Perempuan itu meliukkan tubuhnya, merayap, sembari sesekali menunjukkan sisi erotis dari dirinya, membuat setiap pasang mata berdecak penuh kekaguman. Entah memuji, atau justru memiliki pikiran yang berbeda di dalam kepalanya.
Tak jarang, pria hidung belang dengan tangannya yang nakal sesekali mencuri kesempatan untuk menyentuh kulit perempuan itu. Membuatnya jijik!
“Hei! Lakukan lagi!” Perempuan bernama Julie itu melotot, menatap si lelaki hidung belang yang kini tertawa tanpa rasa penyesalan itu. Ia bahkan berniat untuk melakukan lebih, tapi tangan Julie dengan cepat menahannya.
“Jangan memaksaku untuk berbuat kasar! Aku muak dengan tamu seperti ini.” Julie melepaskan tangan lelaki itu dan turun dari sana, lalu melangkah menuju meja bar, di mana bartender sedang asyik memainkan gelas-gelas kaca itu.
“Beri aku satu!” kata Julie kepada lelaki bertubuh tinggi itu, yang dengan cekatan segera mengisi gelas kosong dengan minuman beralkohol itu.
“Ada apa? Kau terlihat kesal, Julie?” Bartender itu mengulaskan senyum, menatap Julie yang meneguk minuman pahit itu dengan rakus.
“Kau tidak lihat? Laki-laki tidak tahu diri itu menyentuh tubuhku. Lain kali aku harus memberinya pelajaran.” Julie masih begitu kesal karena peristiwa tadi. Ia benar-benar tak terima dengan perlakuan itu.
“Wah, siapa orangnya? Aku bisa membantumu,” kata bartender itu.
Julie menggeleng, “Tidak perlu, aku bisa mengatasinya jika itu terjadi lagi.” Perempuan itu meletakkan gelas kosongnya dan meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja.
“Kau dapat banyak hari ini, Julie?” Lelaki dengan tato di sebagian tubuhnya itu mengambil uang dengan cepat dari sana.
“Hmm, lumayan. Aku menari selama dua jam dan cukup untuk membuat tubuhku kelelahan.”
Bartender itu tertawa, ia melihat ke arah jam tangannya, “Sudah lewat tengah malam, bahkan hampir pagi. Sebaiknya kau pulang, Julie.”
Julie menggeliat, “Ya, aku lelah dan ingin tidur.” Julie berdiri, mengambil tas serta jaket yang ia titipkan di dalam loker bartender itu lalu pergi meninggalkan ruangan gelap yang dipenuhi dengan suara musik yang berdentum memekakkan telinga.
….
“Kau sudah pulang, Julie?” Mata itu menatap dengan tajam, di balik redupnya lampu ruang tamu. Julie tersenyum tipis, ia menoleh ke arah suara itu.
“Sampai kapan kau akan memanggil namaku? Aku ini kakakmu, Gemma.” Julie mendekati adiknya itu, menatapnya lekat, “Ini sudah larut, kenapa kau belum tidur? Kau tidak kuliah besok?”
“Itu bukan keinginanku. Aku bahkan harus menutupi wajahku agar mereka tidak mengenaliku. Aku bosan dengan semua ini!” Gemma berdiri, tepat di hadapan Julie, membalas tatapan perempuan itu dengan mata terbuka lebar.
“Aku tidak mau kau membahas soal itu lagi, Gemma. Belajarlah dengan baik dan aku sedang berusaha memenuhi semua kebutuhan kita,oke?” Julie mengulurkan tangannya, berniat untuk mengusap kepala Gemma, namun gadis itu mengelak, enggan.
Julie menurunkan tangannya, ia tersenyum, memilih untuk meninggalkan Gemma yang menatapnya dengan alis menyatu.
Perempuan itu duduk di atas tempat tidur, dengan Rambutnya yang masih basah. Menatap ke dalam cermin. Ia tahu jika Gemma tidak menyukai apa yang Julie lakukan, ia tidak punya pilihan lain. Itulah mengapa Julie bersikeras agar Gemma bisa kuliah, Julie tak ingin adik perempuannya itu mengikuti jejaknya. Menjadi penari pole dance di sebuah klub malam bukanlah impiannya.
Semenjak kedua orang tuanya bercerai, Julie memilih untuk membawa Gemma, saat itu Gemma masih 17 tahun. Masih labil untuk ukuran seorang anak perempuan. Julie yang tidak memiliki apa-apa itu memilih untuk tidak ikut serta di dalam urusan mereka. Baik ayah atau ibunya, Dua-duanya tidak ada pilihan. Mereka menikah dan memiliki keluarga masing-masing dengan anak-anak mereka yang baru, barangkali mereka telah lupa jika masih memiliki anak di luar sana.
Perempuan itu tersenyum, namun matanya menitikkan air mata. Satu-satunya keluarga yang ia miliki hanyalah Gemma, tapi gadis itu seolah menjadi musuh baginya. Gemma tumbuh menjadi gadis yang keras kepala, sama seperti ibunya.
“Kau di mana, Julie?” Oliver mengirim pesan suara kepada perempuan itu. Dan Julie segera membalasnya dengan senyum mengambang.
“Aku berada di dalam kamarku yang hangat, Oliver. Kau belum tidur?”
Tak lama kemudian Oliver menelepon, lelaki itu selalu mencemaskan keadaan Julie.
“Aku senang kau sudah di rumah, Julie. Apakah kau baik-baik saja?” kata Oliver di seberang telepon itu.
“Hmm, tidak ada yang terjadi malam ini. Kenapa kau belum tidur, Oliver?”
“Aku akan tidur setelah memastikan kau pulang dengan aman, Julie. Kau tahu aku sangat mencemaskanmu. Terlalu berbahaya bagi perempuan berada di luar selarut itu.” Oliver kembali menceramahi Julie, entah sudah berapa kali ia mengatakan hal yang sama.
“Aku tahu, tapi pekerjaanku memaksa untuk ke luar di malam hari. Oliver, kau harus bekerja, kan?” Julie menatap jam dinding di kamarnya, sebentar lagi matahari hampir terbit, dan lelaki itu bahkan belum tidur.
“Julie, bisakah kau meluangkan waktu di akhir pekan? Sudah lama kita tidak jalan-jalan, kan?” pinta Oliver, lelaki itu terdengar menguap beberapa kali.
“Tentu. Aku tidak akan bekerja di akhir pekan. Tidurlah, Oliver, gunakan waktu yang sebentar ini untuk memejamkan mata, oke?”
“Hmm, kau juga, Julie. Selamat malam.”
Julie mematikan ponselnya, ia menarik selimut dan tertidur dengan cepat.
….
Suara gedoran pintu membuat Julie tergeragap, perempuan itu sepertinya baru saja terlelap, namun Gemma dengan tak sabar sudah membangunkannya.
“Julie!” teriak Gemma, terus menggedor pintu kamar kakaknya itu. Julie melangkah dengan lunglai, jiwanya seakan belum benar-benar kembali. Perempuan itu membuka pintu, dan menatap Gemma yang telah tapi dengan blouse dan celana panjang jeans itu.
“Kau sudah mau berangkat, Gemma? Apakah ada kuliah pagi hari ini?” tanya Julie sembari tersenyum lembut pada gadis itu.
“Ya, aku akan pulang malam. Tapi kurasa kau akan pulang lebih malam, kan?” suara Gemma terdengar sinis, ia menatap Julie sejenak lalu pergi dari hadapan perempuan itu.
“Eh? Gemma, tunggu!” Julie bergegas membuka tasnya, mengambil beberapa lembar uang kertas dan berlari menyusul adiknya itu.
“Ambil ini, kau harus makan, oke?” Julie memberikan uang itu, dan Gemma terpaksa menerimanya dengan kasar. Mau bagaimana lagi, ia masih membutuhkan uang itu.
Julie menatap kepergian adiknya dengan sedih, ia tahu Gemma tak menyukai pekerjaannya. Gemma merasa malu dan selalu memandang rendah dirinya. Namun, Julie harus bekerja keras, bukan? Semua itu agar mereka bisa hidup dengan lebih layak lagi. Julie bahkan membeli rumah dan sebuah mobil dari pekerjaan malamnya itu. Bukan rumah mewah memang, tapi cukup untuk melindungi diri dari terpaan hujan dan dinginnya malam.
Perempuan itu menguap, matanya masih terasa berat. Namun, untuk kembali tidur pun tak bisa ia lakukan. Julie terus terbeban dengan perkataan Gemma. Kenapa dia begitu susah untuk mengerti?
Julie meraih ponselnya, mengirim pesan kepada Oliver. Satu – satunya sahabat baik yang ia miliki.
“Ke marilah, Julie. Aku sudah membuka toko hari ini.” Oliver membalas pesan itu dengan cepat. Ia sangat senang setiap kali Julie memiliki waktu untuk berkunjung ke tokonya itu.
BAB 2
Oliver meletakkan segelas kopi di hadapan Julie. Perempuan itu tersenyum sembari menatap ruangan di dalam toko bunga milik Oliver. Aroma bunga melayang ke udara, saat angin pagi menyentuh kelopak – kelopaknya. Sesekali Julie menarik napas panjang, menghirup aroma lavender yang begitu mendominasi, hampir mengalahkan aroma kopi yang kini berada di dalam genggaman tangannya itu.
“Kau tampak lelah, Julie,” kata Oliver, yang kini duduk sambil merangkai bunga pesanan seorang pelanggan.
Julie tersenyum tipis, menyesap kopinya perlahan. Perempuan itu merapatkan kembali cardigannya, lalu menatap Oliver dengan tangannya yang terampil itu, “Aku hanya tidur sebentar. Sepertinya kurang dari dua jam.”
“Aku tahu itu, semalam kita bicara, kan? Aku juga tidak tenang kalau kau belum pulang, Julie.”
“Maafkan aku, Oliver.”
Oliver membersihkan duri dari batang bunga dengan cekatan, tangan terampilnya melebihi tangan seorang wanita, “Kemarin Gemma datang ke sini, ia bicara banyak denganku.”
Julie mengerutkan keningnya, “Gemma? Ada apa?”
“Soal pekerjaanmu itu. Dia tidak menyukainya.” Oliver berkata dengan terus terang.
Julie tersenyum tipis sembari mengangguk, “Aku tahu itu. Dia malu karena pekerjaanku.”
“Gemma ingin aku membantumu, Julie. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Aku hanya memiliki toko bunga ini, dan kau tidak akan menyukainya.” Oliver tersenyum, menatap Julie lekat.
“Ya, kau tahu aku tidak mungkin merangkai bunga, kan?” Kali ini Julie tertawa, perempuan itu membungkuk, mengambil setangkai bunga mawar yang dijatuhkan Oliver.
“Hmm, aku tahu itu. Bagaimana Gemma bisa memaksaku agar menerimamu bekerja di sini? Tapi, aku memang melihat jika gadis itu tampak putus asa.”
Julie menopang dagunya dengan sebelah tangan, “Memangnya apa yang salah dengan pekerjaanku, Oliver?”
“Bukan pekerjaanmu yang salah, Julie. Namun, waktunya yang tidak tepat. Perempuan cantik sepertimu tidak seharusnya bergelut dengan dunia malam,” tukas Oliver.
“Astaga, kau seperti Gemma.” Julie cemberut, dan kembali meneguk kopinya.
“Itu karena aku peduli padamu, Julie. Kau tidak menyadarinya?” Oliver berkata dengan tegas, ia menatap Julie dengan tajam.
Julie beringsut, “Jangan menatapku begitu, aku merasa tidak nyaman. Gemma sudah cukup membuatku tertekan, Oliver. Kau tahu, kan? Aku begini untuk siapa? Apa yang bisa kulakukan selain menari? Aku tidak memiliki sertifikat apapun, itulah kenapa aku bersikeras agar Gemma kuliah. Aku ingin dia memperoleh pendidikan yang baik, masa depan yang baik. Tidak sepertiku,” Julie berkata dengan sedih, dan itu membuat hati Oliver terasa teremas. Panas.
“Kau perempuan berhati emas, Julie. Gemma sudah dewasa sekarang, seharusnya dia mengerti. Kau terlalu banyak berkorban untuknya.”
“Aku adalah ibu bagi Gemma, Oliver. Sejak aku memutuskan untuk hidup berdua dengan anak itu, Gemma sudah menjadi tanggung jawabku.” Julie tersenyum, menatap bunga warna – warni yang berhamburan di atas meja laki – laki itu.
“Hmm, kau masih muda tapi memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Aku salut padamu, Julie. Kenapa kau tidak menyisihkan sebagian uangmu untuk dirimu sendiri? Misalnya dengan mengambil kursus, mungkin?” Oliver mencoba memberikan solusi untuk Julie.
Julie menggeleng, “Tidak. Biaya kuliah Gemma cukup mahal. Dia yang terpenting. Oliver, aku sangat sayang kepada anak itu. Dia satu – satunya yang kumiliki.”
Oliver menatap Julie dengan mata teduh, ia mengulurkan tangannya dan menepuk pundak Julie pelan, “Kau ibu yang baik, Julie. Tapi kurasa kau juga harus memikirkan masa depanmu sendiri. Tidak selamanya kau akan menari di klub malam itu, kan? Berapa usiamu, hah?”
Julie tertawa kecil, “Aku masih muda, Oliver. Aku baru 25 tahun.”
Oliver berdecak sembari menggelengkan kepalanya, “Tidak terlalu muda jika kau belum memiliki kekasih, Julie.”
“Apa? Kenapa kau membicarakan itu? Kau sendiri bagaimana?” Julie berkata dengan senyum lebar, dan lelaki itu membalasnya dengan sebuah senyuman.
“Jika kau bertanya padaku kenapa aku masih sendiri, itu karena aku sedang menunggu seseorang. Tapi aku tidak pernah berani menyatakan perasaanku padanya.” Oliver berkata dengan murung, ia kembali meraih tangkai bunga itu dan mulai merangkainya.
“Kenapa? Kau tampan juga memiliki pekerjaan sendiri. Siapa gadis itu? Apakah aku mengenalnya?” Julie tampak tertarik, namun Oliver tidak peduli akan ocehan perempuan itu.
“Oliver..ayolah!” desak Julie lagi.
“Aku tidak akan memberitahumu, Julie,” jawab Oliver setelah beberapa saat terdiam.
“Kau kejam, Oliver.” Julie berkata dengan kesal.
Oliver tertawa, “Itu tidak penting. Lagipula dia tidak tahu kalau aku jatuh cinta padanya. Ah, apakah tadi kau mengatakan jika aku tampan?”
Julie mencibir, “Tidak. Aku berdusta.”
Oliver tertawa keras, tubuhnya yang tinggi dan cukup atletis itu tampak terguncang, “Aku senang kau mengakui ketampananku, Julie. Kau tahu, gadis – gadis remaja tergila – gila padaku, mereka datang hanya untuk melihat – lihat bunga tanpa membelinya, semata hanya ingin bertemu denganku.” Oliver berkata dengan penuh percaya diri, dan Julie menatapnya dengan senyum lebar.
“Mereka penggemarmu?”
“Astaga, kenapa kau membahas mereka sekarang?” protes Oliver, “Bagaimana, apakah rangkaian bunga ini cantik, Julie?”
Julie memiringkan kepalanya, mengamati rangkaian itu, “Hmm, seperti biasa kau adalah ahlinya.”
“Dia akan datang sebentar lagi untuk mengambil rangkaian bunganya. Aku harus membersihkan semua sisanya.” Oliver bergegas membersihkan sisa bunga – bunga itu, sementara Julie berjalan – jalan ke depan untuk melihat – lihat bunga yang diletakkan di depan toko itu. Sesekali Julie membungkuk untuk menghirup wangi dari bunga itu. Bunga – bunga itu basah, tampaknya tadi pagi Oliver sudah menyiraminya.
....
“Hai, apakah kau pemilik toko ini?”
Julie menoleh saat suara seorang laki – laki terdengar di belakang tubuhnya. Perempuan itu tersenyum, “Bukan, pemiliknya ada di dalam,” sahut Julie ramah.
“Oh, aku datang untuk mengambil pesananku. Bisakah kau memberitahu pemiliknya?”
“Tentu, tunggu sebentar, oke?” Julie melangkah ke dalam, dan menemukan Oliver sedang menempelkan pita merah di ujung rangkaian bunganya.
“Oliver, sepertinya pemilik bunga itu datang,” kata Julie, sembari melihat ke luar, menatap laki – laki berwajah tampan, dengan kulitnya yang kecokelatan di balik kemeja biru muda yang membuatnya terlihat begitu segar dan menarik.
Oliver menjulurkan kepalanya, mengikuti pandangan Julie, “Oh, kau benar itu orangnya.” Oliver bergegas membawa rangkaian bunga itu, menuruni beberapa anak tangga dengan cepat.
“Aku sudah menyelesaikannya. Bagaimana?” tanya Oliver kepada lelaki itu.
“Ini bagus, terima kasih.” Lelaki itu menatap Julie yang berdiri di muka pintu, mengulaskan senyum yang begitu manis padanya. Ia lalu berbisik kepada Oliver, “Bisakah kau menolongku?”
“Ya? Apa yang kau butuhkan?”
Lelaki itu menyelipkan selembar uang kepada Oliver sambil berkata lirih, “Tolong, berikan beberapa tangkai bunga mawar merah untuk perempuan itu.”
“Apa?” Oliver yang terkejut menatap lelaki itu dengan alis menyatu.
“Ya, dia bukan kekasihmu, kan? Siapa namanya?”
“Julie,” jawab Oliver dengan sedikit kesal.
Lelaki itu tersenyum, sekali lagi menatap Julie sembari melambaikan tangannya ke arah perempuan itu, “Julie, sampai jumpa lagi,” katanya dan melangkah pergi dari sana.
“Hei, dia tahu namaku!” Julie hampir menjerit, dan mengikuti Oliver masuk ke dalam.
“Kenapa? Kau suka padanya? Kau bahkan tidak tahu dia membeli bunga itu untuk siapa, kan? Bisa saja itu untuk kekasihnya!” Oliver terlihat semakin kesal, ia tak akan pernah memberikan bunga itu atas nama lelaki lain.
“TOAST!” Teriak beberapa anak muda yang sedang menikmati pesta mereka di sebuah klub. Ini adalah pertama kalinya bagi Gemma menghadiri pesta seperti itu. Jika bukan karena Kenan, Gemma benar – benar tidak ingin menghadiri pesta itu. Kenan adalah lelaki yang selama ini mendekati Gemma, dan menjadi teman lelaki yang cukup dekat dengan gadis itu.
Gemma hanya menyesap minuman beralkohol itu sedikit, sekedar mencicipi pahit yang mulai terasa di lidahnya. Gadis itu menyeringai, berniat meletakkan kembali gelas besar berisi bir itu, namun tangan Kenan menahannya dengan cepat, lelaki itu tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putih miliknya.
“Kau harus mencobanya, Gemma. Tidak menyenangkan kalau tidak minum,” kata Kenan, sedikit memaksa Gemma untuk kembali meminumnya.
Gemma menatap ke sekeliling, orang – orang itu tertawa sambil menikmati makanan yang sudah tersaji di meja panjang itu. Gemma tidak mengenal mereka. Orang – orang itu adalah kelompok mahasiswa dari kelas seni. Hanya Kenanlah yang mengenal mereka. Kenan mengatakan jika Gemma harus mulai bergaul, berdiam diri tidaklah baik untuk anak muda seperti mereka.
Kenan memberi isyarat kepada Gemma, dan gadis itu terpaksa meneguk kembali minumannya.
“Wow, kau luar biasa, Gemma!” Kenan bertepuk tangan disambut suara riuh orang – orang itu.
“Apakah dia anak baru, Kenan?” kata Ken, laki – laki yang duduk di sisi seorang gadis sambil memeluk gadis itu.
Kenan mengangguk, “Mulai hari ini, Gemma adalah bagian dari kita.” Kenan berkata dengan lantang, disambut kegembiraan mereka.
“Hai, Gemma?” sapa seorang gadis dengan rambut yang diikat ke belakang itu.
Gemma tersenyum, ia masih terlalu gugup untuk menerima pertemanan itu.
“Kau bukan dari jurusan seni, ya? Aku tidak pernah melihatmu,” kata gadis bernama Yuan itu.
Gemma mengangguk, “Aku dari jurusan informatika,” jawab gadis itu.
“Wah, kau gadis yang cerdas. Bagaimana kau bisa mengenal Kenan, hah?” Yuan tertawa, dan Kenan yang duduk di dekat Gemma pun hanya tersenyum tipis. Gemma menoleh, menatap Kenan sesaat.
“Ah, tidak perlu kau jelaskan. Siapa yang tidak mengenal Kenan? Dia terlalu populer di kalangan gadis – gadis.” Yuan menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya. Dan Gemma hanya tersenyum mendengar kata – kata itu. Gemma tahu, Kenan sangat disukai. Lelaki berkarakter tenang itu kerap menjadi incaran para gadis, itulah mengapa Gemma tidak ingin menjatuhkan dirinya kepada Kenan. Tapi, tak bisa dipungkiri sikap Kenan yang terkadang memberi perhatian lebih kepada Gemma kerap membuat hati gadis itu goyah. Gemma tidak pernah tahu apa yang terjadi diantara mereka. Apakah Kenan hanya sekedar menawarkan pertemanan? Namun, ada kalanya Kenan terlihat seperti seorang kekasih bagi Gemma. Sejauh ini, Kenan tidak pernah menyatakan perasaannya kepada Gemma.
“Mau lagi?” tawar Kenan kepada gadis itu.
“Tidak,” sahut Gemma, yang menolak saat Kenan hendak menuang sebotol minuman ke dalam gelas gadis itu.
“Kau suka di sini, Gemma? Mereka teman – teman yang baik.” Kenan menyuapkan sepotong daging ke dalam mulut Gemma, dan itu cukup membuat Yuan terganggu. Yuan menatap Kenan lekat, lelaki itu hanya tersenyum untuk membalas tatapan Yuan padanya.
“Kenan, bisa kita bicara?” Yuan berdiri, dan Kenan segera mengikuti gadis itu ke luar. Gemma yang tidak tahu apa – apa hanya diam, sembari menatap kepergian mereka.
....
Yuan menyandarkan tubuhnya di dinding, dan Kenan berdiri tepat di depannya.
“Ada apa?” Kenan bertanya dengan tenang, sembari mengulaskan senyum yang begitu manis kepada Yuan. Yuan, gadis bertubuh tinggi dan seksi itu menatap Kenan tajam, bibirnya yang seksi terpulas dengan lipstik merah maroon.
“Dia kekasihmu?” Yuan bertanya dengan ketus, menatap ke dalam mata lelaki itu. Kenan menggeleng, “Bukan. Kau cemburu?”
Yuan tersenyum, melingkarkan tangannya di leher lelaki itu, dan Kenan membalasnya dengan sebuah ciuman di bibirnya.
“Jangan pernah berkencan dengan gadis lain di depanku, Kenan,” pinta Yuan, berbisik di telinga laki – laki itu.
Kenan melepaskan pelukannya, menatap Yuan dengan senyum licik, “Aku tidak memiliki ikatan dengan siapapun, Yuan. Tak seorangpun berhak melarangku.”
Yuan menarik kerah leher laki – laki itu, mendekatkan wajahnya. Kenan bahkan dapat merasakan udara dingin yang ke luar dari mulut gadis itu, “Aku tidak peduli, Kenan,” katanya, sembari mengecup bibir Kenan sekali lagi.
Gemma melangkah ke luar, ia merasa tak nyaman karena Kenan tidak berada di tempat itu. Gemma yakin, melihat Kenan ke luar melalui pintu ini.
“Kenan?”
Kenan seketika mendorong tubuh Yuan menjauh, saat mendengar suara Gemma di sana. Gadis itu menatap Kenan dan Yuan bergantian, tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan di lorong nan sepi itu.
Kenan tersenyum, menghampiri Gemma dan meninggalkan Yuan di sana. “Kenapa kau ke sini, Gemma? Kau tidak menikmati pestanya?” kata Kenan, sembari menyingkirkan rambut yang menutupi kening Gemma.
Gemma tersenyum, “Aku merasa tidak nyaman, Kenan. Tak bisakah kita pergi dari tempat ini?”
Kenan mengangguk, “Ayo, kau ingin ke mana sekarang?”
Yuan tersenyum kecut di belakang mereka, terlebih lagi saat Kenan memeluk pinggang Gemma dan membawanya pergi dari sana.
“Gadis bodoh! Kau akan menyesal nanti,” gumam Yuan, yang melangkah masuk ke dalam klub itu lagi.
....
“Apa yang kau bicarakan dengannya, Kenan?” Gemma bertanya sambil melangkahkan kakinya menapaki sepanjang trotoar di tempat itu. Sesekali Gemma melihat ke atas, ke langit malam tak berbintang pertanda mendung.
“Bukan hal penting. Haruskah kita membahasnya?” Kenan berkata dengan tenang, seperti biasanya.
“Aku hanya penasaran, kau dekat dengan Yuan, kan?”
Kenan mengangguk, “Ya, kau tahu aku dekat dengan siapapun, kan? Kenapa? Apa kau cemburu, Gemma?”
Gemma menatap Kenan sejenak, ia kemudian tersenyum setelah menyakinkan diri jika Kenan bukan seseorang yang spesial baginya. Kenan selalu bersikap hangat kepada siapapun, dan Gemma tak ingin salah paham akan hal itu. Gemma menggeleng, “Tidak,” sahut gadis itu singkat.
Kenan menyisir rambutnya ke belakang, kemudian tersenyum tipis sembari kembali melangkah di sisi gadis itu.
Lelaki itu meraih tangan Gemma, menautkan tangannya di sana. Gemma tidak mengatakan apa – apa, hanya menatap wajah Kenan yang tersenyum di sana.
“Gemma, apa yang kau sukai?” tanya Kenan dengan lembut, masih menggenggam tangan gadis itu.
“Entahlah,” kata Gemma.
“Tidak, kau pasti menyukai sesuatu. Katakan padaku, Gemma,” desak Kenan.
“Ehm, aku suka ketenangan.”
“Apa? Hanya itu?” Kenan tertawa, dan Gemma tersenyum lebar padanya.
“Kalau kau?” Gemma berhenti, berdiri menghadap laki – laki itu.
Kenan melepaskan tangannya dari tangan Gemma, lelaki itu memetik bunga yang tumbuh liar di sisi jalan, lalu menyelipkannya di telinga Gemma.
“Kau,” kata Kenan, membuat Gemma menaikkan alisnya.
“Apa?” ulang Gemma.
“Yang kusukai adalah kau...Gemma.”
Gemma tertegun mendengar itu, apakah ini sebuah pernyataan cinta?
Kenan tersenyum, “Ayo, sepertinya gerimis. Bagaimana kalau kita masuk ke sana?” Kenan menunjuk sebuah minimarket, dan Gemma mengangguk setuju.