Bab 2

Eropa, 2010

Kan kutemukan dirimu, walau kuharus menerjang segala sesuatu yang ada di dunia ini ... Tak peduli jika sampai membutuhkan berapa abad pun takkan kubiarkan kau menderita sendiri karena kau adalah .... 

"Ah!?" Ku bangun dari tidur.

"Mimpi itu lagi ..."  Gumamku. Tanpa kusadari setetes air mata mengalir di pipi.

" Selalu saja setelah memimpikan mimpi itu ..." Ucapku sembari mengambil tisu dan mulai menyeka jejak air mata ini. Sudah 3 tahun ini aku sering memimpikan hal itu. Suara lembut yang kurindukan ..., tapi aku tak tau itu suara siapa? Wajahnya pun terlihat samar dan aku tak bisa membuka mataku, karena terasa berat. Ah! Cuma mimpi juga. Aku pun bersiap untuk menjalani jadwal hari ini. Namaku Nea aku seorang gadis biasa berumur 23 tahun, yang memiliki kesibukan sebagai seorang Mahasiswi di sebuah Universitas yang ada di kota tempatku tinggal. Aku mengambil studi Arkeologi.

Kata Ibu, aku adalah seorang gadis berambut hitam keunguan yang panjang dengan bola mata berwarna merah muda. Aku tidak tahu, mengapa bola mataku berbeda dengan anggota keluargaku.

Hanya aku dan Kakak laki-lakiku saja yang memiliki bola mata berwarna merah muda ini. Sedangkan kedua orang tua serta Adik-adikku memiliki bola mata berwarna merah. Walau bola mata Kakak berukuran lebih gelap. Yaa ... Katanya sih ini kelainan genetik yang langka gitu, tapi Ibu bersyukur, bahwa kami tumbuh dengan sehat tanpa ada masalah. Aku sayang Ibu. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku serta tiga Adik yang manis. Aku juga memiliki seorang Kakak laki-laki. Tapi sekarang sudah tinggal sendiri karena lebih dekat dengan tempat kerja.

Yah ....

Kadang pulang ke rumah untuk melepas rindu dengan membawa banyak hadiah untuk kami. Hm... Dia Kakak yang terbaik. Dia sangat peduli dengan keluarganya, terutama kami Adik-adiknya. Ibuku bernama Sarah dan Ayahku Nathaniel. Sedangkan Adik-adikku yang manis bernama Ella, Ellard dan Liz. Ellard dan Liz adalah saudara Kembar. Untuk Kakakku, dia bernama Theo. Dan kami tinggal di kota Valetia yang ada di Eropa Selatan. Kami adalah Keluarga Rozenweits. Jam 6 pagi, saatnya aku membangunkan Adik-adikku dan membantu mereka bersiap pergi ke sekolah. Segera aku berjalan menuju kamar mereka.

"Ella, Ellard, Liz ... Ayo bangun, sudah pagi sayang." Ucapku sambil membuka pintu mereka dan melihat mereka yang mulai bangun.

"5 menit lagi, Kak ..." Jawab Ella sambil menarik selimut untuk menutupi wajahnya. Ellard dan Liz yang duduk di tempat tidur, karena sudah bangun. Hanya memandangi Ella, bersamaku yang memelototinya.

"Kak bangun. Kak Nea serem, lho." Bisik Ellard yang menarik-narik selimut Ella.

"Ampun Kak, Ampun." Ucap Ella yang langsung membuang perhatiannya ke arah mana dan duduk sambil merapatkan kedua tangan di depan wajah.

"Oke, cepat bereskan tempat tidur kalian, sayang." Mereka bertiga dengan cepat merapikan tempat tidur.

"Beres Bos." Ucap mereka serentak setelah menyelesaikan apa yang kuperintahkan.

"Tidak, Ayo siap-siap untuk sekolah." Akupun membantu ketiga Adikku untuk bersiap, selesai bersiap kami sarapan bersama kedua orang tua kami.

"Ayo makan Ella! Kamu kemarin nggak makan siang kan? Sekarang harus makan." Ucapku sambil tersenyum.

"I-iya Kak ..." Ella langsung makan sarapannya dengan lahap.

"Hm ..." Aku memberikan senyuman termanis ke Ella. 

"Seram ..." Gumam si Kembar yang sedang memakan sarapannya.

"Apa sayang?" Aku menoleh ke si Kembar.

"Ti-tidak Kak, Kakak cantik deh." Jawab Ellard.

"Makasih sayang. Kan Kakak memasang senyum termanis sekarang, jadi pasti cantik lah." Ucapku dengan bangga.

"Hehe ... Iya Kak." Setelah itu Ellard menghabiskan sarapannya. Jam 7 mereka berangkat sekolah. Aku mengantarkan Adikku ke sekolah mereka sesampainya di sekolah Ella. Aku menepikan mobilku, lalu berkata pada Ella.

"Maaf El, Kakak nanti tidak bisa dihubungi Ella sepulang sekolah. Karena Kakak harus mengerjakan tugas dari kampus." Ucapku dengan cemas.

"Baik Kak, Kakak jangan khawatir. Nanti Ella akan pulang bersama teman Ella." Balas Ella sambil tersenyum dan turun dari mobil. Ella pun masuk ke sekolah sambil melambaikan tangan ke Kakaknya. Akupun membalas dengan lambaian tangan juga. Kemudian aku pergi ke kampus.

Sesampainya di tempat parkir mobil, Nea langsung memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju ruang kelas. Saat di lorong, ia tiba-tiba dihadang oleh seorang cowok yang ... Um ... Seperti jagoan kampus gitu ....

"Nea, Malam ini kau nganggur kan?" Ucap si cowok sambil berdiri dihadapannya.

"Maaf aku sibuk." Jawab sambil mencoba untuk melewatinya, akan tetapi cowok itu masih tetap menghadang Nea.

"Ayolah kuajak kau keluar untuk healing." Rayu cowok itu.

"Tidak terima kasih aku sudah ada janji dengan seorang lelaki." Masih berusaha melewatinya, tapi tetap sulit.

"Ha! Siapa cowok itu?" kata  dengan geram.salah satu lelaki preman kampus dengan geram.

"Oh, Dia tampan dan rupawan. Ia lembut serta berwibawa, matanya Biru Saphire, Rambutnya hitam seperti pekatnya malam. Lalu dia bukan kau!" Kataku seraya melewatinya dan masuk ke kelas. Penjelasan tentang ucapannya tadi, saat ia di kelas dan tidak memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan.

"Yang kusebutkan tadi, ciri-cirinya siapa ya? Aku seperti pernah mengetahuinya, tapi siapa...?" Batinku saat tenggelam dalam pikiran.

"Yak Nea Jelaskan apa yang dimaksud dengan Aelius?" Ucapkan dosen yang membuyarkan pikiranku.

"Aelius yang berarti Matahari adalah nama dari sebuah Istana yang berada di Eropa Selatan, memiliki luas sekitar 30.000 meter persegi."

"Ok, cukup." Potong Pak Ahad saat aku menjelaskan.

"Baik Pak." Aku kembali larut dalam pikiran.

Usai kelas ....

"Hei, Nea! Kamu tadi kenapa? Pak Ahad si dosen killer itu sampai nunjuk kamu tadi?" Celetuk seorang cewek bernama Dea di belakangku.

"Mungkinkah dia menguji pengetahuanku?"Jawabku sambil memutar mata ke arah lain."Duluan ya, aku harus pergi." Imbuhku sambil keluar kelas.

Pukul 3 di museum. Aku sudah berada di tempat, dimana aku harus meneliti serta mempelajari tentang sejarah yang ada disini.

"Hm ... Istana Aelius. Mari kita mulai~" Ucapku dengan semangat dan mulai memasuki Istana. Setelah membayar biaya masuk.

"Aelius, seperti kataku sebelumnya. Adalah sebuah nama dari Istana yang berarti Matahari. Memiliki luas 30.000 meter persegi. Dengan panjang 130 meter dan tinggi 50 meter ini adalah Istana Kerajaan Aeterna pada masa 1810. Kerajaan Aeterna yang berarti Abadi. Tapi menurutku tak abadi, kecuali Istana ini sih" ucapku dalam hati sambil mengelilingi dan melihat-lihat bagian dalam Istana. Istana yang sudah diterangi gemerlap cahaya, saat aku mulai masuk. Membuatku terkesima. Kuedarkan pandangan. Ada beberapa orang juga yang mengunjungi Istana ini.

Yaa ... Istana Aelius termasuk Istana yang indah namun memiliki sejarah kelam.

"Istana ini luas sekali sih? Tidak bisa membayangkan mereka pas zaman itu, saat ingin ke toilet." Aku tertawa kecil saat membayangkan hal itu.

"Ukh?! Tempat ini ..." Saat tiba di Hall tempat biasanya diadakan. Aku terdiam, entah mengapa aku merasakan suatu perasaan yang aneh. Aku merasakan nostalgia, sedih, marah ... Aku hanya bisa bersandar di dinding menuju ketenangan.

"Huufft ..." Setelah aku kembali tenang, akupun melanjutkan perjalananku untuk menjelajahi Istana ini. Hal-hal menarik dan penting aku catat di catatan.

"Hm... Hm~" Tak terasa kakiku membawaku ke sebuah ruangan. Hm ... Bisa dibilang ini kamar raja deh, sepertinya. Ruangan yang terlihat sangat mewah, dengan banyak hiasan yang gemerlap. Tempat tidur mewah, sepertinya sangat nyaman. UPS, tak boleh dicoba. Ruangannya masih terawat. Padahal sudah 2 Abad berlalu. Akupun melihat-lihat sekeliling ruangan. Dan...

"Maaf Nona. Kami mau tutup." Ucap seorang penjaga yang mengagetkanku.

"Ah?!Ah? Maaf, baik terima kasih Pak."Jawabku sambil keluar ruangan dan kembalilah di jalanan yang kulalui tadi.

"Ke arah mana ini tadi?"Gumamku yang mencengangkan sambil clingukan melihat sekeliling, mengingat-ingat jalan yang kulalui.

"Ah!Kesini."Ucapku dengan PD nya.

"Lah? Dimana ini?" Aku yang semakin bingung saat tiba-tiba di sebuah ruangan lain. Ruangan ini gelap, hanya ada penerangan dari cahaya bulan. Saat aku melihat isi ruangan itu. Aku seperti melihat sesosok laki-laki berambut perak yang sedang melihat keluar jendela, tampak jelas rembulan disana.

"Permisi."Namun saat saya hendak bertanya ke arah jalan keluar pada orang itu. Tiba-tiba..

"Nona, nona sedang apa disini?" Aku dikagetkan oleh suara Penjaga Istana ini.

"Ah? Saya tersesat."Jawabku sambil melihat ke arah jendela yang terbuka disana.

"Bukan ke arah sini Nona. Mari ikuti saya." Ucapnya seraya berjalan lebih dulu.

"Ah?Baik." Akupun menjaga sambil berpikir." Tidak ada siapa-siapa disana tadi? Padahal aku yakin melihat seseorang disana. hanya halusinasiku saja memang." Batinku sambil menganggapnya tak penting.

"Tidak. Ini pintu keluarnya Nona." Seru penjaga yang membuyarkan lamunanku.

"Terima kasih banyak Pak." Ucapku sambil keluar dan menuju ke parkiran. Tak terasa, menjelajahi

Istana Aelius membuatku lupa waktu, hingga jam 9 malam begini. ya ... Aku segera pulang, tidak khawatir. Akupun mempercepat langkahku.Namun tiba-tiba aku dihadang oleh Michael. Si cowok yang tadi pagi juga menghadang ku. Dih, jantan banget.

"Minggir kau! Aku mau lewat." Ucapku dengan tenang."Kenapa? Mana tuh cowok yang kamu bilang tadi, Nea? Katanya ada janji dengannya. Ternyata Kau ke Istana ini." Michael bicara seolah sedang mengamatiku.

"Masalah? Aku tuh nggak suka sama kamu. Emang ya, semua harus diucapkan dengan jelas. Biar otak bodohmu itu bisa nyambung." Balasku sambil berjalannya.

"TONGKANG?!" Michael menghidupkanku dengan mencengkram erat tanganku.

"Lepasin!!" Akupun memberontak untuk menarik tanganku. Namun Michael semakin memperkuat cengkramannya. Saat itu aku melihat ada sesosok laki-laki di belakang Michael. Aku tak bisa berkata apa-apa, karena apa yang dilakukan itu mudah sekali. Hanya dalam satu kedipan mata, Michael sudah tersungkur di tanah. Tanganku sudah bebas dari Michael, tapi malah berpindah ke tangan seorang laki-laki.

"Terima kasih sudah membantu saya. "Ucapku sambil tersenyum dan saat melihatnya. Bola mata berwarna abu-abu yang indah, layaknya bulan yang berkabut. Melihat mata itu, aku seperti merasakan perasaan rindu yang mendalam. Hingga tanpa sadar kuteteskan air mataku. Dia terbelalak saat aku mengungkapkan. Namun setelah itu, ekspresi sedih yang terlihat di wajah. 

"Maaf Tuan? Terima kasih telah membantu saya." Ucapku untuk kedua kalinya yang membuat kesadarannya kembali.

"Maafkan aku. Ya, sama-sama. Lain kali hati-hati." Lelaki itu mulai berjalan pergi dari tempatku berada. Aku hanya bisa memandangi dia yang menjauh. Badan yang tegap dan gagah. Rambutnya yang berwarna silver...? Seperti... 

"Ah?Jam berapa ini? Aaaa ... Jam 10 malam. Aku harus segera pulang." Ucapku yang akan tayang hari yang sudah larut. Dengan panik, aku segera menuju tempat mobilku terparkir. Sesampainya di rumah ....

"Maafkan aku Ibu, Ayah. Aku lupa waktu karena terlalu menjelajahi Istana Aelius.

"Ucap yang sampai rumah jam 11.

"Hm ..." Kedua orang tuaku hanya melihat kedua mataku saja.

"Dah sana tidur!" Ucap Ibu.

"Baik Bu." Jawabku yang kemudian menuju kamarku. Di kamar, aku hanya bisa berbaring sambil membayangkan kejadian tadi. 

"Lelaki itu siapa ya? Entah mengapa aku seperti pernah bertemu dengannya." Pikirku. 

"Suaranya pun seperti pernah ... Ah!? Suara lelaki yang ada dimimpiku. Iya. Suaranya mirip orang tadi." Aku terus berpikir dan mulai merasa ngantuk.

"Apa cuma perasaanku saja ya? Entahlah. Aku lelah. Mau tidur saja. "Akupun masalah sambil menarik selimut dan kemudian mematikan lampu kamarku. Akupun mulai terlelap dalam tidurku. 

Malam itu aku memimpikan mimpi yang lain. Sebuah Hall luas yang sudah nampak ramai orang. Mereka semua memakai pakaian yang indah dengan aksesoris yang terlihat sangat mahal. Mereka semua berhubungan tentang entah apa aku tak tau. Karena aku tak bisa mendengar doa mereka. ketika lagu dansa pertama dimainkan. Ada seseorang yang menghampiriku dan berkata.

"Maukah Anda berdansa denganku, My Lady?" Ajaknya dengan lembut dan sopan.

"Dengan senang hati saya mau, Pak." Akupun menerima ajakannya untuk berdansa. Kami berdansa mengikuti irama musik. Entah mengapa, saya tidak melakukan kesalahan saat berdansa. Seperti saya sudah hafal ritmenya. Saat lagu selesai. Kami berdua saling memberikan rasa hormat satu sama lain. Dan para tamu undangan yang lain secara bersamaan memberikan tepuk tangan kepada kami. Aku merasa sangat bahagia. Karena bisa bersamanya..

Halo semuanya bagaimana ceritanya? Apakah menarik? Nantikan episede selanjutnya yaa ....

Bab 3

Dalam kesepian ini,

Ku sendirian ditelan sepi,

Dalam sunyi malam,

Teringat senyum indahmu yang menawan,

Ratusan tahun telah berlalu,

Hati ini telah membeku,

Bersama segala kenangan tentangmu,

Yang terpatri abadi,

Bersama jiwa terkutuk ini.

Terlihat sesosok laki-laki yang sedang duduk menghadap setumpuk dokumen di atas meja kerjanya.

Hm ... Rutinitas yang sama setiap hari. Membaca berkas, memeriksa laporan, mengawasi setiap perusahaan dan banyak lainnya. Kalau sudah melakukan ini sejak lama, bosan rasanya. Pandanganku beralih ke benda disampingnya. Kupandangi gelas wine di atas meja yang berisi cairan merah itu. Aroma menyengat, membuat rasanya tak enak. Tapi semua rasanya begitu.

"Menjijikkan seperti biasa. Yaa ... Rasa terenak sudah menghilang berabad lalu." Batinku seraya membuang cairan merah itu ke wastafel.

"Kok dibuang, Bang? Sayang banget." Ucap seorang lelaki yang sedari tadi duduk di sofa sambil menghadap laptop. Kupandang sinis dirinya.

"Kenapa ribut? Urus semua dokumen dengan benar. Jangan main game mulu kerjaanmu." Dia hanya nyengir sambil tetap memainkan laptopnya.

"Beres, Bang. Tenang aja." Jawabnya sambil nyengir.

Kulanjutkan memeriksa setiap laporan. Hingga pandanganku terpaku pada satu laporan. Yang mana mengingatkanku pada suatu kenangan. Kenangan indah saat pertama bertemu dengannya.

"Istana Aelius ..." Gumamku sambil membalik tiap halaman dan membacanya dengan seksama.

"Apa, bro?" Cowok tadi mendongak dan melihat ke arahku.

"Nggak ada. Selesaikan kerjaanmu, Vartan." Balasku seraya memberikan senyuman termanis.

"Ampun Bang. Iya, Bang. Aku selesaiin." Timpalnya dan dia kembali fokus ke layar laptopnya, jari jemarinya menari kesana kemari mengurai dan menyusun setiap kata.

"Bagus." Akupun kembali membaca laporan tadi.

"Permintaan dana untuk perawatan Istana? Sepertinya harus dicek. Bener nggak nya." Gumamku sambil berpikir. 

"Lebih baik aku pergi sendiri saja. Daripada menyuruh Vartan yang harus menyelesaikan pekerjaannya." Aku pun langsung beranjak dari tempat duduk dan pergi keluar.

"Eh? Mau kemana, bro?" Tanya Adikku.

"Keluar. Mau mengunjungi tempat kenangan." Balasku.

"Eeeh? Ikut bro." Rengeknya.

"Hm ..?" Aku memberikan dia senyuman termanisku.

"Ng ... Nggak Bang. Aku mau menyelesaikan kerjaan aja." Ucapnya dengan ciut.

"Anak pintar." Aku yang sudah sampai tempat parkir, segera menuju mobilku berada.

Mobilku melaju menuju ke Istana Aelius yang berada di Eropa Selatan itu. Tempat bersejarah sekaligus tempat yang penuh kenangan, jika menyingkirkan kenangan buruk. Pukul 3.15 sore, aku sudah sampai di Istana Aelius. Istana megah nan mewah yang dibangun di atas tanah dengan luas 30.000 meter ini memiliki sejarah yang panjang. Yah ... Itu menurut sejarawan.

Aku pergi ke kantor pengawas Istana Aelius. Kantornya berada tepat di samping Istana. Aku langsung masuk dan menemui kepala pengawas. Dan menanyakan yang ada di berkas pengajuan itu.

"Pak CEO, selamat datang." Pengawas menyapaku.

"Hm ..." Jawabku yang bosan. Aku langsung menuju ke ruangan Pengawas.

"Pak CEO Rosura. Mendadak sekali Anda datang kesini. Silakan duduk Pak." Ucap kepala pengawas mempersilakanku.

"Pak pengawas. Apa berkas pengajuan ini benar?" Tanyaku langsung tanpa basa-basi pada kepala pengawas.

"I ... Iya Pak. Beberapa bagian Istana ini harus dirawat karena mulai usang." Jawabnya dengan takut.

"Sebutkan bagian mana yang harus dirawat?" Aku mulai mendengarkan penjelasannya. Yaa. Sebenarnya semua itu ada di berkas pengajuan sih.

"Oke. Tunjukkan semua bagian itu." Ucapku yang sudah beranjak dari tempat dudukku.

"Baik Pak. Mari saya antar." Jawabnya sembari menunjukkan jalan.Kami mulai memasuki Istana Aelius pada pukul 5 sore. Istana megah yang dihiasi dengan lampu-lampu indah. Ya ... Dulu kupikir Istana ini yang terindah. Tapi setelah berkeliling dunia, masih ada dan banyak Istana indah lainnya.

"Eh? Lihat tuh. Itu kan Pak CEO." Ucap seorang pegawai wanita ke salah satu temannya, saat aku melewati mereka.

"Pemuda yang tampan ya. Rambut hitam sepekat malam, mata berwarna biru saphire, wajahnya tampan, badan tegap dan gagah. Di usianya yang 23 tahun ini dia sudah menjadi seorang CEO. Namun kudengar sifatnya dingin. Sudah banyak wanita yang mendekatinya, tapi ia abaikan. Serta, dia dikenal sebagai orang yang menyeramkan."

"Dan beliau juga memiliki seorang adik, bernama Vartan." Imbuhnya dan temannya hanya bisa memandang takjub dan takut padaku yang sudah jauh dari tempat mereka. Yah ... Itulah aku. Bagaimanapun tak ada yang bisa menggantikannya. Perempuan yang sudah berhasil membawa pergi hatiku untuk selamanya. Aku mengikuti Alex si Kepala Pengawas. Sambil melihat sekelilingku. Sungguh suasana yang membuat nostalgia. Kami pun memasuki Aula, tempat digelarnya pesta dansa pada zaman dahulu. Dekorasi yang ada disini sedikit berubah. Ya ... Dulu Istana ini sempat hampir hancur. Karena usang dan dimakan usia. Tapi karena aku menyukai Istana ini, jadi kuselamatkan saja. Karena aku tak mau, kenangan-kenangan itu lenyap. Satu persatu bagian Istana yang harus dirawat dan diperbaiki diperlihatkannya padaku. Akupun mengamati segalanya dengan seksama. Dan terkadang perhatianku teralihkan karena sekelebat kenangan lalu. Dinginnya lantai marmer yang kulalui. Menambah hening yang menguasai hati. Lukisan-lukisan yang menghiasi tiap lorong, menatapku tajam seolah mengolok diri ini. Mencaci dengan tatapan mereka yang penuh kepalsuan ... 

"Dan ini yang terakhir Pak." Iapun menunjukkan sebuah ruangan yang merupakan tempat istirahat raja. 

"Oke, Semua akan saya urus. Terima kasih sudah menunjukkannya." Ucapku pada Alex.

"Sekarang Anda bisa kembali ke ruangan Anda." Imbuhku.

"Baik Pak. Saya permisi dulu." Diapun pergi membiarkan aku sendiri, kulihat jam tanganku, pukul 7.30 malam. Hm ... Tak terasa malam telah datang. Aku beranjak dari ruangan ini dan menyusuri lorong Istana ini lagi. Aku berkeliling sembari mengenang kenangan kala itu.

Tak peduli kaki membawaku kemana, aku terus menikmati setiap sudut kenangan yang ada di Istana ini. Hingga aku sampai di sebuah ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya bulan.

"Hm?" Aku memasuki ruangan tersebut, hingga ke jendela yang menampakkan sang Dewi malam.

"Bulan yang indah ..." Kupandangi ia, hingga terkenang masa itu. Saat ku melihatmu, kau cantik bagaikan sekuntum mawar putih yang berada direngkuhan pekat malam. Mata merahmu yang indah, berbinar layaknya langit malam yang dihiasi bintang. Suaramu yang lembut, membuatku terpanah saat kau berbicara. Tak kusangka, hatiku telah dicuri saat purnama bergelayut di langit malam itu ... Kesedihan tiba-tiba menguasai hatiku. Kesepian ini menyiksa. Tanpa kusadari, rambutku berubah warna. Ah ... Jiwa terkutuk ini ...

"Permisi." Sebuah suara yang lembut mengagetkanku. Suara yang sangat kurindukan. Namun ....

"Maaf Nona. Nona sedang apa disini." Seorang penjaga Istana menegur perempuan itu. Seketika itu juga aku menghilang, keluar dari ruangan itu dengan cepat. Aku tak mau jati diriku terungkap.

Namun aku penasaran, suara yang kudengar tadi. Seperti suaranya. Saat aku memikirkan hal itu. Aku mendengar teriakannya. Dengan refleks, tubuhku bergerak sendiri ke tempatnya berada. Aku berhenti agak jauh dari tempatnya berada. Aku lihat keadaannya. Dia sedang dipaksa oleh seorang laki-laki. Lelaki itu dengan kasar menarik dan mencengkeram erat pergelangan tangannya. Aku yang merasa marah, dengan cepat membuat cowok itu terpental dan jatuh tersungkur di tanah tak sadarkan diri. Saat aku sadar, tanganku menggenggam tangan perempuan itu. 

"Terima kasih telah menolong saya, Tuan." Ucapnya sembari memandang dengan wajah yang kurindukan. Senyumnya yang menawan, membuatku terbelalak, tak percaya dengan apa yang kulihat ini. Tiba-tiba perasaan kalut menyelimuti hatiku. Dia meneteskan air mata, membuatku tersadar dari lamunanku.

"Maaf, Tuan? Terima kasih telah menolong saya.

" Ucapnya sekali lagi dengan suara lembut. Aku melepaskan tangannya dan berkata ... 

"Ah?! Maafkan aku. Ya, Sama-sama. Lain kali hati-hati." Aku beranjak dari tempat itu. Sebelum aku melakukan hal yang bisa melanggar hukum, karena telah memeluk seorang gadis. Kulihat dia yang sudah naik ke dalam mobilnya dan segera melaju ke jalanan. Kuhampiri lagi tempat tadi. Dan saat mendekat, aku menemukan kartu tanda mahasiswa.

"Aku akan melindungimu Alba-ku." Ucapku seraya membawa kartu tadi. Aku langsung menuju mobilku berada dan segera melajukannya di jalanan malam.

Sesampainya di rumah, aku melihat Vartan yang masih bangun dan fokus main game di laptopnya. Akupun hanya melewatinya dan segera duduk di kursi meja kerjaku. Aku langsung memasukkan nomor ID mahasiswi nya.

"Nea Rozenweits ..." Gumamku.

"Heh? Apa Bang?" Sahut Vartan.

"Aku nggak ngajak kau ngobrol, Tan." Jawabku yang kemudian mengerjakan sesuatu di laptop ku.

"Iya deh iya, bro." Vartan menjawab sambil cemberut.

"Hm ... Udah beres kerjaannya?" Imbuhku seraya menatap Vartan.

"Be ... lum .. Tinggal dikit kok Bang." Ucapnya agak takut.

"Segera selesaikan." Balasku yang kembali berkutat dengan laptop.

"Siap Boss!" Balasnya yang kemudian serius mengerjakan pekerjaannya.

Sebuah kenangan terngiang di pikiranku. Di sebuah taman di Istana Aelius, terlihat sesosok gadis yang sedang duduk di kursi taman mengamati bulan. Rambut hitam panjang keunguan. Mata berwarna merah besar berbinar seperti dipenuhi bintang. Sifatnya yang anggun nan lembut. Suaranya yang merdu. Saat itu aku begitu canggung. Andai saat itu aku tak seperti keledai. Pasti aku bisa mengenalmu lebih awal. Sayang, waktu tak bisa diputar kembali. Namun, aku tak akan membiarkan waktu itu terulang kembali. Selamanya Hanya dirimu yang kan selalu kan ku tunggu karena tanpamu diri ini tak bernyawa hanya kaulah jiwaku hati ini T'lah membeku saat kepergianmu, namun kini telah kutemukan kembali jiwaku yang hilang dan kan kupastikan dirimu bahagia, tanpa harus merasakan penderitaan lagi

~♪~

Bersambung ....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED