Bab 1

"Ya ampun, bisakah kau berhati-hati sedikit?"

Luna berusaha menahan amarahnya yang terasa meledak saat gaun putih yang ia kenakan, terkena tumpahan anggur dari bahu hingga ke bawah pinggang oleh seorang pria di depannya.

Kini gaun putih itu tak hanya basah, melainkan juga memperlihatkan bekas warna merah di titik tumpahan dan sekitarnya. Sementara pria yang menumpahkan anggur itu hanya memasang ekspresi santai. Bahkan rasa bersalah pun sepertinya tidak ada. Luna mengenali orang yang terkenal angkuh itu adalah CEO dari sebuah perusahaan Furnitur besar. Aria Pamungkas, ia beberapa kali mendengar namanya di kalangan sesama pengusaha.

Awalnya Luna mengira soal sifat angkuh pria itu hanya gosip dari orang-orang yang mungkin tidak menyukainya. Namun, malam itu ia merasa sudah bisa menilai sendiri bagaimana kebenaran soal gosip tersebut.

"Aku tidak sengaja. Jika kau mau, aku bisa membayar ganti rugi beberapa kali lipat dari harga gaunmu."

Pria dengan raut seperti serigala itu nyatanya memang tidak merasa bersalah sedikitpun. Meski orang-orang di sana menatap pada mereka.

"Aku tahu kau orang kaya. Tapi sayang sekali etikamu sangat kurang." Luna menatap lurus pada mata pria itu.

Aria mengangkat satu alisnya yang tebal, seraya balas menatap pada wanita itu. Perasaannya sedikit terusik dengan kata-kata barusan. Sorot manik hitam setara dengan warna rambutnya mulai menajam. Belum pernah ada wanita yang berani melawan atau mengatainya seperti demikian.

"Pak, kita sedang di tempat ramai-" Pria di samping Aria yang merupakan sekretarisnya, mencoba untuk melerai. Namun tangan Aria lebih dulu terangkat, mengisyaratkan agar diam dulu.

Tetapi tatapan Aria tak lepas satu detik pun dari Luna. Dan Luna sendiri tampak tidak takut sama sekali dengan pria di depannya. Tidak peduli siapa orang tersebut. Baginya semua orang itu sama saja. Sama-sama manusia dan setara.

Meski tidak kenal akrab, Luna tetap tidak suka dengan kelakuan orang yang angkuh seperti Aria.

Orang-orang yang melihat mereka mulai cemas dengan kemungkinan situasi lebih buruk.

"Kak, ini tempat umum. Ayolah kita pergi saja. Demi aku."

Remaja laki-laki berusia sembilan belas tahun berbisik pada Luna seraya mencoba menarik tangan sang kakak dengan hati-hati. Fero tahu bahwa sangat berbahaya jika kakaknya sedang marah. Tapi kali ini ia akan berusaha untuk membujuknya sebisa mungkin.

Dan untungnya berhasil. Luna mau mendengarkan adiknya dan perlahan meninggalkan pria yang bersitegang dengannya. Meski raut wajahnya masih menunjukan bahwa ia tetap menantang pria itu.

Orang-orang mulai merasa lebih lega saat itu. Karena acara peresmian hotel sudah menjadi menyebalkan bagi Aria, maka ia pun memutuskan untuk segera meninggalkan tempat tersebut.

"Hei, menurutmu siapa yang akan menang jika mereka berdua meneruskan yang tadi?" Seorang tamu mencolek temannya sambil masih memandang kepergian Aria dan sekretarisnya dari aula besar itu.

"Apa yang kau bicarakan? Tentu saja kita tidak tahu karena mereka gagal berdebat. Bu Luna juga tidak kalah hebat dalam berdebat. Kecuali ..." Temannya menimpali seraya memasang ekspresi menggoda.

"Kecuali apa?"

"Tidak jadi. Sudahlah, kita pulang juga."

.

"Dia tidak selevel denganku. Hanya seorang pemilik restoran," ujar Aria.

Dia masih agak kesal dengan wanita tadi yang ternyata berhasil mengusiknya walau sedikit.

"Abaikan saja Pak." Sekretarisnya yang mengemudi menimpali, "Tidak perlu diambil hati."

"Benar. Tapi dia berhasil memancingku," timpal Aria.

.

"Seharusnya Kakak tidak usah melayani pria sombong itu. Apa Kakak sedang ada masalah sekarang?"

Fero melirik sekilas pada Luna yang duduk di sampingnya. Sementara tangannya fokus pada kemudi. Ia sengaja menawarkan diri untuk menemani sang kakak pergi ke sebuah acara undangan peresmian hotel. Bukan kali ini saja ia melakukan itu, melainkan beberapa kali. Karena kakaknya adalah seorang pebisnis, maka acara undangan yang berkaitan dengan kewirausahaan adalah hal yang sering ia datangi.

Luna memang memiliki bisnis di bidang kuliner yaitu restoran seafood besar dengan lima cabang di beberapa kota. Ia merintis usaha tersebut ketika usianya menginjak dua puluh empat bersama mendiang sang ayah.

"Tidak ada. Sikap pria itu memang menyebalkan. Jika dibiarkan, ia akan semakin menjadi-jadi."

Meski begitu, jawaban tersebut tidak sepenuhnya benar. Ada hal yang sebenarnya membuat Luna pusing saat ini, dibandingkan sikap seorang CEO angkuh tadi. Dan hal tersebut cukup krusial.

.

"Apa yang sebenarnya terjadi sih? Kok bisa-bisanya pengeluaran bisa sebesar itu?"

Hari itu, hari sebelumnya, dan hari berikutnya, Luna dibuat pusing oleh kabar laporan keuangan restoran miliknya yang sudah mulai memasuki zona kolaps. Tetapi suatu hari, apa yang sebenarnya terjadi, terbongkar pula dengan cepat. Karena salah satu staff-nya memberikan informasi yang cukup membuat dirinya tak menyangka.

"Kita bisa melakukan penyelidikan pada manager anda, Bu. Maaf sekali saya harus mengatakan ini."

Lalu nantinya berita tersebut akan tetap menyebar pada banyak pihak, terutama di kalangan para pebisnis meski Luna dan timnya berusaha agar berita tersebut tersembunyi dari sorotan media dan orang-orang. Berita yang mengatakan bahwa bisnis restoran nona Luna hampir bangkrut dan hendak ditutup akibat kecurangan salah satu pegawai senior yang merupakan karyawwn kepercayaannya. Banyak orang yang akan mendengar kabar tersebut, dan di saat tersebut pula, ia akan mendapatkan masalah atas hidupnya.

.

Pria bertubuh tinggi dengan rambut sedikit terpotong rapi dan wajah campuran itu baru saja tiba di kantornya. Ia memasuki lift dan telah tiba di ruang kerja meski saat itu waktu baru menunjukan jam enam lewat dua puluh sembilan pagi. Begitulah Aria, ia kebanyakan datang lebih pagi daripada rata-rata karyawannya sendiri. Sebagai anak yang didapuk menjadi pimpinan perusahaan sejak usia dua puluh enam tahun menggantikan sang ayah yang meninggal karena kecelakaan, Aria sudah dibiasakan untuk disiplin dalam menjalani kewajiban dan tanggung jawab pekerjaan.

Itu dilakukannya karena ia sangat mencintai mendiang sang ayah. Karenanya ia bertekad melakukan yang terbaik demi aset yang diwariskan terhadapnya. Bagi Aria sendiri, perusahaan properti milik ayahnya bukan hanya sekadar gengsi dan kebanggaan atau simbol kekayaan dirinya meskipun orang-orang banyak yang melihat ia sebagai kalangan atas dengan sifat angkuh. Namun perusahaan itu, bagi Aria adalah sebuah kenangan besar yang dititipkan oleh orang yang paling ia cintai di dunia ini.

Karena sedari ia berusia balita, hingga menjelang tahun ayahnya meninggal, Aria selalu diajak ke perusahaan properti tersebut untuk sekadar berbincang atau makan bersama. Kebetulan sekali Aria dan sang ayah sangat dekat dikarenakan oleh beberapa faktor.

Pertama karena Aria adalah anak tunggal mendiang sang ayah. Ayah Aria adalah pria yang tidak pernah menikah dalam seumur hidupnya. Sementara Aria sendiri lahir bukan atas restu dan keinginan yang kuat dari kedua orang tuanya. Ibu Aria malah hampir melakukan aborsi saat anaknya berusia satu bulan di dalam kandungan jika sang ayah tidak mencegah dan memohon mati-matian agar anak mereka tidak dibunuh.

Setelah Aria lahir, sang ayah mengambilnya untuk merawat dan membesarkan, dan bersamaan dengan itu, ibu Aria berpisah dengan sang kekasih dikarenakan hubungan mereka yang memang sulit sedari awal.

Ibunda Aria tidak bisa menikah dengan ayah Aria dikarenakan orang tuanya tidak merestui. Mereka (orang tua ibu Aria) meminta wanita itu menikah dengan seorang pebisnis yang bisa menyelamatkan keluarga mereka dari ancaman kebangkrutan. Karena cintanya pada keluarga, wanita itu memilih untuk meninggalkan kekasihnya dan menikah dengan pria yang dipilihkan orang tua demi baktinya.

Semenjak perpisahan tersebut, ayah Aria tidak pernah mencari wanita lain meski hatinya terluka. Dia lebih ingin fokus mengurus usaha serta membesarkan sang anak semata wayang.Dan setelah sang ayah tiada dikarenakan insiden kecelakaan yang menimpanya, Aria merasa sangat kehilangan.

Bab 2

Media berita

Senin. Adalah awal dari semua hari yang sebagian besarnya dipenuhi oleh kesibukan aktivitas setiap dari masing-masing orang dan kelompok. Di mana segala urusan bisnis perusahaan, usaha kecil, pendidikan, dan sebagainya, berjalan dengan serentak. Namun, siapa sangka hari itu adalah hari yang kurang mengenakan bagi beberapa orang di dunia ini. Salah satunya adalah bagi Luna.

Hari itu, beberapa media cetak dan elektronik, mengabarkan sebuah berita tentang penutupan empat cabang restoran seafood milik pengusaha wanita muda itu. Berita tersebut tak dapat dielakkan. Karena keadaan yang memang demikian adanya. Saat kabar tersebut mulai tercium baunya di kalangan pelanggan dan pengunjung, beberapa dari wartawan media langsung sibuk berburu keterangan dari si pemilik restoran. Meminta penjelasan untuk bahan topik berita.

Sedangkan Luna sendiri saat ini tengah dipusingkan dengan usahanya yang terancam mengalami kebangkrutan. Dia telah mengambil langkah awal dengan menutup empat cabang restoran miliknya yang terdapat di kota Solo dan Surabaya. Sementara satu cabang di kota Jakarta masih bisa bertahan walau entah sampai kapan. Dengan penutupan tersebut, Luna sangat menyesal karena harus merumahkan beberapa karyawannya, yaitu seluruh orang yang bekerja di empat cabang yang telah ditutup tersebut.

Apalagi, Luna dibuat sakit hati dengan kasus ini. Karena penyebab dari kekacauan usahanya tersebut, ternyata adalah orang-orang kepercayaannya sendiri. Adalah para karyawan yang bertugas di bagian keuangan yang melakukan kecurangan tersebut. Tiga orang karyawan yang dipercayai oleh si pemilik restoran untuk memajemenkan dana restoran itu dengan cerdasnya memanipulasi data hingga berbulan-bulan tanpa diketahui oleh siapapun.

Lalu betapa Luna sangat menyayangkan bahwa manipulasi tersebut baru diketahui seminggu yang lalu. Dia sangat menyesali kebodohan dan keteledorannya. Baru ketika usahanya sudah tergerogoti hampir setengahnya, semuanya terlihat.

Tiga orang itu telah mengakui bahwa mereka memang menyadap dana restoran setiap bulan untuk kepentingan pribadi masing-masing. Ketiganya bekerjasama dengan amat luar biasa membohongi si pemilik usaha dan seluruh staf. Namun meski mereka menyesal, penjara dan denda tetap berlaku.

Tetapi permintaan maaf serta rasa sesal yang diucapkan oleh orang-orang itu, Sepertinya hanya sekadar basa-basi formalitas kepada si atasan dan para mantan rekan kerja. Sejatinya mereka mungkin tidak pernah berniat untuk bertanggung jawab. Karena setelah manipulasi itu terbongkar, mereka bertiga menghilang sama cerdasnya dengan teknik manipulasi yang mereka ciptakan. Tanpa jejak sama sekali. Mereka lari entah ke mana dan menghindari tanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.

Para penyidik bahkan hampir tak bisa menemukan jejak mereka. Seolah tiga orang tersebut memiliki kekuatan supernatural yang hebat hingga dapat menghilang begitu saja.

Hal tersebut, tepatnya pengkhianatan mereka, sungguh menyakitkan bagi Luna. Karena selama bertahun-tahun ia mengelola usaha miliknya, dia telah mempercayai mereka. Ia merasa dirinya yang teramat bodoh karena selama ini terlalu percaya dan tidak menaruh curiga sedikitpun. Bahkan dia seolah tidak memegang sedikitpun kewaspadaan terhadap tiga orang tersebut. Tiga orang yang ia anggap dekat sebagai karib, kini telah menusuknya dari dalam.

Jadi bukan hanya kesedihan dan kebingungan yang dirasakan oleh seorang Luna, melainkan juga rasa sakit hati atas pengkhianatan dari orang yang dia percayai.

Kini, ia harus mencari solusi untuk menyelamatkan bisnisnya dengan satu tempat tersisa. Dan dibutuhkan dana besar untuk mengatasi masalah tersebut, belum lagi membayar utang dan kerugian kepada para supplier. Tetapi, yang lebih dia pikirkan daripada bisnis itu sendiri adalah, keluarga dan karyawannya. Luna memiliki dua adik yang masih duduk di bangku SMA dan kuliah, juga seorang ibu yang tengah sakit-sakitan. Ditambah, karyawan yang masih bekerja padanya di satu cabang tersisa. Mereka pastilah sangat cemas dengan keadaan satu cabang tersebut yang terancam ditutup, menyusul empat cabang lainnya. Mereka pastilah khawatir dengan ancaman kehilangan mata pencaharian sebagai sumber penghasilan. Beberapa di antara karyawan tersebut pun pasti adalah seorang tulang punggung keluarga yang sangat diandalkan dalam masalah keuangan. Tentu tak mudah mencari pekerjaan baru setelah ini, apalagi di negara ini. Luna sangat paham dengan hal tersebut, karena ia sendiri berada di posisi sebagai tulang punggung keluarga. Dia mengerti betapa menyebalkannya kehilangan pekerjaan yang sangat dibutuhkan. Meskipun terkadang pekerjaan tersebut tidak menyenangkan atau benar-benar disukai.

Jadi berdasarkan hal tersebut, Luna memutuskan untuk bertekad mencari solusi atas permasalahan yang tengah ia alami, demi mempertahankan usaha miliknya yang tersisa. Bagaimana caranya.

Dan hal tersebut Sepertinya akan segera menemukan jalan. Karena kabar kebangkrutan usaha miliknya tersebut berhasil menarik perhatian seseorang ketika beritanya telah terdengar cukup lantang di media massa.

.

Adalah Aria Pamungkas si presdir angkuh dan sombong yang termasuk ke dalam jajaran orang yang cukup tertarik perhatiannya dengan kasus kebangkrutan usaha restoran seafood milik Luna. Well, sebenarnya dia juga hanya melirik sekilas saat kasus itu mulai bergulir. Dan tidak berminat untuk menyimak urusan pebisnis lain. Namun, begitu salah satu stafnya mengatakan bahwa pemilik usaha restoran yang sedang terancam kebangkrutan total tersebut adalah wanita yang membuatnya kesal beberapa waktu lalu, Aria jadi ingin melirik lebih lanjut. Awalnya dia tertawa sinis mendengar berita tentang nasib wanita yang dianggapnya menyebalkan tersebut. Lantas ia yang sedikit ingin tahu tentang identitas si wanita menyebalkan pemilik restoran, akhirnya mencari informasi pribadi tentangnya.

Seperti kebanyakan manusia di bumi ini, Aria pun terkadang akan merasa ingin tahu lebih detail dan lebih jauh jika dia sedang membenci atau menyukai sesuatu ataupun seseorang. Maka dari itu, dia yang sebenarnya sibuk mengurus bisnis properti miliknya sendiri, dengan sempatnya mengobrak-abrik berbagai sumber pencarian untuk mencari data diri wanita pemilik restoran seafood yang hampir musnah. Bahkan ia tak ragu untuk meminta stafnya mencarikan apa yang ia mau. Tidak peduli jika menurut orang lain itu terdengar aneh atau mencurigakan.

Yang terpenting bagi Aria, dia membayar orang yang ia mintai jasanya. Bukan secara cuma-cuma. Karena Aria adalah seorang yang cukup memperhatikan tenaga dari orang yang dia pekerjakan. Bukan sebaliknya, meremehkan dan menggampangkan tenaga seorang pekerja.

"Dia puteri dari pasangan suami-istri bernama Alinea dan Agustinus, Pak. Ini, saya cetak sedikit informasi yang saya dapat."

Pria yang menjadi sekretaris Aria itu menyerahkan satu lembar kertas HVS yang terbungkus oleh map plastik warna hijau stabilo.

Aria segera menyambarnya dengan cepat. Hingga membuat sekretarisnya sedikit kaget. Namun, Aria menyambar benda tersebut bukan karena kertas berisi informasi tentang si wanita pengusaha seafood itu sangat penting baginya. Melainkan karena Aria mendengar nama "Agustinus" yang disebut oleh sekretarisnya barusan.

Bab 3

Aku memiliki sebuah rencana

Pukul 23.14

Luna masih terdiam di kamarnya. Matanya yang masih terjaga sedari tadi pun tak juga menunjukkan tanda-tanda ingin mengajak beranjak ke alam mimpi. Padahal, wanita berusia tiga puluh empat tahun dengan gaya rambut panjang berponi itu belum sempat tertidur satu jam pun sedari siang tadi.Ia terus terjaga dengan pikirannya yang kini tengah banyak memproduksi kecemasan. Tetapi ia memang sengaja membuat dirinya tak tertidur sepanjang hari dengan meminum kopi murni yang rasanya pahit, yang akhirnya mampu mengusir rasa kantuk.

Karena wanita itu kini tengah memeras otak demi menemukan solusi untuk menyelamatkan bisnisnya yang selangkah lagi akan tumbang. Dia sedang mencari pinjaman untuk jumlah dana yang sungguh sangat tidak bisa dikatakan sedikit untuk memperbaiki keuangan bisnisnya. Ia telah mencoba dan memikirkan untuk meminjam dana pada beberapa orang yang dikenalinya, namun kebanyakan dari mereka tidak sanggup dengan pinjaman dana yang diajukan olehnya. Mereka memiliki beragam alasan, mulai dari karena tak memiliki uang sebesar yang diminta Luna, tak bisa meminjamkan karena takut serta tidak mempercayai Luna, atau juga karena mereka tidak yakin, disebab mereka juga takut nantinya kehilangan uang besar yang dipinjamkan.

Sementara Luna sendiri sangat memperhitungkan dengan matang dengan rencana dirinya yang meminjam sejumlah dana sangat besar tersebut. Dia juga memikirkan banyak faktor resiko jika dia berhasil mendapatkan dana tersebut. Salah satunya dia berpikir apakah nanti ia sanggup mengganti dana besar yang dipinjam tersebut?

Ia juga bertanya-tanya apakah usahanya akan bisa bangkit setelah peminjaman tersebut, hingga mampu melunasi hutang?

Luna merasa semuanya kacau dan serba salah. Ia seperti berada dalam jalan yang buntu. Dia tak bisa meminjam pada semua rekan bisnis yang dia kenali. Dikarenakan ia tahu bahwa beberapa di antara mereka pun banyak yang menaruh rasa benci yang Luna sendiri belum tahu apa alasannya. Benci tanpa sebab. Mungkin salah satunya karena tidak suka dengan kesuksesan wanita itu. Ya, itu adalah salah satu alasan yang masuk akal. Karena seperti kata pepatah yang memberikan nasihat bahwa tidak semua kawan baik bahkan saudara sendiri suka dengan apa yang kita capai. Di antara mereka banyak yang hanya bersikap baik dan mendukung di depan, namun di belakang, mereka sangat membenci kita. Sangat tidak suka dengan pencapaian orang dekat mereka sendiri. Bahkan tak jarang dari mereka yang berusaha untuk menghancurkan atau menjatuhkan saudaranya yang telah mendapat sebuah pencapaian.

Maka dari itulah, Luna sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan saat ini, sekalipun dirinya sedang berada pada posisi yang teramat sangat membingungkan, memusingkan dan pastinya tidak diinginkan oleh siapapun. Siapa pula orang di dunia ini yang senang jika usaha yang dia rintis dari nol, kini terancam hancur dan hilang?

Sementara usaha tersebut adalah salah satu hal terpenting dalam hidup kita. Jika ada yang suka dan bahagia dengan mengalami kondisi seperti demikian, maka orang tersebut tidak bisa dikatakan orang yang waras. Dia sinting. Karena malah senang dengan masalah besar.

Sekali lagi dikatakan. Luna merasa sedang berada di jalan yang buntu. Posisinya serba salah. Jika dia tidak menyelamatkan usahanya yang tinggal tersisa satu, maka semuanya akan bertambah runyam. Dia mungkin akan kehilangan sumber penghasilan sementara membangun bisnis baru tidak semudah membalikan telapak tangan. Tetapi dia mencari dana pinjaman pun takut dan itu cukup sulit.

Maka saat itu, di malam ketika dia tak juga terlelap disebab oleh permasalahan yang tengah dihadapi, Luna mendapatkan sebuah pesan email yang entah adalah sebuah keberuntungan yang akan menyelamatkan usahanya, atau ...

Pesan di dalam inbox email itu tidak terlalu banyak. Hanya berbunyi :

[Hai. Aku tahu kau sedang dalam kesulitan. Aku mendengar kabar tentang bisnismu di banyak media berita. Nah, jika kau butuh bantuan dengan sejumlah dana yang besar, maka datang saja ke alamat ini]

Mata Luna mengulir ke bagian bawah surat tersebut, yang menyertakan sebuah alamat salah satu tempat yang berada di kota Jakarta. Namun, saat matanya menyapu habis seluruh tulisan di surat elektronik tersebut, Luna tak menemukan si pengirim menyertakan namanya untuk memberitahu.

Wanita itu kemudian menutup surat elektronik tanpa membalasnya. Lalu menaruh laptop ke atas meja dengan agak kesal. Dia merasa sebal karena di tengah dirinya yang sedang menghadapi kesulitan besar, masih ada orang yang sepertinya ingin bercanda dengannya. Meski dia yakin banyak orang yang dia kenal di luar sana yang saat ini tengah merasa senang dengan kabar tentang kebangkrutan usaha miliknya.

Itu tak bisa disangkal. Suka atau tidak, faktanya memang banyak orang yang tidak senang dengan Luna dan pencapaiannya selama ini. Bisa jadi, email dari tanpa nama si pengirim tersebut adalah merupakan keisengan orang-orang kenalannya atau saingan bisnisnya. Bisa saja mereka sedang merayakan kebangkrutan usaha milik Luna. Maka dari itu, salah satu dari mereka mengirim sebuah surat jahil. Siapa yang mau menerima tawaran bantuan dari orang misterius? Bukankah itu terdengar menakutkan?

Luna kemudian merebahkan tubuhnya ke atas kasur dan menarik selimut. Ia telah memutuskan untuk memaksakan matanya agar segera tertidur meski rasa kantuk di matanya sangatlah sedikit. Karena tetiba dia mengkhawatirkan kesehatannya. Dia teringat tentang begadang dan tidur terlalu larut malam yang akan membuat kesehatan tubuh terganggu. Jadi dia menjadi lebih peduli, tak ingin kesehatan tubuhnya ikut tumbang seperti bisnisnya saat ini. Karena dirinya harus tetap hidup untuk mengurus keluarga serta bisnis tersebut. Apapun yang terjadi. Ya, apapun yang terjadi dan apapun caranya.

Apapun?

Tetiba Luna membuka kembali matanya yang baru saja hendak membawa ke alam mimpi. Dia beringsut dari tempatnya berbaring dan tangannya meraih laptop yang telah ditaruh tadi di atas meja lalu mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Lalu membuka kembali surat elektronik di dalam email dari orang yang tidak diketahui namanya. Si pengirim misterius. Disapunya seluruh isi surat itu kembali dengan mata yang kini tidak mengantuk lagi.

Dan saat di bagian yang sudah habis dari isi surat, ia menatapi dengan agak lama.

"Siapa sebenarnya yang mengirim ini?" gumamnya.

Apakah orang yang mengirim surat tersebut serius ingin membantunya atau hanya sekadar iseng. Luna tahu alamat email miliknya pribadi bukanlah sesuatu yang dia privatkan. Karena memang banyak orang yang bisa menghubunginya lewat itu. Tetapi ia yang saat ini memang sedang sangat membutuhkan bantuan, tidak bisa mengabaikan pesan tersebut begitu saja. Ia yang meskipun benci mengakuinya, malah berharap bahwa pesan tawaran bantuan tersebut terlihat konyol baginya itu adalah sungguhan dari orang yang benar-benar ingin membantunya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED