Bab 1, AMNESIA. ]
[ Keyla Achazia ]
Saat pertama aku kali membuka mataku, aku sama sekali tak mengenal tempat ini, ruangan besar ini. Bau obat-obatan langsung tercium oleh hidungku. Ruangan berdominan putih yang aku fikir ini adalah rumah sakit. Aku tidak tau kenapa aku ada di sini, aku melihat ada dua orang di samping kanan satu dan samping kiri satu. Sepertinya yang kiri adalah Dokter, bisa dilihat dari pakaiannya yang memakai jas putih khas seorang Dokter dan yang kanan juga memakai jas, namun bukan putih khas rumah sakit, tapi jas hitam formal.
'Dia sudah sadar." kata seorang pria yang ada di samping kanan.
"Aku akan memeriksanya dulu." Dokter itu berucap dan mulai memeriksa keadaanku.
Aku melihat orang berjas hitan tadi, dia tersenyum padaku, aku hanya menatapnya datar. Karena aku tidak tau harus berekspresi seperti apa?
Dokter tadi telah selesai memeriksaku, dan mulai berbincang dengan pria yang berjas hitam. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, karena aku tidak mendengarkan. Aku lebih memilih melihat kesekeliling ruangan ini.
Saat mataku bertemu dengan matanya, ia tersenyum padaku. "Kamu baik-baik saja 'kan? Apa yang kamu rasakan?" tanya pria itu padaku.
Aku menatapnya lama, memperhatikan setiap inci wajahnya. Dia tampan. Tapi siapa dia? Apa aku mengenalnya?
"Hei, kamu tidak apa-apa 'kan?" tanyanya mulai cemas, mungkin karena aku tidak membalas pertanyaannya barusan.
"Tenang, Ali. Dia tidak apa-apa, dia hanya butuh menyesuaikan diri. Sudah satu tahun lebih dia koma." kata seorang di samping kiri atau lebih tepatnya ucap sang Dokter.
Pria itu tersenyum, ia mengusap puncak kepalaku lembut. "Kamu tidak apa-apa 'kan? Apa yang kamu rasakan saat ini?." tanya pria berjas hitam itu. Atau lebih tepatnya bertanya lagi.
Aku menatap mereka berdua secara bergantian, "aku, aku"
"Katakan saja, kamu mau apa?"
"Jangan takut, Keyla. Katakan saja apa yang kamu rasakan." kata Dokter itu seraya tersenyum lembut ke arahku.
"Kalau tidak keberatan, Aku lapar." kataku lirih. Aku memang lapar, bahkan sangat lapar. Aku tidak ingat kapan terakhir aku makan.
"Aku akan mencari makan dulu. Titip Keyla dok." pamit pria itu lalu keluar ruanganku.
Dokter itu mendekat ke arahku, ia tersenyum lagi. Aku tidak tau mengapa ia dan pria tadi suka sekali tersenyum. "Tidak apa-apa, Keyla. Semua akan baik-baik saja. Apakah kepalamu sakit, jika ada bagian mana saja yang sakit katakan saja ya."
Aku tetap diam memandang Dokter itu yang mengganti botol infus dan mengecek lagi keadaanku. Hingga tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, ternyata pria berjas hitam tadi yang datang membawa nampan berisi satu gelas susu dan semangkuk bubur yang dia letakkan di meja samping tempat tidurku.
Lagi dan lagi ia tersenyum kepadaku. Membantuku untuk duduk bersandar, mengambil mangkuk bubur lalu menyuapiku. Aku hanya menurut saat ia melakukan itu, karena aku tidak tau apa yang harus aku lakukan dan lagi pula aku pun lapar.
Setelah aku memakan habis bubur itu, ia menaruh mangkuk itu ke meja lalu meraih segelas susu yang ia sodorkan padaku. Aku menerimanya dan meminumnya hingga setengah, lalu memberikan kembali gelas itu padanya.
"Bagaimana sudah lebih baik?" tanyanya seraya tersenyum. Apa ia tidak capek sedari tadi tersenyum terus?
Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Sebagai ganti tanda ia karena aku merasa suaraku sangat susah kukeluarkan.
"Dokter apakah ia baik, kenapa Keyla tidak bicara -maksudku ia hanya menjawab saat di tanya. Kenapa ia tidak seperti biasanya?" Tanya pria itu pada Dokter yang sedari tadi masih berada di ruangan ini.
Dokter itu menghela nafas panjang, "ini yang harus aku pastikan, saat kecelakaan kepalanya mengalami benturan yang cukup keras jadi kemungkinan ia akan Amnesia itu besar."
"Maksudmu apa dok?" tanya pria itu lagi.
"Kita akan cek sebentar." kata Dokter itu lalu berjalan mendekat kearahku masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Kamu tau siapa pria di samping mu itu?" tanya Dokter itu seraya menunjuk pria yang sedari tadi ada di ruangan ini. Aku memperhatikannya sebentar lalu menggeleng.
Aku memang tidak ingat atau tidak tau siapa pria itu. Dokter itu menatap pria itu lalu menggeleng. Dan pria itu pun mendesah sepertinya frustasi, aku tidak tau apa yang membuat dia seperti itu.
"Bagaimana bisa? Ini tidak mungkin!" serunya seraya mengacak-acak rambutnya.
"Kamu ingat siapa namamu?" tanya Dokter itu lagi.
Aku menggeleng lalu mengangguk membuat Dokter itu menatapku bingung.
"Maksudnya? Menggeleng dan mengangguk itu apa?" Bentak pria yang bukan Dokter.
"Sabar Ali, tenangkan dirimu. Kamu membuat dia takut Ali." kata Dokter itu. Ia menatapku lalu tersenyum lembut. "Jadi, bagaimana apa kamu ingat namamu?"
"Tidak! Tapi kupikir namaku Keyla. Karena kalian tadi memanggilku dengan nama itu." jawabku jujur, aku memang tidak ingat siapa namaku, tapi aku ingat mereka tadi memanggilku dengan nama itu, jadi kupikir itu adalah namaku.
"Jadi kamu benar-benar tidak ingat siapa aku?" tanya pria yang Dokter sebut dengan nama Ali itu lirih.
Aku menggeleng sebagai jawaban tidak, tiba-tiba ia menggenggam tanganku. Tapi secara refleks aku langsung melepaskan genggamannya. Dan memandang pria itu horor. Oke, aku tau dia tampan dan mungkin saja memiliki hubungan yang spesial denganku, tapi aku sama sekali tidak mengingat hal itu.
"Keyla, aku Ali. Aliando, aku suamimu sayang." katanya seraya berusa menggenggam kembali tanganku. Tapi aku menyembunyikan kedua tanganku di bawah selimut.
Aku masih tidak mengerti dengan semua ini. Sungguh.
Lagi lagi aku menggeleng, "aku tidak ingat siapa kamu." kataku dengan suara parau.
"Ali, tenangkan dirimu dulu, Keyla butuh waktu. Kamu bisa mengabari orangtuamu jika dia sudah sadar." kata Dokter itu menepuk pundak pria itu. Untuk menyebut namanya saja susah.
"Semua akan baik-baik saja." kata Dokter itu lagi.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan semua akan baik-baik Dok, kalau dia saja tidak mengingatku. " katanya dengan nada sarkastik.
"Coba kamu bawa putrimu, siapa tau dia ingat anak kalian." saran Dokter itu.
Putri? Anak? Kalian? Maksudnya anakku dan pria itu? Entahlah kepalaku pusing memikirkan itu semua, "aww" pekikku memegangi kepalaku karena tiba-tiba kepalaku berdenyut sangat nyeri.
"Sayang kamu kenapa? Dokter ada apa dengannya?"
"Tidak apa Li, dia hanya berusaha mengingat apa yang dia lupakan, tapi tidak bisa dan jika di paksakan ia akan merasakan sakit di kepalanya." jelas Dokter itu setelah ia menyuntikkan sesuatu pada botol infusku.
"Apa dia akan baik-baik saja?"
"Ya, dia akan baik baik saja. Aku sudah menyuntiknya obat tidur. Jangan paksakan dia untuk mengingat sesuatu yang dia tidak ingat, jika kamu tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya."
Itu adalah ucapan terakhir sang Dokter yang aku dengar, karena selanjutnya aku telah memejamkan mata dan tertidur lagi, jadi aku tidak tau apa lagi yang mereka bicarakan selanjutnya.
Sorry for typo!!
Thanks for reading!!
[ Bab 2, Kejutan Tak Terduga ]
[ Normal ]
"Papa ... " teriak seorang anak kecil saat Ali baru saja memasuki rumahnya.
Ali tersenyum, ia merentangkan kedua tangannya. Menyambut anak itu ke dalam pelukannya. Ali menggendong anak perempuan itu dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.
"Anak Papa, makin berat ya." ujar Ali seraya mencium pipi putrinya itu dengan gemas.
"Iya dong, 'kan aku sudah besar Pa." balasnya dalam gendongan Ali.
Ali tersenyum, ia duduk di sofa ruang keluarga. Memangku anaknya yang masih setia memeluk lehernya dengan erat.
"Bagaimana keadaan Keyla?" tanya Ibu Ali yang memang sedang duduk santai di sofa, bersama suaminya di ruang keluarga.
"Dia baik baik saja, besok sudah boleh pulang kata Dokter Mom." balas Ali.
Waktu itu kedua orang tua Ali menjenguk Keyla di rumah sakit seperti yang di sarankan oleh sang Dokter. Namun sia-sia saja karena Keyla tidak memangingat satu pun anggota keluarga Ali. Bahkan putri mereka Azalea sudah ia ajak ke rumah sakit, tapi Keyla tidak ingat akan anaknya sendiri. Bagaimana ia bisa ingat orang lain, jika dirinya sendiri pun ia tak ingat?!
Keyla hanya memandang keluarga Ali dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Azalea yang tau Ibunya sudah bangun dari tidurnya sangat senang, namun tidak mengenalnya membuat Azalea menangis, ia berkata bahwa Ibunya tidak sayang padanya lagi. Untunglah Ali dapat mengatasi semua itu, ia mengatakan jika Ibunya masih menyayanginya hanya saja Ibunya sedang tidak mau diganggu. Sejujurnya Ali bingung dengan apa yang harus ia katakan kepada putrinya, di umurnya yang baru menginjak 3,5 tahun tentu saja bukan hal yang mudah untuk memberitahu bahwa Ibunya mengalami Amnesia, mana mungkin anak sekecil itu tau apa Amnesia?
"Papa, Mama kapan pulang? Lea kangen Mama ... " ucap anak itu dengan nada manja.
Ali tersenyum masam mendengar ucapan putrinya itu. Ia tidak tau bagaimana hari-harinya nanti setelah Keyla pulang. Apakah Keyla bisa menerima anaknya atau masih menolak anak itu, seperti yang dilakukannya di rumah sakit, tempo hari.
"Besok Mamanya Lea pulang, Lea senang 'kan kalau Mama pulang?" tanya Ibunya Ali. Elissa Manohara.
"Iya, Lea sudah tidak sabar menunggu Mama pulang." ujar anak itu antusias.
"Lea ... nanti kalau Mama pulang, Lea jangan nakal ya." ujar Ayah Ali. Marvin Syarief.
"Iya, Lea tidak akan nakal kok." ucap Lea tersenyum polos, Azalesa benar benar merindukan Ibunya.
"Lea tadi sudah makan?" tanya Ali mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, tadi Lea makan sama ikan goreng tepung buatan Oma." ucap Lea tersenyum lebar seraya menunjuk sang nenek.
"Jangan sering-sering makan gorengan ya, nanti tenggorokan Lea sakit." ujar Ali sambil mengusap puncak kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.
Lea hanya mengangguk patuh dalam pangkuan sang Ayah.
"Kamu juga jangan sering-sering makan gorengan Ali. nanti tenggorokan kamu sakit." ujar Elissa menirukan gaya bicara Ali tadi.
"Mom ... " ucap Ali mendengus sebal.
"Apa?" tanya Elissa, memandang anaknya dengan tersenyum menggoda. Anaknya itu memang paling susah kalau di suruh makan sayur, padahal sayur itu kan sehat?
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Celetuk Ayah yang juga memang tidak menyukai sayuran.
Ali dan keluarganya memang sering bercanda, tipe keluarga yang harmonis.
***
[ Keyla Achazia ]
Hari ini, aku sudah di izinkan pulang oleh Dokter. Ali datang menjemputku bersama seorang anak kecil -yang katanya anakku- , karena aku akan pulang ke rumahnya. Awalnya aku tidak mau, tapi melihat anak itu memelas meminta aku pulang bersamanya membuat aku tidak tega. Lagi pula jika aku tidak pulang bersama mereka memangnya aku akan ke mana?
Entahlah aku masih tidak mengerti dengan semua ini, semua terasa membingungkan. Aku masih belum yakin jika dia suami dan anakku, walaupun selama ini Ali sudah berusaha membuat aku mengingat dengan menunjukkan beberapa foto bahkan membawa keluarganya datang. Tapi tidak ada satupun foto atau keluarganya yang aku ingat.
Sepasang suami istri lainnya yang mengaku sebagai Ayah dan Ibuku juga datang, mereka menangis saat tau aku tidak mengingat mereka, aku hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi. Karena jujur aku tidak tau harus berekspresi seperti apa? Karena aku kan tidak ingat bagaimana aku dulu.
Haruskah aku senang dengan kehadiran mereka?
Atau ...
Haruskah aku sedih karena tidak dapat mengingat mereka?
"Mama, sudah siap ayo kita pulang." ajak Azalea menyadarkan ku kembali ke dunia nyata.
Azalea menarik tanganku, memintaku untuk menggendongnya. Tapi aku tidak meresponnya, aku hanya menatapnya datar seperti biasa.
"Sayang... sini sama Papa aja gendongnya, Mama 'kan belum sembuh total sayang." kata Ali yang langsung menggendong Azalea.
Ia menatapku lalu tersenyum. "Ayo sayang kita pulang." ajaknya seraya menggandeng tanganku.
Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya keluar dari rumah sakit ini, dan menaiki mobilnya. Saat Azalea ingin duduk di depan, di pangkuanku, Ali melarangnya, ia bilang Mamanya 'kan baru sembuh jadi tidak boleh duduk di pangkuanku.
"Tidak apa-apa, Ali. Biarkan dia duduk denganku." ujarku, entah mengapa aku bisa berbicara seperti itu, karena aku sendiri pun tak tau mengapa tiba tiba aku mengatakan hal itu.
Ali memandangku sebentar, "kamu yakin, Lea itu berat lo nanti kalau kamu --- "
"Tidak apa-apa, Ali. Aku baik-baik saja, sini Lea." Aku memotong ucapan Ali.
Azalea yang berada di jok belakang langsung merangkak ke depan. Aku langsung memangkunya, dan dia mengalungkan kedua tangannya di leherku. Rasanya aku seperti pernah melakukan ini. Tapi entah kapan aku tidak ingat dan tidak ingin berusaha mengingatnya, karena kepalaku akan langsung terserang sakit yang amat sangat tidak menyenangkan jika aku mulai berusaha untuk mengingat hal yang aku lupakan.
"Lea duduknya jangan nakal ya." Ali memperingatkan.
Azalea tidak menjawab, ia hanya mengangguk dalam pangkuanku. Dalam perjalanan pulang tidak ada percakapan diantara kami. Hening. Azalea pun sepertinya tertidur dalam pangkuanku.
'..sakitnya tuh disini ...
didalam hatiku ...
sakitnya tuh disini ...
didalam hatiku ...'
"Maaf Nyonya, Tuan ... ada telfon dari Ibu Saya, apakah Saya boleh mengangkatnya?" tanya Tina. Babysitter Azalea.
"Ya tidak apa-apa."
Setengah jam berlalu, akhirnya kami sampai di sebuah rumah mewah, sungguh. Sepertinya ini bukan rumah, tapi Mansion. Atau apalah itu sebutannya aku lupa atau memang benar benar tidak tau.
Ali turun lebih dulu, ia membuka pintu tempat aku duduk. "Biar aku saja yang menggendong Lea, sayang ... "
"Tidak apa, aku bisa." ucapku datar. Aku tidak tau kenapa aku selalu berucap dengan nada datar pada Ali, tapi Ali selalu menaggapi semua itu dengan senyuman. Seolah perkataanku tidak menyakitinya.
Aku cukup sadar jika setiap perkataan yang aku ucapkan itu menyakitinya, aku bisa melihat hari raut wajahnya. Tapi itu hanya sedetik karena sedetik kemudian ia akan langsung tersenyum lebar.
Aku mengendong Azalea menuju pintu utama rumah ini. Awalnya Ali tidak mengizinkan, tapi akhirnya ia menyerah juga. Saat Ali membuka pintu rumahnya. Aku menggangga melihat ke dalam.
Bagaimana tidak, di dalam banyak sekali orang. Banyak balon-balon tertempel di dinding atau juga berterbangan, bermacam-macam warna ada di sana. Aku menelan ludah, menatap Ali kesal. Ali memandangku bingung seraya menggaruk tengkuknya yang aku yakin tidak gatal itu.
"Aku bersumpah, aku tidak tau tentang ini sayang ..." ucap Ali berbisik kepadaku.
Aku memberanikan diri untuk berjalan masuk dengan masih menggendong Azalea. Kini semua mata tertuju pada kami _aku Ali dan Lea_ seraya tersenyum bahagia.
"Keyla, akhirnya kamu sadar juga, kami sangat merindukanmu." ucap seseorang perempuan, ia mendekat lalu memelukku yang masih menggendong Azalea.
Tubuhku menegang seketika, aku menggeleng, lalu mundur beberapa langkah. Membuat ia menyeryitkan keningnya memandangku bingung.
"Ada apa?" tanyanya memandang bingung ke arahku.
"Semuanya ... aku minta maaf tapi kurasa kalian belum tau sesuatu." ujar Ali, ia memandang semua orang yang ada di ruangan ini lalu memandangku.
"Kamu siapa? Kalian siapa?" tanyaku yang berhasil membuat mereka semua menatapku cengo seperti kambing bodoh, eh? Abaikan kata yang terakhir.
"Apa maksudmu? Aku Pricilla, aku sahabatmu." ucap perempuan yang tadi memelukku, dia menatapku tidak percaya.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sungguh, aku tidak tau siapa mereka. Aku memandang mereka semua satu persatu namun tidak ada satupun yang aku kenal. Bahkan Pricilla yang mengaku sebagai sahabatku pun aku tidak ingat pernah bersahabat dengannya.
"Maaf sekali lagi maaf semua ... Keyla mengalami Amnesia dan tidak ada yang dia ingat. Bahkan namanya sendiri saja dia tidak ingat." jelas Ali membuat suasana yang tadi riuh menjadi hening.
"APA???" teriak mereka bersamaan seperti acara panduan suara saja, mungkin mereka memang sudah latihan panduan suara.
TBC
Sorry for typo !!
Thanks for reading!!
Bab 3, Tidak! Dia Bukan Putriku. ]
[ Normal ]
Malam ini makan malam di keluarga Ali terkesan dingin, karena semua orang hanya diam dan memakan makanan mereka, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Tidak seperti biasanya, kini mereka semua merasa canggung dengan Keyla.
Dulu sebelum Keyla mengalami kecelakaan dan akhirnya koma yang berujung dengan Amnesia. Dia adalah perempuan yang ceria dan cerewet, usil tidak pernah bisa diam, tapi kini ia menjadi kebalikannya.
Keyla yang sekarang berbeda bagi semua orang, tidak lagi ada Keyla yang cerewet, Keyla yang blak-blak'kan jika berbicara, Keyla yang jahil.
Kini hanya ada Keyla yang pendiam, tidak banyak bicara. Tidak ada senyuman di wajahnya, hanya ada wajah datar dan terkesan dingin.
"Aku sudah selesai, aku mau ke kamar." kata Keyla datar lalu bangkit dari kursinya.
"Biar Aku antar." Ali pun ikut bangkit dari kursinya.
Keyla memandang Ali dengan tatapan datar tanpa ekspresi, "tidak perlu aku tau di mana letak kamarku." katanya dingin dan berlalu dari ruang makan meninggalkan semua orang.
"Mama ... Lea malam ini tidur sama Mama ya," pinta Azalea mengikuti langkah kaki Keyla.
Keyla tidak menghiraukannya dan terus berjalan menuju lantai atas kamarnya. Tidak mempedulikan Azalea yang sedari tadi mengoceh, hingga akhirnya ia sampai di kamar.
Keyla mendudukkan dirinya di ujung ranjang memperhatikan Azalea yang berusaha naik ke atas ranjang tanpa ada niatan untuk membantunya. Hingga akhirnya Azalea berhasil naik dan hendak memeluk Keyla, tapi sayangnya Keyla menepis tangan Azalea membuat Azalea terjatuh dan untungnya masih di atas ranjang.
"Pergi!" katanya datar dan dingin.
"Tidak mau Lea 'kan mau tidur sama Mama malam ini." kata Azalea setelah ia sudah berhasil kembali duduk di kasur dengan benar.
"Tidak! Pergi sekarang dari sini!" kata Keyla mengusir Azalea dari kamarnya. Saat ini ia hanya ingin sendiri tanpa ada gangguan dari siapapun, sekalipun itu Azalea -yang katanya anaknya-
"Aku ingin bersama Mama ... hiks Mama jahat." kata Azalea menangis sesegukan.
"PERGI DARI SINI! DASAR ANAK CENGENG!" Bentak Keyla pada Azalea.
Azalea mundur ke ujung kasur, ia takut melihat Ibunya membentaknya. Ia menagis sesegukan membuat Keyla semakin geram. Entah mengapa Keyla merasa dadanya sesak saat melihat Azalea menangis, tapi saat ini yang ia butuhkan hanya sendiri.
***
"Uhuk ... uhuk ... " Ali yang sedang makan pun tersedak saat mendengar teriakan Keyla dari lantai atas. Dengan buru-buru ia langsung bangkit dari kursinya dan berlari ke lantai atas.
"Ada apa?" tanya Ali panik, ia mendekati Azalea yang berada di kasur yang menangis terisak.
"Bawa dia pergi dari sini." kata Keyla datar.
Ali menggendong Azalea, "apa yang terjadi Keyla? Lea ingin tidur denganmu."
Keyla menatap Ali tajam, "aku tidak suka dia ada di sini. Dia dari tadi tidak bisa diam, cerewet." kata Keyla tak kalah tajam dari tatapan matanya.
'Heh bukannya dulu Keyla juga cerewet? Tapi sayang dia tidak mengingat hal itu.'
"Keyla aku tau kamu Amnesia dan tidak mengingatnya, tapi bisakah kamu bersikap lembut pada Lea."
"Tidak!"
"Dia putrimu, Keyla. Putri kita."
"Tidak. Dia bukan putriku!"
"Keyla ada apa denganmu, sayang. Tadi kamu bersikap lembut pada Lea?" tanya Ali bingung.
"Kamu pikir aku bisa menerima ini dengan mudah, hah!" kata Keyla dengan nada sinis.
Ali terdiam menatap Keyla sendu, ia heran akan perubahan Keyla. Tadi ia bisa bersikap lembut pada Azalea bahkan mau menggendongnya, tapi kenapa sekarang malah tidak mau jika Azalea tidur bersamanya.
"Kamu pikir ini mudah, bayangkan jika kamu yang menjadi aku. Kamu terbangun di rumah sakit, kamu tidak mengenal dirimu sendiri, lalu tiba-tiba seorang pria mengaku bahwa ia adalah suamimu, dan lagi ia membawa anak kecil yang katanya itu anakmu. Bagaimana kamu bisa menerima itu semua padahal kamu tidak mengenal mereka hah!" bentak Keyla saskastik.
"Belum lagi saat kamu pulang kamu di kejutkan dengan orang yang yang tidak kamu kenal mengaku sebagai saudara, sahabat. Mereka membicarakan hal yang tak kamu mengerti sama sekali, semua orang mengaku mengenalku, tapi nyatanya aku tidak mengenal mereka sama sekali. Apa yang akan kamu lakukan?" kata Keyla panjang lebar, itu adalah ucapan terpanjang Keyla selama ia sadar dari tidur panjangnya, koma.
"Keyla --- "
"Stop!! Dan pergi dari kamar ini!" teriak Keyla menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
Ali menatap Keyla nanar lalu keluar dari kamar dengan menggendong Azalea yang ketakutan di dekapannya. Ia tau apa yang Keyla rasakan pasti sulit menerima kenyataan ini.
Keyla menjatuhkan dirinya di ranjang, ia tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya. Ia merasa bahwa semua ini salah, tidak seharusnya ia berada di rumah ini dan tinggal bersama mereka yang tidak ia kenal sama sekali.
[ Keyla Achazia ]
Aku tidak tau kenapa aku begitu mudah percaya dengan Ali, dan mau di bawa pulang ke rumahnya. Aku kira semua ini akan mudah, aku bisa menerima Ali dan Azalea. Tapi setelah tadi siang aku bertemu banyak orang asing yang mengaku sebagai sahabat dan saudaraku, aku merasa ini salah. Salah karena tidak seharusnya aku percaya begitu saja pada Ali, dan mau pulang ke rumahnya dengan mudah.
Aku mengacak-ngacak rambutku frustasi, lalu merebahkan diriku di ranjang. Aku hanya ingin sendiri, tapi tadi Azalea menggangguku. Aku tidak suka dia, dia sangat cerewet dan manja.
Kupikir tadi aku akan bisa menerima Azalea, karena tadi saat perjalanan pulang ia hanye duduk diam di pangkuanku, tapi nyatanya dia sangat cerewet. Aku tidak mungkin punya anak seperti dia.
Walaupun dadaku rasanya sesak saat melihat ia menangis. Tapi aku tidak boleh luluh pada anak kecil itu, aku tidak boleh kasihan melihat air matanya. Aku harus mencari tahu jati diriku yang sesungguhnya.
Aku mengemas baju-bajuku ke dalam koper, lalu keluar dari kamar. Aku sudah memutuskan untuk pergi dari rumah ini, mencaritahu siapa diriku yang sesungguhnya. Aku tidak akan percaya pada mereka lagi.
Aku turun ke lantai bawah dengan membawa koper ku.
"Nyonya ... nyonya mau ke mana?" tanya salah satu pelayan berlari menghampiriku.
Tapi aku tidak memperdulikan mereka dan terus berjalan menuju pintu utama rumah ini.
[ Aliando Scott Clifford ]
"Maaf Tuan ... Nyonya sepertinya akan pergi, tadi saya lihat Nyonya membawa koper keluar dari kamarnya Tuan." kata salah satu pelayan seraya menunduk.
"Jaga Lea, aku akan melihat Keyla." kataku pada pelayan itu, ia hanya mengangguk.
Aku bangkit mengecup kening Azalea yang sudah tertidur lalu berlari keluar kamar dan turun ke bawah, aku bisa melihat Keyla yang berjalan menuju pintu utama. Apa lagi ini Tuhan?
Tidak! Keyla tidak boleh pergi dari rumah ini. Aku berlari mengejarnya dan langsung memeluknya dari belakang. Aku bisa merasakan tubuh Keyla yang menegang saat aku memeluknya.
"Ku mohon jangan pergi." bisikku padanya.
Keyla hanya diam tidak menjawab ucapnku, tapi ia berusaha melepas pelukanku. Aku tidak akan melepaskannya, "apa mau mu? Jangan tinggalkan aku, Sayang."
"Aku tidak bisa di sini dan tinggal bersama orang-orang yang tidak aku kenal!" katanya datar dan dingin sama seperti biasanya.
Aku menghela nafas panjang. "Baiklah, ayo ikut aku." Aku melepaskan pelukanku dan menarik tangannya keluar rumah.
Dia tidak memberontak saat aku menarik tangannya dan menyuruhnya masuk ke mobil, dia hanya diam dan menurut. Aku akan mengajaknya ke Apartemen, jika ia tidak mau tinggal di rumah ini lebih baik ia tinggal di Apartemenku 'kan?
"Ini Apartemen siapa?" tanyanya membuka suara saat kami sudah sampai di Apartemen.
"Apartemenku. Maafkan aku, aku benar-benar tidak tau jika mereka semua akan datang ke rumah." kataku menyesal. Jika aku tau mereka tadi akan melakukan penyambutan konyol itu aku pasti sudah mencegah mereka.
"Hn." jawabnya hanya bergumam tidak jelas.
"Kamu bisa tinggal di sini, jika tak ingin tinggal di rumah."
"Hn."
Aku mendengus, ke mana Keyla-ku yang dulu? Keyla yang cerewet. Bukan Keyla yang dingin dan datar seperti ini.
TBC
Sorry for typo !!
Thanks for reading !!