Di gelapnya kamar dengan hanya disinari cahaya bulan nampak jelas dua orang insan yang tengah bergulat di ranjang dengan sangat panas.Suara-suara desahan dari keduanya menggema keseluruh ruangan,untungnya ruangan itu kedap suara.
Sindi yang berada di bawah Kungkungan bosnya nampak kelelahan mengimbangi tempo yang dimainkan oleh bosnya sendiri,tapi dia tak mampu berucap untuk menyelesaikan permainan panas ini.
Mr,J dan Sindi mendesah panjang begitu pelepasan yang kesekian kalinya.
Mr,J pun turun dari atas ranjang dan memakai kembali baju beserta celananya.Detik selanjutnya pria itu melemparkan segepok uang untuk Sindi yang telah menjadi teman malamnya kali ini.Meski dirinya menjadi bos di club Sindi bekerja,mau bagaimana pun dia juga harus membayar jasa yang diberikan oleh Sindi.
"Bersihkan tubuhmu dan pulanglah,"kata Mr,J sembari menutup pintu kamarnya meninggalkan Sindi yang masih terbaring kelelahan di ranjang.
Sindi menatap kelangit-langit kamar yang bernuansa merah dan hitam itu,entah apa yang dia rasakan tiba-tiba cairan bening mengalir dari pelupuk matanya.
Ia terisak pelan meski rasanya menjijikkan dia harus terus melakukan hal kotor seperti ini.Ayahnya yang terbaring di ranjang rumah sakit lah yang menyebabkan dia menjadi wanita malam,ia tak tau harus mencari uang dimana lagi,tak mudah untuk mencari uang 100 juta dalam kurun waktu 1 bulan.Dan ia sudah 2 Minggu menjadi wanita malam di club milik Mr,J.Berbagai pria sudah ia layani,termasuk Mr,J yang notabennya sebagai bosnya sendiri.
Tangannya mengusap pelan air mata yang asik mengalir dengan derasnya.Ia pun bangkit perlahan-lahan menuju kamar mandi di kamar itu.
***
Di ruang keluarga.
"Dimana dia?"Sekertaris Jo menggeleng pelan begitu tuannya menanyakan seseorang yang sedari tadi tak ia lihat,bahkan batang hidungnya sekalipun.
Mr,J memijat pelipisnya pelan,pria berumur 37 itu nampak kesal mengingat DIA masih belum pulang sejak tadi pagi.
"Kalau dia sudah pulang beri tahu...aku ingin ke ruang kerja dulu."Sekertaris Jo membungkuk memberi hormat pada Mr,J yang berjalan meninggalkan nya.
***
Sindi nampak sudah rapi dan segar setelah keluar dari kamar mandi.Kakinya berjalan kearah sofa dan mengambil tas beserta uang yang masih berada di atas ranjang.
Sindi melirik jam di dinding kamar,pukul 11 malam.Matanya mendelik berarti sebentar lagi jam 12 malam dong.Ia bergegas menuruni anak tangga satu per satu.
Di jalan ia berpapasan dengan seorang maid yang sudah berumur,maid itupun mencegatnya.
"Nona mau pulang ya?"tanya maid yang diangguki kecil oleh sindi.
"Iya nih Bi,sindi mau pulang lagian pekerjaan Sindi sudah rampung,"jawabnya sopan nan sangat lembut.
Maid bernama Mega itupun menawarkan tumpangan yang dengan cepat di tolak oleh Sindi."Gimana kalau non Sindi pulangnya dianter Pak Supri (suaminya)"
"Tak usah bi,Sindi bisa pulang sendiri kok."Sindi memang wanita tak enakan,apalagi melihat wanita yang sudah mengeluarkan uban itu,kalau dia menyetujuinya otomatis jam istirahat wanita itu dan suaminya akan berkurang.Lebih baik pulang sendiri saja,tak usah merepotkan orang lain,itu lah yang dipikirkan Sindi sekarang.
"Beneran nih non,udah malam loh...apalagi non Sindi kan wanita,apa nggak sebaiknya diantar biar aman."Sindi menggeleng pelan.
"Saya beneran nggak apa-apa kok,lagian pasti masih banyak orang yang lalu lalang meski tak sebanyak siang hari sih.Tapi Sindi pasti aman kok,"Kata Sindi meyakinkan wanita di depannya.
"Yasudah kalau begitu saya pergi dulu ya,masih ada pekerjaan yang harus maid kerjakan"ujar maid Mega menyelonong pergi setelah mendapat 'iya-an' dari Sindi.
Sindi mulai melanjutkan jalannya.Mansion ini sangat sepi bahkan mungkin hanya terdengar suara jarum jam dan langkah kakinya.Kakinya otomatis terhenti,Ia teringat belum berpamitan dengan Bosnya,Tak sopan jika belum berpamitan dengan tuan rumah mansion ini.
Akhirnya Sindi berbalik lagi dan berniat untuk berpamitan terlebih dahulu.
Nihil,Sindi tak menemukan manusia itu.Kakinya bahkan sudah pegal mengelilingi luasnya mansion ini.
Tapi matanya seketika berbinar begitu sesosok orang melintas di depannya.Ia segera berteriak menghentikan orang itu,dan aksinya itupun berhasil.
"Hei!!!"
Orang itupun berbalik,Sindi tak dapat mengenalinya apakah itu pria atau wanita.Sebab yang dipakai oleh sesosok itu sangat tertutup,Hoodie berwarna hitam dengan topinya yang ditudungkan,juga dia memakai masker hitam.
Sesosok itu menunjuk dirinya sendiri.mungkin maksudnya apakah dia yang dipanggil oleh Sindi barusan.
Ia pun mendekati Sindi yang terlihat kelelahan dengan keringat mengucur tak hentinya.
"Apa kau tau dimana Mr,J sekarang?"tanya Sindi To the Points.
Hening,sesosok itu tak meresponnya langsung.Sindipun menanyakan kembali pertanyaan yang sama.
"Apa kau tau dimana Mr,J sekarang?"Lagi-lagi sesosok itu tak kunjung menjawabnya.
Sindi menghela nafas gusar,ia tak ada waktu untuk berlama-lama disini.
"Apa kau tau dimana Mr,J sekarang?"tanya Sindi tersenyum kecut,tangannya sudah terkepal erat karena geram dengan sesosok di depannya.
Akhirnya sesosok itu merespon jawabannya meski hanya menggunakan tangannya menunjuk ke arah pintu berwarna merah tua.
Sindi mengangguk paham."Terimakasih ya,kalau begitu saya pergi dahulu,"pamitnya dan berjalan kearah pintu yang ditunjuk oleh sesosok barusan.
DIA hendak melangkah pergi menyusul Sindi,tapi sebuah tangan memegang pundak yang otomatis membuatnya terhenti.
Saat berbalik ternyata sekretaris Jo lah orang yang memegang pundaknya.
"Apakah anda lapar?sepertinya tadi anda terlalu sibuk dengan dunia sendiri,bagaimana kalau saya buatkan makanan dahulu baru boleh pergi ke kamar."DIA mengangguk menyetujui tawaran sekertaris Jo.Ia juga tak ingin berbohong bahwa cacing yang ada dalam perutnya sudah meronta-ronta sedari tadi.
"Minumannya saya buatkan jus jambu saja ya,tadi para maid membawa banyak jambu segar dan sangat manis."DIA hanya mengangguk saja.
"Baiklah kalau begitu saya buatkan dahulu,"kata sekertaris Jo membungkuk dan berjalan menuju arah dapur yang terbilang cukup jauh.
DIA berjalan perlahan-lahan menuju pintu berwarna kemerahan itu,mulutnya tak henti-hentinya bersiul.
Tangannya mulai memutar handle pintu.Baru masuk ke dalam DIA sudah disuguhkan dengan isakan dan jeritan dari dalam ruangan itu.Ia menduga bahwa suara itu adalah milik wanita yang ia temui barusan,yaitu SINDI.
Sebelum memulai pesta malam ini,DIA tak lupa mengunci pintunya terlebih dahulu.
Tangannya merogoh saku dan mengeluarkan benda berkarat yang jika di teliti itu adalah sebuah pisau.
Baru beberapa langkah Sindi datang dan menubruk badannya.Jelas terlihat bahwa wanita itu sedang ketakutan,wajahnya saja sudah pucat pasi.
Apakah Sindi dikejar oleh hantu?atau sesuatu yang lebih menyeramkan dari hantu?memangnya ada yang lebih menyeramkan dari Hantu?
ADA...yaitu,manusia.
"I-ini tempat apa?k-kenapa banyak penggalan kepala yang disimpan dalam wadah berbentuk kaca transparan?"tanya Sindi yang seluruh tubuhnya gemetaran.
Wanita itu teringat sesuatu.Korban?benar korban pembunuhan berantai di kota Jakarta semua korbannya tak memiliki kepala saat di temukan.Jangan-jangan...
Sindi mundur perlahan-lahan ke belakang.Mulutnya terasa kelu tak mampu menanyakan pertanyaan itu'apakah selama ini DIA yang menjadi pembunuh semua ini?'
"A-apa kau dalang dari pembunuhan berantai ini?"tanya Sindi mendapat gidikan baru dari sosok tersebut.
"Kumohon jangan bunuh aku,"mohon nya berlutut dihadapan sesosok itu.
Sindi tercekat begitu sesosok di depannya memainkan pisau dengan santai."ku mohon tolong beri aku kesempatan untuk hidup,aku tak akan memberitahu ke polisi,tapi ku mohon jangan bunuh aku,"mohon nya sekali lagi.
"Ku mo--"Belum sempat melanjutkan ucapannya,sebuah benda menerobos masuk ke dalam dadanya.Itu masih belum sepenuhnya,tapi rasanya amat sakit.Darah segar mengalir perlahan-lahan membasahi dress yang ia gunakan.
"Kenapa ka---"Sindi mendelik,lagi DIA menusuk kan pisau berkarat itu dalam dadanya.DIA mulai memperdalam tusukannya dan memutar pisaunya di dada wanita itu.
Bisa kalian bayangkan rasa sakit yang dirasakan oleh Sinta?Itu pisau berkarat loh,terlebih pisaunya diputar didalam dadanya.
Tubuhnya seketika ambruk ke lantai."Apakah ini hari terakhir ku di dunia ini?kenapa?kenapa harus sekarang.Masih banyak hal yang belum ku lakukan,dan lagi masih ada tanggung jawab ku untuk menyelamatkan nyawa ayahku yang tengah terbaring.Apakah sekarang?ini mimpikan?ku mohon katakan bahwa ini hanya sebuah mimpi,"batinnya tak terima dengan takdir yang menimpanya malam ini.
"Mengeri..."Toni merinding sendiri melihat berita di televisi yang terdapat di ruang khusus OSIS.
Berita itu berisi tentang mayat wanita yang terambang di sungai dengan kepalanya yang tak ada.Tapi polisi menemukan kartu KTP di dekat TKPnya,dan korban tersebut bernama Sindi Puspa Wati.
"Ih kok makin mengadi-ngadi sih,gue kan jadi takut sendiri,"ucap Safira sang wakil ketua OSIS.
Di ruangan itu memang dikhususkan untuk siswa-siswi yang memiliki pangkat Ketua,Wakil ketua, Sekertaris,dan juga bendahara OSIS.Dan Toni sendiri menjadi bendahara di sana.
"Awas aja sampai psikopat nya ketemu sama gue,pasti bakalan gue ajak main Remi."Anggara Sang Ketos langsung memukul mulut sialan milik Toni,bisa-bisanya bicara sembarang seperti itu.
"Nanti ketemu beneran nangis"ledek Anggara mendapat kekehan kecil dari ketiga human yang ada disana,terkecuali Toni.
"Tau tuh,padahal sama kecoa aja takut apalagi sama psikopat yang levelnya bukan main...mungkin Lo udah terbirit-birit,"sahut Tasya membuat Toni menatapnya tajam,enak banget ngomongin aib orang ya?
"Apa gak terima emang bener kan Lo itu penakut plus pengecut,"tekan Tasya membalas tatapan tajam Toni.
"Iya-iya hari ini gue bakalan ngalah sama cewe jelek kayak Lo,tapi lain kali jangan harap Lo bisa lolos dari beberapa hantaman sayang dari Mas Toni."Tasya menirukan ucapan Toni dengan nada dan mulut yang mengejek,untungnya Toni mampu menahan kemarahan yang akan membludak.
"Eh btw kenapa setiap korbannya kepalanya nggak ada sih?di kemanain ya?"tanya Safira masih menatap TV yang menggantung di dinding.
"Iya juga ya emangnya kepala dari korbannya itu diapain sih?di buat sovenir?"timpal Toni terheran-heran.
"Kalau dibuat sovenir emangnya nggak bau ya?apalagi itu kepala yang udah mati pasti busuk kan?"kata Anggara mendapat anggukan dari ketiga temannya.
"Pokoknya kita harus hati-hati kalau bisa tuh keluar jangan sendirian,mending minta di temani biar pembunuh itu nggak jadiin kita salah satu target nya,"ujar Tasya yang ada benarnya.Mungkin kalau keluar rumah barengan dengan orang tua ataupun teman masih bisa aman.
"Mending-mending pindah kota aja,kalau perlu ke luar negeri sekalian,"ucap Toni berpendapat lain.
Seketika suasananya menjadi hening.Tak ada dari mereka yang mengucapkan kata,entahlah mungkin sedang asik dengan pikiran sendiri-sendiri.
"Bakso Pak Yanto kayaknya enak,"ujar Toni memecah keheningan dengan mengganti topiknya.
"Mau coba?"sahut Safira.
"Boleh sih tapi jangan malam,kalau bisa nanti sepulang sekolah aja,"jawab Tasya.Safira menyenggol lengan Anggara yang otomatis membuat pria itu menatap kearah Safira.
"Gue ngikut aja,"kata Anggara seperti biasanya.
Deal mereka akan makan bakso sepulang sekolah di tempatnya Pak Yanto.Katanya di sana sangat enak dan murah, kebanyakan sih para remaja yang ngajak pacarnya makan di sana.
***
Fitri tengah gelisah sembari merogoh-rogoh saku di seragam sekolahnya.Sedangkan kasir sudah jengah menunggu uang pembayaran dari Fitri.
"Sudah ketemu?"tanya wanita cantik yang menjaga kasir.Fitri menggeleng pelan.
"Biar saya saja yang bayar,"ujar Safira menyodorkan kartu kredit,membuat penjaga kasir itupun tersenyum.
Penjaga kasir juga mentotal belanjaan Safira yang kalau di lihat sangat banyak sekali.
"Datang lagi ya Fira,"kata mbak-mbak kasir itu tersenyum ramah melambai kearah Safira yang keluar dari minimarket milik Stride Highschool.
"Makasih kak Safira,"ujar Fitri setelah berhasil bersejajar jalan di samping Safira.
"Sama-sama lagian kenapa banyak banget beli makanannya?emangnya kuat makan segitu banyaknya?"tanya Safira diiringi kekehan kecil.
"Kuat kok,"kilah gadis itu yang sejujurnya makananya adalah untuk para kakak kelas yang selalu merundungnya.
"Gue cabut dulu ya,"pamit Safira mendapat anggukan dari Fitri.
Fitri seketika tersentak begitu kedua kresek di ambil paksa oleh seseorang.Mereka adalah Ega,Nabila dan Ratna kakak kelas yang sering merundung Fitri.
"Lama banget sih beli ginian doang,"ketus Ega sang ketua geng.
"Tau tuh Lo mau buat kita kelaparan?"kesal Nabila ikut-ikutan memarahi Fitri.
"Ma-maaf kak,tadi Fitri sempat kehilangan uangnya untung kak Safira datang,"jelas Fitri sembari menunduk menatap kebawah.
"Emang gue peduli,"balas Ratna ikut mencomot makanan yang sudah dibeli oleh Fitri,meski uangnya adalah milik Safira.
Fitri hanya mampu menelan ludah nya sendiri,ia juga kepengen banget makan makanan itu.Tapi apakah diberi jika dia memintanya.Perutnya juga tak di isi sejak tadi pagi,seharusnya dia mengisinya meski hanya sepotong roti.
"Lo...mau?"tawar Ega sedari tadi curi-curi pandang ke Fitri.
Fitri mengangguk senang.
Ega mengambil satu roti yang harganya sekitaran 1.000 an
"Udah pergi sana,"usirnya memberikan roti itu pada Fitri.
"Terimakasih kak,"Kata Fitri berlalu pergi bersama dengan sebungkus roti.
***
Setelah membeli camilan di minimarket sekolah Safira berjalan menuju ke ruang kumpul khusus OSIS yang memiliki jabatan tinggi(KJT OSIS)
Ia menangkap seorang remaja pria yang tengah berjongkok membelakanginya lebih tepatnya remaja itu menghadap kesebuah pohon.
"Sepertinya dia sedang melakukan sesuatu,"batin Safira.
Safira yang penasaran dengan apa yang dilakukan remaja itu langsung saja menghampirinya.
"Kau sedang apa?"tanyanya membuat remaja bertag namakan Dafa itu sedikit terkejut,tapi detik selanjutnya kembali melanjutkan aktivitas nya.
Mata Safira melotot begitu mengetahui hal yang dilakukan Dafa adalah membunuh burung.
"Kenapa Lo bunuh tuh burung?"tanya Safira heran.
"Tadi gue lihat nih burung nggak bisa terbang,"jawab Dafa datar.
"Jadi kenapa Lo harus bunuh tuh burung nya,kan kasihan,"ujar Safira lagi.
"Burung yang nggak bisa terbang untuk apa dibuat hidup,jadi beban aja mendingan mati aja kan,"jawab enteng Dafa kembali menggeprek burungnya dengan batu besar.Bahkan tubuh tuh burung sudah benar-benar hancur lebur karena ulahnya.
"Hei!!"tegur Safira tak tahan lagi yang justru membuat Dafa berdiri dan menatap kearah Safira.
"Gue pamit dulu,"ujar Dafa hendak pergi yang langsung dicegah oleh Safira.
"Lo nggak ngerasa dosa sedikitpun ngeliat burung yang Lo bunuh ini?"Safira menunjuk kearah burung yang sudah tak bernyawa itu."Bagaimana kalau dia kepala keluarga?atau bagaimana kalau dia ibu dari anak burungnya"
Dafa nampak tak peduli sama sekali,pria itu justru pergi tanpa rasa berdosa dalam dirinya.
"Hei!!!"teriak Safira tak dipedulikan oleh Dafa,bahkan menoleh pun tidak.Dafa tetap melanjutkan jalannya.
"Nona Safira ada apa teriak-teriak?"tanya Pak Bejo,pria tua yang sudah sejak lama bekerja menjadi tukang bersih-bersih halaman di sekolah Stride Highschool Ini.
Safira kembali menunjuk kearah burung itu."Itu burungnya sudah mati."Pak Bejo terkejut melihatnya.
"Tadi ada murid sini yang membunuhnya dengan seenak jidat,terus nggak mau ngubur lagi,"jelas Safira mendapat anggukan paham dari pria tua itu.
"Biar pak Bejo saja yang beresin ini burung,non Safira pergi aja dari pada jam istirahat nya habis dibuat beresin kekacauan ini"kata pak Bejo tersenyum.
"Benernih pak?nggak mau Safira bantuin dulu?"Pak Bejo menggeleng cepat.
"Sana pergi,biar ini jadi urusan Pak bejo.lagian ini sudah pastinya menjadi pekerjaan pak Bejo,"jawab Pak Bejo masih kekeh tak mau mendapat bantuan dari Safira.
"Safira pergi dulu ya Pak,"pamitnya berlari menuju KJT OSIS.
"Astaga kok sampai segitunya sih, burung juga kan pengen hidup"Pak Bejo menggeleng-gelengkan kepalanya,tak tau dengan isi hati dan pikiran anak jaman sekarang.
(KTJ OSIS)
"Abis dikejar hantu?"tanya Toni begitu melihat Safira yang terengah-engah saat baru sampai.
Safira mengatur nafasnya sejenak.
"Ini lebih parah lagi bos,"katanya sembari mendudukkan bokong pada kursi yang lagi-lagi bersebelahan dengan Anggara.
"Apa?ada apa?gak usah bikin gue penasaran deh,cepat ceritain,"ucap Toni sambil mengambil makanan di dalam kresek milik Safira.
"Pokoknya ini bikin gue merinding takut."Toni menatap datar kearah Safira,kenapa sangat senang membuat orang bertambah penasaran?memang ini kebiasaan nya ya?
"Tadi pas gue kesini,behhhh ada sesuatu yang nggak bisa dijelasin dengan nalar manusia,"kata Safira membesar-besarkan cerita,alhasil membuat Toni,Anggara,dan juga Tasya semakin penasaran.
"Korbannya mati mengenaskan,"ucap Safira membuat ketiganya melotot.Mati?
"Psikopatnya disini kah?"tanya Tasya.
"Eh gue belum siap mati,gue belum ngerasain rasanya malam pertama,gue belum ngerasain nikmatnya belaian lembut seorang wanita,gue juga belum tau gimana rasanya jadi seorang ayah muda,"racau Anggara panik sendiri.
"Emak cepat jemput Toni,"teriak Toni.
"Iya korbannya sampai mati,wowww tulang-tulang nya patah,kepalanya ancur sudah,"ucap Safira semakin senang membuat teman-teman nya takut dan panik.
"Kasihan loh tadi burungnya,padahal nggak salah apa-apa cuman karena nggak bisa terbang sampai di bunuh oleh anak siswa sini."Toni,Anggara dan juga Tasya menatap datar kearah Safira.
"Maksud Lo korbannya itu burung?"tanya Toni mendapat anggukan kecil dari Safira.
"Kenapa?"tanya Safira tak merasa berdosa membuat temannya ketakutan.
"SAFIRA...."teriak ketiganya serempak.Sedangkan sang empu yang memiliki namanya hanya tersenyum polos.
Toni sang bendahara sedang menghitung lembar demi lembar uang,matanya sampai melotot takut jika dia salah hitung uangnya.
"Gimana?"tanya Anggara yang sama sekali tidak mendapat respon dari sang empu.
Toni masih komat-kamit membolak-balik kan selembar demi lembar uangnya,mungkin ini sudah ke 5 kalinya.
"Meskipun Lo hitung sampai sejuta kali nggak akan berubah ogeb!!"timpal Tasya menyeruput Americano yang berada di depannya.
Anggara,Safira,Toni dan juga Tasya kini berada di sebuah cafe.Keempatnya benar-benar sibuk akhir-akhir ini,bukan hanya empat orang ini sih tapi seluruh anggota OSIS juga,karena sebentar lagi adalah ulang tahun Stride Highschool yang ke-21.
"Kok uangnya gak lebih sih,"kata Toni sembari menaruh uangnya di meja.Ia memijit-mijit tangannya yang sedikit pegal.
"Gak usah ngarep dapat uang lebih dari hasil iuran ini,"timpal Anggara memasukkan uangnya kedalam amplop berwarna coklat.
"Tau tuh padahal uang orangtuanya aja udah banyak masa mau korupsi uang iuran,"ujar Safira ikut bersuara.
"Biasalah namanya juga orang serakah,"sahut Tasya sambil diiringi kekehan kecil.
Toni hanya mampu berdecak,sungguh seharusnya para OSIS mendapatkan bagian atau uang dari sekolahan,tapi kenapa malah hanya menjadi babu di sekolah.
Tasya berdiri yang otomatis langsung ditatap oleh ketiga temannya.
"Gue cabut dulu ya,"ujarnya membereskan barang-barang dan memasukkannya ke dalam tas.
"Cepet banget sih,mau kemana emangnya?"tanya Safira heran.
Tasya melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 16.00
"Udah sore banget nih,kalian nggak mau pulang juga emangnya?"Toni menepuk jidatnya,benar juga padahal tadi dia hanya berpamitan sebentar kok malah sampai sore gini.
"Gue juga kalau gitu,"timpal Toni memakai tasnya di pundak.
Anggara berdiri."Lo nggak pulang juga?"tanyanya yang melihat Safira masih duduk manis dengan santai.
Safira menggeleng pelan."kalian duluan aja,gue masih mau disini,"jawab Safira.
Toni memegang pundak Safira,membuat gadis itu tercekat dan menatap heran kearah Toni.
"Gue harap masih bisa lihat Lo besok pagi."Ketiganya dibuat bingung oleh ucapan Toni barusan,tapi detik selanjutnya mereka paham.
"Untuk mu Safira,jika sudah sampai di perempatan akhirat bilang-bilang padaku ya...ku pastikan tempat peristirahatan terakhir mu bagus dan aman,"kata Tasya tersenyum mengangguk-angguk sembari memejamkan matanya sejenak.
"Eh nggak boleh gitu sama teman sendiri kok malah bilang yang enggak-enggak,nanti kalau kejadian beneran kalian yang malah nangis karena kehilangan..."Anggara menepuk pundak kiri Safira."Kuburan mu nanti mau ditaburi apa?"lanjut Anggara.
Safira menatap ketiga datar, bisa-bisanya ngomong kayak gitu dengan mudahnya,biasanya omongan kan doa kalau terkabul beneran gimana?
"Gue nggak peduli...kalau bisa bawa sini psikopatnya biar gue gorok sekalian lehernya,"tantang Safira membuat Toni geleng-geleng kepala.
"Bagus...kalau udah dapet psikopatnya telpon gue ya,nanti biar gue vidioin biar rame dan dapet cuan,"ujar Toni mengacungkan jempol.
Safira mengibas-ngibaskan tangannya."udah pulang aja sana,lagian jalan ke apartemen gue pasti masih ramai,"usir gadis itu jengah menatap teman-teman nya yang masih berdiam di sini.
"Gue pulang dulu ya,gue tunggu nasi kotak nya,"pamit Toni melambai-lambai dan keluar dari cafe tersebut.
"Gue juga,"ucap serempak Tasya dan Anggara.
Kini tersisa Safira dan pelanggan lainnya.
"5 menit lagi,"gumam Safira memandang jam di dinding.
***
Pukul 21.00,tepatnya di club bernama DIONYSIUS (club terbaik ke-dua yang terkenal di kota Jakarta)
Fitri tengah meringkuk di ranjang berukuran king size,air matanya tak henti-henti jatuh dan hal itu menyebabkan makeup nya luntur.jika tau bakalan begini pasti dia tak akan datang.
Fitri mengeratkan selimutnya menutupi tubuhnya yang tak memakai sehelai benang pun.
Pintu kamar itu terbuka menampakkan tiga gadis yang melemparkan senyum pada Fitri.Mereka adalah Ega,Nabila dan Ratna.
Nabila menatap penuh kegembiraan saat mendapati uang banyak di atas nakas.Tangannya terulur mengambil segepok uang itu.
"Kalau tau begini pasti gue bakal ngelakuinnya dari dulu,"gumam Nabila menyeringai.
Ega berjalan dan duduk di tepi ranjang,matanya beralih menatap kearah gadis yang telah ia jual untuk dijadikan pelacur.Tenang hanya 3 malam kok,nggak lebih.Berarti Fitri harus melayani pria lagi dalam 2 hari belakangan ini.
"Kenapa kalian melakukan ini padaku?"tanya Fitri mengusap pelan air matanya.
"Maaf lagian gue lagi butuh banget uang sekarang ini,"jawab Ega.
"Terus kenapa harus aku yang jadi korbannya?"bentak Fitri langsung mendapat jambakan dari Ratna.
"Turunkan nada bicaranya ogeb,Lo pikir lagi bicara sama siapa hah!!!"Ratna menarik rambut Fitri sampai gadis itu terbangun dari posisinya.
Fitri berusaha keras melepas tangan Ratna,sakit plus cenut-cenut yang ia rasakan.
"Lepaskan bodoh,"ketus Ega melerai keduanya.
Ega beralih mengelus pipi Fitri."terima saja takdir mu,jangan banyak tanya dan bicara...lagian Lo kan babu gue,gue nggak salah dong ngelakuin apapun yang bersangkutan dengan Lo,"kata Ega mendapat tamparan keras dari Fitri.
"Memangnya aku pernah ngelakuin kesalahan apa sama kalian,kalian boleh-boleh saja merundungku tapi ingat batasannya,"bentak Fitri kembali menangis.
"Eh Lo nggak apa-apa kan?"tanya Ratna khawatir,tangannya mengelus area pipi Ega yang baru saja mendapat tamparan dari Fitri.
"Dasar si*lan"Nabila menendang perut Fitri,dan membuat gadis itu terpental menabrak punggung sandaran kasur.
Fitri mengerang kesakitan,di area punggung,kepala beserta bagian bawahnya benar-benar sakit.
Byurrrr.
Ega menyiram segelas air kewajah Fitri.Ia ikut naik keatas ranjang.
"Kayaknya kita harus pesta malam ini,kalian udah tutup pintunya kan?"tanya Ega menatap kedua temannya.
"Tenang aja udah kok,"jawab Ratna.
Fitri meremas tangannya kuat-kuat.Apa yang bakalan dilakukan oleh Ega sekarang?apakah akan membunuhnya?kalau begitu bunuh saja,lagian dia sudah tak suci lagi.
Tanpa aba-aba Ega langsung menendang tubuh Fitri berkali-kali.Tamparan-tamparan juga Fitri dapatkan.Ega benar-benar membabi buta menghajar wanita di depannya.
Sedangkan Ratna asik merekam keduanya,ia tertawa senang melihatnya.
Dan untuk Nabila lebih memilih menontonnya dari jarak jauh.
"Memangnya lo siapa berani-beraninya nampar gue,"ujar Ega kini beralih menjotos wajah Fitri.
"Lo tuh cuman orang miskin yang gak sepatutnya hidup,mati aja sana,"lanjutnya.
Fitri pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh Ega,ia tak mampu lagi menangkis seperti di awal tadi,tangannya yang dibuat menangkis rasanya seperti sudah mati rasa.
Nabila bangkit dan menarik Ega untuk menjauh,sepertinya Ega sudah keterlaluan bagaimanapun Fitri juga manusia yang merasakan sakit.
Ega merontak-ronta,sayangnya Nabila segera menariknya kembali menjauh dari Fitri.
"Udahlah jangan keterlaluan,lagian Lo nggak mau di penjara kan sebab membunuhnya,"Kata Nabila berhasil membuat Ega sedikit tenang.
Ega menetralkan nafasnya yang sedikit memburu.Ia mengelus-elus dadanya agar bersabar.
Fitri terbatuk-batuk mengeluarkan darah dari mulutnya,matanya sedikit berat dan lengket,penglihatannya sedikit mengabur tak jelas.
"Hari ini mungkin Lo selamat,tapi lain kali jangan harap bakalan bisa menghirup udara lagi,"kata Ega menatap tajam Fitri.
Ketiganya berjalan pergi tapi perkataan Fitri membuat mereka berhenti.
"Mungkin hari ini aku yang tersiksa tapi kalian harus ingat roda terus berputar,bisa saja kalian yang nantinya bakalan di siksa habis-habisan...ingat tak ada yang tau masa depan,"ujar Fitri diiringi tawa.
"Bisa saja kalian kalah dalam permainan ini,"lanjutnya lagi.
"Jangan mimpi,disini yang jadi pemeran utamanya adalah gue...jadi gue bakalan menang apapun yang terjadi,"ujar Ega yang mendapat tawa renyah dari Fitri.
"Benarkah?padahal kita sedang berada di cerita yang tak ada pemenangnya..."sahut cepat Fitri membuat ketiga gadis itu memandangnya heran.
"Kayaknya Lo udah kangen sama pukulan gue kan."Nabila segera mencekal tangan Ega yang hendak melangkah lagi menuju Fitri.
Nabila menggeleng."gausah diladeni,dia itu cuman mau bikin kita emosi...dan nantinya kita yang bakalan kena rugi karena memukulnya lagi sampai mati,"bisik Nabila pelan.
Nabila membawa pergi Ega keluar diikuti oleh Ratna di belakang,pintunya ditutup dengan keras oleh Ratna.
"Aku diam aja bukan karena takut,aku hanya ngikut alur permainan ini saja kok..."Fitri menyeringai,ruangan itu benar-benar berisi tawa mengerikan milik Fitri.