Jessica merapikan blazer yang ia kenakan untuk bertemu dengan kliennya. Jessica adalah seorang pemilik Wedding Organizer yang cukup terkenal di Jakarta. Jessica memulai bisnisnya mulai dari nol sampe sekarang ia sudah cukup sukses di bidangnya itu. Sudah banyak pesta pernikahan yang ia tangani dan berakhir sesuai yang di inginkan.
Jessica sendiri belum menikah. Dia masih sibuk dengan kesendiriannya setelah di tinggal tanpa alasan oleh Nicholas, mantannya. Ditinggal oleh orang yang sangat ia cintai itu membuatnya menjadi sosok yang tertutup dan selalu menyeleksi lelaki yang ingin mendekatinya. Jessica yang ingin kejadian di masa lali terulang kembali.
Jessica menatap dirinya di pantulan cermin. Tak menyangka ia akan menjadi sosok gadis yang seperti ini. Gadis yang mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Bahkan di usianya yang masih dua puluh tahun, Jessica sudah tinggal sendiri. Menghidupi dirinya sendiri dan jauh dari orang tuanya.
"Terimakasih sudah bertahan sampai sejauh ini."
Jessica tersenyum manis. Masih jelas terasa bagaimana rapuhnya ia dulu saat di tinggalkan Nicholas. Dunianya terasa hancur. Jessica bahkan sempat kehilangan jati dirinya. Namun sekarang, setelah dua tahun, Jessica berhasil bangkit dan menjadi gadis yang mandiri dan tahan dengan masalah apapun.
Jessica mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kamar. Menyusuri satu persatu undakan tangga. Jessica mengunci pintu utama rumahnya dan masuk ke dalam mobil. Menyalakan mobil itu menuju salah satu restaurant terkenal di Jakarta untuk meeting dengan kliennya
Selang berapa lama, Jessica telah sampai di restoran. Jessica mengedarkan pandangannya ke segala penjuru restoran dan menemukan sepasang kekasih yang tengah berbincang hangat. Sepasang kekasih itu adalah klien yang ingin ia temui.
Jessica melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah sepasang kekasih itu. Jessica tersenyum manis. "Selamat siang, Pak, Bu. Maaf saya terlambat."
Sepasang kekasih yang bernama Maura dan Jeffri itu membalas senyuman Jessica. "Silahkan duduk, Bu."
Jessica kemudian duduk di depan Maura dan Jeffri dan membuka laptopnya. Jessica tidak mempunyai waktu lama, karena setelah ini, ia akan bertemu dengan Evelyn, sahabatnya.
Everlyn Anastasia adalah sahabat Jessica dari kecil. Keduanya adalah sahabat sejati. Tak jarang Jessica menceritakan semua masalah yang ia miliki kepada Evelyn, dan Evelyn akan senang hati membantu Jessica menyelesaikan masalah yang ia miliki.
"Jadi bagaimana konsep pernikahan yang Bapak dan Ibu inginkan?" tanya Jessica sembari tersenyum manis. Jessica harus selalu terlihat ramah kepada semua orang. Senyum di wajahnya juga tidak boleh hilang. Itu adalah kunci pekerjaannya berjalan dengan lancar.
Maura dan Jeffri saling berpandangan dan saling berpegangan tangan. Lima tahun menikah, akhirnya Maura dan Jeffri melanjutkan hubungan keduanya ke jenjang yang lebih serius.
Maura kembali menatap Jessica. "Kita mau konsep weedingnya di pantai dan santai. Kami berdua hanya ingin mengundang beberapa teman dekat saja. Acaranya harus di buat sesantai mungkin seperti party-party anak muda pada umumnya."
"Dan jangan lupa sediakan wine juga," kata Jeffri menambahi. "Kami benar-benar ingin membuat acara pernikahan kamu sesantai mungkin dan semua orang yang berada di acara itu menikmatinya."
Jessicca manggut-manggut mengerti mendengar ucapan yang keluar dari mulut kliennya. Tak lupa Jessica juga mencatat hal-hal yang penting. Jessica tidak mau ada yang terlewat sedikitpun dengan konsep pernikahan yang kliennya inginkan.
Setelah berbincang cukup lama dengan kliennya, Jessica menutup laptopnya dan melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul satu siang. Sedikit terlambat untuk menemui Evelyn di cafenya.
"Baik Bu, saya sudah mencatat semua hal yang penting untuk konsep pernikahannya. Jika masih ada hal yang ingin ibu atau bapak sampaikan kepada saya, bapak atau ibu bisa menelfon saya untuk meeting kembali," kata Jessica dengan sopan.
Pandangan Jeffri sedari tadi tidak lepas menatap Jessica. Tatapan Jeffri juga seperti ini memangsa Jessica. Jessica yang merasa sedikit risih dengan tatapan Jeffri itu hanya bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain tanpa melihat sedikitpun ke arah Jeffri.
"Baik, nanti saya akan mengabari kamu lagi," kata Jeffri sembari menatap Jessica dengan tatapan nakalnya.
Memang tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Jessica. Tubuh molek serta wajah cantik gadis itu mampu menghipnotis siapapun yang melihatnya. Bahkan tidak sedikit dari kliennya yang mengajak Jessica berkencan hanya untuk sesaat saja sebelum menikah. Tetapi Jessica selalu menolak ajakan itu.
Jessica tersenyum kaku mendapat tatapan nakal seperti apa yang Jeffri lakukan kepadanya. Merasa sudah tidak ada hal yang pernah ia bahas dengan Maura dan Jeffri lagi, Jessica pun memasukkan laptopnya ke dalam tas dan berdiri dari duduknya.
"Baik pak, bu, saya pamit pergi dulu."
Saat Jessica mengulurkan tangannya kepada Jeffri, Jeffri membalas uluran tangan itu dengan mengusap tangan Jessics lembut. Jeffri juga mengerlingkan matanya kepada Jessica.
Mendapat usapan di tangannya, membuat Jessica seketika menarik paksa tangannya. Jessica tetap bersikap tenang dan seperti tidak terjadi apa-apa. Lalu, Jessica berpamitan kepada Maura dan Jeffri.
"Selamat siang."
Jessica melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan keduanya. Saat merasa tempatnya sudah jauh, Jessica pun menghentikan langkahnya dan mengusap dadanya. Jessica akhirnya bisa bernafas lega karena ia terbebas dari tatapan nakal lelaki itu.
"Gila. Dia sudah memiliki kekasih dan ingin menikah. Tetapi dia masih menggodaku seperti ini. Benar-benar lelaki gila!"
Jessica merapikan penampilannya dan kembali melangkahkan kakinya. Baru selangkah, Jessica tidak sengaja menabrak seseorang dan membuatnya terpental beberapa langkah ke belakang. Jessica menatap ke depannya dan melihat jika seseorang yang ia tabrak adalah lelaki yang terlihat sangat tampan sekali. Tubuh lelaki itu terlihat sangat gagah di dalam balutan jasnya. Untuk sesaat Jessica terpana melihat ketampanan lelaki itu.
"Maaf, aku tidak sengaja," kata lelaki itu.
Merasa jika ini semua adalah salahnya, lantas Jessica juga ikut meminta maaf. "Ini salahku. Aku tidak berhati-hati. Maaf."
Lelaki itu tersenyum manis. Senyum yang mampu menghiptonis Jessica. "Baik, kalo begitu aku duluan."
Lelaki yang tidak sengaja di tabrak oleh Jessica itupun berjalan melewatinya. Jessica menutup matanya dan menghirup aroma tubuh lelaki itu yang begitu memabukkan. Jessica kembali membuka matanya dan tersenyum manis. Andai saja ia memiliki nyali untuk mengajak lelaki itu berkenalan. Tetapi apa boleh buat, Jessica terlalu malu untuk melakukan itu.
Rasanya kekesalan Jessica karena tingkah nakal Jeffri tadi sudah bilang begitu saja. Di gantikan dengan rasa senang karena bertemu dan lelaki yang gagah dan tampan. Jessica mengigit bibirnya dan membayangkan jika suatu saat nanti Jessica bisa bermain di ranjang bersama lelaki itu.
Jessica mengetuk kepalanya untuk menghilangkan pikirannya liar itu. Jessica tidak boleh berfikiran apapun tentang lelaki itu. Mungkin saja ini adalah pertemuan pertama dan terakhir dengan lelaki itu.
"Mending sekarang aku ke cafe Evelyn sebelum dia marah kepadaku."
Jason tersenyum manis menatap ke arah kekasihnya, Evelyn. Ia dan Evelyn sudah berpacaran selama lima tahun lamanya. Jason juga sangat mencintai Evelyn, bahkan Jason sudah pernah melamar Evelyn. Namun sayang, Evelyn tak kunjung menjawab lamarannya itu.
Evelyn berjalan cepat menuju tempat dimana Jason berdiri dan langsung memeluknya. Jason juga membalas pelukan dari kekasihnya itu dengan sangat erat. Sesekali Jason mencium puncak rambut gadisnya itu.
"Aku merindukanmu, sayang," kata Evelyn sembari melepaskan pelukanya.
"Aku juga," jawab Jason sembari mengecup bibir Evelyn.
"Ayo duduk," kata Evelyn dengan semangat. Karena hari ini ia akan mengenalkan sahabatnya kepada Jason. Sahabat yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun lamanya.
Jason menganggukkan kepalanya dan duduk di salah satu kursi yang ada di cafe ini. Evelyn memang memiliki sebuah cafe roti yang sangat terkenal di Jakarta. Cafe roti ini adalah warisan dari keluarganya untuk Evelyn.
"Dimana sahabatmu?" tanya Jason sembari mengedarkan pandangannya ke segala cafe. Pasalnya hari ini Evelyn berjanji untuk mengenalkan sahabatnya kepada Jason.
"Dia akan datang sebentar lagi. Kamu tunggu sebentar, ya," kata Evelyn sembari menyandarkan tubuhnya di dada bidang kekasihnya itu.
Jason menganggukkan kepalanya dan mengusap kepala Evelyn yang bersandar di dadanya sembari memainkan ponselnya. Masih ada hal yang harus Jason urus mengenai proyek yang baru saja ia tandatangani sebelum bertemu dengan Evelyn.
Evelyn juga melakukan hal yang sama, ia memainkan ponselnya untuk menghubungi Jessica yang tak kunjung datang. Pasalnya Jessica terlambat cukup lama dari waktu yang keduanya janjikan untuk bertemu.
Jason memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya. Jason menatap wajah Evelyn yang berada di dadanya sembari mencium keningnya. Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan cinta Jason kepada Evelyn. Bahkan, Jason mau menyerahkan apapun yang ia punya hanya untuk kebahagiaan gadisnya itu.
"Aku ingin ke toilet sebentar," kata Jason.
Evelyn menenggakkan tubuhnya dan menganggukkan kepala. "Jangan lama. Jessica sudah ada di depan."
"Iya sayang." Jason mencium bibir Evelyn sekilas dan berlalu dari hadapan gadis itu menuju kamar mandi.
Selang beberapa lama, ada seseorang yang merangkul pundak Evelyn dari samping. Orang tersebut juga mencium pipi Evelyn. Tanpa melihat siapa yang melakukan itu kepadanya, Evelyn sudah tahu. Siapa lagi orang yang berani mencium pipinya selain Jason dan sahabatnya.
"Haloo, Eve."
Jessica duduk di samping Evelyn. Hari ini Evelyn menyuruhnya untuk menemuinya di cafe miliknya. Evelyn ingin mengenalkan kekasihnya kepada Jessica. Selama ini Evelyn selalu menyembunyikan identitias kekasihnya dari Jessica. Tetapi ntah mengapa hari ini ada yang berbeda, Evelyn bahkan memaksa Jessica untuk datang ke cafenya dan bertemu dengan kekasihnya.
"Sekarang dimana kekasihmu? Aku sudah ada disini, tetapi aku tidak melihatnya," kata Jessica.
"Sabar, Jes. Kekasihku sudah ada disini. Tetapi dia sedang ada di toilet. Bersabarlah sedikit," kata Evelyn.
"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kekasihmu, Eve. Setelah sekian lama baru kali ini kamu mau mengenalkan dia kepadaku. Jadi wajar saja jika aku sangat penasaran, siapa sebenarnya kekasihmu."
"Tahan sebentar saja. Nanti kamu juga akan bertemu dengannya," kata Evelyn dengan senyum penuh arti di wajahnya. Tidak hanya Jessica saja yang tidak sabar ingin bertemu dengan kekasihnya, tetapi Evelyn juga sudah tidak sabar ingin mengenalkan Jason kepada satu-satunya sahabatnya itu. Dan alasan mengapa Evelyn ingin mengenalkan Jason kepasa Jessica adalah karena Evelyn ingin hubungannya dan Jason melangkah ke jenjang yang lebih serius. Dan tentu saja salah satu syaratnya adalah dukungan dari Jessica tentunya. Evelyn akan meminta pendapat Jessica tentang Jason.
Selang beberapa saat kemudian, Jason kembali dari kamar mandi. Jason berdiri di belakang Evelyn sembari memeluknya dari belakang. Jason juga mencium pipi kekasihnya itu.
"Ahh Jason..." Evelyn mengusap tangan Jason yang berada di depannya. Evelyn pun memegang tangan lelakinya itu dan berdiri dari duduknya. "Sekarang, ini saatnya kamu berkenalan dengan sahabatku. Jess, perkenalkan ini Jason, kekasihku."
Jessica yang sedari tadi sedang menundukkan wajahnya pun berdiri dan mengibaskan rambutnya. Jessica menatap ke depannya dan terkejut saat melihat siapa yang berdiri di samping Evelyn. Lelaki itu adalah lelaki yang tidak sengaja ia tabrak pada saat di cafe tadi.
"Kamu..."
Bukan hanya Jessica saja yang terkejut, tetapi Jason juga. Jason masih mengenali perempuan yang ada di depannya ini. "Kamu yang tadi ada di cafe, kan?"
Jessica menganggukkan kepalanya. "Iyaa. Aku yang tidak sengaja menabrakmu tadi."
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Evelyn sembari menatap Jessica dan Jason bergantian seolah meminta jawaban.
Jessica terkekeh singkat dan beralih menatap Evelyn. "Jadi tadi aku tidak sengaja menabrak kekasihmu saat aku buru-buru ingin datang kesini."
"Dan kita juga tidak sempat berkenalan tadi," kata Jason tanpa berpaling dari Jessica. Jason pun mengulurkan tangannya kearah Jessica. "Jason."
"Aku Jessica." Jessica membalas uluran tangan Jason itu. "Senang berkenalan denganmu."
"Aku tidak menyangka jika kalian sudah bertemu tadi. Sebuah kebetulan yang tidak disengaja," kata Evelyn dengan perasaan bahagianya. Evelyn merasa bahagia karena sepertinya Jessica menyukai Jason. Itu artinya Evelyn akan mendapat kartu hijau dari sahabatnya itu.
"Yaa, aku juga tidak menyangka jika lelaki yang tidak sengaja aku tabrak tadi adalah kekasihmu, Eve. Dunia memang sangat sempit sekali," kata Jessica sembari menatap Jason dengan lekat.
Jessica masih tidak menyangka jika lelaki yang tak sengaja ia tabrak tadi adalah Jason. Apalagi Jessica sudah memikirkan lelaki itu tadi. Jessica merasa seolah takdir tidak berpihak kepadanya. Jessica baru saja ingin membuka hatinya kembali setelah tertutup sekian lama. Tetapi sayangnya, lelaki yang menjadi incaran Jessica itu adalah kekasih dari sahabatnya sendiri.
"Sekarang kalian berdua duduk. Aku akan membawa cake buatanku sendiri. Dan aku yakin kalian berdua akan menyukainya," kata Evelyn dengan senyum manisnya sembari melangkahkan kakinya ke belakang.
Jason dan Jessica duduk di berhadapan dan saling melemparkan tatapan canggungnya. Jason merasa canggung karena Jessica adalah sahabat dari kekasihnya. Sedangkan Jessica merasa canggung karena ia sepertinya sudah menaruh perasaan kepada Jason.
"Kamu sudah berapa lama bersahabat dengan Evelyn?" tanya Jason basa-basi. Jessica adalah sahabat Evelyn, itu artinya Jessica juga akan menjadi sahabatnya.
"Sudah cukup lama. Yaa, hampir sepuluh tahun," jawab Jessica.
"Tapi sayangnya Evelyn baru mengenalkanmu kepadaku sekarang. Aku pikir Evelyn tidak memiliki sahabat. Karena memang Evelyn tidak pernah membicarakan soal kamu di depanku," kata Jason lagi.
"Ya sama sepertimu, Evelyn juga tidak pernah membicarakan soal kamu kepadaku. Hanya saja Evelyn sering bercerita jika ia memiliki kekasih dan sudah lama menjalin hubungan dengannya," balas Jessica.
Jason merasa senang bisa berkenalan dengan Jessica. Jika Jason perhatikan, Jessica adalah perempuan yang ramah dan baik. Jessica juga sangat mudah bergaul dengan orang yang baru saja ia kenal. "Sepertinya kita perlu bertemu berdua sesekali. Aku ingin membahas soal Evelyn kepadamu. Aku ingin mengetahui lebih banyak soal Evelyn darimu."
Jessica menahan nafasnya saat Jason mengatakan itu. Jantungnya pun berdegub dengan kencang. Jessica tidak henti-hentinya memuji ketampanan Jason dalam hatinya. Ya, hanya dalam hati, karena Jessica tidak mungkin mengutarakannya secara langsung kepada lelaki itu.
"Sekarang aku mau kalian mencoba cake buatanku dan menilainya."
Evelyn datang kembali dengan membawa nampan yang berisi cake dan minuman dingin. Evelyn memang sudah mencoba membuat cake baru dan akan menyuruh Jason atau Jessica yang mencobanya terlebih dahulu sebelum nanti cake itu akan ia buat jadi sebuah menu di cafenya. Evelyn meletakkan cake dan minuman dingin itu di depan Jason dan Jessica.
"Waww, cake dengan rasa terbaru? Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya," kata Jason dengan senyum manisnya. Senyum yang bisa menghipnotis semua orang termasuk Jessica.
"Ya, ini memang penemuan resep terbaruku. Dan seperti biasa, aku mau kalian mencobanya terlebih dahulu," kata Evelyn.
"Sepertinya enak," kata Jessica berkomentar. "Lagi pula kamu tidak pernah gagal membuat cake sebelumnya. Cake buatanmu selalu terasa lezat."
"Evelyn memang sangat pintar memasak. Dia sering membuatkan makanan untuk bekalku di kantor. Aku beruntung bisa memilikinya," kata Jason memuji Evelyn. Jason juga mencium tangan kekasihnya itu.
Melihat Jason mencium tangan serta memuji Evelyn seperti ini, Jessica merasa jika Jason adalah lelaki yang baik dan penyayang. Evelyn pasti merasa bahagia bisa memiliki pasangan seperti Evelyn. Tidak sepertinya yang selalu disakiti. Bahkan terakhir berpacaran pun, Jessica di tinggal menikah tanpa sebab apapun.
Jessica iri melihat Evelyn. Hidup sahabatnya itu sangat bahagia bersama orang-orang yang mencintainya. Evelyn memiliki orang tua yang begitu perhatian kepadanya. Evelyn memiliki cafe warisan orang tuanya. Dan Evelyn juga memiliki pasangan yang penyayang seperti Jason. Sangat berbeda dengan kehidupan Jessica. Jessica harus memulai usahanya mulai dari nol hingga tumbuh besar seperti saat ini. Orang tuanya juga tidak begitu memperhatikannya dan sibuk bekerja. Itulah mengapa, di umurnya yang masih muda, Jessica memilih untuk hidup sendiri. Lalu, Jessica juga tidak memiliki pasangan seperti Jason yang selalu memujinya. Ahh, hidup ini memang tidak adil!
Evelyn menatap Jason dan Jessica yang baru saja memasukkan potongan cakenya ke dalam mulut. Evelyn sangat menunggu jawaban dari keduanya.
"Bagaimana?" tanya Evelyn dengan menuntut.
Jason mengunyah cake yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya. Cake manis yang terasa sangat lembut di mulutnya. Jason tidak pernah merasakan cake seenak ini sebelumnya.
"Lezat. Sangat-sangat lezat. Aku bahkan tidak tahu lagi harus memuji cake ini seperti apa, karena rasanya memang sangat lezat," puji Jason.
Jessica juga menganggukkan kepalanya dan setuju dengan apa yang Jason katakan. Cake buatan Evelyn memang terasa lezat. "Sama seperti biasa, Eve. Kamu memang tidak pernah gagal membuat sebuah cake baru."
"Apa cake ini layak untuk di jual?" tanya Evelyn sembari menatap Jason dan Jessica bergantian.
"Sangat layak, sayang. Aku yakin akan banyak yang suka dengan cake ini," kata Jason.
Karena merasa sangat bahagia, Evelyn memeluk Jason dengan erat. Evelun juga menyandarkan kepalanya di dada bidang lelaki itu. Pelukan yang membuat Evelyn selalu merasa aman dan nyaman.
Jessica mengigit bibir bawahnya melihat tingkah manja Evelyn kepada Jason. Dan jason juga sepertinya tidak keberatan dengan apa yang Evelyn lakukan itu kepadanya. Dan ntah mengapa, Jessica merasa cemburu dengan hal itu. Ada perasaan aneh yang ia rasakan saat Evelyn memeluk Jason.
****
Jessica baru sampai di rumahnya dan langsung masuk ke kamar mandi. Jessica ingin langsung mandi untuk menyengarkan pikirannya. Hari ini terlalu banyak hal yang baru Jessica alami. Bertemu dengan kliennya Jeffri dengan tatapan nakalnya. Di tambah Jason yang membuat perasannya jadi tidak terkendali.
Jessica melucuti satu persatu pakaiannya hingga tidak ada satupun yang tersisa. Jessica berdiri di bawah guyuran shower dan mengusap tubuhnya. Ia menutup matanya dan menikmati setiap tetesan air yang membasahi tubuhnya itu.
Saat menutup mata, Jessica membayangkan Jason ada disini bersamanya. Jason melangkah mendekatinya dan menatap tubuhnya yang tidak terbalut sehelai kain. Jessica mengigit bibir bawahnya untuk menarik perhatian Jason. Jason semakin mendekat maju dan segera mencium bibirnya dengan rakus. Jason mencium dan melumat bibir tebalnya itu. Dan dengan senang hati, Jessica membalas ciuman itu tidak kalah rakus dari Jason.
Tidak sampai hanya disitu saja, tangan Jason juga bergerak membelai lembut titik-titik sensitif di tubuh Jessica. Membuat Jessica merasa kegelian dengan apa yang Jason lakukan. Jason juga memberikan kecupan-kecupan lembut di leher Jessica.
Seketika Jessica membuka matanya kala pikiran liarnya itu sudah mengambil alih otaknya. Jessica segera membuang pikirannya itu dan melupakan Jason. Ia tidak menyangka jika ia akan membayangkan Jason di saat seperti ini. Jessica pun buru-buru menyelesaikan mandinya.
Setelah selesai mandi, Jessica memakai handuk dan duduk di depan meja riasnya. Jessica menatap dirinya lewat kaca itu. Jessica memegang bibir serta lehernya. Ia tahu apa yang terjadi tadi hanya khayalannya saja. Tetapi ia merasa jika itu nyata. Jason memang ada disini dan membelai dirinya.
"Apa yang baru saja aku pikirkan. Mengapa aku membayangkan Jason seliar itu."
Jessica memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Baru pertama kali bertemu dengan Jason, Jessica sudah merasakan hal aneh kepada lelaki itu. Jessica merasa jika ia mulai menyukai Jason saat pertemuan pertamanya di cafe. Dan semakin lama Jessica tidak bisa melepaskan Jason dari pikirannya.
"Kamu tidak boleh menyukai Jason, Jes. Jason itu kekasih dari sahabatmu sendiri. Kamu tidak boleh memikirkanya apalagi menyukainya. Kamu harus melupakan perasaanmu ini kepadanya."
Jessica tidak tahu apa yang ia rasakan. Jessica juga tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Sudah lama sekali, terhitung sejak Niko Pergi meninggalkanya tanpa sebab dan menikah dengan perempuan lain, Jessica sudah tidak tertarik dengan lelaki manapun lagi. Jessica merasa jika semua lelaki sama saja. Hanya manis di awal dan berakhir dengan pahit seperti yang ia rasakan. Tetapi saat bertemu dengan Jason, pikirannya berubah. Seakan ada magnet yang membuat Jessica menyukai Jason.
Jessica tahu jika apa yang terjadi ini salah. Jason adalah kekasih dari Evelyn, tetapi perasaannya juga tidak bisa di salahkan. Perasaannya itu murni dari hatinya.
"Lupakan Jason, Jes. Jason tidak akan pernah menjadi milikmu!"
Jessica berdiri dari duduknya dan memakai bajunya. Jessica harus bisa menepis perasaan anehnya ini sebelum semuanya semakin besar. Karena Jessica tahu, ia tidak akan bisa mendapatkan Jason sampai kapanpun.
Setelah selesai memakai bajunya, Jessica duduk di tepi ranjangnya dan mengambil ponselnya dari atas nakas. Jessica melihat jika Evelyn mengirimkan sebuah gambar kepadanya. Jessica membuka gambar itu dan membelalakkan matanya seketika. Evelyn mengirimkan foto Jason saat tidak memakai baju dan memperlihatkan perut kotak-kotaknya dan otot besar yang menarik perhatiannya.
Jika seperti ini, bagaimana Jessica bisa melupakan Jason. Yang ada Jessica akan semakin membayangkan hal-hal liar dengan Jason. Ini sungguh menyiksa dirinya.