Tiiingg...
Lonceng kedai camilan itu berbunyi, menandakan adanya pengunjung yang datang. Pintu terbuka hingga menampakkan sosok lelaki tampan yang tersenyum tipis sambil membawa buket bunga mawar merah di tangannya.
Dia adalah Mark Andreas, laki-laki berusia 26 tahun yang kini menjabat sebagai direktur utama di perusahaan milik keluarga nya sendiri.
Senyuman manis di wajah tampan Mark tak pernah pudar. Laki-laki itu berjalan menuju kasir kedai menghampiri seorang gadis cantik berambut hitam panjang yang juga sedang tersenyum tipis melihat dirinya. Gadis itu adalah kekasih Mark. Relia Wijaya, si cantik berusia 24 tahun yang sudah berpacaran dengan Mark selama 3 tahun terakhir ini.
"Apa kamu sudah selesai?" Tanya Mark pada kekasihnya itu.
Relia mengangguk kecil dan tersenyum. "Iya, baru saja aku selesai berkemas," Sahutnya.
Mark memberikan buket bunga mawar yang ia bawa. "Ini untukmu. Happy anniversary, sayang..."
Relia sangat tersentuh dengan perlakuan manis Mark padanya. Meski bukan hal yang besar dan istimewa, tapi itu sudah cukup bagi Relia.
Mengingat Relia selama ini juga tidak pernah mendapatkan perhatian atau kasih sayang dari siapapun.
"Terimakasih," ucap Relia sembari menerima buket bunga mawar itu.
Mark hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya senang.
"Kamu mau mengajakku kemana?" Tanya Relia kemudian.
"Hanya jalan-jalan sebentar. Akhir-akhir ini aku selalu sibuk dengan pekerjaan ku. Aku ingin meluangkan waktu bersama dengan mu," jawab Mark.
"Baiklah. Aku akan bersiap sebentar dan menutup kedai," sahut Relia dan bergegas menyelesaikan sisa pekerjaannya.
Mark tersenyum dan mengangguk. Ia pun duduk di kursi kosong pelanggan menunggu Relia selesai membereskan semua pekerjaan yang tersisa.
Sepasang manik Mark tidak luput memandang gadis cantik yang sedang sibuk itu. Meski mereka sudah lama berpacaran, tetapi hubungan mereka selalu harmonis dan tidak pernah terjadi pertengkaran sedikit pun. Pemuda itu sangat mencintai Relia apapun alasannya.
Banyak hal sudah mereka lalui bersama, meski keduanya tak mendapat restu dari kedua orangtua Mark. Bukan tanpa alasan orangtuanya Mark tak merestui hubungan mereka. Mereka tidak setuju karena Relia adalah seorang gadis yatim piatu.
Ayah Relia meninggal ketika ia berusia 17 tahun karena sebuah kecelakaan, sedangkan ibu Relia meninggal sejak Relia masih berusia 5 tahun karena sakit kanker. Kini Relia tinggal bersama paman dan bibinya, serta sepupu perempuannya yang jahat. Setiap hari sekalu saja ada alasan yang membuat Relia terkena omelan dan amarah dari bibinya itu.
Meski Relia tidak berbuat kesalahan, tetapi di mata keluarga paman dan bibinya itu, Relia selalu salah dan tidak pernah ada benarnya.
* * *
Hari ini, Mark berniat untuk membawa Relia ke rumahnya lagi setelah beberapa bulan yang lalu. Meski keluarganya tak pernah menyambut Relia dengan baik, tetapi Mark tak pernah berputus asa untuk mendapatkan restu dari keluarga nya sendiri.
Kini sepasang kekasih itu berdiri di depan pintu besar rumah mewah kediaman keluarga Mark.
Relia merasa sangat gugup dan menggenggam tangan Mark dengan sangat erat.
"Kenapa kamu mengajakku kemari? Kamu bilang hanya jalan-jalan bukan?" tanya Relia yang merasa di bohongi.
"Jangan takut. Aku membawa mu kemari untuk meminta restu lagi pada kedua orangtua ku. Aku akan lebih serius padamu," sahut Mark tenang.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti, Mark..." Lirih Relia sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, kamu tidak perlu banyak bertanya. Ayo, kita masuk dan temui kedua orangtua ku," ajak Mark sambil mengeratkan genggaman tangannya dan menggandeng Relia masuk ke dalam rumah mewah itu.
Sepasang kekasih itu berjalan masuk dan melihat orangtua Mark sedang duduk berbincang bersama seorang gadis cantik juga. Tak asing bagi Mark, gadis itu adalah Aluna. Putri tunggal teman bisnis Brian (Papa Mark).
"Kamu sudah pulang?" Tanya Karina, Mama dari pemuda tampan itu.
Wanita paruh baya itu tersenyum melihat kedatangan putra semata wayangnya. Sesaat kemudian, pandangannya teralih pada Relia yang tersenyum tipis menyapa dirinya. Seketika, raut wajah Karina berubah menjadi masam.
"Mark? Kenapa kamu bawa lagi gadis yatim piatu ini?" geram Brian.
"Papa tidak boleh berkata seperti itu pada Relia. Dia memiliki nama!" sarkas Mark tak terima.
"Memang itu faktanya? Bahkan gadis ini juga tidak akan memungkirinya," sinis Karina sambil melirik acuh pada Relia.
Kini Relia merasa semakin takut dan sakit hati. Memang benar ia seorang yatim piatu, tapi bukankah tidak seharusnya status seperti itu di perjelas di hadapan orang lain?
Perlahan Relia melepaskan genggamannya dari tangan Mark. Membuat Mark menatap Relia bingung sekaligus heran.
"Akan ku perjelas alasanku membawa Relia kemari. Aku akan menikahinya!" ucap Mark tegas.
"Tidak bisa. Papa dengan keras menolak keinginan mu!" sahut Brian meninggikan nada bicaranya.
"Mama juga tidak setuju. Sampai kapanpun, Mama tidak akan pernah merestui hubungan mu dengan gadis ini!" timpal Karina.
Aluna yang melihat keributan itu hanya bisa terdiam mematung sambil menatap Relia dengan iba. Jika di tanya apakah Aluna menyukai Mark, maka jawabannya adalah iya.
Tapi, ia juga sebagai seorang wanita tidak akan mungkin tega jika melihat seorang wanita lain menangis di perlakukan seperti itu. Itu sama seperti ia membayangkan bagaimana jika yang berada di posisi seperti itu adalah dirinya.
"Setuju atau tidak. Aku tetap akan menikah dengan Relia?!" teriak Mark dengan tegas.
Sepasang mata Mark terbelalak sempurna karena amarahnya sendiri. Suasana rumah yang tadinya tentram dan damai berubahnya seketika menjadi riuh karena Mark.
"Sudah cukup, Mark..." lirih Relia angkat bicara.
Kini seluruh perhatian tertuju pada gadis cantik dengan rambut terurai rapi itu.
"Aku seharusnya menyadari ini sejak dulu. Kamu dan aku tidak sama. Kita berbeda dalam segala hal," ucap Relia menahan tangis.
Manik cantik itu berkaca-kaca siap meneteskan butiran bening dari pelupuk nya.
"Aku tidak ingin menjadi penengah antara dirimu dan keluargamu. Lebih baik, kita akhiri semuanya di sini," sambung gadis itu.
Mark mematung mendengar ucapan dari Relia. Ia sekuat tenaga membela gadis itu untuk mendapatkan restu dari keluarga nya, tetapi dengan mudahnya gadis itu menyerah. Bahkan di depan keluarga nya sendiri.
"Apa yang kamu katakan? Kamu tidak benar-benar mengatakan ini bukan? Jangan lakukan ini, Relia. Ku mohon..." pinta Mark.
"Anak bodoh! Kamu tidak seharusnya mengemis pada gadis tidak tau diri seperti dia!" geram Brian penuh emosi.
"Aku tidak perduli. Aku mencintai Relia. Aku tidak perduli tentang harga diriku,"
"Maafkan aku. Ku harap, kamu bisa melupakan aku. Aku akan pergi selamanya dari hidup mu, Mark. Terimakasih untuk segalanya." pungkas Relia dan berlari meninggalkan rumah mewah itu.
Mark bergegas mengehentikan langkah kaki Relia, namun di tahan oleh beberapa bodyguard Brian. Lelaki paruh baya itu tidak akan pernah membiarkan putra semata wayangnya pergi mengejar Relia.
"Kurung Mark di dalam kamarnya!" perintah Brian tegas.
Dengan kasar, Mark di seret masuk kedalam kamarnya dan di kunci dari luar.
"Demi apapun. Aku membenci keluarga ini!" Teriak Mark dari dalam kamarnya.
Sementara itu, Karina menghela nafas mengahadapi bagaimana keras kepala nya Mark. Wanita itu kemudian duduk di samping Aluna yang sedari tadi diam menyimak pertengkaran hebat itu.
Gadis cantik berambut cokelat itu sungguh terkejut dengan keputusan dari Relia. Meski sejujurnya ada sedikit rasa senang di hatinya, tetapi ia juga tidak bisa memungkiri bahwa ia turut bersedih dengan apa yang harus Relia lalui.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Karina pada Aluna.
Aluna tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Tante. Aku baik-baik saja," jawab Aluna sopan.
"Maaf atas keributan ini. Tapi, kamu seharusnya senang karena hubungan Mark dan gadis sialan itu sudah berakhir," ucap Karina.
"Tapi, bagaimana dengan Mark? Dia sangat mencintai Relia. Dia tidak akan mungkin mau menikah dengan ku," lirih Aluna.
"Kamu tidak perlu khawatir. Biar Tante yang mengurus semuanya," tutur Karina lembut.
Aluna pun hanya bisa menurut dan menganggukkan kepalanya pasrah. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, ia hanya berharap bahwa Mark benar-benar mau menikah dengannya dan juga mau berusaha untuk membukakan hati untuknya.
* * *
Sementara itu, Relia menangis sepanjang jalan meratapi nasibnya yang sangat tidak beruntung. Meski ia bisa memaksakan ego nya untuk terus bersama dengan Mark, tapi gadis itu tidak akan setega itu merusak hubungan antara keluarga Mark.
Bagi Relia, ia sudah cukup selama ini mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari Mark. Kini saatnya ia benar-benar mencari kebahagiaan nya sendiri.
Tanpa adanya Mark Andreas ...
Relia yang baru saja sampai itu melangkahkan kakinya memasuki rumah sederhana milik pamannya. Terlihat Paman dan bibinya itu memiliki tamu istimewa. Tidak biasanya paman dan bibinya menerima tamu yang tapak spesial seperti hari ini, namun sepertinya mereka semua sedang menunggu kehadiran si cantik itu.
"Kamu sudah pulang?" Tanya Sarah, bibi Relia.
Relia menganggukkan kepalanya sopan. "I-iya," sahutnya.
"Duduklah, paman mau berbicara dengan mu sebentar," perintah Johan, paman Relia.
Relia pun hanya bisa menurut dan duduk di samping bibinya dengan tenang. Gadis cantik itu diam sambil memilin bajunya karena takut. Ya, karena Relia takut ia di marahi karena melakukan sesuatu yang tidak di sukai oleh paman dan bibi nya itu.
"Sebelumnya, kenalkan... Dia adalah Reyhan Maheswara, CEO dari ReMa corp," ucap Johan mengawali pembicaraan.
Relia melihat Reyhan sekilas dan tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya sopan.
"Senang b-berkenalan dengan anda. S-saya Relia," sapa Relia yang sudah sangat gugup.
Detak jantung Relia sudah tidak beraturan lagi. Bahkan untuk mendongakkan kepalanya, Relia sudah tidak sanggup. Bahkan kini pikirannya mulai menerawang jauh dan memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Senang bertemu dengan mu, Relia. Kamu lebih mengesankan daripada yang ku lihat di foto," sahut Reyhan memuji Relia.
Memang tidak bisa di pungkiri bahwa Relia sangat cantik. Manik nya yang hitam dan bercahaya, kulitnya yang putih bersih dan juga wajahnya yang sangat mulus terawat.
"Langsung saja pada intinya. Tuan Reyhan datang kemari untuk melamar mu!" sela Johan yang sukses membuat Relia mendongakkan kepalanya karena terkejut dengan pernyataan itu.
"A-apa?" Sahut Relia tidak percaya.
"Iya. Paman mu berniat untuk menjodohkan mu denganku. Dan, aku sungguh-sungguh ingin menikahi dirimu," Kini Reyhan yang angkat bicara. Sementara itu, Sarah dan Johan hanya bisa diam sambil menahan senyuman mereka. Ini adalah rencana yang memang sengaja mereka lakukan.
Awalnya Johan menawarkan untuk menjodohkan Reyhan dengan Naura putri kandungnya sendiri. Tapi, Reyhan lebih dahulu mengetahui latar belakang dari Relia yang merupakan kekasih Mark. Maka dari itu, Reyhan lebih tertarik untuk menikahi Relia dari pada Naura.
"T-tapi, anda belum mengenal saya. Bagaimana anda bisa seyakin itu?" sahut Relia takut.
"Tidak masalah. Aku sudah mendengar banyak tentang dirimu dari Paman mu ini," ucap Reyhan meyakinkan.
"Kamu terima saja lamaran dia. Kamu cukup beruntung untuk menikahi seorang CEO!" bisik Sarah pada keponakan nya itu.
Sementara Relia masih terdiam dan terus menundukkan kepalanya. Ia baru saja memutuskan hubungan dengan Mark. Lalu, bagaimana bisa ia memutuskan untuk menikah secepat ini.
"Ekhemm.." Deham Reyhan karena suasana tiba-tiba berubah menjadi canggung.
"Sepertinya, nona Relia tidak tertarik untuk menerima lamaran dari saya," ucap Reyhan sambil melirik Johan dengan tajam.
"T-tidak. B-bukan seperti itu. Mungkin Relia masih perlu memikirkan lamaran anda. Tolong, jangan berkecil hati," sahut Johan panik.
Sarah mencubit paha Relia hingga gadis cantik itu meringis kesakitan. Itu adalah ancaman supaya Relia mau menerima lamaran dari Reyhan yang tak lain atasan dari Paman nya itu.
"S-saya... S-saya menerima lamaran anda, Tuan Reyhan. Maaf, atas kelancangan saya karena membuat anda berkecil hati," ucap Relia dengan berat hati.
Reyhan pun mengembangkan senyum penuh kemenangan. Langkahnya untuk membalas dendam pada keluarga Andreas sebentar lagi akan berjalan dengan mulus.
Akhirnya, mereka pun segera menentukan tanggal pertunangan.
Ah, tidak. Lebih tepatnya langsung tanggal pernikahan karena Reyhan tidak mau Mark tau tentang hal ini dan akan mengacaukan segalanya.
Hanya 3 hari. Waktu yang di berikan oleh Reyhan untuk bersiap adalah 3 hari. Yang mana ia hanya ingin sebuah pernikahan kecil dan hanya di hadiri oleh kedua pihak keluarga saja.
Bukan tanpa alasan. Tetapi ini semua sengaja ia lakukan untuk menutupi identitasnya sementara, juga supaya mencegah Relia berubah pikiran dan akan mengacaukan semua rencana balas dendam pada keluarganya.
* * *
Malam harinya, Relia menangis di dalam kamar meratapi nasibnya lagi. Gadis itu menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Punggungnya naik turun karena Isak tangisnya sendiri.
Brakk!!!
Pintu kamar Relia terbuka lebar dengan kasar. Dan terlihat seorang gadis seumuran dengan nya itu muncul dari balik pintu. Dia adalah Naura Anindita. Sepupu perempuan Relia, namun meliki sifat layaknya seorang musuh bebuyutan.
Gadis dengan tatapan mata tajam itu berjalan cepat menghampiri Relia yang masih menangis di samping ranjang kamarnya.
Plakk?!
Tamparan keras itu tiba-tiba saja mendarat di pipi mulus Relia. Entah kenapa, Naura datang dengan emosi yang memuncak seperti Relia sudah berbuat kesalahan besar pada gadis itu.
"Ada apa dengan mu, Naura?" tanya Relia sembari memegangi pipinya yang perih karena tamparan sepupu nya itu.
Bukannya menjawab, Naura justru menjambak rambut Relia hingga gadis cantik itu mendongak ke atas. Rasanya benar-benar sangat sakit bagi, Relia.
"Arrgghh... Sakit... Lepaskan tanganmu, Naura. Kamu kenapa?" rintih Relia yang kesakitan.
Rambut Relia serasa hampir lepas dari kepalanya karena kuat nya jambakan dari Naura. Naura memang sering berbuat kasar pada Relia, tetapi tidak pernah separah ini.
"Apa kamu tau kesalahan mu? Kamu itu selalu berpura-pura munafik!" geram Naura tanpa alasan.
Naura menghempaskan tubuh Relia hingga tersungkur di lantai kamarnya.
"A-apa maksudmu sebenarnya?" tanya Relia tak mengerti.
"Kamu benar-benar membuatku semakin membenci mu. Apa tidak cukup bagimu memiliki Mark? Lalu, kamu mau menikahi seorang CEO terpandang di negara ini? Kamu sungguh serakah!" Ucap Naura dengan emosi yang memuncak.
Dengan susah payah, Relia berdiri dan berjalan mendekati Naura. Tangannya mengepal kuat menahan amarahnya.
"Apa kamu tau? Kamu tidak pernah sekalipun merasakan apa yang aku rasakan selama ini," ucap Relia dingin.
Gadis itu menatap sepupunya dengan lekat, bahkan tak berkedip sedetikpun.
"Apapun yang kamu lakukan padaku selalu ku terima meskipun itu menyakitkan. Dan untuk pernikahan ini? Apakah aku yang memintanya? Aku bahkan tidak tahu menahu tentang pernikahan ini? Kenapa kamu justru menyalahkan aku? Apa kamu pikir aku juga mau menikah dengan orang yang sama sekali tidak ku kenal?" tukas Relia bertubi-tubi yang membuat Naura diam tak berkutik.
Perlahan Relia berjalan semakin mendekati Naura. Namun, Naura justru mundur menjauhi Relia. Untuk pertama kalinya Naura melihat ada aura dingin dan penuh amarah pada diri Relia.
"Hentikan semua perbuatan kasar mu padaku. Atau aku tidak segan-segan untuk membalas nya. Bahkan binatang pun akan menyerang jika nyawanya berada dalam bahaya. Apa kamu mengerti?" ucap Relia lagi penuh penekanan.
Melihat Relia yang tak main-main dengan ancamannya membuat Naura benar-benar takut bukan main. Gadis itu memilih untuk pergi meninggalkan Relia di kamarnya tanpa mengatakan sepatah katapun.
Setelah kepergian Naura, Relia langsung ambruk di atas kasurnya dan kembali menangis.
"Jika bukan karena orangtua ku, aku tidak akan pernah menahan semua ini terlalu lama..." gumamnya sambil memejamkan mata cantik nya itu.
* * *
Tiga hari berlalu dengan cepatnya. Hari ini adalah hari pernikahan Relia dengan Reyhan. Pria yang baru ia temui pertama kali tiga hari yang lalu dan sama sekali tidak ia cintai.
Jangan kan berbicara tentang cinta, mengenalnya saja Relia tidak. Namun, Relia terlalu takut untuk menolak perjodohan ini. Selain ia harus membalas budi kepada keluarga paman nya, ia juga berharap setelah pernikahan ini kehidupan nya benar-benar berubah menjadi lebih baik.
Di hari yang seharusnya paling membahagiakan bagi seorang pengantin, justru Relia merasa bahwa hari pernikahannya adalah hari paling menyedihkan selama ia hidup di dunia.
Bagaimana tidak? Gadis itu juga ingin menikah dengan seseorang yang ia cintai, selain itu ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya di antar kan ke pelaminan oleh orang tua kandungnya sendiri.
Namun, itu semua hanyalah mimpi bagi Relia. Ia cukup sadar diri dan harus selalu merasa bersyukur karena ada orang yang mau menerima nya dengan tulus.
Ah, tidak. Ia belum tau apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Entah Reyhan akan menerimanya dengan tulus atau hanya sekedar menjadikan dirinya sebagai alat untuk balas dendam.
"Jangan membuat masalah dan tetap jaga perilaku mu," ucap Sarah pada Relia yang baru saja selesai make up.
Relia menganggukkan kepalanya menurut. "Iya, Bibi.." sahutnya.
"Bagus. Setidaknya kau cukup berguna karena bisa membuat paman mu naik jabatan,"
Relia yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas dan tersenyum kecut. Setidaknya ia sudah tau bagaimana sifat bibi nya itu sejak dulu. Jadi, ia tidak pernah terkejut mendengar hal yang seperti ini.
Keluarga Reyhan semuanya ikut hadir dalam acara pernikahan sederhana itu. Jika di lihat memang aneh karena Reyhan adalah seorang CEO terpandang dan terkenal dengan kekayaannya yang tak main-main.
Tapi, Reyhan memang sengaja tidak mengadakan pesta pernikahan karena ia tidak mau acara pesta seperti itu mempengaruhi rencananya untuk membalas dendam.
Terlihat Viona -Mama Reyhan- tersenyum melihat Relia yang baru saja keluar dari kamarnya. Meski pernikahan putranya sangat mendadak, tetapi Viona sudah banyak mengetahui bagaimana sifat dan sikap Relia sebenarnya.
Wanita cantik paruh baya itu tau bahwa Relia adalah gadis yang baik hati dan sopan pada siapapun. Hal ini lah yang membuat dirinya setuju jika Reyhan menikah dengan jarak waktu yang sangat dekat, bahkan tanpa adanya persiapan yang matang.
* * *
Acara berlangsung dengan hikmat. Kini Relia sudah resmi menyandang status sebagai istri sah Reyhan Maheswara. Relia tersenyum dan mencium tangan Reyhan dengan lembut. Begitu juga dengan Reyhan yang mencium kening Relia dengan penuh perhatian.
Hingga beberapa saat kemudian, terjadi keributan di luar rumah Paman Relia. Keributan itu di sebabkan oleh Mark yang datang ke acara pernikahan sederhana Relia.
"Sialan. Biarkan aku masuk!" teriak Mark dari luar yang terdengar hingga dalam rumah.
Mark sedang marah-marah dan di hadang oleh beberapa bodyguard Reyhan karena mencoba untuk menerobos masuk.
Dengan susah payah, Mark berhasil melewati para bodyguard itu dan masuk ke dalam rumah menyaksikan gadis yang paling ia cintai kini resmi menjadi istri orang lain.
"Apa yang kau lakukan, Mark?" tanya Relia tatkala melihat Mark yang terengah-engah menerobos masuk ke dalam rumah.
"Kenapa kau sangat tega padaku? Kenapa kau meninggalkan aku dan menikah dengan orang lain?" tukas Mark tanpa perduli dengan ramainya orang yang memandanginya.
"A-aku ..."
"Batalkan pernikahan ini!" potong Mark cepat.
"Aku tidak rela kau menjadi milik orang lain!" teriaknya lantang dan menggema di seluruh ruangan.
Melihat kekacauan itu, Johan langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Mark.
Plakk!!!
Tamparan keras itu mendarat di pipi Mark. Johan yang sudah tidak tahan melihat perilaku Mark memberanikan diri untuk menampar pemuda tampan itu.
"Jaga sikapmu. Relia sudah resmi menikah. Kau tidak bisa seenaknya mengatur kehidupan nya," geram Johan pada Mark.
"Kenapa? Apa yang salah dengan tindakan ku? Semua orang tau kalau Relia hanya mencintai ku. Dia tidak mungkin mau menikah dengan orang lain semudah ini. Dia pasti melakukan nya karena terpaksa!" sarkas Mark dengan segala luapan emosi nya.
Reyhan hendak berdiri dan menghampiri Mark. Namun ia di tahan oleh sang Mama.
"Jangan berbuat keributan," lirih Viona pada putra bungsu nya itu.
Reyhan mengurungkan niatnya untuk ikut campur dalam masalah Mark dan Johan. Kini justru Relia yang berdiri dan berjalan menghampiri Mark. Hingga seluruh perhatian kini teralih pada Mark dan Relia yang saling bertatapan itu.
"Maafkan aku. Aku menikah bukan karena paksaan siapapun. Ini adalah keputusan ku sendiri, Mark..." ucap Relia sambil tersenyum palsu.
"Apa katamu? Keputusan mu sendiri?" tanya Mark tak percaya. Relia menganggukkan kepalanya. "Iya," sahutnya tegas.
"Kenapa kau setega ini padaku? Apa kau benar-benar tidak mengingat bagaimana aku mempertahankan dirimu?" tukas Mark tak terima.
"Aku menghargai semua kebaikan yang kau lakukan padaku. Tapi, kita sudah tidak memiliki hubungan apapun. Jadi, ku harap kau juga bisa menghargai keputusan ku," tutur Relia dengan raut wajah penuh keseriusan.
Sebenarnya Relia hanya berpura-pura menjadi tegar. Sementara dalam hatinya terasa hancur berkeping-keping mengingat bahwa dirinya masih sangat mencintai Mark. Tapi, bagaimanapun juga ia tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri. Ia harus tetap pada pendiriannya untuk menjauh dari Mark demi menjaga hubungan antara Mark dengan keluarganya.
"Lebih baik kau pergi dari sini. Aku tidak ingin melihat mu lagi," pinta Relia.
Gadis cantik yang sudah menyandang status sebagai seorang istri itu kembali ke tempat duduknya di samping Reyhan. Sementara Mark diam mematung mendengar pernyataan dari Relia yang begitu mengejutkan bagi dirinya.
Tidak menunggu lama, Johan memerintahkan kepada bodyguard Reyhan untuk menyeret Mark keluar dari rumahnya dan tidak membiarkan pemuda itu membuat keributan lagi.
Setelah Mark pergi, suasana kembali tenang dan Relia semakin terpuruk dalam kesedihannya.
Perlahan tangan lembut Alina terulur memegang tangan Relia dengan penuh perhatian.
"Jangan takut. Mama akan selalu bersamamu," ucap Viona pada menantu nya itu.
Relia tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Tangannya semakin menggenggam erat tangan Viona dan enggan melepaskan nya. Sementara wanita cantik paruh baya itu tersenyum dengan tindakan menantu nya itu.
Selain mengetahui bagaimana sifat dan sikap Relia, Viona sendiri juga sudah tau bahwa Relia sebelumnya sudah memiliki kekasih. Namun, wanita cantik paruh baya itu juga tidak kalah tau bahwa hubungan Relia dengan kekasihnya tidak pernah mendapatkan restu.
Meski wanita cantik paruh baya itu juga tau bahwa pitranya itu menikahi Relia hanya untuk membalas dendam, namun Viona benar-benar menerima Relia sebagai menantu nya. Ia berjanji akan menyayangi Relia seperti ia menyayangi menantu pertama nya.
"Hari ini kau akan pulang ke rumah Reyhan. Mama tidak akan meninggalkan mu. Selama satu minggu kedepan-nya, Mama masih akan terus menemani mu. Apa kau mengerti?" tanya Viona pada Relia.
Lagi-lagi Relia menganggukkan kepalanya sopan. "I-iya... M-mama..." jawabnyaa dengan gugup dan malu-malu.
Walaupun ia masih canggung memanggil orang lain dengan sebutan Mama, namun ia sangat bahagia karena akhirnya ia mendapatkan seorang mertua yang benar-benar mau menghargai dirinya.
"Ku mohon... Berikan aku kebahagiaan setelah pernikahan ini..." ucap Relia dalam hatinya penuh harap.
* * *