa? Nggak boleh?]
Sheril mengerutkan alis lalu mengetik sebuah balasan.
[Aneh aja.]
Sheril meletakan kembali ponselnya di atas kasur, lalu ia mengenakan baju dinasnya. Seragam biru bercorak warna merah melingkar di bagian dada.
[Biar beda, daripada cuma kata 'hi' tapi nggak di balas, kan?]
Notifikasi kembali berbunyi. Sheril yang sedang menyisir rambut segera meraih ponsel. Ia tertawa pelan.
[Oh.]
Jawab Sheril. Kata yang ia gunakan ketika malas atau ingin iseng menjahili teman onlinenya. Satu kata yang mampu membuat orang lain dongkol.
[Dih, cuma oh, doang. Aku sering lihat kamu tiap pagi, apa hari ini kerja juga?]
Sheril segera mengikat rambutnya. Ia mengingat-ingat setiap pagi saat ia berangkat kerja. Apa yang sedang chatting dengannya adalah orang yang pernah disapanya?
Tidak mungkin, sanggah Sheril. Karena yang sering menyapanya tiap pagi adalah bapak-bapak penjual bubur ayam atau pedagang sayur di komplek tempatnya tinggal.
[Kamu yang jualan bubur ayam?]
Sheril membalas pesan tersebut dengan sebuah pertanyaan.
Sementara di tempat lain, pria yang sedang berdiri di balkon lantai dua tertawa keras.
Sial, kenapa disangka tukang bubur?
Pria itu menghentikan tawanya, lalu mengetik sebuah pesan.
[Aku pastikan kamu lewat lagi dan tak menyapaku hari ini.]
Sheril yang sedang memakai sepatu, kembali mengambil ponselnya yang berbunyi. Ia mendengkus lalu mematikan data selulernya.
"Kak. Aku berangkat dulu, ya!"
"Kenapa nggak makan dulu, Sher?" tanya Fika. Ia sibuk dengan dua anaknya yang bersiap sekolah.
Sheril tak menanggapi kakak iparnya itu. Ia berangkat sambil celingukan. Mencari kemungkinan orang yang tak pernah disapanya apabila bertemu.
"Rajinnya Sheril, mau berangkat kerja?" tanya seorang ibu-ibu yang sedang memilih sayuran di tukang sayur.
"Iya, Bu Nis." Sheril tersenyum. "Permisi," ucapnya saat lewat.
"Anak zaman sekarang, ya, kelihatannya saja sopan, padahal murahan."
"Ssst. Nanti kedengeran. Biasalah, sopan santun demi tameng. Aslinya jual diri sama godain laki orang," jawab ibu-ibu di sebelahnya.
"Pantesan itu anak udah umur 25 belum nikah juga," ucap salah satu dari lima ibu ibu yang sedang belanja sayur.
Sheril sudah terbiasa dengan gosip seperti itu. Sudah seperti sarapan pagi. Apalagi pekerjaannya berangkat pagi pulang jam sepuluh malam. Membuat gosip para tetangganya seolah terasa nyata.
"Tumben Sheril nggak beli bubur?" tanya penjual bubur ayam saat Sheril melewatinya.
"Sudah sarapan, tadi, Pak." Sheril tersenyum. Ia berjalan sambil mencari seseorang yang mungkin bisa dicurigai sambil sesekali menyapa orang yang berpapasan dengannya.
Jalan gang yang sempit itu tak ada yang bisa Sheril curigai. Kemudian ia berjalan di jalan gang dengan tembok yang tinggi di salah satu sisinya. Perjalanannya menuju jalan raya masih jauh, karena itu ia bangun pagi hanya untuk jalan dari rumah kakaknya menuju jalan raya.
Sheril meraih ponselnya, mengaktifkan kembali data seluler. Tak lama kemudian, notifikasi dari Minsta muncul. Chat dari akun yang bernama "Alnonim"
[Kan, kamu nggak menyapa aku!]
Sheril menghentikan langkahnya. Lalu mengetik sebuah balasan.
[Tadi aku udah nyapa. Maaf ya, hari ini nggak beli bubur dulu, Pak!]
Sheril mendengkus. Lalu ia berjalan kembali.
Tak jauh dari Sheril berada. Seorang pria yang masih berdiri di balkon lantai dua rumahnya tertawa keras. Lalu ia menutup mulutnya dan menghentikan tawanya saat Sheril menoleh.
[Aku bukan tukang bubur!]
Balasan itu ia kirim kepada Sheril. Manik matanya tak henti menatap punggung Sheril yang menjauh. Lalu, Sheril berhenti di pinggir jalan raya sebelum menyebrang menuju halte bus.
[Kalau bukan, lalu kamu siapa?]
Sheril duduk di kursi sambil menunggu bus selanjutnya tiba. Jalanan masih lengang pagi ini. Kendaraan pribadi tidak banyak berlalu lalang.
[Kalau kuberitahu nanti kamu menyesal.]
Sheril mencebik saat membaca balasan dari teman online-nya itu.
[Oh]
Balasnya singkat.
[Coba kamu cari tau sendiri!]
[Nggak mau, capek!]
Sheril mematikan data selulernya lagi setelah membalas pesannya. Sebuah bus yang ditunggunya tiba. Sheril segera naik bus, jaraknya menuju tempat kerja tak jauh. Hanya perlu lima menit naik bus.
Setibanya di depan SevenMart, Sheril turun dan membayar bus dengan menempelkan card.
"Kak Sheril!" teriak pekerja part time saat Sheril masuk.
"Tumben, Wid, ada apa?"
"Hari ini aku terakhir kerja part time. Nanti ada pengganti aku. Tapi katanya mau satu shift sama Kak Sheril."
"Kamu mau pindah?" tanya Sheril.
"Bukan pindah, tapi keluar. Aku dapat kerjaan yang bagus!"
"Baguslah. Selamat, ya!"
"Eh, Kak. Kenapa kakak betah kerja di sini sih?"
"Ya daripada nggak ada kerjaan, kan? Aku hanya lulusan SMP, mana bisa pilih-pilih kerjaan." Sheril menjawab sambil diakhiri tawa.
"Aku pulang dulu, ya, Kak. Bye!"
"Eh, Wid. Rey nggak masuk?"
"Kak Rey ganti shift, jadi malam gantiin aku nemenin Kak Yuri."
Sheril mengangguk untuk mengiyakan. Lalu, siapa pekerja baru yang akan bersamanya?
Sheril menghela napas panjang. Ia berdiri di menatap mesin barcode. Setelah kepergian Widiya, Sheril belum mendapatkan pengunjung. Semua pekerjaan sudah dirapikan oleh Widiya. Sheril mengambil roti dan susu kotak yang letaknya tak jauh darinya, lalu menyantap sarapannya di pagi ini.
Denting suara pintu yang didorong membuat Sheril mendongak ke arah pintu. Dua pria berjalan ke arahnya sambil berbincang. Sheril segera menyimpan sarapannya yang belum habis itu, lalu menyapa pemilik SevenMart saat tiba di depannya.
"Selamat pagi, Pak Davin."
"Pagi, Sheril." Pria yang dipanggil Pak Davin itu, melempar senyum ke arah Sheril.
"Nah, Al, dia Sheril, teman kerjamu. Sheril, ini Alvero yang akan menggantikan Rey."
"Semoga betah, ya, Al." Davin menepuk pundak Vero lalu pamit kepada Sheril.
Vero menatap Sheril beberapa menit, lalu tertawa. Sheril yang masih sibuk melihat pemilik SevenMart pergi segera menoleh, ia mendengus kesal melihat kelakuan partner kerjanya yang tengil itu.
"Kenapa baru sarapan?"
Sheril yang hendak menggigit roti itu, menoleh ke arah Vero.
"Terserah aku, dong!" jawab Sheril tak peduli. Ia segera menghabiskan roti selai coklat itu lalu meneguk susu rasa pisang hingga habis.
Ponsel Sheril berbunyi, segera ia merogoh ponsel dari saku celananya. Ia mengumpat beberapa kali sambil berkutat dengan ponsel. Ada satu chat dari minsta yang masuk karena wifi SevenMart aktif. Ponsel yang diatur tersambung otomatis itu membuat Sheril menggerutu. Mau tidak mau ia membuka pesan tersebut.
[Kalau begitu, aku akan menemuimu!]
Sheril terpaku menatap layar ponsel. Sementara Vero, teman kerjanya berkeliling di ruangan SevenMart untuk mengenal lingkungan kerjanya.
[Temui saja kalau berani!]
Balas Sheril, lalu ia mematikan ponselnya.
Hari ini, SevenMart sangat ramai. Sheril merasa senang sekaligus iri. Ya, semua itu berkat pekerja baru yang bernama Alvero. Karena rata-rata pengunjung hari ini adalah para wanita.
Alvero memiliki senyum yang menawan, selalu merekah cantik bagaikan kuntum bunga mawar. Sorot matanya apalagi, membuat siapa saja yang menatap manik berwarna hijau keabu-abuan itu tersipu malu. Gerak tubuhnya lincah saat membantu mengambilkan barang yang berada di rak paling tinggi. Para wanita yang belanja memang sengaja membeli barang yang jauh dari jangkauan mereka demi dibantu oleh Vero.
Sheril mendengus kesal saat beberapa kali memanggil pelanggannya yang sedang mengantri di depannya.
"Kak, apa belanjanya sudah?" tanya Sheril dengan nada gemas.
"Ah, ada yang kelupaan. Aku harus membeli yang lain." Perempuan di depannya itu segera pergi, membuat orang yang mengantri di belakangnya bergerak maju.
"Ada yang diperlukan lagi?" tanya Sheril berusaha seramah mungkin.
"Tidak. Tapi, apa boleh meminta foto bersama dengan pekerja itu?" tanya Wanita di depannya. Hal itu membuat Sheril menghela napas panjang. Antrian yang panjang, tapi mata mereka sibuk mencari sosok Vero.
"Coba tanyakan ke orangnya langsung, Kak!" tgas Sheril. Ia tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya saat ini. Berdiri di depan meja kasir membuat kakinya pegal.
"Al!" panggil Sheril saat Vero berada di dekat rak yang sejajar dengannya.
"Ya, Sher?" tanyanya sambil mendekat. Sorot mata para pembeli pun mengikuti setiap langkah Vero.
"Ada yang minta fotbar," bisik Sheril setelah Vero berdiri di sampingnya. "Aku mau istirahat bentar, aja. Pegel banget nih kaki," lanjut Sheril sambil berlalu pergi.
Bagaimana dia tidak kesal, pembeli malah nongkrong di SevenMart dengan waktu lama. Bahkan menunda pembayaran hanya untuk melihat Vero lebih lama. Sheril menyesali kedatangan pekerja baru. Kalau boleh, ia ingin bekerja dengan Rey dibanding Vero. Meski ia tahu, pengunjung tak mungkin sebanyak saat ini.
Sheril berjalan menuju tempat khusus pekerja. Pintunya terletak di sudut kanan ruangan SevenMart. Hanya dengan berjalan lurus dari meja kasir. Setelah memasuki tempat khusus pekerja, Sheril menutup pintu dengan rapat. Tubuhnya luruh ke lantai, duduk bersandar pada daun pintu. Dalam lelahnya, ia merogoh saku celana untuk mengecek ponselnya.
Saat ia menyalakan ponsel dan tersambung otomatis pada wifi SevenMart. Sederet notifikasi dari Minsta muncul. Semua berisi chat dari akun bernama 'Alnonim'.
[Wajahmu hari ini kelihatan bete banget deh!]
Sheril gegas berdiri. Matanya terbelalak melihat pesan terakhir yang diberikan Alnonim.
Apakah dia ada di sini? Di antara para pengunjung?
Sederet pertanyaan memenuhi pikirannya. Menciptakan banyak kemungkinan yang mustahil. Sheril memeriksa waktu terkirimnya pesan terakhir itu. Matanya kembali terbelalak saat ia mengetahui bahwa waktu pesan yang dikirim oleh Alnonim hanya beda dua menit.
Sheril membuka pintu dan bergegas menuju meja kasir. Ia menatap satu per satu pembeli yang sedang sibuk foto bareng Vero. Setelah foto bareng selesai, pembeli segera membayar tagihan mereka lalu pergi.
Sheril menarik baju Vero, membuatnya menoleh ke arah Sheril. Lalu menatap Sheril penuh tanya.
"Bukannya mau istirahat, kok udah balik aja?"
"Dah nggak pegel lagi," jawab Sheril dongkol.
"Eh, Kak, agak geser ke sana deh. Merusak pemandangan," ucap salah satu pembeli yang sedang melakukan pembayaran.
Sheril menggeser tempat duduknya agak mepet ke dinding kaca. Kekesalan terlihat jelas di wajahnya.
Setelah selesai, Sheril menarik ujung baju Vero, membuatnya menoleh ke arah Sheril.
Alisnya bergerak ke atas, bertanya dengan isyarat.
"Ada pembeli cowok, nggak, yang masuk ke sini saat aku ke ruang khusus?"
"Nggak ada, tuh!"
"Masa, sih?"
"Beneran nggak ada. Kamu lagi nungguin seseorang?"
"Nggak, nanya aja."
Sheril kembali membantu Vero. Memasukan barang belanjaan ke dalam totebag yang sudah dicek oleh Vero. Matanya tetap mencari seseorang yang mungkin pemilik akun Alnonim. Namun, pembeli yang berada di SevenMart, semuanya perempuan dan bukan orang yang sering ditemuinya saat berangkat kerja.
Aneh. Pikir Sheril. Lalu ia menatap ke arah luar dari jendela kaca.
Mungkinkah orangnya bukan pembeli?
Sheril terus menebak-nebak. Sampai akhirnya ia selesai membantu Vero.
Di jam makan siang, suasana SevenMart cukup sepi. Hanya ada dua atau tiga pengunjung yang datang. Sheril mengambil kursi lalu duduk. Satu cup mie instan sudah ia rebus.
Sementara Vero, ia izin untuk keluar mencari makanan di kedai.
"Mau titip sesuatu?" tanya Vero saat ia bersiap keluar dari SevenMart.
"Nggak," jawab Sheril sambil membuka sumpit yang menjepit penutup cup mie.
"Selamat makan siang," ucap Vero lalu pergi.
Setelah kepergian Vero, Sheril membuka penutup cup mie dan menghirup aromanya. Ia mengaduk bumbu cabai dengan menggunakan sumpit. Saat hendak menyuap makan siangnya, seorag pembeli datang menghampiri sambil membawa keranjang belanjaannya. Sheril pun harus menunda niat untuk melahap makanannya itu.
"Kak, punya nomor ponsel atau akun Minstanya pria tadi, nggak?" tanya pembeli itu.
Sheril yang sibuk mengecek dan membungkus belanjaan ke dalam totebag itu seketika menoleh. "Nggak punya. Dia baru satu hari kerja di sini. Kamu bisa minta ke dia nanti," jawab Sheril kembali ke aktivitasnya.
"Totalnya 25 pound."
Pembeli itu menyodorkan card untuk pembayaran.
"Boleh nggak kalau kamu yang minta, nanti aku kasih tip, deh!"
"Gimana, ya?" gumam Sheril sambil menggesekan card ke mesin pembayaran.
"Mau, ya. Harus! Maksa nih!"
"Nanti deh, ya. Kalau Kakak ke sini dan belanja senilai 100 pound. Aku tidak janji, tapi aku usahakan."
"Kalau begitu, aku juga mau!" seru pembeli satunya lagi. Ia muncul di belakang pembeli yang sedang bertransaksi dengan Sheril.
Sheril menghela napas panjang. Ia memikirkan banyak hal. Bisa saja kehadiran Vero ladang uang untuknya selain gaji? Wah beruntungnya Sheril.
Setelah lama berpikir, menimbang permintaan pembeli. Ia pun memutuskan. "Berani bayar berapa?"
"Tenang!" jawab tiga pembeli sambil mengacungkan card hitam bercorak keemasan di tangan mereka.
Sheril tersenyum penuh kemenangan. Hatinya menjerit riang disertai umpatan.
"Kami tunggu, ya!"
"Tagih, aja, kak. Aku pelupa soalnya!" ucap Sheril sambil mengacungkan jempol.
"Kalau bisa, nanti malam sudah dapat, ya. Atau secepatnya!" ucap salah satu dari tiga pembeli itu.
"Datanglah kembali di jam makan malam," jawab Sheril sambil mengedipkan mata. Setelah selesai membayar belanjaannya, mereka segera keluar dari SevenMart. Sheril pun kembali duduk dan menghela napas lega. Lalu, ia mulai menyuap makan siangnya dengan pikiran penuh tentang uang.
Begitu indahnya hidup ini. Pikir Sheril.
"Wah, ada yang baru ketemuan sama kekasihnya, nih!" seru Vero tiba-tiba. Hal itu membuat Sheril yang sedang menelan makanannya, tersedak.
Ia pun terbatuk-batuk lalu membuka paksa segelas air mineral di depannya, lalu meneguk air itu hingga habis. Saat batuknya reda, ia mengambil napas panjang. Dalam hatinya menggerutu dan mengumpat Vero.
"Apaan sih, aku nggak punya kekasih."
"Masa? Aku nggak percaya, tuh!" seru Vero sambil berjalan ke sampingnya. Lalu duduk di samping Sheril.
Sheril berdehem, menetralkan vita suaranya yang serak akibat batuk. "Kamu punya akun Minsta?"
"Oh, punya, dong. Mau follow aku?"
Sheril mengangguk. "Nickname-nya apa?"
"Alvero si cowok ganteng."
"Hahaha!" Sheril tertawa keras. Ia tidak menyangka, partner kerjanya memiliki kelebayan tingkat tinggi.
"Serius, dong!" tegas Sheril setelah puas ketawa.
"Ya, serius."
Sheril masih menahan tawanya sambil membuka kunci layar ponsel. Ia membuka akun Minsta-nya lalu mencari nickname Vero.
"Mana sih, nggak ada. Kamu bohong, ya!" gerutu Sheril sambil menyodorkan ponselnya ke dekat wajah Vero.
"Ada, sini!" seru Vero sambil mengambil ponsel Sheril. Tangannya dengan cekatan mengetik namanya. "Nih. Udah aku follow, nanti aku follback!" seru Vero.
Sheril yang sudah memegang kembali ponselnya, hanya bisa melongo. Meski nickname-nya lebay, akunnya sudah dicentang merah. Sheril pun menoleh ke arah Vero.
"Keren! Kamu influencer, ya!" seru Sheril.
Vero tertawa kecil lalu mengacak rambut Sheril yang hanya panjangnya sebahu. Sheril mendengus kesal saat poninya diacak-acak oleh Vero. Lalu, ia menepis tangan Vero.
Sheril kembali tersenyum, lalu tertawa kecil. Di pikirannya ia membayangkan berapa banyak nanti uang yang bisa ia terima dari wanita tadi?
Senyum Sheril membuat Vero penasaran. Namun, ia menatap wajah bahagia Sheril dengan seksama. Seolah, ia tak mau melewatkan momen indah ini.
Suasana SevenMart kembali ramai saat menjelang malam. Sheril dibuat kesal kembali karena pengunjung yang mulai banyak. Ia kini harus berdiri di depan meja kasir sambil menahan rasa pegal di kakinya lagi. Sementara Vero, sibuk dengan pelanggan dan merapikan barang.
Dering ponsel Sheril membuat fokusnya teralihkan. Sebuah pesan dari Minsta muncul.
[Semoga malammu menyenangkan. Kalau kamu capek, aku di sini akan membantumu.]
Sheril mencebik. "Membantu apaan?" gumam Sheril sambil mematikan ponselnya. Matanya kembali memindai sekitarnya.
Siapa sebenarnya pemilik akun 'Alnonim' itu?
"Sepertinya, kamu tidak suka banyak pembeli," bisik Vero saat keduanya sedang merapikan belanjaan ke dalam totebag.
"Bukan gitu, tapi, dah lah!" jawab Sheril ketus.
Iya, memang dia bukannya tidak suka dengan banyaknya pembeli. Namun, pembeli yang datang bukan sekadar membeli barang yang mereka butuhkan.
"Aku traktir makan malam," bisik Vero.
Ajakan itu membuat lelah yang dialaminya memudar. Namun, Sheril teringat sesuatu yang menurutnya lebih berharga dari ajakan makan malam.
"Pergilah sendiri."
"Kamu tidak mau menyambut pegawai baru. Aku yang traktir, loh, bukan minta ditraktir."
"Aku sudah ada janji," jawab Sheril.
Setelah selesai antrian yang membayar tagihan belanjanya, Sheril masih berkutat di depan meja kasir. Di tempat lain masih ada tiga pembeli yang sedang berbelanja.
"Ayolah!" ajak Vero tidak mau menyerah.
"Kamu tidak lihat, masih ada tiga pembeli yang masih di sini."
Vero berdecak, "Kalau begitu, kita makan malam setelah jam pulang."
Sheril membelalakan matanya. Ia menoleh ke arah tiga pembeli yang masih berkutat di depan barang yang mungkin tidak akan dibelinya. Wajahnya cemas, sesekali menoleh ke arah Vero yang sedang bermain ponsel.
Dari ketiga pembeli itu ada satu orang yang akan menagih nickname akun Minsta milik Vero. Karena itu, Sheril merasa cemas saat Vero memutuskan untuk makan malam setelah pulang.
Sheril merogoh ponsel dan menyalakannya. Beberapa notifikasi dari akun Minstanya membuat Sheril menemukan ide.
"Apa kamu bisa berjaga di sini. Aku ada janji, seseorang menungguku di depan."
Vero menoleh ke arah Sheril lalu mengangguk. Sheril segera keluar dari SevenMart. Ia berdiri seolah sedang menunggu seseorang.
Tak lama setelah Sheril keluar dari SevenMart, seorang wanita menghampirinya. Tangannya menenteng tote bag berisi belanjaan dengan logo SevenMart.
"Aku mau menagih janjimu," ucap wanita itu diakhiri senyuman licik.
"Aku juga memerlukan bukti pembayarannya," ucap Sheril.
"Berikan nomor rekeningnya, aku akan transfer sekarang juga."
Sheril tersenyum, lalu mendiktekan nomor rekeningnya. Tak lama kemudian, ponsel Sheril berdering, sebuah notifikasi dari akun bank miliknya. Sheril tersenyum saat melihat nominal yang diberikan wanita di depannya. Nominal yang lebih dari gaji bulanannya yang hanya 50 pound.
"Mana akun Minsta-nya?" tagih wanita itu
Sheril segera membuka akun Minsta miliknya, lalu menyerahkan nickname serta bukti foto milik Vero bahwa akun Minsta yang diberikannya adalah asli.
Wanita itu menahan tawanya sambil men-follow akun Minsta milik Vero. "Terima kasih, aku akan berikan hadiah untukmu," ucap Wanita itu lalu pergi.
Sheril menghela napas, baru satu wanita. Apa dua lagi akan datang? Sepertinya tidak setelah Sheril menoleh ke arah belakangnya. Di balik kaca bening, dua wanita sedang berbincang penuh tawa dengan Vero. Sheril mencebik.
Sebuah notifikasi kembali membuat ponsel Sheril berdering. Tangannya sigap membuka notif tersebut. Bukan dari Minsta, melainkan dari akun bank-nya. Notifikasi itu membuat Sheril terbelalak.
"Sekaya apa itu cewek?" gumamnya saat melihat nominal dari riwayat transaksinya.
"Aku tak perlu kerja selama setahun," gumamnya lagi. Senyum merekah saat berjalan kembali menuju SevenMart.
Notifikasi pun masuk kembali, kali ini dari akun Minstanya.
[Kau sedang bahagia rupanya.]
[Kamu siapa, sih, sebenarnya?] balas Sheril.
[Aku sudah menemuimu]
[Kapan? Aku tidak melihatmu!]
[Seharian ini]
Sheril yang hendak membuka pintu, seketika menoleh ke arah luar. Ia memindai sekelilingnya.
[Kamu stalker?]
[Bukan]
[Lalu?]
[Aku hanya orang yang tidak pernah kamu sapa]
[Kamu tetap stalker!] balas Sheril. Wajah yang tadinya ceria kini kembali muram.
"Kenapa Sher?" tanya Vero.
Sheril mendongak. "Nggak apa-apa."
"Sudah ketemuannya?"
"Ya," jawab Sheril singkat. Ia kembali mengetik sebuah pesan.
[Kamu pria atau wanita?]
[Kenapa baru mempertanyakannya sekarang?]
Balas pesan itu membuat Sheril tidak sengaja mengumpat. Vero yang mendengar umpatan Sheril hanya melongo, lalu tertawa.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Sheril dengan wajah ketus.
"Aku tidak menyangka kalau wanita secantik kamu bisa berkata demikian."
"Memang kenapa? Aku manusia, bukan makhluk halus yang selalu berkata halus."
Vero kembali tertawa, kini tawanya sangat keras dan membuat Sheril mendengkus.
[Aku seorang pria.]
[Yang ingin kamu sapa setiap hari]
Dua pesan itu masuk kembali ke akun Minsta milik Sheril. Setelah membaca pesannya, Sheril mematikan kembali ponselnya.
"Hei, ada masalah apa?"
"Nggak!"
"Jangan lupa, setelah jam kerja selesai, kita makan malam bersama."
"Iya, bawel. Aku yang traktir." Sheril membenamkan wajahnya di meja kasir. Jam kerjanya tinggal satu jam lagi menuju ganti shift.
"Bisa nggak sih, kamu diganti Rey," gumam Sheril.
"Tidak bisa," ucap Vero.
Sheril menghela napas berat. Ia mendongak dan menatap kesal ke arah Vero. Sementara pria yang berdiri di sampingnya sambil menghitung uang itu tersenyum manis.
Sial. Sheril mengumpat dalam hati. Pesona pria di sampingnya memang tak bisa diragukan. Rasa kesal yang menggunung itu roboh menjadi rasa tersipu.
Satu jam berlalu, ada beberapa pembeli pria saja yang datang. Sheril berjalan menuju ruang khusus pekerja, ia hendak mengambil tas selempang miliknya.
"Al, kamu ternyata yang kerja menggantikan aku!" seru Rey sambil menepuk pundak Vero.
"Kalian saling kenal?" Yuri menatap keduanya.
"Um, ya. Kita temenan. Kamu nggak kenal Alvero?" tanya Rey.
Yuri mengeleng pelan, "Memangnya dia siapa?"
"Ck. Kejam sekali. Dia ini followersnya banyak di Minsta."
"Oh, ya? Wah hebat. Wajah Sheril pasti kusut hari ini," ucap Yuri.
"Kusut karena berdiri lama di depan meja kasir," ucap Vero diakhiri tawa kecilnya.
"Iya, kesel banget. Kenapa harus Rey yang pindah shift. Aku juga mau ketenangan." Sheril melongos pergi.
Vero segera menyusul Sheril. "Hey, jangan marah. Harusnya kamu senang kalau bisa menarik banyak pelanggan," ucap Vero sambil mengacak rambut Sheril.
"Kau, ya!" umpat Sheril sambil menepis tangan Vero. "Jangan pegang rambut orang sembarangan!" tegas Sheril sambil menepis tangan Vero. Ia kembali merapikan poni yang berantakan, lalu mengikat rambutnya yang hanya sebahu itu.
Rey dan Yuri tertawa saat melihat tingkah Sheril kepada Vero.
"Dasar nggak peka!" ucap Rey.
"Sendirinya juga nggak peka!" tegas Yuri sambil berlalu.
"Siapa yang nggak peka ke siapa?" tanya Rey. Lalu berseru karena Yuri tak kunjung menjawabnya..
"Kamu yang akan traktir aku, kan?" tanya Vero saat keduanya berjalan menyusuri jalan khusus pejalan kaki.
"Iya," jawabnya singkat.
"Boleh aku yang memilih restonya?" tanya Vero.
Sheril mengangguk. Vero kembali melakukan hal yang tak disukai Sheril. Ia meraih tangan Sheril dan menuntunnya menuju sebuah restoran tak jauh dari mereka.
"Lepasin!" pekik Sheril berusaha melepas tangannya dari cengkraman Vero.
"Aku bisa jalan mengikutimu, tak perlu pegangan tangan." Sheril masih meronta.
Vero menghentikan langkahnya, keduanya berdiri saling berhadapan di depan pintu masuk restoran. Tangan kanan Sheril masih dipegang oleh Vero.
"Kenapa?" tanya Vero dengan wajah tak tahu malunya.
"Aku nggak suka," jawab Sheril sambil memalingkan wajah.
"Kalau aku suka, gimana? Anggap aja ini bayaran untuk nama akunku yang kamu berikan pada orang lain."
Sheril menoleh sambil membelalakan mata. Umpatan meledak dihatinya, dan hampir keluar dari mulutnya.
"Um, aku ti-tidak me-memberikannya pada siapapun," ucap Sheril terbata.
Tangan Vero yang masih mencengkram tangan Sheril, segera ia menuntun Sheril untuk masuk ke dalam restoran. Meski sekarang kembali berontak, kenapa saat diam tadi Sheril tidak melepaskan tangannya dari cengkraman Vero? Pria itu tersenyum, berjalan mencari kursi yang pas untuk tempat makan malamnya.