Bianca meraih ponsel dari atas nakas, melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Matanya melirik pria yang masih tidur di sebelahnya. Lalu tanpa membuang waktu lebih lama dengan tubuh telanjang Bianca beranjak.
Masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian membungkus dirinya kembali dengan pakaian ketat yang semalam ia kenakan. Tangannya meraih cek yang terletak di sebelah ponsel lalu memasukkan keduanya ke dalam tas.
"Udah mau pergi?"
Suara serak dari pria yang masih terpejam itu membuat Bianca menoleh. Menjawab hanya dengan gumaman.
"Kapan-kapan lagi, ya?"
"Siapin aja uangnya," jawab Bianca sebelum membuka pintu hotel.
Wanita berparas cantik dengan tubuh sexy itu berjalan santai di lorong menuju lift. Suara sepatu hak yang dia pakai terdengar nyaring karena suasana yang sepi.
Bianca yang semula menunduk mengangkat wajah. Mata tajamnya langsung bertabrakan dengan seseorang yang berjalan dari arah berlawanan. Keduanya sama-sama berhenti di depan lift.
Pria itu yang menekan tombol lift, lalu tak lama pintu lift terbuka. Bianca berdiri di sudut dengan si pria yang berada di sudut berlawanan.
"Alone?"
Bianca melirik, menemukan tatapan pria itu yang memandangnya secara terang-terangan.
"Hm," jawabnya.
"Mau diantar?"
"No, thanks."
Jelas saja Bianca menolak. Mereka baru pertama kali bertemu. Ia memang sudah terbiasa pergi berdua dengan pria asing, namun, tidak pernah dengan pria yang tidak memberikan uang. Semuanya dalam hidup Bianca memang tentang uang.
Karena ia tidak ada waktu untuk memikirkan hal yang lain selain lembar kertas berharga itu.
Si pria yang awalnya berada di sudut itu mendekat, membuat Bianca menegakkan tubuh. Was-was.
"Ravindra," kata pria itu.
Bianca menaikkan sebelah alis. Menatap pria yang memperkenalkan diri itu dengan penuh tanya.
"What's your name?"
Orang bilang, sepertiga malam terakhir memang waktu yang magis. Mungkin karena itu kedua insan berbeda gender bisa mengobrol tanpa ragu. Meski sangat ketus tapi Bianca tetap menyebutkan nama.
"Bianca."
"Oke, Bianca." Ravindra menjilat bibir bawahnya. "Bye the way, partner sex mu liar juga."
Bianca tidak menunda untuk menoleh. Sedikit mendongak karena perbedaan tingginya dengan Ravindra.
Ravindra yang ditatap tajam seperti itu menunjuk leher dan pundak Bianca yang terekspos. "Itu merah semua."
Dan Bianca hanya memutar bola matanya. Ternyata hanya karena kissmark Ravindra tahu kalau dirinya telah bercinta. Tadinya wanita itu pikir, Ravindra tahu karena ada kamera yang dipasang dikamar tempatnya tadi.
Bukan tanpa alasan Bianca berpikir seperti itu karena dirinya pernah mendapat customer yang diam-diam menaruh kamera untuk merekam sesi bercinta mereka.
"Jeli juga penglihatan lo," balas Bianca sewot.
Setelah mengatakan itu, pintu lift terbuka. Bianca langsung keluar tanpa mengatakan apapun lagi. Tapi baru dua langkah, tangannya dicekal. Ia menoleh, melihat Ravindra yang juga menatapnya.
"Elo mau apa megang tangan gue?" tanya Bianca ketus.
Sikapnya memang tidak akan pernah ramah pada siapapun. Ia selalu menunjukkan cakar dan taringnya. Tidak peduli seberapa penting pria yang ia layani. Bahkan dengan Sarah, mami di club tempatnya bekerja saja Bianca tidak pernah sopan.
"Minta nomor," kata Ravindra. Pria itu menyerahkan ponsel. "Kali aja aku mau makek kamu."
Semua pria memang sama saja. Mendekati wanita sexy hanya untuk kepuasan nafsu.
"Gue mahal."
Ravindra mengangguk. Uang bukan masalah. Ia bisa memberikan berapa pun yang wanita itu minta.
"Mahalnya seberapa? Mau ditransfer sekarang? Berapa? Seratus juta? Eh, kemahalan ya segitu?"
Bianca mendengus kasar. Sudah biasa diremehkan seperti ini. Ia tidak merasa harga dirinya diinjak-injak. Tapi hatinya tetap merasa kesal karena tubuhnya yang sudah lelah dan mau tidur secepatnya, harus terkendala oleh pria asing yang hanya mampu menyebutkan angka seratus juta untuk dirinya.
Harganya jauh lebih mahal dari itu asal tahu saja. Dia adalah wanita penghibur VVIP yang tidak pernah mengecewakan. Dirinya hanya melayani pria kaya dan juga tampan.
Oke. Ia akui Ravindra memang tampan. Tapi apa pria itu juga kaya? Bianca memindai penampilan si pria. Kemeja merah maroon dan juga celana bahan hitam yang dipakai memang dari brand ternama. Jam tangan seharga ratusan juta dan juga bau parfum yang sangat langka.
Bianca mengangguk. Pria didepannya memang kaya. Maka, wanita itu langsung menyahut benda pipih berwarna hitam. Mengetikkan nomor dan langsung menyimpannya di ponsel Ravindra.
"Seratus juta mah cuma buat jajan cilok." Bianca mengembalikan ponsel milik si kaya. "Buat elo harga gue sepuluh miliar. Boleh chat kalau ada uang, kalau gak ada skip."
Setelah mengatakan itu, Bianca langsung berjalan pergi. Tanpa pamit dan tanpa menoleh. Pria dibelakang memang sayang kalau diabaikan tapi dirinya sudah sangat lelah untuk melakukan flirting.
Ravindra yang memperhatikan Bianca dari belakang tersenyum tipis. Mencium bau ponselnya yang ada sisa parfum Bianca. Dia boleh dibilang gila karena bisa-bisanya dirinya tersenyum dengan hati berdebar karena seorang pelacur.
***
Pukul enam sore Bianca sudah selesai dengan make up dan tatanan rambutnya yang ponytail. Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu berdiri dari kursi, mematut dirinya sekali lagi di depan cermin sebelum keluar dan mulai mencari pria kaya.
"Bi, ada yang nyari elo, tuh."
Bianca menoleh. Melihat Sarah yang berdiri di ambang pintu. "Siapa?"
"Katanya sih Ravindra."
Si cantik dengan rambut hitam itu mengernyit. Seperti pernah mendengar nama itu tapi lupa dimana. Bianca memang tidak memiliki ingatan yang bagus. Jadi, sebaiknya ia langsung menemui saja.
Siapa tahu pria yang bernama Ravindra itu kaya tujuh turuan dan sangat loyal.
"Dimana dia?"
"Di depan meja bartender."
Bianca langsung berjalan cantik melewati Sarah begitu saja. Tanpa ada ucapan terima kasih atau yang lainnya. Sarah biasa saja, hanya diam tanpa menegur lagi. Sudah hapal dengan sikap Bianca yang memang kurang ajar.
Malam itu Bianca memakai dress merah yang ketat tanpa lengan. Ia sengaja memamerkan lengan putih dan juga kaki sexy miliknya. Begitu keluar dari lorong gelap semua mata langsung memandangnya. Siulan nakal dan juga namanya yang dipanggil tidak membuat Bianca berhenti untuk menoleh atau tersenyum.
Dia memang sedingin itu. Tapi itulah daya tariknya.
Bianca langsung menuju meja bartender. Mata kucingnya yang tajam bisa melihat seorang pria duduk di kursi tinggi, membelakangi dirinya. Bianca benar-benar tidak ingat siapa pria itu meski rasanya pernah mendengar namanya.
"Ravindra?"
Pria yang dipanggil menoleh. Bianca membelalakkan mata, langsung ingat dengan wajah tampan di depannya.
"Gue kira siapa," kata Bianca lalu duduk di sebelah Ravindra.
"Kamu lupa sama aku?" tanya Ravindra tak percaya. "Baru dua hari lho ini."
Bianca mengedikkan bahu. Jangankan dengan pria dua hari yang lalu, dengan siapa dirinya kemarin bercinta saja Bianca tidak ingat.
"Engga harus kan ya gue inget sama wajah tengil kayak elo," balas Bianca cuek. "Jadi, mau apa nyari gue?"
Ravindra melengos. "Nomor yang kamu kasih itu salah. Makanya aku nyari kesini."
Bianca bergumam, nomor yang ia berikan waktu itu hanya asal. Dia memang tidak pernah memberikan nomor hape pada pria secara langsung. Semua lelaki yang menginginkan dirinya harus melewati Sarah lebih dulu.
"Kok tau gue ada disini?" tanya Bianca heran. "Elo pelanggan club sini?"
Ravindra menggeleng. "Bukan."
Bianca berharap ada kalimat lanjutan dari Ravindra sebagai penjelasan. Karena sekarang Bianca sangat ingin tahu. Tapi sepertinya si pria tidak berniat menjawab lebih banyak. Maka, ya sudah. Bianca bisa apa memangnya?
Ia terlalu malas untuk sekedar memaksa Ravindra menjawab lebih banyak.
"Jadi kesini mau minta nomor asli?"
Ravindra mengangguk. Tujuannya memang itu. Percaya atau tidak, Ravindra merasa stress sejak mencoba menghubungi Bianca tapi nomornya malah tertuju pada abang-abang tukang bakso.
"Engga bakalan gue kasih."
Ravindra mengernyit. Menopang kepalanya dengan tangan di atas meja.
"Kalau dikasih sepuluh miliar masih engga mau ngasih?"
Bianca tidak tahan untuk tidak memutar bola matanya. Entah kenapa jadi merasa sebal diingatkan dengan perkataannya sendiri. Padahal dia hanya bercanda waktu itu. Lagi pula pria gila mana yang akan memberikan harga setinggi itu untuk wanita yang sudah tidak perawan sepertinya. But, once again. Prioritas utama Bianca adalah uang, jadi, mari diiyakan saja.
"Boleh kalau situ mampu," balasnya cuek.
Bianca membalikkan tubuh, tidak lagi menatap bartender yang sedang menyiapkan pesanan. Dara cantik berusia dua puluh delapan tahun itu mengedarkan pandangan, mencari mangsa tentunya. Tapi di jam segini tidak banyak orang yang datang. Masih butuh beberapa jam lagi bagi Bianca untuk bisa meraih kantong pria kaya.
Ravindra mengikuti Bianca menatap dance floor.
"Sepuluh miliar dapat apa aja selain nomor kamu?"
Bianca melirik sekilas. Pembahasan sepuluh miliar masih berlanjut ternyata. Sebenarnya Ravindra ini banyak bertanya seperti itu untuk apa? Kalau cuma sekedar basa-basi Bianca bisa kesal nanti. Tapi kalau memang serius mau memberi sepuluh miliar, maka, Bianca rela melakukan apapun juga.
Masih ingat bukan kalau uang adalah segalanya bagi seorang Bianca Amaira.
"You can fuck with me."
Untuk seorang slut sepertinya, memangnya Bianca bisa memberikan imbalan apalagi selain having sex?
Ravindra baru pertama kali ini menemukan seorang wanita yang blak-blakan. Berbicara ceplas-ceplos tanpa khawatir akan dipandang seperti apa. Lagi-lagi Ravindra dibuat takjub dengan kepribadian Bianca.
Kakaknya bilang, sebagai keluarga dari Adiwijaya, Ravindra bisa melakukan apapun. Karena kekayaan keluarganya bahkan dirinya bisa membeli harga diri seseorang. Ravindra memang tahu kalau uang memiliki kuasa sebesar itu tapi dia tidak pernah menggunakannya semena-mena seperti sang kakak.
Meski kaya tapi Ravindra selalu penuh perhitungan dalam menggunakan hartanya.
Lalu kali ini, kenapa Ravindra malah seperti rela memberikan apapun setelah mendapat jawaban Bianca? Kenapa dirinya tidak masalah untuk kehilangan berapa pun uang asalkan Bianca bisa menjadi miliknya?
"Are you sure?" balas Ravindra dengan tatapan menggodanya.
Bianca mengumpat ketika senyum smirk si pria itu mengantarkan getaran pada jantungnya.
"Sure," jawab wanita itu menantang.
"Then be my slut."
Bianca menoleh, terkejut dengan kalimat sinting yang dilontarkan Ravindra. Oke, dia memang seorang slut. Jadi, tidak perlu bereaksi berlebihan.
Wanita itu berdehem, memainkan ujung rambut panjangnya.
"Gue emang slut kalau elo lupa," jawab si cantik. "Tapi khusus untuk elo, kalau mau bayar sepuluh miliar bisa lah tiga malam."
Ravindra menaikkan alis. Sepuluh miliar untuk sebuah nomor dan juga sex tiga malam? Bianca boleh juga kalau sedang memeras. Padahal, Ravindra yakin kalau harga Bianca tidak akan semahal itu. Bahkan meski dia adalah wanita penghibur VVIP. Dan juga kenapa Bianca menetapkan harga khusus untuknya?
"Deal."
Bianca menaikkan kedua alisnya. Deal? Semudah itu? Enaknya jadi orang kaya.
"Yakin? Sepuluh miliar lho?"
Ravindra tergelak. Kenapa jadi Bianca yang ragu seperti ini?
Pria itu mengeluarkan ponsel, mengulurkan pada Bianca yang masih bengong dengan wajah cantiknya. "Tulis nomor kamu dan juga nomor rekening. Aku akan transfer sekarang juga."
Bianca ingat dengan jelas kalau dirinya tidak pernah berbuat kebaikan sejak sepuluh tahun yang lalu. Ia yang dulu lugu dan polos berubah jadi bad girl yang liar di atas ranjang. Sikapnya juga tidak baik. Tapi, kenapa Tuhan memberikan dia kemudahan dalam mendapatkan sepuluh miliar seperti ini?
"Ayo cepat, aku harus pergi setelah ini," ujar Ravindra lagi.
Bianca mengerjap. Ini bukan mimpi, jadi, tanpa menunggu waktu lebih lama tangan putihnya meraih ponsel si lelaki. Mengetikkan real nomor ponselnya lalu mengetikkan juga nomor rekening miliknya.
Ravindra tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Ia mengambil ponsel yang dikembalikan Bianca.
"Ini beneran nomor kamu, 'kan? Nomor rekeningnya udah yakin bener? Nanti kalau salah uangnya gak akan sampek."
Mungkin memang daya tarik seorang Bianca sangat kuat sampai membuat Ravindra banyak bicara seperti ini. Padahal pria itu aslinya adalah orang yang irit bicara meskipun memiliki image ramah.
"Itu beneran. Sepuluh miliar mana mungkin gue lewatin gitu aja," balas Bianca sewot.
Ravindra mengangguk-anggukan kepala. Ia lalu sibuk pada layar ponselnya, mengabaikan Bianca sejenak. Tak berselang lama, pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Sudah ditransfer, buktinya udah dikirim ke nomor kamu." Ravindra tersenyum manis, menunjukkan giginya yang rapi.
Menurut Bianca, Ravindra sangat imut dan kelihatan polos jika tersenyum selucu itu. Tidak akan ada yang menyangka kalau Ravindra baru saja menjadikan dirinya slut untuk kepuasan pria itu.
"Gila, sih." Bianca menggeleng-gelengkan kepala. "Jadi penasaran elo sekaya apa."
Ravindra bergumam. "Kalau penasaran coba search keluarga Adiwijaya deh di internet."
Bianca pernah mendengar nama Adiwijaya sebelumnya. Ia yakin, sangat yakin kalau memang beberapa teman-temannya di club pernah membicarakan nama keluarga itu. Tapi, Bianca lupa.
Duh, kalau begini jadi kerasa tidak enaknya jadi orang pelupa.
"Nanti deh gue cari kalau masih penasaran," balas Bianca. Karena sebenarnya dia juga tidak terlalu peduli. Yang penting uang sampek ke rekeningnya.
"Jadi, malam pertama mau kapan?"
"Nanti kalau aku mau bakalan aku chat," balas Ravindra santai. Pria itu melihat jam di pergelangan tangan. "Aku harus pergi sekarang."
Bianca mengernyit tidak suka. "Tarik ulurnya lumayan juga," kata si wanita.
Ravindra terkekeh, tangannya mengusap kepala Bianca beberapa kali sebelum beranjak. Lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.
Bianca menatap kepergian Ravindra dengan pandangan kesal. Tidak pernah sebelumnya ia mendapatkan pria seaneh Ravindra. Selama ini jika para pria sudah membayar, maka, Bianca harus segera melayani waktu itu juga.
Pria kaya yang baru saja meninggalkannya memang aneh. Dia bersikap seolah memberikan uang sepuluh miliar bukanlah sesuatu yang sulit atau sayang. Bianca ingat, dia harus melihat ponselnya untuk membuktikan apakah Ravindra benar mengiriminya uang atau tidak.
Jangan sampai dia dipermainkan oleh pria lucu tapi juga sexy itu.
"Mau kemana?" tanya Sarah yang berpapasan di lorong. Bianca tidak menjawab, mengabaikan pertanyaan itu.
Sekali lagi, Sarah sudah biasa. Jadi ia hanya lanjut berjalan tanpa merasa tersinggung sama sekali.
Bianca membuka loker, meraih tas, lalu mengambil ponsel. Melihat notifikasi dari nomor tak dikenal. Ia mengerjapkan mata beberapa kali dan melakukan zoom pada layar ponselnya.
"Shit!" Bianca melempar kembali ponselnya ke dalam laci. "Sialan, gue ketipu."
Memang benar kalau Ravindra mengiriminya uang. Tapi tidak sepuluh miliar. Melainkan hanya seratus ribu.
Bianca memejamkan mata, menekan rasa kesalnya. Tak kunjung reda, ia menarik napas dalam-dalam sebelum membuangnya dengan perlahan. Tensi darahnya tidak boleh naik hanya karena pria gila yang baru ia temui itu.
"Gue sumpahin hidup lu gak berjalan lancar sebelum minta maaf ke gue," gerutu Bianca kesal.
Kok enak dia bisa mendapatkan nomor Bianca hanya dengan seratus ribu saja.
***
Ravindra melihat pesannya yang sudah dibaca oleh Bianca. Ia tersenyum tipis, membayangkan wajah kesal dan juga umpatan yang keluar dari bibir sexy Bianca. Ravindra belum pernah merasakan bibir menggoda milik wanita itu, tapi, ia sudah bisa tahu bagaimana memuaskannya bibir wanita cantik itu hanya dengan melihatnya.
Sepertinya memang Ravindra tidak boleh senang berlama-lama. Karena profil yang tadinya ada foto Bianca sekarang kosong. Ravindra menegakkan tubuh. Mencoba menghubungi nomor Bianca dengan panggilan telfon. Sialnya, panggilannya tidak masuk.
"Gue diblok."
Yang Ravindra bayangkan setelah mentransfer seratus ribu adalah pesan spam yang penuh makian dari Bianca. Bukan diblok seperti ini. Kalau begini kan Ravindra jadi panik sendiri.
"Sama siapa?"
Pria itu menggigit bibir, mengabaikan orang yang sedang bertanya padanya. Lalu tanpa berpamitan, ia beranjak. Meninggalkan seseorang yang terus meneriaki namanya sendirian di restoran.
Ravindra membawa mobilnya kembali ke club dimana Bianca berada. Ia masuk dengan terburu-buru ke dalam ruangan bising yang penuh orang mabuk itu. Bola mata cokelatnya mengedar, berusaha menemukan Bianca.
"Bianca mana?" tanya Ravindra pada wanita dengan pakaian hitam. Ravindra mengumpat dalam hati ketika si wanita bukannya menjawab tapi malah berusaha menggodanya.
"Gue tanya Bianca mana?" tanyanya menjadi tidak sabar. Ia menepis kasar tangan wanita itu yang berusaha meraih bagian privasinya.
"Ada di kamar VVIP lantai tujuh."
Ravindra berbalik. Ada wanita yang tidak kalah sexy menjawab pertanyaannya. Ia ingat, wanita itu adalah orang yang memanggil Bianca untuknya tadi. Tanpa mengatakan apapun, Ravindra langsung berlari menuju lift. Tujuannya adalah lantai tujuh, tempat dimana Bianca berada.
Padahal dirinya tidak perlu seperti ini. Tidak perlu mendobrak beberapa pintu hanya untuk mencari di kamar mana Bianca berada. Seharusnya Ravindra menunggu di bawah dengan tenang. Atau datang lagi keesokan harinya. Tapi seperti kerasukan setan, pria itu membuka dengan kasar satu-satunya pintu yang belum ia buka.
Napasnya tercekat ketika melihat Bianca yang hanya memakai dalaman sedang berciuman dengan seorang pria.
"Bianca!"
Bianca menoleh ketika namanya dipanggil dengan suara keras. Ingin tahu siapa bajingan yang sedang mengganggu dirinya bekerja. Alisnya langsung naik sebelah ketika menemukan Ravindra sedang menatap dirinya tajam.
Mau apa lagi pria ini?
"Antri dulu kalau mau juga," kata wanita itu ketus.
Pria yang seharusnya dilayani oleh Bianca sepertinya juga merasa kesal karena kegiatan panasnya diganggu. Padahal dirinya sudah mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan kesenangan terbaik yang bisa ditawarkan club ini.
Meski begitu, sepertinya si pria masih enggan untuk bangkit dari posisi terlentangnya di atas kasur.
"Berani banget, sih, elo ganggu?"
Ravindra mengernyit, mengenal dengan baik suara siapa orang yang sedang kesal padanya itu. Tanpa ragu Ravindra berjalan mendekat.
"Mau apa?" ketus Bianca. Tangannya berusaha mendorong tubuh keras Ravindra, tapi, gagal.
"Bajingan gila lu," ujar Ravindra marah. Ia menendang kaki si pria yang sedang berbaring di atas ranjang itu.
Bianca yang akan kembali menarik Ravindra keluar mengurungkan niat ketika Reza bangun dari posisi terlentang di atas ranjang. Lalu adegan selanjutnya yang Bianca saksikan adalah kedua pria itu yang saling menatap dalam diam.
Ravindra dengan tatapan sengitnya sementara Reza dengan tatapan herannya.
"Ngapain anak berbudi luhur kayak elo ke tempat ini?" tanya Reza heran. Ia mengenal Ravindra dengan baik. Mereka sahabat dekat sejak SMA dan setahu Reza, Ravindra bukan tipe lelaki yang akan mengunjungi tempat seperti ini.
Ravindra tidak suka jajan perempuan.
"Keluar lu sana," balas Ravindra tidak sabar.
Reza menaruh kedua tangan dipinggang. Tidak terima ia disuruh keluar begitu saja padahal hasratnya belum terpuaskan. Ia juga tidak mau rugi dengan membuang uangnya percuma.
"Enak aja lu kalo ngomong, gue ogah rugi."
Bianca yang diabaikan oleh dua lelaki itu mendengus. Dengan tenang, tanpa berusaha menutupi tubuhnya yang hampir telanjang, Bianca berjalan santai menuju sofa.
Meminum seteguk wine sembari menyaksikan kedua lelaki itu selesai berbicara.
"Gue ganti uang lo. Pokoknya elo harus pergi." Ravindra dengan keras kepalanya memang luar biasa menyebalkan.
Reza melengos. "Kenapa?"
Ravindra mengetatkan rahang. Tangannya siap melayang kalau Reza tidak segera pergi dari sini. Maka, dengan usaha terakhirnya menahan kesabaran, Ravindra menunjuk Bianca.
Wanita itu menaikkan sebelah alis ketika Ravindra dan Reza menatapnya, lengkap dengan jari telunjuk Ravindra yang mengarah padanya.
"She's mine, dude."
Bianca hampir tersedak ketika pria itu seenaknya mengakui dirinya sebagai miliknya. Atas dasar apa? Seratus ribu yang tadi ditransfer?
Reza yang terkejut juga jadi menegakkan tubuh. Punggung tangan kanan ia letakkan di dahi Ravindra yang langsung ditepis kasar.
"Elo Ravindra? Bukan robot yang lagi ngeprank, 'kan?" tanya Reza heran. Karena sumpah dia baru kali ini melihat Ravindra mengakui seseorang sebagai miliknya.
Reza melihat setiap sudut kamar, barangkali ada kamera tersembunyi untuk merekam kelakuan bejadnya. Lalu akan Ravindra gunakan untuk memanfaatkan dirinya mungkin.
"Elo bilang apaan, sih? Mending keluar sana," ucap Bianca ketus.
Ravindra menggeleng. Mengambil baju Bianca di lantai lalu melemparkannya pada wanita itu. "Pakai baju cepetan."
Reza masih merasa kesal dengan tingkah Ravindra. Temannya itu sudah mirip seperti seorang ayah yang menemukan putrinya akan berbuat hal kotor. Benar-benar menyebalkan karena mengganggu kesenangan.
Bianca tetap tidak bergerak menuruti Ravindra untuk mengenakan pakaian. Dirinya kemari untuk melayani Reza, jadi, dia akan memakai pakaian jika pria yang membayarnya itu menyuruh.
Ravindra juga sepertinya cukup peka dengan keadaan Bianca. Jadi, dia dengan menekan amarahnya memberikan kode pada Reza. Meminta pengertian. Dan walaupun Reza sama sekali belum paham dengan sikap temannya, ia tetap mengalah.
"Gue butuh penjelasan yang jelas, ya!" peringat Reza sebelum dirinya memakai pakaiannya kembali. Ia berniat menghampiri Bianca sebentar untuk sekedar memberikan kecupan. Namun, Ravindra malah menarik kerah kemeja miliknya dari belakang.
Reza berdecak kesal. "Sorry, honey. Mungkin lain kali," ujar Reza penuh sesal.
Bianca hanya mengangguk sebagai jawaban, tatapannya mengikuti Reza yang keluar kamar.
Sekarang satu-satunya pria yang berada di dalam kamar itu mendekat pada Bianca. Namun, belum sampai menjatuhkan bokongnya pada kursi si wanita berdiri. Memakai pakaiannya dan merapikan rambutnya yang acak-acakan.
"Gue pergi," kata wanita itu dingin. Moodnya sudah rusak sekarang.
Ravindra menahan tangannya. "Ngapain pergi?"
"Reza udah pergi jadi gue gak dibutuhin lagi disini."
Ravindra menghela napas. "Kan ada aku."
Bianca menatap mata tajam Ravindra dengan aneh. Seriously? Pria ini bisa mengatakan seperti itu dengan mudah? Memangnya kenapa kalau ada dia di kamar ini?
"Gue hanya akan berada di kamar bareng cowok yang udah bayar gue," balas Bianca sarkas. "Jadi, lepasin tangan gue sekarang."
Ravindra tidak mendengarkan. Ia malah mencengkeram tangan Bianca lebih kuat. Sama sekali tidak ada niat untuk melepaskan Bianca malam ini. Karena itu akan membuat si wanita menemukan pria lain yang membayarnya, lalu mereka akan bercinta.
Membayangkannya saja sudah membuat Ravindra merasakan panas.
"Penggila uang sekali," ujar Ravindra tanpa sadar.
Bianca yang sedang badmood menjadi kehilangan kendali. Kaki yang sudah kembali memakai high heels itu menginjak kaki Ravindra dengan keras. Membuat si pria mengaduh dan spontan melepaskan tangan Bianca.
"Jangan berani muncul lagi di depan gue," kata Bianca tajam memperingati. Tapi sepertinya tidak berpengaruh sama sekali pada Ravindra. Terbukti dengan pria itu yang malah memasang wajah aneh lalu menggeleng.
"Aku engga suka dilarang, Bianca."
"Gue juga gak suka kalau elo ngerusuh kayak gini. Inget, ya. Kita tuh gak saling kenal, cuma sekedar tau nama masing-masing."
Wajah putih Bianca sangat merah sekali sekarang. Dadanya bergemuruh dan darahnya terasa panas sekali. Amarah sudah mencapai puncaknya. Kalau Ravindra tidak segera menghilang dari hadapannya, Bianca mungkin akan mendorong pria ini dari jendela.
Lumayan kan kalau terlempar dari lantai tujuh? Pria itu bisa patah tulang atau bahkan kehilangan nyawa.
"Kalau begitu ayo mulai saling mengenal," kata Ravindra dengan lembut. Berusaha mengambil hati Bianca tidak dengan kekerasan.
Bianca berdecih. Tidak sudi. Dia tidak akan menjalani hubungan yang tidak akan menguntungkan dirinya sama sekali.
"Gue gak tertarik," jawab Bianca cuek. Lalu wanita itu memilih berbalik, ingin segera pergi dari kamar itu. Tidak tahan kalau harus melihat Ravindra lama-lama.
"I'll pay."
Langkah Bianca berhenti.
Ravindra berjalan mendekat. Berdiri di depan Bianca yang enggan menatapnya. Ravindra tidak keberatan. Ia malah mengeluarkan dompet, mengeluarkan sebuah kartu hitam, dan menaruhnya di telapak tangan Bianca.
Wanita itu jelas tahu benda apa itu.
Black Card.
"Be mine and i'll pay everything you want." Ravindra membawa wajah Bianca untuk mendongak. Mempertemukan mata mereka. "Termasuk hutang keluargamu. Aku akan membayar semuanya."
Mata Bianca membelalak, terkejut karena Ravindra mengetahui tentang hutang keluarganya. Padahal selama ini Bianca tidak pernah memberi tahu siapa pun kecuali Sarah.
Lalu bagaimana si pria kaya dan super sexy ini mengetahuinya?
"Hutangnya sangat banyak dan gue juga boros. Elo pasti akan bangkrut."
Ravindra tersenyum miring. Mengusap bibir menggoda Bianca dengan ibu jarinya.
"Akan butuh waktu lama untuk menghabiskan uangku, babe," balas Ravindra berbisik. Suaranya yang husky membuat Bianca merinding. Apalagi ketika pria itu dengan berani mengecup bibirnya singkat.
"So, be mine?"