Kedua kaki Dara mundur dengan perlahan. Bulir bening yang sedari tadi dia tahan mulai meluruh dari kedua kelopak matanya. Dara merasakan sesak yang seolah menghantam dadanya. Tatapan Dara menyiratkan rasa kecewa yang amat dalam kepada seorang lelaki di hadapannya.
“Maaf, Dara. Aku benar-benar minta maaf ....”
Dara mencoba menarik kedua sudut bibirnya meskipun isak tangis masih mengudara. “Aku tidak menyangka. Ternyata kamu memang sejahat itu, Bryan.”
“Aku tahu, dan aku minta maaf. Ini memang salahku.”
“Kenapa harus aku, Bryan? Kenapa bukan orang lain saja yang kamu bodohi?” Dara tertawa hambar, dia menahan Bryan agar tidak mendekat.
“Jangan menyentuhku. Kamu menjijikkan.”
Bryan mengepalkan jemari tangannya di sisi celana. Dia mengembuskan napas panjang setelahnya. “Aku bisa menjelaskan semuanya, kita bisa bicara baik-baik, Dara. Jangan seperti ini.”
“Maaf ... aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Aku harap kamu bisa bahagia dengan gadis itu. Dan sekali lagi aku minta maaf karena belum bisa menjadi yang terbaik untukmu.”
“Dara?” Bryan menatap Dara dengan sorot sendu. Menyesal, khawatir, semuanya menjadi satu.
Dara tertawa pahit. “Kita tidak ditakdirkan, dan kenyataannya kamu lebih memilih dia. Lalu, apalagi yang harus dijelaskan? Semuanya sudah selesai, Bryan.”
“Tasya sakit, dan dia membutuhkanku. Aku tidak bisa meninggalkan dia, tapi aku juga tidak mau kehilanganmu. Kamu yang aku cintai, Dara. Bukan Tasya,” jelas Bryan, mencoba menggapai tangan Dara, namun segera ditepis kasar oleh gadis itu.
“Basi. Bukankah sudah jelas jika dia lebih kamu prioritaskan? Lucu sekali jika kamu mengatakan bahwa kamu mencintaiku, tapi juga menyayangi gadis lain? Sudahlah, lebih baik aku pergi saja agar kalian bisa bahagia.”
Senyuman Dara memudar. Tergantikan dengan helaan napas panjang. “Kita sampai di sini, Bryan. Kamu bukan takdirku. Dan aku tidak pantas untukmu. Maaf ... aku pergi. Dan tolong, jangan temui aku lagi ....”
Bryan memejamkan matanya sejenak, merasakan kalimat menyakitkan yang keluar dari bibir Dara. Lelaki itu membuka matanya kembali ketika mendengar suara derap langkah menjauh. Bryan melihat Dara yang berlalu pergi meninggalkan dirinya.
Bryan menatap punggung Dara dengan hati yang tercabik-cabik. Dia berteriak sekencang mungkin. “Dara! Berhentilah, Dara! Aku mohon! Aku mohon berhenti, Dara!”
Sayangnya, teriakan itu tidak mampu menggoyahkan hati Dara untuk berbalik. Dara tetap meneruskan langkahnya sampai suara Bryan tidak terdengar lagi. Dara menahan tangis, isakan, serta rasa sakit yang menusuk hatinya karena seorang lelaki yang telah membuatnya kecewa.
Dara baru menghentikan langkahnya ketika sampai di sebuah bangku kecil yang berada di taman. Dara mendudukkan dirinya dan menumpahkan semua yang ditahannya. Dara menangis, sepuasnya, dan tidak memedulikan seberapa dinginnya air hujan yang mulai jatuh mengenai tubuhnya.
“Aku memang bodoh, sangat-sangat bodoh hingga mau mempertahankan lelaki seperti dia. Aku sungguh menyesal dan sia-sia karena telah mengenalnya,” lirih Dara dengan kepala menunduk.
Suara petir menggelegar, angin kencang, serta derasnya air hujan yang mengguyur tidak mampu membuat Dara beranjak sedikit pun. Dara membiarkan bulir bening itu jatuh bersama dengan hujan yang seolah ikut meratapi takdirnya yang menyakitkan, serta nasibnya yang begitu menyedihkan.
Dara memejamkan mata, merasakan dinginnya air hujan yang menusuk kulit putihnya. Namun, Dara terkejut ketika tiba-tiba dia tidak lagi merasakan itu semua. Tubuhnya bahkan terasa hangat seperti diselimuti oleh kain tebal. Serta suara seseorang yang seketika membuat Dara membuka matanya.
“Hai?”
Dara terkesiap, dia mengerjapkan mata beberapa kali. Seorang lelaki berdiri di hadapannya dengan payung yang dipegangnya. Dara refleks mendongak, melihat dia kini telah terlindungi dari hujan karena payung yang lelaki itu bawa.
“Mari berteduh, nanti kamu sakit.”
Lelaki itu berkata lagi, yang membuat Dara tidak sanggup membalasnya. Dara masih bergeming, menatap lelaki bertubuh tinggi dengan alis tebal itu tanpa berkedip. Dara tiba-tiba merasakan sentuhan aneh pada tubuhnya.
“Jangan bengong, ayo berdiri.” Lelaki itu menyentuh lengan Dara dengan pelan.
“Eh, apa? S–siapa kamu?” tanya Dara yang seketika tersadar dan langsung membelalakkan matanya.
“Oh iya, namaku Zyan. Zyan Arshaka.”
Dara terdiam sebentar, sebelum membalas jabatan tangan Zyan. “Aku ... Dara Anindhita.”
“Dara? Hai, Dara?” Zyan tertawa kecil. Membuat Dara tertegun melihatnya.
“Hai. Kamu kenapa di sini?”
“Menjemputmu supaya mau berteduh,” jawab Zyan.
Dara mengerutkan keningnya. “Kenapa? Kenapa kamu peduli? Kita tidak pernah bertemu sebelumnya.”
Zyan tidak menjawab ketika suara petir kembali terdengar dan hujan semakin turun dengan lebat. Dara menunggu jawaban Zyan, namun lelaki itu justru merangkul pundaknya dan menyuruhnya untuk berdiri. Zyan membawa Dara ke depan sebuah ruko yang sedang tutup.
Zyan kemudian meminta Dara untuk duduk berjongkok di sampingnya. “Duduklah, aku akan menjaga jarak.”
Dara menurut. “Terima kasih.”
Zyan hanya mengangguk. Kemudian dia teringat sesuatu. “Apa yang tadi kamu katakan?”
“Ah, tidak. Tidak jadi,” balas Dara, dengan sengaja melupakan pertanyaannya yang belum sempat Zyan jawab.
Zyan terdiam. Dia tidak lagi menjawab dan memilih menatap hujan deras di depan sana. Langit yang semakin gelap, serta beberapa lampu yang menyala membuat Zyan menoleh lagi ke arah Dara yang tampak melamun.
“Rumah kamu di mana? Setelah hujan reda aku akan mengantarmu.”
Dara tersentak, dan reflek menoleh. “Heum?”
Zyan menghela napas pelan. “Alamat rumahmu.”
“Untuk apa?”
“Aku akan mengantarmu pulang setelah hujan reda, sebentar lagi hari sudah gelap, dan aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian. Boleh aku tahu di mana alamat rumahmu?” jelas Zyan kembali mengulangi pertanyaannya.
Dara terkejut, kerutan tipis spontan tercetak di dahinya. “Kenapa? Maksudnya, aku bisa pulang sendiri. Kenapa kamu peduli denganku?”
Zyan tersenyum simpul. “Karena kamu perempuan. Aku tidak tega jika terjadi sesuatu denganmu saat di jalan nanti, aku tidak bisa membiarkan seorang perempuan terluka.”
Dara benar-benar tertegun. Matanya melihat sorot ketulusan dari kedua mata Zyan. Senyumannya juga tampak hangat dan ... menawan. Dara tidak bisa membuka mulutnya lagi. Dia menatap cukup lama, sebelum Zyan lagi-lagi menyadarkannya.
“Bagaimana? Kamu masih mau bengong lagi?” Zyan sedikit tertawa kecil.
Dara mengerjap beberapa kali dan berdehem. Dia salah tingkah. Merutuki dirinya sendiri dalam hati. “Ah, i–iya. Rumahku ada di Komplek Mawar nomor 15.”
•••
Keesokan harinya Dara menjadi malas untuk bersekolah. Hari ini jam kosong karena semua guru sedang rapat di kantor. Jam pembelajaran pun dihentikan untuk jam pertama sampai istirahat. Waktu yang tepat untuk membolos ke kantin dan bersantai-santai di kelas.
Seharusnya Dara senang karena dia bisa tidur kembali sehabis begadang tadi malam. Namun, Dara tidak bisa memejamkan matanya dengan tenang karena benaknya masih memikirkan momen kemarin, di mana dia telah memutuskan hubungannya dengan Bryan.
Dara meletakkan kepalanya ke atas meja dengan lesu dan tidak bersemangat sedikit pun. Kemudian, seseorang tiba-tiba datang dan menyodorkan sebuah kotak makan ke depan wajahnya. Dara reflek kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Prima dengan kening mengerut.
“Dari?”
Prima Ayudia, sahabat karibnya itu mendudukkan dirinya ke bangku samping Dara. “Siapa lagi kalau bukan Bryan?”
“Lagi?”
Prima menoleh dengan alis terangkat. “Tumben, biasanya kamu antusias. Kenapa? Kalian bertengkar?”
“Kita selesai,” jawab Dara, kembali meletakkan kepalanya ke atas meja dan membelakangi Prima.
“Serius? Akhirnya kamu sadar juga, ya?”
Dara mencibir kecil. “Kita memang bukan takdir.”
“Dulu kamu yakin kalau Bryan akan mempertahankan kamu. Sekarang apa? Akhirnya malah kamu sendiri yang melepaskan dia. Kamu memang sudah sepatutnya mengambil keputusan ini, Dar,” kata Prima sambil menepuk-nepuk sebelah pundak Dara.
“Andai saja aku tidak bodoh waktu itu, mungkin sekarang rasanya tidak akan sesakit ini. Cinta memang membutakan segalanya, ya, Prim.” Dara memalsukan senyum.
Prima mengangguk-angguk. “Memang seharusnya perempuan itu dicintai, bukan mencintai. Sekarang kamu sudah aman karena bisa bebas dari laki-laki rakus dan berengsek seperti dia. Semoga dia menyesal karena telah menyia-nyiakan gadis sebaik kamu.”
Dara mengulas senyum lega. Dia menegakkan tubuhnya lagi dan menghadap ke arah Prima. Sahabatnya itu tampak mengerutkan kening yang membuat Dara tersenyum geli dan langsung membawa Prima ke dalam pelukannya.
“Beruntungnya aku mempunyai sahabat seperti kamu, Prim. Awalnya aku ragu dengan keputusanku kemarin, tapi setelah kamu bicara seperti itu, aku merasa yakin jika Bryan memang bukan laki-laki yang baik untukku.”
Prima tertegun, namun dia segera membalas pelukan Dara dengan senyum mengembang. “Sebagai sahabat tugasku memang mendukungmu, Dar. Aku tidak akan membiarkan kamu tersesat dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti Bryan.”
“Terima kasih, Prim. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak menjadi sahabatku,” kata Dara setelah melepas pelukannya.
“Sama-sama, ih. Jangan sungkan sama aku. Kita itu sudah menjadi sahabat sejak kecil. Semua badai sudah pernah kita lalui bersama,” jawab Prima, yang membuat Dara menarik kedua sudut bibirnya.
Prima pun tersenyum kecil dan merangkul pundak Dara dengan semangat. “Sudah, ah! Jangan melow-melow lagi. Sekarang waktunya kamu untuk move on dan melupakan mantanmu yang seperti setan itu! Are you okey, Dara?”
“Okey-dokey!” pekik Dara tidak kalah semangat.
Seseorang lalu mengetuk pintu dengan cukup keras, sehingga membuat Dara dan Misha seketika menoleh dan melihat laki-laki yang berdiri di ambang pintu dengan raut dingin bersama seorang perempuan di sampingnya.
Prima buru-buru berbisik. “Ssst, mereka rumornya pacaran, lho. Si ketua OSIS versus wakil ketua OSIS.”
Dara tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli. Kemudian laki-laki yang menjabat sebagai ketua OSIS itu berdiri di depan kelas dan menyampaikan beberapa pengumuman bahwa hari ini sekolah dipulangkan lebih pagi karena para guru hendak berta’ziah.
Prima pun menjadi orang pertama yang bertepuk tangan dengan meriah. “Asyik! Pulang pagi, ya, guys, ya!”
Setelah beberapa saat ricuh, semuanya berhamburan keluar kelas untuk pulang. Beberapa masih ada yang di kelas karena tidak mau mengantre panjang di parkiran. Dara dan Prima menjadi dua gadis yang memilih menunggu di kelas terlebih dahulu sambil bergosip cantik.
Namun, Prima tiba-tiba meringis kesakitan sambil memegang perutnya. “Ya Allah, Dar. Kenapa perutku sakit, ya? Apa gara-gara kemarin malam aku makan seblak kebanyakan, terus bukannya minum teh hangat malah es teh.”
Dara mendelik, dia buru-buru mendorong tubuh Prima agar segera berdiri dan berjalan keluar kelas. “Iya sudah cepat sana ke toilet!”
Prima mendengkus, namun tidak banyak bicara lagi gadis itu bergegas menuju ke toilet sambil berlari. Dara menggelengkan kepalanya saat menatap punggung prima yang sudah hilang di balik pintu kelas. Dara pun memutuskan pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku.
Karena kebetulan besok mata pelajaran Bahasa Inggris dan Dara tidak mempunyai kamus, dia berpikir mungkin lebih baik segera meminjam hari ini supaya besok tidak kehabisan dan antre. Selagi Prima ke toilet, tidak ada salahnya jika Dara menunggu gadis itu di perpustakaan.
Dara mendapati perpustakaan yang tampak sepi. Tentu saja karena beberapa siswa dan siswi lebih memilih pulang dari pada berlama-lama di sekolahan. Hal itu membuat Dara merasa tenang karena bisa memilih beberapa buku yang lain tanpa ada gangguan.
Lalu, ketika Dara berada di rak buku bagian kamus, dia kesulitan mengambilnya karena letak kamus yang dia incar berada di rak paling atas. Sementara tubuhnya yang mungil terlalu kesulitan untuk menggapainya. Dara pun mendengkus karena kesal saat tangannya tidak bisa mencapai kamus itu.
“Sepertinya aku harus banyak minum susu supaya bisa tinggi. Jika sudah begini, bagaimana bisa aku mengambilnya?” Dara mengembuskan napas kasar dan berkacak pinggang.