Bab 1

Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam hidup sebuah keluarga karena pada hari ini salah satu di antara keluarga itu ada yang maju sebagai salah seorang bakal Gubernur dari salah satu Provinsi yang akan menyelenggarakan pemilihan umum saat ini. Nampak para petugas TPS sudah bersiap dan para calon pemilih sudah mulai berdatangan walaupun jam baru menunjukan pukul 6.45 pagi, antusiasme mereka untuk mencoblos begitu tinggi hingga rasanya untuk menunggu sampai pukul 7 pagi saat TPS buka mereka nampak tidak keberatan.

“Saat ini saya melaporkan dari TPS 28 di mana di TPS ini merupakan tempat calon Gubernur dari Partai Hijau akan mencoblos, nampak di TPS ini sudah banyak warga yang antre seperti itu untuk mencoblos padahal TPS belum di buka, saya akan berbincang terlebih dahulu dengan salah seorang calon pemilih.”

Nampak di sebuah rumah mewah tempat di mana keluarga sang calon Gubernur tinggal televisi menyala dan tengah melaporkan dari TPS tempat dimana sang calon Gubernur akan mencoblos nantinya, sementara itu juga sudah banyak wartawan yang sudah berkumpul di depan rumah untuk menayangkan berita eksklusif ketika sang calon Gubernur akan mencoblos bersama keluarganya di sebuah TPS.

“Di luar sana sudah banyak sekali wartawan, kenapa tidak keluar dan menyapa mereka?” tanya seorang wanita tua yang merupakan Nyonya di rumah besar ini.

“Apakah itu harus dilakukan? Toh juga nantinya aku akan keluar dan menyapa mereka,” jawab seseorang yang tengah menonton acara televisi yang menayangkan soal berita di TPS tempat dimana ia akan mencoblos bersama keluarganya nanti.

“Tapi ini kesempatanmu untuk meraih simpati dari masyarakat di detik-detik terakhir menuju pemilihan umum.”

“Sudahlah Ma, aku tahu apa yang aku lakukan jadi jangan mengoreksi apa yang sudah menjadi keputusanku.”

****

Tepat pukul 10 pagi nampak keluarga itu berjalan keluar rumah dan sorotan kamera para wartawan menyorot ke arah keluarga berpengaruh itu, nampak mereka semua memamerkan senyum dan melambaikan tangan pada kamera wartawan yang sedang meliput, para wartawan terus saja membuntuti keluarga ini hingga akhirnya tiba di TPS, keriuhan terjadi di TPS ketika keluarga ini datang, warga yang hendak mencoblos meminta foto dengan bakal calon Gubernur mereka, dengan sabar sang calon Gubernur melayani permintaan warga tersebut.

“Bu boleh lihat kemari,” ujar seorang wartawan meminta agar sang calon Gubernur dan warga yang berfoto itu menghadap ke arah kamera wartawan yang sibuk mengabadikan moment tersebut.

Sang calon Gubernur yang merupakan wanita pertama dalam sejarah pemilihan itu nampak menyunggingkan senyum manisnya pada para wartawan yang sibuk mengarahkan kamera padanya, hingga akhirnya tiba giliran keluarga itu untuk mencoblos.

“Saya mencoblos dulu ya, mohon dukungannya,” ujarnya dengan senyum manis dan bergegrak menuju bilik suara untuk melakukan pencoblosan.

Tidak ada yang terlewat sedikit pun oleh para wartawan saat proses pencoblosan berlangsung hingga keluarga itu kembali ke rumah mereka yang letaknya tidaklah jauh dari TPS, para wartawan mengerubung dan ingin mendapatkan wawancara eksklusif namun dihalangi oleh pengawal keluarga itu hingga mereka masuk kedalam rumah.

****

Seorang wartawan nampak baru saja selesai melakukan peliputan soal pencalonan sang calon Gubernur wanita pertama dalam sejarah Provinsi itu seperti yang diminta oleh stasiun televisi tempatnya bekerja, ia bertanya pada sang kameramen apakah semuanya sudah terekam dengan baik dan sang kameramen mengacungkan jempolnya tanda semuanya aman.

“Melelahkan sekali,” ujar si wartawan itu mengipasi dirinya dengan tangan saat ia dan kameramen tengah duduk di salah satu warung untuk membeli minuman dingin.

“Namanya juga tugas memangnya tidak ada yang lelah?” ujar sang kameramen.

“Menurutmu apakah keluarga itu akan menenangkan pemilihan Gubernur?”

“Pasti, kita tunggu saja.”

“Aku juga sudah memiliki firasat bahwa mereka pasti akan memenangkan pertarungan ini dengan mudah.”

“Apa yang membuatmu begitu yakin kalau mereka akan menang mudah?”

“Tentu saja karena nama besar keluarga mereka, siapa yang tidak kenal dengan keluarga de Cano? Seluruh penjuru negeri tahu siapa dan seberapa besar pengaruhnya dalam politik negeri ini.”

“Iya siapa pun pemenangnya semoga saja mereka bukan hanya bicara soal hal omong kosong seperti pemilu yang sudah-sudah.”

****

Sementara itu di dalam rumah keluarga de Cano yang mewah itu seorang wanita yang tadi ikut bersama dengan rombongan keluarga itu tengah mengganti pakaiannya ketika seorang pria yang tidak lain adalah suaminya itu masuk kedalam kamar dan memeluk istrinya dengan erat, namun si istri itu nampak tidak begitu nyaman saat suaminya memeluknya seperti ini.

“Aku senang sekali,” ujar sang suami.

“Kenapa?”

“Menurut hitung cepat yang dilakukan oleh sejumlah lembaga survei Kakakku memimpin perolehan suara di mayoritas wilayah.”

“Oh begitu.”

“Kamu sepertinya tidak senang dengan itu?”

“Aku ikut senang kalau Kakakmu bisa menjadi Gubernur selanjutnya.”

“Tentu kamu harus senang karena kamu adalah bagian dari keluarga ini Anita Valquez, aku akan kebawah dan akan merayakan keberhasilan ini.”

****

Anita Valquez namanya, wanita yang tahun ini genap berusia 36 tahun itu sudah hampir 12 tahun menikah dengan Juan Hernandez de Cano namun sampai saat ini mereka belum juga diberikan keturunan namun Juan tidak pernah mempermasalahkan itu, untuk mengobati rasa kerinduan mereka ingin memiliki anak maka mereka mengadopsi seorang anak dari panti asuhan yang kini sudah berusia 10 tahun yang mereka beri nama Berni Algido de Cano. Berni sampai saat ini belum mengetahui rahasia bahwa ia bukanlah anak kandung dari Anita dan Juan, Anita terlalu menyayangi Berni sampai ia tidak tega untuk memberitahukan kebenarannya pada anak itu namun Anita meyakinkan dirinya bahwa ia akan segera memberitahu Berni saat ia sudah cukup umur.

“Anita ayo turun, kita akan menemui wartawan,” ujar Juan kembali datang ke kamar untuk memberitahu Anita agar segera pergi menemui wartawan dengan seluruh anggota keluarganya.

“Baiklah,” ujar Anita malas dan kemudian keluar dari kamarnya untuk menemui para wartawan yang sengaja diundang oleh keluarga de Cano agar meliput kemenenangan putri sulung keluarga ini dalam hitung cepat sejumlah lembaga survei.

****

Keluarga de Cano berbaris rapih dan memasang wajah gembira kepada para wartawan yang meliput konfrensi pers kemenangan Carlota de Cano sebagai calon Gubernur provinsi ini untuk periode 5 tahun kedepan versi hitung cepat, Carlota nampak tersenyum sumringah dalam memberikan pidato kemenangannya di depan para wartawan dan pendukungnya yang hadir di tempat ini.

“Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada teman-teman media yang mau menyempatkan diri meliput hari bersejarah kami, dan untuk para pendukung saya, ini bukan kemenangan saya pribadi namun kemenangan kita semua,” ujar Carlota yang disambut pekikan kegirangan dari pendukungnya karena jagoannya menang dalam pemilihan Gubernur.

Untuk merayakan kemenangan versi hitung cepat yang hasilnya tidak jauh dari perhitungan resmi Lembaga Pemilihan Negara maka mereka semua yang hadir disini diberikan makanan gratis oleh keluarga de Cano, baik wartawan, masyarakat biasa maupun simpatisan dan pendukung semuanya bebas mengambil menu yang ada di halaman rumah keluarga de Cano ini.

“Aku mau pergi ke toilet dulu,” ujar Anita pada suaminya yang tengah makan bersama dengan Berni dan keluarga besarnya di salah satu sudut pekarangan rumah itu.

Juan menganggukan kepalanya dan kembali melanjutkan makannya, Anita berjalan menuju taman belakang rumah karena ia muak dengan keramaian itu namun siapa sangka saat ia hendak menuju taman belakang rumah dirinya tidak sengaja menabrak bahu seorang reporter hingga membuat minuman yang ia pegang tumpah dan mengenai seragamnya.

“Maafkan aku,” ujar Anita pada wartawan itu.

“Tidak masalah Nyonya,” ujar wartawan pria itu, untuk beberapa saat mereka saling bertentangan mata satu sama lain dan mendadak suasana riuh dan gegap gempita yang ada di sekeliling mereka lenyap digantikan oleh kesunyian saat mereka saling bertentangan mata saat ini.

Bab 2

Reporter pria yang tadi meliput soal keluarga de Cano mulai dari mereka keluar rumah hingga saat ini mengadakan pesta kemenangan tengah menikmati hidangan yang disediakan oleh keluarga kaya raya itu, sebenarnya dia sudah mengajak kameramen untuk segera pulang namun sang kameramen mengatakan bahwa ini adalah kesempatan untuk mereka dapat mencicipi hidangan mewah yang disediakan oleh keluarga de Cano untuk semua yang hadir dalam pesta perayaan kemenangan Carlota dalam pemilihan Gubernur versi hitung cepat, namanya adalah Alexander Samego seorang pria berusia 24 tahun dan bekerja untuk stasiun televisi ini selama 2 tahun terakhir, ia sudah menikah 1 tahun yang lalu dengan pujaan hatinya dan mereka sudah dikaruniai seorang anak perempuan berusia 1 tahun yang cantik. Alexander memang ingin cepat-cepat pulang dan menyelesaikan tugasnya ini ia rindu dengan istri dan anaknya namun tentu tawaran makan mewah itu juga sedikit menggodanya hingga akhirnya ia juga ingin mencicipi hindangan mewah itu bersama dengan kru televisi lain yang nampak menikmati hidangan mewah yang sengaja dipesan oleh keluarga de Cano itu. Saat Ale sapaan akrabnya itu tengah memegang sebuah jus jeruk tiba-tiba seseorang menyenggol bahunya hingga membuat minuman itu tumpah ke seragam yang ia kenakan, orang yang menabrak bahunya itu nampak terkejut dan meminta maaf atas kecerbohannya.

“Maafkan aku,” ujar seseorang itu yang dari suaranya Ale kenali sebagai suara wanita.

“Tidak masalah Nyonya,” ujar Ale membalikan tubuhnya dan ia begitu terkejut saat tahu siapa wanita yang tidak sengaja menabrak bahunya hingga membuat jus jeruk itu tumpah ke seragamnya.

Mereka berdua saling bertentangan mata untuk beberapa saat namun akhirnya wanita yang tidak lain adalah istri dari Juan Hernandez de Cano itu berdehem dan nampak salah tingkah begitu pula dengan Ale.

“Maafkan aku, baju seragammu jadi basah.”

“Tidak masalah Nyonya.”

“Kalau begitu aku permisi dulu, nikmati makanannya.”

“Terima kasih.”

Ale menatap kepergian Anita itu hingga ia baru tersadar ketika kameramennya menyenggol bahunya, Ale nampak salah tingkah namun ia berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin di depan kameramen itu yang bernama Hema.

“Dia cantik ya?” tanya Hema menaik turunkan alisnya.

“Kamu ini bicara apa sih?” tanya Ale kesal.

“Andai saja aku belum memiliki istri aku pasti ingin sekali mendekati Nyonya de Cano itu, dia baik hati dan tidak suka berpura-pura,” jawab Hema.

****

Ale tiba di rumah dan disambut oleh istri tercintanya yang bernama Hana Santillan, Hana menyuruh suaminya itu untuk segera mandi dan ia akan menyiapkan makan malam untuk sang suami namun Ale mengatakan bahwa tadi sebelum pulang ia sudah makan dulu, Hana nampak kecewa namun ia berusaha untuk tetap tersenyum pada suaminya itu.

“Oh begitu, kalau begitu kamu mandi saja dulu.”

“Baiklah.”

Ale dapat melihat gurat kekecewaan dalam diri Hana ketika ia mengatakan tadi ia sudah makan, selepas mandi Ale masuk kedalam kamar tidurnya dengan Hana, ia menemukan istrinya itu sudah berbaring diatas ranjang sambil menarik selimut hingga sebatas leher, Ale beranjak untuk tidur di sebelah Hana namun tidak ada reaksi dari wanita itu saat Ale sudah berbaring di sampingnya.

“Kamu marah padaku?” tanya Ale.

“Marah? Untuk apa aku marah padamu?” tanya Hana heran.

“Karena aku makan diluar,” jawab Ale.

“Kamu terlalu berlebihan, untuk apa aku marah saat tahu kamu sudah makan di luar, tapi ngomong-ngomong kamu keren sekali saat menyampaikan laporan di televisi tadi.”

“Benarkah?”

“Iya, aku selalu suka saat kamu melaporkan berita di televisi rasanya kamu begitu bersemangat memberitakan apa yang harusnya dunia ketahui.”

****

Keesokan harinya keluarga besar de Cano mengadakan rapat dengan pimpinan partai yang menaungi mereka dan partai koalisi untuk membahas langkah-langkah politik kedepannya, tentu saja sudah banyak wartawan yang mengerubungi tempat pertemuan di gedung DPP Partai Hijau yang menjadi tempat pertemuan, ketika mereka keluar dari gedung itu para wartawan menunggu pernyataan resmi dari sang Ketua Umum mengenai apa saja yang mereka bahas tadi di dalam namun tidak ada pernyataan resmi apapun yang dikeluarkan oleh mereka.

“Pak boleh tahu apa saja yang tadi di bicarakan di dalam?”

“Pak boleh minta komentarnya?”

“Apakah benar ini rapat untuk membahas langkah-langkah politis partai koalisi berikutnya?”

Namun berondongan pertanyaan para wartawan itu tidak dijawab oleh mereka semua, semuanya langsung masuk kedalam mobil dengan pengawalan yang ketat, para wartawan hanya bisa gigit jari karena mereka tidak mendapatkan berita apapun.

“Iya, mereka tidak memberikan pernyataan apa pun,” ujar Ale di telefon melaporkan bahwa mereka tidak menemukan apapun.

............

“Baiklah aku akan berusaha.”

TUT

Ale menghembuskan napas panjang, Hema nampak heran dengan apa yang membuat Ale seperti itu, Ale mengatakan bahwa mereka akan melakukan wawancara eksklusif dengan calon Gubernur dari partai Hijau yang kemarin sudah mendapatkan kemenangan versi hitung cepat, tentu saja Hema merasa heran karena mereka harus mewawancarai Carlota namun mereka tidak ada pilihan lain karena ini permintaan langsung dari Kepala Redaksi. Ale dan Hema menumpang mobil dengan logo stasiun televisi mereka menuju kediaman keluarga de Cano untuk kedua kalinya setelah kemarin mereka diminta datang untuk memberikan laporan mengenai kemenangan calon Gubernur dari partai Hijau ini, saat mereka datang petugas keamanan meminta agar Ale dan Hema segera masuk ke dalam karena mereka sudah ditunggu oleh Carlota di dalam, Ale dan Hema menganggukan kepalanya dan bergegas masuk kedalam rumah seperti apa yang disampaikan oleh petugas keamanan dan ternyata mereka memang melakukan wawancara ekslusif dengan Carlota dan tidak dimiliki oleh stasiun televisi lain.

“Selamat sore Bu,” sapa Ale pada Carlota yang sudah berdiri di teras rumahnya.

“Selamat sore, bisakah kita langsung mulai wawancaranya?” tanya Carlota.

“Ah iya,” ujar Ale memberikan isyarat pada Hema agar segera menyalakan kamera dan mereka bisa segera memulai wawancara dengan Carlota.

Tanpa sepengetahuan Ale dan Hema rupanya diam-diam, Anita memperhatikan Carlota yang sedang diwawancarai oleh Ale saat ini, Ale yang sebelumnya fokus memberikan pertanyaan pada Carlota merasa ada seseorang yang tengah memperhatikan dirinya sontak menoleh kearah Anita dan untuk kedua kalinya mereka kembali bertentangan mata.

Bab 3

Untuk kedua kalinya Ale dan Anita kembali bersitatap secara tidak sengaja baik Anita maupun Ale nampak terkesiap dan buru-buru mengalihkan pandangan masing-masing, Hema yang melihat gelagat aneh Ale itu berusaha untuk menahan diri agar tidak bertanya lebih lanjut mengenai apa yang terjadi karena saat ini mereka tengah melakukan sebuah wawancara yang penting dengan Carlota, pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh Ale pada Carlota dan tentu saja pertanyaan itu sudah dipersiapkan terlebih dahulu oleh Pimpinan Redaksi yang menyuruh Ale melakukan wawancara ini, semuanya bernuansa positif dan akhirnya wawancara selesai, Ale dan Hema berpamitan pada Carlota namun wanita itu menahan mereka berdua seraya memberikan dua buah amplop pada mereka, Ale dan Hema saling bertukar pandang saat memandang amplop yang disodorkan oleh Carlota tersebut seolah tahu apa yang saat ini tengah dipikirkan oleh keduanya Carlota bilang ini merupakan keikhlasannya dan mereka tidak perlu melaporkan pada kantor.

“Terima kasih Nyonya,” ujar Hema cepat.

“Tidak masalah, aku juga berterima kasih karena kalian sudah mau datang memenuhi undangan wawancaraku,” ujar Carlota dengan senyumnya.

“Kalau begitu kami permisi dulu,” ujar Ale.

“Silakan,” ujar Carlota masih dengan senyum mengembang di bibirnya.

Ale dan Hema nampak berseri-seri di dalam mobil karena mereka mendapatkan bonus dari wanita itu, Hema membuka amplop yang tadi diberikan oleh Carlota dan matanya seketika terbelalak saat menghitung jumlah uang yang ada di dalam amplop tersebut.

“Ada apa?” tanya Ale.

“Lihatlah jumlahnya,” jawab Hema.

Ale membuka amplopnya dan reaksi yang ia tunjukan sama persis dengan apa yang tadi terjadi pada Hema saat pria itu menghitung jumlah uang yang di berikan oleh Carlota tadi, senyumnya pun mengembang saat ini karena ia baru saja menerima sebuah hadiah dalam bentuk uang yang cukup banyak.

“Bagaimana?” tanya Hema penasaran.

“Seperti punyamu,” jawab Ale enteng.

“Benarkah? Coba lihat,” ujar Hema tak bisa percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.

Ale menunjukan amplop berisi uang yang tadi diberikan pada Carlota itu pada Hema yang tadi tidak percaya dengan jumlah nominal yang mereka terima itu ternyata sama.

“Jadi apakah kamu akan melaporkan ini pada kantor?” tanya Hema.

“Mungkin aku akan melakukan seperti apa yang Nyonya Carlota katakan,” jawab Ale.

Hema menyeringai dan menyikut Ale karena pria ini memiliki jalan pikiran yang sama dengannya, Ale dan Hema tentu tidak akan mau menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan uang secara gratis dari narasumber karena dari atasan mereka melarang tegas setiap wartawan yang datang meliput meminta imbalan sebagai balas jasa.

****

Sementara itu Anita terduduk di sofa ruang tengah, ia memikirkan tentang pertemuannya dengan wartawan yang pada saat itu tidak sengaja ia senggol karena terburu-buru dan malah membuat jus jeruk yang ia pegang malah tumpah ke seragamnya. Anita berusaha mengenyahkan bayangan itu namun hasilnya ia tidak berhasil, sosok wartawan itu mencuri perhatiannya, Berni mendekati Anita dan duduk disamping wanita itu, Anita mengalihkan fokusnya pada Berni dan bertanya pada putranya itu kemari.

“Ada apa sayang?”

“Aku bosan sekali, aku ingin bermain ke luar rumah.”

“Luar rumah?”

“Iya, boleh ya Ma?”

“Harus ada seseorang yang menjagamu ketika kamu keluar dari rumah sayang, saat ini tidak ada yang menjagamu jadi kamu harus tetap tinggal di sini saja ya.”

“Tapi aku bosan, tidak ada yang dapat diajak bermain, semuanya sibuk dengan urusan mereka sendiri.”

“Pokoknya Mama tidak akan mengizinkanmu keluar kalau tidak ada yang mendampingimu, kamu mengerti?”

Berni menganggukan kepalanya dengan berat hati, ia kembali ke kamarnya untuk bermain ponsel saja, Anita menghela nafasnya berat sebenarnya ia ingin membiarkan Berni bermain di luar namun bayangan tentang penculikan anak itu 2 tahun lalu masih tergambar jelas di dalam benaknya hingga membuatnya begitu trauma melepas Berni bermain di luar rumah.

****

Ale tiba di rumah dan disambut oleh Hana, wanita itu nampak heran dengan Ale yang nampak wajahnya berseri-seri saat pulang, Ale kemudian menceritakan bahwa ia mendapatkan hadiah dari narasumber yang ia wawancarai tadi, Ale memberikan amplop itu pada Hana dan wanita itu nampak terkejut saat melihat jumlah uang yang ada di dalam amplop tersebut.

“Kamu dapat uang sebanyak ini dari mana?”

“Bukankah sudah aku bilang tadi, itu dari narasumberku.”

“Kamu yakin? Siapa narasumbermu itu?”

“Carlota de Cano, calon Gubernur yang menang hitung cepat itu.”

“Dia wanita yang loyal ya.”

“Dari nada bicaramu sepertinya kamu cemburu ya.”

“Bukannya aku cemburu, hanya saja... aku jadi berpikiran yang tidak-tidak.”

“Oh tunggu dulu, jangan bilang kalau kamu curiga aku dan wanita itu memiliki hubungan?”

“Aku ....”

“Hana, itu tidak mungkin bukan hanya aku saja yang dapat itu namun Hema juga dapat, apakah aku harus menelponnya agar kamu percaya?”

“Baiklah aku percaya padamu.”

“Nah begitu dong, tenang sayang aku tidak akan mengkhianatimu.”

“Kalau begitu kamu mandilah dulu, aku akan menyiapkan makanan.”

“Baiklah.”

Setelah itu Ale bergegas menuju kamar mandi sementara itu Hana menatap getir sang suami, ia tahu itu hanya dugaan tak berdasar namun ia takut jika memang suatu hari nanti akan ada badai besar yang menghantam rumah tangga mereka.

****

Carlota begitu sesumbar di depan keluarga de Cano bahwa ia akan memenangkan pemilihan Gubernur itu ketika Lembaga Negara selesai menghitung suara sah yang dicoblos oleh para pemilih saat hari pencoblosan karena ia yakin bahwa hasil hitung cepat tidak akan meleset jauh dari hasil perhitungan resmi. Semua orang nampak bahagia namun hanya ada dua orang yang memasang wajah datar yaitu Anita dan Nino Julian Santibanez yang merupakan suami dari Carlota de Cano, pria itu nampak tidak sumringah sama sekali saat tahu istrinya selangkah lagi akan menjadi orang nomor satu di provinsi ini.

“Nino, kamu kenapa?” tanya Roberto yang melihat menantunya itu sejak tadi hanya diam.

“Aku sedikit lelah,” jawab Nino bohong.

“Kalau begitu kamu bisa kembali ke kamarmu saja,” ujar Francisca.

“Aku permisi dulu,” ujar Nino pergi dari meja makan.

“Ada apa dengannya?” tanya Roberto heran.

“Dia takut kalah bersaing denganku,” jawab Carlota.

Anita hanya diam dan sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun saat makan malam berlangsung dan memilih memasang telinga saja mendengarkan obrolan keluarga de Cano yang sangat terkesan sangat sombong dan merendahkan derajat Nino sebagai suami dari Carlota, entah bagaimana pria itu bisa tahan hidup dalam biduk rumah tangga yang tidak harmonis selama puluhan tahun dengan Carlota yang menyebalkan begitulah yang ada di dalam benak Anita.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED