Bab 1

"Berat?" Tanya Keenan tepat di depan wajah Mutia saat tubuhnya menindih tubuh ramping cewenya ini. Nafasnya menguar mengeluarkan wangi mint yang khas.

Mutia menggeleng "Yang berat itu jadi pacar kamu"

Cup

Satu kecupan manis di sudut bibir mutia. Keenan beranjak duduk, tangannya meraih tubuh ramping mutia untuk duduk. Mereka duduk berhadapan dengan jarak yang sangat intim. Tangan kanan Keenan mengusap lembut pipi Mutia. Menatap detail wajah cantik Mutia.

"Gue disini. Gak usah takut"

"Kak"

"Hmm?" Jawabnya yang kini tatapan itu beralih ke manik indah kecoklatan di hadapannya.

"Aku takut hamil"

Bibir Keenan menyungging, membentuk sebuah senyuman. Tak ada jawaban.

"Kak!" Tangan kanan Mutia bergerak menggoyangkan tangan Keenan.

"Apa?"

"Kalo aku hamil gimana?" Dengan wajah cemasnya Mutia menatap Keenan. Berharap cowonya itu dapat menenangkan hatinya setelah apa yang telah mereka perbuat tadi.

"Gak bakalan" pungkasnya.

Cup

Satu kecupan lagi lolos di puncak kepala Mutia. Setelah itu Keenan beranjak, memakai bajunya kembali setelah dia lempar di sembarang arah sebelumnya. 

Sementara Mutia masih betah dengan selimut yang menutupi bagian tubuhnya.

"Kak.." rengeknya. Kali ini terlihat ada cairan bening di kelopak matanya yang siap terjun bebas.

"Hamil, lo, gue tinggalin" kalimatnya penuh dengan penekanan. Gak ada wajah bercanda disana. Keenan serius dengan apa yang dia ucapkan.

Mutia menatap tak percaya sama cowo yang udah nidurin dia ini. Cowo yang Mutia percaya ini bisa-bisanya ngomong kayak gitu. Apa yang Mutia akan lakukan jika dirinya benar-benar hamil. Keenan, cowonya ini gak akan tanggung jawab. Hancur sudah masa depannya!

"Kak!!!! Kamu gak boleh gini sama aku!" Kesalnya yang hanya dapat senyuman tengil dari cowonya yang lagi ngikat tali sepatunya di lantai.

Mutia meremas selimutnya dan memukul-mukul kasur di depan Keenan. Kali pertama Mutia marah dengan apa yang Keenan lakukan. Biasanya dia gak pernah protes apapun itu.

Keenan berdiri, selesai dengan kedua sepatunya yang udah rapi di kakinya. 

"Gue cabut. Gak usah nangis"

Gitu aja pamitnya.

Mutia menatap tak percaya sampai tubuh cowonya itu menghilang ditelan pintu kostannya.

"Hiikk!!!!" Mutia menangis sejadi-jadinya. Memukul kepalanya yang menurutnya isi kepalanya itu tak berfungsi dengan baik. Kesal kenapa bisa-bisanya dia kerayu omongannya Keenan.

"Bodoh!!"

Sementara di lain tempat...

Drap

Drap

Drap

Terdengar derap langkah kaki dengan kompaknya diatas lantai yang begitu sengaja dibuat mengkilat. Di jajaran paling depan tentunya hanya satu orang. Penampilannya begitu rapi, masih muda dan tentu saja wajahnya tampan rupawan. Cowo yang masih berusia 18 tahun ini diyakini sebagai CEO baru dari perusahaan kosmetik, namanya KEENAN ALFARO. Ini hari pertamanya menjabat di perusahaan milik opanya setelah beberapa bulan lalu lulus dari SMA.

Sementara dibelakangnya disusul oleh sekretarisnya, tepatnya sekretaris dari CEO sebelumnya, namanya Alina. Wanita seksi berusia 38 tahun, belum menikah.  Alasan utamanya karena sibuk mengabdi selama 20 tahun lamanya untuk perusahaannya ini sampai kini betah menjadi perawan tua.

Tak lupa para staff dan jajarannya mengiringi dua orang penting tadi menuju ruang rapat.

Di lobi, semua karyawan perusahaan berdiri menundukan sedikit kepalanya tanda hormat ketika sang CEO melewatinya.

"Selamat pagi"

Alfaro, wajahnya serius dan tidak berekspresi mengabaikan semua sapaan disana.

"Shakti"

Satu kata yang lolos dari bibir salah satu karyawan wanita disana, mematung menatap genting ke arah cowo yang diyakininya adalah bos barunya.

Cowo dengan postur tubuh tegak dengan langkah penuh percaya dirinya itu berhenti tepat di depan cewe tadi. Cewe yang betah menatap paras cowo yang beberapa bulan ini telah hilang dari dunianya.

"Lancang!" Alfaro dengan tatapan tajamnya. Satu detik kemudian tatapannya beralih, menatap dengan ujung mata sekretarisnya yang ada di belakang.

"Kasih peringatan!"

Alina mengangguk, setelah itu melangkah kembali karena sang CEO telah melangkah lebih dulu setelah mengeluarkan dua kata mematikan tersebut.

Masih beruntung gak nyuruh dipecat.

Ting!

Lift terbuka setelah dipencet oleh Alina dan menunggu beberapa detik.

Alfaro melangkah lebih dulu, masuk kemudian disusul oleh yang lainnya.

Sementara dibawah sana...

"Thalita, kenapa ngomong sembarangan tadi?" Agni, salah satu karyawan dibagian marketing, sama kayak Thalita.

"A-aku..." lidahnya terbata. Thalita bingung mau menjelaskannya dari mana. Yang dia tau kalo bos yang mereka panggil Alfaro itu sebenarnya bukan. Thalita yakin itu Shakti, cowo dingin dengan sejuta pesona. Cowo yang udah dia abaikan selama beberapa bulan lalu.  Tapi  sekarang malah terbalik, ketika Shakti pergi hati Thalita malah jadi jumpalitan gak jelas.

"Aduhh, kamu harus minta maaf gimana pun caranya, oke? Jangan sampai dipecat" sarannya, yang dapat Thalita angguki saja. Karena mau gimana lagi, nasi udah jadi bubur.

'Aku yakin kamu itu Shakti, bukan Alfaro yang mereka sebut itu' batin Thalita.

Beberapa karyawan disana memperhatikan Thalita, sangat menyayangkannya karena dianggap kurang sopan. Menurut gosip yang beredar bos mereka itu galak juga playboy. Apa jadinya jika hal buruk akan terjadi pada Thalita.

"Mirip tapi tak sama" Thalita menyunggingkan senyumannya, berucap lirih yang tak bisa di dengar siapapun. Thalita tau perbedaan si kembar ini.

"Selamat bergabung di Beauty Cosmetics. Semoga anda menjadi pemimpin yang dapat memajukan perusahaan ini seperti pemimpin sebelumnya" ucap pak Magani direktur keuangan, setelah rapat itu selesai. Bukan rapat penting, ini hanya perkenalan saja hingga waktu rapat hanya berlangsung setengah jam.

Disusul oleh yang lain, ucapan selamat juga dilontarkan oleh pak Cakra bagian perencanaan "Selamat datang di perusahaan. Semoga kita semua satu ide, satu pemikiran dan satu tujuan"

Kalimat penutup yang hanya dapat senyuman tipis saja dari sang CEO, mending sih dari pada tadi. Alfaro tak menunjukan ekspresinya.

Mahal!

Semua orang yang ada di ruang rapat itu berjumlah sepuluh orang, termasuk Alfaro dan Alina. Semua berjabat tangan sebelum meninggalkan ruang rapat, menyisakan Alfaro juga Alina saja.

"Pak, jadwal kita hari ini harus bertemu klien di restoran Pelangi jam 9.15"

Alina berdiri dengan Ipadnya membaca deretan kegiatan Alfaro hari ini.

"Panggil saya bos" ucap Alfaro yang masih betah duduk di kursinya, sedikit menengadah menatap ke samping  kanan dimana Alina berdiri.

"Iya, bos" ralatnya. "Pak Levi dari perusahaan Glow Up ingin bertemu langsung dengan bos"

Alfaro dengan tatapan lurusnya ke depan "bawa bagian marketing"

Bukan Alfaro yang membuat keputusan, tapi opanya disebrang sana. Telinga kiri Alfaro dipasangi buds pro yang terhubung dan siap dengan perintahnya. Bisa dibilang Alfaro hanya boneka hidup.

Setelah beberapa menit berlalu Alfaro kembali ke ruangannya. Memeriksa satu per satu map yang udah numpuk di mejanya. Membaca secara rinci deretan kalimatnya pelan tapi masih terdengar jelas oleh opanya. Lalu membubuhkan tanda tangannya setelah disetujui. 

Alfaro hanya nurut aja.

Selesai dengan pekerjaan awalnya, Alfaro menyandarkan punggungnya kasar, memejam dalam mengingat apa yang dia lakukan kali ini.

"Gue tebus kesalah gue di masa lalu, Keenan Alfaro"

8 bulan yang lalu...

Bab 2

Bughh!!

Baghh!!

Bughh!!

Di gang sempit ini seorang pria paruh baya menghantam seorang anak laki-laki secara membabi buta.  Sehingga anak yang masih memakai seragam putih abu itu tersungkur beberapa kali ke trotoar. Jas hitam dengan branded terkenal itu masih melekat di tubuhnya. Dia dikenal bengis, apapun yang keluar dari mulutnya merupakan perintah yang tak bisa dibantah.

Namanya Almahendra Widjaya Kusuma, seorang pemimpin yayasan dari Rumah Sakit Widjaya Kusuma Center.

"Mau jadi apa kamu, anak bodoh!!!"

Buggh!!

Hantaman demi hantaman melayang begitu saja mengenai tubuh anak SMA itu. Tapi tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Apalagi balasan pukulan. Anak itu terlihat malas meladeninya.

"Pulang!!" Titah Almahendra pada akhirnya. Anak itu bangkit, menyusut darah di sudut bibirnya yang kemudian menunjukan satu sunggingan tipis. Senyum dengan ledekan. Huufth!!

Membuang nafasnya kasar, si anak yang katanya bodoh itu melengos begitu saja.

Shakti namanya.

"Anak sialan!! Bisanya cuma malu-maluin orang tua!!" Katanya, mendekat lalu...

Buggh!!

Bruugghh!!!

Bersamaan dengan itu Shakti tersungkur di bawah kaki anak seumurannya yang juga memakai serangam yang sama.

"Sshhh! Ashuuu!!!" Umpat anak laki-laki yang sedang duduk santai di warung pinggir jalan. Membuang puntung rokoknya ke sembarang arah, anak itu berdiri menatap Shakti yang masih enggan berdiri, lalu tatapannya beralih pada Almahendra yang mulai mendekat, hendak mencengkram baju seragam anaknya. Namun sayangnya anak laki-laki itu sudah menepis tangan Almahendra terlebih dulu,  membuat pria paruh baya itu melotot.

"Jangan ikut campur kamu!!" Katanya menunjuk wajah anak laki-laki itu dengan telunjuknya. Lagi, anak yang tak kenal takut itu menghempaskan tangan Almahendra dengan kasar. "Semua yang datang ke gue, milik gue!!" Ancamnya, yang membuat Almahendra mendengus kesal.

"Gak ada atitude!" Pungkasnya yang langsung pergi begitu saja, malas meladeni anak bau kencur ini. Berjalan menjauh sampai dibelokan gang dan tak terlihat lagi penampakannya. Sementara Shakti menggeliat dibawah sana, mencoba untuk bangun.

"Wooii, bangun lo!" Anak laki-laki itu menyepak badan Shakti yang mulai mencoba berdiri dengan kaki kanannya.

"Bu, rokok sama kopi yang tumpah tadi dibayar sama anak ini yaa" ucapnya tanpa kompromi, dia meninggalkan Shakti yang akhirnya berdiri. Duduk dibangku, menatap kepergian anak yang gak kenal takut tadi.

"Jadi dibayarkan?"  Tanya si ibu penjaga warung yang membuat Shakti terpaksa mengeluarkan selembar uang berwarna merah di dompetnya. "Totalnya jadi berapa bu?" "Lima belas ribu"

"Cuma segitu?"

"Iya"

Shakti menyodorkan uang itu dan diterima oleh si ibu penjaga warung. Belum sempat si ibu penjaga warung menjelaskan bahwa disana tidak ada kembalian, Shakti kembali berucap. "Kembaliannya simpen aja bu buat dia  kalau kesini lagi"

"Oh, iya. Emang dia itu tiap hari kesini. Seringnya ngutang, hihiii" si ibu cekikikan, tak masalah baginya.

"Ibu kenal?" Tanya Shakti kepo. Dia duduk bersandar, tangannya merapikan bajunya yang berantakan.

"Kenal, dia itu sebatang kara. Tapi anaknya pinter, bisa sekolah karena beasiswa.  Anaknya urakan, bukan kutu buku, hihiii" lagi, si ibu penjaga warung tertawa geli "untung kamu gak kena tinjunya, kalo kena bisa babak belur lebih dari ini" Jawaban panjang lebar si ibu penjaga warung membuat Shakti cengir, menggaruk ujung alisnya yang tak gatal. Setelah berbincang singkat Shakti kembali menyusuri gang kecil, keluar dari gang itu menuju jalan raya dimana motornya terparkir disana. Melaju dengan kecepatan sedang, Shakti sampai di rumahnya sendiri.

"Shakti, kenapa jam segini baru pulang sayang?" Mami Venna menyambut dengan kedua tangannya, kemudian menangkup wajah anaknya yang berantakan dengan tangan lembutnya. "Kamu berantem lagi?" Tanyanya untuk ke sekian kalinya.

Memang, maminya ini gak tahu kalau Shakti bukan berantem, melainkan dipukul oleh papinya sendiri. Shaktinya juga siih gak pernah ngomong, dia cendrung pendiam, tapi noyod. Setiap kali Shakti pulang dengan keadaan yang berantakan, mami Venna dengan sabarnya mengobati anak kesayangannya ini. Anak yang jauh dari kata pintar, tapi bukan bodoh juga yaa. Iya, karena itulah alasan satu-satunya Almahendra sang papi selalu memukul Shakti. Jengkel, malu dan frustasi punya anak bodoh seperti Shakti katanya.

SMA Mutiara__

"Cuma gara-gara babak belur gini gak mungkin lo ngelewatin balapan kan? Nanti malem kita gass!!" ucap Anggara yang duduk disebelahnya, menepuk bahu Shakti. Sedangkan Shakti hanya diam saja, seperti biasa. Kali ini lebih tertarik dengan bisikan-bisikan para cewe-cewe di kelasnya yang membuat Shakti melirik  mereka dengan ujung matanya.

'Ehh ehh tau gak, nilai UTS matematika udah keluar lho, udah di pajang di mading'

'Iya, gue udah liat tadi pagi. Udah gak aneh siih si Berandal Gila itu nilainya teratas'

'Bener, gue juga udah tau. Apa gue pacarin aja ya dia, biar nilai gue juga ikut naik, hihiii'

'Eh, lu hati-hati dia matre, njirr!!'

'Gak apa-apa duit bokap gue banyak!, hahaa' Ttreettt!!

Bel istirahat berbunyi, semua anak yang ada di dalam kelas berhamburan keluar. Tujuannya kekantin dong pastinya, karena cacing di perutnya udah minta jatah semua.

Tidak dengan Shakti, anak ini pergi ke lapangan basket, mengambil bola dan memasukan bola itu beberapa kali ke ring. Ditengah permainan bola basketnya pikirannya melayang, mengingat kejadian kemarin saat dia dipukul oleh papinya. Bukan pukulannya tapi alasannya. Kali ini dia tau alasannya apa, alasan yang tak pernah dia tanyakan sebelumnya. Ternyata papinya udah tau lebih dulu nilai matematika hasil ujian tengah semester minggu lalu. Hasilnya mengecewakan. 'Apa yang diharapkan darinya? Kenapa papinya begitu terobsesi dengan nilainya?' Batinnya.

"Shaktiii!!!" Teriakan itu terdengar seantero. Semua makhluk bumi di sekolah itu menatap ke arahnya yang melambaikan tangan dengan penuh percaya diri ke lapangan dimana Shakti berdiri dengan laganya yang sok cool. Shakti berdiri di tengah lapangan dengan kemeja yang dua kancing atasnya terbuka. Wajahnya dingin, memberikan kesan jutek tapi menarik karena pahatan wajahnya nyaris sempurna. Semua orang mengakuinya. Tapi sayang, cowo dingin ini tak tersentuh.

Dengan langkah penuh percaya diri, Salsa mendekat berjalan ke lapangan. Cewe dengan rok setengah paha itu menenteng satu botol air mineral dan menyodorkannya pada Shakti. Bukannya menerima air itu, Shakti menatap aneh pada Salsa. Telapak tangan kanannya bertengger di pinggangnya sedangkan tangan kirinya menekan bola basketnya ke pinggang. "Ini, minum" kembali, Salsa menyodorkan minum itu namun Shakti mematung, tak bergerak sama sekali. Jangan lupa tatapannya. Sulit diartikan.

"Makasih cantik" tiba-tiba seorang cowo menyambar botol di tangan Salsa dan meneguk airnya. "Ahhh, seger!!" Dia menutup botol itu, mengulurkan tangan kanannya ke Salsa. "Gue Keenan. Ehmm..maksudnya si Berandal gila" ajaknya berkenalan. Sementara Salsa masih mematung. Ini cowo yang dia deketin sebulan yang lalu dingin banget, tapi malah ada cowo yang dengan senang hati mendekat.

Sekejap cewe itu bingung harus berbuat apa. "Sosial tiga" lanjutnya menunjuk ke ruangan atas, di lantai tiga yang artinya kelas 12 IPS3. Sebenarnya kalo udah disebutin si berandal gila, Salsa tau. Emang terkenal sama prestasinya tapi gak tau yang mana wajahnya. "Salsa sosial satu kan?" Tanya Keenan sengaja, membuat Salsa mengatupkan bibirnya menahan senyum. 'Kok bisa tahu?' Batinnya.

Ya iyalah, bukan Keenan namanya jika segala sesuatunya tidak dipersiapkan dengan mateng. Ya! Keenan mencari tahu dulu siapa cewe itu sebelum berkenalan. Hingga siapapun pasti merasa jika Keenan tertarik sama dia, begitupun dengan Salsa. Shakti mengalihkan tatapannya ke samping. 'Gak salah lagi dia anak yang kemarin ada di warung yang ada di gang' batinnya.

"Lo--" kata Shakti menunjuk wajah Keenan. "Apa?!"

Bab 3

Lo--" kata Shakti menunjuk wajah Keenan. "Apa?!" Keenan menantang, menaikan dagunya sedikit. "Dia cewe gue sekarang" katanya, tak bisa dibantah.

Tengil!

"Ciihh, ambil aja" Shakti meludah, melempar bola ngasal lalu meninggalkan lapangan kembali ke kelasnya.

Tadinya si Shakti ini mau berterima kasih pada si tengil yang sudah dihadapannya ini karena kemarin kalo gak ada dia, udah pasti papinya akan terus menghantamnya bahkan sampai pingsan.

Makasihnya gak jadi karena keduluan ngebahas cewe, jadinya buat Shakti malas.

Bel tanda pulang berbunyi__

Beberapa anak dijemput orang tuanya dengan mobil mewah milik orang tuanya tentunya. Lebih ke pamer siih!.

Ini si Keenan menatap satu per satu mobil yang keluar masuk ke area sekolah. Mengotak-atik ponselnya yang layarnya retak itu, dia mencari tau berapa harga mobil yang dia lihat dari mereknya tadi.

Kepo memang, ehh lebih ke kritis sih sebenernya karena si Keenan ini keingintahuannya tinggi.

"Wooww!!" Katanya pelan, tidak ada yang mendengar. Sementara dia pulang dengan naik sepatunya yang sudah usang.

Ya! Jalan kaki. Sepatunya itupun dikasih dari si ibu warung, bekas anaknya yang sudah lulus SMA tahun lalu.

Sementara di tempat lain__

"Bawa cucu saya pulang!" Teriak nenek tua yang duduk di kursi roda. Ghaniya, usianya tahun ini genap 70 tahun. Udah gak bisa jalan, tapi masih kuat berteriak. Seperti saat ini yang dilakukannya setelah satu jam berlalu di ruangan itu. Berteriak ke asisten pribadi suaminya yang telah bekerja sejak dua puluh tahun yang lalu.

"Alina! Saya yakin kamu tidak tuli!" Teriaknya lagi dengan tatapan tajamnya.

Sedangkan Alina hanya berdiri, menundukan kepalanya menunggu perintah dari tuannya. Beberapa menit berlalu, dengan keberaniannya dia menoleh menatap sang tuan.

"Cukup pantau saja" Dominic. Seorang pemimpin perusahaan yang kini berusia 75 tahun. Kakek tua itu memberi kode kepada asistennya dengan tangan. Tentu saja sang asisten mengerti bahwa tuannya mengisyaratkannya untuk keluar dari ruangan itu.

Alina menunduk sebelum keluar ruangan kerja Dominic, berpamitan tanpa merespon apa yang istri tuannya itu pinta.

"Alfaro sendirian di luar sana! Hiikkh!!" Air mata nenek tua itu jatuh hampir setiap harinya karena yang dibahas cuma itu itu aja. Tangannya dia tangkupkan ke dada, menahan sesak.  Terlihat kalung mutiara melingkar di lehernya. Penampilannya juga kecantikannya tak pudar hanya karena keriput yang sudah memenuhi seluruh bagian kulit putihnya.

"Dia hidup mandiri. Gak usah khawatir" Dominic menatap istrinya, berjalan hingga tepat dihadapannya. Kedua tangannya dia letakan dibahu istrinya itu, mencoba menenangkan perasaan tak sabar istrinya yang terlalu khawatir terhadap cucu pertama, juga cucu lelaki satu-satunya.

"Kalo dibawa pulang, aku takut dia malah jadi manja" Jawaban yang diberikan Dominic memang masuk akal.

Tapi entahlah, Ghaniya sama sekali tak ingin mendengar jawaban yang sama dengan kalimat yang berbeda itu. Bosan rasanya mendengar jawaban yang dia anggap omong kosong. Selama sembilan tahun ini dia terpisah dengan cucunya, rasanya sungguh sesak karena terlalu berat menahan rindu. Belum lagi khawatir tentang keselamatannya, Alfaro tak boleh cacat.

Ghaniya mengusap air matanya dengan jari-jarinya yang sudah keriputan itu. Melajukan kursi rodanya sendiri keluar dari ruang kerja Dominic. "Aku yang akan bawa dia pulang sendiri. Kamu jangan pernah halangi aku!" Pungkasnya setelah membuka pintu lalu menghilang setelah pintu tertutup.

Dominic hanya menghela nafas kasarnya sebelum membuka laptopnya, melanjutkan apa yang menjadi pekerjaannya. Pekerjaan yang masih bisa dia selesaikan walau dari rumah.

Beberapa menit berlalu..

Dirasa tak begitu tenang, Dominic merogoh saku celananya. Menempelkan benda pipih itu ke telinga setelah menekan nomor yang hendak dia hubungi. "Halangi istri saya. Bagaimanapun caranya!"

Mansion Widjaya Kusuma__

"Malam ini ada yang mau dateng. Guru les kamu, dia masih SMA lho disekolah yang sama kayak kamu" mami Venna mengusap-ucap bahu Shakti yang sedang duduk makan malam. "Permisi nyonya, tamunya sudah dateng" Sontak membuat dua pasang mata yang ada di ruang makan itu menoleh, mendapati bik Innah bersama seorang anak laki-laki yang memakai  hoodie hitam juga celana pendeknya berdiri disana. Tak lupa topi hitam melekat di kepalanya.

"Si Berandal Gila. Itu sebutannya di sekolah" berbisik di telinga kirinya Shakti, mami Venna lantas berdiri menyambut tamunya.

"Selamat datang di Mansion Almahendra. Saya Venna, maminya Shakti. Ini anak saya, dia putra tunggal di keluarga ini" mami Venna dengan bangganya memperkenalkan diri juga putra kesayangannya. Sedangkan yang dikenalkan tak menggubris kedatangan Keenan, dia malas harus berurusan dengan Keenan untuk kesekian kalinya.

"Iya, tante" Keenan membungkukan badannya sedikit, lalu melirik ke anak si pemilik Mansion. "Ashhuu!!" Gumamnya, namun tak dapat didengar oleh siapapun termasuk bi Innah yang ada di sampingnya.

Mami Venna menyuruh bik Innah untuk mengantarkan Keenan ke kamar Shakti, menyuruhnya menunggu disana karena anak kesayangannya ini belum selesai makan. "Wooww, keren.." Keenan berdecak kagum saat melihat apapun yang ada di kamar itu. Detail penting yang ada disana, Keenan suka termasuk meja belajar lengkap dengan lampu khusus belajar. Tak pernah terbayangkan jika dia akan duduk disana.

Ceklekk

Pintu kamar terbuka menampilkan si pemilik kamar dengan baju tidurnya yang sudah melekat ditubuhnya.

"Malam minggu gak ngapel lo?" Keenan mulai perbincangan. Perbincangan yang menurut Shakti tidak berbobot. Cowo itu memilih nyelonong untuk menyalakan rokok di balkon. Keenan tertawa sumbang, mengikuti Shakti ke balkon. "Anjiirr, rokok mahal niih. Satu boleh lah!" Cowo yang selalu memakai topi ini melepaskan topinya menaruhnya di meja, mengambil satu batang rokok dan menyalakannya.

Huufhh..

Keenan merasa lepas, menikmati setiap hembusan rokok yang dia keluarkan dengan mata tertutup.

"Gue punya salah sama lo, hahh?" Lagi, Keenan mulai perbincangan. Namun yang diajak ngomong cuma nengok dikit, setelah itu natap lurus kedepan dengan tatapan kosongnya.

"Gue kesini dibayar sama nyokap lo buat ngajarin semua mata pelajaran di sekolah. Gue baru nyadar kalo gue sehebat itu, hahahaa" Keenan, cowo itu berucap dengan bangganya. Apalagi yang harus disombongkan selain kepintarannya, betul?

Kedua tangannya bergerak ke atas, membuka kuncirannya dan menyugar rambutnya hingga tertata, rambutnya berwarna bunga jambu jamaika. Inilah alasannya kenapa cowo tengil ini tak pernah membuka topinya disekolah. Padahal untuk anak pintar mah bebas, tapi jaim dikit lah. Diluar harus terlihat rapi, meski aslinya....

"Minum dulu lah, gue haus!" Pungkas Keenan sebelum akhirnya mematikan rokok yang tersisa dua senti itu. Dia nyelonong aja ke kamar, duduk di meja belajar.

Disusul oleh Shakti, cowo dingin itu mengambil gagang telepon menekan tombol-tombol disana lalu menempelkan benda itu ke samping telinga. "Satu gelas es jeruk, gak pake lama"  pesannya dengan datar, setelah tersambung yang pastinya ke dapur dong masa ke cs.

"Wiiihh, pinter juga ternyata lo. Dah lah, gak usah les, abis ini gue cabut! Hahaa" Masih, Keenan cekikikan gak jelas. Hanya disuguhi es jeruk yang baru dipesanpun dia senang, apalagi kalau dikasih yang lain, kebayang gak tuh??

Sementara si cowo dingin ini merasa perkataan si tengil seperti sebuah ledekan. Dia mendekat, mencengkram hoodie milik Keenan dan...

Bughh!! Satu pukulan melayang di wajah tampan Keenan.

Kalau dibandingin yaa wajahnya tuh mirip lho sebelas dua belas, apalagi kalau di tempat yang agak remang-remang gitu.

"Bangsadd!! Nampol gue, lo?!"

Bughh!!!

Pukulan Keenan tak kalah keras, sehingga wajah yang kemaren sudah biru-biru itu kini bertambah biru ulah si cowo tengil ini.

Tok tok tok

Ceklek!

"Tuan muda, ini minum--"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED